Tags

,

tumblr_nibfnbqIhX1u0qmjvo1_500

angel.

jirongiie‘s storyline

[BTS] V & Jimin

genre: friendship, fluff, school life | length: ficlet (600+ words) | rate : t

“Barusan aku bertemu seorang malaikat di perpustakaan,”

Perkataan itu lantas mengalihkan pandangan Jimin ke arah Taehyung dalam sekejap, mulutnya yang sejak tadi terus bertaut pada sedotan akhirnya terlepas kemudian langsung menganga seperti orang bodoh. Kedua irisnya memandang kaget sahabat bodohnya, memasang raut wajah tak percaya—memang dia tidak percaya, kok. Jimin tak ingin termakan lagi oleh perkataan Taehyung yang sebagian besar selalu omong kosong, entah dari masalah sepele seperti ada uang yang tengah kau injak sampai masalah besar menyangkut masalah pelajaran.

“Hei bro, kau tahu tidak kalau besok ada ulangan kimia tentang polimer!”

—Jimin masih ingat dialog itu, dan itu sangat menjengkelkan. Bayangkan, ia yang nilainya tercatat kurang bagus pada pelajaran kimia mendengar ada ulangan kimia pada keesokkan harinya dengan materi yang sama sekali belum bisa ia nalar. Jimin pun yang sadar akan kemampuannya akhirnya bersikeras menghabiskan waktu malamnya hanya untuk belajar sampai fajar kembali terbit.

Jimin berakhir dengan materi kimia yang cukup masuk ke dalam pikirannya—hasil kerja kerasnya semalaman—, namun harus merelakan jam tidur berharganya. Akibat itu, ia tampak sangat ogah-ogahan saat masuk ke kelasnya, membuat sang sahabat bingung dengan teman seperjuangannya satu ini. Taehyung yang dilanda dengan segala tanda tanya di kepalanya memutuskan untuk bertanya langsung kepada Jimin yang disahut dengan keluh kesahnya yang tumpah ruah.

“Kau bertanya kenapa mataku merah? Soalnya aku tidak tidur semalam. Kenapa aku tidak tidur? Karena aku belajar materi ulangan kimia yang kau sebut itu mati-matian! Semalam kemarin itu serasa seperti seabad, apalagi dengan suasana kamarku yang berantakan, kelihatan seperti sedang terjadi perang dunia ketiga di kamarku sendiri!”

“Hah? Kau percaya dengan kalimatku tentang ulangan itu?”

—awalnya Jimin tak paham dengan kalimat Taehyung itu, tapi perlahan ia mengerti.

“Hei, aku bercanda tahu tentang itu! Kau terlalu percaya denganku, hahaha.”

Mengingat itu lagi, Jimin pun mengerutkan keningnya, menatap Taehyung dengan penuh kecurigaan. Kedua tangan yang semula diletakkan di atas meja ia lipat di depan dadanya, menerka-nerka semua kemungkinan yang terjadi di balik pernyataan Taehyung tadi, “Kau mencoba untuk membohongiku lagi, kan?” timpalnya.

Taehyung menggumam, cenderung lebih menggerutu. Sambil mengunyah ttekbokki yang baru saja ia beli dari tempat langganannya, tangannya mengambil ancang-ancang untuk menoyor kepala Jimin tapi akhirnya tak jadi melakukannya karena sahabatnya itu sudah menduganya.

“Aku tidak sedang ingin berbohong, Jim.”

“Kau terlalu banyak dosa, Tae.”

“Percayalah kepadaku, aku tidak berbohong saat ini,”

“Dua hari yang lalu kau bilang kepadaku supaya aku tidak terlalu percaya denganmu karena kamu suka berbohong,”

“Tapi aku berkata sesuai dengan fakta, Jim. Tadi aku benar-benar bertemu dengan seorang perempuan sangat cantik di perpustakaan. Kutebak ia setingkat dengan kita, hanya beda kelas saja,”

“Tubuhnya sangat sempurna. Kulitnya putih, kupikir ia ingin menantang Yoongi hyung. Lalu ia memakai converse biru muda, aku yakin dia orang kaya. Kemudian rambutnya, ya ampun hitam dan berkilau! Aku harus mendapatkan nomor teleponnya sehabis ini!” ucap Taehyung heboh sembari kembali memegang sumpitnya lalu memasukkan tteok yang kesekian ke dalam mulutnya. Jimin yang masih bingung antara ingin percaya atau tidak hanya bisa menghela napasnya, kembali menyeruput minumannya dan mencoba seakan-akan tadi ia tak mendengar apapun dari mulut Taehyung, tentang perempuan cantik seperti malaikat apalah itu.

“A—astaga kenapa cepat sekali terkabulnya. Jim, itu cewek yang kumaksud!”

“Ah, bodoh. Paling-paling omonganmu akan menuju ke Seokjin hyung,”

“Lihat-lihat dia berjalan ke sini!”

Jimin mau tak mau mengarahkan pandangannya sesuai dengan arah tangan Taehyung. Semula, netranya masih tidak menemukan apapun—dan kepalanya ingin segera berbalik lalu memukul Taehyung habis-habisan karena pikirnya ia telah dibohongi lagi—, namun kepalanya kembali berbalik setelah matanya menemukan objek yang dimaksud. Seorang gadis, dengan setumpuk buku berada di tangan kanannya dan handphone yang dipasang earphone  di tangan kirinya, serta sepasang converse biru muda di kakinya dan surai hitam yang membuat Jimin tak bisa mengalihkan pandangannya darinya.

Segera ia merogoh telepon genggamnya lalu memotret gadis itu dari belakang. Irisnya kemudian menatap Taehyung dengan berbinar, menyisakan tatapan sinis yang dibuat oleh sang sahabat.

“Kubilang juga apa—”

“Aku naksir dengannya!”

“Hei, dia milikku, Jimin bodoh!”

“Aku tidak mau tahu pokoknya aku naksir dia!”

fin.

akhem—bentar
so, halo untuk para pembaca dan untuk kakak-kakak senior! sebelumnya maafkan aku yang baru sempet posting ff di bangtan fanfict.
one year ago (astaga ga enak), aku diterima jadi author tetap di sini dengan uname lama (endorelly-irene kalau enggak salah), dan karena setahun yang lalu aku bisa dibilang (sok) sibuk/? akhirnya waktu selalu habis duluan untuk buka akun wordpress ;-; please forgive me, admin-nim :”

dan karena aku istilahnya pengen bayar hutang(?), jadi aku bakal usahain sering-sering publish disini:)

sekian dari jejak kakiku, ditunggu komentarnya yaa;))

xx,

jirongiie

Advertisements