Tags

, , , ,

goingcrazy

Going Crazy

-Caramel Kim Storyline-

-Main Cast : Kim Taehyung (BTS), Kang Minyoung (OC), Park Jimin (BTS)|Genre : Crime, Psychology|Type : Chaptered|Rated : 17+|

This amazing cover is made by HRA of HSG

Recommended Song : Going Crazy by Song Jieun feat Bang Yongguk

Love could make you feel insecure

-Going Crazy-

“Menurutmu apa dia butuh bantuan psikis?”

Minyoung menelan ludah begitu mendengar pertanyaan Jimin. Gadis itu diam, ikut menunggu jawaban dari Yoongi yang sekarang tengah memperhatikan gambar yang dikirim Taehyung tempo hari. Pria itu merengut, sambil sesekali mengetuk-ngetukan jarinya keatas meja. nampak sedang berpikir.

Minyoung berusaha menarik nafas walau sulit, gadis itu hanya berharap kalau Taehyung bisa kembali seperti dulu. Dia menatap lurus, kearah Yoongi yang kini tengah menghela nafas dengan serius. Dan berdasarkan apa yang Jimin katakan sebelum ini, Minyoung jadi tau, jika Yoongi sudah bersikap serius maka masalah yang mereka hadapi juga sama seriusnya.

“Aku tau aku tidak boleh mengatakan ini, tapi, bisa saja Taehyung mengidap kelainan kejiwaan.”

Mata kecil Yoongi kini menatap Minyoung dan Jimin dengan awas. Pria itu jelas tidak main-main, Jimin tau, kapan saatnya Yoongi akan menjadi serius dan cemas. Dan Jimin yakin, bahwa sekarang adalah saatnya.

“Yoongi, apa kau yakin?” Tanya Minyoung, ragu. Gadis itu tersinggung sekaligus was-was dengan ucapan Yoongi, Jimin melirik kearah gadis itu, berusaha membuatnya tenang.

“Yoongi adalah mahasiswa psikologi tercerdas, dia sering menghadapi masalah seperti ini.”
“Itu baru asumsi, terserah kau mau percaya atau tidak.”

Gaya khas Yoongi. Pria itu kini berdecak malas mendengar ucapan Minyoung, dia hanya membantu sebisanya, Cuma itu.

“Aku tau, tapi kenapa Taehyung bisa mengidap kelainan seperti itu?”
Ujar Minyoung dengan suara nyaris lenyap. Dia bingung, kenapa pria sebaik Taehyung bisa mengalami hal seperti ini? Sejak kapan?

“Trauma psikologis, atau mungkin beban yang menumpuk dan akan meledak seperti bom waktu. Kau tau? Mungkin dia mengidap bipolar disorder, kepribadian ganda. Menurut ceritamu tadi, dia terkadang tidak sadar dengan apa yang dia lakukan ya kan? Tapi semuanya terserah kau mau percaya atau tidak.” Yoongi kini menatap Minyoung dengan hati-hati, dia tau perkataannya akan membuat gadis itu khawatir, tapi dia hanya berusaha jujur dengan semua hipotesis yang dia miliki saat ini. Sulit bagi Yoongi untuk membuat sebuah kesimpulan hanya berdasarkan cerita orang lain, dia memang harus menemui Taehyung untuk memastikan apa yang dia kira itu benar atau tidak, walaupun dia tau hal itu tidak akan berjalan semulus penelitian biasa.

“Apa dia punya trauma atau kejadian yang mengguncang jiwanya di masa lalu?”

“Entahlah.”

“Kau kekasihnya, mana mungkin tidak tau.”

Yoongi berdecak, membuat suasana makan siang menjadi agak canggung sekarang. Jimin mendelik padanya, berusaha untuk membuat Yoongi tidak bersikap seperti itu pada Minyoung. Yoongi mengibaskan tangannya, berusaha untuk mencairkan suasana.

“Yah, itu semua hanya perkiraanku. Agak sulit jika aku tidak bicara dengan Taehyung secara langsung. Apalagi, aku dengannya tidak dekat.”
Yoongi mengambil kaleng minumannya dari meja, lalu meminum sodanya yang tinggal setengah dengan gelagat santainya yang biasa. Minyoung menunduk, berusaha untuk menghindari tatapan Yoongi yang seakan menyalahkannya. Walaupun, Yoongi sama sekali tak berpikir seperti itu.

