Tags

, , , , ,

A story By Mrs. Heo

Cast-Park Jimin | Sophie Han [OC] | Kim Seokjin | Jeon Jungkook | Others

Genre-Romance, fluff, Sad

Duration-Oneshoot

THE REALITY

Read the previous one BAD

— SOPHIE HAN—

Aku segera menarik Jungkook setelah memastikan kami tidak berada dalam jarak pandang Jimin.

“Kenapa?” tanya Jungkook kelewat tenang.

“Kenapa?” Aku mengulang pertanyaannya dengan heboh. Jungkook paham dari sekian banyak hal yang perlu ia tanyakan kenapa jelas bukan salah satunya. Ia sudah tahu alasan dari kenapanya barusan.

Melihat reaksiku yang hampir kalap, Jungkook melepaskan cengkraman pada lengannya. “Apa kau sadar kalau posisi kita ini berbahaya?” Bukannya membuat jarak, ia hanya menunjuk bahuku yang begitu dekat dengan tubuhnya. Jika dilihat dari belakang, saat ini aku terlihat seperti sedang menghimpit Jungkook. Dan omong-omong saat ini kami sedang berada di depan toilet.

Aku mendesis dan mundur perlahan.

“Aku tidak tahu.” Kali ini Jungkook sudah bersedekap, menatapku dengan tatapan menilai. “Apa gadis yang saat ini sedang berdiri di hadapanku adalah Sophie? Sophie tetanggaku yang super pendiam itu?”

Aku memijat pelipis. Terserah apa katanya. Dia memang tampan, tapi kadang omongannya tidak bisa dipahami.

“Apa kau tidak bertanya?”

“Tentang?”

“Tentu saja tentang apakah Sungyeon sudah memiliki kekasih apa belum!” Aku menjabak rambut Jungkook dengan gemas.

“Kalau menurutnya itu bukan informasi penting—“

“Jeon Jungkook!” Dengan gerakan cepat Jungkook segera menghindari pergerakan tangan kananku lagi.

“Baiklah, bisakah kau bersikap lebih tenang. Aku sudah putus dengannya. Aku meminta untuk mengakhiri hubungan kami. Kau puas!” Jungkook merapikan rambutnya dengan kesal.

“Kenapa harus kau sih Jungkook?” Aku menghela napas panjang. Dari sekian banyak laki-laki brengsek yang bisa dipilih Sungyeon sebagai selingkuhannya kenapa harus temanku sendiri, Jeon Jungkook. Mau diletak dimana wajahku ini jika bertemu dengan Jimin.

“Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa harus kau?”

“Eh?”

Jungkook meletakkan kedua tangannya di atas bahuku. “Kenapa harus kau yang memarahiku? Memangnya kau memiliki hubungan apa dengan anak baru itu?”

“Tentu saja aku—“ Kata-kata itu menggantung begitu saja. Tentu saja aku apa? “Itu karena dia sudah menghiburku perihal masalah Seokjin. Aku hanya tidak enak saat melihat insiden tadi malam. Secara tidak langsung aku terlibat.”

Jungkook mendesah. “Kembalilah ke peran awalmu.”

“Eh?”

“Sophie Han yang pendiam, galak dan mengintimidasi. Kembalilah ke Sophie Han yang seperti itu. Bukan kah kau diciptakan dengan karakter seperti itu? Jangan melenceng dari peranmu.”

“Jungkook—“

“Aku tidak tahu menahu mengenai Sungyeon, kau juga tidak terlibat dalam kekacauan ini baik secara langsung maupun tidak, tidak perlu merasa bersalah. Urus saja kehidupan pribadimu daripada memikirkan anak baru itu.” Jungkook menepuk-nepuk pundakku dan berjalan melewatiku dengan kasul.

Ketika Jungkook lewat, aroma tubuhnya tercium oleh indra penciumanku. Kalau diingat-ingat kami sudah cukup lama saling mengenal hingga sampai di titik pesona apapun yang dikatakan orang-orang tentangnya tidak membuat kami saling tertarik. Kata-kata Jungkook barusan memang terdengar kasar tapi tidak bisa aku pungkiri kalau aku sependapat dengannya.

