Tags

, , ,

By Mrs. Heo

Cast-Kim Taehyung [BTS] | Jeon Jungkook [BTS] | Park Jeyvi [NISJUNGV]

Genre-Crime, Thriller, Friendship, Romance

Duration-Oneshoot

Rating- PG-17

Say something, I’m giving up on. YouI’ll be the one, if you want me to

(Christina Aguilera-Say Something)

BucbuJbCEAA0MFl.jpg large 

“Kasus baru?” Segelas cokelat hangat—minuman kesukaan Taehyung diletakkan Jungkook di samping komputernya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Taehyung masih bersinar dibalik layar komputer.

“Hmmb.” Masih sibuk mengotak-atik data yang baru saja dikirimkan kepadanya. Jari Taehyung memencet-mencet keyboard dengan cepat, mengetik beberapa keyword untuk mempermudah proses pencarian.

Jungkook mencondongkan tubuh, membaca kasus baru yang sedang ditangani sahabatnya tersebut. “Oh, pembunuhan asisten direktur perusahaan perangkat lunak itu?” Dengan kaki yang bebas, Jungkook menarik kursi dan duduk di balik punggung Taehyung. “Kasus yang cukup heboh itu kan?”

“Aku rasa seseorang mendekati gadis itu untuk mencuri data perusahaan lalu setelah itu membunuhnya.”

“Maksudmu seperti TOP?”

Taehyung menoleh, menatap Jungkook heran. TOP? Ia tahu bahwa Jungkook adalah seorang hardcore Bigbang, tapi haruskah dalam keadaan seperti ini ia mengeluarkan jiwa fanboy-nya.

“TOP membunuh seorang staff IT NSS untuk mendapatkan data di server mereka .”

“Siapa lagi itu NSS?”

“Kau tidak pernah menonton drama IRIS?”

“Itu drama?” tanya Taehyung setengah berteriak, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.

Jungkook terkekeh. “Katanya kau bekerja sama dengan Jaksa Min ya? Orang yang menyebalkan itu?”

Taehyung hanya mengangguk. Kembali memfokuskan diri dengan informasi-informasi di layar komputer.

“Sepertinya kasus ini terlalu berbahaya, sebaiknya kau mengundurkan diri saja dari kasus ini.”

“Memangnya ada kasus yang tidak berbahaya?”

“Aku hanya khawatir kepadamu, Taehyung.” Jungkook menepuk-nepuk pundak Taehyung. “Jangan lupa diminum, nanti dingin.” Ia menunjuk segelas cokelat hangat yang kepulan uapnya masih bisa ia lihat. “Aku pulang dulu.” Pamit Jungkook.

“Terima kasih.”

Jeyvi berteriak saat melihat ada orang lain selain dirinya di sini. Seingatnya ia masih tidur seorang diri tadi malam, bagaimana bisa ketika terbangun ia melihat sesosok tubuh tertelungkup di sebelahnya. Ia menendang-nendang tubuh tersebut hingga melorot jatuh dari tempat tidur. “Siapa kau? Aku akan menelepon polisi! Tamat riwayatmu!” Jeyvi berteriak heboh dan membuka laci nakas di samping tempat tidurnya untuk mencari ponsel.

“Memangnya siapa lagi polisi yang kau kenal selain aku?”

Pergerakan Jeyvi terhenti saat mendengar suara berat orang tersebut. Suara yang sangat ia kenal. “Taehyung!” tudingnya.

“Ya, siapa lagi kalau bukan aku. Kau berharap ada laki-laki lain yang tidur disebelahmu?” Taehyung memegangi pinggangnya yang sakit akibat tendangan Jeyvi.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ya! Pertanyaanmu itu sangat menyinggungku!” Taehyung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur—bermaksud melanjutkan tidurnya. Ia sedang tidak ingin berdebat. Satu-satunya yang ingin ia lakukan hanyalah tidur dan mengistirahatkan kerja otaknya barang sejenak. Tapi lagi-lagi ia menerima tindak kekerasan oleh kekasihnya. Jeyvi memukul-mukul punggung Taehyung dengan emosi.

“Aku kelelahan.” Taehyung mulai kesal. Tidak cukupkah dirinya ditendang dan sekarang masih harus menghadapi kekesalan Jeyvi? Seharusnya ia yang merasa kesal di sini.

