Tags

, , , ,

By Mrs. Heo

Cast-Kim Seokjin [BTS] | Heo Eun Soo [OC] | Wu Yi Fan | Heo Riyoung [OC]

Genre-Romance, fluff, family

Duration-Chapter

Rating- General

Prev 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |

Summary

“Apa ibu tahu apa arti keluarga? Dia tipe orang yang akan pergi dengan senang hati jika seseorang tidak menginginkannya lagi. Kenapa masih terus bertanya?”

6

I Keep It Inside

I try to be patient but i’m hurting deep inside

And i can’t keep waiting i need comfort late at night

And i can’t find my way won’t you lead me home?

(Scared of Lonely-Beyonce)CHAPT-6

Akhir-akhir ini tingkah Seokjin selalu membangkitkan rasa penasaran Yoongi. Ia jadi sering melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Sama halnya hari ini, sesuatu berwarna biru yang tersemat di kepala Seokjin telah menarik perhatian Yoongi sejak laki-laki itu menyematkan di surai cokelatnya yang mulai memanjang.

“Jangan sentuh!” Seokjin menyentil tangan Yoongi yang berusaha menyentuh kepalanya.

“Apa itu?”

Seokjin mengalihkan perhatian dari layar ponsel dan menghela napas kesal. “Bukankah sudah jelas ini adalah jepit rambut?” Ia sengaja menjepit poninya yang sudah memanjang akibat pusing menghadapi tingkah Eun Soo yang suka sekali menghilang secara tiba-tiba.

Sekarang gantian Yoongi yang kesal. Dia tidak sebodoh itu sampai tidak bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah jepit rambut, tapi seharusnya Seokjin lebih cerdas menanggapi pertanyaannya. “Aku tahu, maksudku itu milikmu?” Yoongi menunjuk-nunjuk jepit rambut Seokjin.

“Ya, kalau bertemu dengannya lagi akan segera kukembalikan. Lihatlah, sejak tadi aku menghubunginya tapi dia tidak menjawab panggilanku. Pesan di line juga sudah dibaca tapi tidak dibalas!” Pekik Seokjin gemas. Ia benar-benar pusing dengan kepergian Eun Soo yang secara tiba-tiba.

Yoongi menatap jepit rambut yang tersemat di poni Seokjin. “Maksudmu Eun Soo?”

Seokjin tidak memberikan respon, masih fokus mengetik pesan dengan menggunakan huruf kapital—melakukan segala cara untuk menyadarkan Eun Soo bahwa panggilan darinya amat penting.

“Eun Soo yang memberikan jepit rambutnya kepadamu?” Tanya Yoongi ragu. Pertanyaannya terdengar tidak masuk akal tapi apalagi jawaban yang paling tepat selain Eun Soo. Sekilas ia melihat Hoseok yang berdiri di dapur tersedak. Tentu saja, Seokjin dan Eun Soo tentu tidak seakrab itu sampai ke dalam tahap memberikan benda semacam jepit rambut. Siapa yang tidak terkejut?

“Eun Soo yang memberikan jepit rambut itu kepadamu?” Yoongi bahkan tidak menyadari suara langkah Hoseok. Tahu-tahu laki-laki itu sudah berdiri di sampingnya.

Seokjin hanya mengangguk malas. “Dia sedang apa sih?” Gerutunya.

“Eun Soo? Heo Eun Soo? Heo Eun Soo client mahal kita?” Kali ini Yoongi yang bertanya heboh.

“Memangnya ada berapa Eun Soo yang kau kenal?” Seokjin mulai kesal.

“Bagaimana bisa?” Kali ini Hoseok sudah meremas pundak Seokjin. Meskipun ia suka sekali menggoda Seokjin dan Eun Soo mendapati fakta semacam ini tetap saja mustahil baginya.

“Waktu itu aku sakit. Dia merawatku. Menjepit poni untuk mempermudahnya mengompresku.”

“Eun Soo masuk ke apartemenmu?” Lagi-lagi Yoongi berteriak heboh, mengabaikan fakta bahwa Seokjin baru saja sembuh dari sakitnya.

Lagi-lagi hanya anggukan tidak berselera dari Seokjin. Ia heran kenapa kedua teman sekaligus rekan kerjanya ini selalu saja menjadi heboh jika berhubungan dengan Eun Soo. Apakah seorang Eun Soo begitu berpengaruh bagi mereka?

“Heo Eun Soo masuk ke apartemenmu?” Ulang Hoseok. “Itu mustahil!”

