Tags

, , , ,

By Mrs. Heo

Cast- Jeon Jungkook [BTS] | Kim Woobin [Korean Artist] |Park Jimin [BTS] | Jung Hoseok [BTS]

Genre- Friendship, Friendzone, Angst

Rating- PG 17

Inspired by The Snow Queen

IRIS

Summary
Cause you broke all your promises and now you’re back
You don’t get to get me back, who do you think you are?
(Jar of Hearts-Christina Perri)
 

“Katakan apapun yang ingin kau katakan, aku akan berusaha membantumu.”

Jungkook bergeming, tidak memberikan banyak reaksi, sama seperti 30 menit yang lalu. Matanya memandang jauh, melewati Woobin yang masih menuntutnya. “Memang benar aku telah menyerangnya.”

“Aku tidak bisa membelamu jika kau saja tidak berusaha untuk menyelamatkan diri.” Woobin bukan tipikal penyabar, tapi cukup bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Terlebih, yang dihadapinya kali ini adalah seorang bocah SMA—diperlukan perhatian lebih agar tidak salah bertindak.

“Kau tidak perlu membelaku.” Tatapan Jungkook semakin menjauh, seolah eksistensi Woobin di hadapannya tidaklah penting.

Woobin menghela napas perlahan, berusaha menahan kekesalannya. Ia sudah mempelajari latar belakang Jungkook, sehingga cukup paham akan situasi ini, terlebih rekan kerjanya yang lain memaksanya untuk membela Jungkook karena alasan-alasan yang menurutnya sebenarnya adalah sangat masuk akal, tetapi bocah di hadapannya ini membuat semuanya menjadi tidak masuk akal. Yang mana yang harus ia pilih? Membiarkan persidangan dengan pengakuan Jungkook sehingga masa hukumannya bisa dikurangi atau mencari-cari celah agar Jungkook mau mengatakan yang sebenarnya. “Waktuku hanya 10 menit lagi.”

Jungkook bergeming. Ia mungkin tidak akan membiarkan dirinya berakhir di tempat seperti ini jika Jimin tidak mencampakkannya—Ia terlanjur tidak berselera untuk mengungkapkan fakta.

Woobin membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di meja. Sebelum pergi ia menepuk-nepuk pundak Jungkook, mencoba membangun suasana bersahabat diantara mereka. “Aku adalah pengacaramu, satu-satunya yang mau mendengarkan ceritamu.”

Tidak, Jungkook tidak mau ada yang mendengarkan ceritanya selain Jimin, namun Jimin sudah tidak mau mendengarkannya lagi, bagaimana lagi? Bukankah lebih baik jika semuanya dia simpan seorang diri saja? Tidak akan ada yang tersakiti lagi jika ia tetap diam.

“Bagaimana perkembangan kasusmu?” Seokjin menghampiri Woobin yang duduk di sudut kafe—masih belum menyadari keberadaannya. Kebiasaan Woobin juga sudah terhisap ke dalam dunianya sendiri, ia tidak pernah menyadari keberadaan orang di sekitarnya.

Woobin mengerjap, sedikit heran sejak kapan Seokjin sudah duduk manis di hadapannya. “Oh, kau.”

Seokjin terkekeh. “Tidak berjalan lancar ya?”

Woobin menerawang, mengingat-ingat bagaimana reaksi Jungkook setiap kali ia datang. “Bocah itu selalu mengatakan bahwa memang benar dia yang menyerang Hoseok. Tapi aku merasa ada yang sengaja disembunyikan. Paling tidak dia mengatakan sesuatu untuk membela dirinya, bukan seperti orang dungu mengakui kesalahannya begitu saja. Lagipula dari rekaman cctv terlihat bahwa Jung Hoseok juga membalas perbuatannya. Membalas dalam artian bukan hanya sekedar berusaha membela diri.” Punggung Woobin sudah tegap, menatap Seokjin yang dengan tenang mendengar ceritanya.

“Bagaimana kalau Jung Hoseok sadar dan mengatakan bahwa Jungkook memang berniat membunuhnya?”

“Tapi mereka sama-sama dalam kondisi kritis. Hanya beruntung saja bocah bernama Jungkook itu sadar terlebih dahulu. Bagaimana kalau Hoseok yang sadar terlebih dahulu dan mengatakan bahwa Jungkook memang benar berniat membunuhnya dan si Jungkook yang masih dalam keadaan koma? Bagaimana kalau aku yang bertanggung jawab tehadap Hoseok?”

