Tags

, , , ,

How I Married My Abnormal Husband

.

.

.

1 | 2 | 3 | 4

Author: Julian Yook | Cast: Hoseok (J-Hope) , Taehyung (V), Jimin, Yang Yo Hyun (OC), Eun Kyo (OC) | Genre: AU, Romance, Marriage life | Length : Chaptered | Rate: PG – 17!

Akhirnya mereka menikah!


[Chapter 5]

Jimin mengedarkan pandangnya berkeliling. Toko gaun pengantin ini memang tidak mengecewakan. Dia dapat memilih beragam baju yang indah dan sesuai selera.

“Ahh.” Ia melirik jarum pendek di pergelangan tangan. Sudah pukul sembilan pagi. Ia menunggu seseorang untuk tiba di sini juga.

“Selamat pagi.”

Jimin mendongak, memandangi seorang pria dengan meteran pita melingkar di leher sedang berjalan mendekat. Mereka saling melempar senyum dan berjabat tangan ketika jarak semakin lenyap.

“Aku Jung Hoseok. Kau pasti yang tadi menelepon, ya?” Hoseok mengangkat lehernya, melihat-lihat sekitar. “Calon mempelai wanitanya mana?”

“Oh, tadi kami memang janjian di tempat ini. Sepertinya dia sedikit terlambat.”

“Oh? Baiklah. Jadi kita mulai acara ukur badannya saja.” Hoseok mengulum senyum melihat Jimin yang berdiri tegak di hadapannya. Sesekali ia berharap lelaki kekar itu adalah bagian yang sama dari mereka. Mungkin akan sangat menyenangkan punya kekasih seperti Jimin. Tapi kemudian ia menggeleng. Pemuda itu jelas akan menikah dengan perempuan.

“Ya sudah, jadi sekarang aku diukur?”

Hoseok mengangguk anggun.

“Oke.” Jimin menyerahkan tubuhnya. Mereka larut dalam fantasi masing-masing. Hoseok dengan bayangannya punya kekasih baru seperti Jimin. Sementara Jimin dengan imajinya tentang bagaimana ia akan mengatur uang untuk keperluan menikah.

Hoseok tersenyum kecil sambil menulis ulang hasil ukurannya pada papan dada. Dia mengintip Jimin dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Hoseok mematung ketika bibir lembab Jimin mulai maju, mendekati telinganya, “tolong pilihkan aku baju yang paaaliiing… murah.”

Hoseok mengerjap. “Paling murah?”

Jimin kembali menarik badan dan mengangguk yakin. “Aku sedang mengatur rencana untuk masa depanku dan istri. Kami akan merintis sebuah usaha. Jadi kupikir aku harus benar-benar pintar mengatur uang. Salah satu caranya adalah memangkas budget untuk menikah.” Ia menghela napas. “Jadi, kuharap kau mau membantu usahaku, Tuan Hoseok.”

“Oh? Baiklah.”

Jimin mengangkat jempolnya dan mengedipkan mata beberapa kali. “Hebat! Thankyou! Thankyou!”

Hoseok merintih dan menggulung kembali meteran pitanya. Sekilas ia melirik jam tangan. Sebentar lagi…

“Ah, Tuan Jimin. Bukannya aku tidak ingin berlama-lama di sini. Tapi aku ada urusan dengan distributor kain. Jadi aku pamit dulu, ya? Maaf sekali lagi. Istrimu akan ditangani oleh pegawaiku.”

“Oh? Buru-buru sekali?”

“Iya, aku sudah ada janji jam sepuluh. Perjalanan ke sana agak lama jadi aku harus pergi dari sekarang. Sekali lagi maaf.” Hoseok membungkuk dalam. Ia meletakkan papan dada di meja kerjanya kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan toko.

Jimin menghela napas. Ia melihat sekitar. Toko ini tenang, beberapa pegawai hilir mudik. Tak ada bunyi apa-apa selain langkah orang yang mendekat, cenderung berlari. Buru-buru ia pindahkan pandangannya ke arah pintu. Daunnya terbuka dengan agak dibanting. Langkah orang yang kelelahan lalu muncul disertai napas menderu.

