Tags

J!

© 2014 JULIAN YOOK

Previous Part

Cast: Suga and You.

Support cast: Kim Taehyung.

Genre: Family, Life, lil bit science fiction.

Rating: PG – 17

Disclaimer: I don’t own anything unless storyline. Cast belong to God. Ghost reader forbidden. Silent reader rott in the hell. Thx.

Summary: Cerita tentang gadis berusia sepuluh tahun bernama Jaesi Kim yang mencari ayahnya. Dia anak dari pasangan lesbian yang lahir dari teknologi tinggi bank sperma dan artificial insemination. Sampai secara tidak sengaja dia bertemu Suga. Ditambah dengan munculnya makhluk yang ia curigai sebagai titisan alien bernama Kim Taehyung.

-ooo-

“Om mau bantu aku?”

“Bantu apa?”

“Mencari ayah.” Ada jeda sejenak. Kudengar suara gemerisik seprai ketika kepalanya bergerak, menoleh ke arahku. “Om mau bantu aku kan?”

Ia mengangguk, menatapku penuh belas kasih. “Sudah mengatur rencana?”

“Belum.” Aku tersenyum singkat. “Tapi aku tahu satu situs yang bisa membantu. Aku belum pernah mengunjunginya. Tapi dari hasil membaca di internet, orang-orang bilang situs itu bisa mempertemukan mereka dengan saudara atau saudari dari sperma yang sama, bahkan ada yang bisa bertemu ibu dan ayah biologis mereka.”

“Oh… begitu.”

“Tapi aku bingung, jika benar aku ini diambil dari Amerika, berarti kemungkinan aku punya saudara di sana? Berarti aku butuh uang untuk pergi kesana kan kalau ingin bertemu mereka? Tapi aku harus cari uang di mana?”

“Bantu-bantu menjaga toko alat musikku saja, bagaimana? Sekalian mengisi waktu luang.”

Aku termenung sebentar. “Boleh juga. Tapi, Om. Ibu punya satu tempat rahasia. Dia menyimpan uangnya untuk keperluanku. Uang itu disimpan di dalam brangkas sudah sejak lama, jauh sebelum kejadian ini,” aku memaparkan, membayangkan pintu brangkas di perpustakaan kecil milik ibu: pintu logamnya yang kokoh dan mengkilat juga letaknya yang tersembunyi. Wow… keren. “Mungkin kita bisa menggabungkan uang itu juga, setuju?” Aku memandanginya penasaran.

“Jadi tiga puluh hari ini kamu bertahan dengan uang itu?”

“Iya! Aku hebat kan, Om? Bisa hidup sampai sekarang?”

Ia terkekeh. “Memang ajaib,” tukasnya, menggelengkan kepala.

Aku jadi ingat hari pertama ditinggal ibu. Pandanganku merayap-rayap sekitar meja makan. Di situ ada satu bungkus roti gandum lapis madu. Aku makan saja. Ternyata hanya cukup satu hari. Untuk pertama kalinya aku berpikir besok makan apa? Apa aku masih hidup? Ternyata itu semua lebih rumit dari sekadar memikirkan PR. Pantas saja tiap ada anak yang tidak membuat PR, ibu guru suka marah-marah sambil bertanya: apa yang jadi beban anak kecil seperti kalian? Makan tinggal makan. Tidak perlu berpikir besok bisa makan atau tidak. Tidak seperti ibu. Cukup kerjakan PR lalu belajar. Itu saja. Sekarang aku mengerti bahwa perkataan ibu guru itu benar.

Jadi hari-hari selama ibu tidak ada, aku mulai pergi ke supermarket sendiri dengan kaki sedikit berjinjit waktu membayar di kasir. Dan rasa-rasanya aku seperti anak laki-laki di Home Alone. Entah Home Alone yang ke berapa. Tapi meski begitu, aku tetap merasa sedang diawasi oleh ibu dan Tuhan. Jadi aku tetap pergi ke sekolah. Pasti ibu ingin aku tetap sekolah, setidaknya sampai insiden bunuh diri itu terjadi.

Meski pada perjanjian awal aku seharusnya bekerja, tapi nyatanya, aku merasa seakan jadi keponakan Om Suga. Karyawan di sini membantuku dan mengajari banyak hal. Seperti seorang ibu yang mengajari anaknya membaca, begitu telaten dan sabar. Cukup menyenangkan.

Hari ini kami kedatangan pelanggan seorang lelaki sebayaku. Atau mungkin sedikit lebih tua daripada aku. Dia mencari pianika dan aku menunjukkannya banyak pilihan seperti yang telah diajarkan.

“Namamu siapa?”

Sentuhan tanganku pada tuts pianika terhenti dan memandanginya heran. “Oh? Namaku? Aku Jaesi Kim.”

“Aku Taehyung Kim,” kenalnya, menyodorkan tangan sambil menghirup ingus.

“Oh, i-iya. Salam kenal ya?” Tanganku bertemu dengan miliknya. Ia tersenyum lebar dan kotak. Seperti emoji yang sering aku lihat di iphone ibu. “Jadi… kamu mau beli pianika yang mana?”

“Kamu kelas berapa? Aku kelas enam, sebentar lagi masuk sekolah menengah.”

“Aku kelas empat,” jawabku singkat.

Dia kembali tersenyum lebar, menunjuk pianika warna hitam glossy. “Aku pilih yang itu saja.”

Setelah urusannya selesai, dari jendela kaca kulihat dia berjalan sambil melompat-lompat dan menoleh sekilas. Dengan satu tangannya yang menjinjing pianika, dia hampir saja terjungkal. Tawaku hampir saja tersembur.

“Bye Bye! Jaesi Kim!” serunya, mendadahiku dari kejauhan.

Aku mengembuskan napas dan menggeleng. “Bye Bye!”

Kukira itu kunjungan terakhirnya, sampai pada hari minggu anak laki-laki itu kembali datang.

“Ajari aku bermain pianika.”

Aku termangu, gerak kemocengku yang sedang meraih permukaan kaca sontak terhenti. Aku dan anak lelaki itu mematung, saling menatap.

“K-Kamu…,” ucapku terbata.

“Aku Taehyung Kim.”

“I-Iya aku masih ingat. Maksudku—”

“Ajari aku bermain pianika.” Ia mengulang ucapannya dengan nada sama.

“Oke….”

Sebenarnya aku sama sekali belum pernah bermain alat musik itu. Tapi aku tetap mencoba. Karena khawatir mengganggu pelanggan yang lain, jadi kuajak Taehyung ke rooftop, satu tingkat di atas tempatku tidur. Di sana ada kanopi buram yang memayungi meja kecil dan sepasang kursi. Begitu melangkahkan kaki ke luar, angin sepoi menyambut kami. Kulihat jemuran di sisi lain turut melambai-lambai. Kami bergegas duduk dan meletakkan pianika itu di tengah meja.

