Tags

, , , ,

By Mrs. Heo

Cast-Kim Seokjin [BTS] | Heo Eun Soo [OC] | Wu Yi Fan | Heo Riyoung [OC]

Genre-Romance, fluff, family

Duration-Chapter

Rating- General

Chapt 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |

Summary

“Apa selalu begini cara kerjamu? Selalu pergi begitu saja tanpa memberikan peringatan?”

VOMIT NOT MY RESPONSIBILITY

8

It’s so loud inside my head with words that I should have said
And as I drown in my regrets
(Words-Skylar Grey)
CHAPT 8

“Aku rasa aku adalah salah satu yang mulai menginginkanmu.”

Seokjin berharap Eun Soo tidak menganggap ucapannya serius, ia bahkan tidak mengerti mengapa secara tiba-tiba mengatakan hal semacam itu. Diantara banyak kalimat penenang yang ada dipikirannya entah kenapa malah kalimat semacam itu yang ke luar dari mulutnya. Kalimat itu bahkan tidak pernah dipersiapkan sebelumnya, mengalir begitu saja.

“Aku akan pulang.” Setelah merasa sedikit lega karena telah mengeluarkan semua yang selama ini ia simpan Eun Soo menggeliat pelan—berusaha melepaskan diri dari pelukan Seokjin. “Seokjin, terima kasih.” Eun Soo berusaha melepaskan diri dari pelukan Seokjin lagi karena laki-laki itu justru mempererat pelukannya.

Mendengar namanya disebut, Seokjin tersentak. Ia baru sadar bahwa ia justru mempererat pelukannya terhadap Eun Soo. Seokjin buru-buru melepaskan tangannya dari punggung Eun Soo dan tersenyum canggung. Selain itu, entah kenapa ia tidak suka mendengar ucapan terima kasih dari Eun Soo. Kalimat itu terdengar seperti kalimat perpisahan. “Aku akan mengantarkanmu pulang.”

“Tidak usah, aku akan pulang bersama Jihyun dan Hana.”

Secara refleks Seokjin menahan pergelangan Eun Soo saat gadis itu mulai melangkah. Entah kenapa rasanya ia tidak bisa meninggalkan Eun Soo begitu saja setelah melihat gadis itu menangis. Ia ingin menahan gadis itu agar lebih lama lagi bersamanya. “Aku saja yang mengantarmu pulang, masih ada sesuatu yang ingin ku bicarakan.” Seokjin melirik telapak tangan Eun Soo yang diperban—seharusnya sejak awal ia sadar bahwa alasannya menahan Eun Soo lebih lama hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat tangan gadis itu terluka.

Eun Soo ingin menolak. Ia sudah cukup malu karena menangis di hadapan Seokjin. Kim Seokjin hanyalah seorang asing yang dibayarnya untuk menyingkirkan Yifan, tidak lebih. Yifan bahkan tidak pernah melihatnya menangis. Bahkan, ketika ia pergi dari rumah tidak sedikit pun ia sudi menunjukkan air matanya di hadapan ibunya, ia baru mengeluarkan semuanya setelah berhasil menyendiri. Tapi barusan apa yang telah ia lakukan bersama Seokjin? Menangis.

Konyol.

Hal itu seharusnya tidak pernah terjadi.

“Aku—Kata-kata Eun Soo menggantung saat Seokjin menautkan jemarinya dengan jemari tangan kanan Eun Soo yang bebas.

“Dingin.” Seokjin berkata pelan sambil menuntun Eun Soo untuk mengikuti langkahnya. Ia sudah paham bahwa Eun Soo tidak suka diperlakukan begitu, tapi ia tidak peduli. Jika tidak ditahan pasti gadis itu akan pergi, dan ia tidak ingin hal itu terjadi.

Eun Soo berusaha melepaskan tangannya dari tautan Seokjin, tapi tidak ada tanda-tanda Seokjin berniat melepaskannya.

“Bisakah sekali saja kau menurut padaku?”

“Bukan ini jalan menuju apartemen Young Saeng.”

Seokjin terkekeh. “Aku tahu, kita cari makan dulu.” Ia tetap berfokus pada jalanan yang ada di hadapannya. Ia tahu Eun Soo bukan tipikal penurut, satu-satunya cara untuk membuat gadis itu menurut adalah dengan memaksanya. “Makan di pinggir jalan tidak masalah kan?”

