Tags

, , , ,

A story By Mrs. Heo

Cast-Park Jimin [BTS] | Sophie Han [OC] | Kim Seokjin [BTS]| Others

Genre-Romance, fluff, Hurt

Duration-Oneshoot

Then you disappear like a dream

With no time to touch, I’m captivated by you”

(Bad-Infinite)

jimin_1434812593_20150620_jimin_forensics2

Aku masih mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyapa salah satu senior di tempat kerjaku yang baru, Sophie. Entah kenapa aku begitu menyukai namanya. Kami hampir tidak pernah berbicara kecuali saling bertukar senyum jika tanpa sengaja berpapasan di koridor. Segan sekali rasanya menyapa terlebih dahulu, sepertinya Sophie bukan tipikal yang memikirkan tentang senioritas, ia hanya terlalu pendiam, mungkin.

Baru saja aku akan mengucapkan namanya saat ia melihat sesuatu dari ponsel dan mengeluarkan sepatah kata yang tidak pernah aku bayangkan akan keluar dari bibirnya. Wajahnya terlalu kalem untuk berbicara kasar seperti itu.

“Brengsek!” Ia mengulanginya sekali lagi.

Hampir saja aku berpikir ia menujukan kata itu kepadaku. Jimin, kau harus berani! Bersosialisasi tidak pernah menjadi pekerjaan yang mudah. Lingkungan baru, orang-orang baru, rutinitas baru bukan perkara gampang, tapi tetap harus dicoba. Aku baru dua minggu bekerja di perusahaan ini, tentu akulah yang seharusnya memulai pembicaraan dengan senior di sini.

“Selamat pagi, sunbae.” Aku pikir Sophie tidak mendengarnya saat ia mengalihkan wajah dari ponsel. Ugh, sepertinya mood-nya sedang jelek. Ia terlihat sangat kesal. Apa karena si brengsek dari ponselnya itu?

Setelah beberapa sekon terdiam menatapku, mungkin sedang menginisialisasi siapa orang tak dikenal yang baru saja menyapanya, akhirnya ia tersenyum canggung. “Anak baru ya?” tanyanya ramah. Aku mengangguk, kelewat bersemangat sepertinya, ternyata senior Sophie mengingat wajahku.

“Park Jimin.” Aku mengulurkan tangan dan Sophie membalasnya dengan senyuman yang lebih bersahabat dari sebelumnya.

“Sophie Han.”

Suaranya cenderung lembut untuk pelafalan kata brengsek.

“Kita satu departemen.” imbuhku. “Hanya terpisahkan beberapa kubikel saja.”

“Benarkah?” tanyanya tidak percaya.

Aku mengangguk. “Ketika perkenalan karyawan baru, sepertinya sunbae tidak masuk.”

“Kapan itu?”

Aku tidak menyangka si pendiam Sophie akan terus membalas ucapanku sehingga pembicaraan ini tetap berlanjut.

“Dua minggu yang lalu.” Aku maju selangkah, bermaksud mempersempit jarak untuk mengakrabkan diri.

“Oh.” Sophie tampak kecewa. “Dua minggu lalu ya.” sambung Sophie.

Apa ada yang salah dari jawabanku?

Ting!

Pintu lift terbuka.

“Ayo, aku duluan ya!” Sophie melambaikan tangan dan berjalan cepat. Padahal bisa saja kami berjalan beriringan menuju ruangan, tapi sepertinya ia tidak berminat melakukannya denganku. Apa karena jawaban terakhirku? Dua minggu yang lalu. Apa ada yang salah dari jawaban itu?

“Hei, sudah tahu kalau Sophie putus dari kekasihnya?” seorang gadis yang tidak kuketahui namanya baru saja memasuki pantry dan segera menghampiri temannya yang tengah menyesap kopi.

“Kim Seokjin?”

“Hmmb, padahal kudengar Seokjin mengajaknya menikah.”

Gadis yang sedang menyesap kopi itu tersedak. Lalu tertawa terbahak.

Apa ada yang lucu? Kenapa dengan gadis-gadis tukang gosip ini? Semoga saja Sophie tiba-tiba muncul dan melabrak kedua orang ini.

“Gila si Kim Seokjin itu!”

“Katanya orang tuanya yang memaksa.”

“Lantas, lihat apa hasilnya! Mereka putus! Mana mau si Sophie itu menikah.”

