Tags

, , , , , ,

large

Give Love
Caramel Kim Storyline

 

-Main Cast : Jung Hoseok (J-hope BTS), Cha Yeonhwa (Requested Character)|Genre : Romance|Length : Oneshoot|Rated : All ages

 

Recommended Song : Akdong Musician, Give Love.

 

Why can’t you understand me?
I like you

 

-Give Love-

 

 

Memperhatikan orang yang kita kagumi dari jauh memang tidak enak..

Kuperhatikan gadis berambut gelap yang kini berjalan mengitari Cafetaria dengan tatapan kagum. Ya ampun aku suka gaya dia berjalan, benar-benar gaya berjalan yang aku sukai. Gaya berjalan tegap tapi sopan, dan dia berjalan anggun sambil membawa nampan berisi makan siang yang menunya selalu sama. Kimbap tuna, kimchi sawi, pudding buah, dan Jus jeruk kaleng. Ah ya ampun Hoseok, kau begitu memperhatikan gadis itu sampai-sampai kau hafal apa yang dimakannya saat makan siang, setiap hari.

Gadis itu berjalan semakin dekat, dan semakin dekat jarak kami maka aku bisa merasakan degup jantungku yang berdebar kuat. Sangat kuat, sampai aku pikir jantungku akan copot begitu saja. Apa dia akan makan di meja yang ada dibelakangku? Atau didepanku? Ah tidak, aku harus apa?

“Yeonhwa-ya! Duduk disini saja!”

Aku menoleh cepat keseberang ruangan. Ternyata Han Hyejoon, salah satu gadis teman sekelasku dan juga teman dekat Yeonhwa. Dia melambaikan tangan antusias, seolah ingin menarik Yeonhwa mendekat. Dan benar saja, Yeonhwa yang kini hanya berjarak tiga meter dariku malah berjalan menjauh dan mendekati Hyejoon yang berada disisi lain Cafetaria. Sontak saja aku menghela nafas panjang.

“Hahaha, kecewa lagi? Kasian sekali kau.”
Tukas Namjoon sambil terbahak. Dengan jengkel kuperhatikan mulut pria yang duduk dihadapanku itu, dia puas tertawa dengan mulut lebar dan penuh dengan Bulgogi, dasar jorok. Aku mendengus kesal, Ingin sekali aku menjejal mulutnya dengan kaos kaki bekas.

“Berisik! Kau kan tidak tau rasanya.”
Ujarku masam sambil mengacungkan sendok kearahnya. Bisa kulihat Namjoon, Yoongi, dan Seokjin menatapku dengan tatapan geli. Yoongi menyeringai jahil, sementara Seokjin menggeleng kepala dengan iba

“Kami kan sudah bilang, kau harus ajak dia bicara. Tidak sulit kok.”
Ucap Yoongi dan melahap sisa Kimchi di mangkuknya dengan gayanya yang keren. Aku menatap Yoongi iri, dia sangat keren, setiap gadis dikampus pasti akan menatapnya saat dia berjalan. Bahkan, setiap gadis dikelasku akan berusaha menjadi rekan satu kelompoknya disetiap ada kesempatan. Yoongi adalah kapten Tim basket kampus, dia juga pintar, gaya bicaranya tegas tapi dalam. Benar-benar magnet para gadis.

“Hanya bilang ‘Hai cantik, semoga harimu menyenangkan’ itu kan sangat mudah.” Tambah Namjoon masih tertawa geli. Aku menatapnya dengan tatapan putus asa, kalau ada cermin dihadapanku sekarang, aku yakin tampangku benar-benar sangat menyedihkan. Aku menghela nafas lalu melempar pandang keseberang ruangan, menatap Yeonhwa yang kini sedang tertawa-tawa dengan gerombolan gadis-gadis.

“Melihat wajahnya dari jarak dekat sudah membuatku ingin kabur.”
Ucapku dengan sumbang. Namjoon menggeleng lalu menelan sisa makanannya dengan cepat.
“Heh, kalau kau begitu terus Yeonhwa akan berpikir kalau kau takut padanya. Ajak dia bicara, tanyakan soal tugas atau apalah, sama sekali tidak sulit.” Ucap Namjoon lagi. Aku mendesah pelan, hah dia bisa dengan mudah bilang begitu karena dia laki-laki playboy. Gadis mana yang tidak terpikat dengan suara berat dan otak cemerlang milik Namjoon? Semua gadis mengejarnya seakan-akan dia bintang film. Memang, Namjoon punya daya tarik aneh, dia juga orang yang menyenangkan dan pandai bergaul.

“Namjoon-a jangan paksa dia begitu, kau hanya membuatnya stress.”
Kini giliran Seokjin yang bicara. Seokjin? Sahabatku yang satu ini benar-benar tampan, setiap dia tersenyum didepan seorang gadis, pasti gadis itu akan memekik terpesona. Tipe pria idaman dalam drama atau film, wajahnya yang tampan dan sikapnya yang sopan benar-benar menjadi sisi menarik dalam dirinya. Dan sebagai tambahan, dia juga jago memasak.

Duh! Kadang aku bertanya-tanya kenapa aku dikelilingi oleh pria keren dan berpengalaman dengan gadis-gadis?

Banyak orang yang bilang kalau kami ini adalah geng keren dikampus. Bahkan aku pernah mendengar dari rekan satu kelompokku kalau aku dan teman-temanku itu mirip dengan geng yang ada dalam drama ‘Boys Before Flowers’. Aduh, mendengarnya saja aku ingin tertawa, dan saat aku bilang pada mereka mengenai ucapan temanku itu sontak mereka juga tertawa terbahak.