“Lantas kalau kelelahan kau bisa masuk ke kamarku kapan saja? Besok akan aku ganti password apartemenku. Dasar mesum!” teriak Jeyvi kesal.

“Sudah berapa kali aku mengajakmu untuk tinggal bersama— Auu!” lagi-lagi Taehyung merasakan sakit akibat pukulan Jeyvi. Kali ini di kepalanya.

“Keluar kau sekarang juga dari kamarku! Aku bilang keluar, kalau kau tidak pergi juga aku akan menelepon ibumu dan mengadukan kalau—“

“Berisik, aku lelah.”

Jeyvi berhenti berteriak saat jari-jari panjang Taehyung sudah merangkul pinggangnya dan memaksanya ikut berbaring di sebelah laki-laki itu.

“Jika kau masih berteriak lagi, aku pastikan kau berada dalam bahaya.” Bisik Taehyung masih dalam keadaan terpejam. Ia benar-benar kelelahan karena kasus baru yang harus ia selesaikan.

“Oh, setelah bangun aku akan membunuhmu Kim Taehyung.”

Sudah yang kesekian kalinya Taehyung mencari-cari data mengenai kasus barunya, tapi hasilnya nihil. Bahkan sampai ke recycle bin pun ia tidak bisa menemukannya.

“Kemana semua data-datanya?” tanya Taehyung gusar.

Jungkook yang duduk di sebelah meja Taehyung menggeser kursi berodanya, ingin tahu apa yang membuat Taehyung marah-marah pagi buta begini. “Ada apa?”

“Seseorang dengan sengaja menghapus data kasus pembunuhan yang sedang aku tangani.” Taehyung masih mencari-cari filenya yang hilang, berharap bisa menemukannya di dalam folder tersembunyi.

“Benarkah? Mungkin kau hanya lupa menyimpannya di mana. Memangnya siapa orang kurang kerjaan yang melakukan hal semacam itu.”

“Argggh! Aku bisa dipecat jika Seokjin mengetahuinya. Bagaimana kalau data-data itu tersebar?” Taehyung terduduk lemas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Seokjin akan memarahinya habis-habisan jika mengetahui betapa teledornya dirinya kali ini. Ia buru-buru merogoh saku celana dan mengambil ponsel untuk menghubungi Jeyvi. “Kau sedang sibuk? Bisa kau kirimkan data-data pembunuhan nona Jung?”

“Siapa yang kau hubungi?” Jungkook beranjak dari kursinya dan mendekati Taehyung yang baru saja memutuskan panggilan telepon. Sahabatnya itu tampak begitu berantakan. Rambutnya sudah basah oleh keringatnya sendiri, bahkan kemejanya sudah kusut.

“Jeyvi.”

“Kekasihmu?”

Taehyung hanya mengangguk pelan. “Dia juga sedang menyelidiki kasus itu.”

Jungkook menatap Taehyung. “Sebaiknya kau serahkan saja kasus ini kepada orang lain. Aku rasa ini semacam pertanda bahwa kau tidak diperkenankan menangani kasus ini.”

Taehyung tidak menanggapi Jungkook. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari kasus ini sehingga ia berusaha mati-matian untuk menyelesaikannya. Tapi sebagai polisi tidak mungkin ia memilih-milih kasus yang diberikan.

“Kau mau kemana?”

“Aku ingin memeriksa rekaman cctv ruangan ini.”

“Jangan terlalu serius. Mungkin ini hanya kesalahan teknis. Minta teknisi kita saja untuk melakukan recovery pada datamu.”

“Aku yakin ada seseorang yang sengaja menghapusnya.”

“Hey, coba kau lihat ini!” Jeyvi berderap ke meja makan dan meletakkan selembar foto di atasnya.

Taehyung berhenti memilah-milah sayur di piringnya dan melihat foto yang baru saja disodorkan oleh kekasihnya tersebut.

“Seorang rekanku baru saja mengirimkan foto ini.”

Taehyung memperhatikan foto itu dengan saksama. Punggung seorang asing tampak berdiri membelakangi kamera di depan apartemen nona Jung—asisten direktur perusahaan Stark yang satu minggu lalu ditemukan tewas keracunan di apatemennya.

“Bisa kau identifikasi siapa yang ada di foto ini?” Jeyvi menunjuk-nunjuk foto laki-laki asing tersebut.