“Kamu mau main lagu apa?” aku bertanya, memandangi wajahnya yang polos.

“Coba dengarkan ini.” Dia memasangkan satu headset ke telingaku, sementara satu lagi di telinganya. Ia sibuk sebentar menekan tombol di suatu benda. Jika kulihat-lihat itu semacam ipod. “Terdengar?”

Aku mengangguk ringan. “Yiruma, Kiss the Rain kan?”

“Tepat! Aku ingin main lagu itu untuk tes kelas musik. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Dan tuts mana yang harus aku tekan? Aku bingung.” Ia mengambil kembali headset dan menyimpan benda itu di atas meja. “Jadi aku harus bagaimana?”

“Oh… untuk tes ya….” Aku mengangguk, menimbang-nimbang. “Coba aku ingin dengar lagunya lagi.”

Dia menggeser ipod beserta headsetnya mendekatiku. Aku meraihnya dan mulai mendengarkan dengan saksama.

“Oke, akan aku coba.”

Aku melihat sekilas wajah Taehyung yang ditekuk di atas meja. Aku mengembuskan napas. Mulai meniup pianika dan menekan tuts-tuts itu.

“Nanana na na… nana nana na na…,” anak laki-laki itu mengimbangi tiupanku dengan senang. Padahalkan ini lagu sedih…

“Ahhh! Jaesi!” Dia bertepuk tangan heboh begitu permainanku selesai. Aku mengernyit. “Daebak! Daebak!”

“Aku cuma menyocokkan nadanya saja. Mengira-ngira apakah yang selanjutnya tinggi atau rendah. Seperti itu,” ucapku pelan.

“Waaah! Ajari aku! Sini! Sini! Jadi aku harus tekan tuts yang mana dulu?! Yang ini atau yang mana?” Dia dengan semangat meraih pianikanya dan menyisipkan bibir selang di antara bibirnya. “Jhadi akhu harush menekan yang mana dhulu?” tanyanya tak begitu jelas, lantas ia kembali menghirup ingus sampai kepalanya tertarik ke belakang.

Aku menyondongkan tubuh ke depan. “Yang ini dulu. Lalu yang ini.” Aku terdiam sebentar. “Bagaimana kalau aku tulis dulu notnya?”

Ia mengangguk kencang. “Boleh!”

Aku kembali memainkan lagunya sedikit-sedikit, kemudian menyalin notnya ke buku tulis Taehyung. Sesekali kulirik dia sedang antusias melihat gerak tanganku, bibirnya sampai tak terkatup penuh. Aku meringis kecil. Uhh, sebentar lagi selesai.

“Ini, kamu tinggal lihat saja dan hafalkan. Oh, iya, tanda yang ini berarti kamu mengulang bagian yang ini. Mengerti kan?”

“Wahh… lumayan banyak juga ya.”

“Itu sebenarnya hanya pengulangan. Kamu pasti bisa! Fighting!”

Menggosok hidungnya, ia kemudian dengan tekun mencoba not yang kuberikan. Aku menyandarkan punggung dan mengembuskan napas lelah. Anak laki-laki itu terkadang berhenti sebentar untuk menghirup ingus atau melapnya dengan lengan baju. Dia unik sekali… seperti
alien beringus…

“Ahh! Aku bisa berlatih lagi di rumah!” Aku yang hampir terlelap langsung tersentak dan menegakkan tulang belakang lagi.

“Hmm, Jaesi? Mau bantu aku mengerjakan PR?”

“PR? PR apa?”

“Sains.”

Aku mengerling ke arah lain. Ada langit berwarna biru dan gedung-gedung tinggi yang mencuat. Suasana pagi yang masih bagus untuk berpikir. “Boleh, mana coba aku ingin lihat.”

Dia menggeser bukunya. Bisa kurasakan mataku mulai mengecil, membaca kalimat itu pelan, “Di mana tumbuhan menyimpan cadangan makanannya?” Aku berkerut samar, kembali mengeja, “dan kamu jawab… di kulkas.” Aku memandanginya sangsi. “Kamu pasti bercanda?”

Ia hanya menyengir kambing. “Jadi harusnya aku jawab apa?” tanyanya dengan riang.

“Setahuku tumbuhan menyimpan cadangan makanannya di buah.”

“Oh? Buah ya,” ia menggumam, “Aku pikir di kulkas!”

Aku meringis. Yang benar saja….

“Oke, oke! Jadi yang benar itu di buah ya,” dia kembali bergumam, menghapus dan menulis begitu dekat dengan meja, seolah ia akan mengecupnya. Dengan lidah yang terjulur menjilati bibir, ia benar-benar tampak seperti anak kecil. Meski dia memang anak kecil. Tapi, entah kenapa aku jadi merasa dia yang lebih kecil daripada aku.

“Jaesi, kamu sekolah di mana?” ujarnya meletakkan pensil di atas buku.

“Aku? Aku sedang tidak sekolah.”

“Pasti karena kamu sudah pintar?”

“Ah? Tidak. Aku memang sedang tidak ingin sekolah. Ada sedikit masalah.”

“Ohh.” Dia bersandar pada kursi. “Tapi tidak apa-apa kan kalau nanti aku datang ke sini lagi untuk menanyakan PR?”

“Selagi aku masih bisa, tidak masalah hehe.”

Ia tersenyum lebar dan menghirup ingus. “Thankyou! Thankyou!”

“Oh, rupanya kalian di sini.” Aku menoleh, Om Suga sudah berdiri di samping kursiku dan menyandarkan sikunya. “Sedang apa, Bocah?” tanyanya, sok asik.

“Aku Taehyung Kim.” Aku melirik tanpa menggerakkan kepala. Orang itu berbicara dengan nada yang persis sama ketika mengenalkan diri kepadaku. Oh, yah, dia seperti robot yang sudah disetting.

“Aku dan Taehyung sedang belajar pianika bersama. Lalu tadi dia memintaku membantunya mengerjakan PR.”

“Bagus, bagus.”

“Jaesi anak yang pintar!” seru Taehyung tiba-tiba.

“Oh? Benarkah?” tanya Om Suga, terdengar ragu.

“Dia memainkan musik setelah mendengarnya beberapa kali! Keren kan… umm.. Om? Eh maksudku—”

“Suga.”

Taehyung mengangguk. “Oh, oke. Jadi, Jaesi keren kan, Suga ahjussi?”

“Suga ahjussi?!”

“Suga ahjussi yang saya hormati.” Taehyung bangkit dari kursinya dan membungkuk a la pelayan istana. “Toko alat musik anda bagus sekali.”

