Tags

, , , ,

The Missing Bullet

Caramel Kim Storyline


-Main Casts
: Park Jimin (BTS), Min Jiyoung (OC), Min Yoongi (BTS),| Other Cast : another BTS’s Members and also another support casts|Genre : Romance, Action, Crime|Length : Chaptered |Rating : PG 17

Inspired by SALT and ABDUCTION

The Missing Bullet Cover 2

Park Jimin, seorang mata-mata Korea Utara ditugaskan untuk membunuh seorang agen intelijen Korea Selatan yang dianggap mengancam keselamatan negaranya. Tapi, Jimin berpaling dari misinya, dan menjadi seseorang yang bahkan diburu oleh kedua Negara itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan Apa yang ingin Jimin cari?

-The Missing Bullet-

Jadi Min Donghyun menyimpan data-data itu?

Suara diseberang sana masih terdengar jelas merembes masuk lewat headset yang masih terpasang ditelingaku. Aku mengerutkan kening sambil menahan nafas. Sedikit lagi, maka aku akan dapat lokasi dimana data itu disimpan.

“Aku tau aku bisa mengandalkanmu. Baiklah kau boleh pergi.”

Sial.

Segera kulepaskan kedua headset yang terpasang dikupingku. Pintar sekali mereka, bahkan mereka tidak menyebutkan lokasi dimana data itu berada. Tentu saja, mereka tidak akan semudah itu membocorkan rahasia penting. Aku mendengus sambil memasukan headset itu kedalam saku jas, pikiranku bekerja cepat sekali sekarang.

Jadi, pada akhirnya aku harus membuntuti Min Donghyun juga.

Dengan sikap normal aku lalu keluar dari toilet dan bergabung dengan keramaian lorong utama. Aku harus mencari Min Donghyun sekarang, aku tidak akan membiarkan kesempatan ini hilang. Walaupun aku tidak bisa membunuhnya sekarang, tapi aku harus tau dimana data itu disimpan.

Kupercepat langkahku yang menjejaki lantai pualam putih. Bunyi derap kaki terdengar menggema diseluruh lorong. Aku memang agak tergesa, dan bisa kulihat seisi orang-orang yang berjalan disekitarku menatap dengan bingung.

Min Donghyun, dia pasti belum jauh.

Pandanganku menyapu sekitar, berusaha mencari wajah Min Donghyun yang mungkin saja ada diantara berbagai kerumunan orang. Tidak, aku tidak menemukan wajahnya dimanapun. Aku menarik nafas dan menjilat bibirku sekilas, lalu berbalik arah dan turun menuju lantai dasar. Baiklah, aku akan menunggunya hingga dia keluar dengan sendirinya.

-The Missing Bullet-

Sepulang kuliah Yoongi dan salah satu rekan kelasnya, Jung Hoseok, pergi ke perpustakaan kampus. Yoongi sudah menceritakan semuanya pada Hoseok, termasuk flashdisk misterius yang diberikan ayahnya tempo hari. Dia meminta pria itu untuk membantunya, walaupun dengan agak memaksa. Tapi Hoseok setuju, walau dia tidak menjanjikan hasil yang baik.

“Jadi,”
Hoseok menggenggam flashdisk yang nampak mengilat ditangannya itu lalu menoleh kearah Yoongi yang duduk disisinya. Mengabulkan permintaan Yoongi memang agak sedikit membuat Hoseok takut, tapi siapa yang bisa menolak jika sahabatmu datang menemuimu dengan tampang kusut dan kebingungan lalu meminta bantuanmu? Tentu saja Hoseok tidak bisa menolak.

“Ayolah bantu aku, kau jago dalam hal seperti ini.”
Desak Yoongi cepat pada temannya itu, dia menatap Hoseok secara intens, berharap rekannya itu akan membantunya kali ini. Sekali ini saja kok, batin Yoongi dengan was-was. Hoseok mengangguk lalu mulai menyalakan komputer yang ada dihadapannya sambil melirik sekilas kearah Yoongi, dia juga was-was.