Aku memelankan gerakan mengaduk teh yang sedang kubuat. Jadi, Sophie menolak lamaran kekasihnya? Kenapa? Bukankah itu kekasihnya? Bukankah mereka menjalin hubungan untuk menikah? Aku rasa bukan si Kim Seokjin itu yang gila, tapi si Sophie Han.

“Lihat ini!”

Hampir saja aku menumpahkan teh yang sedang kubuat saat Sophie datang dan setengah berteriak dengan nada manja seperti itu. Aku pikir dia adalah tipikal si serius yang amat pendiam. Sophie menarik kursi dan bergabung bersama dua gadis tukang gosip itu tanpa ragu. Jadi, Sophie tidak akan melabrak kedua gadis itu? Ingatkan aku untuk melakukannya lain kali.

“Kekasih baru Seokjin?” Dengan gerakan tidak sabar, gadis itu meletakkan cangkirnya dan merebut ponsel Sophie—hampir saja ponsel itu terjatuh.

Sophie mengangguk cepat. “Dia benar-benar brengsek!”

Wow, kata itu lagi. Rasanya ingin sekali aku menghentikannya mengatakan kata-kata kasar macam itu. Wajahnya sama sekali tidak sesuai dengan kata itu.

“Kau bilang, ibunya menjodohkannya dengan gadis desa.”

“Gadis desa apanya! Lihat saja foto itu!”

“Jadi, Seokjin lebih memilih gadis desa itu daripadamu?”

“Kau lihat saja itu! Mereka seperti akan menempel. So disgusting!”

“Kau sudah memberitahu Seokjin alasanmu belum mau menikah?”

Sophie mengangguk.

Apa? Apa alasannya. Aku bahkan belum siap untuk melamar kekasihku.

“Lantas?”

“Ya itu, dia bilang orang tuanya sudah tidak bisa menunggu lagi untuk memiliki cucu.”

Kedua gadis itu mengangguk-angguk dan salah seorang diantara mereka mengelus-ngelus punggung Sophie.

“Lagipula yang benar saja, baru dua tahun dia sudah mengajak menikah. Dia itu gila atau apa?” Sophie mendengus.

“Kau itu yang gila!” Ya Tuhan! Tanpa sadar aku berteriak. Aku sudah tidak tahan lagi dengan pembicaran orang-orang itu. Si Kim Seokjin itu sudah serius dengan hubungan yang mereka bina dan si pendiam Sophie yang ternyata kurang waras malah menolaknya.

“Jimin?” Sophie memandangku heran, sepertinya daritadi dia tidak menyadari keberadaanku. “Kau mengataiku gila?” Ugh, bagaimana kalau Sophie yang sebelumnya aku pikir adalah gadis kalem mengamuk dan menghajarku di pantry?

“Ti, tidak. Temanku, teman temanku, temanku mengirimiku pesan. Jadi yang gila adalah kau, eh maksudku adalah temanku!” Aku sudah tidak tahu lagi apa yang sedang aku bicarakan. Bagaimana kalau Sophie tidak mempercayaiku. Dia salah satu senior yang disegani di sini, bagaimana kalau dia mengadu pada atasan lalu aku dipecat, lalu gagal sudah impianku untuk melamar Sungyeon karena aku akan segera menjadi pengangguran.

Sophie menghela napas dan menghadap ke teman-temannya lagi. Ia mempercayaiku?

“Laki-laki itu, daripada memilih yang setia lebih tertarik kepada gadis yang memberikan service lebih.” Teman Sophie berbicara lagi, mengabaikan insiden bodoh barusan.

Sophie mendongak, memiringkan kepala seolah sedang berpikir. “Iya juga sih.”

Mereka gila! Mereka semua kumpulan wanita gila. Mungkin aku salah karena senang bisa berkenalan dengan Sophie.

Pukul 11 malam. Aku meregangkan dasi yang kukenakan. Penat sekali rasanya. Satu harian ini banyak sekali dokumen yang harus diurus. Dengan sisa tenaga yang masih ada, aku melangkah gontai sambil memikirkan kedai soju langgananku yang tidak jauh dari sini. Kalau saja tidak selarut ini, pasti aku sudah mengajak Sungyeon pergi bersama.

Ketika hampir sampai di pintu keluar aku melihat satu meja yang masih diterangi pantulan cahaya layar laptop. Itu meja Sophie Han. Tanpa pikir panjang aku menghampiri meja Sophie, ia sedang tidak mengerjakan apapun. Ia malah menelungkupkan kepalanya di atas meja. Laptopnya bahkan tidak menampilkan lembar kerja apapun, hanya wallpaper berwarna hitam. Aku tidak tahu kalau Sophie Han sesuram ini, berbanding terbalik dengan namanya yang terdengar ceria dan menyenangkan.