Taehyung memiringkan kepala, menimbang-nimbang nasehat Jungkook beberapa hari terakhir ini. Jungkook benar, kasus ini terlalu menggemparkan dan berbahaya. Perusahaan tersebut adalah salah satu perusahaan yang paling berpengaruh di Korea. Banyak yang berspekulasi bahwa pembunuhan nona Jung hanya peringatan bagi direktur perusahaan tersebut. Sebenarnya dialah yang diincar, namun banyak pula yang berspekulasi apa yang diinginkan tersangka hanyalah data perangkat lunak terbaru yang sedang mereka kembangkan. Tidak ada yang tahu dengan pasti, hanya sebuah spekulasi. Betapa uang benar-benar pemicu yang begitu mengerikan. “Sebaiknya kau menarik diri dari kasus ini.” Nasehat Taehyung. “Kasus ini terlalu berbahaya, aku tidak ingin melihatmu berburu berita semacam ini.”

Jeyvi menarik kursi dan menghempaskan diri dengan kasar. “Kau tahu kalau ini adalah duniaku.”

“Tapi kasus ini terlalu berbahaya. Apalagi untuk seorang jurnalis sepertimu. Kau tahu banyak jurnalis yang hilang secara mendadak ketika memburu berita semacam ini.” Taehyung melingkarkan tangannya di bahu Jeyvi. “Aku hanya takut kau dalam bahaya.”

“Tapi kau tahu betapa aku mencintai pekerjaanku, Kim Taehyung.”

“Keselamatanmu lebih penting.” Taehyung mengecup puncak kepala Jeyvi sekilas. Mereka berdua sama-sama berkecimpung di dunia yang penuh resiko. Dan Taehyung berharap dengan adanya dirinya di samping Jeyvi bisa sedikit meminimalisir tingkat bahaya untuk gadis tersebut. “Aku tidak akan pernah bisa tenang selama kau masih menangani kasus ini.”

“Ck, terserah padamu sajalah.” Akhirnya Jeyvi mengalah. Ia tidak pernah bisa menolak jika Taehyung melarangnya berbuat sesuatu.

“Bagaimana dengan tawaranku?”

“Apa?”

“Tentang tinggal bersama.”

“Ya!” Jeyvi buru-buru melepaskan rangkulan Taehyung. “Sterilkan dulu otakmu itu!”

Taehyung terkekeh. “Kenapa sih? Pada akhirnya kan kita tetap akan tinggal di satu atap.”

“Jadi mulai besok kau akan melakukan pengintaian?”

Taehyung mengangguk bersemangat. Sekarang adalah saatnya bekerja di lapangan. Ia sudah lelah harus terus bekerja sama dengan jaksa menyebalkan bernama Min Yoongi ini.

“Jangan lupa selalu mengirimiku pesan perkembangannya.”

Taehyung mendesis, diantara semua alasan yang ia miliki untuk tidak menyukai Yoongi yang paling tidak disukainya adalah nada bicaranya yang terlalu kelewat bossy. Padahal tanpa bantuan dirinya semua penyelidikan ini tidak akan berjalan dengan lancar.

“Kau masih menangani kasus ini?” Tiba-tiba Jungkook masuk ke dalam ruangan dan menginterupsi pembicaraan Taehyung dan Yoongi. “Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, jangan sampai nanti kau mengeluh bahwa aku tidak memperingatkanmu!”

Taehyung hanya tersenyum konyol. “Aku tahu kau sangat menyayangiku Jeon Jungkook, tidak perlu secemas itu. Apa kau tidak tahu bahwa aku adalah pemegang sabuk hitam?”

“Aku tidak bercanda. Kau harus mempertimbangkan baik-baik peringatanku.”

“Aku masih berusaha untuk tetap percaya.”

Lagi-lagi suara tembakan terdengar.

“Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau tidak mau mendengarkan!”

“Kenapa kau melakukan semua ini?”

“Sekarang tidak ada lagi jalan keluar untuk kita berdua. Pilihannya hanya aku atau kau yang mati!”

“Jeon Jungkook, kenapa kau melakukan semua ini?”

“Apa alasan seperti itu masih diperlukan?” Jungkook ke luar dari balik tembok dan menembak ke tempat Taehyung bersembunyi. Lagi. Sudah hampir 10 menit berlalu dan mereka masih terus saling menembak.

Taehyung membalas, menembak Jungkook lagi berkali-kali. Setidaknya ia harus berhasil melukai kaki Jungkook agar lebih mempermudahnya membawa Jungkook kembali. “Aku selalu percaya padamu, Jungkook!”