Eun Soo tidak menyahut lagi, kini ia sibuk memandangi kendaraan-kendaraan yang melewati mereka. Ia hanya terlalu lelah untuk membantah. Lagipula sejujurnya ia merasa sedikit lega karena ketika di dalam kondisi seperti ini ada seseorang yang bersedia menemaninya karena ia belum siap membagi semuanya kepada kakak maupun kedua sahabatnya. Semuanya terlalu rumit untuk dijelaskan.

“Tenang saja, aku akan mengantarkan sampai pintu apartemenmu.” Seokjin melirik Eun Soo yang tidak memberi tanggapan. Ia mendesah. Ia lebih suka Eun Soo yang selalu memerintahnya ini dan itu daripada Eun Soo yang hanya diam dan mengabaikannya. “Aku akan mengantarmu dalam keadaan utuh, tenang saja.” Kali ini Seokjin mencoba berusaha lebih berani. Ia terkekeh pelan sambil mengacak-acak rambut Eun Soo dengan tangan kanannya yang bebas dan tangan kiri yang masih memegang kemudi—hanya mencoba bercanda, tidak lebih.

“Tolong jangan memperlakukan aku seperti semua gadis yang selama ini kau pacari. Kau tidak perlu repot-repot melakukannya.” ujar Eun Soo pelan sambil menggeser posisi kepalanya agar menjauh dari jangkauan tangan Seokjin. “Kau tidak perlu mengasihaniku.”

“Apa kau pikir aku melakukan ini karena aku merasa kasihan kepadamu?” Seokjin menepikan mobil dan menatap Eun Soo dengan kesal. Ada apa dengan gadis ini? Tidak bisakah ia lebih menghargai niat baiknya? “Bagaimana kalau aku melakukannya bukan karena kasihan, tapi karena itu adalah kau, karena kau adalah Heo Eun Soo.” Seokjin bahkan terkejut mendengar perkataannya sendiri. Semuanya adalah benar kecuali kalimat terakhir, itu benar-benar di luar prediksi—lagi-lagi mengalir begitu saja.

Seokjin baru saja akan menyesali ucapannya saat melihat ekspresi tidak suka Eun Soo. Ia tahu bahwa gadis itu tidak mudah menerima orang baru. Tapi ia bukan orang jahat yang akan melukainya, ia hanya berusaha menghibur, tapi gadis itu selalu berpikiran bahwa ia bukanlah seseorang yang berhak mencampuri urusannya. “Bagaimana caranya agar membuatmu mengerti bahwa masih banyak orang yang menginginkanmu?”

“Jadi, apa yang menyebabkan tanganmu terluka?”

Eun Soo mengangkat kepala, menghentikan aktivitas makannya sejenak. Ia melirik tangan kirinya yang masih diperban. “Bukankah aku sudah mengatakannya di telepon waktu itu.” jawab Eun Soo kasual. Ia sudah tidak mau membahas perihal tangannya lagi, karena hal itu selalu mengingatkannya terhadap Yura dan saat ini dia sudah mencapai tahap tidak-ingin-berurusan-barang-sedikit-pun dengan seseorang bernama Yura itu.

“Tapi, Young Saeng hyung bilang bahwa tanganmu terluka karena pecahan gelas di tempatmu bekerja.” Seokjin menatap Eun Soo, mencari-cari kegugupan di sana. Eun Soo bukan pembohong yang baik. Mungkin ia adalah tukang sembunyi paling handal tapi untuk urusan berbohong jelas ia masih berada di level pemula.

“Begitukah?” jawab Eun Soo asal. Ia kembali memakan ramyunnya yang hampir habis. Ia ingat saat itu ia hanya terlalu malas membahas masalah itu dengan kakaknya jadi ia hanya menjawab asal agar tidak ditanyai lebih lanjut, ia tidak mengira bahwa Seokjin akan bertanya kepada Young Saeng.

“Sebenarnya siapa yang kau dan Taehyung berusaha lindungi?”