“Pertama-tama aku harus lihat dulu jenis password yang digunakan ayahmu, karena jenis password bisa berbeda-beda.” Yoongi mengangguk begitu mendengar ucapan Hoseok, walaupun dia sama sekali tidak mengerti maksudnya. Yoongi mulai menatap layar itu dengan begitu serius, dan Hoseok mulai memasukan flashdisk ke slot, dan dengan agak gugup dan penasaran mereka pun mulai bekerja.

Hoseok mulai memasukan berbagai macam karakter ke sebuah kolom yang kini muncul dilayar, pikiran Yoongi berputar cepat, tampilan dilayar saat ini persis seperti tampilan layar komputernya kemarin. Ya, kemarin dia mencoba untuk membuka isi file dalam flashdisk itu, walau hasilnya nol besar.

“Hoseok-a?” dengan suara tersendat Yoongi mulai memanggil nama rekannya itu. Kening Yoongi berkerut, matanya terpancang lurus kearah layar. Kini, layar didepannya sudah menunjukan pemandangan lain, dan hal itu membuat kepala Yoongi berputar semakin cepat seperti gasing.

“Ya Tuhan.”
Gumaman Hoseok membuat Yoongi semakin gugup dan takut. Mereka berdua memperhatikan layar didepan, kini layar itu sudah berubah menjadi gelap dan muncul berbagai macam simbol angka dan huruf acak. Simbol-simbol itu muncul begitu cepat dan berubah-ubah, melihatnya sekilas malah membuat Yoongi mual. Dia tidak paham apa maksud tampilan aneh itu.

“Aku tidak paham maksudnya. Hoseok? kau mengerti?”
Yoongi mengalihkan pandang pada temannya itu, Hoseok mengerutkan kening sambil terus memandangi layar itu nyaris tanpa berkedip. Yoongi bergidik, dia takut terjadi sesuatu pada Hoseok.

“Ssh, Yoongi-a, Pastikan tidak ada orang yang memperhatikan kita.”
“Apa,”
“Pastikan saja!”

Walau agak kaget dengan ucapan Hoseok tapi Yoongi berjingkat dari duduknya dengan gerakan cepat, dia mengedarkan pandangannya kesekeliling perpustakaan. Tidak ada banyak orang, hanya ada segerombolan anak yang sedang membaca.

“Aman.”
Ucap Yoongi berbisik. Hoseok lalu mengangguk dengan wajah khawatir, dan menatap Yoongi dengan tatapan bingung dan cemas.

“Aku memang belum bisa membuka isi file itu, tapi dari jenis password dan kode yang dipakai ayahmu,”
Hoseok menuding pada layar sekilas.
“dia memakai kode yang biasa dipakai badan Intelijen. Aku tau ini sulit dipercaya, tapi, coba lihat. Kode-kode ini, aku tau betul ini kode yang dipakai di situs CIA dan semacamnya.”

Pandangan Yoongi kini jatuh pada layar yang ditunjuk oleh Hoseok. pria itu menunjuk ke berbagai macam kode aneh dilayar, dan itu membuat Yoongi cemas sendiri, apa sebenarnya maksud ayah? Yoongi berpikir terlalu cepat sampai membuat kepalanya sakit.

“Kau bisa membuka isi filenya? Maksudku, jika aku tau apa isinya setidaknya aku akan tau maksud ayah.”
Ujar Yoongi dengan nada tersumbat. Dia benar-benar bingung dan jujur, takut. Apa yang sebenarnya terjadi? Kalimat itu terus menggema didalam kepalanya dengan keras. Yoongi sesekali melirik ke layar, dia bergidik lagi.

“Entahlah Yoongi-a, saat ini aku belum bisa membukanya. Dulu aku juga pernah mencoba membuka situs CIA, dan gagal. Tapi aku akan berusaha demi kau.”
Ucap Hoseok dengan begitu pelan, dia lalu menutup layar yang kini berpendar misterius itu lalu mencabut flashdisk dari slot. Yoongi menatap temannya itu dengan cemas.

“Ini membuatku gila.”
Desis Yoongi pelan sambil menyimpan flashdisk kedalam saku jaketnya. Dia menelan ludah gugup, lalu menarik nafas panjang dan memejamkan matanya.
“Aku tau ini membuatmu stress, tapi sebaiknya kau pulang sekarang. Jangan beritahu siapapun soal ini Yoongi-a, aku rasa ini sangat berbahaya.”