Boys Before Flowers apanya? Kita ini lebih keren.”
“Temanmu itu fans kita ya? Ucapannya jujur sekali.”
“Ya Tuhan aku tertawa terus sampai ingin buang air kecil!”

Yap, begitulah komentar mereka. Aku juga sempat berpikir demikian, apa sebesar itu daya tarik mereka?

“Sudahlah Hoseok-a, akan ada kesempatan buatmu untuk ngobrol dengan Yeonhwa. Percaya padaku.”
Ucap Seokjin lalu membuka kaleng sodanya. Dia tersenyum padaku lalu mulai menyesap sodanya dengan tenang.
“Ah bicara soal kesempatan, kau harus berdoa untuk praktek akhir semester. Akan ada kunjungan kelompok ke kedutaan. Berdoalah kau akan pergi dengan Yeonhwa.”

Aku menatap Yoongi dengan mata membulat. Kunjungan kelompok? Akhir semester ini?

“Wah, semoga aku dapat Negara yang bagus.”
Ujar Namjoon sambil menghela nafas malas, dia lalu menggaruk belakang kepalanya.

Tapi, Apa aku akan beruntung kali ini?

“Berdoalah Hoseok-a, semoga keberuntungan menyertaimu.”

 

-Give Love-

 

Aku melangkah dengan agak tersandung menyusuri lorong utama fakultas. Kelas filsafat sudah berlalu dengan waktu yang sangat lama. Sepanjang kelas kerjaanku hanya menguap, matahari bersinar terik sekali dan kelas berlangsung saat waktu dimana orang seharusnya tidur siang. Mana mungkin aku tahan untuk tidak menguap?

Sebaiknya aku beli soda, atau makanan kecil agar aku tidak banyak menguap, batinku lalu berbelok menuju Cafetaria. Tapi, begitu aku berbelok sontak langkah kakiku berhenti. Dadaku kembali bergemuruh..

Itu Cha Yeonhwa..

Aku bergerak mundur perlahan dan pura-pura sedang memandangi pemandangan dari luar jendela. Aku memperhatikannya diam-diam, dia sedang melihat papan pengumuman.

Keadaan disekitar papan pengumuman cukup ramai, bahkan disana juga ada Yoongi, juga ada beberapa teman sekelasku seperti Kim Taehyung, Park Jimin dan gadis yang selalu bersama Yeonhwa, si Han Hyejoon itu. Apa aku ikut bergabung dengan mereka? Sekedar berpura-pura untuk melihat papan pengumuman atau menyapa Yoongi mungkin?

Tiba-tiba aku jadi ingat masa-masa diawal aku berjumpa dengan Yeonhwa. Aku mengagumi gadis itu dari semester awal, tapi tak sekalipun aku berani bicara dengannya. Iya, bicarapun hanya sebentar, itu pun hanya sekedar menyapa dengan bahasa formal sambil lalu. Entahlah, aku terlalu gugup jika berdiri dekat dengannya. Kau tau? Aku sering sakit perut karena tegang, dan saat aku menceritakan hal ini pada Namjoon dia bilang itu sindrom jatuh cinta. Dia bilang itu wajar, tapi sekarang aku jadi ragu dengan perkataannya.

Akan tetapi, aku sangat ingin dia menyadari keberadaanku. Yoongi bilang aku harus bicara padanya, atau mengirim pesan singkat atau apalah itu agar dia mengenalku dan akrab denganku. Namun, aku tidak seberani itu, aku selalu takut salah bicara atau takut terlihat aneh didepannya. Jadi aku menunjukan keberadaanku dengan cara lain. Atau mungkin, cara yang konyol.

Aku masih ingat dengan jelas, musim semi lalu adalah hari ulang tahun Yeonhwa. Semua orang dikelas menyalami dan memberi ucapan selamat. Teman-temanku juga mendesakku agar memberi ucapan padanya, tapi setiap melihat Yeonhwa tersenyum dan tertawa dengan manis, mau tak mau aku mundur karena merinding.

Jadi agar tetap bisa mengucapkan selamat tanpa ketauan, aku sengaja  memberinya sebuah kado berupa buku harian berwarna biru pastel. Aku memberikannya diam-diam selang beberapa hari dari hari ulang tahunnya. Aku membungkusnya juga dengan kertas kado berwarna ungu pastel. Yap, dia suka warna pastel, aku sering memperhatikan barang-barang miliknya yang berwarna seperti itu, mulai dari tas, buku-buku, dan pulpen. Setelah semuanya terbungkus dengan cantik aku lalu mulai mencari cara untuk memberikannya tanpa ketauan. Dan benar-benar sulit untuk memberikannya secara sembunyi-sembunyi, tapi akhirnya aku berhasil memberikannya lewat Jeon Jungkook, adik tingkatku yang kebetulan junior Yeonhwa dikegiatan pecinta alam. Tapi sebagai uang tutup mulut agar Jungkook tidak membongkar identitasku, aku memberi dia 100 ribu won.

“Heh Hoseok-ya! Kenapa kau meminta bantuan si Jeon Jungkook itu?! Dia itu mata duitan!”

Ya, aku akhirnya diomeli Yoongi habis-habisan. Tapi, aku tersenyum puas sambil mengamati Yeonhwa dari kejauhan saat Jungkook memberi kado itu. Gadis itu terlihat bingung, dan bertanya siapa yang menitipkan kado itu pada Jungkook. Tapi untunglah anak itu tutup mulut lalu bilang ‘Ini Cuma perintah’ dan pergi meninggalkan Yeonhwa yang tersipu malu menatap hadiah itu ditangannya.