“Maaf! Hhh!” Wanita itu mendongak. “Maaf sekali lagi! Aku telat!”

Jimin tersenyum kecil. “Kim Eun Kyo!” Ia menggeleng gemas. “Kemana saja kamu, hah?” candanya. Ia merangkul wanita itu dan menggiringnya ke tengah ruangan. “Lihat baju pengantinnya bagus-bagus, kan?”

Pandangan mereka dengan serempak mengular ke segala arah. “Tadi pemilik toko ini baru saja pergi. Jadi kau sekarang sana! Ukur badan dulu dengan nuna itu.”

Eun Kyo hampir saja terjerambab karena dorongan tangan Jimin yang kuat. Ia mendengus sebentar sambil memandangi Jimin kesal. “Uh….”

“Maaf, Nyonya.” Pegawai wanita itu membungkuk sekilas, lantas mulai mengukur badan Eun Kyo dengan cekatan. Eun Kyo mengusap peluh di pelipisnya sekilas dan melihat-lihat sekitar. Di dinding ada tulisan besar. Hoseok Boutique. Begitu tertulis. Ia mengingat, rasanya pernah mendengar nama itu diucapkan berulang-ulang oleh seseorang. Lalu di dalam telinganya seperti ada tangis yang menggema.

HOSEOOOK!”

TAE—”

Otaknya seperti melakukan sensor pada ingatan yang hendak muncul. Ia tidak bisa ingat. Taekwon? Taemin? Tae… Tae apa?

“Sudah selesai, Nyonya.”

Eun Kyo berdeham dan berbicara dengan pelan. “Kau tahu seseorang dengan nama awal Tae di toko ini? Barangkali dia pernah datang ke sini atau semacamnya?”

“Tae?” Pegawai itu seperti sedang mengingat. “Tae? Taetae?”

“Iya, Tae. Tae apa? Apa Hoseok punya kenalan seseorang bernama Tae?”

Pegawai itu menggeleng. “Aku tidak tahu, Nyonya.”

“Ahh! Sayang sekali ya.”

Jimin mendekat, dia mulai memberikan isyarat supaya Eun Kyo merapat. “Kita akan pilih baju yang paling murah. Aku tadi sudah konsultasi dengan pagawai yang itu!”

“Benarkah? Tapi kenapa harus yang paling murah?”

“Sssst! Jangan keras-keras!”

Jimin kemudian membawa Eun Kyo keluar dari toko. Bergabung dengan pejalan kaki yang lain.

“Kita akan merintis usaha keluarga!”

“Maksudmu?”

“Iya, pokoknya nanti kau harus berhenti bekerja di kantor dan kita akan membangun sebuah usaha di sisi rumah. Jadi sekarang aku harus pintar-pintar mengatur uang. Oh, iya dan soal pernikahan, aku akan mengusung tema garden party. Hanya orang-orang terdekat yang diundang. Jadi kita bisa memangkas biaya pernikahan sebesar 45%!”

Eun Kyo berhenti melangkah.

“Tapi, gaunnya? Aku belum memilih.”

“Aih! Aku sudah memilih! Nanti kita akan datang lagi setelah gaunnya selesai. Lagipula kamu kan sudah diukur.”

“Iya, iya.” Eun Kyo mengangguk, dia memang orang yang penurut.

-HIMMAH-

Taehyung menyesap susu rasa jeruk tetesan terakhirnya kuat-kuat melalui sedotan. Ia dan seorang wanita bernama Yang Yo Hyun sedang duduk berdua di depan televisi.

Acara reality
show ini lucu sekali, Taehyung sampai terpingkal-pingkal di luar kendali karenanya. Hingga secara tak sadar ia melempar kotak kemasan susu rasa jeruk kotak itu ke sembarang arah. Lama kelamaan ia merasa ganjil. Tak ada yang melayangkan protes keras ketika ia melakukan hal seperti itu.