Ck, Eun Soo mengumpat. Melindungi katanya? Ia sama sekali tidak bermaksud melindungi Yura. Memangnya dia cukup berbesar hati sehingga akan melupakan begitu saja orang yang sudah menampar dan membuat tangannya terluka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang menurutnya sangat konyol? Jangan bercanda, dia tidak sebaik itu. Hanya saja ia tidak tega terhadap Taehyung. “Melindungi? Apa aku terlihat seperti seseorang yang akan melakukan hal semacam itu?” kilah Eun Soo.

“Tentu saja. Kau sangat terlihat begitu.”

Eun Soo melengos. “Sudahlah, lupakan saja. Tidak perlu dibahas lagi, lagipula lukanya tidak parah.” Eun Soo mengibaskan tangannya sekali, mengisyaratkan Seokjin untuk tidak membahasnya lagi.

Seokjin kini paham. Eun Soo hanya berusaha melindungi Taehyung. “Yura?” tuding Seokjin tanpa basa-basi. “Apa Yura yang melakukannya kepadamu?”

“Melakukan apa?”

“Tanganmu itu, ulah Yura kan?” tanya Seokjin gemas.

“Tentu saja bukan. Memangnya untuk apa dia melakukan itu. Sudahlah, lupakan saja. Hal ini sama sekali tidak penting.”

Seokjin berdecak. “Umurmu itu berapa sih? Makan saja masih seperti anak kecil.” Ia mengambil tissue dan membersihkan sisa-sisa kuah Ramyun di sudut bibir dan sekitar dagu Eun Soo. “Kalau mau berbohong, pastikan kau sudah bisa makan dengan benar terlebih dahulu.”

Eun Soo tidak mampu berkata apa-apa lagi. Hari ini ia sudah menangis di hadapan Seokjin, kemudian laki-laki itu memegang tangannya dan sekarang apa lagi yang berusaha ia lakukan? “Sebenarnya ada apa dengan si Seokjin ini?” dengus Eun Soo di dalam hati.

Seokjin baru saja selesai mandi saat mendengar notifikasi chat dari ponselnya. Dengan handuk yang masih tergantung di leher, Ia mengambil ponsel yang tergeletak asal di atas tempat tidur dan mendapati nama Eun Soo di layarnya.

Eun Soo

Jangan pernah menceritakan kepada siapa pun bahwa tadi aku menangis.

Perlu waktu bagi Seokjin untuk bisa memahami maksud pesan Eun Soo, ia membacanya berulang kali dan kemudian terkekeh. Dengan cepat ia membalas pesan Eun Soo.

Jin

Wah, aku merasa tersanjung menyimpan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain.

Ia mendengus saat melihat bahwa Eun Soo sudah membaca pesannya namun tidak membalasnya. Lagi-lagi gadis itu mengabaikannya, seperti yang sudah-sudah. “Gadis itu, benar-benar ya. Ia tidak keberatan mengurus Taehyung, tapi membalas pesanku saja tidak mau.” gerutu Seokjin. Tanpa pikir panjang ia malah menghubungi Eun Soo. Tapi sampai berkali-kali ia mengulang panggilannya, Eun Soo tidak juga mengangkat teleponnya. “Wah, apa dia mendadak pindah ke luar angkasa setelah mengirimiku pesan sesuai tata bahasa seperti itu!” Ia mencampakkan ponselnya dengan kesal. “Lihat saja kalau bertemu lagi nanti, aku pastikan dia tidak akan bisa mengabaikanku lagi!”

Seokjin membuka pintu kamar Yura, sesuatu serba merah muda langsung menyambutnya. Ia ingat Yura sengaja mendekor kamarnya dengan pernak-pernik merah muda hanya dengan alasan agar ia bisa selalu mengingat laki-laki itu. Ia menemukan Yura masih tertelungkup di atas tempat tidur masih lengkap dengan seragam SMAnya. Ibu Yura mengatakan bahwa sudah beberapa hari ini Yura mengurung diri di kamar dan menolak diajak bicara.

“Yura-a.” Seokjin mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. Ia merasa sedikit kesal karena merasa gagal mendidik Yura. Gadis yang selalu bersikap ceria itu selalu berubah mengerikan jika selalu berhubungan dengan dirinya. Bahkan sekarang sudah ada yang menjadi korbannya, Eun Soo.

Yura menggeliat. Ia mengenali suara tersebut, suara yang seharusnya sangat ia rindukan tapi kali ini ia sangat takut Seokjin akan memarahi atau bahkan membencinya. Ia tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan yang cukup fatal, tapi kemarahan Seokjin jauh lebih menakutkan baginya.