Aku juga menuliskan ucapan selamat disebuah kartu yang dibungkus bersama kado itu. Dan kurang lebih isinya,

Selamat ulang tahun Yeonhwa-ssi.

Semoga kau suka hadiahnya, aku tau kau suka warna pastel. Tapi, Jika kau tidak suka lebih baik kau simpan saja, jangan dibuang ya.

Dari, @-@/

 

Konyol sekali.

Sekelebatan memori itu sukses membuatku malu setengah mati. Apa Yeonhwa masih menyimpan hadiah itu? Atau dia membuang hadiahnya? Seharusnya aku tidak sok romantis dan misterius seperti itu, aku bergelut dengan pikiranku sambil memperhatikannya dari jauh. Aku kembali hanyut dalam gelombang yang sama begitu memandanginya, dia sangat cantik, rambutnya yang gelap menggantung indah dibahunya, kulitnya putih agak kekuningan, matanya juga indah. Hah, benar-benar mempesona.

“Hey Hoseok-a! Kesini cepat!”

Aku tertegun kaget begitu mendengar Yoongi menyebut namaku keras sambil melambaikan tangan. Aku yakin dia sengaja, aku buru-buru membuang muka dengan panik. Tapi teriakan Yoongi yang semakin keras malah mengundang perhatian semua orang yang berkumpul disekitar papan pengumuman, tak terkecuali Yeonhwa.

Aku tidak mungkin kabur, batinku lalu berjalan mendekati gerombolan itu dengan langkah terhuyung. Kulirik Yeonhwa sekilas begitu aku berjalan, dia menyunggingkan senyumnya dengan manis. Aku nyengir membalas senyumnya, aduh, seharusnya aku jangan nyengir aneh begitu!

“Heh, heh, Hoseok-a lihat ini. Kau dapat kedutaan Inggris.”
Ujar Yoongi sambil menarik bahuku untuk ikut melihat papan pengumuman. Mataku menelisik selembar kertas yang ditunjuk Yoongi, aku memicingkan mataku sejenak. Rangkulan Yoongi dibahuku tiba-tiba mengencang, aku melirik kearah Yoongi bingung.

“Dan aku dapat Perancis, dengan Yeonhwa. Aku rasa kita bisa tukar.”
Suara bisikan Yoongi ditelingaku membuatku berjengit kaget. Tau akan reaksiku, Yoongi lantas merangkul bahuku semakin rapat. Kami membelakangi Yeonhwa dan beberapa anak lain agar tidak ketauan.

“Jangan kaget begitu! Bagaimana? Kalau kau mau aku akan bilang pada Tuan Choi untuk mengubah daftarnya.”
Bisikan Yoongi yang benar-benar dekat dengan telingaku itu serasa merembes masuk ke dalam kepalaku. Aku terdiam sejenak, berusaha menimbang tawarannya.

“Ini, sekali seumur hidup, tau? Tukar saja, aku akan bantu kau. Lagian aku malas satu kelompok dengan si bocah tengil Park Jimin itu. Oke?”

Aku menghela nafas menanggapi paksaan Yoongi. Dia menyuruhku bertukar karena Park Jimin? Sialan, kalau dia bukan temanku, mana mau aku membantunya.

Tapi, saran Yoongi bagus juga. Ini adalah kesempatan emas untukku, kapan lagi aku akan bersama Cha Yeonhwa? Apalagi dalam satu kelompok. Dia pasti akan lebih memperhatikan aku.

“Hey hey, minggir. Kalian membuat orang lain tidak bisa lihat pengumuman tau!”

Aku dan Yoongi dengan cepat menoleh kebelakang. Ternyata pembicaraan kami sudah membuat antrian cukup panjang disekeliling papan pengumuman. Kini si anak bernama Kim Taehyung menatap kami kesal sambil melipat kedua lengannya.

“Maaf, maaf.”
Ucapku lalu menarik Yoongi menepi. Taehyung dan Jimin berjalan maju untuk melihat papan pengumuman sambil berdecak kesal. Yoongi merengut.

“Tuh, tatap papan itu sepuasmu dasar bocah!”
Tukas Yoongi, aku memelototi Yoongi agar dia diam. Aduh, Yeonhwa sekarang menatap kami dengan bingung. Yoongi tetap mengomel dengan nada keras, buru-buru aku menyikut rusuknya agar dia menutup mulutnya.

“Si Kim Taehyung dan Park Jimin itu benar-benar menyebalkan, ya kan?”
Ucap Yoongi pada Yeonhwa juga Hyejoon yang kini berdiri sangat dekat dengan kami. Mendengar ucapan Yoongi, kulihat mereka berdua tersenyum.

“Kau kan memang tidak suka mereka sejak tingkat satu.”
Ucap Hyejoon cepat, Yoongi menarik nafas dan menghembuskannya dengan cool.
“Iya kau memang benar.”
Ucap Yoongi pelan. Aku menatap Yeonhwa gugup, dia hanya memperhatikan Hyejoon dan Yoongi bicara. Masih tetap tersenyum.

“Biasakanlah dengan mereka Yoongi-a, kau kan akan satu kelompok dengan mereka.”
Ucap Yeonhwa. Aku tertegun mendengar suaranya yang terdengar sangat dekat denganku. Aduh, sindrom jatuh cinta itu datang lagi, aku tiba-tiba merasa perutku melilit.
“Ya sudah, kami pergi dulu ya, sampai jumpa.”
Ujar Hyejoon melambai singkat ke arahku dan Yoongi.
“sampai jumpa Hoseok, Yoongi.”