Sunbae tidak pulang?”

Sophie Han bergeming. Apa dia tidur?

“Mau pulang bersama?” Ragu-ragu aku menyentuh pundaknya, Sophie langsung tersentak. “Aku mengagetkanmu ya?” Buru-buru meminta maaf melihat reaksi Sophie. Ia terlihat berantakan, dan matanya sembab. Apa dia menangis? Apa karena si Kim Seokjin itu? Tapi bukankah dia yang menolak?

Sophie berdiri dan melihat ke sekeliling. “Hanya tinggal kita berdua ya?” Suara Sophie hampir tidak terdengar, tapi aku berusaha keras memahaminya meski tidak jelas.

Aku mengangguk. “Ayo, pulang bersama!” tawarku.

Sophie tampak berpikir. Kami jarang berbicara dan begitu asing. Sophie tipikal yang sulit beradaptasi sedangkan aku selalu berusaha berbaur dengan lingkungan baru. Mudah saja bagiku beramah tamah dengannya tapi tidak dengan Sophie. “Sudah makan malam? Bagaimana kalau aku traktir?” Berharap Sophie akan tertarik dengan penawaranku yang satu ini. Siapa tahu bisa memperoleh sedikit informasi mengenai si Kim Seokjin itu.

Sophie bermaksud mengambil ponsel dari dalam tasnya saat sesuatu yang tidak diinginkannya ikut keluar. Undangan pernikahan? Sophie menghela napas. Sudah tidak terhitung berapa kali dalam satu hari ini, gadis itu menghela napas.

“Undangan pernikahan mantan kekasihku.” ujar Sophie lemah. Ia menyodorkan undangannya kepadaku. “Mau lihat?” Sophie berusaha berbicara sesantai mungkin tapi jelas ia tidak berhasil menyembunyikan kekecewaannya.

Aku terkekeh dan mengambil undangan tersebut. Kim Seokjin dan Heo Youngji. Tidak ada yang menarik dari undangan ini, sehingga aku segera mengembalikannya. “Boleh aku bertanya mengenai mantan kekasihmu ini?” Aku masih menyayangi pekerjaanku, jadi kalau tidak ingin dipecat aku harus meminta ijinnya terlebih dahulu sebelum membuatnya tersinggung dengan pertanyaan mengenai Kim Seokjin.

“Silahkan saja.” Sophie mengaduk-ngaduk supnya dengan malas. “Aku sudah cukup terbiasa, jadi tidak masalah kalau kau juga ingin tahu.”

“Dia menikah setelah memutuskanmu?”

Pergerakan tangannya terhenti. Lagi-lagi menghela napas. “Dia bilang sih orang tuanya yang memaksanya untuk menikahi gadis itu. Dia bilang dia tidak mencintai gadis itu. Tapi tiba-tiba, salah seorang temanku mengirimkan foto Seokjin dan gadis itu sedang berciuman panas. Menggelikan sekali. Aku sampai bingung harus menangis atau tertawa.” Aku tidak menyangka Sophie akan menjawab sedetail itu.

“Jadi, kalian putus karena Seokjin dijodohkan?”

“Eoh?” Sophie tampak bingung. “Aku belum siap menikah, masih ingin mengejar karir.”

Aku baru saja akan menanggapi saat Sophie kembali berbicara. “Bukankah kalau dia benar-benar mencintaiku dia mau lebih bersabar?” Sophie menatapku, baru kali ini aku benar-benar menatapnya dari jarak sedekat ini. “Bagaimana kalau kau yang menjadi Seokjin? Menunggu atau meninggalkanku?”

Aku menelan ludah. Jika seandainya aku adalah Seokjin dan aku benar-benar serius kepada Sophie, tentu aku akan menunggunya. Sekarang atau nanti, jika sudah berkomitmen tentu kapan menikah tidak akan menjadi masalah, yang penting kan masalah hati. “Kalau aku benar-benar serius, pasti aku akan menunggumu.”

“Meskipun orangtua mu terus memaksa agar segera menikah?”

Menikah berarti menikahi seluruh anggota keluarganya juga. “Kita bisa berikan penjelasan yang bisa diterima.”

