by Julian Yook

asian-buildings-city-dreamer-Favim.com-3017555

Usia bagiku adalah hal yang istimewa. Rasanya ajaib menemukan cara kita menghitung waktu sementara sisa jatah hidupku di dunia justru semakin berkurang.

Persis kuingat itu adalah perayaan ulangtahunku yang ke Sembilan belas. Tahun pertama aku hidup sebagai seorang mahasiswa. Gedung yang lebih besar, juga lift dan
fasilitas akomodasi adalah hal yang sebelumnya tak pernah kutemui.

Pada dasarnya, aku tak pernah merasa punya perubahan dari waktu ke waktu. Tapi pada usiaku yang ke sembilan belas, ada satu hal yang membuat aku bisa mengingat bahwa ini semua berbeda.

Lelaki itu adalah alasannya.

Namanya singkat, cukup dua suku kata dan orang cadel pun bisa melafalkannya dengan lancar: Dani. Aku bertanya padanya dari mana nama itu muncul. Dia tersenyum asimetris. Bukan berarti sinis, mungkin rahangnya memang tak seimbang. Kemudian dia berkata padaku bahwa Dani adalah nama daerah tempat asalnya. Mahasiswa di sini kebanyakan berasal dari luar kota, entah kenapa memanggil dengan nama tempat asal membuat mereka jadi lebih akrab.

Iya, Dani adalah alasan. Lelaki itu tingginya tidak sampai melampaui tinggiku (yang hanya 160 sentimeter). Padahal dia adalah seniorku lebih tua dua tahun. Baginya, gedung kampus kami bukan hanya besar, tapi juga tinggi. Dalam bahasanya, ini semua
lebih dekat dengan langit. Dengan awan. Dengan matahari.

14:00 adalah waktu mata kuliah anatomi fisiologi, tapi aku berada di sini. Bersama rambut yang berkibar ditiup angin, kulihat matanya yang kecil makin menyempit, dari sisi kulihat tulang hidungnya tenggelam hingga tahu-tahu di ujung sana cupingnya muncul secara tiba-tiba namun manis. Ia melambaikan tangannya ke udara dengan lincah namun potongan rambutnya tidak rusak, baru kusadari kali ini ia memakai sedikit minyak rambut.

Dia menoleh ke arahku, menggantungkan tangannya di udara, menghentikan gerakannya tiba-tiba. Kami memang berbeda. Sangat berbalik. Bagiku dia adalah si periang yang amat sangat ceria. Gerakannya sangat enerjik seperti bola bulu yang selalu memantul. Tekadang kutemukan dia bernyanyi dengan bahasa daerah yang kosa katanya tak aku mengerti. Sementara aku, bukan. Bukan yang seperti itu. Aku tersesat. Aku tidak tahu persisnya apa yang terjadi dengan badan ini. Namun satu yang pasti, jika diberikan kesempatan untuk lahir kembali, aku berharap tak ditempatkan di tubuh yang ini. Itu saja.

“Jadi nakal sekali-kali tidak apa-apa, kan?” masih dengan gerakan yang terhenti, ia berkata padaku. Aku mengangguk, tidak apa-apa, tentu saja.

Tak lama, kulihat Dani sudah kembali menggelitikkan jari-jarinya ke langit. Bibirnya bergerak seperti merapalkan mantra, sementara matanya terpejam erat.

“Semua orang punya masalah kepribadian,” ujarnya tak lama kemudian. “Bahkan aku pun punya.”

Aku menggeleng, menerbitkan senyum tidak percaya. Dia juga ikut tersenyum sambil merenggangkan otot lengannya.

“Suaraku terlalu lembut, mendayu, seperti suara perempuan. Bahkan dalam bergaul, aku cenderung lebih nyaman bersama perempuan dan orang-orang kira itu adalah sebuah masalah.”

“Tapi kau—”

“Pintar bergaul?” selanya buru-buru. “Semua orang akan berkata seperti itu. Tapi kau… tapi kau… tapi kau…. Seperti yang kau lihat, jadi orang lain selalu tampak
lebih mudah dan menyenangkan. Itu yang kau lihat di luar.”

“Bahkan orang ceria sepertimu punya masalah?”

“Iya.”

Kami terdiam, membiarkan angin dan senyap mengambil alih.

“Hari ini aku ulang tahun.” Aku berhenti sejenak, melihat hamparan langit biru di belakang kepalanya. “Yang ke Sembilan belas tahun.”

Kupelajari wajahnya yang nampak mencerna apa yang kulontarkan. Ia tersenyum sedikit, benar-benar ciri khasnya.

“Usia harus dikenang,” ia berkata, singkat saja.

-ooo-

Kami menepi ke tempat yang lebih teduh. Di sana, Dani menyuruhku duduk dan mulai melepas kaos kakiku. Dia mengeluarkan jarum suntik baru dari sakunya dan mulai menggoreskan benda itu di dekat maleolus medialisku. Pelan, dia menggoreskan angka yang akan aku ingat selalu. 19. Hingga akhirnya darah segar menetes-netes. Tapi aku hanya bisa tersenyum dan merasakan perih ini dengan hati yang senang.

TAMAT

Advertisements