Taehyung melirik wanita di sisinya. Dia sedang menyaksikan televisi dengan tatapan datar. Taehyung mencoba mengikuti arah pandang Yohyun, melihat ke layar lurus-lurus. Namun hasilnya, Taehyung malah terbahak melihat kelakuan orang-orang di reality show. Bahkan sampai perutnya terasa keras, air menitik di sudut matanya. Taehyung menggebuk sofa berulang-ulang untuk menyalurkan tawanya yang entah harus seperti bagaimana lagi dikendalikan.

Sedikit demi sedikit tawanya reda. Taehyung kembali melirik Yohyun. Tapi dia masih saja melihat televisi dengan tatapan datar. Diam-diam, kaki Taehyung maju, jempolnya menyenggol gelas besar air di atas karpet. Diam-diam pula seluruh isinya tumpah, merembes pada karpet. “Ups.”

Taehyung masih memandangi Yohyun dari pinggir, menunggunya menoleh. Tapi ketika dia menoleh, mereka malah saling pandang. Yohyun dengan pandangannya yang datar, sementara Taehyung dengan senyumannya yang lebar seolah berkata, “hey aku baru saja terpingkal karena acara televisi itu dan menumpahkan segelas air. Bisakah kau sedikit memberikan reaksi?”

Tapi yang Taehyung dapatkan hanyalah sebuah kebisuan semata.

Ia melihat Yohyun bangkit dan melangkahi tumpahan itu! Suara benda dilemparkan ke tong sampah kemudian terdengar. Taehyung mencari kotak susu rasa jeruknya yang tadi ia lempar sembarangan. Masih ada di ujung karpet! Jadi… Yohyun hanya membuang sampah miliknya sendiri?!

Wanita itu kembali melintas di depan tv, melangkahi tumpahan air dan kembali duduk tegak memandangi layar.

Taehyung mengecilkan matanya dan menelaah sosok Yohyun. Pelan, Taehyung menaikkan kaki ke atas sofa, memeluk dirinya sendiri dan meringkuk jauh di ujung, menggeserkan diri dari wanita itu. Ia menggigil sebentar dan batinnya disesaki oleh pertanyaan.

“Yohyun? Wanita yang akan aku nikahi ini sama sekali tak punya gairah hidup.”

“Benarkah aku akan menikahinya? Di mana kami bertemu dulu?”

“Yohyun? Ahrgghh.”

Taehyung meremas rambutnya. Dulu rasanya ia punya pasangan yang begitu responsive. Memperhatikan cucian, bahkan setiap debu yang menempel di lukisan. Tapi yang ini sangat jauh berbeda. Dia seperti akan menikah dengan tembok.

“Yohyun, kita akan menikah besok. Kau ingat itu kan?”

Wanita itu menoleh, mengangguk sekali dan kembali menyaksikan televisi.

“Oh? Baiklah, sepertinya kau sedang tidak ingin bicara.”

-HIMMAH-

TENG TONG TENG TENG. TENG TONG TENG TENG.

Taehyung berdiri tegak di depan altar. Tamu yang hadir turut berdiri dengan antusias ketika lagu pernikahan mulai berdenting dari organ di pojok gereja. Dengan gugup, Taehyung menggenggam kedua tangannya di depan tubuh, menunggu mempelai wanita datang. Jauh di belakangnya, seorang dengan gaun berwarna putih tergerai sampai ke lantai mulai berjalan didampingi seorang lelaki tua.

Desahan kagum dari hadirin terdengar semakin menjelas ketika Yohyun berjalan menuju altar. Wajahnya tertutup kain berenda, tapi sepertinya orang-orang itu masih bisa menyadari bahwa sang mempelai wanita memang sangat cantik.

Yohyun sudah berdiri di samping Taehyung. Lelaki itu bisa merasakan tempat kosong di sampingnya terisi. Mereka mengangkat tangan di hadapan pendeta. Mendengarkan ucapannya dengan kidhmat dan menjawab sungguh-sungguh.

“Saya bersedia.”

Semua orang yang ada di situ melepaskan napas lega yang secara tak sadar ternyata mereka tahan. Seolah cemas menyaksikan orang seperti Taehyung berdiri di depan sana. Mereka khawatir ia akan bertingkah yang tidak-tidak, dan mempermalukan dirinya sendiri (meski pada kenyataannya dia tak pernah merasa malu).

