“Kau percaya kalau kita hidup hanya tiga menit?” aku berkata suatu hari, ketika aku dan Yoongi tidur berdua. Dia menikahiku pada usianya yang ke empatpuluh lima. Tak ada yang bisa dia katakan selain gumaman tidak jelas. Yoongi sudah lama kehilangan cara menghadapi pertanyaan aneh dari seorang wanita muda sepertiku.

“Mungkin saja kita hanya hidup tiga menit di dunia ini.”

Aku terbaring memandang langit-langit kamar. Dia tak menyentuhku. Aku juga tak menyentuhnya. Kami hanya bernapas.

“Tiga menit. Tidak lebih.”

Orang-orang bilang pernikahan kami luar biasa. Kami pasangan seniman yang ideal. Aku ingat pertama kali bertemu dengannya: mata Yoongi seperti pijar yang tertiup angin. Sayu. Dan sampai saat ini masih begitu. Dia menghadiahiku guci hitam yang ia buat sendiri. Yoongi berkata, untuk pertama kalinya aku bertemu wanita yang betul-betul diriku. Untuk itulah aku menikahimu. Mulanya kupikir itu perkataan romantis, hingga kemudian kusadar… dengan begitu dia bukan menikahiku. Tapi menikahi dirinya sendiri yang ada dalam diriku. Kau begitu egois, Yoon. Kau cinta dirimu sendiri. Anehnya aku tetap menerima itu. Sebagaimana aku terima guci yang dia beri dan akhirnya kupajang di ruang tengah rumah kami.

Selama sebulan kusesali pilihanku menikahi lelaki pucat ini. Tapi siapa peduli? Aku pun akan tetap menyesal kalau kupilih jalan lain.

Tahun pertama pernikahan kami lewati tanpa keturunan. Sebagai gantinya dia membeli sepasang kucing bertelinga kecil yang belakangan kuketahui dari ras Scotish Fold. Kucing betina itu punya bulu oranye dan putih. Jantannya berbulu oranye semua. Mereka menghasilkan banyak anak kucing yang lucu dan terus bertambah. Tahun kemarin aku adalah manusia yang ber-anakan kucing-kucing.

Yoongi pergi menaiki kapal pesiar menuju negara lain dan pulang tiap tiga bulan sekali. Terkadang aku sedang duduk di patio atau menyirami bunga di pekarangan ketika Yoongi pulang. Di bulan kesembilan aku sedang menulis buku ketika dia tiba-tiba memelukku dari belakang. Sakunya penuh uang. Rambutnya beraroma laut, sementara tatapannya masih menyerupai damar yang tertiup angin. Bersinar redup. Sayu.

Apa kita harus sedih untuk menulis hal sedih?” Yoongi bertanya—waktu itu—sambil membaca tulisanku. Kucing-kucing menggosok manja di kakinya. Dia terdiam beberapa lama, membolak-balik kertas itu. Di lembar terakhir dia berhenti dan menatapku. “Apa kita harus bercinta untuk tahu dan bisa menulis adegan itu? Apa kita harus merasakan ciuman untuk bisa menggambarkan adegan itu?”

Tidak.”

Nyatanya kami belum pernah melakukannya. Tapi aku—dengan sok tahu—memasukkan adegan itu dalam buku terbaru.

Yoongi tercenung untuk beberapa saat. Dia lepas tas dan jaket tebal yang melekat di tubuhnya. Siang itu kami melakukannya di sofa disaksikan belasan kucing-kucing. Untuk pertama kalinya Yoongi menyentuhku. Dia menanam benih pada kepulangannya bulan itu.

Kau mau jadi penulis?” aku bertanya setelah kami selesai.

Yoongi mengelus rambutku. “Tidak,” jawabnya. “Menulis hanya dilakukan orang-orang yang punya pikiran berantakan.” Yoongi berlindung di balik kata-kata berwarna hitam-keabuan. Dia bangkit setelahnya. Yoongi ambil tulisan karyaku dan kembali berkomentar, “Lihatlah caramu melukiskan singa di padang savana. Kau beri dia bau, kau tanamkan sikap binatang. Membacanya seolah aku berada di sana—di bawah terik padang afrika yang sekarat. Aku sudah terlalu tua, Sayang. Yang ada dipikiranku cuma Tuhan. Bukan lagi tentang imaji seperti ini.”

Setelahnya kami terlelap.

Yoongi mengarungi lautan setelah tahu aku hamil anaknya. Kutanya kapan dia pulang. Tentu saja sebelum kau melahirkan. Aku ingin lihat anakku lahir, jawabnya. Anak kita. Aku harus meralat perkataan Yoongi. Janin di rahimku bukan hanya milikmu, Yoon. Ini anakku juga. Dan ia mengalah di pelabuhan. Namai dia Jungkook. Baiklah, itu nama yang bagus. Aku setuju saja.

Yoongi melambai dari atas kapal beberapa bulan yang lalu—waktu perutku masih rata. Lalu kembali lagi kemarin malam dan terkaget melihat buntalan tumbuh di tubuhku. Yoongi menciumnya tapi dia tidak menciumku.

Sebentar lagi dia lahir,” ujar Yoongi tadi pagi, seraya merapihkan tas dan jaketnya yang besar. “Aku tak akan pergi sebelum dia lahir.”