“Kau belum makan sejak siang kan? kita makan bersama, bagaimana?”

Yura masih belum berani berbalik.

“Ayo, aku juga belum makan siang.” Seokjin kembali membujuk.

Yura menggeliat sekali lagi dan dengan cepat mendudukkan dirinya dan langsung memeluk Seokjin. “Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud mencelakainya, aku hanya bermaksud memberikannya peringatan karena telah berselingkuh darimu. Hanya itu, sama sekali tidak berniat untuk mencelakainya.” Sekarang Yura sudah terisak.

Seokjin mendesah. Berselingkuh? Apa lagi kali ini. Eun Soo bahkan tidak ada menyinggung masalah perselingkuhan.

“Maaf karena sudah menampar Eun Soo dan memaki-makinya.”

“Kau menamparnya?” Seokjin tidak bisa menahan keterkejutannya. Yura menampar Eun Soo? Astaga, bagaimana bisa ia tidak mengetahuinya? Hal ini pasti ada hubungannya dengan kecemburuan Yura terhadap Eun Soo yang jelas-jelas bukan kekasihnya.

Yura diam. “Eun Soo tidak mengatakannya pada oppa?” tanyanya lirih. Ia pikir kedatangan Seokjin kemari karena Eun Soo telah mengadukan dirinya.

Seokjin berusaha bersikap biasa saja, ia tidak ingin terlihat seperti menghakimi Yura. Mendadak ia merasa tidak tenang setelah mengetahui bahwa Yura telah menampar Eun Soo, pasti sebelumnya diantara mereka terjadi pertengkaran yang cukup serius. “Aku datang kemari bukan untuk memarahimu, aku hanya ingin cerita keseluruhannya saja. Jadi kau cukup menceritakan kronologisnya kepadaku. Oke?” Seokjin berkata lembut.

“Bukankah oppa datang kemari karena Eun Soo yang mengadu?” tanya Yura hati-hati.

Seokjin terkekeh. “Apa kau akan percaya jika aku bilang tidak?”

“Apa Eun Soo tidak mengadu padamu?”

“Tidak, tidak sama sekali. Ia bahkan mengatakan bahwa luka di tangannya sama sekali tidak ada hubungannya denganmu.”

Hening.

Yura tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Ia merasa semakin menyesal karena telah melakukan semua ini terhadap Eun Soo. Sekali lihat ia tahu bahwa Eun Soo berasal dari keluarga berpendidikan, tapi ia pikir hal itu tidak menjamin.

“Taehyung berusaha melindungimu, dan Eun Soo hanya berusaha membantunya.” Seokjin mengusap puncak kepala Yura dengan lembut. “Lihat, betapa banyak orang yang berusaha melindungimu.”

Yura semakin terisak. Taehyung masih berusaha melindunginya dengan semua yang telah terjadi. Eun Soo? Ia membantu Taehyung? Luka Eun Soo cukup parah dan ia bahkan sudah menampar dan berkata kasar kepadanya, namun gadis itu mengabaikannya begitu saja hanya karena untuk membantu Taehyung? Sebenarnya siapa yang tidak pantas untuk Seokjin di sini?

Yura meremas kemeja Seokjin. Rasa bersalahnya justru semakin berlipat sekarang.

Seokjin terkekeh. “Kalau kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan, aku sarankan untuk menemui Eun Soo dan meminta maaf kepadanya.”

Oppa tidak membenciku?”

“Kalau Eun Soo saja bisa memaklumimu, aku rasa aku juga harus melakukannya.” Seokjin menghela napas perlahan. “Anggap saja ini pembelajaran menuju kedewasaan untukmu.”

Taehyung mempercepat langkahnya saat melihat Yura berlari-lari kecil menghampiri. Ia masih belum tahu bagaimana cara bersikap terhadap Yura, gadis itu bahkan tidak mengiriminya pesan bahwa ia telah menyesal melakukan hal semacam itu kepada Eun Soo.

“Taehyung-ahh. Temani aku menemani Eun Soo eonni ya!”