Om Suga melirik ke arahku. Seolah bertanya apa yang salah dengan anak laki-laki di hadapannya. Tapi aku hanya melejitkan bahu dan mendesis mungkin itu sudah bawaan lahir. Om Suga meremas dada dan tak berkata apapun. Tapi dari ekspresinya aku yakin dia tenggalam dalam agonia dan ketidakmengertian mendalam tentang sosok Taehyung. Ketika kulihat, Taehyung sama sekali tak menunjukkan gejala tersinggung. Dia hanya kembali menyengir sampai gigi bawahnya yang kecil-kecil itu terlihat. Kami berdua memandanginya dalam diam beberapa detik yang terasa lama dan canggung.

Pada akhirnya aku dituntun Om Suga di tangan kanan sementara Taehyung di tangan kiri. Kami bertiga menuruni tangga rooftop yang memang cukup dijejaki tiga orang secara mendatar, terlebih kami semua kecil-kecil. Melewati lantai tempatku menginap, Taehyung berbicara memecah hening, “itu kamar Jaesi?”

Aku melirik pintu kamarku yang terbuka setengah. “Iya.”

“Wah, kenapa tidak tinggal dengan Suga ahjussi saja? Suga ahjussi tidak tinggal di sini kan? Kamar ini… sempit dan bersebelahan dengan pintu gudang. Sangat tidak layak.”

Ternyata selain seperti alien, dia juga terlalu jujur. Kuharap Om Suga tidak tersinggung karena memang kamar ini sempit dan sumpek.

“Bawa saja Jaesi ke apartemenmu, Suga ahjussi.”

“Tidak biasa.” Om Suga sudah mau memalingkan wajah, tapi dia buru-buru kembali. “Dan jangan panggil aku Suga ahjussi.”

“Kenapa tidak bisa?”

Om Suga terdiam beberapa saat. Alisnya berkerut seperti hampir meledakkan emosi. “Pokoknya tidak bisa!” Ia menggeram. “Pokoknya Jaesi akan tetap tinggal di sini,” ucapnya lagi, kali ini terdengar lebih menguasai diri.

“Iya, Taehyung, lagipula aku tidak masalah tidur di situ. Jadi tidak perlu keluar ongkos untuk ke toko.”

“Yah, terserahlah.” Taehyung mengibaskan tangannya ke udara.

Di lantai paling bawah Om Suga langsung berbelok ke ruangannya. Aku dan Taehyung berjalan sampai ke luar toko bersama-sama. Setelah memastikan tas pianikanya tertutup rapat, ia menyandang ransel lainnya di pundak. Kupikir itu mungkin tas sekolahnya. Ia memastikan penampilannya baik-baik saja sebentar lalu berbalik menatapku sambil sesekali menghirup ingus.

“Ingusku tercekat di rongga hidung begitu mendengar kamu tidak bisa tinggal di apartemennya,” ia berbisik, menyondongkan tubuh. “Apa-apaan sih orang itu? Masa tega membiarkan kamu tidur di tempat tidak layak huni?”

Aku mengembuskan napas dan mengangkat bahu. “Tidak apa-apa kok, Taehyung. Bisa tinggal di sini saja aku sudah bersyukur.”

“Ahh, oke oke!” Dia berdecak, bola matanya berputar satu kali. “Aku pulang dulu ya! Annyeong!”

Annyeong!”

Kulihat punggung kecilnya semakin menjauh. Tangannya menenteng tas pianika. Setengah pantatnya ditutup oleh ransel yang menggantung seperti kelebihan muatan. Ia berjalan dengan riang dan lenyap ditelan jalan berbelok.

Ahh, anak laki-laki itu. Dia seperti tidak punya beban.

-ooo-

“Kalian bertemu di mana?”

Aku terdiam, melihat ekspresi tidak senang Om Suga di belakang. Aku hanya bisa merengut, “di toko ini, Om.”

“Hah? Yang benar saja?!”

“Habis di mana lagi? Aku kan tiap hari di sini.”

Om Suga membenarkan posisi dudukku di atas pahanya. “Iya, benar juga sih. Tapi kukira dia teman sekolahmu.”

“Bukan.” Aku kembali menghadap ke layar komputer.

Hari ini sudah cukup berat dengan kehadiran pelanggan bernama Taehyung. Aku dan Om Suga memulai pencarian ayah dengan membuka situs yang kumaksud hari-hari kemarin pada malam hari.

Di dalam ruangannya yang kecil tapi nyaman, kutemukan itu semacam studio kecil-kecilan. Ada sofa yang hanya cukup diduduki dua orang, merapat dengan dinding dekat pintu. Permukaannya mengkilap dilapisi bahan kulit berwarna hitam. Ada papan luncur dipajang di dinding. Dan yang paling penting adalah komputer dengan layar dua di ujung ruangan. Kursi di hadapannya punya roda-roda kecil, jadi bisa dipakai berputar. Bagian kepalanya juga ada tumpukan yang lebih empuk. Cocok untuk berlama-lama. Meski kalau sambil melahun anak usia sepuluh tahun yang berbadan besar tetap saja tidak akan tahan lama-lama. Om Suga pasti akan pegal melahunku seperti ini.

Aku mulai menekan tombol-tombol keyboard—cenderung menggelitiknya—dan menuliskan kalimat kunci: Donor Siblings Registry. Nama situs yang memungkinkan aku bertemu dengan sanak-saudara dari semen yang sama. Situs itu muncul paling pertama, aku langsung mengkliknya dan aksara alphabetic muncul cepat memenuhi layar.

Om Suga di belakangku memajukan kepalanya sampai wajah kami sejajar. Kalau aku menoleh mungkin bisa kulihat wajahnya kebingungan, sama seperti bicaranya yang dipenuhi nada heran, “hangulnya mana? Ini bahkan bahasa inggris semua. Kamu bisa mengerti ini semua? Kalau kamu bertanya ini semua artinya apa, maaf jangan tanya aku karena kamu juga tahu sendiri kan kalau aku hanya bisa sedi—”

“Ssst.” Aku meng-scroll layar itu ke bawah, membaca lebih lanjut. “Aku bisa bahasa inggris sedikit-sedikit,” ucapku pelan.

“Kita pakai google translate saja kalau begitu.”

“Jangan. Hasilnya malah buat aku tambah pusing.” Aku melihat-lihat situs dengan dominasi warna biru langit itu. Kucoba untuk mengklik tab ‘registry by clinic’ mungkin aku bisa terbantu. Di sana ada beberapa hal yang mesti kita isi. Pertama-tama pilihan negara. Aku mengklik US dan muncullah daftar nama-nama klinik yang tersedia. Umm, aku mencoba mengingat… kalau tidak salah ibu bilang klinikku adalah California Cryobank. Dan… ketemu! Setelah mengklik itu, yang kudapati adalah tabel yang panjang. Ada ciri-ciri pendonor, kode pendonor yang keduanya bisa disubmit oleh anak hasil, orangtua penerima donor dan bahkan si pendonor itu sendiri. Waw… mereka orang-orang yang mencari! Orangtua mencari pendonor yang telah membuat dia berhasil punya anak, anak mencari orangtua dan bahkan pendonor mencari anak. Ini semua luar biasa.

