Tags

, , ,

exoticpanda-copy1

Mission; Accomplished

by exoticpanda

Kim Taehyung & Park Jimin
Friendship, action!AU
G
Ficlet

Summary: “Kerja bagus, Kim Taehyung. Misi selesai.”

Disclaimer: Mine is only the storyline. Super awesome poster is made by http://yooraartdesign.wordpress.com/ by adelayolanda gamsa hamnida 😀

Taehyung melongok. Alisnya meliuk-liuk ritmis. Menoleh ke kanan, ke kiri, depan, belakang, kanan lagi, lalu kiri lagi, begitu seterusnya. Tolehannya itu diiringi dengan langkah kakinya yang bertempo lambat. Sangat pelan. Karena ia tak ingin melewatkan sesuatu. Ia tak ingin apa yang ia cari terlewati. Makanya ia berusaha gigih untuk tetap teliti dan tak mengendurkan sikap itu.
Ia telah tiba di bagian dalam restoran yang menjual aneka macam mie. Mencakup mie berkuah cokelat yang terbuat dari fermentasi kacang kedelai. Ketika ia tetap memertahankan ketelitiannya untuk terus mencari, pada akhirnya hal itu memang berbuah manis. Ia menemukan seorang pria yang agaknya ia cari. Berkacamata petak dengan ukuran normal—bukan sesuatu yang sangat besar hingga menutupi bagian lain selain mata—yang agak melorot ke batang hidungnya, memakai topi ala pemain golf, serta ada tas hitam bermerk polo yang ditempatkan di samping kaki kursi yang ia duduki, dan ia tengah mengeluarkan notesnya dan sebatang pulpen. Ia sedang mencatat sesuatu dengan khidmat.
Tampaknya memang iya. Itu yang Taehyung cari. Lantas, tempo langkahnya berubah menjadi cepat. Seperti ketukan 6/8 dalam partitur lagunya yang menjadi acuan ia bermain saxophone.
“Maaf aku terlambat,” kata Taehyung, meletakkan sebuah kopor hitam yang hanya bisa terbuka lewat kombinasi angka ke atas meja yang sudah ia bawa dari tadi. “ Aku sudah berusaha secepat mungkin mulai dari menaiki kereta bawah tanah, bus, dan pada akhirnya pakai taksi. Namun itu semua sia-sia kala ada demo di depan kantor kedutaan. Tampaknya Israel dan Palestina turut memengaruhi Korea Selatan. Aku tidak begitu memerhatikan para demonstran tersebut. Namun kurasa, kita perlu juga turut campur tangan demi…”
“Aish, sudah. Tak usah banyak cakap, Kim Taehyung,” cekal si pemuda yang duduk di seberangnya. Semenjak sepatah kata yang dimulai oleh Taehyung, pemuda itu dari tadi sudah meliriknya dari atas kacamatanya yang melorot. Namun, tampaknya ia harus menegur pemuda itu agar tidak mendominasi percakapan. “Kita tidak usah mengurusi hal-hal yang bukan menjadi urusan kita. Berdemo itu bukan cara yang efisien. Kaupikir apa mereka akan mendengarkanmu? Atau apa mereka akan membaca pesan di poster maupun plakat itu dari dalam gedung kedutaan? Yang benar saja. Meski mereka tidak rabun jauh, mereka tidak akan pernah bisa membacanya.”
“Tapi, Jimin hyung…”
“Tidak, Taehyung-a,” potong Jimin cepat. Ini harus dihentikan. Jika tidak, pembicaraan akan menyimpang dari hal yang seharusnya. Bahkan Jimin sendiri sudah mulai membahas hal itu. Ini tidak bisa dibiarkan. “Kamu datang jauh-jauh bukan untuk membahas perdamaian maupun peperangan. Kita punya urusan yang jauh lebih krusial dari hal semacam itu.” Taehyung terkocok pikirannya. Lantas, ibarat benang yang masuk ke dalam lubang jarum, pikiran ia dan Jimin tampaknya baru menemui jalan masuk. “Apa kamu bawa barang itu?” tanya Jimin, berbisik pelan seraya badannya condong mendekat ke arah meja, ia pun menilik dua bola mata kehitaman milik Taehyung dengan lekat.
Taehyung mengangguk, kini fokusnya mulai terarah. Dan ia menatap kopor hitamnya itu. Jimin pun mengikuti arah pandang Taehyung, dan kini mengulaskan sebuah senyuman yang sarat dengan seringai puas. Cukup senang karena Taehyung tak mengecewakannya.
“Kerja yang bagus,” puji Jimin. Ia tak segan memuji lelaki muda di depannya itu kala berhasil menunaikan tugasnya dengan benar.
“Aku akan traktir mie Jajang setelah ini atas upaya dan kerja kerasmu.”
“Mie jajang? Aku mendapatkannya susah payah. Dan ini sangat sulit didapatkan. Tapi hyung hanya memberiku…”
“Ssstt,” desis Jimin. “Masih ada lagi yang lain. Tapi, setelah kamu memerhatikan perhitunganku ini dulu.” Kemudian Jimin menjulurkan tangannya lebih panjang, agar Taehyung dapat dengan sempurna membaca tulisannya yang runtut di notes yang dari tadi ia pegang.
“Angka-angka apa itu, hyung?” tanya Taehyung bingung.
“Ini kalkulasi perjalanan kita ke Jepang yang baru kubuat. Aku menghitungnya dengan rinci. Tiket pesawat, penginapan, makan, akomodasi, dan ternyata aku masih punya cukup uang sisa. Yang artinya aku bisa membeli dua tiket VVIP untukku dan untukmu. Jadi setelah konser selesai, kita bisa meet and greet dengan member A-Pink secara langsung. Bagaimana? Menyenangkan, bukan? Kamu bisa melihat Chorong secara langsung.”
“Benarkah? Sangat menyenangkan, hyung. Aku cinta sekali padamu, Jimin hyung.” Senyum sangat lebar itu jelas terlihat dari wajah Taehyung. Untung saja ada meja yang memisahkan mereka. jika tidak, Taehyung akan langsung menyerbu Jimin ke dalam pelukannya.
“Tapi, aku ingin lihat dulu barang yang kamu bawa itu benar atau tidak. Jangan sampai kerjamu tak becus.”
Mendengarnya, membuat Taehyung semangat membuka kopor hitam keras itu. Ia segera menggeser tombol yang memunculkan kombinasi angka yang tepat, lalu kopor tersebut terbuka.
“Tampaknya aku harus membelikanmu tas baru, agar kau tak memakai kopor ayahmu terus,” decak Jimin, dibalas kekehan malu oleh Taehyung.
“Ini hyung light stick-nya,” ujar Taehyung, ketika kopor terbuka sukses. “ Sulit sekali mendapatkannya menjelang debut A-Pink di Jepang yang kian dekat. Aku sampai membayar ongkos kirim yang mahal karena membelinya lewat online shop di luar distrik. Di sekitaran daerahku, sudah terjual habis.” Taehyung memberikan satu benda panjang bertali itu pada Jimin. Lalu Jimin menghidupkannya, dan cahaya bewarna pink berpendar segera. Taehyung membeli barang yang tepat.
“Kerja bagus, Kim Taehyung. Misi selesai.”

fin.

catatan: sungguh aku gak tau ini apaan. absurd? jelas. intinya mereka itu fanboy-__- ah

Advertisements