“Jadi apa solusinya?”

Kini giliran Jimin yang bersuara, dia juga terdengar khawatir. bagaimana pun, Jimin tau betapa mengerikannya Taehyung jika marah, dan dia takut hal seperti itu terjadi lagi.

“Jika dia setuju, aku bisa membawanya ke tempat psikiater yang kukenal. Tapi, itu tidak mudah, jadi menurutku kalian harus jauhi Taehyung. Maksudku, dia bisa saja berbuat hal yang tidak-tidak seperti padamu dulu kan? Kurasa, untuk saat ini hanya itu yang bisa kalian lakukan.”

“Bagaimana jika kita melaporkan ini pada polisi?”

“Jangan.”

Minyoung mendesis, dia menoleh kearah Jimin dengan tatapan tajam. Mana mungkin dia menjebloskan Taehyung ke penjara semudah itu? Bagaimanapun dia menyayangi Taehyung.

“Jika dia bertindak kriminal baru kau bisa menjebloskannya ke penjara. Tapi menurutku dia lebih baik jika berada dibawah pengawasan psikiater, itu pun jika asumsiku benar.”

Jimin langsung menunduk, berusaha berpikir lebih keras sekarang. Mana bisa dia membawa Taehyung ke tempat psikiater dengan mudah? Memangnya Taehyung itu anak kecil yang bisa dibujuk?

Yoongi menghela nafas, lalu mengembalikan ponsel yang ada digenggamannya itu ke pemiliknya. Si pemilik hanya menatap layar ponselnya yang masih menampilkan hal yang sama dengan ngeri, hal muram dan menyeramkan itu harus kembali dia lihat untuk yang kesekian kalinya.

“Ini mengerikan.” Gadis itu mendesis, lalu menekan tombol dilayar ponselnya. Dia tak tahan dengan gambar itu, tapi disaat yang sama dia juga merasa tidak tega menatapnya.

“Apa dia tinggal bersama orangtuanya?”

Minyoung mendongak begitu mendengar pertanyaan Yoongi. dia menatap pria itu agak lama, lalu menggeleng lemas.

“Ah, orangtuanya tinggal diluar Seoul?”

“Di Busan, Taehyung bilang orangtuanya tinggal di Busan.”

“Kau pernah bertemu dengan mereka? Bagaimana ciri-ciri mereka? Atau mungkin perilaku?”

“Belum.”

Yoongi mendesah pelan lalu membanting tubuhnya ke sandaran kursi kayu. Dia tetap menatap Minyoung dengan intens, berusaha mencari jawaban dari tatapan gadis itu.

“Seharusnya kita bisa mencari tau tentang Taehyung berdasarkan latar belakang keluarganya. Aku tau mungkin ini terdengar mengganggu privasi seseorang, tapi jika kita bisa melihat kejanggalan dari lingkungannya semasa kecil maka aku bisa membuat sebuah kesimpulan.”

“Masuk akal.” Ucap Jimin, dia rasa hal itu bisa dicoba. Jika memang Taehyung mengalami gangguan psikologis, tentu saja ada sesuatu yang terjadi pada masa lalunya.

“Tapi, pasti sulit. Aku saja tidak tau mereka tinggal dimana, Taehyung sudah di Seoul sejak SMA. Dia bilang dia jarang mengunjungi orang tuanya, dan dia jarang menceritakan tentang mereka.”

Suasana makan siang mereka memang tidak se-khidmat biasanya. Hanya terdengar suara celotehan beberapa mahasiswa yang sedang menikmati makan siang mereka, juga langkah kaki yang menapaki lantai marmer dengan berbagai tempo.

Sementara dimeja mereka tak ada satupun aktifitas seperti itu.

“Baiklah, untuk saat ini aku hanya bisa membantumu seadanya. Tetap jaga dirimu, hubungi aku jika ada sesuatu. Aku harus pergi ke kelas Psikometri. Sampai jumpa.”

Tanpa aba-aba, Yoongi pun bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Jimin pelan, sambil mengerling singkat lalu berjalan meninggalkan meja. Dia bahkan belum menghabiskan makanannya. Dengan pamit seadanya dia lantas berjalan meninggalkan Cafetaria sambil menenteng ransel dipundak. Tentu saja dengan gayanya yang cuek.