Tapi itu sama sekali tidak terbukti.

Selesai mengucapkan janji suci, Taehyung berbalik, menatap Yohyun dan membuka kain tipis yang menghalangi wajahnya. Mereka saling bepandangan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya lelaki itu mencium bibir Yohyun dengan liar. Seolah itu adalah bibir botol soju.

Ayah dan ibu Taehyung yang duduk di kursi paling depan hanya bisa mengusap air mata. Memandangi sepasang suami istri itu penuh haru.

“Ahhh… manis sekali mereka.”

“Akhirnya anakku menikah.” Ayah menepuk-nepuk pundak ibu, meredakan gelombang kebahagian yang terlalu pada wanita itu.

Sementara di sisi lain. Di dalam rumah yang megah, seorang lelaki sedang meremas rambutnya yang dipenuhi busa.

“AKHKHKHKHKHK! TAEHYUUUNG!” ia kembali memaki. Memijat rambutnya penuh emosi.

Air mata mengalir di pipinya. Turun tak terlihat karena berpadu dengan gemericik air dari shower. Seketika busanya luruh, mengalir perlahan sepanjang tubuh lelaki itu. Kemudian terpercik begitu saja ketika bibirnya kembali bergerak.

“TAEHYUUNG! AHRRGG!” Hoseok kembali memijat kepalanya kasar. “Kenapa ini semua harus terjadi pada kita berdua?!”

“Tuan… permisi, Tuan!”

Suara pintu yang diketuk tak sampai ke telinga Hoseok. Ia terlalu sibuk bermelankoli. Yang bisa membuatnya tersadar hanyalah saat air shower tiba-tiba berhenti. Dan ketika ia membuka mata, ia tidak bisa melihat apa-apa.

Semuanya gelap….

“Tuan… permisi, Tuan. Saya mau memberi tahu kalau sekarang ada pemadaman listrik bergilir.”

“AAAAA! SHIT MAN!”

-HIMMAH-

Waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Busan siang itu terasa cerah. Park Jimin melangkah ke depan cermin, memastikan penampilannya sempurna.

Hari ini pernikahannya dengan Kim Eun Kyo akan digelar. Berbeda dengan Taehyung, Jimin hanya melaksanakan pernikahan yang sederhana. Dengan konsep garden party, tak terlalu banyak uang yang mesti ia keluarkan.

“Lalu modal nikah yang selama ini kau kumpulkan untuk apa, Anakku?”

“Aku akan menggunakannya untuk modal usaha. Jadi, cukuplah pernikahan ini sederhana saja.”

Ibu Jimin hanya mengangguk dan mengusap pundak lelaki itu penuh kasih sayang. “Kalau kau sudah siap, cepatlah keluar. Mereka sudah menunggumu, Sayang.”

Jimin mengangguk. “Ibu duluan saja.”

“Baiklah, ibu tunggu di luar ya? Jangan lama-lama. Penghulunya sudah datang.”

Ibu Jimin keluar dari kamar dan menutup pintu itu rapat. Jimin kembali berdiri di hadapan cermin. Tangannya kemudian meraih kopeah dan memakainya hingga rapat.

Sebelum pergi keluar kamar, ia sempatkan untuk merogoh ponsel dan melakukan selfie.

Tak ada yang terlintas di kepala Jimin selain mengakui bahwa ia tampan. Meski ketika ia teliti, dagunya tampak besar. Dan Jimin menyalahkan diri sendiri karena tidak melakukan diet sebelum menikah.

Tapi siapa yang peduli? Toh ia tetap tampan dengan setelan baju koko putih dan kopeah itu.

Jimin melangkah penuh percaya diri ke depan khalayak. Orang-orang melihatnya sampai terpana. Sedikit tidak menyangka bahwa lelaki liar itu ternyata bisa terlihat seperti anak sholeh.

Jimin duduk dengan tenang di samping Eun Kyo. Akad nikah berlangsung dengan penuh khidmat. Tamu undangan berseru “Shah!” sebagai tanda bahwa mereka telah resmi menyandang status suami istri.