Mau tidak mau Taehyung menghentikan langkahnya saat mendengar Yura memanggil Eun Soo dengan embel-embel eonni, seingatnya Yura bahkan jarang sekali menyebut Eun Soo dengan namanya, selalu menyebutnya dengan gadis itu. Tapi bukan hanya hal itu yang aneh. Yura baru saja memintanya untuk menemui Eun Soo. “Eun Soo eonni?” Dengan gerakan pelan, Taehyung berbalik dan menatap Yura tidak percaya.

Yura hanya mengangguk penuh semangat.

“Eun Soo eonni yang mana?” Begitu tidak percayanya Taehyung terhadap apa yang baru saja ia dengar malah menanyakan hal bodoh seperti itu. Memangnya ada lagi Eun Soo yang mereka kenal selain Eun Soo yang selama ini selalu ia harapkan adalah kekasih kakaknya.

Yura terkekeh, lucu sekaligus geli mendengar pertanyaan Taehyung. Tanpa ragu ia memeluk lengan Taehyung dan menuntunnya untuk berjalan bersama. “Memangnya ada berapa Eun Soo eonni yang kau kenal?”

“Tunggu dulu.” Mendadak Taehyung berhenti, membuat Yura mengikuti pergerakannya juga. “Apa yang mau kau lakukan?”

Yura terkekeh.

“Sebaiknya kau tidak usah bertemu dengannya lagi.” cegah Taehyung. Ia bahkan masih belum berani menemui Eun Soo karena merasa tidak enak atas insiden hari itu, jangan sampai Yura malah memperburuknya lagi.

“Kenapa? Aku tidak boleh meminta maaf kepadanya?” Yura berpura-pura memasang wajah tersinggung. Ia tahu Taehyung hanya khawatir dia melakukan hal-hal gila lagi.

“Kau ingin meminta maaf kepadanya?”

Yura mengangguk lagi. “Temani aku ya, eoh?”

Taehyung menatap Yura ragu dan kemudian tersenyum konyol. “Tentu saja.” Kali ini Taehyung yang memeluk lengan Yura. “Aku akan selalu dengan senang hati mengantarkanmu menemui kakak ipar.”

Sesaat setelah mengangkat kepala setelah membalas pesan diponselnya, Eun Soo buru-buru berbalik untuk kembali ke dalam dan mengurungkan niatnya untuk pergi makan siang saat melihat Taehyung dan Yura di ujung jalan dekat kantornya. Ia sedang tidak dalam mood bisa menanggapi kehebohan Taehyung dan ketidaksukaan Yura terhadapnya.

“Kau mau kemana?” tanya Jaekyung bingung saat melihat Eun Soo berbalik badan.

“Ada yang tertinggal. Kalian duluan saja.” bohong Eun Soo sambil melambai kepada teman-temannya.

Terlambat sudah.

“Kakak ipar!” Dari kejauhan Taehyung sudah meneriaki Eun Soo dengan heboh dan berlari menghampirinya.

Beberapa langkah lagi Eun Soo berhasil masuk ke dalam kantornya saat seseorang memblokir langkahnya. Ia pikir itu adalah Taehyung, tapi ternyata dirinya salah. Itu bukan Taehyung. Eun Soo mendesis. Apalagi yang akan bocah ini lakukan terhadapnya? Baiklah, mungkin usia mereka hanya terpaut sekitar lima tahun. Tapi ia tetap tidak bisa memahami jalan pikiran Yura.

Eonni, bagaimana kalau kita makan siang bersama?”

Eun Soo mengernyit. Bahkan tanpa sadar ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memberikan gesture kewaspadaan. Eonni? Bukannya menjawab pertanyaan Yura, ia justru memperhatikan sekitarnya—mencari siapa yang baru saja dipanggil eonni oleh Yura. “Eonni?”

Yura tidak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat reaksi Eun Soo yang tidak jauh berbeda dengan Taehyung. “Aku tidak menerima penolakan.” Tanpa ragu Yura justru menarik tangan Eun Soo agar mengikutinya.

Eun Soo merasa bahwa sebelumnya seseorang juga pernah melakukan hal semacam ini terhadapnya.

Hoseok melambai-lambaikan tangannya heboh saat melihat kepala Seokjin yang menyembul dari balik pintu. Seokjin mengernyit, tidak biasanya Hoseok dan Yoongi memesan banyak makanan seperti ini.