“Orangtuanya tidak bisa menunggu terlalu lama lagi untuk mendapatkan cucu. Seokjin beranggapan bahwa usia berpacaran kami sudah cukup untuk dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Tapi aku tidak! Masih banyak yang ingin ku kejar dan aku belum mau terkekang dengan pernikahan apalagi sampai direpotkan dengan anak. Bukan berarti aku tidak mau, hanya saja aku belum cukup siap. Tentu saja aku ingin menjadi ibu, tapi tidak sekarang, tidak sebelum aku dan keluargaku menikmati hasil jerih payahku.”

Aku hanya bisa menatap Sophie. Dia terlalu mandiri dan ambisius, tapi itu masuk akal. Ia masih punya sesuatu yang harus dituju. Jujur saja kalau aku yang menjadi Seokjin dan berada dalam posisi sulit seperti itu aku akan tetap berada di pihak Sophie, bagaimana pun caranya. Tapi dengan mengaminkan bahwa tindakan Seokjin adalah salah pasti akan membuat Sophie semakin tertekan.

“Kau juga akan meninggalkanku ya?” Sophie bertanya lirih. Sosok yang begitu mengintimidasi dari balik meja kerjanya itu kini tampak seperti gadis yang begitu polos.

“Aku suka dengan cara berpikirmu. Aku suka gadis yang memiliki cita-cita.” Aku mengulas senyum. Jujur, aku sangat menyukai pola pikirnya. Ia tidak takut untuk bekerja keras.

“Lalu?”

“Kalau aku, tentu saja akan mendukungmu. Bersabar menunggu juga tidak apa-apa, meraih cita-cita bersama malah lebih bagus.” Aku terkekeh, Sophie malah tampak bingung.

“Oh, begitu ya. Berarti laki-laki memang lebih menyukai gadis yang memberikan service lebih daripada yang setia.

“Eh?” Aduh, jalan pikir Sophie benar-benar sesuatu.

Sudah dua hari Sophie tidak masuk. Dari salah satu senior yang belakangan ini mulai akrab denganku mengatakan bahwa Sophie sedang sakit. Tapi sepertinya ada yang janggal. Sophie bukan tipikal yang gila kerja, namun dia selalu ingin yang terbaik dari hasil kerjanya. Jarang sekali Sophie memiliki riwayat ketidakhadiran selama bekerja di sini. Sakit? Kenapa sejak kasus dirinya dan Seokjin ia menjadi sering sakit. Apa jangan-jangan? Aku menggelengkan kepala, menepis semua pemikiran buruk mengenai Sophie. Gadis itu terlalu mencintai karirnya untuk memutuskan bunuh diri. Tapi bisa saja kan? Dia bahkan menangis di meja kerja karena memikirkan pernikahan si Kim Seokjin itu.

“Sophie itu orang yang bagaimana sih?” tanpa sadar aku bertanya kepada Jungkook, rekan di sebelahku.

“Sophie Han?” Jungkook tidak memalingkan wajah dari layar laptop, terus mengetik sambil sesekali menggumamkan sesuatu.

“Ya, senior Sophie.”

“Kenapa?”

Dasar Jungkook si gila kerja, padahal 15 menit lagi sudah waktunya pulang, tapi dia tetap saja berkutik dengan dokumen-dokumen pekerjaannya.

“Hanya penasaran saja.” jawabku asal. Jujur saja, karena namanya yang sama sekali tidak korea itu, aku beranggapan bahwa dia memiliki darah keturunan asing, ternyata ia hanya besar di Canada saja dan hal itu membuatku sedikit penasaran dengannya.

Jungkook menggaruk kepalanya yang sepertinya memang gatal karena hampir setiap hari lembur. “Dia baik, tidak pelit jika ditanya.”

Baik? Definisi baik itu terlalu umum. Semua orang juga kalau ditanya mengenai pendapatnya tentang orang lain rata-rata menjawab baik.

“Baik itu terlalu umum.”

“Kau ingin jawaban sebagai junior yang ingin tahu tentang seniornya atau junior yang tertarik dengan seniornya?” Kali ini Jungkook menoleh ke arahku.

“Eh?”

“Kau tertarik pada Sophie?”

“Tentu saja tidak!”

“Oh.” jawab Jungkook enteng. “Lantas kenapa tanya-tanya?”

Kenapa bocah bernama Jeon Jungkook ini menjadi begitu menyebalkan? “Tidak boleh ya?” tanyaku lebih menyebalkan lagi.

“Biasanya, jika laki-laki bertanya mengenai wanita itu, karena mereka tertarik kepadanya.”