Jimin membuka kain tipis yang melingkupi mereka berdua. Ia dan Eun Kyo kemudian saling berpandangan. Rasanya Jimin ingin sekali menangis, wanita di hadapannya sangat cantik. Melewati pundak wanita itu, Jimin mendapati sosok lelaki tua sedang mengusap air mata, bersandar pada tiang dekorasi garden party. lelaki tua itu mengangguk, memberikan isyarat pada Jimin bahwa Eun Kyo kini sudah jadi milik pemuda itu seutuhnya. Jimin tersenyum kecil. Itu ayah Eun Kyo.

Jimin menarik napas panjang, memajukan wajahnya ke arah Eun Kyo dan mengecup kening wanita itu lembut.

Saranghaeyo, Eun Kyo-ya.”

Sambil memejamkan mata, sebersit ingatan melintas di benaknya. Rasanya dulu ia pernah mengenal seseorang yang datar. Yang membuatnya gemas sekaligus jatuh cinta. Tapi ia rasa Eun Kyo tidak sedatar itu.

“Jimin-a? Ayo kita ganti baju dan merayakan garden party ini. Jimin-a?”

Jimin membuka matanya perlahan. Sosok Eun Kyo berada di depannya dengan tatapan bersemangat, kembali wanita itu berbicara, berusaha mengembalikan kesadaran Jimin, “Ayo? Kita kan sudah memesan jas dan gaun pernikahan yang sangat mu—”

“Ayo!” sela Jimin buru-buru.

Seperti pada permintaan di macbook, tak ada satu pun orang di sini yang menyadari pertukaran mempelai. Namun sayang, permintaan itu tak sempurna. Pemohonnya hanya meminta orang yang hadir saja yang tidak merasa aneh. Bagaimana dengan orang yang tak hadir?

“Paman Yoongi mana, ya? Kupikir dia akan datang,” Jimin bertanya-tanya sambil mengedarkan pandang.

Eun Kyo menoleh, ia merasa asing dengan nama itu. “Paman Yoongi? Siapa?”

“Eh? Kau lupa? Dia kan pemilik toko kelontong langganan kita. Katanya dia akan datang ke sini tapi ternyata bullshit!”

“Aih! Jaga bicaramu, Sayang! Kau ini sudah menikah, akan jadi bapak!” Eun Kyo menyikut lengan Jimin pelan, memandangi tamu yang sedang menikmati BBQ. “Mungkin paman Yoongi sedang sibuk menjaga tokonya.”

“Benar juga. Kudengar ia baru membuka counter handphone. Dia benar-benar berjiwa bisnis sejati!” Jimin menyeruput sirup strawberrynya dan kembali berucap, “kita juga akan mencoba peruntungan di bidang bisnis. Kalau sudah sukses nanti mungkin kita bisa sama-sama berhenti bekerja di orang lain dan jadi bos di rumah sendiri. Tapi untuk sekarang, aku masih beum berani berhenti.” Jimin tersenyum memandang wajah Eun Kyo, “Ya, jadi sekarang kau saja dulu yang berhenti kerja. Nanti kau pasti hamil dan tidak boleh terlalu lelah. Jadi diam saja di rumah, ya?”

Eun Kyo berkerut samar. “Di rumah? Memangnya kita mau buka usaha apa?”

“Tunggu saja nanti, aku bahkan sudah membelikan satu truk untuk penjualan pertama kita. Mungkin nanti malam truk itu akan datang ke rumah kita di Seoul.”

Eun Kyo terkikik. Ia merasa kagum sekaligus geli dengan pemikiran suaminya yang terlampau panjang.

-HIMMAH-

Ini adalah malam pertama bagi Taehyung dan Yohyun. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Dibukanya pintu kamar mandi dan melangkah mendekati ranjang. Sekejap ia diam di tempat. Memandangi Taehyung di sana.

Lelaki itu ada di atas kasur. Dia sedang melompat-lompat dengan baju tidur longgar dan rambut yang ia biarkan jatuh dengan halus. “WOHOOO!”

Merasa diperhatikan, Taehyung berhenti. Menoleh pelan ke arah Yohyun yang sedang berdiri kaku.

