Tags

, , , , ,

eef61edf6228d05e78931eee5ccad6b0

 No Agreement

by exoticpanda

Kim Seokjin (Jin) & Kim Namjoon (Rap Monster) of BTS

Ficlet

Romance, slight Comedy, Conflict

Teen

Disclaimer: I only own the storyline

Summary: Tidak ada kata sepakat bagi Jin dan Rap Monster.

 

Bagi Jin, semua ini salah Rap Monster. Seharusnya Byul berdua saja dengan Jin, tapi, tiba-tiba Rap Monster muncul dan mengacaukan semuanya. Entah dari mana Rap Monster datang ketika Jin baru tiba di rumah Byul untuk menjemputnya belanja bersama ke toko. Katanya sih Byul baru putus dari pacarnya, jadi dia butuh teman untuk berbelanja. Kontan saja ini adalah kesempatan emas bagi Jin. Selama dua tahun menunggu, akhirnya mereka putus juga. Hah, agaknya Jin terlampau kejam. Tapi, bukankah dunia ini memang kejam? Apalagi Rap Monster yang dengan kejam dan terlampau seenaknya ikut-ikutan menemani Byul ke toko. Kencan macam apa ini? Bertiga hah? Ber. Ti. Ga.

 

Parahnya, orang ketiganya itu adalah makhluk abstrak nan menyebalkan yang dari tadi mencoba mencuri perhatian Byul.

 

“Byul…aku tahu toko sepatu yang bagus.”

 

“Di mana?”

 

“Daerah Gangnam.”

 

“Mau buang-buang uang? Harganya selangit. Kau bisa beli bila sudah mendapat triple crown di Inkigayo,” jawab Jin asal. Inkigayo apanya? Rap monster hanyalah seorang rapper underground yang bagi Jin hidupnya amburadul. “Lebih baik di Myungdong.”

 

“Di kaki lima? Kau mau kakimu lecet, Byul?”

 

Kedua lelaki itu masing-masing menoleh ke kiri dan ke kanan, memerhatikan Byul yang berjalan di tengah-tengah mereka.

 

“Oh aku sudah punya tempat langganan,” ujar Byul. Ia menambahkan seulas senyuman. Kedua lelaki itu pun tergelepar bersamaan menatapnya.

 

:::

 

“Naik subway.”

 

“Tidak. Taksi saja.”

 

“Buang-buang uang untuk hal yang tidak terlalu penting. Subway saja.”

 

“Taksi. Kau ingin membuat Byul berdesak-desakan dengan orang-orang asing? Bagaimana bila ada pelaku pelecehan? Pencuri? Perampok?” ujar Rapmon dengan menggebu-gebu.

 

“Kau berlebihan, Rapmon. Naik bus jauh lebih murah.”

 

“Pokoknya taksi.”

 

Kepala Jin mendidih. Tidak. Ia tidak boleh kalah dari si pengganggu ini. Siapa dia? Ini kan janji antara Jin dan Byul. Lantas, mengapa Rapmon si tamu tak diundang ini mencoba mendominasi?

 

“Byul, kau pilih mana taksi atau subway? Taksi akan terlalu mahal, dan itu boros uang. Lagi pula, halte bus tidak jauh kok.”

 

“Tidak. Taksi lebih nyaman. Aku akan membayarnya untukmu, dan aku.” Rap Monster tidak mau kalah rupanya.

 

Senyum Byul yang manis kini agak masam. Ia menatap Jin, lalu Rapmon, begitu seterusnya.

 

“Ehm, aku akan naik KTX saja. Sedikit lebih mahal dari bus, namun lebih murah dari taksi. Lagi pula, lebih cepat.”

 

“Tentu saja, baru aku mau menyarankan hal itu, Byul.”

 

Hah, Jin mau muntah mendengar yang satu itu.

 

:::

 

Byul bisa bernapas lega ketika masuk ke toko. Ia disambut dengan pendingin ruangan yang terasa begitu nyaman di kulitnya. Panas sekali. Ia dari tadi merasa gerah yang sumbernya bukan hanya dari cuaca, melainkan juga dari atmosfer di sekitarnya.