“Kami bahkan belum pernah masuk ke apartemenmu, tapi Eun Soo sudah?” Yoongi menimpali. Setiap kali mereka akan berkunjung ke apartemen Seokjin, laki-laki itu selalu melarangnya—ia selalu saja memberikan banyak alasan untuk mencegah kedatangan mereka.

“Terpaksa. Situasinya sangat mendesak.”

“Ya Tuhan! Apa yang telah kalian lakukan?” Hoseok berteriak dramatis sambil memegangi kepalanya seolah akan lepas. Ia menatap Yoongi yang sama terkejutnya.

“Kau harus membuat kakak Eun Soo jatuh cinta kepadamu, bukan adiknya! Kau menggoda Eun Soo dengan mengajaknya ke apartemenmu?” Yoongi berusaha menanyakan hal yang paling logis karena semua pembicaraan ini terdengar sangat tidak masuk akal.

“Ya! Kau kenapa baru mengangkat teleponku?” Seokjin beranjak dari sofa dan mengabaikan Hoseok dan Yoongi yang masih menuntut jawaban darinya. “Eun Soo, kau bisa mendengarku?” Mendengar nama Eun Soo disebut membuat keduanya semakin heboh. “Kau tahu bahwa Riyoung sangat mengkhawatirkanmu?” Seokjin berteriak, hampir bisa dibilang memaki. Selama beberapa saat Seokjin memasang ekspresi aneh. “Hey! Hey!” Ia melihat layar ponsel, ternyata Eun Soo sudah memutuskan panggilan. Ia mencoba menghubungi Eun Soo lagi namun sayang nomor gadis itu sudah tidak aktif.

“Bukankah kau tidak suka gadis cantik yang kaya?” Yoongi bersedekap, memandang Seokjin penuh selidik.

“Dari sekian banyak gadis kenapa harus Eun Soo? Dia itu client kita!” Kali ini Hoseok meneror Seokjin dengan tatapan horor.

Seokjin tidak mempedulikan tingkah Yoongi dan Hoseok. Masih segar ingatannya bagaimana kepanikan Riyoung saat melihat kepergian Eun Soo dari restoran. Terlebih ia pergi setelah berdebat dengan pelanggan restoran lainnya hanya untuk membela seseorang yang bahkan tidak dikenal oleh Riyoung.

Dari informasi Yifan itu adalah teman Eun Soo semasa sekolah menengah. Dan Seokjin masih belum bisa mempercayai Eun Soo akan membela seseorang dengan keterbatasan seperti itu. Ia tidak begitu mengenal Eun Soo, tapi dari semua waktu yang mereka habiskan bersama ia yakin bahwa seseorang seperti Hongbin jelas tidak berada di dalam teritorial Eun Soo.

“Hoseok, berikan aku alamat Eun Soo!”

Hoseok hampir saja pingsan mendengar perintah Seokjin. Alamat Eun Soo katanya? Apakah temannya itu bermaksud mengunjungi Eun Soo dan keluarganya? Kemudian membicarakan sesuatu tentang masa depan sambil minum teh hangat? Ahh, Hoseok yakin akan benar-benar pingsan jika imajinasinya terus berlanjut.

“Ya! Bukankah kau sudah melakukan observasi? Cepat berikan padaku!” Paksa Seokjin. Ia melangkah mendekati Hoseok.

“Kau tidak boleh menyukai Eun Soo. Bukankah sudah kuperingatkan untuk berhati-hati terhadap gadis itu?”

“Ya Tuhan! Aku tidak menyukai Eun Soo. Berhenti berpikir yang tidak-tidak!” Seokjin memijit kepalanya. Ia harus meluruskan kesalahpahaman ini tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Ia yakin tidak ada yang sudi mempercayainya, karena bukannya membutuhkan penjelasan, melainkan hanya fakta untuk memperkuat asumsi mereka. Hanya itu! “Hoseok, tolong sekali ini saja jangan mempersulitku!”

“Kau gila? Mana punya aku alamat Eun Soo. Bukankah kau sudah pernah makan malam bersama keluarga Eun Soo di rumahnya?”

“Dia tinggal terpisah dengan keluarganya.”

“Kalau begitu temui di tempat kerjanya saja.” Setelah berhasil mengendalikan diri agar bisa tetap berpikir rasional Yoongi memberikan saran.

Seokjin menjentikkan jari. “Kau Benar!” Ia menunjuk Yoongi dengan tatapan penuh terima kasih. “Hoseok, cepat berikan aku alamat kantor gadis itu!”