Yeonhwa membungkuk singkat pada kami berdua begitu pamit. Aku hanya terdiam sambil menatap punggung gadis itu yang sekarang berjalan menjauh.

Tadi dia menyebut namaku lebih dulu ya?

Tanpa sadar seulas senyum merekah dibibirku begitu menyadari kejadian tadi. Sebenarnya hanya urutan penyebutan nama, tapi kenapa sampai membuatku sebahagia ini?

“Hey, hey.”

Aku kembali tersadar dan menatapi Yoongi yang menjentikan jarinya tepat didepan mukaku dengan wajah datar. Aku nyengir padanya, sementara dia menggeleng seolah sikapku tadi benar-benar kekanakkan.

“Kau senang? Akan lebih menyenangkan lagi jika kau mau bertukar denganku. Kejadian tadi itu bukan apa-apa kalau kau setuju dengan ideku.” Ucapan Yoongi membuatku berpikir cepat, apa sebaiknya aku setuju saja? Kurasa memang sudah saatnya untukku mendekati Yeonhwa. Masa iya sudah dua tahun tidak ada kemajuan.

“Baiklah kalau kau memaksa, aku akan menuruti keinginanmu.”

Cengiran aneh mengembang diwajah Yoongi dengan cepat. Aku berjengit kaget, cengiran Yoongi benar-benar lebar seakan wajahnya akan robek akibat senyuman itu.

“Jangan nyengir terlalu lebar begitu.”
Tukasku kaget. Yoongi hanya mengibaskan tangannya cepat, lalu menatapku tajam.

“Sebaiknya kita juga pergi dari sini dan menemui Tuan Choi untuk mengganti daftarnya. Ayo! Waktu kita sempit.”

Yoongi dengan ekstra semangat menarik lenganku dan menyeretku sekuat tenaga. Aku menghela nafas, apa keputusanku ini tepat? Batinku dan mengikuti langkah Yoongi dengan tampang pasrah.

 

-Give Love-

 

“Berkumpul digedung fakultas pukul 09.00 pagi.”
Gumamku sambil melihat selembar kertas jadwal kunjungan ke kedutaan Perancis. Aku menghela nafas panjang, lalu memasukkan buku-buku dan barang lainnya ke dalam ranselku. Hari ini akan menjadi hari yang panjang, dan kurasa bertukar dengan Yoongi adalah kesalahan besar.

Aku belum siap untuk menghabiskan waktu seharian bersama Yeonhwa.

“Pakai parfum sebelum berangkat. Jangan bertingkah konyol, ajak bicara dia jika ada kesempatan.”

Kata-kata Namjoon menyerang isi kepalaku seperti peluru. Aku mendesah pelan, mana mungkin aku bisa bertingkah konyol didepan orang yang aku suka? Yang ada aku malah terdiam seperti patung atau kabur begitu saja. Atau jangan-jangan diam dan kabur termasuk tingkah yang konyol? Aku langsung menepis pikiran itu jauh-jauh.

“Ah, tidak-tidak. Bertemu saja belum masa aku sudah menyerah?”
Tukasku lalu menenteng ransel dipundak, aku harus berangkat sekarang atau aku akan terlambat.

Setelah sarapan dan pamit aku lalu pergi menuju kampus. Kurasa akan lebih efisien jika naik subway, apalagi nanti kami akan berangkat menggunakan bis kampus hingga tiba di tempat tujuan. Jadi aku pergi ke stasiun dan berangkat menggunakan subway. Cukup cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga tiba di stasiun yang aku tuju. Aku tidak mungkin terlambat.

Dan ternyata aku memang tidak terlambat. Aku tiba didepan gedung fakultas sekitar 15 menit sebelum berangkat. Hari ini hanya tiga kelompok yang akan mengunjungi kedutaan masing-masing. Kelompokku yang melakukan kunjungan ke kedutaan Perancis, lalu ada yang mengunjungi kedutaan Italia dan Belize.

Aku berjalan setengah berlari menyusuri lapangan parkir fakultas. Sudah ada banyak anak disana, mereka benar-benar antusias sekali mengikuti kegiatan ini. Aku berjalan menuju barisanku, sambil mengamati keadaan sekitar aku lalu bergabung dijajaran belakang, jajaran dimana yang datang paling akhir berkumpul.

Tapi, saat aku mengamati setiap wajah yang menghuni barisanku, aku tercenung bingung. Tidak ada Yeonhwa disini, hanya dia saja yang belum terlihat. Padahal anggota kelompokku nyaris lengkap, ada Park Jimin dijajaran depan, lalu Kim Taehyung, dan Jung Yoori. Hanya Yeonhwa saja yang belum hadir, apa dia terlambat? Atau dia tidak bisa hadir?

“Ya ampun aku telat!”

Begitu mendengar suara yang terdengar familier itu aku lalu menoleh cepat. Itu dia, berlari dengan kecepatan kilat menuju barisanku. Dia terlihat ngos-ngosan dengan menenteng ransel hijau tosca dipundak, rambutnya berayun seiring langkah kakinya yang menjejak aspal.

Tanpa kusadari senyuman mengembang diwajahku.

“Nona Cha kau hampir tertinggal bis-mu. Ayo bergabung dengan kelompokmu.” ujar tuan Choi sambil memegang daftar nama siswa dan mengamati daftar itu berulang kali. Yeonhwa tertunduk, lalu berjalan menuju jajaranku.

Eh tunggu, berarti dia akan..

“Eh? Hoseok? Bukannya kunjunganmu ke kedutaan Inggris sudah selesai?”