Seokjin berdeham. Ini bukan bidangnya. Ia tidak tahu langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh temannya itu. Untuk seorang pengacara publik seperti Woobin bahkan ia harus membela seorang pembunuh. Karena dia pengacara, seorang pembela. “Aku dengar ada seorang bernama Jimin yang selalu mengunjungi Jungkook, kenapa tidak mencoba mengais dari bocah itu?”

Oh, Jimin! Bagaimana bisa Woobin melewatkan salah satu kunci dari kasus ini. Jimin tidak mungkin tidak memiliki hubungan khusus dengan Jungkook jika hampir setiap hari ia datang membesuknya, tapi yang ia tahu, Jimin adalah sahabat Hoseok. “Tapi dia sahabat Hoseok—“ Kalimat Woobin menggantung di udara.

“Lalu?”

“Tentu ia membenci Jungkook, sudah jelas ia akan memberikan keterangan-keterangan yang hanya memberatkan Jungkook.”

“Coba saja dulu. Kau tahu, hubungan pertemanan itu sangatlah rumit. Apa yang terlihat manis di luar, belum tentu di dalamnya juga sama manisnya.”

Woobin menatap setiap lekuk wajah Seokjin. Ia selalu kagum dengan cara berpikir temannya ini, tipikal yang mampu memegang kendali bahkan dalam keadaan terpojok—sebuah keuntungan baginya untuk mengendalikan para kekasihnya yang tersebar dimana-mana.

“Hey!” Tidak sulit bagi Woobin untuk menyamai langkah lebar-lebar Jimin dengan kaki panjangnya. Dua langkah Jimin adalah satu langkah baginya. “Hey, bisakah kita bicara sebentar?”

“Aku sibuk, harus kembali ke sekolah.” tolak Jimin tanpa berniat menghentikan langkahnya.

Woobin mendesis. Apa perangai semua siswa SMA jaman sekarang selalu begini? Bahkan tidak bisa sedikit memberikan rasa hormat kepada orang yang jauh lebih tua darinya. “Bisakah kau menghentikan langkahmu?” Dengan sekali hentakan Woobin memblokir Jimin.

“Apa kau tidak dengar bahwa aku harus kembali ke sekolah?” jawab Jimin tidak suka.

“Hey, hey, santai saja bocah. Aku bisa meminta ijin kepada sekolahmu.”

“Jangan panggil aku bocah!”

“Baiklah, Park Jimin. Bisakah kau membagi sedikit waktumu untukku?” Woobin mencoba mengalah, berdebat dengan siswa SMA bukan lagi levelnya.

“Kalau kau ingin membicarakan Jungkook, lupakan saja!”

“Keteranganmu mungkin bisa membantu Jungkook.”

Jimin diam, seolah sedang mempelajari apa yang ada di dalam pikiran Woobin. “Kau gila?” ketus Jimin.

“Bukankah bagus jika temanmu itu bisa bebas?” Woobin berusaha memastikan apa yang dikatakan Seokjin tentang teori pertemanan. Mungkin memang benar Jimin selama ini datang bukan sebagai teman Jungkook. Tapi terlalu mencurigakan jika diantara keduanya tidak ada yang pernah menolak pertemuan, semuanya terasa janggal. Atau memang semua anak muda jaman sekarang gemar berperilaku janggal?

“Dia bukan temanku.” Mencoba menghindari Woobin dengan melangkah ke kanan tapi lagi-lagi pergerakannya kalah cepat dengan kaki jangkung Woobin. Kali ini Jimin benar-benar kesal karena terlahir dengan tinggi minim seperti ini.

“Jungkook apa Hoseok?”

Jimin tertawa merendahkan. “Ck, kau kira karena selama ini aku datang mengunjunginya maka kami adalah teman?”

“Jadi?”

“Aku bukan temannya, paham?”

“Tapi kenapa dia tidak pernah menolak kunjungan darimu?”

“Dia berusaha membunuh Hoseok! Temanku! Dia itu manusia dengan hati sedingin es, tidak berperasaan! Tidakkah kau malu dengan dirimu sendiri karena membela seorang monster sepertinya?”

Malu karena membela seorang monster katanya?

“Sekarang, minggir!”

Kali ini Woobin membiarkan Jimin lewat. Otaknya benar-benar panas kali ini. Bukan karena tersinggung akan ucapan Jimin, hanya saja ia sudah tidak memiliki rencana cadangan jika Jimin mengatakan sesuatu tidak berguna seperti itu. Apa benar Jungkook berniat membunuh? Kali ini ia justru meragukan dirinya sendiri. Ia tidak pandai membaca seseorang, mungkin Seokjin atau Jaekyung jauh lebih bisa diandalkan dalam urusan seperti ini.