“Hari ini kita makan besar, cepat kemari!” panggil Yoongi saat melihat Seokjin masih berdiam diambang pintu—sama sekali tidak menunjukkan pergerakan bahwa ia akan segera bergabung dengan mereka.

“Kau memang keberuntungan kita.” Dengan mulut penuh Hoseok memuji Seokjin.

“Ada apa ini?” Seokjin akhirnya bersuara.

“Eun Soo baru saja membayar upahmu dengan penuh. Bagianmu sudah kutransfer.” Yoongi mengacungkan jempolnya kepada Seokjin dengan bangga. “Kau memang penyelamat. Hampir saja aku berpikir akan menjual beberapa aset untuk membayar ganti rugi kepada gadis itu.”

“Bukannya kalau aku gagal maka kita harus mengembalikan 100% uang mukanya?”

“Ya, perjanjian awal memang begitu. Tapi bagi orang seperti Eun Soo, sepertinya uang bukan masalah.”

Seokjin terdiam. Sepertinya ada yang salah di sini. Apa Eun Soo baru saja melunasi pembayaran atas dirinya?

“Kenapa dia membayar kita?” tanya Seokjin ragu, sejujurnya ia takut mendengar jawaban Yoongi, ia takut sesuatu yang buruk sedang menunggunya.

“Eun Soo belum memberitahumu?” tanya Hoseok bingung. Mereka pikir sebelum mengatakannya kepada dirinya dan Yoongi, Eun Soo sudah mengatakannya terlebih dulu kepada Seokjin.

“Mengatakan apa?”

Yoongi terbatuk. “Eun Soo tidak bilang kalau kau sudah tidak bekerja lagi untuknya?”

Selama beberapa saat Seokjin merasa blank, tidak tahu reaksi apa yang yang harus diberikan. Bukankah seharusnya ia merasa senang? Ia sudah terbebas dari jeratan keluarga Eun Soo yang terkadang sering membuatnya sakit kepala. Tapi entah kenapa ia merasa kesal. Kesal karena Eun Soo tidak mengatakannya secara langsung. Apakah memang selalu begitu cara kerjanya? Pergi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan. “Eun Soo tidak mengatakan apa-apa kepadaku.”

“Benarkah?” tanya Hoseok bingung. “Tadi pagi-pagi sekali dia datang kemari. Eun Soo bilang tugasmu sudah selesai dan tetap akan membayar upahmu sesuai perjanjian.” Terang Hoseok dengan hati-hati, ia takut salah-salah mengambil pilihan kata justru membuat Seokjin marah.

“Ya sudah. Yang jelas dia tetap membayarmu. Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan.” Yoongi yang paham ketidakterimaan Seokjin berusaha menghibur. Bukankah selama ini mereka memang hanya menginginkan uang? Beruntung Eun Soo tidak meminta ganti rugi atas kegagalan Seokjin, justru membayar mereka secara penuh.

“Apakah dia mencampakkanku begitu saja karena sudah tidak membutuhkanku lagi?”

Hoseok dan Yoongi saling tatap. Kekhawatiran mereka sepertinya mulai menjadi kenyataan. Hanya saja Seokjin belum menyadarinya atau memang tidak berniat untuk menyadarinya. Sejak awal Yoongi memang sudah menarik kesimpulan bahwa Seokjin dan Eun Soo tidak akan cocok. Eun Soo sama sekali bukan tipikal Seokjin, sehingga Seokjin selalu beranggapan bahwa ia tidak akan pernah memiliki waktu berharga bersama gadis itu. Ia terlalu merasa nyaman dengan fakta Eun Soo tidak mungkin menyukainya hingga zona nyaman itu justru membuatnya tanpa sadar terjebak. “Apa dia harus mengatakan kepadamu bahwa dia sudah tidak membutuhkan jasamu lagi?” tanya Yoongi. Ia mencoba lebih realistis meski ia tahu bahwa Seokjin sudah terlalu menganggap serius pekerjaan yang dimilikinya bersama Eun Soo. “Kau bekerja atas perintahku, otomatis aku yang memegang kendali. Wajar kalau dia cukup mengatakannya kepadaku saja.”

