Tags

, , ,

cover1the seasons die off, one by one.

© jiminitor

main cast: park jimin; kim taehyung // other cast: kim seokjin, kim namjoon, min yoongi // rate: pg-17 // genre: dark fantasy, tragedy, drama // length: chaptered

based on tokyo ghoul series

[tentang universe]

.

Jimin tak berani berharap bahwa hidup sebagai manusia normal ini berlangsung selamanya. / Para inspektur baru itu tiba, pangkal benang menanti untuk ditemukan. Sesuatu akan dimulai.

.

i. insting

.

“Jiminnie, larilah.”

Sang anak terisak, menatap sang ibunda dengan mata panas, air mata yang ditahan perlahan leleh, dari sudut mata hingga ke pipi, menitik pada daratan semen di bawah. Alih-alih menjauh, anak laki-laki itu beringsut mendekat, memeluk erat ibunya. Sang ibu terdiam, manik cokelat yang telah berubah menjadi hitam berhias iris sewarna darah itu menatap anak tunggalnya dengan tatapan iba, bersikap tegar dan kuat walau sesungguhnya, ia ingin terisak.

Langkah-langkah kaki itu semakin dekat.

Sang ibu tahu bahwa waktunya tak lagi banyak.

“T-tapi, Ibu bagaimana?”

Sang ibu tersenyum lembut, “Ibu tak apa-apa. Pergilah, sejauh mungkin.” Hoodie itu diraihnya, diulurkan hingga menutupi kepala anaknya. “Jangan sampai wajahmu dilihat Merpati.”

Anak laki-laki itu menatap ragu.

“Ibu akan menyusulmu nanti, oke? Ibu janji.”

Anak laki-laki itu menghentikan isaknya ketika tangan sang ibu menepuk kepalanya. Perlahan, pelukan itu melonggar hingga lepas sepenuhnya, menyisakan sang anak yang menunduk, dengan jejak-jejak air mata di wajahnya yang kusut. Anak laki-laki itu berlari menjauh, walau tak beberapa lama, ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.

Dan yang dilihatnya adalah merah merekah dan tubuh sang ibu yang terbelah dua.

.

Ia terbangun dengan keringat dingin mengucur deras.

“… mimpi ya?”

Yang sama, untuk yang ketiga kalinya.

Jimin terengah, menstabilkan detak jantungnya yang masih kencang. Tangannya gemetar, mencengkeram ujung selimut yang membaluti tubuhnya. Mati-matian menenangkan diri. Mati-matian berkata bahwa ia di kamarnya sendiri, di atas tempat tidurnya sendiri. Mati-matian meyakinkan diri bahwa di sini tidak ada para Merpati. Mati-matian meyakinkan diri bahwa ia tak akan diburu lagi.

Peristiwa sepuluh tahun yang lalu tak akan terjadi lagi.

Ia baik-baik saja.

(atau ia harap begitu.)

.

.

.

 “Untuk meja 18. Semangat, Jiminnie!”

“Baik, Noona!”

Jimin menerima uluran nampan dari rekan kerjanya, melangkah menuju meja yang dimaksud. Pesanan kemudian diletakkan di atasnya, tak lupa dengan tersenyum pada gadis-gadis di meja tersebut dan kalimat, “Ini pesanannya, Nona-nona. Selamat menikmati!” Bagian dari pekerjaan, ia harus bersikap seramah mungkin demi menarik pelanggan. Ia membungkukkan tubuhnya, mohon pamit undur diri dan dibalas senyum dan anggukan ketika ia undur diri perlahan, menuju ruang staff.

“Kasus pembunuhan di sebuah gedung serbaguna daerah Dongjak positif merupakan kasus pembunuhan oleh ghoul.”

Langkahnya terhenti begitu mendengar suara reporter wanita di televisi.

“Diduga pelakunya adalah Hyde, salah satu ghoul peringkat S. CCG masih menyelidiki kasus ini. Menurut laporan terbaru—“

“Katanya korban ditemukan dalam keadaan tercabik dan hampir tak bisa dikenali. Mengerikan, ya.”

“Sungguhan?”

“Iya. Ghoul itu seram, ya. Kenapa mereka bisa ada di dunia, sih? Mereka monster berdarah dingin, tahunya hanya membunuh.”

Senyum yang terpeta di wajahnya berganti menjadi senyum sedih. Langkahnya dipercepat, punggungnya menghilang ditelan pintu ruang staff. Sesampainya di sana, Jimin langsung bersandar di dinding. Ada helaan napas yang lolos, hanya untuk menghilangkan nyeri di hatinya. Nyeri yang terus menjalar tanpa henti.

Jimin terlahir sebagai ghoul. Orang tuanya juga ghoul dan mereka semua terbunuh hanya karena itu.