Yoongi mencerna ucapan Hoseok dengan lambat. Lambat sekali, bahkan dia nyaris tak sanggup berpikir apapun sekarang. Ini sungguh aneh, dan jujur saja, mengerikan.

“Terimakasih Hoseok-ya.”

Kata-kata Yoongi terdengar begitu hambar, dia sama sekali tidak bisa berpikir, otaknya sudah mati rasa.

“Tidak masalah, pulanglah Yoongi-a. Jika aku sudah menemukan petunjuk aku akan hubungi kau. Pastikan kau tidak mengatakan hal ini pada siapapun, dan jangan katakan apapun pada ayahmu.”

Hoseok menepuk pundaknya pelan, dia menatap rekannya itu dengan tatapan simpati. Pasti berat jadi Yoongi, dia sudah lama hidup didalam bayang-bayang kemisteriusan ayahnya. Dan sekarang, dia dititipi sesuatu yang pastilah begitu rahasia dan berbahaya.

Yoongi menghela nafas dan mulai beranjak dari kursinya. Wajahnya terlihat sangat pucat sekarang.

“Baiklah, aku tunggu kabar darimu.”

-The Missing Bullet-

Tidak ada brangkas atau tempat mencurigakan apapun disana.

Aku menghela nafas berat lalu mematikan layar laptop-ku yang sudah menyala selama berjam-jam lamanya. Rasanya percuma jika aku hanya melakukan pengintaian dan meretas system cctv mereka, nyatanya aku tidak mendapatkan hasil yang berarti.

Sudah tiga hari aku melakukan pengintaian dirumah keluarga Min. Dan sudah tiga hari pula aku memata-matai aktivitas Min Donghyun dikantor, dan tempat-tempat lain yang biasa dia kunjungi. Dan hasilnya? Aku hanya mendapatkan informasi bahwa Min Donghyun hanyalah ayah biasa. Dia pergi kekantor, lalu toko kue untuk membelikan sekotak cake buah untuk anak-anaknya, dan terkadang dia juga pergi menjemput putri bungsunya kesekolah. Tak ada hal mencurigakan yang aku dapat, dan itu membuatku frustrasi.

Dimana dia menyimpan data-data itu?

Berpikirlah Park Jimin. Pikirkan kemungkinan apa yang mungkin kau buat jika kau harus menyimpan sesuatu yang sangat penting. Pkiranku buntu, dengan kesal aku menarik nafas lalu melempar pandang keluar jendela apartemen, menatap semburat merah yang tergurat dilangit Seoul petang ini. Min Donghyun tidak mungkin menyimpan data itu didalam lemari seperti dia menyimpan akte kelahiran, atau menyimpan data itu didalam brangkas. Tidak mungkin, pasti ada tempat yang tidak terduga yang dia jadikan tempat untuk menyimpannya.

Tunggu.

Mungkin aku melewatkan sesuatu.

Dengan agak terperanjat aku lantas kembali menyalakan laptop yang baru saja mati beberapa menit yang lalu. Iya, mengintai dari satu sisi tidak cukup, aku tidak bisa terus menerus memantau satu sisi.

Begitu layar sudah menyala sepenuhnya, dengan cepat aku kembali meneruskan pekerjaanku yang nyaris aku sudahi tadi. Sudah seharusnya aku lebih bersabar, aku harus bisa melihat celah yang mungkin bisa kujadikan petunjuk. Walaupun celah itu sangat kecil.

Tampilan layar sudah sepenuhnya berubah menjadi tampilan cctv dirumah keluarga Min. Aku menahan nafas selagi memperhatikan delapan kolom yang menampilkan ruangan berbeda, dan belum ada aktivitas disana kecuali putri bungsu mereka yang sedang menonton tayangan televisi.

Aku mengerjap begitu menyadari ada aktivitas lain dirumah ini, dan segera saja aku mengalihkan pandanganku kekolom lain dilayar itu. Tapi rasa antusiasku lalu lenyap begitu menyadari bahwa yang muncul dibalik pintu adalah Min Yoongi, putra sulung Min Donghyun. Aku pikir yang baru pulang adalah ayahnya, ternyata bukan.