“Hai! Sudah selesai mandinya?”

“Sudah.” Yohyun berjalan menyampirkan handuk di gantungan belakang pintu, dan kembali berbalik mendapati Taehyung masih berdiri di atas kasur, memandanginya.

“Mau melakukan sesuatu?” tanya Taehyung polos.

“Sesuatu?”

“Iya!” Lelaki itu mulai bersila di atas kasur, mengingat-ingat perkataan Jimin waktu di kantin kantor.

“Pertama, kau harus menikahinya. Kedua, kau akan berada di dalam kamar. Berdua saja, kau mengerti? Kali ini tidak ada shingeki no kyojin, tidak ada titan, hanya ada kau dan istrimu. Di dalam kamar. Mengerti? Kau harus membuka baju istrimu.”

Taehyung terbengong sebentar ketika ucapan Jimin bedengung di dalam kepalanya.

“Yang pasti kalian tidak akan membutuhkan sehelai baju pun malam itu.”

Tiba-tiba Taehyung begidik ketika suara Jimin terdengar begitu nyata. Itu sangat horror. Ia memandangi Yohyun yang sudah duduk di sampingnya dengan wajah datar.

“Kau mau melakukannya?” tanya Taehyung lagi, hati-hati.

“Melakukan apa, Taehyung?”

Tanpa menjawab, Taehyung mulai mendekat, tangannya meraih ujung kerah Yohyun, bersiap membuka kancingnya. Tapi Yohyun sama sekali tak melawan. Wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Yohyun-a!” Taehyung memekik, berhenti sejenak untuk memandangi Yohyun. Ia benar-benar ragu. Tak pernah terpikirkan bahwa apa yang Jimin jelaskan bisa jadi sesulit ini. Dia sebetulnya ingin, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih ekspresi Yohyun yang tidak manusiawi membuat semuanya jadi lebih sulit. Malam itu, batin Taehyung berkecamuk. Ia merasa ada yang salah.

Juga tentang kejadian di kantin kantornya, Taehyung merasa ada memori yang hilang tentang itu. Jimin akan menikah… iya… tapi ia tidak ingat apa yang mereka bicarakan di sana dan siapa wanita yang mereka ceritakan waktu itu?

“Yohyun, aku punya pertanyaan.”

“Tanyakan saja.”

Taehyung meneguk air liurnya. “Kenapa kau seperti tak bergairah hidup?”

Mereka saling berpandangan. Yohyun menatap iris gelap Taehyung lamat. “Karena aku lelah dengan dunia ini.”

Taehyung tercenung beberapa saat. Ia sadar satu hal: dirinya dan Yohyun adalah kutub magnet yang berbeda. Di saat Taehyung memilih untuk mengungkapkan, Yohyun malah memilih untuk menyimpan. Sampai semua sedih seakan tertumpuk di dalam dirinya. Taehyung pikir itu perlu diperbaiki.

Taehyung merangkul Yohyun dan membuat wanita itu bersandar di lengannya. Tanpa ada yang berbicara, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Tanpa Yohyun tahu, Taehyung berjanji di dalam hati: ia akan memanusiakan Yohyun, membuatnya kembali merasakan hidup.

Malam itu berlangsung tanpa ada lenguhan atau desahan. Taehyung dan Yohyun tidur bersama, menghadap langit-langit sementara tangan lelaki itu memeluknya. Mata mereka terpejam, begitu polos dan damai. Tanpa mereka tahu, mereka sudah menikahi orang yang salah.

-HIMMAH-

Jimin duduk di beranda rumahnya. Ia sudahi berada di Seoul, tengah menunggu kedatangan truk pengantar barang pesanannya. Setiap ada deru mesin yang melintas, ia selalu melongok sebentar tapi bukan mobil itu yang ia tunggu.

“Jimin? Masih menunggu?”

“Iya, seharusnya mereka datang sekarang.”

“Mobil truk yang itu?”

Jimin menoleh. Ada truk sedang parkir di depan rumah mereka, membiarkan bagian belakangnya mendekat dengan pagar. Tak lama, sosok sang supir muncul disertai pintu mobil yang dibanting.

