Tags

, , , , , ,

By Mrs. Heo

Cast-Kim Seokjin [BTS] | Heo Eun Soo [OC] | Wu Yi Fan | Heo Riyoung [OC]

Genre-Romance, fluff, family

Duration-Chapter

Rating- General

Prev 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |

WARNING SO MUCH DRAMA HERE

Summary

“Kalau kau tahu, kenapa kau tetap bersikap seolah dia adalah kekasih Seokjin oppa?”

“Karena aku ingin membuatmu sadar bahwa Seokjin hyung tidak bisa kau miliki.”

7

It just reminds me of the time that I was nothing to you
What am I to you girl what am I to you
(What Am I To You-BTS)

CHAPT-7

 

Mungkin benar apa yang dikatakan Young Saeng, ia harus menghentikan semua ini. Tapi bagaimana kalau semua kekhawatirannya benar-benar menjadi kenyataan? Bagaimana kalau nantinya Yifan akan mengkhianati Riyoung sama seperti dirinya dulu?

“Aku harap kali ini kau bisa mendengarkan aku sampai selesai.”

Eun Soo masih diam, tidak memberikan tanggapan. Ia hanya menatap Yifan yang duduk di hadapannya. Laki-laki itu masih sama seperti dulu. Tenang, terkendali dan tidak tertebak. Bahkan senyumannya masih sama. Senyum seolah-olah semua masalah pasti memiliki solusi.

“Aku minta maaf atas hubungan kita dulu.” Yifan tersenyum. Lagi. Seharusnya ia mengatakan yang sebenarnya sejak awal, mungkin dengan begitu bukan hubungan yang menyedihkan seperti ini yang terjadi pada dirinya dan Eun Soo. Mungkin mereka tetap akan berpisah, tapi tidak dengan cara yang menyakitkan seperti ini. Mungkin mereka masih bisa berteman atau saling menyapa jika berpapasan. Bukan bermusuhan seperti ini. “Aku tidak pernah berselingkuh.”

Eun Soo memutuskan untuk diam. Selama ini ia selalu pergi ketika Yifan melakukan pembelaan diri, ia tidak pernah berniat untuk mendengarkan kelanjutannya karena berpikir prediksinya memanglah yang sesungguhnya terjadi. Tapi pertengkaran dengan Young Saeng menyadarkannya akan sesuatu. Mungkin dialah yang membuatnya semakin kacau. Ia tidak pernah mau mendengarkan cerita secara keseluruhan. Ia membiarkan asumsinya sendiri yang memimpin. Sehingga dia dan Yifan memiliki versi yang berbeda.

Yifan tersenyum. Kali ini Eun Soo tidak menginterupsinya seperti yang sudah-sudah. “Aku hanya ingin membuatmu sedikit cemburu.” Yifan menghela napas—menyesali segala tindakan kekanakannya waktu itu. “Aku hanya ingin mengetahui apa kau masih ingin bersamaku atau tidak.”

Eun Soo menerawang. Ia ingin berargumen bahwa itu adalah alasan klise, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk diam demi mendengar versi Yifan.

“Aku sengaja meminta Hweji melakukannya. Hanya untuk membuatmu cemburu.”

Hweji? Kang Hweji? Sudah lama Eun Soo tidak mendengar nama itu.

“Aku tahu bahwa kau masih menginginkanku ketika kau meninggalkanku begitu saja. Seharusnya saat itu aku mempertahankanmu.”

Eun Soo menghindari kontak mata dengan Yifan. Setiap mengingat betapa kacaunya dia waktu itu selalu membuat Eun Soo kesal karena ia bukan tipikal yang rela menjatuhkan harga dirinya hanya karena urusan laki-laki.

“Aku takut semua yang kulakukan hanya akan membuat harga dirimu terluka.”

Mereka adalah pasangan yang sempurna, begitu yang selama ini orang-orang katakan. Eun Soo tidak pernah terpesona dengan pujian semacam itu. Ia tidak pernah peduli dengan deskripsi sempurna, ia hanya ingin bersama seseorang yang berusaha mempertahankannya, tapi sayang Yifan tidak pernah melakukannya.

“Kau tidak pernah mau mendengarkan alasanku.”

Eun Soo hanya tidak mau mendengar pengakuan tentang betapa lelahnya Yifan terhadap hubungan mereka.

“Aku selalu berusaha menjelaskan, tapi kau selalu menghindar. Kemudian secara tiba-tiba kau pergi. Aku selalu berusaha mengimbangimu. Tapi pada akhirnya—“

“Jadi kau hanya menggunakan Hweji untuk membuatku cemburu?” potong Eun Soo.

“Aku hanya ingin mengetahui isi hatimu.”