Hoseok berderap panik menuju meja kerjanya. Entah kenapa urusan ini tampak menjadi sangat penting juga baginya. Setelah mengotak-atik komputer, ia mencatat alamat kantor Eun Soo di sticky note dan memberikannya kepada Seokjin. “Hey tunggu!” Teriak Hoseok.

Seokjin hanya melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu dalam hitungan detik.

Entah sudah yang keberapa Seokjin harus berurusan dengan orang-orang di sekitar Eun Soo. Ia melirik arloji dengan gelisah, hampir setengah jam ia menunggu dan gadis itu belum keluar juga.

“Maaf, bukankah seharusnya ini sudah jam makan siang?” Seokjin bertanya kepada resepsionis yang memintanya menunggu Eun Soo di lobi karena sebentar lagi adalah jam makan siang.

Dengan gerakan dramatis ia mengibaskan rambut. Sudah sejak tadi ia menunggu Seokjin mengajaknya bicara. “Mungkin sebentar lagi tuan—“ Resepsionis tersebut sengaja menggantung kalimat, menunggu Seokjin melanjutkan dengan menyebutkan namanya.

Seokjin hanya mengangguk, malas melanjutkan percakapan dengan gadis itu. Bukannya ia tidak tahu bahwa sejak tadi resepsionis tersebut terus memperhatikannya secara diam-diam bahkan mengambil fotonya tanpa ijin, tapi ia terlalu malas mengambil tindakan sehingga memutuskan untuk mendiamkannya saja.

“Eun Soo!” Baru saja ia mengalihkan pandangannya saat melihat Eun Soo keluar dari lift. “Heo Eun Soo!” Seokjin berusaha menarik perhatian Eun Soo yang tengah mengobrol dengan rekan kerjanya.

Eun Soo menoleh, perhatiannya langung tertuju pada sesuatu yang tersemat di kepala Seokjin.

“Kenapa kau memutuskan telepon begitu saja?”

Eun Soo melengos. Ia sedang malas berdebat dengan Seokjin atau dengan siapa pun.

“Eun Soo, aku duluan ya.” Pamit teman Eun Soo.

“Aku harus pergi makan siang.”

“Baiklah, kita bicara sambil makan.”

“Kau ini kenapa sih Kim Seokjin?” Eun Soo mulai jengah. Biasanya ia yang akan memarahi dan memaksa-maksa Seokjin untuk menuruti permintaannya, tapi sekarang malah dirinya yang diperlakukan seperti itu.

“Kita bicara sambil makan. Ayo!” Seokjin menarik tangan Eun Soo.

“Kita bicara di sini.” Eun Soo menghentakkan tangan Seokjin dan menatap laki-laki itu sinis. “Jangan menarik-narikku, aku tidak suka diperlakukan begitu.”

Selama beberapa detik Seokjin terdiam. Ia sadar tindakannya barusan memang tidak sopan tapi ia tidak menyangka Eun Soo akan sekesal itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi malam itu? Kau tahu, Riyoung begitu mengkhawatirkanmu? Ia berusaha menghubungimu, tapi kau tidak menjawab panggilannya. Apa mengabaikan seseorang sudah menjadi suatu kebiasaan?”

“Jadi semua ini adalah tentang Riyoung?”

“Eh?”

“Kau memaksa bertemu denganku hanya untuk memberitahu bahwa Riyoung khawatir, begitu?”

Seokjin mulai salah tingkah. “Bukan, ia memintaku untuk mencarimu.”

“Jadi kau melakukan semua ini demi Riyoung?”

Seokjin semakin salah tingkah. Riyoung ternyata adalah pembicaraan yang terlalu sensitif untuk Eun Soo. “Bukankah ini bisa menjadi bagian dari rencana? Aku bisa membuat kakakmu terkesan karena peduli kepadamu dan memperlancar rencana kita.”

“Minggir!”

“Eun Soo, kau tidak bisa mengabaikanku!” Seokjin semakin frustasi menghadapi clientnya satu ini. Moodnya selalu saja berubah-ubah. Pertama ia mengatakan bahwa ia harus membuat Riyoung terkesan kepadanya, sekarang ketika ia memiliki kesempatan untuk melakukannya gadis itu malah mengabaikannya.

Eun Soo memilih berpura-pura tidak mendengar, ia tetap melanjutkan langkah meski Seokjin terus memanggil namanya.