Jungkook tidak tahu, jadi tidak seharusnya aku menyalahkannya.

Menurut Jungkook aku bukan seperti Sophie yang ia kenal.

Aku seperti melenceng dari peran awalku.

Aku sudah mengakui bahwa pendapatnya mengenai aku yang tidak perlu merasa bersalah terhadap Jimin adalah benar.

Tapi,

Aku selalu membenci kata penghubung itu. Satu kata itu mampu menghancurkan keabsahan argumen sebelumnya.

Tapi tetap saja refleks tubuhku tidak bisa membuatku tidak merasa bersalah terhadap Jimin. Sophie yang dikenal Jungkook tidak mungkin akan bersikap norak seperti ini dengan berusaha menyatu dengan tembok ketika menangkap sosok Jimin.

“Hai.” Aku pikir orang lain yang mengatakannya. Ternyata Jimin. Ia yang terlebih dulu menyapa seperti di dalam lift waktu itu.

“Hai.” balasku kaku.

Jimin tersenyum simpul.

“Kau kesal padaku?”

Jimin mengerutkan dahi. “Untuk?”

Oh, untuk apapun yang menurut Jungkook tidak perlu aku pikirkan.

Selama beberapa saat Jimin menatapku heran. “Kau benar-benar Sophie Han yang aku kenal kan?”

Aku mengerutkan hidung. Apa aku terlihat seperti seseorang yang tidak akan meminta maaf terlebih dahulu?

“Untuk alasan apa kau harus merasa bersalah sehingga meminta maaf kepadaku?”

“Untuk—“

Aku membiarkan kata-kataku menggantung. “Sudahlah, lupakan saja.” Mendadak aku merasa kesal. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan, dan karakter seperti itu sepertinya memang tidak sesuai denganku.

Suara tawa Jimin menghentikan langkahku. “Ada yang lucu tuan Park Jimin?”

“Kau yang lucu!” Jimin masih saja menertawakanku. “Terima kasih.”

Aku melongo. Haruskah aku mengulang pertanyaannya? Untuk apa ia mengucapkan terima kasih kepadaku.

“Ini adalah tawa pertama sejak kemarin malam.”

Oh. Aku memilih untuk tidak berkomentar. Bagus juga aku bisa berfungsi sebagai seseorang yang bisa ditertawakannya.

“Tapi, apakah kau mengganti parfummu?”

Parfum? Bagaimana Jimin tahu? Apa ia hapal aroma parfum yang selama ini aku pakai? Aku menggantinya karena parfum yang selama ini aku gunakan adalah pemberian Seokjin-sang-mantan-kekasih-yang-sebentar-lagi-akan-menikah. Aku tidak ingin kenangan tentang Seokjin masih tersisa, jadi yah seperti membuang sial. Sore nanti aku juga sudah berencana memotong rambutku.

“Itu parfum yang sama yang dipakai oleh Sungyeon.” sambung Jimin kalem, kelewat kalem malah.

Oh, jadi setelah selera Seokjin sekarang selera Sungyeon?

“Jadi?” seharusnya aku tidak bertanya seperti itu.

Sepertinya dimata Jimin aku sudah kembali menjadi Sophie Han yang mengintimidasi.

“Maaf.” Jimin memandangku tidak enak.

“Aku akan menggantinya.” Tanpa membubuhkan senyum aku meninggalkan Jimin, mengurungkan niat untuk membuat kopi di pantry. Tanpa bertanya pun aku akan melakukannya. Mana sudi aku menjadi bayang-bayang Sungyeon meski itu hanya aroma parfum. Terima kasih kepada Seokjin yang telah menyadarkanku bahwa seleraku ternyata benar-benar payah.

Seseorang pernah mengatakan bahwa memotong rambut adalah salah satu ritual membuang sial.

Jadi, aku mencoba peruntungan membuang sial dengan memotong rambut. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan parfum yang sama dengan Sungyeon sehingga aku memutuskan untuk tidak pergi ke salon langgananku, mengantisipasi kalau Seokjin akan berada di sana bersama calon isterinya tersebut.

Tapi Sial.