Hening. Yifan tidak tahu apalagi yang harus ia lanjutkan dan Eun Soo masih berpikir bahwa semua yang dikatakan oleh Yifan bukanlah kebenaran, melainkan hanya sesuatu untuk menghiburnya.

“Alasan aku tidak pernah mau mendengarkan alasanmu karena aku tahu kau hanya lelah dengan hubungan kita.” Eun Soo berkata dingin. Luka lama terpaksa harus ia buka kembali.

“Aku tidak pernah lelah, tidak pernah sekalipun. Hanya saja kita terlalu mirip. Kita terlalu sama. Kita tidak suka hal kekanakan ketika berkencan. Kita jarang bertengkar karena hal remeh dan memutuskan untuk mendiamkannya saja karena berpikir itu terlalu kekanakan. Ada tembok penghalang yang begitu besar diantara kita. Harga diri. Aku tahu kau selalu berusaha mempertahankan harga dirimu sampai akhir dan aku tidak berani mengusik zona itu. Aku takut kehilanganmu jika melakukannya.” Yifan menjadi emosional. Selama ini ia hanya bisa memendamnya, tapi kali ini Eun Soo harus mengetahui alasan yang sebenarnya. “Tapi pada akhirnya aku tetap kehilanganmu.”

Bukannya Eun Soo tidak tahu akan hal itu. Tapi begitulah dirinya. Sifat alamiahnya. Sesuatu yang tidak bisa diubah meski dia begitu menginginkannya.

“Satu hal yang paling membuatku terluka adalah kau tidak pernah mau menangis di hadapanku. Aku ingin melihatmu menunjukkan sisi lemahmu di hadapanku, dengan begitu aku merasa lebih berarti. Tapi kau tidak pernah melakukannya. Bahkan sampai akhirpun kau membuat seolah hanya aku yang terluka atas berakhirnya hubungan kita.”

Eun Soo tidak paham. Young Saeng bahkan tetap berada di sisinya meski ia tahu betul bahwa dirinya tidak pernah sudi terlihat lemah di hadapannya. Apa pentingnya menangis bersama? Eun Soo benar-benar tidak paham.

“Aku hanya ingin tahu aku ini apa bagimu?”

          Eun Soo tidak ingin menjawab. Bohong jika ia mengatakan bahwa ia jauh lebih tegar dari Yifan yang selama 3 tahun masih mengharapkannya, tapi ia sadar pada akhirnya mereka tetap tidak akan bisa bersama. Seperti yang sama-sama mereka ketahui, mereka berdua terlalu mirip. Yifan yang tidak pernah mengambil inisiatif dan dirinya yang selalu menyembunyikan.

          “Aku hanya ingin tahu apakah aku pernah menjadi bagian yang berharga dalam hidupmu.”

          “Aku tahu kau benar-benar lelah terhadap hubungan kita.”

“Kalau kau tidak bisa membahagiakan Seokjin oppa, seharusnya kau tidak berselingkuh di belakangnya!” Yura menarik bahu Eun Soo sehingga gadis itu sedikit kehilangan keseimbangan tubuhnya.

“Yura? Apakah Seokjin masih belum menyelesaikan urusannya dengan gadis ini?” gumam Eun Soo. “Ada masalah—“ Eun Soo merasa pipinya panas. Yura baru saja menamparnya. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?

“Itu hukuman karena kau telah mengkhianati Seokjin oppa!”

“Kau ini kenapa sih?” Ia bahkan masih belum bisa mengontrol emosi setelah pertemuannya dengan Yifan, kenapa tiba-tiba gadis bernama Yura ini memarahi bahkan sampai berani menamparnya. Dengan emosi Eun Soo mendorong Yura. Dia bukan gadis baik-baik yang akan diam saja jika diperlakukan tidak adil. Ia ingin membalas tamparan Yura, tapi menurutnya itu terlalu berlebihan, ia tidak sekasar itu, tidak sampai Yura menyentuh batas toleransinya.

“Masih bertanya aku kenapa?” Yura balas mendorong Eun Soo. Bahkan bukan sekali dua kali. Berkali-kali ia mendorong bahu Eun Soo yang memiliki bobot yang ringan. “Wanita murahan sepertimu tidak pantas untuk laki-laki baik seperti Seokjin. Beraninya kau berselingkuh darinya!” bentak Yura.

“Berselingkuh? Siapa yang berselingkuh?” Kali ini Eun Soo yang berteriak. Untung jalanan sedikit lenggang, jadi ia tidak terlalu merasa malu jika ada yang melihatnya bertengkar dengan siswa sekolah menengah seperti Yura.

“Apa kau pikir aku buta? Aku jelas-jelas melihatmu bersama laki-laki lain di restoran tadi. Laki-laki sama yang menghampirimu di rumah sakit waktu itu kan?”