Pertama-tama kami harus mendaftar sebagai anggota untuk bisa mengisi data seperti mereka. Tapi itu percuma. Aku bahkan tidak tahu ciri-ciri atau kode nomor dari pendonorku. Ibu tidak bilang apa-apa selain California Cryobank, tempatku diambil. Cuma dia satu-satunya yang tahu tentang semua informasi itu. Berarti aku harus bertemu ibu dulu untuk bisa mengisi data-data di sini! Ahhrgg… padahal aku juga tidak tahu ibu di mana! Daegu itu luasss.

“Bisa?”

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa mengisi data-data di sini. Cuma ibu yang tahu.” Kugerakkan pointer mouse ke tabel. “Seperti di kolom yang ini, anak hasil donor yang memosting datanya.” Aku menunjuk sebuah gambar kecil tanda anak. “Jadi di sini dia bilang ayahnya itu diberi kode 546 waktu di klinik California Cryobank. Ciri-cirinya… hmm… grey eyes, start donoring from 1989-1993. Norwegian. Blood type AB.”

“Kode ayahmu berapa?”

“Itu masalahnya. Aku tidak tahu.”

Aku mencoba menjelajah situs itu lagi. Kutemukan tulisan tentang cerita sukses. Lumayan banyak juga yang memostingnya di sini. Aku mengklik salah satu dan muncul cerita. Meski itu bahasa inggris tapi aku masih bisa mengerti.

I met a new family

Posted on 07/27/14

One day I met my biological sister she was 3 years younger than me. I am 9 years old but we had a lot in common. We did a lot of swimming and laughing and playing pokemon. On the second night of the vocation I told my mom: when I first met my sister I was shy but now its like I have known her for my whole life. And what is great is that she has an adopted brother who is extra fun! it was a 5 or 6 hours plane flight for me and a 3 or 4 hours car trip for her but it was totally worth it! Now we will know each other for the rest of our lives.

Aku tersenyum membaca tulisan itu. Dia sangat beruntung bisa bertemu saudara biologisnya. Yang paling menyenangkan: dia bermain pokemon.

“Apa katanya?” Om Suga angkat bicara. Mungkin dia penasaran karena aku senyum-senyum sendiri. Kujelaskan padanya pelan-pelan bahwa ini adalah salah satu cerita sukses dari pengguna situs Donor Siblings Registry. Anak yang memosting tulisan ini bercerita kalau dia sudah bertemu dengan saudara biologisnya. Mereka berenang, tertawa dan bermain pokemon. Dia sembilan tahun dan saudaranya tiga tahun lebih muda. Mereka bahkan lebih muda daripada aku. Tapi mereka bisa saling menemukan. Itu semua keren…

“Ka-kamu mengerti semua tulisan ini?”

“He-em.” Aku mengangguk, mulai melihat-lihat tampilan situs itu lagi.

“Yang benar saja, Jaesi! Kamu bahkan baru sepuluh tahun. Dan kamu mengerti semua tulisan ini?”

Aku menoleh sekilas. “Aku memang mengerti bahasa inggris sedikit-sedikit. Ya, kalau misalkan aku memang diambil dari Amerika, bukankah memang seharusnya aku mengerti bahasa inggris? Mereka pakai bahasa inggris, kan? Seharusnya bahasa itu sudah mengalir di sini.” Kutunjuk lenganku dan menyusurinya sekilas. “Mengalir bersama DNA-ku.”

“Tapi kamu yakin bisa bertemu dengan ayahmu? Situs ini dipenuhi banyak orang. Bagaimana bisa kamu memastikan salah satunya adalah ayahmu? Itu pasti sulit harus mencari dari sekian banyak. Omong-omong, Korea tidak menginjinkan jual beli sperma lagipula.”

“Begini, Om. Aku tahu logika memang menggiring kita dari satu fakta ke fakta lain. Tapi imajinasi… Om tahu kekuatannya seperti apa?”

“Apa?” Dia mengangkat dagunya sekilas.

“Imajinasi bisa membawaku dari dunia ini ke dunia sana. Dari tempat ini ke tempat lain. Bahkan jika sekarang aku sedang duduk, imajinasi membawaku pergi jauh melintasi ruang tanpa harus berkendara.” Aku mengawang sebentar. “Om! Sekarang coba tebak apa yang imajinasiku lakukan.”

Kami bertukar pandang lama. Dari caranya menatap, ia seperti sedang berusaha menembus lapisan mataku sampai memantul bertemu tempurung di paling ujung. Dia menatapku dalam, mencari-cari dan penuh terkaan. “Yang kau sedang kamu pikirkan adalah….”

Matanya yang ada di depan mataku seketika lenyap. Aku masih memandanginya, tapi kesadaran yang pergi membuatku seakan-akan tidak ada di sini. Jauh dalam ruang di otakku, sesuatu membuatku melayang… jauh meninggalkan realitas. Di sana aku melihat Om Suga melayang di ruang angkasa. Dia pakai kaos singlet berwarna putih lalu celananya adalah kain tipis berwarna merah khas pemain basket. Kami melayang dengan latar hitam dan bintik yang berkerlip. Ini semesta… ruang angkasa yang selalu kukagumi. Debu-debu kosmik… pusaran galaxy seperti pasir yang dibentuk melingkar oleh jari… dan yang lainnya berbentuk seperti sekuntum mawar. Seakan berenang di dalam, air aku bergerak mendekati Om Suga. Kami berpandangan di sana. Aku melihat wajahnya dekat. Begitu dekat hingga aku menyadari… bulan sabit sudah dipindahkan ke wajahnya, menjelma jadi sepasang. Aku lalu memeluk Om Suga erat. Sangat erat….

“Aku-tidak-bisa.” Aku mengerjap dan menyadari lelaki itu berbicara. Alisnya terus saja berkerut-kerut, sama seperti bibirnya. “Aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikiranmu atau yang sedang kamu imajinasikan atau,” ia mengangkat bahunya sebentar, “sejauh mana pikiran itu membawamu. Aku tidak tahu.”

Aku menarik napas panjang. “Itulah! Imajinasi membawa kita pergi dan berharap. Mungkin kedengarannya mustahil aku bisa bertemu ayah. Aku tidak tahu dia keturunan mana. Meski dia menyimpanku di California Cryobank, tapi tempat itu nyatanya diisi oleh semen dari berbagai Negara. Norwegia, Australia, Inggris dan masih banyak lagi. Dan dari sekian banyak, aku hanya punya satu ayah. Satu kemungkinan dari sekian banyak probabilitas. Kedengarannya sulit. Tapi imajinasi membawaku untuk percaya. Apapun itu selama kita yakin, pasti bisa jadi nyata.”