Seokjin menerawang. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Firasatnya mengenai ucapan terima kasih Eun Soo merupakan ucapan selamat tinggal ternyata benar. Seharusnya ia lebih peka. Mengetahui bahwa Yifan ternyata tidak pernah berselingkuh tentu akan membuat Eun Soo menghentikan niatan menyingkirkan Yifan. Sosok Yifan tanpa masa lalu perselingkuhan tentu adalah sosok sempurna yang diinginkan oleh semua gadis, dan Eun Soo sudah mampu menerima kenyataan bahwa Yifan memang yang terbaik untuk kakaknya.

Tapi Seokjin merasa marah ketika Eun Soo sama sekali tidak memberitahunya. Apa selama ini ia hanya angin lalu bagi gadis itu? Sesuatu yang dibayar mahal untuk dimanfaatkan dan dibuang begitu saja setelah tidak diperlukan lagi? Ya, pekerjaannya memang membuatnya begitu, tidak ada hak baginya untuk marah. Hanya saja ia tidak suka diperlakukan seperti ini oleh gadis itu. Gadis itu bahkan menangis bersamanya. Apakah wajar jika mereka berakhir seperti ini?

“Seokjin.” panggil Hoseok. Ia akan merasa sangat senang jika Seokjin bisa menemukan seseorang yang benar-benar ingin diajaknya serius. Meski selama ini ia selalu menggoda Seokjin dan Eun Soo, tapi ia tidak pernah berharap mereka benar-benar akan menjadi pasangan. Seokjin mungkin belum menyadarinya, hanya saja Eun Soo bahkan tidak memiliki apa yang belum disadari oleh Seokjin. “Kau boleh beristirahat selama beberapa hari. Kau pasti sangat lelah karena harus—“

“Kenapa kalian tidak menahannya? Setidaknya memintanya untuk menunggu sampai aku datang.”

Hoseok buru-buru menahan Yoongi untuk menyanggah Seokjin.

“Kenapa kalian tidak melakukannya?”

“Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?”

Sepertinya memang benar-benar ucapan perpisahan.

Seokjin baru saja kembali dari kantor Eun Soo dan mendapati kenyataan bahwa tadi pagi gadis itu baru saja mengundurkan diri. Ia yakin bahwa Eun Soo mungkin saja berniat kembali ke Jepang setelah pernikahan Yifan dan Riyoung. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai pekerjaan, gadis itu bisa dengan mudah memperolehnya, kalau pun sukar menemukan pekerjaan baru ia tidak akan kehabisan uang untuk mencukupi kehidupannya, lagipula dia masih memiliki seorang kakak yang meski terlihat tidak terlalu peduli tapi selalu berdiri di belakangnya.

Mengingat Young Saeng membuat Seokjin sadar bahwa mungkin ia bisa menemukan Eun Soo dari kakaknya. Tanpa pikir panjang ia membelokkan mobil dan menuju ke apartemen Young Saeng.

“Eun Soo tidak memberitahumu?” itulah kalimat pertama Young Saeng—Seokjin sudah berada di di dalam apartemennya dan inilah kali pertama ia masuk ke dalamnya. Seokjin tersenyum kecil saat melihat pigura Young Saeng dipenuhi oleh foto-fotonya bersama Eun Soo dan satu foto keluarga. Young Saeng pasti merasa sangat kesepian tinggal terpisah dengan adik kesayangannya.

Seokjin menggeleng.

“Wah, benar-benar ya bocah itu. Tidak punya sopan santun. Apa dia juga belum membayarmu?”

Seokjin sudah menduga jawaban apa yang akan diberikan oleh Young Saeng jika dirinya mengeluh mengenai Eun Soo, sopan santun dan etika. Berbanding terbalik dengan adiknya, ia rasa Young Saeng adalah seseorang yang menjunjung tinggi kesopanan dan etika. Mungkin jika diibaratkan sebagai pengajar, Eun Soo adalah guru bahasa korea dan Young Saeng adalah seorang guru etika.

“Eun Soo justru membayar kami secara penuh. Padahal aku sudah gagal menjalankan tugas.”

Young Saeng mengangguk-angguk paham. “Sudah-sudah, nanti akan kumarahi dia. Aku akan paksa dia untuk menemuimu. Apa dia juga tidak bisa dihubungi?”