“Apa dia memang begitu?” Minyoung bertanya pada Jimin, seraya menatap kursi kosong dihadapannya yang semula ditempati Yoongi. Dia heran dengan sikap pria itu.

“Yoongi memang seperti itu. Tapi dia tidak pernah setengah-setengah dalam membantu orang lain. Maaf kalau sikapnya tadi agak seenaknya, dia memang orang yang terlalu santai dan cuek pada lingkungan disekitarnya, tapi percayalah, dia sangat baik.”

Minyoung mengangguk, tetap merasa berterimakasih pada Jimin dan juga Yoongi. Setidaknya, Yoongi masih mau meluangkan waktunya untuk membantu. Dan dia bersyukur akan hal itu.

“Oke, aku juga ada kelas setelah ini, kelas tambahan. Kau pulanglah Minyoung, lebih aman dirumah ya kan?”

Jimin tersenyum padanya, matanya terlihat segaris sekarang. Minyoung juga tersenyum, dan mengangguk. Dia rasa Jimin benar, akan lebih aman jika dia pulang kerumah.

“Ide bagus.”

-Going Crazy-

Langit-langit kamarnya terasa samar.

Minyoung menghela nafas selagi berbaring, memikirkan sebuah skenario yang dia harap bisa terjadi padanya dan Taehyung. Skenario yang bagus, dan jalan ceritanya pun sangat indah. Tatapan Minyoung terasa menembus langit-langit kamarnya. Mungkin, jika dia bisa, dia ingin berada di dekat Taehyung sekarang tanpa pria itu sadari.

Hening. Hanya ada suara detik jarum jam yang terpajang manis didinding. Suara detiknya terdengar begitu memuakkan bagi Minyoung. Dia benci waktu, dia tidak suka waktu merenggut semua kenangan berharga darinya.

Kenangannya dengan Taehyung.

Gadis itu tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri pada akhirnya. Dia memang masih mencintai Taehyung. Rasanya sangat menyakitkan, dadanya terasa sesak begitu dia sadar bahwa Taehyung tersiksa karenanya saat ini. Tapi, dia tidak bisa terus menerus merasa takut.

Kelainan kejiwaan.

Kata-kata Yoongi tadi siang membuat rongga dadanya terasa semakin sempit tanpa celah. Minyoung ingat betul, tatapan Yoongi terlihat tajam padanya. Mungkin Yoongi hanya menyayangkan sikapnya yang dengan tega meninggalkan Taehyung secara tiba-tiba. Tapi dia sama sekali tidak tega.

“Aku akan membuatmu bahagia, apapun yang terjadi.”

Airmata pun jatuh tanpa diminta. Minyoung menangis, tanpa berusaha untuk menghapus airmata yang terus mengalir kepelipis, dan merembes masuk ke bantalnya hingga meninggalkan jejak gelap disana. Gadis itu menangis tanpa suara, dia menggigit bibir, berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun.

Kata-kata Taehyung juga terus bergema dipikiran dan juga hatinya. Saat itu, Taehyung nampak begitu cerah, dan bahagia. Sesaat, Minyoung merasa begitu jahat karena telah menghancurkan impian Taehyung yang sudah dibangun bersamanya untuk sekian lama. Tapi, sikap Taehyung yang berubah drastis-lah yang mendorongnya untuk pergi. Dia hanya ingin membuat Taehyung menjadi lebih baik jika tanpa kehadirannya. Tapi ternyata justru dia hanya memperburuk keadaan pria itu.

Taehyung adalah pria baik.

Minyoung bangkit untuk duduk, lalu menghapus airmatanya dengan kasar. Dia tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Tanpa diminta, ingatan-ingatannya mengenai Taehyung tiba-tiba muncul dengan cepat bak kaset rusak. Yang ada dalam pikiran dan hati gadis itu hanyalah wajah ceria Taehyung, dan semua kenangan yang masih tersimpan apik dalam hatinya.

Musim semi lalu.

Dimana semuanya menjadi sebuah awal.

“Aku Kim Taehyung, salam kenal.”