Aku terlonjak kaget dari tempatku berdiri begitu mendengar suara Yeonhwa terdengar dekat ditelingaku. Aku menoleh kebelakang, dan mendapati gadis itu menatapku bingung. Nafasku mendadak terputus-putus.

Sindrom jatuh cinta ini kambuh lagi..

“Aku, bertukar dengan Yoongi.”
Ucapku dengan volume pelan, aku tidak yakin suaraku akan terdengar olehnya. Tapi Yeonhwa mengangguk.

“Ah, pantas saja aku bingung melihatmu ada dikelompokku. Sudah kuduga Yoongi akan meminta barter. Dia tidak akan tahan dengan mereka berdua seharian.”
Yeonhwa bergumam sambil menuding Taehyung dan Jimin didepan. Aku tersenyum gugup menanggapi ucapannya. Pipiku panas begitu aku sadar bahwa aku berdiri dekat dengannya sekarang, sampai wangi parfum beraroma kayu-kayuan hangat menguar manis dari tubuh gadis itu.

Aku malu sekali..

Ini baru awal, tapi sudah membuatku salah tingkah begini. Aku menggigit bibirku gugup, lalu mengalihkan pandanganku kedepan, kearah kepala-kepala rekanku yang lain. Berbagai pikiran serasa bercabang dikepalaku. Aku berusaha mengingat semua ucapan Namjoon, Yoongi, dan Seokjin. Aku bisa mengatasi ini, ini adalah hal yang mudah.

 

-Give Love-

 

“Melelahkan sekali.”
Gumam Taehyung begitu kami berjalan menuju beranda kantor kedutaan. Ya, kunjungan kami sudah selesai, memang melelahkan, kami harus membantu ini dan itu disana, belajar mengenal budaya dan berdiplomasi. Aku menghela nafas lega, setidaknya aku tidak perlu merasa gugup terlalu lama sekarang. Iya, selama kunjungan tadi kami memang mengobrol sedikit, itu pun dengan susah payah karena aku harus menahan rasa gugupku. Tapi aku merasa terbiasa.

“Kita makan di Namdaemun bagaimana? Mumpung dekat dari sini.”

Aku menoleh kearah Jimin, dia tersenyum seolah senang akan idenya itu. Kulihat yang lainnya pun bergumam setuju.

“Ah kau benar, hanya tinggal jalan sedikit.”
Ucap Yoori antusias. Aku menoleh kearah Yeonhwa, dia juga terlihat antusias. Aku menarik nafas dengan susah payah.

“Aku ikut, aku pengen ke kedai es krim, mumpung dekat dari sini.”
Ujar Yeonhwa sambil tersenyum. Mendadak kepalaku jadi pusing, Apa aku ikut dengan mereka? Ini mungkin kesempatan sekali seumur hidup.

“Bagaimana Hoseok? Hanya kau yang tidak menjawab. Yeonhwa bilang ikut, Yoori juga bilang ikut. Kalau Taehyung sih jelas akan ikut, ya kan?”
ucap Jimin dengan nada agak memaksa, dia melirik kearah Taehyung sahabatnya, lalu tersenyum aneh.
“Aku sih pasti ikut.”
Tukas Taehyung nyengir pada rekannya itu. Jimin tersenyum padaku, matanya terlihat segaris sekarang.

Yah..kalau dipaksa begini sih..

“Iya, aku ikut.”
“Nah bagus! Ayo! aku ingin makan mie.”

Taehyung berseru antusias lalu berjalan paling depan seolah memimpin gerombolan ini. Aku berjalan lambat dibelakang, berusaha mencerna apa yang sudah terjadi. Jalan-jalan dengan Park Jimin, Kim Taehyung, Jung Yoori dan juga Yeonhwa. Ini sangat aneh, kenapa tiba-tiba Jimin dan Taehyung berubah antusias?

Dengan dada bergemuruh aku lalu menyusuri jalanan aspal menuju Namdaemun. Yeonhwa dan Yoori mengobrol seru didepanku, kedua gadis itu terlihat senang, Jimin dan Taehyung pun juga sama.

Sebaiknya aku juga ikut senang dengan ide ini, tidak ada salahnya aku menikmati jalan-jalan ini. Lagipula sudah lama aku tidak ke Namdaemun, ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi.

Coba saja kalau aku pergi berdua dengan Yeonhwa, aku akan membawanya ke banyak tempat di Namdaemun. Atau juga mengunjungi sungai Han dan menikmati secangkir kopi di kedai yang cantik disisi sungai. Aku tersenyum seiring dengan semakin membengkaknya khayalan itu didalam kepalaku.

“Jjangmyeon atau Ramyeon?”
Tanya Yoori begitu kami sampai dikawasan Namdaemun.

Namdaemun nampak ramai disore hari seperti ini, banyak anak-anak sekolah yang datang untuk berkumpul dengan teman-temannya atau hanya sekedar membeli makanan. Tempat ini juga enak untuk berbelanja, banyak toko pakaian bagus dari yang ber-merk terkenal seperti Zara sampai brand lokal yang berkualitas bagus.

“Ramyeon, aku tau tempat yang enak untuk makan ramyeon.”
Jimin menjentikan jarinya lalu menunjuk kesebuah belokan diseberang kami, tepat sebelum toko bakery.

“Ayo ikuti aku!”

Jimin dan Taehyung menarik lengan Yoori dengan cepat dan menghilang kedalam kerumunan orang. Aku bengong, dan berusaha mengejar langkah kaki mereka, Yeonhwa pun berjalan didekatku dengan bingung.