Mau tak mau, aku harus menunggu sedikit lagi. Dengan agak kurang fokus karena mataku mulai perih aku masih memperhatikan layar. Kulihat Min Yoongi masuk kedalam foyer lalu melepas sepatu dan jaketnya dengan gerakan malas. Awalnya tidak ada gerakan berarti yang tertangkap kamera, namun beberapa saat kemudian bisa kulihat pria itu merogoh kedalam saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana sebelum menggantungnya.

Kini fokusku sudah tertumpah sepenuhnya pada satu objek.

Aku yakin 100% kalau dia kini tengah menggenggam sesuatu. Aku tak bisa memastikan dengan benar apa itu, tapi yang jelas rasa penasaranku kini mulai berubah menjadi rasa curiga yang cukup besar. Min Yoongi menatapi benda mengilat itu ditangannya tanpa bergerak sedikitpun. Pria itu agak menunduk dan membuatku tak bisa membaca ekspresinya dengan mudah. Tapi aku agak terperanjat begitu Min Yoongi mendongak.

Tidak, dia tidak hanya mendongak.

Aku menatapi layar dengan cemas namun juga tertantang. Bisa kulihat kini Min Yoongi menatap lurus kearahku, kearah cctv yang tengah memantaunya. Dia menatap heran, namun dia juga terlihat begitu waspada. Matanya berkilat menatapku secara tak langsung, dan dengan gerakan mulus dia lalu menyimpan benda itu dalam saku celananya. Bisa kurasakan pria itu juga mulai curiga. Sepertinya keluarga Min memang bukan keluarga biasa..

Ini semakin menarik saja, mula-mula Min Jiyoung yang menahan tembakanku, lalu sekarang Min Yoongi yang memiliki kepekaan tinggi, mulai merasa curiga. Aku jadi penasaran, seberapa hebat mereka bertiga itu. Tanpa kusadari kini seringaian sudah menghiasi wajahku, ternyata aku bisa mendapatkan hal menarik pada akhirnya. Aku tersenyum puas.

Sepertinya target operasiku bertambah satu.

-The Missing Bullet-

“Kita bisa mendapat persamaan algoritma seperti ini jika..”

Tidak ada satu katapun yang terekam dikepala Yoongi seharian ini. Terserah, batinnya kesal ketika berada dikelas Matematika yang benar-benar menjemukan ini. Dia menghela nafas panjang dan menatap lurus kearah papan tulis yang kini dipenuhi dengan simbol dan angka-angka untuk perhitungan matematis. Simbol? Angka? Bagi Yoongi yang dia lihat saat ini bukanlah persamaan algoritma, melainkan simbol dan angka aneh yang dia lihat bersama Hoseok tempo hari.

Tempo hari dimana dia dan Hoseok membongkar isi flashdisk itu..

Sial!

Yoongi berdecak kesal begitu mengingat hal itu. Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini, atau mungkin nanti. Hoseok belum menemukan apapun, dia bilang dia akan berusaha semampunya, tapi Yoongi rasa segalanya tidak akan berjalan semudah itu walau bagi Hoseok yang—secara nyata—sangatlah cerdas. Yoongi menghela nafas, menanti jam kuliahnya berakhir.

Akhirnya berakhir.

Yoongi berjalan dalam diam, menembus angin yang menerpanya tanpa ampun. Musim mulai berganti, dan temperatur merosot drastis dalam beberapa waktu terakhir. Yoongi mengepalkan telapak tangannya didalam saku mantelnya, dia giginya bergemelatuk saking dinginnya.

Tunggu.

Yoongi menghentikan langkahnya secara mendadak. Tunggu, dia yakin ada sesuatu yang salah disini. Dia berputar, berusaha memperhatikan sekelilng dengan tatapan awas. Tadi, dia yakin, sepertinya ada seseorang yang mengamatinya dari jauh.

Mana mungkin.