 

“Byul, kau mau mencari high heels?”

 

“Atau mungkin wedges?”

 

Byul menatap kedua lelaki yang tampaknya dari tadi tidak punya kamus ‘sepakat satu sama lain’ atau pun ‘berdamai’ pada diri mereka masing-masing. Lagi-lagi gadis itu menghela napas.

 

“Aku mau cari sneaker,” katanya.

 

“Di situ.”

 

“Di sana.”

 

Jin dan Rapmon berujar bebarengan, sembari menunjuk arah kiri dan kanan.

 

Sneaker ada di situ.” Byul menunjuk lurus ke depan.

 

“Baru saja aku mau bilang,” kata Rapmon lagi, membuat Jin berdecih jijik dalam hati.

 

“Yang merah.”

 

“Tidak, biru lebih bagus.”

 

“Merah lebih terkesan keren.”

 

“Biru tidak membuat matamu sakit.”

 

“Merah juga tidak.”

 

“Biru jauh lebih baik.”

 

“Kalau itu kemeja, bolehlah biru. Tapi, tetap merah untuk sneaker.”

 

“Teori macam apa itu? Pokoknya tetap bi—“

 

“Merah. M-e-r-a-h. Merah.”

 

“Biru!”

 

“Merah!”

 

“BIRU!”

 

“MEE—“

 

“Kita tanyakan saja pada Byul,” potong Jin. “Bagaimana Byul? Kau pilih ma—“ Jin kelimpungan. Kata-katanya tidak akan pernah selesai karena ia tidak mendapati Byul ada di belakangnya, depan, samping, di mana pun.

 

“Byul di mana?” Rapmon menyuarakan apa yang menjadi bahan pikiran Jin juga. Baru sekali ini mereka punya pikiran yang serupa.

 

“Itu semua karena kau terlalu berisik.”

 

“Aku? Kau jauh lebih cerewet.”

 

“Cerewet? Tidak usah mendeskripsikan dirimu sendiri.”

 

“Apa kau bilang? Jelas-jelas karena kau Byul pergi.”

 

“Aish.” Jin mendesah frustasi. “Terserah. Aku ingin mencari Byul.”

 

“Ya! Aku yang akan menemukannya duluan.”

 

“Tidak bisa! Lebih baik kau pulang saja. Kau yang menyebabkan Byul pergi.” Jin menghentikan langkahnya, dan berujar tegas pada Rapmon.

 

“Kau gila? Itu karena kau terlalu cerewet.”

 

“Jelas-jelas itu kau. Seleramu buruk sekali.”

 

“Buruk? Sejatinya merah lebih cocok bagi perempuan.”

 

“Tentu tidak. Biru akan terlihat menawan bagi Byul.”

 

“Kau bodoh sekali, Jin. Tentu saja warna merah akan ter—“

 

“Ehem. Jin, Rapmon.”

 

“APA?” keduanya berteriak dengan emosi meluap ke arah suara yang mengganggu perdebatan mereka.

 

“Oh, itu kau Byul. Ma—maafkan aku.”

 

“Aku tidak tahu itu kau. Maaf, Byul.”

 

Gadis itu tersenyum. Lagi-lagi cukup masam.

 

“Ba-baiklah,” kata Byul. “Begini, aku ingin berterima kasih sudah mengantarkanku  kemari. Tapi, tampaknya aku akan berbelanja dengan Taehyung saja,” ucap Byul.

 

“A—apa?”

 

“Bukankah kalian sudah putus?”

 

“Ya. tapi…rupanya kami hanya salah paham. Barusan kami kembali baikan.”

 

Mereka berdua sama-sama menjatuhkan rahang dengan mata terbelalak besar yang seolah-olah siap mencuat ke luar dari rongganya. Kali ini Jin dan Rapmon sepakat untuk sama-sama sakit hati.

fin.

note: Maaf lama tidak muncul. Author yg lain sptnya juga sdg sibuk dg kehidupan masing-masing. Apa…masih ada pengunjungnya blog ini???

Advertisements