Tags

, , ,

goingcrazy

Going Crazy

-Caramel Kim Storyline-

-Main Cast : Kim Taehyung (BTS), Kang Minyoung (OC), Park Jimin (BTS)|Genre : Crime, Psychology|Type : Chaptered|Rated : 17+|

Recommended Song : Going Crazy by Song Jieun feat Bang Yongguk

Love could make you feel insecure..

-Going Crazy-

  “Aku tidak tahan lagi.”

Gelenyar amarah dan putus asa terasa begitu menguasai atmosfer tempat ini. Dua pasang mata saling tatap penuh emosi, serangan verbal dan argument yang nyaris tak berguna dilempar keseberang meja Café dengan meluap-luap. Makanan lezat yang seharusnya dinikmati sedari tadi kini sudah sepenuhnya dingin tanpa selera. Nampaknya pertikaian ini jauh lebih menarik ketimbang hidangan itu, dan nampaknya sepasang kekasih itu berpendapat sama.

Kini Taehyung menatap kekasihnya dengan pandangan mengalah, entah sudah berapa argument dia keluarkan sejak tadi, tapi ternyata dia tidak bisa membalikkan keadaan. Dia kini hanya menatapi Minyoung yang duduk dihadapannya dengan perasaan kusut, dia tau ini akan berakhir.

Hubungannya akan berakhir..

“Kau selalu saja melarangku melakukan apapun, aku tidak tahan lagi.” Minyoung mendesis berbahaya, berusaha agar pertikaian di meja mereka tidak menarik perhatian pengunjung lain. Gadis itu menatap lawan bicaranya dengan ekspresi yang tak bisa dibaca. Tapi yang jelas bagi Taehyung dia tetap saja terlihat cantik.

“Kau tau aku tidak bermaksud menyakiti siapapun.” Ucap pria itu, berusaha agar kata-katanya bisa melunakkan hati gadisnya itu. Gadis itu melempar pandangan keluar jendela yang ada tepat disebelahnya, dia nyaris menangis didepan Taehyung, dan dia tidak ingin pria itu melihatnya menangis.

“Kau memukul Jimin, kau sudah kelewatan. Dia hanya partner lab-ku.”

Kata-kata gadis itu terlontar dengan berbahaya ketelinga Taehyung. Tapi dia nyaris tidak menggubris. Mata Taehyung sibuk sendiri, bola matanya hanya menatapi Minyoung dengan tatapan tak tertebak, pria itu tak juga menjawab, dia seperti menunggu sesuatu.

“Kau sudah keterlaluan, lebih baik kita putus saja.”

Seolah impuls nya bekerja dengan kecepatan tak terduga, Taehyung lantas membelalakan mata begitu mendengar ucapan itu. Dia menggebrak meja hingga menimbulkan suara debam keras. Taehyung melotot, menatapi si gadis tanpa mengacuhkan seisi café yang kini juga memandang kearah meja mereka dengan kaget dan bingung.

Minyoung terkesiap. Dia menatap kekasihnya itu dengan tatapan kaget dan bingung.

“Tidak bisa! Aku tidak mau!” Raungnya keras seolah dia telah memendam amarah sejak tadi. Taehyung berubah begitu cepat, Minyoung yakin tadi Taehyung tidak terlihat marah sedikitpun. Gadis itu menarik nafas gugup, lalu melirik takut-takut kesekitar, berharap orang-orang itu tidak menatapi mereka terus.

“Kau kenapa?” Minyoung bertanya dengan agak takut. Gadis itu berusaha menarik tangan Taehyung agar dia tenang, dan Taehyung hanya menatapi meja dengan tatapan yang kosong. Seolah-olah, yang tadi berteriak bukanlah dirinya.

Aku, kenapa? Seolah mendapatkan kesadarannya kembali, Taehyung kini menatapi lawan bicaranya dengan tatapan melunak. Apa yang aku lakukan?  Kata-kata itu terus menerus bergaung dipikirannya bak kaset rusak. Minyoung mengerjap pelan, ekspresi terkejutnya belum sepenuhnya hilang. Ada yang salah, Minyoung begitu yakin ada yang salah dengan Taehyung.

“Kau, butuh istirahat.”

Taehyung mendongak begitu mendengar ucapan Minyoung. Ya, gadis itu mungkin benar, dia butuh istirahat saat ini. kepala Taehyung terasa berputar, jantungnya pun berdegup dengan irama yang tidak biasa. Dia menelan ludah, lalu mengerjap pelan kearah Minyoung yang kini bangkit dari duduknya.

“Pulanglah, Taehyung.”
Minyoung kini sudah sepenuhnya berdiri, gadis itu hanya melirik Taehyung sebentar. Sebenarnya dia enggan meninggalkan pria itu apalagi dalam keadaannya yang tengah kacau begini. Tapi, dalam hati, Minyoung ketakutan. Hal ini memang bukan yang pertama, dan gadis itu tau ada hal yang mengganggu kejiwaan pria itu.