Seharusnya ia tadi meminta Sehun untuk menjemputnya. Mobilnya sedang ada di bengkel sehingga membuatnya harus menaiki kendaraan umum. Ternyata pulang menggunakan bus adalah pilihan yang salah, ia harus bertemu dengan gadis kekanakan yang begitu terobsesi dengan Seokjin, seorang yang tidak berarti untuk dirinya selain seseorang yang dibayarnya untuk menyingkirkan Yifan. “Maksudmu Yifan?”

“Oh, namanya Yifan!”

“Berapa kali harus kukatakan kalau aku bukan kekasih Seokjin. Kenapa kau—

Yura terperangah melihat apa yang baru saja diperbuatnya. Ia tidak tahu bahwa ada pecahan kaca di jalan. Mungkin tadi terjadi kecelakaan di sekitar sini atau apapun itu tapi Yura berani bersumpah ia tidak tahu bahwa ada pecahan kaca yang tercecer di jalan dan sama sekali tidak pernah bermaksud melukai Eun Soo.

Spontan Eun Soo berteriak saat merasakan pecahan kaca menembus kulit telapak tangannya. Ia berusaha mengendalikan diri untuk tidak berteriak lebih keras tapi tanpa sadar ia menangis karena merasakan luka yang begitu perih. Yura baru saja mendorongnya sehingga terjatuh dari trotoar dan lihatlah sekarang ia sudah terduduk di aspal dengan pecahan kaca menempel di telapak tangan kirinya.

“Kakak ipar! Kau tidak apa-apa?” Entah darimana Taehyung muncul dan berteriak-teriak heboh saat melihat kondisi Eun Soo. “Kubantu berdiri.” Taehyung melingkarkan lengannya ke bahu Eun Soo dan memapah gadis itu perlahan. “Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit.”

“Tidak perlu.” tolak Eun Soo. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan Seokjin dengan segala silsilah keluarganya. Mereka hanya membuatnya semakin susah. Selama ini ia pikir ini hanya masalah kecil, tapi jika Yura sampai bertindak sampai sejauh ini, itu artinya gadis itu benar-benar membencinya dan dia tidak mau berurusan dengan Yura lagi. “Kenapa kau masih mengharapkan Seokjin jika di hadapanmu sudah ada laki-laki yang mencintaimu begitu tulus.” Eun Soo tahu bahwa Taehyung menyukai Yura. Taehyung begitu mudah ditebak, siapa yang tidak sadar bahwa Taehyung begitu menyukai Yura?

“Kau melakukan ini karena cemburu pada kakak ipar?” tanya Taehyung kepada Yura yang masih diam saja—menatap darah yang mengalir dari telapak tangan Eun Soo.

“Han Yura! Jawab aku! Kau mencelakai Eun Soo noona hanya karena cemburu terhadapnya? Apa kau tahu bahwa mereka tidak memiliki hubungan apa-apa? Mereka tidak lebih dari sebatas rekan kerja! Bisakah kau bersikap lebih dewasa? Selama ini aku bisa membiarkanmu yang selalu mengacuhkanku, tapi aku tidak bisa membiarkanmu berubah menjadi monster seperti ini!” Taehyung membentak Yura.

Eun Soo terkesiap. Jadi Taehyung tahu bahwa dirinya dan Seokjin tidak memiliki hubungan apa-apa? Lantas kenapa dia selalu saja berteriak-teriak heboh memanggilnya kakak ipar? “Yura tidak berniat mencelakaiku, hanya tidak sengaja.” Melihat Yura yang menangis, Eun Soo merasa kasihan. Ini sudah terlalu berlebihan. Mungkin Yura memang sengaja mendorongnya, hanya saja gadis itu tidak tahu bahwa ada pecahan kaca di sana. “Aku akan mencari taksi saja dan mengobati lukaku. Kau pulanglah bersama Yura.” Eun Soo menggeliat, melepaskan diri dari rangkulan Taehyung.

Eun Soo berjalan pelan, sambil sesekali meringis kesakitan. Ia tidak mau menoleh ke belakang. Ia baru saja membuat seorang bocah menangis. Oh, tidakkah ini terlalu berlebihan? Ia berkelahi dengan seorang belia hanya karena laki-laki? Untungnya ada sebuah taksi yang lewat dan ia bisa segera pergi dari sini.

“Kalau kau tahu, kenapa kau tetap bersikap seolah dia adalah kekasih Seokjin oppa?” Suara Yura bergetar. Taehyung tidak pernah membentaknya, dan Ia baru saja membuat seseorang terluka, ia benar-benar takut. Ia takut telah menjadi seorang kriminal.