Bukannya menjawab, Jungkook malah menembaki Taehyung lagi. Kali ini tembakannya tepat. Dari balik tembok tempat Taehyung bersembunyi ia bisa melihat darah segar keluar dari lengan kiri laki-laki yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri. “Apa gunanya kau mengatakan hal semacam itu? Toh kau tidak pernah tahu apa-apa tentang aku kan!” Bentak Jungkook. “Aku tahu semua setiap detil tentangmu, tapi tahu apa kau tentangku?”

Taehyung memegangi lengannya yang berdarah. Ia meringis merasakan sensasi peluru yang menembus kulitnya. Ditembak oleh rekan sendiri ternyata sensaninya jauh lebih mematikan. “Kalau begitu, beritahu aku apa yang tidak aku ketahui!” Tanpa ragu Taehyung keluar dari tembok persembunyiannya. Diikuti Jungkook dari tembok di seberang. Mereka sama-sama saling mengacungkan pistol. “Katakan padaku apa yang tidak aku ketahui agar aku punya alasan untuk membunuhmu!” Taehyung mengacungkan pistol miliknya di depan kepala Jungkook, begitu pula dengan Jungkook. “Yang aku tahu, kau adalah seorang pengkhianat Jeon Jungkook.” Sambung Taehyung, ia berharap Jungkook akan goyah.

Jungkook menatap Taehyung tajam. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat menurunkan pistol.

Taehyung merasa begitu terpukul karena mengacungkan pistol kepada sahabat yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Tapi ia tidak menyangka bahwa Jungkooklah yang melakukan semua ini. Pembunuhan nona Jung, hilangnya data-data mengenai kasus nona Jung di komputernya. Semuanya adalah ulah Jungkook.

Sejak data di komputernya hilang, ia sadar bahwa ada yang sengaja menghapusnya karena beberapa posisi barang miliknya berubah. Ia tahu pagi itu petugas kebersihan belum membersihkan mejanya. Apalagi terlalu kebetulan jika rekaman cctv di dalam ruang kerja mereka malam itu rusak, itu semua jelas sudah terencana. Tapi ia tidak pernah mencurigai Jungkook sampai Jeyvi memperlihatkan foto seorang asing di depan apartemen nona Jung.

Secara diam-diam Taehyung meminta staff IT untuk mengidentifikasi foto tersebut, dan seperti dugaannya, 95% itu adalah Jungkook. Ia sengaja menyembunyikan bukti itu dari divisinya dan juga Yoongi. Ia berharap masih mampu menghentikan Jungkook melakukan pembunuhan terhadap direktur perusahaan Stark. Tapi lihat apa yang terjadi saat ini. Mereka saling mengacungkan pistol, menunggu saat yang tepat untuk saling menghabisi.

“Kau memang benar-benar tidak pernah mengenalku, Kim Taehyung!”

“Kenapa kau berniat membunuh direktur perusahaan ini?”

“Ck, kau benar-benar tidak mengenalku ya. Sekarang, minggir! Biarkan aku membunuh si tua bangka itu dan aku akan membiarkanmu tetap hidup!”

“Kau sudah terkepung. Timku sudah mengepung gedung ini Jungkook. Dalam beberapa menit mereka akan sampai di gudang ini. Jika kau menyerah aku masih bisa menyelamatkanmu.”

“Bukan aku yang perlu diselamatkan!” teriak Jungkook.

“Jungkook, kita masih bisa memperbaiki semua ini.”

Jungkook mengeram. Memperbaiki katanya? Apa yang bisa diperbaiki? Yang ia butuhkan bukanlah perbaikan, melainkan uang. Hanya uang yang ia butuhkan saat ini. Ia menurunkan tangannya dan menembak kaki kanan Taehyung, kemudian beralih ke kaki kiri Taehyung. “Kau bilang timmu sudah mengepung kan? Aku rasa kau masih bisa diselamatkan.”