Dan setiap kali ia mendengar celaan mengenai ghoul (ghoul itu sampah, ghoul itu iblis, ghoul itu monster tak berhati), rasanya sakit, sangat. Jimin pernah membunuh manusia, tentu. Tetapi itu dilakukan karena dia harus makan (ghoul tidak dapat makan makanan selain daging manusia). Ia tahu itu salah, tetapi ia tidak bisa berhenti jika tidak ingin mati. Rasa lapar ghoul seperti neraka, dapat membuatnya hilang akal jika tidak segera dipenuhi.

Sayangnya, manusia tidak ada yang mengerti. Mereka hanya mengenal dari luarnya, ketakutan begitu tahu bahwa ghoul mengancam nyawa mereka.

Tetapi itu tak membuatnya berhenti untuk hidup berbaur dengan manusia. Jimin berusaha keras—berlatih agar dapat bersikap seolah memakan makanan manusia walau makanan-makanan itu sangat menjijikkan baginya, bersekolah, melanjutkan pendidikan ke universitas ternama, bekerja, dan serangkaian aktivitas manusia lainnya sehingga ia tampak seperti mahasiswa biasa alih-alih ghoul yang diburu para Merpati—orang-orang CCG. Ia berusaha keras agar diterima.

Sampai sekarang, Jimin tak pernah berhenti berusaha.

“Jangan didengarkan.”

Seakan dapat membaca pikirannya, respon itu. Jimin tersenyum pada satu-satunya pemuda di dalam ruangan, yang tengah duduk di salah satu meja dengan laptop di pangkuan, “Makasih, Namjoon-hyung.” Manik kelamnya kini mengarah pada laptop yang menjadi fokus sang pemuda, “Novel baru?”

“Naskah lama. Aku hanya merombaknya sedikit sebelum kukirim ke penerbit,” adalah jawaban yang diterimanya walau yang melontarkan tidak melihatnya. Jimin maklum, kemudian melepas rompi dan topi kerjanya sesaat sebelum ia menyadari ada sesuatu yang kurang.

“Mana Jungkookie?”

“Katanya ke perpustakaan, belajar dengan teman-temannya.”

“Ujian akhir SMA sebentar lagi kan?”

Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan, “Dia minggu kemarin bilang, ‘jangan ganggu aku sampai aku berhasil masuk Soongsil’,” tiru Namjoon, membuat Jimin tertawa kecil.

“Sepertinya dia ingin sekali masuk ke sana ya, Hyung.”

Dalam hati, Jimin merasa lega karena Jungkook juga tak pernah berhenti berusaha dan kini mulai terbiasa, mulai berubah.

(dan di saat yang sama, ia bersyukur bahwa dirinya ditemukan, diselamatkan oleh sang pemilik kafe begitu ia hilang arah.)

“Aku tak membayar kalian untuk bergosip.”

Dan yang dibicarakan muncul. Namjoon mengangguk lemah, kembali menundukkan kepalanya dan mengetikkan sesuatu pada laptop-nya. Jimin berjengit, membungkuk sekilas pada sosok yang baru datang. Pemilik kafe. Yang menemukannya malam itu ketika ia hilang arah.

“Jiminnie,” kata pemuda itu, Jimin hanya mengangkat alisnya, “katamu kau ada praktikum jam dua nanti.”

Refleks ia menoleh ke arah jam dan langsung bergegas setelahnya. Pukul satu. Dia belum menyiapkan apa pun.

“Makasih Seokjin-hyuung! Hari ini aku selesai dulu ya?” Ia terburu-buru melangkah ke atas, menuju kamarnya, “Dadah, Namjoon-hyung! Semangat ya dengan novelnya!”

Ia bisa terlambat.

.

.

.

Jimin berlari menuju halte.

Keterlambatan ini membuatnya terpaksa menggunakan bus. Hanya perlu beberapa menit untuk tiba dengan membayar sejumlah won, tetapi itu jika busnya cepat tiba (ia harap). Langkahnya berhenti begitu ia tiba di halte, buru-buru maniknya menindai jadwal kedatangan bus dan melihat arloji. Dua menit lagi, masih sempat.

Salah satu bus tiba—bukan jurusannya, beberapa penumpang turun. Jimin hanya memperhatikan sekilas sebelum perhatiannya terpaku pada sesosok pemuda. Rambutnya cokelat, pandangannya seperti kebingungan, tubuhnya dibaluti jas kelabu yang rapi. Ia tidak pernah kenal pemuda itu, tetapi perasaannya tak enak. Tiba-tiba hidungnya mencium sesuatu, bau yang tak asing, kakinya melangkah mengikuti arah bau tersebut—sebelum pandangannya kini terpaku pada sebuah koper besar kelabu.

Ia seperti pernah menciumnya. Ia seperti mengenal baunya walau tak ingat dengan jelas.

“Di situ ternyata! Untunglah.”

Jimin memperhatikan bagaimana pemuda linglung tersebut kini berlari ke arahnya. Dilihatnya pemuda itu mengambil koper tersebut, memeriksa tepi dan beratnya sebelum berkata, “Untung nggak apa-apa.”