Itu adalah kata-kata perjumpaan yang masih terdengar begitu manis ditelinganya. Taehyung tersenyum ketika mereka saling berjumpa. Senyum itulah, yang mengantarkan mereka untuk saling jatuh cinta. Taehyung, dan segala kebaikan yang dia miliki, membuat Minyoung jatuh cinta. Kepolosan, tawanya yang selalu terdengar, serta kebaikan hati. Semuanya hanya terasa seperti angan-angan sekarang, seolah semua kenangan itu tidak pernah terjadi.

Minyoung menelan ludah, berusaha meredam perasaan aneh yang sekarang menguasai hatinya. Dia melempar pandang keluar jendela, menatap angin kencang yang berhembus seolah menghapus semua angan yang membumbung terlalu tinggi.

Terlalu jauh..

“Minyoung? Sayang?”

Dengan agak terlonjak, Minyoung memalingkan wajahnya kearah pintu kamarnya yang tertutup.

Itu cuma suara ibunya.

“Kau sedang tidur? Ibu dan ayah akan pergi keluar sebentar kerumah bibi Nam. Kau tidak apa-apa jika ditinggal sebentar?”

“Te..tentu saja.”

Minyoung hanya menyahut tanpa membuka pintu. Tidak, mana mungkin dia akan bicara berhadapan dengan ibunya dengan jejak airmata yang memenuhi wajahnya. Pasti ibunya akan bertanya macam-macam.

“Baiklah sayang, ada beberapa makanan dikulkas. Kau hangatkan saja.”

Tak ada suara lagi. Sepetinya ibunya sudah pergi kelantai bawah. Gadis itu lantas menghela nafas lalu bangkit berdiri dan turun dari ranjang. Dia tidak bisa terus duduk dan merenung, lebih baik dia melakukan sesuatu yang lain agar tidak terlalu merasa sakit.

Mungkin lebih baik aku membaca buku saja.

Dengan langkah agak terseret Minyoung lantas berjalan keseberang kamar, menuju meja belajarnya yang dipenuhi dengan tumpukan buku yang belum sempat dibaca karena dia terlalu sibuk belakangan ini.

Dia lalu duduk, dan mengambil sebuah buku yang diletakkan paling atas diantara tumpukan buku lain. Minyoung berusaha bernafas dengan tenang, lalu membuka halaman yang sudah dia tandai tempo hari.

Kring.

Kring.

Gadis itu menoleh cepat kesisi lain meja belajarnya, dan mendapati ponselnya berdering dengan tak sabaran. Ada telepon masuk. Minyoung dengan agak terburu mengambil ponselnya yang masih berada dalam jangkauannya, lalu melihat siapa yang menelponnya.

Terkejut, Minyoung menahan nafas begitu membaca nama penelepon yang tercantum dilayar.

Taehyung.

Dia menggeleng cepat, lalu kembali menaruh ponselnya diatas meja. Tidak, jangan diangkat. Minyoung hanya menatapi ponselnya yang terus berdering tak karuan, membuat gadis itu cemas sendiri. Lebih baik dia acuhkan saja panggilan itu, ya Minyoung hanya diam sambil terus menatapi ponselnya yang masih berdering nyaring. Dia tidak mau mengangkatnya, dia tidak bisa.

Tapi, panggilan itu berhenti.

Hening. Akhirnya Taehyung menyerah juga. Minyoung menghela nafas lega begitu ponselnya berhenti menjerit. Taehyung tentu hanya menggertak, batinnya lalu kembali bersandar pada kursinya. Dia harus belajar tenang, dia tidak boleh berpikir terlalu jauh, mungkin saja Taehyung hanya sekedar merindukannya.

“Jangan panik Minyoung.” Dia bergumam pelan sambil meraih buku yang semula akan dia baca. Semuanya akan baik-baik saja, toh perkataan Yoongi tadi siang belum tentu benar.

Kriiing.

Kriiing.

Kriiing.

Minyoung mengerjap begitu sadar jika ponselnya berbunyi lagi. Dengan cepat gadis itu berdiri, dan melangkah mundur. Itu pasti Taehyung, apa yang harus aku lakukan?

Kriiiing.

Kriiiiing.

Minyoung tersentak kaget, begitu dia tau bahwa ada suara deringan lain sekarang. Telpon rumahnya juga berbunyi, dan membuat perasaannya semakin kalut.

“Itu pasti ibu, iya itu ibu atau mungkin ayah.”