Baru saja aku memasuki salah satu salon kecantikan yang berada di dalam pusat perbelanjaan, sesosok yang ingin aku buang bersama kesialan lainnya pasca berakhirnya hubungan kami sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Posenya masih sama seperti ketika menungguiku dulu. Duduk bersandar dengan kaki disilangkan.

Lagipula aku tidak pernah meminta Seokjin menemaniku, hanya memintanya untuk menjemput sesekali jika terlalu malas pulang sendiri. Jadi, sekarang si calon isterinya itu mendapat perlakuan yang lebih spesial dariku. Oh, baiklah mungkin aku memang tidak sepenting yang aku perkirakan.

Berusaha tanpa membuat suara, aku berbalik perlahan. Belum lagi tanganku menggapai kenop pintu, suara menyebalkan itu memanggil.

“Sophie?”

Nada bicaranya tidak yakin, jadi jika aku memutuskan untuk melanjutkan bergerak tidak akan membuat Seokjin curiga dan menganggap dirinya salah lihat.

“Sophie.” Seokjin memanggil dengan lebih mantap. Bahkan ternyata dia mengejarku sampai ke pintu keluar. “Sophie.” Ia sudah menyentuh pundakku.

Tapi. Sial. Seokjin. Aku benci ketiga kata itu, terutama yang terakhir.

“Oh, Seokjin?” tanyaku berpura-pura bodoh. “Sedang apa?” tanyaku sambil celingak-celinguk ke dalam salon melalui kacanya yang transparan. Seokjin pasti sudah hapal dengan reaksiku yang satu ini. Pasti terlihat jelas bahwa aku sedang gugup.

“Tidak jadi masuk?” Seokjin mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum. Sial! Aku benci senyum kalemnya itu.

“Tidak di salon yang sama dengan mantan kekasihku.” Aku sendiri kaget mendengar nada bicaraku yang terlalu ketus.

“Aku rasa kita berpisah dengan cara baik-baik.” Seokjin menuntunku ke pinggir karena ada seorang pelanggan yang akan masuk.

Oh, aku lupa. Seokjin tidak mengetahui bahwa aku sudah melihat foto tidak senonohnya itu.

“Ya, tentu saja.” Aku berusaha tetap tenang.

“Kalau begitu, mari kuperkenalkan dengan Youngji.”

Aku segera menarik diri saat Seokjin akan menyentuh lenganku. Memperkenalkan Youngji katanya? Dimana hati laki-laki ini?

“Kau tahu kalau aku masih menyayangimu. Tapi ibuku—“

Aku tidak bisa mendengar kata-katanya lagi. Aku sudah sibuk menahan tangis yang membuat mataku terasa panas. Hubungan kami sebelumnya memang baik-baik saja. Sangat baik malah. Permintaan gila Seokjin yang membuatnya menjadi tidak baik. Jadi bohong kalau aku sudah melupakan laki-laki super perhatian sepertinya.

“Aku paham. Jadi aku permisi.” Syukurlah ternyata aku masih mampu mengucapkan kalimat sepanjang itu tanpa terisak.

“Sophie, apa aku melakukan kesalahan lagi?”

Jungkook dan Jimin benar. Aku bukan lagi Sophie yang mereka kenal. Sophie yang mereka kenal tidak mungkin menunjukkan sisi lemahnya, apalagi sampai hilang kendali hingga akan menangis di hadapan mantan kekasihnya.

“Aku baik-baik saja sampai melihat foto itu.” Kali ini mataku sudah berkaca-kaca, tinggal menunggu waktu sampai aku mempermalukan diriku sendiri dengan menangis di hadapan Seokjin.

“Foto apa?” Seokjin tampak bingung. Tentu saja ia tidak memiliki ide foto apa yang kumaksud. Mana sadar dia bahwa ada yang memotret dirinya.

“Mungkin dulu kau tidak menyukainya karena belum saling mengenal. Tapi setelah mengenalnya, aku yakin kau dengan begitu mudah jatuh terhadap pesonanya, meski dia gadis desa sekalipun.” Kali ini aku tidak menahan diri untuk tidak berkata tajam. Itu satu-satunya perlindungan diri yang masih aku miliki. “Dia pasti seseorang yang begitu luar biasa. Tapi tidak hari ini untuk mengenalnya. Tidak hari ini, besok atau kapan pun sampai aku memaafkan diriku sendiri.”