“Karena aku ingin membuatmu sadar bahwa Seokjin hyung tidak bisa kau miliki.”

Seokjin melirik ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan baru dari adiknya, Taehyung. Jika Taehyung hanya mengirimi pesan biasanya isinya tidak penting, paling tidak jauh-jauh dari menanyakan Eun Soo atau hal-hal konyol lainnya.

Tae

Hyung, tolong rawat Eun Soo noona, tadi tanpa sengaja aku membuat tangannya terluka.

Seokjin membaca pesan itu berkali-kali. Tidak biasanya Taehyung menyebut Eun Soo dengan nama. Biasanya ia selalu memanggil Eun Soo kakak ipar. Membuatnya terluka? Memangnya apa yang mereka lakukan sampai tangan Eun Soo terluka?

Seokjin langsung menekan angka 3, biasanya Taehyung akan mengangkat panggilan darinya dengan cepat. Karena Taehyung tidak kunjung mengangkat panggilannya ia memutuskan untuk menelepon Eun Soo, tapi lagi-lagi tidak ada yang mejawab—teleponnya sedang sibuk.

Seokjin semakin bingung. Jadi apa yang harus dilakukannya? Ia tidak tahu harus menemui Eun Soo di mana. “Kenapa mereka semua jadi punya hobi tidak bisa dihubungi sih?” gerutu Seokjin.

Akhirnya Seokjin mencari kontak Young Saeng, mungkin ia bisa menemukan Eun Soo melalui kakaknya. Seokjin mendesah lega saat mendengar sapaan di ujung sana.

Hyung.” panggil Seokjin. “Maaf mengganggumu malam-malam begini, apa Eun Soo bersamamu?”

“Yah, dia menginap di rumahku malam ini. Ada apa?”

“Apa Eun Soo sedang terluka?”

Cukup lama Young Saeng baru menjawab. “Ya, dia bilang tanpa sengaja terkena pecahan gelas di tempatnya bekerja.”

Pecahan gelas di tempat Eun Soo bekerja? Tidak mungkin Taehyung berkeliaran sampai ke sana. Jadi siapa yang berbohong di sini? Taehyung apa Young Saeng? “Hyung, bolehkan aku meminta alamatmu, aku ingin melihat kondisi Eun Soo.”

“Nanti kukirimi pesan kepadamu. Kau datang besok saja, dia sudah masuk ke kamar sejak tadi, mungkin sudah tidur.”

“Ahh, baiklah. Terima kasih banyak hyung.”

Seokjin buru-buru membenarkan posisi berdirinya saat mendengar seseorang membuka pintu apartemen dari dalam. Ia pikir mungkin itu adalah Eun Soo, tapi tenyata lagi-lagi yang ia temui adalah Young Saeng yang sepertinya baru bangun tidur. Seokjin melirik jam tangannya—sudah melewati jam makan siang.

“Ahh, kau. Tapi Eun Soo sudah pergi dari pagi.” Tanpa basa-basi Young Saeng langsung memberitahukan apa yang ingin diketahui oleh Seokjin. Jarang-jarang di hari minggu seperti ini ia bisa menikmati tidur sampai sepuasnya, jadi dia tidak ingin ada satupun yang menginterupsi waktu beristirahatnya.

“Kemana? Apa dia tidak libur hari ini?”

“Entahlah, pagi tadi dia sudah pergi tanpa mengatakan apa-apa. Coba hubungi dia saja. Sudah ya.” Young Saeng melambaikan tangannya sekali dan langsung menghilang di balik pintu.

Seokjin mendesah kecewa. Jauh-jauh datang kemari hanya disambut oleh seseorang yang nyawanya masih tercecer dan lagi-lagi tidak bisa menemukan Eun Soo. Kalau bukan karena Taehyung yang mengatakan bahwa ia yang telah membuat Eun Soo terluka ia tidak akan mau bersusah-susah sampai seperti ini. Memangnya dia dan Eun Soo memiliki hubungan apa, sampai ia harus mengkhawatirkan gadis itu?

Dengan malas ia mengambil ponsel dari dalam saku, mencari kontak Eun Soo dan meneleponnya. Dengan harap-harap cemas Seokjin menunggu sapaan di ujung sana. Pada nada panggil yang kesekian akhirnya teleponnya tersambung tapi tidak ada sapaan Eun Soo di ujung sana. “Eun Soo, kau di mana?”

“Kenapa?”

Seokjin mendesis. Apa perlu ia menanyakan hal semacam itu. “Taehyung bilang bahwa ia telah membuatmu terluka.”

Hening. Di ujung sana Eun Soo hanya bingung harus menjawab apa. Taehyung sepertinya bermaksud melindungi Yura, jadi dia tidak bisa bersikap lebih egois lagi dengan mengadu pada Seokjin bahwa bukan Taehyung yang melakukannya.