Tidak mudah bagi Woobin untuk bersikap sok manis, tapi menurut Jaekyung—mantan kekasihnya yang entah bagaimana masih mau menerima dirinya sebagai teman bahwa untuk menghadapi bocah seperti Jungkook tidak bisa dengan paksaan dan desakan, perlu pendekatan lebih intim untuk membangun suasana yang nyaman. Entah kenapa kata intim terdengar salah bagi Woobin.

“Apa yang sedang berusaha kau lakukan?” Kalimat pertama Jungkook selain memang benar aku yang menyerangnya.

Woobin berdecak sebal, ia selalu tidak suka jika ada yang tidak peka terhadap niat baiknya. “Aku membawakan makanan kesukaanmu.” Ia menyodorkan kotak bekal ke hadapan Jungkook, kemudian berteriak kepada petugas agar diperbolehkan memberikan makanan kepada Jungkook.

Jungkook membuang muka. Kalau dipikir-pikir terlibat dalam kasus ini membuatnya merasa lebih hidup. Ada orang-orang yang memperhatikan dan mengkhawatirkannya.

“Karena kau yang datang berkunjung, nanti Jimin tidak bisa datang lagi.”

Kedua alis Woobin bertaut—Menurut Seokjin dan Jaekyung wajahnya benar-benar menyebalkan jika sudah menautkan kedua alis meski terkadang ia melakukannya tanpa sadar. Sebuah reaksi alami ketika ia mulai mencium sesuatu yang janggal.

“Kenapa kau harus datang sebagai pengunjung? Bukankah biasanya kau akan meminta keterangan sebagai pengacaraku?”

Wow, Woobin hampir saja bersorak karena ini adalah kali pertama Jungkook berbicara sebanyak ini sejak dirinya ditugaskan untuk menangani kasus bocah tersebut.

“Kau mengharapkan kedatangan Jimin?”

Jungkook menunduk dan menggigit bibir bagian bawahnya. Melihat ekspresi Jungkook membuat Woobin tidak tega jika tidak menyelesaikan kasus Jungkook dengan benar. Sedetik kemudian Jungkook mengangguk pelan.

“Kalian berteman?”

Hening.

Woobin sengaja tidak menyela, menunggu reaksi Jungkook. Mungkin butuh waktu sedikit lama baginya untuk mengatakan hubungan apa yang mereka miliki.

“Aku berharap dia masih berpikir begitu.” Suara Jungkook bergetar, berusaha keras tidak menangis di hadapan pengacara yang selalu ngotot mengatakan akan membelanya, meski ia sama sekali tidak memerlukannya walau tidak bisa dipungkiri ia sedikit senang karena ada seseorang yang berusaha mempertahankannya.

Woobin menatap Jungkook intens, mencari kebohongan di dalam sana, tapi tidak ada. Ia bisa pastikan itu. Wohoo, jadi ini semacam pertengkaran antar sahabat? Terka Woobin. Ia akan selalu ingat bagaimana ekspresi Jungkook saat mengatakan hal itu. Sebuah ekspresi kesedihan yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan selama proses interogasi. “Jadi dulunya kalian adalah teman?”

“Mungkin.”

Oh. Benar dulunya mereka adalah teman. Mungkin sesuatu hal membuat hubungan mereka retak dan dengan kasus yang menimpa Jungkook dan Hoseok membuat Jimin semakin membencinya. “Analisa yang akurat.” gumam Woobin, mengagumi dirinya sendiri.

“Jadi, bisa kau ceritakan kepadaku apa yang terjadi antara kau dan Hoseok?”

“Bukankah sudah ada rekaman cctv?” Jungkook kembali menunjukkan sikap defensif.

“Karena aku adalah pengacaramu maka aku harus melihat dari perspektifmu juga.”

“Tidak ada yang perlu kau ketahui dari perspektifku. Semuanya sudah jelas. Aku menghajar Hoseok sampai dia koma. Ini termasuk kasus penganiayaan atau percobaan pembunuhan?”

Demi Tuhan. Woobin benar-benar ingin membantu bocah menyebalkan bernama Jungkook ini. Riwayatnya membuat Woobin tidak tega jika membuat bocah ini harus memiliki catatan hitam pernah mendekam di penjara. Itu akan mempersulitnya masuk ke universitas atau mencari pekerjaan. Tapi bocah ini benar-benar membuatnya kesal. “Kau tidak percaya padaku kan?”