“Kok mereka meninggalkan kita?”
Tanya Yeonhwa sambil celingukan disebelahku begitu kami berhenti diperempatan. Aku meliriknya dengan canggung, tapi Yeonhwa benar, kenapa Jimin dan Taehyung hanya menarik lengan Yoori dan membawa lari gadis itu dikeramaian seperti ini? Bahkan saat kami mencari mereka dikedai Ramyeon pun tidak ada. Ini benar-benar membingungkan.

“Mereka jalannya cepat sekali.”
Ujarku terbata. Aku tau kata-kataku sama sekali tidak menjawab pertanyaan Yeonhwa, tapi kulihat gadis itu menatapku dan mengangguk.
“mereka itu iseng atau apa? Menjengkelkan.”
Ucap Yeonhwa sambil menghembuskan nafas kesal. Aku menatapnya lama, rasanya aneh berjalan menyusuri Namdaemun berdua dengannya. Aku bahkan tidak menyangka hal seperti ini terjadi dalam hidupku.

“Ah lagipula aku lapar.”

Begitu aku membuka mulut untuk menanggapi ucapan gadis itu tiba-tiba aku merasakan sesuatu bergetar disakuku. Ponselku bergetar, aku lalu mengurungkan niatku dan merogoh saku untuk mengambil ponsel. Aku mengerutkan keningku sekilas begitu membaca nama yang tertera diponselku.

Namjoon mengirim pesan. Ada apa?

Sambil menoleh bingung kearah Yeonhwa aku lalu mengusap layar ponsel cepat dan mulai membaca teks pesan Namjoon dengan teliti.

Kaget ya? Hahahaha tak kusangka Taehyung dan Jimin akan mengikuti rencana kami. Oke, semoga sukses! Kami mendoakanmu dari sini HYAHAHAHAHA.

Jadi ini semua ulah mereka?

Aku menarik nafas kesal begitu selesai membaca pesan dari Namjoon. Jadi ini adalah bagian dari rencana mereka? Jalan-jalan ke Namdaemun adalah bagian dari rencana jahat mereka? Dasar, mereka bahkan tidak mendiskusikan hal ini denganku sebelumnya.

“Kau lapar tidak?”
Tanya Yeonhwa sambil melirik kearahku. Aku terdiam sejenak, berusaha mencari kata-kata yang tepat di otakku.
“Kau sendiri? Kalau kau lapar aku akan mengantarmu mencari makan.”

Eh Hoseok-ya kau ini apa-apaan?! Mengantar gadis itu mencari makan? memangnya kau ini pemandu wisata?

“Kau juga harus ikut makan, aku tau tempat makan yang enak dan murah. Kita makan dulu baru pulang.”
Ujarnya dengan riang. Aku tertegun sejenak, lalu melempar pandang kesekelilingku lalu kembali melihat kearah Yeonhwa.
“Ah, baiklah aku ikut denganmu.”

 

-Give Love-

 

“Enak sekali.”
“Nah kan sudah kubilang disini makanannya enak.”

Ujar Yeonhwa bersemangat sambil menyendok nasi dan Bulgoginya yang terakhir. Nasi itu masih mengepul, aku memperhatikannya dengan seksama. Dia melahap nasi terakhirnya sambil tersenyum dihadapanku.

Aku sendiri tidak menyangka akan begini jadinya. Makan berdua dengan Yeonhwa, berdua saja. Kami makan dengan riang dan kelaparan, karena sudah berjalan jauh mengelilingi Namdaemun sepanjang sore. Rasanya aneh tapi menyenangkan, aku tidak mau hari ini berakhir dengan cepat.

“Disini murah, aku sering kesini waktu masih sekolah. Bibi yang punya kedai ini juga sangat ramah, aku sering kesini bersama teman-temanku.”
Celotehan keluar begitu saja dari mulut gadis itu. Dia tidak terlihat canggung sedikitpun, bahkan, dari tadi dia sering mengajakku bicara.

“Ini pertama kalinya aku makan disini. Aku bahkan tidak tau ada kedai ini di Namdaemun. Berkat kau aku jadi tau.”
Ucapku lalu menyunggingkan senyum. Walaupun jantungku masih berdebar sangat kencang memukul rongga dadaku, tapi aku mulai terbiasa dengan suasana ini. Akhirnya aku bicara banyak dengannya.

“Aku punya banyak rekomendasi tempat di Namdaemun. Kalau kau mau aku akan mengajakmu berkeliling.”

Hampir aku menyembur Bibimbap-ku keluar. Berkeliling Namdaemun? Apa gadis itu bercanda?

“Sekalian aku ingin makan es krim. Bagaimana?”
Yeonhwa mengangkat alisnya antusias. Aku menatapnya canggung, ini benar-benar diluar dugaanku.
“Tapi, aku akan mentraktirmu, bagaimana? Kau sudah baik sekali mau mengajakku berkeliling. Aku traktir kau ya?”
Ucapku cepat secepat kereta express. Gadis itu memiringkan kepalanya bingung, aku menatapnya meminta persetujuan.
“Traktir? Aduh, jadi tidak enak. Tapi makanan ini aku yang traktir, kau traktir es krim. Bagaimana?”

Terjadi tawar menawar seperti transaksi jual beli. Aku berusaha agar mentraktir semuanya, tapi Yeonhwa bersikeras untuk membayar makanan yang aku makan ini.

“Baiklah, tapi es krim aku yang bayar ya. Kau bisa makan es krim sepuasnya sampai perutmu kembung.”
Ucapanku itu disambut Yeonhwa dengan anggukan kepala yang bersemangat. Begitu selesai tawar menawar gadis itu segera ke kasir dan membayar. Aku mengikuti langkah kakinya yang cepat, lalu berjalan keluar dari kedai dan kembali bergabung dengan keramaian.