“Jaesi…” ia menggeleng. “Bahasamu….”

“Iya, kenapa?”

“Kamu pasti didonor oleh ayah yang cerdas. Aku yakin ayahmu punya IQ yang tinggi.”

Aku terkekeh. “Apa iya?”

“Mungkin ayahmu adalah jenius yang menyumbangkan spermanya demi kebaikan umat manusia.”

Aku meninju pundaknya santai. “Yang benar, Om?”

“Iya, aku yakin.” Dia berhenti sebentar dan menyambung dengan nada mengingat. “Jadi, imajinasi membuatmu memikirkan hal-hal yang kamu inginkan kemudian logika membantumu merealisasikannya, hmm, begitu maksudnya?”

Aku mengangguk. “Om tahu kan Beethoven? Dia bahkan menciptakan maha karyanya ketika dia sudah tidak bisa mendengar. Coba banyangkan, tidak bisa mendengar tapi bisa menghasilkan musik masterpiece! Apa itu masuk akal? Kedengarannya tidak. Tapi itulah yang terjadi. Imajinasi membuatku berharap dan mendobrak apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.”

Om Suga membenarkan posisi tubuhku di atas pahanya. Dia kembali menerawang, mungkin mencari-cari kalimat tanya yang pas. “Kamu… pasti suka membaca?” ia bertanya dengan hati-hati, “bacaanmu apa?”

“Aku? Oh, aku suka apa saja. Tapi sebenarnya aku lebih tertarik pada hal-hal yang mungkin menurut orang-orang itu agak aneh. Apalagi untuk didalami anak seuisaku. Semisal… aku tertarik sekali pada misteri segitiga Bermuda, pembangunan piramida dan teknologi yang diterapkan pada masa itu. Om! Coba bayangkan,” dan tanpa bisa kupredikisi ternyata nada bicaraku berubah seolah baru diisi energi, “jaman Mesir kuno dan orang-orang itu sudah bisa membangun piramida. Prisma besar dengan hitungan yang pas. Mayat-mayat diawetkan bertahan sampai sekarang. Juga teknologi air panas. Mereka mandi dengan air yang panas, teknologi apa yang mereka buat pada masa itu? Aku jadi berpikir mungkin mereka adalah awal-awal ilmu ditemukan. Orang-orang yang menyinari dunia dengan ilmu waktu yang lain masih tenggelam pada kebodohan. Yah, tapi ini cuma prediksi anak usia sepuluh tahun, jadi jangan terlalu didengarkan.”

Wajahnya terperangah beberapa saat. Ia mengedip lambat. “Ka-kalau sekarang? Apa yang kamu sukai?”

“Aku… aku sedang tertarik pada tata surya… luar angkasa….” Karena aku melihat ada bulan sabit dipindahkan dari langit. Sesederhana itu….

-ooo-

Sejujurnya aku penasaran dengan California cryobank. Seperti apa sih tempatnya? Jadi kucari saja dan menemukan situsnya. Waw, begitu terbuka kami langsung disambut oleh foto bayi yang sedang tersenyum, manis sekali. Di sisinya ada beberapa data pribadi seadanya. Kode dari bayi itu adalah 14536. Tanpa nama, hanya anonymous. Lalu disana disebutkan data-data seperti tanggal lahir, tipe darah, pekerjaan, pendidikan, bahkan ada tulisan yang memberi tahu bahwa orang ini jika artis bisa dibilang mirip Orlando Bloom. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana muka Orlando. Tapi ada tulisan bahwa ini adalah sperma featured. Maksudnya… yang paling popular dipakai, begitu? Aku jadi terbayang sudah berapa banyak ibu yang dibuahi oleh sperma ini. Dan coba bayangkan, berapa banyak anak yang lahir? Bisa-bisa puluhan atau mungkin ratusan. Jika mereka bertemu dan menikah, bukankah itu jadi pernikahan antar saudara? Bagaimana kalau itu terjadi ya?

“Anaknya lucu-lucu, ya. Aku jadi ingin punya anak,” celutuknya tiba-tiba.

“Ini kan foto orang-orang yang mendonorkan spermanya. Foto masa kecil mereka.”

“W-Wah? Jadi ini mereka?” Om Suga tersenyum asimetris dan menggeleng sekali. “Terkadang aku merasa jenius. Tapi setelah bertemu denganmu, aku merasa begitu kecil. begitu tidak ada apa-apanya.” Ia tertawa. “Tapi satu yang kurang darimu.”

“Apa?”

“Melakukan bunuh diri.”

Kami bersitatap dalam diam. Aku memandanginya. Namun… secara tiba-tiba hancur begitu saja ketika Om Suga meraihku. Menghebohkan tubuhku yang semula terdiam jadi bergerak-gerak di bawah guncangannya. Ia tertawa-tawa sementara aku kaget.

Aku cuma bercanda. Tiga kata itu keluar dengan pembawaan santai, bercampur-campur dengan keterkejutan dari diriku sendiri hingga aku sulit mencerna. Om Suga turun dari kursi, mengacak rambutku sekilas dan berlalu meninggalkan ruangan. Aku terduduk sendiri, menapaki tempat bekasnya yang terasa hangat. Juga sisa harumnya yang menggantung di udara.

Aku bahkan belum bilang kalau aku sama seperti anak kecil yang lain. Suka makan tteokbokki panas-panas dan bermain pokemon.

TING!

Notifikasi dari komputer membuatku tersadar.

“Madu pesanan anda akan kami kirimkan ke Lantai sepuluh nomor 506, Donggyo-dong, Mapo-gu, Seoul 121-200, Korea Selatan, Hongdae. Forward email ini untuk konfirmasi.”

Oh? Jadi itu alamat apartemennya?

-ooo-

… his beautiful mind.

Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala Om Suga. Secara tidak sengaja aku pernah membaca catatan kecil berisi tulisannya. Bahasanya indah, sesuatu di dalam pikirannya pastilah tempat yang buruk. Aku tahu. Seseorang menulis sangat bagus ketika ia berada di bawah tekanan. Aku percaya itu benar.

Kusimpan segelas susu vanilla di meja kerjanya, lantas memandanginya lagi seperti tak pernah cukup. Aku berpikir tentang bagaimana dulu orangtuanya membuatnya begitu cantik. Mereka pasti telah berbuat sesuatu yang benar hingga dianugerahi anak seindah ini. Ahh….

Tapi akhir-akhir ini dia jarang bicara. Waktunya habis di depan komputer saja. Mungkin itu bentuk lain dari sistem pertahanannya, pelariannya. Seperti orang yang sedang ditimpa masalah. Bekerja sampai gila.

“Om sedang apa?”

“Sana-sana!” Ia mengibaskan tangannya dan membuatku sedikit terhuyung. Alisnya mengerut begitu dalam menatap layar. “Aku sedang kerja,” tukasnya dengan nada malas, kemudian tangannya kembali menghalau.