Jungkook berdeham. “Kenapa aku harus mempercayaimu?”

Oh, habis sudah kesabaran Woobin. “Ya! Apa kau tahu apa yang akan terjadi padamu jika kau terbukti bersalah? Kau bisa dihukum paling sedikit delapan tahun. Memiliki catatan kriminal akan membuatmu kesulitan masuk universitas dan mencari pekerjaan. Apa kau tidak memikirkan masa depanmu?”

Jungkook berharap bukan orang asing seperti Woobin yang mengatakan hal-hal semacam itu kepadanya. Tapi jika ada yang bertanya bagaimana perasaannya mendengar perkataan Woobin dia akan senang hati menjawab bahwa ia senang. Setidaknya masih ada yang peduli terhadap eksistensinya.

“Kau tahu apa yang dikatakan Jimin tentangmu? Dia bilang kalau kau adalah monster. Manusia dengan hati sedingin es. Dia bilang aku bodoh karena membelamu!”

“Sudah biasa.” jawab Jungkook santai.

“Ya Tuhan!” Woobin bangkit dari duduknya. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Berurusan dengan siswa SMA memang selalu menyebalkan. “Kau tahu kenapa aku membelamu mati-matian?” Setelah mampu mengendalikan diri, ia mencondongkan tubuh, meski terhalang oleh pembatas transparan ia tahu bahwa Jungkook sedikit gentar terhadap pergerakannya. “Karena aku tahu kau bukanlah monster Jeon Jungkook!” Woobin menatap Jungkook kesal, apa ia terlihat cukup sabar untuk ditarik ulur seperti ini?

“Pastikan kau mengingat semua kronologisnya di pertemuan kita yang selanjutnya. Aku tidak main-main Jeon Jungkook.” Dengan penuh amarah Woobin meninggalkan Jungkook yang masih diam. Ia tidak bisa membiarkan masa depan siswa berprestasi seperti Jungkook harus kandas hanya kasus perkelahian seperti ini. Penganiayaan atau percobaan pembunuhan katanya? Ia tahu bahwa Jungkook tidak pernah berniat melakukan keduanya dan dia bersumpah akan membuktikannya di pengadilan.

Jungkook tidak akan pernah lupa bagaimana kronologisnya. Akan selalu ia ingat apa yang menyebabkannya melompat dan menerjang Hoseok di lapangan basket sehingga pertumpahan darah tidak bisa terelakkan lagi.

Ia menendang punggung Hoseok sesaat setelah laki-laki itu memutuskan panggilan telepon. Belum sempat Hoseok membaca situasi, Jungkook terus menghajarnya tanpa ampun. Menendang perutnya bertubi-tubi—tanpa jeda. Jungkook menarik kerah kemeja seragam Hoseok, meninju wajah laki-laki itu sampai ia yakin bahwa sudut bibir Hoseok telah robek akibat pukulannya.

Hoseok mencoba bangkit. Menahan setiap pukulan Jungkook dan membalasnya. “Apa yang kau lakukan, bocah pintar?” Napas Hoseok terengah-engah karena serangan tiba-tiba Jungkook.

Jungkook tidak menjawab. Ia masih terus berusaha menggapai-gapai Hoseok yang mulai memberikan perlawanan.

“Ya! Kenapa kau menyerangku tiba-tiba?” Hoseok meninju wajah Jungkook. Ia tidak akan melawan jika Jungkook tidak memulainya. Ia tahu Jungkook bukan tipikal siswa berprestasi yang tidak pandai berkelahi. Sosok Jungkook begitu mengintimidasi sehingga tidak ada yang berani mendekatinya. Ia adalah seorang yang pintar. Tidak banyak bicara dan tidak pernah mau berbaur dengan siswa yang lain. Sosoknya yang diam dan tidak pernah mau ikut campur dengan urusan kelas membuatnya menjadi sosok yang diasingkan. Meski ada beberapa yang berusaha mendekatinya, Jungkook selalu berhasil mengusir mereka dengan gesture-gesture tidak bersahabat.

“Cepat minta maaf kepada Jimin!” teriak Jungkook. Ia baru saja kembali dari perpustakaan saat mendengar pembicaraan Hoseok di telepon. Kali ini ia mendorong Hoseok sampai laki-laki itu menabrak ring basket.