“Didepan situ lalu belok kiri.”

Aku mengangguk tersenyum sambil terus berjalan ditengah suasana menyenangkan Namdaemun disore hari. Kami berjalan beriringan ditengah keramaian, benar-benar menyenangkan. Kami berbincang banyak, mulai dari tugas-tugas, hal-hal yang kami sukai, dan juga pembicaraan lainnya. Yeonhwa benar-benar gadis yang menyenangkan dan baik, mengaguminya dari jauh selama dua tahun benar-benar membuatku menyesal setengah mati. Coba kalau aku berani dari dulu, aku pasti akan lebih mengenalnya dengan baik.

“Nah itu didepan.”
Tukasnya lalu menunjuk kekedai es krim yang berada tak jauh dari pandanganku. Lucu sekali tempatnya, dari luar saja kedai itu terlihat begitu berwarna dan nampak menyenangkan. Mirip Baskin Robbins hanya saja warnanya lebih cerah dan banyak diwarnai warna pastel.

“Ayo masuk.”
Ucapku lalu melirik kearah gadis itu, dia tersenyum dan berjalan cepat. Rambutnya nampak berkilau ditimpa cahaya matahari sore yang mulai memerah.

Begitu masuk aku tercengang dengan interior kedai itu. Semuanya warna pastel, wallpaper, hiasan yang menggantung di dinding, semuanya. Benar-benar indah sekali.

Kami lalu duduk dibagian dalam kedai, Yeonhwa yang memimpinku jalan. Dia menunjuk meja disisi jendela, dekat dengan sudut ruangan yang berhias ornamen kayu. Kami lalu duduk dan mulai memesan.

“Tempatnya mungkin terlalu kekanakan untuk usia kita. Tapi aku suka tempat ini”
Ucap Yeonhwa begitu pesanan kami tiba. Dia tersenyum pada si pelayan lalu mulai menyantap es krimnya riang.

“Tidak kekanakan, tempat ini bagus.”
Ucapku dan juga melahap es krim coklat milikku. Yeonhwa terkekeh dengan anggun, lalu tersenyum kecil.
“Aku selalu merasa muda jika berkunjung kesini.”
Kami tertawa bersama begitu mendengar ucapan Yeonhwa. Es krim yang aku makan terasa berkali-kali lipat lebih manis saat memandangi gadis itu. Serius, aku benar-benar bahagia sekali bisa duduk berhadapan dan mengobrol dengannya.

“Tapi, kau benar-benar suka warna pastel ya. Sampai kedai es krim pun kau memilih yang berwarna pastel, terutama biru pastel.”

Gadis itu berhenti melahap es krimnya dan menatapku heran. Aku balas menatapnya bingung, apa aku salah bicara?

“Tau dari mana kalau aku suka warna pastel terutama biru pastel?”

Ya ampun, aku keceplosan.
Mendadak es krim yang aku makan berubah menjadi sangat dingin. Aku menatapnya bingung, sementara Yeonhwa mulai memiringkan kepalanya lagi. Dia menunggu jawabanku..

“Se..setiap anak perempuan suka warna pastel. Noona-ku juga menyukainya. Apalagi biru pastel.”
Ucapku dengan nada sumbang yang aneh. Yeonhwa tersenyum kecil walau tetap memandangku curiga, dia lalu menyendok es krimnya tanpa minat. Wajahnya kini terpancang kearahku sepenuhnya.

“Kau ini aneh sekali Hoseok-a, sangat aneh.”

Aku menelan salivaku gugup. Jangan, jangan sampai dia tau kalau aku yang memberi hadiah buku itu. Dia tidak boleh sampai tau kalau orang itu aku.

“Aku memang aneh, Namjoon sering bilang kalau aku adalah makhluk paling aneh yang pernah tinggal dibumi.”
Sergahku cepat. Aku nyengir canggung kearah Yeonhwa, dia tertawa kecil lalu melahap es krimnya. Aku menarik nafas panjang.

“Walau kau aneh tapi kau orang yang baik, dan menyenangkan. Aku senang bisa mengobrol panjang denganmu. Kita berada dalam satu kelas tapi tidak pernah berbicara sebanyak ini, kau pemalu ya?”

Aku merasa pipiku panas, aduh, Yeonhwa bilang aku orang yang menyenangkan. Mendadak, aku merasa ada jutaan kupu-kupu berterbangan didalam perutku.

“Kita hanya tidak ada kesempatan untuk mengobrol. Kau juga gadis yang baik, aku senang bisa berbincang dan menghabiskan waktu denganmu. Aku benar-benar senang sekali.”
Ucapan itu dengan tulus mengalir dari bibirku. Entah kenapa, aku ingin sekali mengatakan hal itu. Sungguh, aku sangat senang bisa bersama dengan Yeonhwa dan mengenalnya lebih jauh. Mengetahui makanan kesukaannya, warna, dan hobinya langsung dari gadis itu sendiri memang terasa sangat berbeda ketimbang kau ketahui dari hasil pengamatan atau menguntit. Sejenak aku merasa ada sesuatu yang hangat mengalir didalam dadaku, perasaan sakit perut aneh yang sering aku rasakan kini berganti dengan perasaan hangat itu.

“Habis ini kita ke sungai Han, kau mau? Kita bisa beli kopi sambil memandang kearah sungai. Kau pasti suka.”

Aku memandang Yeonhwa dengan agak gugup. Apa dia akan menerima ajakanku?

“Boleh, tentu aku mau.”

Aku tersenyum begitu mendengar ucapannya. Setidaknya waktuku dengan Yeonhwa belum berakhir, aku masih punya beberapa saat bersamanya. Aku akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin.