Taehyung tumbang. Ia sudah banyak kehilangan darah. Melihat Jungkook yang mulai menjauh, dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya ia menembak kaki Jungkook untuk menghentikan pergerakan laki-laki itu. Jungkook tersungkur karena serangan mendadak Taehyung. Taehyung menggeliat, berusaha merangkak dan mendekati Jungkook. Jungkook tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia kembali menembaki Taehyung dengan brutal. Kali ini dada Taehyung yang menjadi sasarannya. Taehyung menggelepar di lantai. Kemeja putihnya sudah berubah menjadi merah secara keseluruhan. Tapi ia tidak mau menyerah, ia yakin masih bisa menghentikan Jungkook. Jauh lebih mudah baginya membiarkan Jungkook menyerangnya daripada membiarkan sahabatnya itu menjadi pembunuh. Lagi. Cukup nona Jung yang menjadi korbannya, anggap saja itu kesalahan karena baginya Jungkook tidak pernah menjadi pembunuh dan tidak akan pernah.

Jungkook mencampakkan pistolnya, pelurunya telah habis. Ia memejamkan mata ketika melihat keadaan Taehyung. Ia tidak pernah membayangkan situasi seperti ini bisa terjadi diantara mereka. Ia tidak pernah berniat melukai Taehyung. Tidak pernah sekali pun. “Aku butuh uang, Kim Taehyung! Aku butuh uang untuk pengobatan adikku! Seseorang menawarkan pekerjaan ini kepadaku. Jika aku berhasil membunuh si tua bangka itu aku bisa mendapatkan uang untuk operasi adikku!”

Taehyung terbatuk—darah. “Bodoh.” Ujarnya pelan bahkan hampir tak terdengar. “Kalau kau butuh uang tinggal bilang padaku saja kan.” Taehyung tersengal. Ia rasa ia tidak akan bisa tinggal satu atap dengan Jeyvi, tapi setidaknya ia tahu apa yang melatarbelakangi Jungkook melakukan semua tindakan bodoh ini. Ia tahu Jungkook tidak akan pernah melakukan pekerjaan hina seperti ini tanpa alasan yang kuat.

Jungkook baru saja akan mendekat ke arah Taehyung saat pasukan penyelamat datang dan berteriak memerintahkannya untuk tidak bergerak. Taehyung mengangkat tangan, memberikan isyarat untuk tidak menembak Jungkook. Melihat kondisi Taehyung membuat tim penyelamat berpikiran bahwa Jungkook adalah bahaya. Ketika Jungkook berusaha meraih pistol Taehyung yang tergeletak tak jauh dari kakinya, tim penyelamat menembak Jungkook tanpa henti. Jungkook tidak bisa menghindar. Satu tembakan terakhir dan Jungkook jatuh tersungkur, menimpa Taehyung yang hanya bisa melihat bagaimana Jungkook tewas di hadapannya sendiri.

Kini wajah dan tubuh Taehyung tidak hanya bermandikan darah miliknya saja, ada darah Jungkook yang tercampur di sana. Taehyung tersenyum miris. Bukankah darah membuat kita bersaudara? Ia berusaha memeluk Jungkook yang sudah tidak bernyawa. Peluru menembus dada, kepala dan hampir seluruh tubuh Jungkook—tidak meninggalkan barang semenit pun untuk saling mengucap salam perpisahan.

Seperti rekaman yang diputar, semua kenangan-kenangan ketika ia bersama Jungkook muncul. Bagaimana dulu mereka menjalani masa-masa pelatihan bersama. Bagaimana dulu ia selalu memarahi Jungkook yang selalu pulang larut. Bagaimana dulu mereka berjanji untuk saling melindungi. Tapi kenapa Jungkook tidak pernah menceritakan kalau ia butuh uang—itu yang paling Taehyung sesali. Taehyung paling benci jika akar suatu masalah hanyalah karena uang. Terlalu sederhana untuk memutuskan untuk saling mengkhianati.

Mungkin seharusnya mereka dulu berjanji untuk mati bersama, di hari ini, di sini.

FIN

NOTE : Maaf ya kalau fanfic crime-nya nggak sesuai harapan. Aku bahkan nggak paham ini bener-bener crime apa nggak. LOL. Bener-bener nggak punya ide lagi & ini cuma dikerjain dalam beberapa jam. Aku juga nggak terlalu bisa genre crime. HA HA HA. Sekali lagi maaf ya lama & nggak sesuai harapan, ceritanya nggak nyambung dan endingnya nggak jelas, kkk. Maklum, udah masuk kuliah & yeah banyak tekanan yang harus berusaha diselesaikan. But, I hope you like it. Once again congratulation be the best comentator of the month, august edition. Happy reading ^^

Advertisements