Dengan agak mencelos, Yoongi kembali meneruskan langkahnya. Perasaannya tidak enak, dia yakin ada seseorang yang berusaha mengejar langkahnya tadi. Walaupun, dia tak menemukan hal aneh, hanya ada segerombolan mahasiswa lain yang juga tengah berjalan pulang, sama seperti dirinya. Tapi, kepekaannya bukanlah hal main-main. Dia sudah terlalu banyak khawatir dan ketakutan belakangan ini, dan dia rasa perasaan itu malah semakin menjadi. Yoongi lantas menelan ludah, lalu berjalan semakin cepat, dia semakin paranoid.

Aku sedang diikuti.

 

-The Missing Bullet-

“Aku menemukan benda itu.”

“Bagus.”

Namjoon menahan nafas, dia tak ingin terdengar terlalu senang dengan berita ini. Jangan, dia harus menyusun sesuatu setelah ini, dia tak bisa senang dulu.

“Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?”

Dengan lugas Jimin mulai bertanya. Pria itu telah berhasil menemukan apa yang menjadi kunci utama misi ini. Dan kini, pria itu hanya tinggal menunggu instruksi berikutnya.

Kamar itu hening. Hanya ada pembicaraan rahasia disana. Jimin menggenggam ponselnya, berbicara dengan nada rendah seolah takut jika ada yang mengawasinya. Dia berpikir seolah semua yang ada disekitarnya dapat menjadi mata-mata, bahkan tembok kokoh yang membentenginya pun tak luput dari kewaspadaannya.

“Kau masih harus mencari tau apa yang akan dilakukan badan intelijen. Setelah kau memastikan semuanya, kau tinggal melakukan eksekusi. Setelah eksekusi selesai, kau bisa kembali.”

Jimin memejamkan matanya, berusaha mencerna ucapan Namjoon dengan tenang. Tidak, mana bisa, yang dimaksud Namjoon dengan eksekusi adalah ‘membunuh’ tanpa ampun, tanpa bekas. Jimin tak pernah menghabisi nyawa seseorang sebelumnya, dia tak punya nyali sebesar itu.

“Ini misi spionase pertama untukmu, aku tau kau pasti kesulitan. Tapi ingat, kau ada diwilayah musuh, kau harus menyelesaikan semuanya secepat mungkin.”

“Aku butuh beberapa hari lagi untuk mendapatkan informasi.” Tukas Jimin cepat, berusaha meredam perasaan takut yang mulai menderanya. Pria itu menelan ludah, menanti respon Namjoon diseberang sana.

“Aku mengerti. Berhati-hatilah.”

Tanpa salam perpisahan, mereka berdua memutuskan sambungan telepon. Jimin menggaruk belakang kepalanya dengan tegang, dia khawatir.

Jimin harus mendapatkan informasi itu. Dia merasa ada yang aneh, ada yang janggal, entah itu keluarga Min ataupun flashdisk yang menjadi target utama misi ini. Entahlah, Jimin hanya merasa dia perlu mencari tau lebih banyak, bahkan jika perlu, dia harus memiliki informasi itu untuk dirinya sendiri. Bukan untuk Negara.

“Data sepenting itu malah dititipkan pada Min Yoongi.”

Jimin mendesis, lebih kepada dirinya sendiri. Pria itu kini nampak berpikir lebih keras, dia bersandar didinding, berusaha mencari jalan atau mungkin petunjuk. Apa maksud Min Donghyun sebenarnya? Yoongi jelas tidak tau apapun mengenai hal ini, dan Jimin tidak bisa mengeksekusi dia semudah itu.

Tidak, ini demi Negara.

Jimin menarik nafas, lalu berjalan menuju lemari disudut ruangan. Pria itu membuang nafas selagi membuka pintu lemari kayu itu dengan gerakan hati-hati. Sejenak dia menatap isi lemari dengan tatapan tak tertebak. Sedetik kemudian dia lalu membuka lemari kayu mahogani itu dengan cepat, dan menatap berbagai jenis senjata dengan berbagai ukuran yang sudah tersusun rapi disana.

Siap untuk digunakan.

-TBC-

Yeay! Akhirnya aku post ini ff juga. Mungkin banyak diantara kalian yang sudah lupa dengan ff ini, tapi aku harap ada yang masih setia menanti :’) oke aku harap ada yang sudi baca dan tinggalin jejak ya! I hope soooooo /peluk J-Hope(?)/

-Caramel Kim-

Advertisements