“Y-ya, sudah.”

Aku berbalik, melangkah menuju pintu keluar dan melirik sekilas. Dia sibuk dan itu membuatnya tampak dingin. Kuembuskan napas singkat, berlalu melewati pintu. Mungkin sifat aslinya memang begitu.

Waktu matahari turun dan langit berubah pekat, Om Suga baru keluar dari ruangannya dengan wajah berminyak dan mata yang lelah. Mungkin juga ia mual dan pusing karena terlalu lama berdiam diri di sana. Siapa yang tahu? Dia hanya berlalu sambil memutar kunci mobil.

“Om! Om Suga!” Aku menarik jaket hitamnya sambil mendongak, mencoba untuk menyamakan langkah. “Om? Om Suga? Kita belum mengobrol hari ini. Om? Om!”

“Apasih?” Dia berhenti, menatapku kesal. “Aku mau pulang dulu. Besok lagi saja. Kan besok aku ke sini lagi.”

Kami terpaku.

“Lepas dulu.” Dia menunjuk ujung jaketnya. Sontak aku melepaskan genggaman dan buru-buru berdiri tegak. “Aku pulang dulu Jaesi.”

Om Suga benar-benar meninggalkan toko ini. Kulihat sekeliling. Para pegawai itu mematung melihatku. Secara tergesa mereka kembali berbalik dan menyibukkan diri.

Bagus sekali.

Pemandangan memalukan baru saja mereka saksikan. Aku mendengus kesal. Berjalan gontai ke arah tangga dengan kaki yang sengaja aku hentakkan. Arhhhrrg!

Padahal rasanya baru kemarin aku berbaring berbalutkan selimut bergambar beruang, memandang langit hitam melalui jendela, mendengar suara decitan yang membuatku menoleh, melihat sosok Om Suga yang tahu-tahu sudah duduk di tepi kasur.

“Mau aku buatkan susu? Anak kecil biasanya suka minum susu sebelum tidur,” tawarnya (waktu itu).
Aku tersenyum, mendekap selimut hingga menutupi leher. “Biskuit waktu di rumah sakit juga masih ada satu bungkus lagi. Mau makan itu saja?”

“Aku sudah gosok gigi, Om.” Kuketuk-ketuk bibirku. “Hmm, bagaimana kalau cerita-cerita saja?”

“Cerita-cerita, ya?” Bola matanya mengarah ke atas, seperti sedang mencari. “Anak yang waktu itu datang dan bermain di rooftop. Siapa namanya? Eh—oh iya seperti ini ya,” ia lalu memancungkan bibir beberapa mili dan berbicara dengan suara yang berbeda, “namaku Taehyung Kim.” Bahkan sekarang suaranya terdengar berat seperti milik Taehyung yang awal pubertas.

Ia terus-terusan memperolok kelakuan Taehyung dan mencoba meniru nada yang anak laki-laki itu buat. “Suga ahjussi. Suga ahjussi.”

Kami terbahak menertawakan tingkah Taehyung. Rongga mata Om Suga menyempit jika ia sedang tersenyum. Aku sampai tidak tahu mata gelapnya itu menatap ke mana dan bagaimana dia melihat dengan kondisi seperti itu. Tapi itu bukan masalah. Aku suka Om Suga termasuk matanya yang membulan sabit ketika berseri, kulitnya yang terang dan pucat sementara pupilku membesar ketika melihat itu semua.

“Awalnya aku ragu, kukira orang pintar tidak suka membicarakan orang lain. Hahaha.”

Aku menggeleng. “Aku malah ragu, jangan-jangan sebenarnya Taehyung itu titisan alien?”

Ya… tapi ini dulu. Sekarang Om Suga sibuk.

-ooo-

“Susunya aku simpan di sini ya, Honey.”

“Berhenti memanggilku ‘honey‘!”

“Tapi…,”cicitku. Setelah mengalihkan fokus dari layar komputer, Om Suga menatap nyalang ke arahku. Ini sudah hampir satu minggu sejak dia sibuk dengan layar itu. Aku sendiri tidak tahu apa yang ia kerjakan. Tapi dia sibuk sekali. Kupikir membuatnya merasa terganggu adalah satu-satunya cara supaya dia menyadari kehadiranku.

“Tapi apa?”

“Aku melihat orang-orang dewasa itu memanggil ‘honey’ pada orang yang mereka cintai. Hmm… terkadang juga aku mendengar ada orang yang menyebut baby, chagiya, yeobo lalu hmm—”

“Itu beda! Itu kan sebutan untuk—Ahhrgg!”

Om Suga kelihatan sangat kesal. Rambutnya yang hitam ia remas. Tapi setidaknya dia kembali berbicara (walau dalam keadaan marah-marah).

“Dengarkan aku, Jaesi Kim. Kalau kau memanggilku honey, berarti aku ini pacarmu. Dan aku bukan pacarmu.”

“Tapi… mereka menyebut kata itu untuk memanggil orang yang mereka cintai.”

“MEREKA SIAPA?”

Aku mendelik, mencoba mengingat nama tokoh film yang aku saksikan beberapa bulan lalu. “Hmm, itu… emhh.” Ah, sepertinya aku memang tidak akan ingat karena aku hanya mengarang. “Jadi? Aku harus memanggilmu baby? Atau chagiya?”

“PANGGIL SAJA AKU OM SUGA!”

Aku tidak mengerti.

“Jaesi Kim! Kau itu masih terlalu kecil! Umur kita terpaut…,” dia melipat ruas-ruas jarinya sejenak, “lima belas tahun! Waktu kau lahir mungkin aku sedang bersepeda dengan lancar atau bahkan menggoda anak perempuan!”

“Apa usia penting jika kita ingin mencintai seseorang?”

Dia memejamkan matanya rapat, menggigit bibir bawahnya kuat, seperti sedang menahan amarah.

“Ibuku bahkan tak memedulikan gender waktu ia mencintai.” Aku tersenyum miris. “Jadi, apa yang om harapkan dariku? Sementara setiap hari aku melihat ibuku seperti itu. Memerhatikan umur? Gender saja tak pernah ia perhatikan.”

Ia membuka mata. “Ma-maksudku bukan be—”

“Om tidak pernah tahu apa yang aku lihat setiap hari.”

“Iya, Jaesi. Tapi aku sama sekali ti—”

“Setiap hari aku bertanya-tanya apa kelak aku akan seperti ibu? Kupikir tidak ketika aku bertemu denganmu. Tapi semakin lama, aku justru semakin mengerti alasan ibu seperti itu.”

“Jaesi!”

“Sebenarnya om sibuk apa sih? Membuat lagu atau apa? Om ingat kan rencana awal kita? Aku ingin bertemu ayah tapi om sibuk sendiri!” Aku berpaling, terdiam sebentar kemudian kembali berbalik. “Dan aku juga cinta sama Om!”