“Kau masih di sana?”

Eun Soo tertawa. Terlalu dibuat-buat. “Hanya ketidaksengajaan, tidak perlu dipermasalahkan lagi.” Sebenarnya Eun Soo masih kesal atas ulah Yura, ia ingin sekali memarahi Seokjin karena tidak menepati janjinya untuk menyelesaikan kecemburuan Yura terhadapnya sehingga membuat Yura sampai bertindak sejauh ini, tapi jika ia melakukannya ia tahu Taehyung akan ikut susah, bocah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan konflik yang terjadi antara dirinya dan Yura.

Seokjin berpikir sejenak. “Lantas kenapa Young Saeng harus berbohong? Atau mungkin bukan Young Saeng yang berbohong, melainkan Eun Soo yang berbohong kepada kakaknya sendiri?” gumam Seokjin.

“Sudah ya.” Eun Soo bersuara lagi.

Seokjin tidak akan pernah meragukan hubungan darah antara Eun Soo dan Young Saeng, bahkan disaat yang bersamaan mereka berdua sama-sama ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan dengannya hari ini. Benar-benar kompak. “Jadi, kau di mana sekarang?” Seokjin masih penasaran. Apalagi ditambah dengan Eun Soo yang hanya menjawabnya pendek-pendek dengan nada datar, seperti ada emosi yang sedang ditahannya.

“Di rumah sakit, menjenguk teman.”

Samar-samar Seokjin mendengar suara beberapa orang yang berteriak panik menjadi latar. Ia baru saja akan menanyakan di rumah sakit mana saat menyadari bahwa Eun Soo sudah memutuskan panggilan. “Mereka benar-benar bersaudara ya. Meninggalkanku begitu saja.” gerutu Seokjin.

Jihyun menghampiri Eun Soo di sudut koridor. “Alat bantunya akan dicabut.” Bisik Jihyun pelan sambil merengkuh Eun Soo. “Ibunya bilang akan membacakan surat yang ditulis Hweji untuk kita semua.” Hubungan mereka dan Hweji tidak lah akrab, apalagi Eun Soo—ia begitu membenci Hweji karena telah bermain belakang bersama Yifan.

“Semalam aku bertemu dengan Yifan, dia bilang dia dan Hweji tidak pernah berselingkuh. Bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau ternyata aku membenci orang yang salah? Bahkan ia tidak sempat mendengar permintaan maafku.” Eun Soo membalas pelukan Jihyun, memeluknya sangat erat karena takut ia tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Ia belum sempat meminta maaf kepada Hweji dan sekarang alat bantu gadis itu akan dicabut?

“Eun Soo, Jihyun. Kita harus masuk!” Kali ini ini Hana yang muncul. “Semuanya sudah berkumpul di dalam.”

Dengan perlahan Eun Soo dan Jihyun masuk ke dalam ruangan Hweji. Tidak banyak yang berada di dalam. Hanya keluarga dan beberapa teman dekat Hweji ketika sekolah menengah dan beberapa orang yang tidak Eun Soo kenal, mungkin teman kuliah atau kerja Hweji. Eun Soo yakin bahwa orang-orang yang datang kemari adalah orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan gadis itu. Tapi kenapa dia juga harus masuk ke dalam daftar?

Ia tidak pernah dekat dengan Hweji. Jiwa persaingan Hweji begitu tinggi. Ia selalu cemburu karena peringkat Eun Soo yang selalu berada di atasnya dan selalu menganggap Eun Soo sebagai saingannya. Sampai Eun Soo mengetahui perselingkuhan Hweji dan Yifan, hubungan mereka semakin memburuk.

“Ketika Hweji kondisinya sempat membaik beberapa minggu yang lalu ia meminta ibu untuk mengumpulkan kalian semua karena kalian adalah teman-teman terbaiknya.” Ibu Hweji membuka pembicaraan. Dalam beberapa menit lagi alat bantu itu akan dicabut dan Eun Soo tidak butuh kata-kata manis seperti itu. Sejak kapan dirinya dan Hweji menjadi teman baik? Apapun itu ia hanya ingin mengucapkan permintaan maaf kepada Hweji. Ia tidak ingin terus-terusan dibayangi rasa bersalah nantinya.

Eun Soo mengusap matanya dengan kasar saat sadar ia mulai menangis. Ia melihat pergerakan perlahan ibu Hweji, membuka amplop yang mungkin isinya adalah pesan terakhir Hweji kepada mereka semua. Eun Soo penasaran apa yang selama ini Hweji pikirkan tentang dirinya. Ibu Hweji mulai membaca. Samar-samar terdengar beberapa teman Hweji mulai menangis. Tentu hal semacam ini adalah yang paling menyakitkan. Mengantarkan kematian temanmu sendiri. Eun Soo masih menunduk sampai namanya disebut.