“Sophie—“

Kali ini Seokjin sudah tidak berusaha mencegahku lagi. Sial! Memangnya dia pikir dia siapa sampai membuatku menangis di pusat perbelanjaan seperti ini? Brengsek! Persetan dengan masih menyayangiku.

Astaga!

Aku tidak memiliki pilihan selain menabrakkan diri ke pagar pembatas. Sensasi pusing langsung menyergap kepalaku, sepertinya kepalaku mengeluarkan darah. Sial, ini semua karena si Kim Seokjin itu. Aku tidak pernah menyangka akan melakukan tindakan seperti ini. Sepanjang perjalanan pulang aku menangis dan memacu mobil dengan kecepatan penuh sampai kecelakaan ini terjadi.

Aku segera keluar mobil, ingin memastikan kondisi orang yang hampir saja aku tabrak. Oh, jangan bilang dia terluka, jangan bilang sesuatu yang buruk terjadi pada orang itu.

Mengabaikan kepalaku sendiri yang pusing, aku segera memecah kerumunan. Seseorang tergeletak di sana. Oh Tuhan. Apa aku baru saja membunuh seseorang?

“Hei, kau harus bertanggung jawab!” Seseorang mendorong bahuku dengan kasar. Aku masih belum bisa bereaksi. Bertanggung jawab? Apa kali ini kesalahannya begitu fatal?

“Aku tidak apa-apa.”

Aku seperti mengenal suara itu.

“Hanya lecet sedikit.”

Orang itu berdiri dengan tertatih, celana kain bagian lutut dan kemeja hitamnya robek di beberapa bagian. Sepertinya lukanya tidak terlalu parah.

Tapi,

“Sophie Han?” korban tabrakanku menyebut namaku.

Tanpa sadar aku menghela napas lega terlalu keras.

“Sophie, kau!” Jimin melihat luka di kepalaku dan buru-buru menolehkan kepalanya ke arah mobilku yang kap nya sudah terbuka karena menabrak pagar pembatas.

Syukurlah. Syukurlah orang itu adalah Jimin. Entah kenapa melihat Jimin membuatku merasa lega. Tanpa sadar aku menangis. Sial si Kim Seokjin itu, efek sakit hatinya ternyata masih belum hilang.

“Kepalamu berdarah—“ Jimin menghentikan kata-katanya saat melihat air mataku yang mulai mengalir.

“Jimin.” Tanpa sempat berpikir aku memeluk Jimin. “Seokjin, mengkhianatiku.” Fakta yang selama ini aku kesampingkan. Pengkhianatan Seokjin. Selama ini aku beranggapan bahwa akan baik-baik saja jika aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi berbicara langsung dengan Seokjin membuat semuanya tidak berjalan sesuai rencana.

“Ya Tuhan! Jadi ini semua karena Seokjin?” Jimin membalas pelukanku dan menepuk-nepuk punggungku. “Kita harus segera ke rumah sakit. Sepertinya itu bukan benturan biasa.” Jimin segera menuntunku untuk mencari taxi. “Aku akan menelepon Jungkook untuk mengurus mobilmu.”

Aku sampai lupa siapa tersangka dan korban dalam kecelakaan ini.

—PARK JIMIN—

Baru kali ini aku mendapati sosok Sophie Han merasa bersalah terhadap orang lain. Mungkin aku memang baru beberapa minggu mengenalnya tapi gosip tentang Sophie Han yang mengintimidasi benar-benar bukan bualan belaka tapi di luar pekerjaan ia sepertinya begitu menyenangkan.

Sophie Han yang tiba-tiba meminta maaf. Sophie Han yang hampir saja menabrakku hingga melukai dirinya sendiri. Sophie Han yang secara mendadak menangis sambil memelukku. Meskipun aku tidak mengenal Seokjin entah kenapa aku memiliki perasaan tidak suka kepadanya.