“Ck, kau mendengarnya ya?” Hoseok malah tersenyum merendahkan. Ia tidak pernah menyangka seorang Jeon Jungkook secara brutal menyerangnya hanya karena seorang Jimin. “Memangnya apa pedulimu?” Hoseok menarik bagian belakang kepala Jungkook dan meninju wajahnya beberapa kali. “Aku tidak tahu kalau kau sepandai ini dalam berkelahi, baiklah bagaimana kalau kita menyelesaikannya dengan cara laki-laki?”

“Tidak ada yang bisa berhenti sampai salah satu di antara kita ada yang mati!” geram Jungkook.

“Baiklah, bocah pintar!” Hoseok tersenyum miring. Sudah lama ia ingin berkelahi dengan Jungkook, tapi ia tidak pernah punya alasan yang tepat untuk melakukannya karena bocah itu selalu berusaha menghindari konflik.

Jungkook masih ingat pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh Hoseok. Mereka sama-sama kuat. Yang membuatnya lebih unggul hanyalah amarahnya kepada Hoseok. Hingga pada satu titik ketika Jungkook dan Hoseok sama-sama hampir kehilangan kesadaran, ia mendorong Hoseok terlalu keras hingga kepalanya membentur kursi penonton. Tepat setelah itu mereka berdua sama-sama tidak sadarkan diri.

Entah di hari yang keberapa, ketika pertama kalinya ia membuka mata, Jungkook menemukan Jimin berdiri di samping ranjangnya di rumah sakit. Rasa sakitnya sedikit berkurang saat melihat sosok Jimin, namun semuanya langsung sirna saat Jimin berteriak gusar di depan wajahnya. “Aku membencimu Jungkook, bisakah kau pergi saja dari hidupku?”

Jungkook bergeming. Satu-satunya yang masih bisa diharapkan mau melihatnya malah mengatakan hal menyakitkan seperti itu. Sejak hari itu Jungkook sadar, apapun yang ia katakan kepada Jimin tidak akan mengubah apapun. Jimin sudah terlanjur membencinya dan ia tidak berniat untuk membuat Jimin kembali. Semuanya sudah terlanjur dan ia akan menguburnya sendiri seperti semua rasa takut yang selama ini ia simpan seorang diri.

“Baiklah, seperti apa katamu saja.”

Satu panggilan dari rumah sakit hampir saja membuat Woobin terjatuh dari kursinya. Ia buru-buru melompat dan menyambar jas dan tas kerjanya secara asal. Diabaikannya seruan Yoongi yang terus bertanya kemana ia akan pergi.

Hoseok sudah bangun dari koma!

Perawakan dan wajahnya jelas selalu menarik perhatian sekitar. Ia terlalu mencolok dengan tubuh tinggi dan rahang yang tegas. Ditambah lagi dengan berlari-lari heboh di sepanjang koridor, membuat keributan dari suara tapak pantofelnya. Ia hampir saja tertinggal lift jika tidak buru-buru menahan lift dengan kaki kanannya. Woobin hanya tersenyum canggung saat beberapa dokter yang berada di dalam lift memandangnya aneh. Terserah, menemui Hoseok adalah prioritasnya saat ini!

Sebelum masuk ke dalam ruangan tempat Hoseok dirawat, ia meregangkan dasi yang terasa mencekik leher. Tapi ia buru-buru mengurungkan niat untuk segera berhambur melihat Hoseok dan menanyainya ini itu saat melihat Jimin sudah mendahuluinya di dalam sana. Hal yang wajar, bukankah mereka sahabat? Tapi instingnya mengatakan ia harus tahu apa yang sedang dibicarakan dua bocah ingusan itu secara diam-diam.

“Aku meminta maaf atas nama Jungkook.” Jimin memandang Hoseok takut-takut. Hoseok bahkan tidak mau melakukan kontak mata dengan Jimin.

Hoseok diam. Ia baru sadar beberapa jam yang lalu. Keluarganya sibuk memeluknya karena setelah satu bulan akhirnya bangun dari koma. Sebenarnya ia merasa marah saat mengingat apa yang menyebabkan ia bisa berakhir di rumah sakit tapi ada sedikit perasaan aneh yang membuatnya merasa sedikit bersalah ketika mengetahui bahwa Jungkook masuk penjara atas tuduhan penganiayaan. “Sebenarnya hubungan apa yang kau miliki dengan Jungkook?” Nada bicara Hoseok yang selama ini ceria terdengar begitu dingin di telinga Jimin.

Woobin semakin merapatkan dirinya ke dinding. Inilah momen yang ia tunggu-tunggu. Hubungan apa yang sebenarnya dimiliki oleh bocah-bocah ini? Ia merogoh saku celana kainnya, mencari ponsel dan mulai merekam pembicaraan Jimin dan Hoseok.