“Eun Soo, kau boleh mengabaikan siapa saja tapi tidak denganku. Aku tidak suka diabaikan.” Habis sudah kesabarannya. Ia menarik tangan Eun Soo sekali lagi, mengabaikan tatapan kesal dari gadis itu.

“Memangnya aku peduli?” Eun Soo mendelik. Sebisa mungkin ia tidak meledak-ledak, ia harus bisa menyembunyikan emosinya, seperti yang sudah-sudah.

Seokjin menghela napas. Ia harus mengambil peran sebagai seseorang yang berkepala dingin di sini, kalau tidak masalahnya hanya akan semakin rumit. “Riyoung terus menghubungiku untuk menanyakan keberadaanmu.”

“Kenapa harus kau? Biasanya juga dia meminta informasi dari Young Saeng.”

“Bukankah kau juga mengabaikan Young Saeng hyung?”

“Oke, baiklah. Baiklah. Aku akan mengirimi Riyoung pesan bahwa aku baik-baik saja. Puas? Sekarang lepaskan tanganku!”

Seokjin bergeming. Ia menatap Eun Soo datar. Ia tidak suka menyelesaikan masalah setengah-setengah. “Lantas kenapa kau menghindari Riyoung, kali ini apa masalahnya?” Seokjin memperlembut nada bicaranya.

“Bukan urusanmu. Sekarang lepas tanganku!”

“Aku tidak suka pembicaraan ini berakhir dengan kau yang masih tersulut emosi.”

Tidak ada yang salah dengan Riyoung. Hanya saja urusannya dengan Hongbin cukup membuatnya frustasi karena harus menahan emosi menghadapi kenyataan kehidupan macam apa yang dijalani oleh temannya itu. Ia hanya lelah. Butuh waktu untuk menenangkan pikiran dan istirahat, tidak perlu ada pengganggu yang menanyakan keberadaannya hanya karena Riyoung merasa khawatir.

Bukannya ia berharap Seokjin mengkhawatirkannya, hanya saja ia tidak suka bagaimana selalu dijadikan alasan untuk Riyoung. Itu yang membuatnya kesal. “Kim Seokjin, aku tidak suka kau mencampuri urusanku.”

“Kau sedang emosi.”

“Bukan urusanmu!”

“Kau emosi karena aku, dan aku tidak suka. Aku minta maaf jika aku membuatmu marah.”

“Ya, ya.” Jawab Eun Soo acuh tak acuh. Ia hanya ingin masalah ini cepat-cepat selesai karena beberapa orang yang lewat mulai memperhatikan mereka, mungkin sebagian beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

“Aku tahu kau masih kesal.”

“Benar! Dan itu karena kau Kim Seokjin, jadi lepaskan tanganku sekarang juga! L-E-P-A-S!”

Seokjin akhirnya memilih mengalah. Ia melepaskan pegangannya terhadap Eun Soo. Baru saja akan membuka mulut gadis itu sudah berbalik dan berjalan cepat untuk menghindarinya. Seokjin tidak suka bertengkar dengan seseorang, sebisanya selalu menyelesaikan masalah saat itu juga, untuk itu ia tidak suka jika Eun Soo pergi meninggalkannya masih dalam keadaan emosi.

Satu lagi tambahan mengenai Heo Eun Soo. Dia selalu menyembunyikan.

Panik!

Tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan semua anggota keluarga ketika mendapat kabar undangan pernikahan Riyoung raib begitu saja. Pihak percetakan mengatakan bahwa seseorang yang mengatasnamakan Heo Riyoung telah mengambil undangan tersebut.

“Tenanglah, kita pasti menemukan jalan ke luarnya.” Yifan mengelus puncak kepala Riyoung, berusaha menenangkan calon isterinya tersebut.

“Pernikahan kita kurang dari dua minggu lagi dan undangan tiba-tiba hilang. Bagaimana bisa menemukan jalan keluarnya? Seharusnya undangan sudah mulai disebar.” Riyoung terisak.

Young Saeng memaksa diri untuk bisa fokus, menutupi kegugupannya. Jika tebakannya benar maka ia juga bisa terseret dalam masalah. Ia yakin pasti ada yang salah sejak Eun Soo mulai mengabaikan panggilan telepon darinya sejak makan malam bersama Yifan dan Riyoung.

Gadis itu pasti sedang marah besar. Jika Eun Soo tidak bisa lagi mengendalikan emosinya, ia tidak akan segan-segan melakukan hal gila, termasuk memusnahkan undangan pernikahan yang seharusnya mulai disebar.