“Jangan tinggalkan aku. maaf, tadi, aku tiba-tiba kesal, jangan pergi.” Taehyung meratap. Dia kini mendadak berubah lagi, dia kini meratap seperti anak kecil yang tengah digertak. Pria itu kini ikut bangkit berdiri, lalu berusaha menarik lengan Minyoung dan berusaha mencegahnya pergi. Tidak, dia benar-benar harus pergi. Dia tidak bisa bersama dengan Taehyung, dia terlalu takut. “Tidak Taehyung, aku mohon lepaskan.” Satu tepisan kuat dari Minyoung pun membuat tautan tangan Taehyung terputus. Keheningan yang memuakan sejenak menguasai mereka. Minyoung menatap Taehyung dengan tatapan tak tertebak, tapi, jelas sekali kalau dia tak bermaksud sekasar itu.

“Aku, benar-benar harus pergi.”

-Going Crazy-

Bunyi bising terdengar cukup keras begitu kaleng soda kosong dilempar dengan kekuatan sedang ke tong sampah plastik dihadapan Jimin. Pria itu kembali fokus dengan buku yang ada ditangannya seolah buku itu telah menyita seluruh perhatian Jimin. Mata kecil pria itu kini menyapu lembar demi lembar buku novel tebal itu dengan cepat. Sudah 300 halaman yang dia baca dalam sejam. Ya, dia harus membacanya dengan cepat karena dia harus menyelesaikan buku itu sampai besok.

“Hari Rabu akan kuambil buku itu, jangan sampai ada yang dilipat. Karena aku hafal betul halaman mana yang sudah aku lipat.”

Ampun, Yoongi benar-benar orang yang apik dan tidak berperikemanusiaan. Buku itu sudah terlalu banyak lipatan, juga sudah usang, tapi tetap saja Yoongi tidak memberi keringanan apapun bagi Jimin untuk memberi pembatas halaman. Melipat saja tidak boleh, padahal bekas lipatan sudah ada dimana-mana. Dasar bocah pelit.

Membaca terus menerus membuat mata Jimin sakit. Pria itu mendongak, lalu menutup buku itu dan mengerjapkan matanya yang mendadak perih. Begitu matanya sudah agak membaik, Jimin lantas mendongak, berusaha menyesuaikan fokus matanya dengan pemandangan koridor sekitar. Cukup baik, batinnya lalu menghela nafas dan memandang kesebelah kiri. Tapi dia memandang bingung kearah sosok yang berjalan melintas koridor dengan langkah terburu. Itu Minyoung, tapi yang aneh, dia nampak kacau hari ini.

“Kang Minyoung!” Jimin menyahut, berharap gadis itu menoleh padanya begitu dia berjalan mendekat. Dan benar saja, gadis itu kini menatapnya, lalu berjalan mendekat dengan wajah cemas.

“Buru-buru sekali, terlambat lagi?”
“Kau melihat Taehyung? Dia ada dikelasmu tadi?”
Seolah tidak menghiraukan ucapan Jimin, Minyoung lantas menyembur pria itu dengan terburu. Jimin melongo sejenak, lalu menggeleng.

“Sudah dua hari aku tidak melihat anak itu, dia sudah beberapa kali bolos kelas.”
Bolos? Gadis itu lalu menautkan alisnya seraya berpikir. Jimin memiringkan kepalanya bingung, bukankah Minyoung dan Taehyung sudah putus seminggu lalu?

“Ada apa?” Tanya Jimin dengan agak hati-hati. Pertanyaan Jimin disambut dengan gelengan kepala Minyoung. Gadis itu lalu tersenyum. Tapi, senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya..

“Tidak, tidak ada apa-apa.”

-Going Crazy-

Sepasang mata menatap kosong keseberang ruangan. Tembok yang dilapisi cat biru muda itu kini nampak abu-abu dimata pria itu. Biru? Tidak, itu abu-abu..batinnya sambil mengawang-ngawang. Ya, cat biru yang melapisi tembok kamarnya mulai pudar, dan Taehyung baru menyadari itu sekarang. Tinggal sendirian sejak masih berusia muda memang berat bagi siapapun. Dan Taehyung mengalami itu semua. Dia sendirian.

Sendirian..

Helaan nafas berat Taehyung adalah satu-satunya irama yang ada diruangan itu. Pria itu sudah terlalu lama berpikir, berpikir tentang banyak hal. Orangtuanya, kakaknya, juga kekasihnya yang pergi. kenapa dia selalu kehilangan orang yang berharga untuknya?

“Aku akan melakukan apapun untukmu agar kau kembali…”
Taehyung berbicara pelan, lebih pada dirinya sendiri. Matanya yang semula kosong kini mengerjap pelan, dia lalu mengambil ponsel yang tergeletak di nakas. Dia lalu menatap layarnya yang gelap dan mengusapnya.

“Kau mau pergi dariku. Kau ingin aku sendirian lagi?” kata-kata Taehyung meluncur tajam kearah potret dirinya dengan Minyoung. Mereka nampak bahagia saat itu. Taehyung menatap nanar, lalu mengusap wajah Minyoung yang tersenyum didalam layar. Berharap gadis itu merasakan sentuhannya.