Aku hanya bisa melirik Sophie yang masih berbaring di atas ranjang. Lukanya tidak parah, mungkin hanya ­shock. Kata-kata yang ia ucapkan ketika memelukku sepertinya adalah puncaknya. Seokjin berkhianat. Bukankah itu sudah jelas? Kenapa ia baru mengakuinya sekarang? Apa ia baru saja bertemu dengan Seokjin? Aku ingin sekali bertanya, tapi sepertinya kami belum cukup akrab untuk menanyakan hal yang bersifat pribadi semacam itu.

“Aku minta maaf.” Sophie akhirnya bersuara. Aku pikir ia akan mendiamiku sampai besok pagi.

“Tidak apa-apa, lukaku tidak terlalu parah.” Aku memasang wajah baik-baik saja tapi sepertinya Sophie tidak percaya. “Aku benar-benar baik-baik saja.”

“Berapa ganti rugi yang harus aku bayar?”

“Tidak perlu, lukamu lebih parah.”

“Apa memang begini sifatmu? Pantas saja kau selalu diinjak-injak oleh orang lain, termasuk oleh kekasihmu sendiri.”

Lidah tajam Sophie juga bukan bualan. Ia memang terkenal jarang berbicara tapi tidak ada yang mampu menyangkal perkataan apa adanya Sophie Han.

“Apa maksudmu?”

“Kau jangan bersikap terlalu baik. Bagaimana kalau yang menabrakmu itu adalah orang lain? Apakah kau juga akan bersikap seperti ini? Tidak mau dibayar ganti rugi?” Sophie mendengus kesal. Aku hanya bisa melongo.

“Kau tidak menabrakku, kalau kau tidak ingat. Luka ini aku dapatkan karena aku terkejut akan kemunculanmu yang tiba-tiba sehingga terjatuh ketika berusaha menghindari mobilmu. Kau belum menabrakku.”

“Bukan itu poin utamanya Park Jimin.”

“Lalu?”

Sophie menghela napas. “Kau terlalu baik. Orang jadi memanfaatkanmu.”

Aku menatap Sophie. Aku sudah sering mendengarnya, biasanya aku selalu kesal tapi entah kenapa ketika mendengarnya dari bibir Sophie terasa berbeda.

“Mungkin aku butuh seseorang yang lebih tegas dari diriku.”

“Sungyeon juga mungkin memanfaatkanmu—“

“Masalah itu aku juga sudah tahu.”

“Lalu?” Sophie bangkit dari posisi berbaringnya. “Kau membiarkannya?”

“Aku menyayanginya, aku pikir—“

“Aku pikir dia akan berubah jika kau menyukainya dengan tulus?” Sophie melanjutkan kalimatku dengan emosi. Ada apa dengannya? “Persetan! Kau pikir ini dunia dongeng?”

“Aku tidak suka mendengarmu mengatakan kata kasar seperti itu, sama sekali tidak cocok dengan dirimu.”

Sophie mendengus. “Seokjin juga bilang dia menyayangiku tapi lihat apa yang terjadi! Suatu hubungan tidak akan berjalan lancar jika tidak saling menguntungkan.”

“Maaf, tapi aku bukan orang seperti itu. Aku tidak memerlukan sesuatu yang menguntungkanku untuk menyayangi seseorang.”

“Tsk, terserah kau sajalah. Aku hanya mengingatkan, jangan terlalu lembek kalau tidak kau hanya akan dimanfaatkan terus-menerus.”

“Mungkin kau adalah salah satu contoh tipe orang yang aku butuhkan.”

Aku masih memperhatikan Sophie yang sedang menghancurkan kertas

“Kau baik-baik saja?” Kemunculan Jungkook menutup pandanganku terhadap Sophie. “Itu pasti sangat mengerikan. Ia tidak pernah sekacau itu.” Kali ini laki-laki bertubuh kekar itu memutar kursi berodanya dan menunjuk Sophie. “Pasti kata-kata Seokjin benar-benar membuatnya marah.”

Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Sophie yang marah itu jauh lebih mengerikan sesungguhnya tapi aku tidak mau berbagi informasi semacam itu kepada Jungkook karena laki-laki itu pasti sudah tahu. “Seokjin itu pasti orang yang menyebalkan.”

“Tapi dulu ia sering sekali mentraktirku.”

Aku melirik Jungkook yang sudah kembali sibuk dengan laptopnya dengan tatapan ngeri. Apa semudah itu mengambil hatinya?