“Mungkin saat ini ia sedang membakar undangan-undangan itu.” gumam Young Saeng.

“Kau mengatakan sesuatu?” Sehun yang duduk di samping Young Saeng bertanya karena merasa ada yang aneh melihat gerak-gerik sepupunya yang tampak kaku dan berhati-hati dalam melakukan setiap pergerakan. “Hey!” Sehun menendang kaki Young Saeng pelan karena laki-laki itu mengabaikannya.

Young Saeng tersentak. Tendangan kecil Sehun barusan membawa Young Saeng kembali ke dalam kesadarannya yang hampir hilang. Eun Soo akan berada dalam masalah besar jika sampai ketahuan. Apalagi jika ibu sampai bertindak. Ia tidak bisa membayangkan betapa kasar ucapan ibu jika mengetahui Eun Soo berusaha menghancurkan pernikahan anak kesayangannya dan pertahanan diri Eun Soo mungkin saja bisa menyebabkan gadis itu tidak mau mengakui keluarganya lagi.

“Di mana Eun Soo? Apa disaat genting seperti ini ia tidak bisa menunjukkan rasa simpati kepada kakaknya sendiri?”

Suara ibu membuat Young Saeng semakin gugup. Tidak melihat keberadaan Eun Soo di tengah-tengah mereka saja ibu sudah bicara sekasar itu, apalagi jika sampai mengetahui bahwa Eun Soo yang mencuri undangan.

“Young Saeng, di mana adik kesayanganmu itu?”

Young Saeng bergeming. Dimana katanya? Bahkan Eun Soo tidak menjawab semua pesan dan panggilannya.

“Hey!” Sehun mulai gemas melihat tingkah Young Saeng. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu. Biasanya ia akan selalu menjadi pasukan terdepan jika ibu mulai menyalahkan Eun Soo. “Pasti masih di kantor. Dia kan gila kerja sama seperti kakaknya.” Sehun menggamit lengan Young Saeng, mencoba melucu.

“Apa pekerjaan jauh lebih penting dari keluarganya sendiri? Memangnya apa hebatnya sih menjadi editor. Sudah sampai berbusa mulutku untuk menyuruhnya masuk jurusan bisnis malah memilih pekerjaan seperti itu.”

Sehun mengumpat. Ia lupa, satu pembelaan terhadap Eun Soo selalu bisa menjadi beribu bumerang jika sudah dicerna oleh ibu. Ia melirik Young Saeng yang biasanya selalu memiliki sejuta pembelaan terhadap Eun Soo hanya diam sambil menunjukkan ekspresi mencurigakan.

Young Saeng tiba-tiba berdiri. Sehun berdeham kecil. Kecurigaannya terbukti. Tamatlah sudah jika Young Saeng mulai memperlihatkan gesture seperti itu. Dua pejuang di kubu Eun Soo dan Riyoung pasti akan berjuang mati-matian untuk membela raja mereka.

“Kau mau ke mana?”

“Oh Tuhan!” Gumam Sehun. Jika tatapan Young Saeng sudah seperti itu artinya laki-laki berlesung pipi itu sedang berusaha keras menahan kata-kata jahat tidak keluar dari bibirnya. Sekali saja dipancing lagi api akan benar-benar tersulut.

“Aku ada pertemuan dangan client.”

“Ya! Heo Young Saeng!” teriak ibu marah. “Adikmu sedang tertimpa musibah, kau tega meninggalkannya dalam keadaan sedih begini? Sejak kecil ibu selalu menanamkan prinsip bahwa keluarga harus selalu menjadi prioritas. Kenapa kau jadi tidak tahu aturan seperti ini?”

“Mati sudah.” Sehun menyembunyikan wajah dibalik bantal sofa yang sedari tadi terus dipeluknya.

“Keluarga?” Young Saeng tertawa merendahkan. “Apa ibu tahu setelah pergi dari rumah Eun Soo dirawat di rumah sakit? Apa ibu tahu Eun Soo tidak suka sendirian? Apa ibu tahu Eun Soo sulit bersosialisasi dengan sekitarnya? Apa ibu tahu Eun Soo takut gelap? Apa ibu tahu—

Young Saeng melirik Sehun yang sudah menahan lengannya, memberikan isyarat untuk menghentikan semua kata-katanya. Young Saeng tidak peduli. “Apa ibu tahu apa arti keluarga?”