“Untuk Eun Soo, mungkin kau tidak pernah menganggapku sebagai temanmu, tapi sejak hari dimana kau membersihkan lokerku ketika beberapa siswa yang membulliku merusaknya aku sadar kau seseorang yang hangat, hanya saja kau tidak bisa mengekspresikan diri dengan baik. Aku tahu kau melakukannya secara diam-diam. Kau sengaja meminta petugas kebersihan untuk membersihkan coretan-coretan berisi kata-kata kasar di dalam lokerku. Padahal kau sudah tahu bahwa aku dan Yifan berselingkuh. Tapi kau tetap berusaha melindungiku. Sejak hari itu, meski kau tidak mengetahuinya aku selalu menganggapmu sebagai teman baikku.”

Ibu Hweji menarik napas perlahan. Hweji pernah menceritakan bahwa ia dibulli teman-temannya sejak gosip tentang kakaknya yang sekolah ke luar negeri bukan karena beasiswa melainkan sengaja dikirim karena kasus tabrak lari yang dilakukannya. “Tapi yang perlu kau ketahui adalah Yifan tidak pernah berselingkuh, ia hanya menggunakanku untuk mengetahui isi hatimu.”

Eun Soo merasakan kepalanya pusing. Ia tidak pernah tahu bahwa Hweji berpikir seperti itu tentangnya. Hari itu kebetulan saja ia datang lebih awal dari biasanya dan menemukan loker Hweji dalam keadaan kotor dan rusak. Ia hanya berpikir bahwa itu adalah tindakan yang salah. Bukan Hweji yang melakukan tindak kriminal. Satu anggota keluarga yang melakukan kejahatan bukan berarti anggota lainnya juga sama.  Untuk itu ia melakukannya. Hanya atas dasar rasa kasihan, tidak lebih.

Jika Jihyun atau Hana yang menemukannya terlebih dulu, mereka pasti juga akan melakukan hal yang sama. Ia tidak pernah berpikir bahwa Hweji menganggap hal itu begitu berarti. Untungnya Hana sudah memeluknya sangat erat. Eun Soo menyurukkan kepalanya di leher Hana, mengeluarkan semua air mata yang sedari tadi ia tahan. Ia tidak tahu perpisahan dengan seseorang yang sangat dibenci akan sesakit ini.

Hari ini, Kang Hweji—seseorang yang sangat dibenci Eun Soo harus berhenti berjuang melawan tumor di kepalanya, dan baru saja Ia menangisi kepergiannya. Eun Soo pikir sudah terlalu banyak plot twist di dalam hidupnya dan ia tidak ingin ada tambahan lagi.

“Pernikahan Riyoung dan Yifan akan dipercepat, apa yang harus kita lakukan?” Yoongi membuka pembicaraan.

“Eun Soo tidak mengabarimu?” Hoseok melirik Seokjin yang terlihat tidak terlalu peduli dengan pembicaraan mereka, padahal dialah kunci dari semua urusan ini.

Seokjin menggeleng.

“Kenapa kau harus menjepit ponimu seperti itu sih?” tanya Yoongi kesal. Entah kenapa melihat Seokjin yang ogah-ogahan memberikan pendapat tentang masalah ini dengan penjepit rambut milik Eun Soo yang tersemat di poninya membuat Yoongi menjadi kesal. Ia merasa Seokjin sama sekali tidak berniat menyingkirkan Yifan dan merebut Riyoung tapi malah terlalu asyik bermain-main dengan Eun Soo. “Di dalam surat perjanjian, jika kita gagal maka kita harus mengembalikan uang muka 100%, dan kita sudah tidak memilikinya. Kita akan rugi besar jika kau sampai gagal, Kim Seokjin.”

“Aku tahu. Tapi berurusan dengan Eun Soo beserta orang-orang di sekelilingnya tidaklah semudah yang kau pikirkan.” Seokjin berusaha membela diri.

“Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk berurusan dengan Eun Soo beserta orang-orang di sekelilingnya? Yang seharusnya menjadi urusanmu hanyalah Riyoung dan Yifan!” Yoongi mendelik kesal.

“Kau tidak paham situasinya, Yoongi-a.” Tiba-tiba ponsel Seokjin berdering, ia mengernyit saat mendapati ID Riyoung pada layar. “Halo.” sapa Seokjin. Ia mendengarkan perkataan Riyoung dengan sangsi.

“Ada apa?” tanya Yoongi curiga.

“Riyoung memintaku untuk datang ke pemakaman teman Eun Soo.”