“Jaesi!” Dia meraihku brutal, mencengkram kedua bahuku dan mengguncangnya. “Dengarkan aku dulu! Aku minta maaf! Mungkin sulit untuk anak seusia kamu mengerti apa arti cinta yang sebenarnya. Iya mungkin kamu pintar, kamu suka membaca, tapi di sisi lain aku sadar… tidak ada buku yang menjelaskan cara mencintai. Begitu kan?”

Aku masih belum mengerti ke mana percakapan ini akan dibawa.

“Jadi begini… selama ini aku sibuk kerja. Kerja untuk biaya kita ke California, untuk bertemu ayahmu, untuk kita menca—”

“Bohong.”

“De-Dengarkan dulu, Jaesi. Kamu tahu kan kita ini sudah seperti paman dan keponakan? Dan… dan cinta itu tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Kamu suka pada seseorang tidak otomatis orang itu mencintai kamu juga. Kamu masih kecil. Masa depanmu masih panjang. Masih banyak hal-hal yang harus kamu lewati. Jadi… hmm….” Kulihat jakunnya bergerak naik turun menenggak liur. “Jadi dewasalah sesuai waktunya. Siapa tahu di tengah jalan kamu bertemu dengan laki-laki yang lebih tampan dan lebih muda daripada aku.”

Aku memutar bola mata, mengembuskan napas lelah. “Om sudah punya pacar?”

“O-oh itu… a-aku… belum.”

Coba tebak dia jujur atau bohong?

“Kalau begitu aku harap Om Suga dapat pacar yang baik.”

-ooo-

Selepas membersihkan tubuh, pagi-pagi sekali aku membuka kunci toko. Beberapa pegawai mulai berdatangan. Hari ini aku akan membersihkan pelataran parkir. Ada banyak tanaman liar yang tumbuh di sela-sela paping blok. Sambil berjongkok aku mulai mencabutinya kuat-kuat. Tapi aku melihat ada satu tanaman liar yang indah.

“Hai.”

Baru saja aku akan memetik tanaman itu, tahu-tahu suara seorang anak laki-laki membuatku tersentak dan mendongak spontan.

“Kim Taehyung?”

Dari bawah sini kulihat ia menyedot ingus. “Iya.” Lantas ia berjongkok, memerhatikan tanganku. “Kamu sedang apa?”

“Oh, ini. Menyabut tumbuhan liar. Tapi aku lihat tumbuhan liar yang bagus!” Aku menunjuknya. “Ini!”

“Wah, astaga ya ampun. Bagus sekali ya,” ucapnya dengan suara berat. Itu terdengar sangat aneh. “Kamu mau memetiknya? Aku bisa memetiknya. Kamu mau?”

Aku mengangguk kencang. “Mau! Mau!”

“Nah, sekarang tutup matamu,” tuturnya, terdengar seperti suara berat… crayon sinchan.

Aku menurut saja, meski sesekali mengintip.

“Ini!”

Orang itu benar-benar menyabut tanaman liar dan menyodorkannya. “Untukmu, Jaesi.”

“Te-terimakasih.”

Ia mengibaskan tangannya, sementara dua sudut bibirnya turun meremehkan. “Bukan masalah.”

Ini sangat aneh. Pertama kalinya aku diberi sesuatu oleh laki-laki dan itu adalah tanaman liar.

Setelah saling tersenyum dengan canggung, kami mencabut tumbuhan liar lagi bersama-sama. Kebanyakan waktu diisi oleh tawa Taehyung yang keras dan lebar. Hingga kutemukan tumbuhan liar cantik yang lain dan meminta Taehyung untuk membiarkan aku menyabutnya sendiri.

“Awwh!” Bulu-bulu halusnya sempat membuat tanganku lecet. Tapi tak masalah. Kulanjutkan menyusun dan menyatukan bagian bawahnya dengan solatip bening.

“Aku akan memberikannya untuk Om Suga sebagai permintaan maaf.”

Taehyung memandangku polos. “Aku boleh ikut?”

“Boleh.”

Setelah cuci tangan, aku dan Taehyung berjalan bersama menuju apartemen Om Suga. Lantai sepuluh nomor 506. Donggyo-dong, Mapo-gu, Seoul 121-200, Korea Selatan, Hongdae. Ternyata tak sulit menemukannya.

Tok Tok Tok.

Aku dan Taehyung saling berpandangan dan terkikik pelan.

“Om! Om Sugaaa!” Tidak ada jawaban. Kucoba untuk merapatkan telinga dan mencuri dengar. Tapi Taehyung bilang apartemen punya sistem kedap suara. Jadi sulit untuk menguping.

“Coba masuk saja.”

Aku melihat ke bawah pintu. Ada kertas yang mengganjal. Dan ketika kucoba untuk mendorong, ternyata pintunya bisa terbuka. Berkat kertas itu mungkin selot di dalamnya jadi tak maksimal. Aku melangkah masuk dan melihat ke belakang. Taehyung masih berdiri dan menggenggam pergelangan tangannya di depan tubuh. Tak ada tanda-tanda ia akan ikut. “Aku mau di sini saja.”

Kakiku kembali mengayun menyusuri ruang dengan tangan menyembunyikan tanaman liar ini di belakang punggung.

“Om? Om Suga?” panggilku, hati-hati.

Di balik sebuah tembok, kutemukan ada ruangan lain. Ketika aku benar-benar berada di sana, aku melihat ada pakaian berserakan di lantai. Lalu…

itu Om Suga….

Tidak pakai baju, hanya celana pendek.

Juga wanita di sebelahnya… hanya menutupi tubuhnya dengan selimut putih.

“Ja-Jaesi, ka-kamu mau apa ke sini?”

Tanpa berkedip, kutunjukkan seikat bunga liar dan menyimpannya rapi di atas meja. “Aku hanya ingin memberi om bunga ini. Terimakasih.” Kubungkukkan badan dalam.

Di ambang pintu kulihat Taehyung masih menunggu. Dia tidak tahu apa-apa. Tapi dia menyambutku dengan senyum konyol. “Ayo. Aku sudah selesai.” Kutarik lengannya.

“Kamu bertemu Om Suganya sebentar ya?”

“Iya, Taehyung!” Aku mendelik ke arahnya kesal.

Kami semakin cepat melangkah. Mungkin Taehyung di sisiku sampai terseok-seok mengimbangi. Sampai di depan pintu lift, kami tinggal masuk, tapi satu energi menahan tubuhku. Wajah Taehyung tampak bingung ketika pintu lift menutup dan memisahkan kami.

Aku berbalik. Om Suga sudah berdiri dengan pakaian juga rambut yang kusut. Aku mengibaskan lengannya dari pundak, seperti dulu ia mengibaskan aku, melempar pandang seolah-olah ia tak terlihat.