“Tapi bukan berarti aku tidak kesal kepadanya. Yah, mau bagaimana lagi. Mungkin ini cara Tuhan memberitahu Sophie bahwa Seokjin bukanlah orang yang tepat.”

Seharusnya rentetan kalimat Jungkook barusan memiliki efek samping membuatku tercengang dengan kata-kata penuh petuahnya, namun nada bicaranya yang kelewat datar malah membuat kalimat itu terdengar menjengkelkan.

“Siapa menurutmu orang yang tepat?”

Jungkook memasang tampang berpikir. “Mungkin.” Bocah itu sengaja menggantung kalimatnya. “Kau.”

Selama beberapa sekon aku berusaha mencerna kalimatnya. Kau? Maksudnya aku?

“Bercanda.” Lanjut Jungkook dengan nada datar dan kembali sibuk dengan laptopnya.

“Oh, begitu.” dengusku.

“Kau akan datang ke pernikahannya?” itu suara Jungkook, jadi aku memundurkan langkahku kembali dan memilih duduk di meja yang tidak terlalu jauh dari kedua orang itu.

“Menurutmu?”

“Kalau kau datang pasti kau akan terlihat sebagai pemenang meski aku tidak yakin kau bisa menahan diri untuk tidak berkata tajam kepada Seokjin.”

Aku berpura-pura menikmati makan siangku dengan penuh konsentrasi. Sophie sama sekali tidak terlihat tersinggung, mungkin ia sudah terbiasa dengan sifat Jungkook karena mereka benar-benar mirip.

“Atau satu hari sebelum pernikahannya kau kirimkan saja fotonya dan si Youngji itu.”

Ide Jungkook terdengar kejam. Kenapa harus satu hari sebelum pernikahan? Kenapa tidak sekarang saja? Sengaja ingin menyiksa Seokjin dengan membuatnya menyesal di satu hari menjelang hari pernikahannya?

“Boleh juga sih.”

Hah? Apanya yang boleh juga sih. Mereka berdua sama saja kejamnya! Kenapa di rumah sakit aku harus merasa senang karena Sophie Han perhatian terhadapku—Itu kalau kata-katanya tentang aku yang terlalu baik bisa disebut sebagai bentuk perhatian.

“Tapi—“

“Ya sudah, tidak usah.” Jungkook mulai menyantap makan siangnya. “Aku yakin kau tidak tega.” Ia mengambil sayuran yang ada di atas piring Sophie dan memindahkan ke piringnya. Sophie Han tidak menyukai sayuran, sebagai informasi tambahan.

“Seokjin juga mengundangku sih. Tapi lebih bagus lagi kalau kau bersama laki-laki lain, agar kau tidak terkesan terlalu menyedihkan.”

Kalau aku yang menjadi Sophie mungkin aku sudah menyiram Jungkook dengan air. Tapi lagi-lagi Sophie tidak terlihat tersinggung dan seperti sependapat dengan Jungkook.

“Aku bisa menemanimu.” Aku tidak ingat sejak kapan bergerak mendekati kedua orang itu karena saat ini yang aku dapati hanyalah tatapan keheranan Jungkook dan Sophie. Bahkan tanpa sadar Jungkook hampir mengeluarkan makanan yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.

“Aku harus bagaimana? Apa kita perlu membeli pakaian yang warnanya senada? Apa aku harus memegang tanganmu selama pesta pernikahan Seokjin?”

“Jimin, hentikan!” Sophie akhirnya menyerah dan memusatkan perhatian kepadaku yang sudah duduk manis di depan meja kerjanya. “Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Yang perlu kau lakukan hanyalah menemaniku ke pernikahan Seokjin. Paham?”

Tanpa sadar aku mengerucutkan bibir.

“Kau tidak ingin memanfaatkanku?”

Sophie menatapku tajam. “Maksudmu?”

Sepertinya mode judes Sophie Han sudah aktif. Tapi bukankah itu artinya dia sudah kembali seperti biasa?

“Maksudku, kau bisa menggunakan aku untuk membuat Seokjin—“

“Cemburu? Kau pikir itu akan bekerja?”