Hening

“Bisa ibu hentikan semua ini? Bukankah ibu yang memintanya untuk tidak muncul di hadapan ibu lagi? Kenapa terus menanyakan keberadaannya? Ibu tahu benar sifat Eun Soo. Dia tipe orang yang akan pergi dengan senang hati jika seseorang tidak menginginkannya lagi. Kenapa masih terus bertanya?”

Kalimat terakhir Young Saeng membuat Yifan menyadari sesuatu. Alasan kenapa Eun Soo pergi begitu saja tanpa sebuah peringatan.

“Di mana undangannya?”

Eun Soo berteriak kaget saat mendengar suara kakaknya, ia bahkan menjatuhkan ramyun yang baru saja ia bawa dari dapur sehingga mengotori lantai ruang tamu.

“Aku tanya sekali lagi di mana undangan pernikahan Riyoung dan Yifan?”

Kedua alis Eun Soo bertaut. Ia bahkan lupa pernah memberitahukan password apartemen miliknya. Tahu-tahu Young Saeng sudah muncul di ruang tamunya dengan ekspresi yang selalu ia gunakan ketika sedang menahan amarah.

“Kau sudah membakarnya?”

Eun Soo menghela napas kasar. “Tidak.” Jawab Eun Soo malas-malasan.

“Bakar sekarang juga!”

Oppa?”

“Kalau ibu sampai mengetahui bahwa kau yang mencuri undangan itu hanya akan semakin membahayakanmu. Hapus semua barang bukti!”

“Kenapa? Sekarang dia sedang marah-marah dan menyalahkanku?” Eun Soo menghempaskan diri ke atas sofa dan menyalakan televisi. “Apa yang harus kukhawatirkan, bukankah sudah biasa ia menyalahkanku?”

“Kali ini kau harus mendengarkanku. Ibu tidak akan memaafkanmu jika mengetahui kau dalang semua permasalahan ini.”

“Sekarang juga belum dimaafkan. Apa bedanya ketahuan dan tidak ketahuan?”

Dengan gusar Young Saeng menggeledah ruang tamu, mencari-cari undangan yang telah dicuri Eun Soo. Jika sampai ketahuan ia tidak yakin masih bisa menolong Eun Soo. Kalau pun Eun Soo menganggap kemarahan ibu terhadapnya adalah hal yang biasa tapi ia sudah tidak sanggup lagi melihatnya. Semuanya sudah terlalu berlebihan. Ia tahu betul ketika gadis itu berpura-pura tidak peduli terhadap perlakuan ibu, jauh di lubuk hatinya ia begitu terpuruk namun memutuskan untuk menyimpannya seorang diri. Dalam diam gadis itu mencoba terlihat baik-baik saja, itu yang membuatnya sangat marah.

Oppa!” Eun Soo mencampakkan remote televisi dengan asal dan mengekor saat melihat Young Saeng masuk ke dalam kamarnya. “Apa yang kau lakukan?”

“Kalau kau tidak mau membakarnya, maka aku yang akan melakukannya.” Sebuah kardus tergeletak di bawah meja belajar, tanpa perlu mengonfirmasinya, Young Saeng segera mengambil kotak tersebut. “Kalau kau benar-benar ingin menghentikan pernikahan mereka katakan saja kepada Yifan kalau kau masih mencintainya!”

“Aku tidak mencintainya!”

“Benarkah? Atau kau paksa dia untuk mengakui bahwa dia masih mengharapkanmu!”

Oppa!”

“Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Semua yang kau lakukan hanya membuatmu semakin menderita. Bertemu dengan Yifan dan menghabiskan waktu bersamanya membuatmu mulai menyesal meninggalkannya. Iya kan? Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan?” Habis sudah kesabarannya. Ia membanting kardus berisi undangan pernikahan sehingga semua isinya berceceran. “Kau berharap namamu yang tertulis di undangan itu kan?” Ia menendang-nendang undangan yang berceceran di lantai.

“Tidak! Aku tidak pernah mencintai Yifan lagi! Dia berselingkuh! Dia tidak pantas untuk Riyoung!”

“Benarkah dia berselingkuh? Atau hanya kau saja yang tidak ingin mengetahui keseluruhan ceritanya?”

“Kenapa kau jadi menentangku begini? Kalau kau ingin aku membakarnya, baiklah—

“Tidakkah kau mengerti? Aku lelah Heo Eun Soo. Aku lelah harus melihatmu diperlakukan tidak adil oleh ibu.”