Aku tidak mengerti bagaimana cara Jungkook mengatakan semua hal itu dengan nada kelewat santai.

“Aku sudah punya kekasih. Jangan berpikir yang macam-macam!”

“Aku tidak berpikir yang macam-macam.” Jungkook menutup lembar excel dan mematikan laptopnya. “Kau penasaran karena dia ditinggal menikah oleh kekasihnya kan?”

Setelah laptop Jungkook mati, ia merapikan mejanya. “Dia benar-benar sakit, bukan karena berniat bunuh diri karena ditinggal Seokjin.”

Jadi, daritadi si Jeon Jungkook ini tahu arah pembicaraanku hanya saja sengaja bersikap menyebalkan seperti itu? Bocah ini, benar-benar ya! Awas saja kau Jeon Jungkook!

“Kalau kau belum tahu, apartemen kami bersebelahan.”

Sial bocah ini!

“Oh begitu ya. Ya sudah, lain kali saja.”

Panggilan langsung terputus. Sungyeon yang memutuskannya terlebih dahulu, padahal aku yang menelepon. Aku menatap dua tiket menonton yang sudah kupesan. Padahal jarang-jarang aku bisa pulang awal seperti ini. Haruskah aku menonton seorang diri?

Popcorn berukuran jumbo, plan t-shirt berwarna putih, jeans hitam dan rambut yang diikat asal-asalan. Sepertinya wajahnya tidak asing, tapi kenapa penampilannya seperti seseorang yang tidak kukenal.

Sophie? Sophie Han?

Benarkah itu Sophie Han? Ada apa dengan gaya rambutnya itu? Ia terlihat seperti bocah menengah pertama yang kehilangan rombongannya saat piknik.

“Bukankah sunbae sedang sakit?” tanpa sadar aku sudah berjalan menghampiri Sophie.

Aku curiga Sophie memiliki jantung yang lemah karena ia mudah sekali terkejut, padahal aku hanya menyentuh pundaknya pelan.

“Park Jimin?” Sophie tampak terkejut.

“Membolos ya?”

Sophie mengerucutkan bibir. “Hari pernikahan Seokjin semakin dekat, aku tidak bisa konsentrasi bekerja.”

Pemikiran mengenai bunuh diri seharusnya tidak pernah terlintas dibenakku. Orang macam Sophie mana mungkin pernah memikirkan hal semacam itu. Ia begitu realistis. Masalah ini jelas bukan masalah enteng yang bisa dilupakan begitu saja dengan menonton di bioskop dengan popcorn ukuran jumbo, tapi Sophie melakukannya. Ia bahkan menceritakan mengenai Seokjin seolah hal tersebut adalah wajar. Seokjin menikahi gadis lain dan ia yang dikecewakan. Selesai, tidak ada drama di dalamnya.

“Mau menonton bersama? Aku punya dua tiket.” Aku menyodorkan tiket yang sengaja kubeli untuk Sungyeon karena beberapa hari sebelumnya ia merengek ingin menonton film ini.

“Batal kencan dengan kekasihmu ya?”

Aku mendesis. Jungkook dan Sophie sama saja. Mereka cocok sekali menjadi tetangga karena memiliki kepribadian yang begitu mirip. “Aku tidak suka Cinderella. Maksudku, aku tidak terlalu suka kisah dongeng princess yang diangkat menjadi film.” Sophie mengembalikan tiketnya.

“Biasanya wanita suka princess.”

“Tapi aku bukan si biasanya itu.” jawab Sophie tak acuh.

“Jadi kau mau menonton apa?”

Sophie melihat-melihat judul film yang tertera di layar monitor. “Tidak ada yang menarik. “Tapi film action selalu jadi alternatif yang tepat.”

“Baiklah, kutraktir.” Sebelum mendapat persetujuan Sophie, aku sudah melangkah untuk membeli tiket.

“Tidak usah. Sebelumnya kau sudah mentraktirku. Sekarang gantian.” Tahu-tahu Sophie sudah berdiri di belakangku.

“Aku sedang berusaha menghibur gadis yang sedang patah hati.”

Tepat setelah kata itu terucap, Sophie memukul lenganku. Aku terkekeh. “Lain kali saja kau mentraktirku.”

Terlalu banyak adegan brutal dan penuh darah. Kalau Sungyeon pasti sudah merengek meminta pulang. Tapi Sophie Han sama sekali tidak mengalihkan pandangannya saat adegan penuh darah itu muncul di layar. Jangan-jangan dia sedang membayangkan Seokjin yang menjadi korbannya.