Jimin menggigiti bibir bagian bawahnya. Ia gugup.

“Aku tanya sekali lagi hubungan apa yang kau miliki dengan Jungkook?”

“Kami dulunya berteman.”

Woobin tidak perlu repot-repot terkejut karena ia sudah menduganya sejak awal. Tapi Hoseok? Ia tidak tahu bahwa seorang pecundang seperti Park Jimin pernah berteman dengan seorang seperti Jeon Jungkook. Yang benar saja? Bahkan mereka tidak pernah terlihat berbicara di sekolah. “Dulu?” gali Hoseok lagi, ia butuh penjelasan lebih agar bisa memahami situasi kenapa Jungkook sampai menghajarnya.

“Ketika SMP. Kami bertetangga.” jawab Jimin singkat.

“Lantas?”

“Aku menyadari dia bukanlah teman yang baik sehingga aku memutuskan untuk tidak berteman lagi dengannya.”

Hoseok menatap Jimin curiga. Bukan teman yang baik katanya? Jenis bukan teman yang baik yang mana yang membuat Jungkook begitu bernapsu membunuhnya karena mengetahui rencana liciknya terhadap Jimin. Hoseok memang bukan siswa yang baik, tapi dia punya teman-teman yang rela berkelahi untuknya. Dan ia tidak pernah tahu teman-teman seperti itu adalah spesies bukan teman yang baik. “Kau yakin?”

Jimin mengangguk pelan. “Saat ini, hanya kau teman baik yang aku punya.”

Hoseok merasa ada yang salah di sini. Ia tidak bisa terus meneruskan permainan ini mengingat Jungkook sudah berada di penjara. Ia tidak pernah bermaksud memenjarakan siapa pun, termasuk Jungkook. Menurutnya perkelahian antar lelaki itu adalah wajar, jikalau mereka harus saling membenci ia tidak akan membiarkan semuanya berlanjut ke pengadilan. Menurutnya hukum terlalu berlebihan dan orang dewasa semakin mempersulitnya.

“Aku rasa aku harus bertemu dengan Jungkook.”

Woobin tidak menyangka bahwa ia tidak perlu repot-repot meyakinkan Hoseok untuk meminta keterangan.

“Maaf, Anda mencari siapa?” Seorang suster yang kebetulan lewat menegur Woobin yang terlihat mencurigakan karena telah menempel di dinding dekat pintu masuk ruangan Hoseok.

Jimin memutar kepala dan langsung mendesis saat tahu siapa yang baru saja menguping pembicaran mereka.

“Apa kau benar-benar tidak ingin mengatakan sesuatu?” Hoseok bergerak resah, menatap Jungkook di balik pembatas transparan yang hanya diam sambil menatapnya tajam.

“Bukankah sudah kukatakan tidak ada yang bisa berhenti sampai ada salah satu dari kita yang mati?”

Hoseok menggeram. Bukan itu masalahnya sekarang. Gosip pasti sudah tersebar apalagi ia baru bangun setelah satu bulan. “Kau, dipenjara. Itu masalahnya,  Jungkook.” Hoseok menunjuk-nunjuk Jungkook dengan gemas.

“Karena kau koma.”

“Baiklah, baiklah. Aku minta maaf ternyata semuanya sampai sejauh ini. Aku akan meminta orang tuaku untuk mencabut tuntutan terhadapmu. Aku akan katakan bahwa ini hanya kasus perkelahian biasa. Bukankah memang begitu?”

“Tidak usah.”

Woobin yang memperhatikan di sudut ruangan mengumpat. Demi Tuhan ia tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Jungkook. Ia rasa ia harus pergi ke psikiater setelah urusan Jungkook ini selesai atau mungkin pensiun saja dan beralih profesi menjadi karyawan stasiun televisi seperti Seokjin.

“Kau, jangan bercanda! Aku tidak sehina itu sampai membiarkan diriku merasa menyesal karena membuatmu berada di dalam penjara!”

“Kau harus meminta maaf kepada Jimin!”

Woobin menajamkan pendengarannya. Ia masih belum mengetahui apa penyebab renggangnya hubungan Jungkook dan Jimin, tapi yang pasti Jungkook terus berusaha melindungi Jimin bagaimana pun kondisinya.

“Untuk apa?” tanya Hoseok angkuh. Mencabut tuntutan bukan berarti karena ingin memperbaiki hubungan dengan orang-orang ini. Ia hanya tidak mau merusak masa depan orang lain hanya karena perkelahian konyol seperti itu.