Eun Soo menatap mata Young Saeng, mencari sesuatu yang selama ini selalu menguatkan dirinya, tapi yang ia temukan hanya kelemahan yang selama ini ia sembunyikan. Tidak pernah sekalipun Eun Soo menangis di hadapan orang lain. Tidak ketika ia mengetahui Yifan berselingkuh, tidak juga ketika ia dituduh melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia ingat bahkan tidak ketika ibu mengusirnya. Ia tidak akan sudi menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain, namun untuk yang pertama kali dalam hidupnya, kakak kandungnya sendiri yang menghancurkan pertahanannya.

“Kau tahu bagaimana perasaanku ketika ibu memojokkanmu? Menyalahkanmu? Mengataimu?” Young Saeng menarik tangan Eun Soo dan meletakkannya di atas dadanya. “Luka di dalam sini tidak bisa disembuhkan.”

Eun Soo terduduk. Menangis sejadi-jadinya. Air mata yang selama ini ia tahan, luka yang selama ini selalu disembunyikan, rasa takut yang membebani akhirnya keluar di saat bersamaan. Pertahanan itu akhirnya benar-benar runtuh.

“Aku selalu takut saat kau berpura-pura acuh dengan masalah di sekitarmu. Jika kau terus membiarkannya, api yang sebelumnya kecil akan membesar dan membakarmu hidup-hidup.”

 “Ck, terkenal juga dia rupanya.” Kalau bukan karena paksaan Young Saeng, tidak akan sudi pagi-pagi begini Eun Soo mampir untuk menemui Seokjin hanya untuk meminta maaf kepada laki-laki itu. Kakaknya terlalu berlebihan dalam menetapkan standar etika. Seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apapun sampai harus meminta maaf, justru Seokjin yang seharusnya meminta maaf karena telah membuatnya kesal.

 Baru saja akan melanjutkan langkah setelah Seokjin selesai menerima hadiah dari gadis-gadis yang mengerubunginya, seseorang menahan lengan Eun Soo. “Ya?” tanyanya.

“Hmmb.”

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Eun Soo lagi.

“Bisa tolong berikan ini kepada Seokjin oppa?”

Eun Soo hampir saja tertawa saat mendengar seorang asing memanggil Seokjin dengan embel-embel oppa. “Apa itu?” Ia memindai penampilan gadis yang yang ada di hadapannya. Fans?

“Bisa tolong kau berikan padanya?”

“Oh, baiklah.” Eun Soo mengambil tas kertas pemberian gadis tersebut tanpa rasa curiga. “Kau salah satu fansnya juga? Kenapa tidak memberikannya secara langsung saja?”

Gadis itu mengangguk pelan, ragu untuk menjawab “Aku tidak berani memberikannya secara langsung.” Suaranya bahkan hampir tidak terdengar.

“Kenapa?”

Gadis itu hanya menggeleng.

Eun Soo menatap wajah salah satu fans Seokjin tersebut dan tersenyum. Ia tahu bahwa gadis itu tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya mengingat selama ini banyak gadis dengan dandanan berlebih terus mendekati Seokjin. “Mau kuberi tahu sesuatu? Seokjin tidak suka gadis cantik, tipikal pemanfaat katanya.” Eun Soo terkekeh, berusaha membuat gadis tersebut merasa nyaman berbicara dengannya. Siapa namamu? Nanti akan kusampaikan padanya.”

“Eh?”

“Aku tidak bisa memberikan sesuatu kepadanya tanpa nama pemberi.”

“Narae.”

“Narae—“

“Seo Narae.”

Eun Soo tersenyum. “Baiklah, akan kuberikan padanya.”

“Tolong sampaikan juga kalau itu aku yang memasaknya sendiri.”

“Woah, benarkah? Sepertinya gadis yang pintar memasak juga memiliki nilai plus untuk Seokjin.”

Narae terkekeh. “Terima kasih.”

“Tapi kenapa kau meminta tolong padaku? Apa kau mengenalku? Bagaimana kalau aku juga salah satu fans Seokjin dan malah membuang pemberianmu?”

Narae tampak bingung. “Belakangan ini aku sering melihatmu bersama Seokjin. Dia jarang sekali terlihat berlama-lama bersama wanita. Kupikir kau adalah teman dekatnya.” Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Teman dekat katanya? Ck, yang benar saja. Eun Soo berdeham, berharap tidak terjadi kesalahpahaman seperti yang sudah-sudah. “Baiklah, aku masuk.” Pamit Eun Soo.