“Jadi yang barusan menelepon, Riyoung?” Hoseok menimpali.

“Tidakkah kau berpikir ini mencurigakan? Riyoung yang memintaku untuk pergi. Mungkin jika itu adalah temannya maka akan lebih masuk akal.”

Yoongi tidak menyahut, di dalam hati mengiyakan perkataan Seokjin.

 Seokjin melihat Eun Soo yang tengah memberikan penghormatan terakhir bersama teman-temannya dari kejauhan— kata Yifan mereka semua adalah teman sekelas ketika sekolah menengah. Ia bisa melihat telapak tangan kiri Eun Soo yang dililit perban. Separah itukah lukanya?

“Hweji dan Eun Soo tidak memiliki hubungan yang baik.” Lagi-lagi Yifan membagi informasi kepada Seokjin.

Seokjin bisa melihat Eun Soo masih saja menangis sejak kedatangannya ke sini.

“Dan penyebabnya adalah aku.”

Seokjin mulai menebak-nebak. Apa Hweji adalah gadis yang menyebabkan Yifan mengkhianati Eun Soo?

“Aku harap kau bisa menemani Eun Soo dimasa-masa sulitnya seperti ini. Pasti ia sangat tertekan karena ketika kembali ke Seoul masalah terus-terusan menimpanya.” Yifan melirik Seokjin. “Aku dan Riyoung mengandalkanmu.” sambungnya.

Seokjin ingin sekali bertanya langsung kepada Yifan mengapa ia mengkhianati Eun Soo, tapi itu hanya akan membuat Yifan mencurigainya.

“Bisa kita bicara sebentar?”

Seokjin sedikit terkejut ketika melihat Eun Soo sudah berada diantara mereka.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Eoh.” Seokjin mendadak gugup saat Eun Soo tiba-tiba menanyai alasan keberadaannya di sini.

“Aku dan Riyoung yang memintanya untuk datang.” Yifan memberikan penjelasan singkat kepada Eun Soo. “Bukankah dia juga bagian dari keluarga?”

Eun Soo menghela napas. Terserah saja apa identitas Seokjin bagi orang-orang ini, hal itu sudah tidak penting lagi karena ia akan segera membatalkan semua pekerjaan Seokjin. “Bisa kita bicara sebentar?” ulang Eun Soo.

Yifan akhirnya hanya mengangguk sekilas dan mengisyaratkan Seokjin untuk tetap menunggunya di situ.

“Aku merestui pernikahanmu dengan kakakku.” tanpa basa-basi sesampainya mereka di halaman belakang rumah duka Eun Soo langsung mengatakan tujuannya.

Yifan menatap Eun Soo, melangkah mendekati gadis itu. “Jadi sekarang kau percaya bahwa aku dan Hweji tidak—“

“Ya, Hweji sudah mengatakan semuanya padaku.” Eun Soo melangkah mundur saat Yifan berusaha memperpendek jarak diantara mereka. “Maaf.” Imbuh Eun Soo. “Maaf karena tidak mempercayaimu.”

Yifan menatap Eun Soo. Ia ingin untuk sekali saja Eun Soo terlihat rapuh di hadapannya sehingga ia bisa merengkuh untuk menguatkan gadis itu. Tapi Eun Soo tidak melakukannya. “Kau baik-baik saja?” Hanya itu yang bisa Yifan lakukan. Rasa sayang yang masih tersisa untuk Eun Soo hanyalah kasih sayang sebagai adik, ia tahu Eun Soo seseorang yang rapuh, tapi ia tidak bisa menguatkan gadis itu ketika Eun Soo terus bersikap bahwa ia cukup tegar untuk menghadapi semua ini. “Kau bisa menjadikanku tempat bersandar kalau kau mau.”

“Aku—

“Kau bisa berbagi kesedihanmu kepadaku. Menangis adalah cara paling ampuh untuk melepaskan rasa sakit, itu akan sangat membantu.”

“Aku tidak baik-baik saja.” Eun Soo terdiam. Melanjutkan kata-katanya hanya akan membuatnya benar-benar menangis.

“Kau masih punya aku, kita masih bisa menjadi teman baik kalau kau mau.”

“Aku tidak baik-baik saja, tapi aku yakin setelah ini semuanya akan membaik.” Eun Soo berbalik, ia harus segera pergi dari sini.

“Eun Soo, aku mohon.” Yifan memegang pundak Eun Soo. “Tidak bisakah untuk kali ini saja—“

“Jangan, jangan pernah menahanku. Karena seharusnya kau melakukannya sejak dulu.”