Tapi, senyuman itu tidak membuat Taehyung tenang. Justru Taehyung merasakan gelenyar amarah, dan kesedihan dalam dirinya. Dia benci dengan perasaan itu, tapi dia tidak bisa menyingkirkan perasaan itu. Kenapa, kenapa harus ada yang namanya rasa kehilangan?
Taehyung tersenyum secara tiba-tiba, dia lalu beranjak dan bangkit dari tempatnya duduk. Dengan gontai pria itu lalu berjalan menyusuri kamar sewa yang berantakan itu. Dia tidak berpikir apa-apa, otaknya sudah buntu, yang dia cari hanya satu benda, dan dia berjalan menuju cermin yang tergantung tak jauh dari kamarnya yang gelap, mencari benda itu.

“Minyoung-a, aku mencintaimu sampai kapanpun..”

-Going Crazy-

“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”

Ucap Jimin pelan sambil menatap layar ponsel Minyoung yang kini membuka aplikasi Kakaotalk. Dia membaca pesan yang dikirim Taehyung pada Minyoung semalam, dan mau tak mau dia bingung dan khawatir.

“Dia mengirim itu, dia mengancamku.” Minyoung menatap Jimin dengan air muka ketakutan. Sebenarnya gadis itu tidak mau mengatakan apa yang terjadi pada Jimin, tapi, dia juga butuh bantuan. Karena Jimin mendesaknya dengan terus menerus, memastikan bahwa dia akan membantu gadis itu, akhirnya Minyoung menceritakan semuanya. Berharap bisa menemukan titik terang.

Jimin menelan ludahnya, dan memperhatikan foto yang dikirim Taehyung dengan berbagai perkataan ancaman untuk Minyoung. Tapi, apa ini Taehyung? Dia terlihat kacau, dan ada yang aneh padanya. Dia, memotong rambutnya?

Jimin mengerling kesekeliling Cafetaria lalu menjatuhkan pandangannya kembali ke layar ponsel, menatap foto Taehyung yang menatap kosong ke kamera dengan rambut berantakan namun nampak sudah terpotong sembarang. Jujur saja, Jimin merinding, belum lagi dengan kata-kata yang dia kirim untuk Minyoung, seperti, ‘Aku akan lakukan apapun agar kau kembali’ atau ‘Jangan pernah berpikir untuk membiarkan aku sendiri’. Apa yang terjadi? Hanya itu yang ada dipikiran Jimin sekarang. Begitu selesai mengamati gambar itu, lantas dia lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya, yang menanti dengan bingung dan cemas.

“Apa dia sudah lama begini?
Hening. Hanya ada celotehan riang disisi lain Cafetaria. Minyoung mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa perilaku Taehyung yang aneh ini sudah lama terjadi. “Itu sebabnya aku berpisah dengannya. Dia pernah memukulmu, ingat? Tidak Cuma kau saja, Jimin. Dia juga melakukan hal yang sama pada beberapa orang lain.”

Iya, Jimin ingat betul hari itu. Hari dimana dia dengan mendadak diserang Taehyung. Mengerikan, yang dia ingat hanyalah saat dia berjalan keluar dari perpustakaan, dan dengan membabi buta pria itu tiba-tiba menarik kerah bajunya dan melempar tubuhnya kelantai yang dingin. Jimin hanya merasakan pedih diwajahnya, dan darah yang mengalir dari sudut bibir dan juga pelipisnya. Jimin benar-benar kaget, dan Taehyung terus saja memukulinya seperti orang tidak waras. Tanpa ampun. Dan Jimin ingat air muka Taehyung saat itu, dia nampak mengerikan, seperti orang kesetanan. Untung saja Jimin melawan, dan untung saja banyak orang yang melerai saat itu. Jika tidak, mungkin Jimin sudah tewas ditangan anak itu.

“Aku ingat kok. Aku hampir mati.”
Ucapnya nyaris tanpa intonasi. Minyoung menunduk, merasa bersalah jika mengingat kejadian itu.
Dia tau Taehyung cemburu karena kedekatannya dengan Jimin. Tapi Minyoung tidak menyangka akan reaksi Taehyung yang begitu mengerikan saat itu.

Seperti bukan Taehyung.

“Jadi, aku harus apa? Dia jadi seperti itu, dia merusak dirinya sendiri. Aku takut, aku tau dia tidak main-main.” Ucapan Minyoung benar, Taehyung bisa dengan nekat menyakiti dirinya ataupun orang lain. Dan Jimin rasa ancaman itu benar-benar serius.

“Minyoung-a, lebih baik kau pulang cepat hari ini. Akan lebih aman dirumah. Besok, kita akan menemui seseorang, kurasa dia bisa memberi kita petunjuk mengenai hal ini..”

TBC

First Chapter is Done! Tolong tinggalkan jejak yak arena ff pertama aku setelah berbulan-bulan hiatus wkwk. Oke Caramel Kim pamit! Tunggu next chap nya ya

-Caramel Kim-

Advertisements