Karena bosan, aku mengirimi pesan kepada Sungyeon.

To : Sungyeongi

Nanti mau kujemput?

Tidak sampai lima menit sudah ada balasan dari Sungyeon. Aku mendesah. Ia menolak untuk dijemput, pulang bersama teman katanya. Aku melirik Sophie yang masih serius menonton sambil mengais-ngais sisa popcorn yang aku pikir tidak akan habis oleh dirinya sendiri. Seandainya gadis yang sedang duduk di sebelahku ini adalah Sungyeon, pasti menyenangkan.

Sunbae, bertetangga dengan Jungkook ya?”

“Panggil aku Sophie saja. Iya, kami teman sejak masa kuliah.”

Oh sial. Ternyata Jungkook memang begitu mengenal Sophie.

“Sudah berapa lama kau berpacaran dengan kekasihmu?”

“Dua tahun.”

Sophie hanya menanggapinya dengan anggukan dan terus memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya. Sejak menonton tadi, sepertinya Sophie tidak pernah berhenti mengunyah. Mungkin itu caranya untuk menghibur diri.

“Kekasihmu baik-baik saja kita berduaan seperti ini di taman?”

Aku tertawa. Sophie Han memang tidak pernah segan menanyakan sesuatu secara blak-blakan. Ia terlalu jujur.

“Apa kita terlihat seperti sedang berselingkuh?”

Sophie terkekeh.

Setelah puas menatap Sophie yang terus mengunyah keripik kentang, aku mengalihkan pandangan ke sekeliling, menikmati taman kota di malam hari. Dari kejauhan tampak pasangan yang saling berangkulan. Mereka sepertinya sedang mencari tempat duduk yang kosong.

“Siapa nama kekasihmu?” Sophie kembali bertanya. Kali ini ia sudah mengunyah biskuit.

“Sungyeon.” Entah kenapa aku tidak mau melepaskan pandangan dari pasangan itu. Aku seperti mengenali mereka. “Sungyeon?” ucapku saat kedua pasangan itu mengambil tempat duduk di sebelah kami. Sungyeon menoleh, begitupula dengan Sophie.

Sebelumnya Sophie menanyakan apakah Sungyeon baik-baik saja jika kami duduk berduaan seperti ini di taman? Tapi kami tidak melakukan apapun selain duduk. Sophie menghabiskan cemilannya dan aku sesekali mendengarkan keluh kesahnya mengenai berakhirnya hubungannya dengan Seokjin. Bahu kami bahkan tidak bersentuhan saat duduk bersebelahan.

Tapi, Sungyeon? Bukan hanya bahu mereka yang bersentuhan, tapi juga jemari mereka yang bertaut. Bukan hanya kemunculan Sungyeon yang mengejutkan, namun laki-laki di sebelahnya tidak kalah mengejutkan. Sungyeon yang menyadari keberadaanku segera melepas genggaman tangannya. Lelaki tersebut juga tampak terkejut, tapi bukan karena keberadaanku, namun karena Sungyeon yang tiba-tiba melepaskan tautan jemari mereka.

“Jungkook, apa yang kau lakukan dengan—Sungyeon?” Sophie yang membuka pembicaraan.

Ya, mereka memang Jungkook dan Sungyeon.

HAHAHAHAHHA, Halooooo, long time no see. Secret Crush and maybe epilog of Unstoppable Marriage masih di waiting listnya, pffft (Begitu juga dengan fanfict lainnya). Sebenernya curi-curi waktu aja sih buat ini ff disela-sega magang karena :

1) Kesemsem sama perannya Jimin di Dope. Jadi pengen buat Jimin sebagai anak kantoran. (ceileh)

2) Judulnya nggak nyambung, memang! Cuma karena lagi suka sama Bad-nya Infinite aja & nggak tau judul apa yang cocok buat fanfic gak jelas ini.

3) Kangen Nulis TT

4) Pengen nyoba pake POV orang pertama, huhuhuhu.

5) Karena udah lama nggak nulis, sepertinya bahasanya jadi kacau makanya sekalian latihan. LOL

6) Lagi suka sama nama Sophie (nggak nyambung).

Baiklah, sekian dulu. Bagi yang nggak suka sama endingnya bisa kontak Hayati langsung dan kita selesaikan secara kekeluargaan, HAHAHAHHAAH. Love ya ^^

 Btw, this's my first time using Jimin as Main Cast, kkk
Advertisements