Yifan tahu Eun Soo sedang menangis. Ia melepaskan tangannya dari bahu Eun Soo, menuruti permintaan gadis itu. Yifan tahu bahwa semuanya sudah tidak ada gunanya lagi, untuk apa lagi ia memaksa Eun Soo untuk bergantung padanya? Sudah terlambat untuk menahan Eun Soo.

Setelah tidak merasakan sentuhan Yifan lagi pada bahunya, Eun Soo melanjutkan langkah. Di ujung koridor, Eun Soo mendapati seseorang menghalangi jalannya.

“Eun Soo.”

Demi Tuhan, ia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Ia hanya ingin sendiri, mengeluarkan semua rasa sakit yang selama ini ia tahan. Ia tidak butuh siapa pun untuk menahannya. Eun Soo mengabaikan panggilan Seokjin dan bermaksud pergi saat Seokjin menahan lengannya. Eun Soo tidak bisa menahan diri lagi. Matanya sudah panas karena air mata yang daritadi berusaha ia tahan. “Yifan tidak pernah berselingkuh dengan siapapun. Ia hanya menggunakan Hweji untuk memastikan bagaimana perasaanku.” Eun Soo terisak. “Kau tahu betapa kacaunya aku saat melihat mereka berselingkuh?”

Melihat bahu Eun Soo yang bergetar hebat membuat Seokjin semakin tidak tega. Ini yang pertama kalinya ia melihat Eun Soo terlihat begitu rapuh. Meski ia belum bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tahu bahwa saat ini Eun Soo begitu terpukul. Dengan perlahan Seokjin menarik Eun Soo, memeluknya untuk menguatkan gadis itu. Ia bahkan semakin khawatir ketika Eun Soo tidak menolak untuk dipeluk—gadis itu sudah melapaui batasnya.

“Kau tahu betapa sulitnya aku melupakan Yifan? Apa kau tahu betapa kacaunya aku saat itu? Aku pikir aku akan sanggup melewatinya sampai aku mendengar bahwa Yifan akan menikah dengan Riyoung. Awalnya aku berpikir bahwa aku khawatir Yifan akan mengkhianati Riyoung. Tapi ternyata bukan hanya itu motif yang kumiliki. Aku juga merasa terluka ketika Riyoung yang menjadi pilihannya. Empat tahun kami bersama dan Riyoung hanya membutuhkan satu tahu untuk bisa menyakinkan Yifan bahwa dirinyalah yang terbaik. Kenapa tidak gadis lain saja yang melakukannya, kenapa harus Riyoung?” Eun Soo menjadi semakin emosional. Ia bahkan tidak pernah mengatakan semua itu kepada Young Saeng. Ia pikir selama ini ia cukup kuat untuk menyimpannya seorang diri. “Tidak pernah ada yang benar-benar menginginkanku.”

“Jangan bercanda. Kau memiliki banyak orang yang menginginkanmu.” Seokjin mengelus puncak kepala Eun Soo. Entah kenapa ia ikut merasa sakit melihat kondisi Eun Soo yang seperti ini.

“Kemudian Hweji muncul. Mengatakan bahwa Yifan tidak pernah berselingkuh.” Eun Soo semakin terisak. “Aku tidak tahu apa yang telah kulakuan terhadap Yifan dan Riyoung. Aku tidak tahu apa yang saat ini sedang kulakukan. Aku rasa ibu memang benar. Aku hanya sebuah kesalahan di dalam keluarga. Aku sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan Riyoung. Aku tidak pernah bisa menahan egoku hanya untuk menyenangkan hati ibu. Aku tidak pernah bisa melakukan apa yang bisa Riyoung lakukan. Bahkan Riyoung mampu melakukan apa yang merupakan sebuah kegagalan bagiku dan Yifan. Ibu benar, aku—“

“Kau salah. Kau tidak perlu menjadi seperti Riyoung. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Semua orang spesial dengan caranya sendiri.”

“Aku, aku tidak tahu—“

“Aku rasa aku adalah salah satu yang mulai menginginkanmu.”

To be continued …

NOTE   : Halo, selamat yang udah sampai di catatan tambahan ini. Yeah, I know this is the borest chapter and so much drama here. Aku juga nggak tahu kenapa ini jadi mirip sinetron alay. HAHAHHAHA*ketawa bentar. Mungkin ini efek aku terlalu excited sama tema ini diawal dan mulai desperate dipertengahan dan buru-buru pengen namatin ini. Berchapter itu emang susahnya ngurutin kronologisnya, kakakka. Ya udahlah ya makasih buat yang masih mau baca. Dan abaikan poster-poster yang selama ini cuma ngambil foto diinternet dan diedit dikit pake text, yeah bcs I’m to lazy to make one. Maybe in the last chapt I’ll try to make the poster more seriously. Maybe. LOL Love ya ^^ (This will end as soon as possible)

 

 

Advertisements