“Jam berapa ini, Bung?” gerutu Jimin ketika sang supir muncul.

“Hahaha, ada kendala sebentar tadi di jalan. Apa kabar, Park Jimin? Omong-omong, Selamat untuk pernikahanmu!” seru sang supir, menjabat tangan Jimin penuh keakraban.

“Hahaha! Kim Namjoon! Senang bertemu denganmu lagi!”

Mereka lalu berpelukan begitu hangat. Dan menepuk punggung masing-masing.

“Bagaimana? Pesananku aman, kan?” tanya Jimin, memastikan. Dia dan Namjoon memang teman lama. Jimin baru mengingat Namjoon ketika ia berpikir untuk merintis usaha. Ia tahu Namjoon memang punya usaha serupa. Jadi mereka memutuskan untuk bekerja sama. Dan Namjoon rela menyupir truknya hanya demi bertemu Jimin. Padahal sesungguhnya ia sudah punya banyak pegawai.

“Aman! Silahkan dilihat. Sebentar aku buka dulu pintunya.”

Dada Eun Kyo berdegup. Darahnya berdesir. Jujur, ia takut pada perilaku suami beserta koleganya itu. Ia khawatir Jimin akan punya usaha narkoba… atau…

“TADAAA!” Namjoon menyambut terbukanya pintu truk dengan suka hati.

Jimin menyeringai. Sementara Eun Kyo…

Ia terperangah.

Truk itu… isinya penuh dengan pakaian dalam berbagai warna….

Entah apa yang ada di pikiran suaminya.

“Ji-Jimin?”

“Iya, Sayang?”

“Ka-Kamu mau membuka usaha apa sebenarnya?”

“Kita akan buka usaha pakain dalam. Nanti aku bisa memperdalam tentang ukuran-ukuran itu.”

“Ukuran… ukuran apa?”

“Ssst… kau pasti mengetahuinya.” Jimin mendekat, memandangi wajah bingung Eun Kyo. Dikecupnya bibir wanita itu sekilas, menghentikan semua perkataan yang hendak terlontar.

“HAHAHAHA!” Namjoon di sisi lain tertawa-tawa sambil menunjuk mereka berdua. “Uh! Jimin! Kau masih saja seperti itu! Dasar otak mesum! HAHAHAHA!”

“Berisik kau, Namjoon!” Ia lalu kembali berbisik pada Eun Kyo, “Sayang, bagaimana kalau sekarang kita menonton video bersama-sama?”

-HIMMAH-

Tengah malam, ibu Taehyung tersenyum sendiri karena mengingat anaknya sekarang sudah jadi seorang suami. Padahal dulu rasanya anak laki-laki itu masih setinggi lutut.

Sambil mengaduk kopi, ibu memandangi ayah yang sudah terkapar kelelahan di atas sofa. Diletakkan kameranya sejajar dengan gelas kopi di atas meja. Ibu lalu mendekati ayah dan berbisik membangunkannya.

“Sayang? Bangun! Aku ingin pinjam macbook! Sayang?” Diguncangkan tubuh lelaki itu. “Sayang? Aku ingin menunggah foto pernikahan anak kita ke situs pribadiku. Sayang? Macbookmu mana?”

Dengan mata yang mengantuk, ayah bangkit dan berbicara sadar tidak sadar, “Macbook-ku sudah meledak!” Ia lalu jatuh tertidur.

Meledak? Jadi yang menukar takdir itu…

To be Continue.

A/N: Weheey! Aku sangat mengharapkan jejak dan suntikan semangat untuk kelanjutan ff ini. bagaimana nasib Taehyung dan si manusia setengah zombie bernama Yohyun? Dan bagaimana kelanjutan bisnis pakaian dalam yang dirintis Jimin beserta istri? Dan apa yang akan dilakukan Hoseok kalau tahu ternyata yang Taehyung nikahi bukan si lesbi Eun Kyo? Dan bagaimana kelanjutan kisah sahabat lama antar Jimin dan Namjoon si duo mesum? Kita saksikan di part selanjutnya!

 

Advertisements