Tags

, ,

myoldbrother-cover.jpg

my old brother.

jirongiie‘s storyline

[BTS] Jungkook & Jin

genre: brothership | length: ficlet (800+ words) | rate : g/k+

Namanya adalah Kim Seokjin, anak dari keluarga Kim yang Jungkook temui saat ia pindah ke Seoul seorang diri. Jungkook sudah mengenalnya kurang lebih enam tahun. Jungkook jadi ingat dulu pertama kali ia bertemu dengan lelaki itu, ia masih underage. Terlalu muda untuk hidup sendiri.

Dan pada waktu itu, Jungkook masih ingat di wajah Seokjin masih belum muncul kerutan—beda kalau dibandingkan dengan yang sekarang. Wajahnya sangat tampan, membuat Jungkook sendiri berpikir apakah ia baru saja bertemu dengan salah satu aktor drama yang belum ia ketahui.

Tapi, dugaannya salah. Pria yang ia temui bukanlah seorang aktor, melainkan seorang manusia biasa yang sedang kesepian.

Hyung sejak kapan tinggal di sini?” ucap Jungkook kala ia berada di dalam rumah Seokjin. Pria yang ditanya tidak langsung menjawab, ia berniat akan menjawab pertanyaan Jungkook setelah menyelesaikan pekerjaannya.

“Hmm—baru lima tahun?”

“Baru kata hyung?” Seokjin tertawa, melihat reaksi adiknya yang tidak biasa. Ia pun meletakkan sepiring cemilan dan secangkir susu hangat yang pria itu buat berdasarkan keinginan Jungkook. Melihat request-nya telah terhidang di meja, lelaki yang lebih muda langsung menghambur menuju meja makan. Untung saja Jungkook tidak membuat lantai rumah kecil Seokjin retak akibat hentakkan kakinya.

Hey, tunggu!”

Jungkook mengerang kesal. Tepat saat ia akan mengambil marshmallow yang ada di piring, Seokjin menarik hidangannya, membuat Jungkook mengeluh hebat.

Hyung—cemilannya kenapa ditarik? Aku kan jadi tidak bisa makan,” ucapnya sambil memajukan bibir bawahnya—bertingkah bak anak kecil yang sedang dilanda kelaparan. Biasanya, Seokjin akan luluh saat Jungkook mengeluarkan jurus andalannya tersebut, tapi sepertinya untuk saat ini, itu tidak mempan.

Pria yang lebih tua menyipitkan matanya, mengintimidasi ‘anak kecil’ yang persis berada di depannya saat ini. “Beritahu dulu nilai ulangan kimiamu minggu lalu, baru aku akan menyilakanmu memakan ini,” tukas Seokjin kemudian. Mendengar kata ulangan kimia, Jungkook tersedak oleh air ludahnya sendiri.

Tentang hasil ulangannya—well, hasilnya cukup buruk. Sebelumnya Jungkook sempat berjanji akan memberitahu hasilnya langsung kepada Seokjin ketika lembarannya sudah dibagikan—karena ia berpikir akan menjadi sebuah timbal balik dari jerih payah Seokjin mengajarinya sampai larut malam—, tapi lelaki itu tidak menepatinya karena nilainya tidak seperti ekspetasinya. Nilainya rendah, dan Jungkook sama sekali tidak mau membuat jiwa keibuan Seokjin keluar oleh karena hal itu.

“Jung?”

“Eh—iya hyung. Um, sebenarnya—”

“Ada apa?” Jungkook mengumpat dalam hati. Ia tidak bisa berbicara lagi, otaknya sudah sangat kosong sekarang. Satu hal yang dipikirkannya sekarang adalah, berhenti mengharapkan cemilan yang ada di tangan Seokjin dan memilih untuk kabur dari sana segera. Namun sayangnya, seluruh anggota badannya pun tak bisa digerakkan. Oh tidak, Jungkook telah disihir oleh nenek penyihir!

“Aku tahu ini akan terjadi,” Seokjin menghela napasnya. Tersirat nada kecewa dalam kalimat yang ia lontarkan tadi, membuat Jungkook ingin berlari memeluk kedua kaki kakaknya tersebut, kalau bisa mencium telapak kakinya sekalian agar ia bisa dimaafkan.

“Maafkan aku, hyung.”

“Sekarang keluarkan lembaran ulanganmu dan kerjakan ulang soal yang salah!”

Ah, Jungkook sudah tahu kalau Seokjin akan berkata seperti itu. Lelaki bergigi kelinci itu pun akhirnya hanya bisa menurut kepada yang lebih tua.

Dan, ups—Jungkook baru ingat kalau ia mendapat sebuah telur ayam di ulangan kimia itu. Lebih baik ia tenggelam saja.

***

Hyuung, demi apapun, aku lelah!”

“Kau yang mengerjakan saja lelah, apalagi aku yang mengajarimu, Kelinci Berotot!”

Dua jam dipaksa untuk menghadapi tiga puluh soal kimia yang sama sekali ia tak paham, Jungkook merasa kepalanya sudah tak berambut. Sedangkan Seokjin sepertinya telah mengasah pisau untuk adiknya tercinta kala ia melihat seluruh coretan merah yang memenuhi lembar soal ulangan milik Jungkook.

“Beri saja aku susu hangatnya, hyung! Percuma kan, nanti adanya malah dingin waktu ku minum.”

“Nanti bisa dihangatkan lagi.”

“Jangan! Kata Nam songsaenim gizinya bisa ikut hilang kalau dipanaskan terus—”

“Ya sudah, aku tidak mau tahu. Pokoknya aku akan memberikan cemilannya waktu kamu sudah selesai memperbaikinya,” sahut Seokjin. Wah, Jungkook sudah kalah telak. Kedua matanya memandang cangkir susu hangatnya nanar, tidak mungkin ia akan meminum isinya dalam waktu dekat ini.

Lihat saja sendiri pekerjaannya. Masih lima dari tiga puluh soal, huft.

Hyung.”

“Hm?”

“Cara mencari hasil dari rumus ini bagaimana?”

Walaupun begitu tetap saja, Jungkook tidak boleh menyerahkan diri begitu saja.

***

Akhirnya, Jungkook dapat merebahkan punggungnya dengan nyaman setelah satu jam penuh bergulat dengan soal killer kimia. Rasa senangnya bercampur aduk dengan rasa penat, sehingga Jungkook ingin segera masuk ke dalam alam mimpi. Seokjin tergelak, melihat wajah jenuh Jungkook mengingatkannya dengan dirinya di masa lalu.

Waktu itu, seorang Kim Seokjin persis seperti Jeon Jungkook. Dulu, Seokjin adalah sosok remaja yang nakal, tidak suka diatur, tidak dewasa, dan sangat lemah dalam bidang akademiknya. Namun, yang membuat Jungkook berbeda darinya adalah, anak itu mempunyai sifat dewasa yang tidak ia miliki. Lelaki itu dapat membedakan mana yang harus dirinya lakukan dan mana yang tidak harus dilakukan. Tidak seperti dirinya.

“Jungkook, lepas dulu jaketmu. Hyung akan menyalakan pemanasnya.”

Mager, hyung,” balas Jungkook pelan, nyawanya mulai tertarik ke alam bawah sadarnya.

Yah, setidaknya, Jungkook mempunyai seorang kakak yang perhatian di kota orang, meski bukan kakak kandung sekalipun. Begitu juga Seokjin. Sejak kehadiran Jungkook, ia tidak pernah merasa kesepian lagi.

.

.

fin.

[ this fic is for celebrating seokjin’s birthday! (walaupun telat haha) ]

Advertisements