“Jaesi.”

Aku menggaruk pipi, menatap sekeliling.

“Jaesi!”

Bisa kurasakan alisku bertaut, melihatnya merunduk menyamakan tinggi dan menyangga pada tempurung lutut. Bulan sabit di wajahnya menatapku lama.

“Apa?” aku berkata pada akhirnya.

Jeda mengambil percakapan kami. Tiba-tiba, tangannya terjulur menggapaiku, memeluk erat.

Aku memberontak, melepaskan jerat dan memukul badannya berulang-ulang.

Dia memejamkan mata. Badannya bergerak ringan karena pukulanku tapi dia diam saja. Aku berhenti memukul untuk mengatur napas dan berbalik melarikan diri.

“Jaesi.”

“JAESI!”

“JESSY KIM!”

-ooo-

Belakangan ini aku dirawat oleh pegawai toko alat musik. Dia yang memberiku minum air hangat juga menyuapi bubur. Meski akhir-akhir ini aku memintanya untuk memberiku sup ayam saja. Usai melihat Om Suga beberapa hari yang lalu, aku langsung pulang ke sini, membuka resleting koper dan memasukkan semua baju beserta gantungannya—saking terburu-buru. Tapi begitu menuruni tangga, mendadak semuanya seperti hari lalu. Berbayang dan berat. Mungkin suara berguling terdengar hingga ke arah kasir, hingga bisa kurasakan getaran lantai ketika mereka mendekat. Lalu aku sadar, ternyata aku sudah sampai dasar. Hingga esok harinya aku terbangun dan melihat koperku teronggok di lantai dengan helaian kain mencuat terjepit resleting. Ternyata aku masih ada di ruangan ini. Lantai dua toko alat musik Om Suga.

Aku menarik napas, memandangi langit-langit.

“Jaesi?”

Suara konyol dan berat itu…

“Taehyung?”

Ia tak menarik kursi, karena kebetulan di kamar ini tak ada kursi. Taehyung duduk di tepi ranjangku, menatap nanar sambil menghirup ingusnya.

“Flumu belum sembuh juga?”

Ia menggeleng. “Kadang aku berpikir mungkin aku akan flu selamanya.”

Aku tersenyum singkat, memandanginya yang tersenyum lebar. “Kudengar kamu berhenti bicara pada manusia?” tanyanya, mengangkat sebelah alis penasaran.

“Lalu?”

“Nyatanya kita masih bicara.”

Aku mengangguk mengerti. “Karena kamu alien.”

Ia terbahak dan kemudian berdiri kasur sekitar kakiku, melompat-lompat girang lalu ia salto.

Aku hanya bisa terkekeh ketika tubuhku ikut terguncangan karena lompatannya. Aku semakin yakin bahwa dia adalah alien yang tersesat di bumi. Dia seperti tidak punya ruang untuk bersedih.

“Jaesi?”

Seluruh aktivitas kami terhenti, sontak memandang ke arah pintu. Om Suga berdiri di sana dengan kaos putih dan celana hitam selutut. “Sudah baikan?”

Aku mendelik, membalikkan badan menghadap tembok. Melalui ekor mataku, bisa kulihat Taehyung turun dari kasur dan suara loncatannya terdengar menapaki lantai.

“Jaesi, kumohon Jaesi lihat sini.” Tangannya menepuk-nepuk tubuhku. Aku bergidik, beringsut mendekati tembok, merapat dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.

“Om Suga tidak usah khawatir. Kalau aku sudah sembuh, aku pasti akan pulang dari sini.”

“Bukan begitu Jaesi. Waktu itu aku—ahrrg.”

Aku tak merespon. Membiarkan suara langkahnya terdengar keluar ruangan. Diam-diam aku mengintip, sampai aku yakin akhirnya benar-benar sendiri lagi. Selalu. Seperti biasanya.

Untuk beberapa hari lamanya aku sengaja tak berbicara dengan siapapun. Meski tiap beberapa jam sekali aku melihat pegawai toko itu menghampiri. Mungkin memastikan apa aku masih hidup atau mati. Apa aku baik-baik saja atau mencoba untuk bunuh diri.

Aku sendiri sebenarnya tak mengerti apa yang menahanku di bumi? Sementara kenyataannya aku adalah si terbuang. Ibuku bahkan pergi untuk menyusul lesbiannya ketimbang mengurusku. Aku menyayanginya, tapi kalau mengingat apa yang telah ia lakukan, aku jadi sangsi apakah ia juga menyayangiku? Lalu sekarang? Aku bahkan ditipu mentah-mentah oleh Om Suga. Lelaki yang aku sukai!

Aku bagai hidup di antara orang-orang yang tidak aku mengerti. Jalan pikiran mereka atau isi kepala mereka yang sesungguhnya. Tapi, menanam benci pada Om Suga tidak akan membuat hidupku jadi lebih baik atapun lebih… mudah.

Jadi, malam-malam sekali sambil menghitung usiaku yang ternyata masih sepuluh tahun, aku memutuskan untuk berhenti kecewa pada Om Suga. Paginya, ketika sinar matahari menyiram wajahku, aku mengerjap sambil tersenyum dan menoleh ke sisi lain, di mana Om Suga sudah duduk di tepian kasur, menungguku bangun. Dua matanya yang bening, kulihat sedang menatapku seolah aku adalah telur ayam yang sedang menetas, dan ia tak ingin melewatkan apapun.

“J-Jaesi?”

“Om.”

“Sudah mendingan?” Ia menahan gerak bibirnya sebentar. “Dan.. kau bicara padaku lagi sekarang?”

“Aku memahaminya waktu aku sedang membaca.” Aku melirik sekilas buku cetakku yang terbaring di sisi lain kasur. “Untuk mengerti sebuah kalimat, kita butuh spasi. Dan mungkin bagimu untuk mengerti aku, kita harus berjarak untuk beberapa saat. Seperti halnya kita butuh ruang untuk bernapas. Kita butuh jarak untuk kemudian bisa saling mendekat….”

Dia mengangguk, tangannya bergerak canggung lalu hinggap dengan kikuk di atas lenganku. “Maaf….”

“Tapi ada satu syarat.”

“Aish! Apa?”

-TBC-

-ooo-

A/N: Fyuhh~~ chapter 2 selesai dengan revisi di sana sini. Panjang ya? ini 6700+ words soalnya (30 page ms. Word) =)) Observasinya lumayan ya, harus berpetualang di situs berbahasa inggris (feeling so cool B-) ) mohon tinggalkan jejak. Aku nulis ini berhari-hari dan anda membacanya dalam hitungan menit aja lalu ga ninggalin apa-apa. Sakitnya tuh di sini à </3

Tertanda

Julie sekeluarga.

<<sangat disarankan mengklik tombol bagikan ke twitter dan facebook di bawah ini>>

Advertisements