Eun Soo berlari-lari menuju kantor Seokjin yang berada di lantai dua. “Seokjin! Di mana Seokjin?” Eun Soo membuka pintu dengan paksa.

Hoseok yang sedang sibuk membaca dokumen-dokumen client mereka tidak menyangka akan melihat Eun Soo pagi-pagi begini. Ia teringat bagaimana tingkah Seokjin sehari sebelumnya dan sekarang pagi-pagi Eun Soo sudah berteriak-teriak menanyakan keberadaan Seokjin. Sebenarnya ada apa dengan kedua orang ini?

“Ada apa?” Kemudian Yoongi muncul. Ia menatap Eun Soo bingung. “Seokjin?”

“Di mana dia?”

“Eun Soo?” Seokjin muncul dari salah satu ruangan kecil di dekat dapur. Ia tidak menyangka pagi-pagi begini Eun Soo sudah datang mencarinya. Mungkin bukan pertanda baik, tapi itu jauh lebih baik daripada menghilang tanpa kabar. Seokjin bahkan tidak bisa menolak saat Eun Soo sudah menarik tangannya dan memaksa untuk mengikuti langkahnya. Hoseok dan Yoongi sudah pasti shock melihat tingkah kedua orang tersebut. Apa yang mereka lihat pagi ini jauh lebih nyata dari keuring-uringan Seokjin karena tidak bisa menghubungi Eun Soo.

Sesampainya di dekat jendela, Eun Soo membukanya. Ia tersenyum melihat punggung Narae yang menjauh masih berada dalam jangkauan penglihatan mereka. “Narae, Seo Narae! Narae!” Beberapa kali Eun Soo meneriaki nama Narae agar gadis itu menoleh. “Oh, lambaikan tanganmu!” Eun So menarik tangan kanan Seokjin yang bebas dan menggoyang-goyangkannya saat Narae mendengarnya dan berbalik melihat ke arah mereka. “Tersenyum!” Perintah Eun Soo kepada Seokjin yang masih belum bisa membaca situasi. “Ingat-ingat wajahnya!” Belum lagi Seokjin mampu mencerna instruksi pertama gadis itu, sekarang ia sudah diberi perintah yang lain. “Fanservice.” Eun Soo melepaskan tangan Seokjin dan memberikan pemberian Narae untuk Seokjin. “Dia salah satu penggemarmu. Kau harus memakannya, dia bilang itu buatannya sendiri. Narae, Seo Narae, kau harus ingat namanya.” Cerocos Eun Soo tanpa henti dengan penuh semangat, tidak memberikan sedetik pun kesempatan untuk Seokjin bicara.

Seokjin menerima kantong yang diberikan Eun Soo dalam diam. Jadi pagi-pagi begini gadis tersebut berlari-lari mencarinya hanya agar ia bisa melihat wajah salah satu dari sekian banyak gadis yang mengindolakannya dan terus-terusan memberikan hadiah tidak penting kepadanya.

“Di mana hadiah dari para gadis yang lain?”

“Eh? Di sana.” Seokjin menunjuk tempat sampah di dekat pintu masuk dengan dagunya. Ia bahkan sampai lupa bertanya darimana Eun Soo tahu kalau dia baru menerima hadiah dari para fansnya. Ia cukup terkejut melihat sisi Eun Soo yang satu ini. Mungkin atas dasar ini juga ia membela mati-matian teman satu sekolahnya dulu waktu itu.

“Astaga, yang satu ini tidak boleh kau buang!”

Seokjin hanya mengangguk. Entah kenapa ia tidak bisa menolak setiap perintah gadis ini. Ia pikir Eun Soo akan marah-marah kepadanya karena kejadian semalam, tapi gadis ini benar-benar tidak bisa ditebak. “Kau mencariku hanya untuk ini?” Seokjin mengacungkan pemberian Narae.

“Tidak, aku ke sini untuk meminta maaf.”

Yoongi dan Hoseok sama-sama memanjangkan leher karena tidak mau tertinggal satu titik pun dari pembicaraan Seokjin dan Eun Soo.

“Maaf untuk apa?”

Sesuatu di dalam tas Eun Soo berdering. Ia yakin tidak memiliki vertigo sebelum mendengar informasi yang diberikan oleh Young Saeng. Satu-satunya yang masih bisa ditangkap oleh indera pendengarnya hanyalah pernikahan, dipercepat.

Tamat sudah riwayatnya.

To be continued . . .

Advertisements