“Karena kau hanya memanfaatkannya!”

Tawa Hoseok menggema. Sampai-sampai petugas ikut melirik ke arah mereka. “Jangan bercanda, Bung! Aku tahu alasan kau tidak mau berteman lagi dengan Jimin karena dia cacat kan? Sosok mengintimidasi sepertimu mana mau berhubungan dengan pecundang seperti Jimin. Jangan sok suci! Lebih kejam mana? Aku atau kau? Kau yang meninggalkan Jimin karena malu berteman dengannya atau aku yang berpura-pura menjadi teman baiknya hanya untuk memanfaatkannya sebagai pesuruhku!” Hoseok terkekeh. “Kita ini sama-sama kotor. Hanya saja kau terekspos dan aku tidak. Pada dasarnya kita adalah bajingan yang sama.”

Jungkook mengepalkan tangannya. Urat-urat tangannya sampai terlihat. Woobin tidak ingin semua ini berakhir begitu saja, ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga ia hanya duduk dan menyaksikan meski Jungkook menatapnya seolah meminta untuk membawa pergi Hoseok. Tidak, ia tidak akan melakukannya.

“Apa kau tahu julukan apa yang Jimin berikan untukmu? Manusia berhati es.” Lagi-lagi kekehan Hoseok terdengar, membuat Jungkook benar-benar ingin memukulnya lagi. “Dia juga bilang kalau saat ini hanya aku teman yang dimilikinya. Kasihan sekali kau, Jeon Jungkook. Bersusah payah sampai berlumuran darah ternyata Jimin masih saja menganggapmu sebagai manusia berhati es. Kau sudah membeku Jeon Jungkook, kau hanya membawa kesedihan pada orang di sekitarmu—“

Perkataan Hoseok terhenti saat Woobin mengetuk-ngetuk pembatas transparan dan mengisyaratkan petugas untuk membawa Jungkook kembali ke dalam.

“Apa yang kau lakukan? Aku belum selesai!” Hoseok berteriak-teriak saat petugas membawa Jungkook kembali ke dalam. “Kau!” Ia mendorong Woobin dengan geram meski sama sekali tidak membuat laki-laki jangkung itu bergeming. Ukuran tubuh Hoseok tidak sebanding dengan Woobin. “Brengsek! Setidaknya kau berikan aku kesempatan untuk mengetahui alasan si bocah pintar itu menghajarku!”

Woobin terkesiap. Ternyata semua yang dikatakan Hoseok adalah bohong. Ia hanya ingin memancing Jungkook.

“Ahh, kau benar-benar ya!” Hoseok mengambil tas ransel yang tersampir di punggung kursi dan berderap meninggalkan Woobin dengan emosi. Sial, kalau sudah seperti ini darimana lagi dia harus mendapatkan jawaban.

“Apa Jungkook tahu bunga iris melambangkan apa?” Jimin duduk di samping Jungkook yang sedang sibuk dengan buku tebal dengan rumus-rumus aneh yang tidak bisa dimengerti oleh Jimin.

Jungkook bergumam tidak jelas sambil tetap menuliskan banyak catatan kecil di bukunya.

“Bunga iris dianggap sebagai lambang persahabatan dan harapan.” jawab Jimin dengan senang. Ia sudah biasa mendapati Jungkook hanya diam dalam menanggapi semua ocehannya. Jungkook memang begitu, dan ia sudah maklum. Hanya Jimin yang terus mau berusaha mendekati Jungkook. “Aku ingin kita seperti bunga iris.” tambahnya.

Jungkook masih menulis. Sejak ditinggal mati ibunya, ia seolah kehilangan kemampuan bersosialisasi. Ia tidak ingin ada orang yang masuk ke dalam kehidupannya lagi. Ia tidak bisa membiarkan orang lain menyakitinya. Lagi. “Simpanlah, aku sudah membuat banyak catatan yang lebih sederhana agar kau bisa memahaminya.” Jungkook menyodorkan buku tebal yang telah ditulisinya sejak tadi kepada Jimin. Jimin memang sedikit berbeda, penderita diseleksia.

“Jungkook, mau kan menjadi bunga iris untuk Jimin?”

“Jangan bercanda kau!” Jungkook berjalan melewati Jimin. Masuk ke rumahnya yang tepat bersebelahan dengan rumah Jimin. Hanya sopan santun sesama tetangga.

“Kau bilang aku bunga irismu, lantas kenapa kau mencampakkanku seperti sampah!” Jungkook merapatkan jaketnya.