Lagi-lagi Seokjin hanya bisa menggeleng. Tapi sepertinya Eun Soo bukannya berniat menghindarinya karena tidak ada notifikasi chatnya telah dibaca, mungkin gadis itu memang tidak memiliki waktu untuk mengecek ponselnya. “Boleh aku meminta alamatnya saja?”

“Lho, jadi selama ini kau belum tahu alamat Eun Soo? Tapi bagaimana bisa kau sampai ke apartemenku?” Young Saeng benar-benar terkejut mendengat penuturan Seokjin.

Jihyun masih saja terbahak mendengar cerita Eun Soo saat mendapati sosok yang dulu pernah disangkanya sebagai pengganti Yifan sedang berdiri di depan apartemen Eun Soo. “Wah, apa kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih sekarang?”

Eun Soo berhenti bercerita dan ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap Seokjin dengan bingung. Apa yang laki-laki itu lakukan di apartemennya?

“Hey, ceritakan di dalam ya!” Hana menyikut bahu Eun Soo sambil melemparkan senyuman jahil dan mengisyaratkan Jihyun untuk masuk ke dalam.

“Hai.” sapa Eun Soo. Hari ini suasana hatinya sedang cukup baik karena menghabiskan waktu bersama kedua teman dekatnya.

“Apa ponselmu itu hanya pajangan saja?” tanya Seokjin ketus. Sudah hampir satu jam ia menunggui Eun Soo di sini.

“Eh?” Eun Soo merogoh ke dalam tasnya, berniat mengecek ponsel karena memang sejak pagi ia tidak ada melihat ponselnya. “Kau menghubungiku ya? Sepertinya aku membuatnya dalam mode silent. Bagaimana bisa kau tahu alamatku?”

Seokjin tersenyum sinis. “Apa selalu begini cara kerjamu? Selalu pergi begitu saja tanpa memberikan peringatan?”

Eun Soo mengernyit, jarang sekali ia melihat Seokjin berbicara dengan nada sesinis itu. Apa ada yang salah? Bukankah ia sudah melunasi pembayarannya?

“Apa setelah tidak berguna lagi kau mencampakkanku begitu saja?”

“Seokjin, aku tidak paham—“

“Memangnya kau pernah berusaha memahamiku?”

“Apa bayarannya kurang?”

“Ck, apa aku terlihat seperti seseorang yang datang hanya untuk uang? Bukankah kau sudah pernah makan malam bersama keluargaku? Kau pasti tahu aku berasal dari latar belakang yang seperti apa.” Seokjin sempat kaget saat Eun Soo tidak membahas latar belakangnya ketika mengetahui bahwa gadis itu sudah menginjakkan kaki di rumahnya.

“Baiklah, kalau begitu jelaskan apa yang kau inginkan?”

“Aku tidak suka diperlakukan begini.”

“Diperlakukan—“

“Ya! Heo Eun Soo! Apa kau pikir kau bisa memperlakukanku begini? Aku bahkan tidak tahu kenapa aku kesal karena kau tidak memberi tahuku secara langsung bahwa kau sudah tidak memerlukanku lagi. Aku hanya tidak suka diperlakukan begini, apa kau paham?” Seokjin mengatur napasnya sebentar. “Aku bahkan tidak paham apa yang terjadi, jadi tolong jangan mempersulitnya dengan sikap tidak pedulimu itu!”

Selama beberapa sekon Eun Soo terdiam. Seokjin tidak pernah meneriakinya. Sebenarnya ada apa dengan laki-laki ini? Kenapa ia begitu marah hanya karena ia tidak memberitahunya secara langsung. Ia berniat begitu, hanya saja tadi pagi Seokjin belum berada di kantornya. “Tadi pagi kau belum datang, jadi—“

“Aku rasa bukan Yifan yang mencampakkanmu, tapi kau yang mencampakkannya.”

Eun Soo semakin tidak paham.

“Apa sudah menjadi kebiasaanmu mencampakkan seseorang dari hidupmu?”

To be continued …

HAHAHAHA, I told you vomit not my responsibility. So much cheesy scene that too “ugh”, I feel also disgusting like you are. Percayalah ini ngetiknya di bawah tekanan, lmao. Nggak tahu kenapa kalau udah stres sama proposal malah larinya ke sini. & yah, nggak jadi lagi buat posternya, wkwkwkwk. Bye… Love Ya ^^

Advertisements