Dering ponsel, dan dering telpon rumah saling menjerit meminta perhatian Minyoung. Rasanya menakutkan jika mendengar deringan itu secara bersamaan. Dengan cepat dia lantas keluar dari kamar, berjalan cepat menuju telpon yang terus berdering diatas nakas.

Dengan menarik nafas panjang, gadis itu lantas mengangkat gagang telpon, dan mendekatkannya ke telinga.

“Halo?”

Ajaib, dering ponselnya pun berhenti begitu dia menjawab panggilan telpon rumahnya. Minyoung menahan nafas, jantungnya berdebar kencang.

“Kenapa tidak kau angkat?”

Deg.

Minyoung menelan ludah dengan susah payah, begitu menyadari yang ada diseberang sana bukanlah ibu ataupun ayahnya.

Tapi,

Taehyung.

“Kau? Kenapa bisa?”

“Aku selalu berada didekatmu, kau tidak bisa pergi semudah itu.”

Dengan gerakan tiba-tiba Minyoung lalu membanting gagang telpon dan mengakhiri pembicaraan. Nafasnya tersengal, dia hanya menatapi telpon yang ada dihadapannya dengan pandangan takut. Dia membuat terror, dan sekarang Minyoung berhasil ketakutan karena terror dari Taehyung. Kelabakan, Minyoung lalu berlari masuk kedalam kamarnya dan duduk ditepi ranjang dengan dada bergemuruh.

Dia berharap orangtuanya akan pulang cepat.

Minyoung berusaha mengatur nafasnya, dia hanya perlu berpikir jernih. Taehyung tidak akan berbuat aneh padanya, selama dia berada didalam rumah.

Gadis itu menoleh kearah meja belajarnya, dimana ponselnya tergeletak disana. Dia harus menghubungi ayah dan ibunya, setidaknya mereka harus pulang cepat dan tidak membiarkan dia sendirian terlalu lama.

Tangannya berhasil meraih benda itu, dengan terus berusaha tenang Minyoung lantas membuka kunci ponselnya. Gadis itu merengut, begitu sadar ada pesan masuk. Nomornya tidak dikenal.

Dengan hati-hati dia lalu membukanya.

Aku disini, memperhatikanmu dari jauh. Cepat matikan lampu kamarmu dan tidurlah.

Taehyung.

Seketika itu juga jantung Minyoung kembali bergemuruh, Minyoung menahan nafas kaget. Bagaimana bisa Taehyung tau jika dia ada dikamar dengan lampu menyala?

Aku disini.

Gadis itu berusaha berpikir walaupun kepalanya terasa berputar karena terlalu takut sekarang. Disini?  Jangan-jangan dia, Minyoung segera berlari mendekati jendela yang ada disisi ranjangnya. Gadis itu mengintip takut-takut dari balik tirai, berusaha agar jangan sampai ketauan. Tangan gadis itu gemetaran seraya menyingkap sedikit tirai yang masih menutupi jendelanya yang terlampau besar, matanya menyipit, memandang jauh kebawah. Kearah jalanan yang kini sudah lengang dan hanya diterangi beberapa lampu jalan.

Tidak.

Kaki Minyoung mendadak lemas begitu dia melihat bayangan hitam berdiri disisi jalan. Mana mungkin? Batinnya berusaha untuk membantah apa yang dia lihat sekarang. Sosok itu masih berdiri disana, menghadap kearah rumahnya. Itu Taehyung.

Itu benar-benar dia, batin Minyoung yakin. Sosok itu nampak memakai tudung, dan tudung itu jelas seperti yang ada di sweater milik Taehyung. Tapi, sejak kapan dia berdiri disana tanpa menarik perhatian orang lain? Minyoung mengerjap sembari memalikan tubuhnya dari jendela. Dadanya berdenyut nyeri sekarang.

Dia,

Tidak akan membiarkanku pergi apapun yang terjadi.

TBC

.

.

Chapter 2 is done! Mungkin agak sedikit bahkan terlalu telat di post. Tapi aku harap kalian tetep nunggu ff ini dan suka dengan ceritanya. I do hope so, dan tentunya aku harap kalian post komentar di ff ini ya, karena semua author gak suka dengan kekacangan di karyanya. Thanks.

-Caramel Kim-

Advertisements