Hubungan mereka memang tidak bisa dibilang akrab. Jimin yang terus berusaha mendekati Jungkook dan Jungkook yang selalu tidak mengacuhkan Jimin tapi setelah satu tahun pendekatan yang dilakukan Jimin, Jungkook tidak pernah lagi mengusir Jimin. Ia membiarkan bocah itu terus berkeliaran di sekitarnya. Ia tidak pernah meminta Jimin untuk tetap tinggal di sisinya sehingga kalau pun secara tiba-tiba Jimin menghilang ia tidak akan kecewa. Ia tidak ingin memiliki harapan agar seseorang mau bertahan di sisinya karena ia tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Tapi insiden itu mengubah segalanya. Sejak hari itu Jimin membencinya. Dan bodohnya ia merasa ketakutan ketika Jimin membencinya.

“Aku tidak bisa berdiam diri begini.”

“Ya! Kalau begitu kau datang saja ke pesta perpisahan mereka kalau khawatir!”

“Haruskah?” tanya Woobin dengan tampang tolol. Oh, Seokjin bersumpah akan melemparkan panci-panci ini ke wajah Woobin jika laki-laki itu masih menanyakan hal-hal konyol. “Tapi aku tidak khawatir kok. Dalam menghadapi kasus kita tidak boleh memihak karena rasa iba.”

“Iya, aku tahu kau tidak khawatir. Tapi pergi saja sana untuk menemui Jungkook. Bukankah dia belum mengucapkan terima kasih kepadamu?” Seokjin semakin kesal. Acara masak-memasaknya jadi terganggu karena tingkah teman satu apartemennya tersebut.

“Oh, begitu. Baiklah.” Dalam sekejap Woobin sudah menghilang dari pintu.

“Bagian mananya yang kau sebut tidak khawatir? Cih!”

Jungkook terlambat!

Saat ia memasuki aula ia melihat Jimin sudah dibawa oleh seorang guru dalam keadaan basah dan kotor. Ini pasti ulah Hoseok. Siapa lagi? Semuanya sudah jelas dipembicaraannya di telepon—hari di mana ia menghajar Hoseok. Mempermalukan si aneh Jimin di pesta perpisahan.

“Wah, lihat teman si aneh datang!” Suara menyebalkan Hoseok langsung menyambut kedatangan Jungkook. Beberapa siswa yang berada di dekat Hoseok menoleh. Memandang Jungkook dengan aneh.

Jungkook tidak peduli. Ia menuju panggung dan melewati beberapa guru yang tengah memarahi panitia acara karena telah membuat Jimin malu—meski itu bukan salah mereka.

“Park Jimin, kau masih ingat aku, Jeon Jungkook? Temanmu yang berhati es?” Jungkook mengambil mike dan mulai berbicara. Ia tahu Jimin bisa mendengarnya.

Aula mendadak menjadi hening. Selama ini Jungkook tidak pernah mau menjadi sorotan.

Jimin yang sedang berjalan di koridor bisa mendengar suara Jungkook dari pengeras suara.

“Kau bilang kalau aku adalah bunga irismu? Lantas kenapa kau mencampakkanku seperti sampah, huh? Kau tahu dongeng tentang Ratu Salju? Semua orang selalu bertanya-tanya kenapa ia bisa sejahat itu? Tidakkah mereka bisa melihat dari perspektif lain? Tidakkah mereka penasaran kenapa Ratu salju memiliki hati sedingin es?” Jungkook berhenti sejenak. Siswa lain tanpa sadar menahan napas, menunggu-nunggu apa perkataan Jungkook selanjutnya. “Karena dia takut meleleh.”

Jimin menangis. Dulu ia marah pada Jungkook karena pindah tanpa memberitahunya dan muncul lagi di sekolah yang sama ketika sekolah menengah. Saat itu Jimin benar-benar membenci Jungkook yang pergi tiba-tiba dan tidak berusaha menjelaskan apapun padanya.

“Bagaimana kalau sekarang kau yang menjadi bunga irisku, Park Jimin?”

Woobin yang masih berada di halaman sekolah mendesis. “Ya Tuhan! Besok-besok aku tidak mau berurusan dengan kasus anak SMA lagi. Mereka benar-benar menyebalkan.” Ia membatalkan niatnya untuk masuk dan kembali ke parkiran.

FIN

 Sebenernya ini bukan fanfic baru sih. Ini salah satu produk gagal (ikutan suatu lomba tapi gagal) ya udah aku post aja daripada dianggurin, kkk.

 

Advertisements