Aku hanya mengendikkan bahu. “Untuk alasan lain juga tidak apa-apa sih.”

Tampang Sophie semakin bingung.

“Aku tidak apa-apa kalau yang memanfaatkan diriku adalah kau, Sophie Han.” Aku bahkan tidak sadar mengapa mengucapkan kata-kata bodoh itu, sama seperti ketika aku secara mendadak menawarkan diri untuk menemani Sophie ke pernikahan Seokjin. Mungkin tanpa aku sadari Sophie memiliki kekuatan semacam itu.

“Itu tidak lucu.”

“Aku sedang tidak bercanda, aku serius.” Apa ku bilang, Sophie pasti memiliki semacam kekuatan ajaib yang membuatku melakukan sesuatu tanpa sadar.

“Aku sibuk, keluarlah!” Sophie membenarkan posisi duduknya dan kembali membaca dokumen-dokumen yang sebelumnya sedang ia pelajari ketika aku datang menemuinya.

“Kau masih mengharapkan Seokjin?”

Sophie diam tidak menanggapi.

“Apa tidak ada celah bagimu untuk menyukai orang lain?”

“Apa kau sedang menggodaku?” tanpa mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang sedang ia baca Sophie mengatakan kalimat itu dengan lancar dan tanpa nada, seperti Jungkook.

Aku mendadak tidak bisa berkata apa-apa lagi. Menggodanya? Yang benar saja. Aku? Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku lakukan.

“Jika tidak, keluarlah!” sambung Sophie. Ia masih tidak menatapku. Mungkin ia sedang kesal dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata tajam karena aku masih anak baru.

Tanpa perlu diusir untuk yang kesekian kali aku bergerak kaku keluar dari kubikel Sophie. Aku lihat Jungkook sedang berdiri di depan mejanya, memperhatikan aku dan Sophie. Apa ia mendengarnya? Apa ada orang lain yang mendengar percakapan antara aku dan Sophie barusan. Demi Tuhan aku tidak bermaksud menggoda Sophie. Aku hanya, mencoba menghiburnya.

“Bukan begitu cara kerjanya.”

“Apa?”

Jungkook menatapku lucu. “Kau menyukai Sophie?”

Sebelumnya aku menjawab dengan cepat dan lancar tanpa keraguan tapi kenapa sekarang aku merasa ragu. “Tidak.” Jawabku setelah beberapa detik terdiam.

“Begitu cara kerja Sophie. Membuat orang lain tanpa sadar menyukainya.”

“Apa sih.” Aku menerobos Jungkook agar bisa duduk di kubikelku. Jungkook malah tertawa renyah.

“Sophie tidak suka laki-laki norak. Jadi, kalau kau bermaksud mendekatinya jangan menggunakan cara yang sama ketika kau mendekati Sungyeon.”

“Aku tidak norak!” Bantahku. Benar juga, pasti tadi aku sangat norak sehingga Sophie merasa jengah terhadap sikapku. Lagipula siapa suruh dia bersikap seperti itu sehingga aku tidak tahan untuk berusaha menghiburnya.

“Jadi kau menyukai Sophie?”

“Jungkook, hentikan.” Kenapa pertanyaan semudah itu menjadi begitu membingungkan sekarang?

“Ya atau tidak?”

“Ya, tapi bukan dalam artian suka antar lawan jenis.”

“Benarkah?” Jungkook berpura-pura terkejut. Bocah ini sudah berani mempermainkan aku rupanya.

“Kalau kau mengakuinya sekarang mungkin aku bisa membantu, tapi jika dikemudian hari aku sudah tidak bisa janji lagi.”

Aku menatap Jungkook yang sudah berbalik dan bergerak menuju meja Sophie. Hah? Meja Sophie. Aku mendesah lega saat Sophie menunjuk-nunjuk dokumen yang tadi dibacanya kepada Jungkook. Wajah keduanya tampak serius. Sophie yang mengerutkan dahi dan Jungkook yang mengetuk-ngetuk ujung pena di atas meja, menunjukkan ia sedang berpikir keras.

Melihat mereka berdua seperti itu kenapa rasanya mereka semakin terlihat menyebalkan.

Advertisements