Sebab itulah kami bisa berbaring satu ranjang malam ini. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya, tentang bagaimana harinya di negara lain dan di kapal pesiar. Juga tentang kemana perginya kucing-kucing kami yang telah mati? Dan, apa yang harus orang lakukan setelah sampai puncak?

“Kembali turun,” kali ini Yoongi menjawab.

Andai saja dia tahu, menikah dan hidup bersamanya sama seperti mendaki gunung. Aku tak menemukan apa-apa di puncak itu. Dan dia memintaku untuk turun.

-o0o-

Yoongi menerima telepon di suatu pagi ketika kami tengah sarapan. Dia memberitahuku bahwa temannya selama di kapal pesiar akan datang ke Daegu. Lelaki itu bekerja sebagai koki kapal dan berhenti seminggu yang lalu. Namanya Jimin. Dia akan datang besok dan meminta tumpangan menginap di rumah kami. Yoongi bertanya padaku, apa aku keberatan kalau temannya bermalam di rumah ini sampai dia dapat tempat tinggal? Tentu saja aku tak apa. Kami punya satu kamar kosong di belakang. Ada keranjang bayi dan kasur ukuran single yang kami persiapkan untuk kelahiran.

Esoknya aku dan Yoongi menjemput Jimin. Lelaki itu kelihatannya seumuran denganku. Antara duapuluh dua tahun atau barangkali duapuluh tiga. Dia pribadi yang baik dan sopan. Ketika bicara, sosoknya yang pintar dan berpendidikan tampak lebih jelas dibanding dia yang diam. Bahkan mungkin dia lebih tenang dan bijak daripada suamiku yang sudah kepala empat. Tak hanya itu, Jimin juga beberapa kali undur diri untuk beribadah. Aku kagum pada dirinya yang religius.

Di pagi hari, Jimin mengajariku memasak dengan telaten. Dia mengenalkan banyak resep baru. Sementara di sore hari, Yoongi akan mengajari Jimin membuat keramik. Tanah liat itu diputar di atas alat. Tangan Yoongi piawai membentuknya. Jari-jarinya bergerak hingga tanah liat itu melekuk indah. Di ruang itu kulihat tangan dan perut mereka bernoda cokelat terang. Tanah itu menggores perut Jimin yang rata dan melintas di pusarnya yang cekung.

Indah. Aku harap bisa melahirkan anak setampan itu.

Terkadang aku melihat mereka tertawa-tawa. Seniman memang punya aura yang berbeda. Kusadari itu ketika Yoongi datang dan hanya berdiri di depanku. Kurasakan arus menenggelamkan dari kehadirannya. Padahal dia sudah tua. Kulitnya tak sekencang Jimin. Namun pesona yang dia punya justru sama mematikan.

-o0o-

Ini malam ketiga semenjak Jimin menginap di rumah kami. Dia sudah menemukan rumah sewa yang cocok dan akan pindah besok pagi. Aku merasa kehilangan. Namun Yoongi menenangkanku. Rumah ini akan tetap semarak meski satu tamu pulang. Lagipula sebentar lagi anak kami lahir. Rumah ini akan dihiasi tangisan bayi, begitu Yoongi mendamaikan. Dia mengusap perutku yang makin besar di atas ranjang. Sesekali kusentuh kakinya dengan kakiku. Jins itu terasa kasar. Yoongi terlelap kemudian tanpa mengganti celana. Dia berbalik memunggungiku. Kulihat lambang merk berwarna cokelat ada di sudut pinggangnya. Itu merek jins kesayangan Yoongi.

Aku terlelap sambil memeluknya. Dan terbangun esoknya sambil memeluk kekosongan.

Ketika bangkit, kutemui Yoongi di meja makan tengah meneguk minum.

“Selamat pagi,” dia menyapa.

Bagiku ini terlalu pagi. Matahari bahkan belum muncul.

“Duduklah,” ucapnya lagi. Mungkin kasihan melihatku jalan sambil berpangku pinggang.

Di meja itu kami duduk bersebelahan. Muka sama-sama berminyak, rambut kusut, dan gigi berlapis mentega alami. Aku meneguk air yang Yoongi sodorkan. Tak lama kemudian Jimin keluar kamar. Kelihatannya baru bangun tidur dan mungkin ingin ke kamar mandi. Dia membungkuk sekilas ketika melewati kami. Benar-benar sopan. Aku tersenyum, sementara pandanganku mengikuti sosoknya lenyap di balik pintu kamar mandi.

Namun, ada yang salah dengan semua ini.

Jimin memakai celana jins yang Yoongi pakai tadi malam.

Tak lama, Yoongi bangkit dan berjalan ke kamar kami. Aku yakin itu bukan jins milik Yoongi.

Mereka melakukannya tadi malam sampai celana mereka tertukar.

Lalu aku teringat perjalanan Yoongi di dalam kapal pesiar. Sekarang aku mengerti kenapa mereka tahan terkatung-katung di laut tanpa bertemu istri.

Tiba-tiba kurasa hidup ini amat singkat. Tak lebih dari tiga menit.

-o0o-

Author’s note:

Saya aktif di wattpad dengan username yang sama (tersugakan). Mari follow dan lebih sering berinteraksi di sana. Wattpad fitur komennya memungkinkan saya balas komen secara langsung. Yuk yuk yukk! Hehehe.

Advertisements