Pemuda itu bangkit, maniknya bertemu dengan manik kelam Jimin. Pemuda itu tersenyum cerah sebelum membungkuk hormat padanya.

“Terima kasih, ya.”

Jimin menggeleng seraya tersenyum canggung, “B-bukan apa-apa, kok.”

“W-waa, aku telat!” jerit pemuda itu panik ketika menatap layar ponselnya. “Makasih ya, sekali lagi. Permisiii!”

Pemuda anonim itu kemudian buru-buru pergi, berlari menjauhi halte. Perasaan tak enaknya masih menggelayuti batin, tidak bisa hilang walau sudah diusirnya sedemikian rupa. Bahkan setelah busnya tiba dan ia masuk pun, ia masih merasa tak enak—atau lebih tepatnya, cemas.

Karena Jimin tahu, koper besar kelabu dan jas dengan warna serupa itu hanya dimiliki oleh segelintir orang.

Para penyelidik Merpati.

Untuk apa penyelidik mereka ke sini?

.

.

“Terlambat sekali lagi, kugantung kau di puncak markas.”

Mampus.

Hanya cengiran penuh apologi yang terpeta di wajah Taehyung. Kedua tangannya terkepal di bawah meja, keringat dingin mengalir tanda ketakutan. Baru satu minggu dirinya menjadi salah satu inspektur CCG—badan yang bertugas untuk menanggulangi kejahatan oleh ghoul—dan menjadi partner dari Min Yoongi. Katakanlah, Taehyung belum terbiasa, bahkan terkadang masih merasa tertekan atau takut dengan rekannya tersebut. Faktor utamanya karena perbedaan usia, perbedaan pengalaman, dan perbedaan kemampuan.

“M-maaf Hy—maksudku, Inspektur Min.” Ia tersenyum. Masih ingat, rekannya risih bila dipanggil hyung saat bekerja. “Tadi koper quinque-ku terjatuh. Untung ada yang menemukan.”

Ia buru-buru menutup mulut, salah bicara.

Hasilnya, ia meringkuk begitu tatapan tajam dari sang rekan mengarah padanya.

Mati ini, mati.

Tetapi Taehyung dapat menghela napas lega begitu fokus rekannya berpindah, kini pada kertas-kertas di tangan. “Aku semalam membaca laporanmu.” Dan manik kelam sang rekan berpindah, kini menindainya seolah akan mengulitinya hanya dengan pandangan mata. “Dan kupikir kau terlalu mengada-ada, Taehyung. Apa landasan teorimu menyusun laporan ini? Insting?”

“Iya, ehe.”

Jawaban itu polos. Inspektur Min memijat keningnya.

“Gila. Sangat.” Komentar itu terlontar dari lisan Inspektur Min, “Tapi tak ada salahnya dicoba. Aku pernah dengar dari Hoseok, instingmu tajam.”

Ada ulasan senyum cerah di wajah Taehyung sekarang

“Lagipula, ada kasus pembunuhan yang diduga melibatkan Hyde di Dongjak.” Kertas-kertas itu dirapikan, kini dibiarkan tergeletak di atas meja. Inspektur Kim tengah mempertemukan jari-jarinya ketika Taehyung mengangguk antusias, “Dan ingat, tujuan kita bukan hanya Hyde, tetapi seluruh ghoul yang ada. Sudah tugas kita sebagai CCG untuk memusnahkan sampah-sampah itu di Seoul, demi umat manusia.”

Inspektur Min kini menatapnya lurus.

“Terus selidiki. Kutunggu laporanmu secepatnya.”

.

.

to be continued

.

disclaimer: i own nothing; the universe in this story based on tokyo ghoul series by ishida sui; judul merupakan terjemahan dari lagu kisetsu wa tsugitsugi shindeiku oleh amazarashi

notes:

hnggg…….

h-halo, nama saya nebbi. author baru di sini, ehe. s-salam kenal .////////////////. (bows deeply)

mm, jadi ceritanya saya habis maraton rewatch tokyo ghoul dan tokyo ghoul root a, terus jadi gatel pengen bikin fanfic ini (…) oke, jadi di sini settingnya bukan tokyo, tapi seoul. saya nggak bagi per distrik karena mager *…* dan biar lebih kebayang, saya sebut daerahnya. ehe. kalau masih bingung dengan universenya, bisa klik wikinya buat keterangan lebih (awas spoiler :”|d). rating untuk beberapa adegan berdarah atau disturbing images yang nyempil di deskrip. main cast bisa berganti tergantung sikon tapi mayoritas berpusat dengan uri 95-liner. dan genre? genre said all~ :”3

dan m-m-maaf ya, padahal fanfic perdana tapi jelek begini jadinya ;____________; (nangisin skill) saya nggak bisa janji cepet apdet tbh, semua tergantung kesibukan dan mood, maaf ya ;_______; b-b-bersediakah memberi komentar atau kritikan? ;_______;

p.s: ghoul matanya kayak manusia, tapi bisa berubah dalam sikon tertentu jadi kayak di cover :”3

Advertisements