Tidak, belum berakhir..

 

-Give Love-

 

Angin malam yang sejuk menerpa wajah Yeonhwa yang terlihat cantik. Dia memandang kearah sungai Han yang tersaji didepan mata, dia menyesap kopi yang ada ditangannya, lalu menghembuskan nafas sambil tersenyum.

“Indah sekali, sungai Han terlihat indah kalau malam.”
Ucapnya sambil melirik kearahku, aku agak kaget karena sedang memperhatikannya, tapi dia tidak sadar akan hal itu.

Saat ini kami sedang duduk di rooftop sebuah Café yang biasa aku dan teman-temanku datangi. Seokjin-lah yang pertama kali mengajak kami kemari, dia bilang view nya indah dan kopinya juga enak.

Memang benar, suasana ditempat ini sangat indah dan menenangkan. Suasana kota serta sungai yang dihiasi lampu kelap-kelip nampak begitu indah dan kemilau. Senja memang sudah padam, tapi cahayanya tergantikan oleh kehadiran lampu-lampu itu.

“Hoseok-a, terima kasih sudah mengajakku kemari.”
Ucap Yeonhwa lalu melempar senyuman padaku. aku tertegun, tapi aku membalas senyumannya dengan tulus.

“Aku juga berterima kasih karena kau sudah mengajakku ke berbagai tempat hari ini.”
“Tak masalah. Tempat ini juga bagus, aku harus mencatatnya di buku harianku. Supaya aku tidak lupa kalau aku pernah kemari.”

Aku tercengang mendengar ucapan Yeonhwa. Buku harian?  Apa buku yang dimaksud adalah buku yang aku berikan untuknya saat dia ulang tahun?

“Buku harian?”
Aku bertanya dengan agak terbata. Yeonhwa menatapku lalu mengangguk riang, dia menuding kearah tas yang dia bawa.
“Buku ini selalu aku bawa kemanapun. Sangat berguna.”

Gadis itu kini merogoh tasnya dan mengeluarkan buku harian biru pastel dari dalam tasnya. Aku melotot kaget sambil memandangi buku itu. Itu benar buku yang aku berikan, dia menyimpannya. Dia bahkan memakainya!

“Buku ini aku dapat saat aku ulang tahun, seseorang memberikannya untukku lewat Jungkook. Tapi aku tidak tau siapa dia, Jungkook tetap tidak mau memberi tau.”

Jantungku kembali berdebar tak karuan saat Yeonhwa mengelus buku itu dengan ibu jarinya. Jadi, dia tidak membuangnya? Aku benar-benar bahagia sekali.

“Aku kira kau akan membuangnya.”
Ucapku ragu, tidak, aku tidak peduli dia akan tau. Aku terlalu senang sampai aku tidak bisa berpikir, hatiku mendorongku untuk mengatakannya.

“Tidak mungkin aku membuangnya, ini berharga.”
Aku memandang wajah Yeonhwa tanpa henti. Dia tersenyum, lalu kembali menyimpan buku itu kedalam tasnya.

“Aku tidak menyangka kau akan menyukai buku itu. Untung aku tidak membeli yang warna hijau.”

Yeonhwa mendongak begitu mendengar ucapanku. Dia terperangah sambil menatapku bingung, aku membalas tatapannya, lalu berusaha tersenyum sambil menuding buku itu.

“Hoseok..”
“Aku yang memberimu buku itu. Selamat ulang tahun, Yeonhwa-ssi.”

Ucapku mengutip tulisanku dikartu ucapan yang aku tulis untuknya. Aku tersenyum gugup, Yeonhwa melotot kaget lalu meraih tanganku cepat.

“Jadi kau? Kenapa kau tidak bilang?”
Tanya Yeonhwa dengan kaget. Aku menatapnya gugup, dia menggenggam tanganku erat sekali.
“Aku terlalu takut, maaf ya membuatmu kaget begini.”
“Hoseok, kau ini, sangat aneh. Jadi alasanmu selalu menghindar dariku juga karena kau takut?”

Yeonhwa menatapku tajam sekarang. Dia pasti marah, aku tau itu. Aku sudah berbohong dan tidak mau mengaku padanya. Aku juga selalu menghindar darinya jika dia ingin bicara denganku. Aku memang pengecut, bisanya hanya memberi hadiah lalu kabur. Aku siap jika Yeonhwa akan membenciku.

“Aku menyukaimu sudah dua tahun, aku tidak keberatan jika kau tidak mau memaafkanku. Aku tau kau marah, aku hanya tidak ingin kau tau perasaanku. Memperhatikanmu dari jauh sudah lebih dari cukup, aku sudah senang bisa melihatmu setiap hari. Memperhatikan apa yang kau makan saat makan siang, memperhatikanmu bicara, dan tertawa dari jauh. Aku tidak mau mengganggumu makanya aku menghindar. Maafkan aku Yeonhwa-ya..”

Yeonhwa menatapku terus menerus, aku menunduk dan berusaha menghindari matanya. Akhirnya, akhirnya terbongkar juga semua rahasia yang aku simpan itu. Akhirnya orang yang aku sukai tau akan perasaanku.

Tapi, aku merasa lega sekali..

“dua tahun bukan waktu yang singkat.”
Ucap Yeonhwa lalu melepas genggamannya dari tanganku. Dia lalu melempar tatapannya ke arah sungai, dia berusaha untuk tidak menatapku.

“Kau boleh marah. Maafkan aku ya.”
“Aku pikir kau benci padaku makanya kau selalu menghindar. Aku kira kau tidak suka padaku. aku selalu berusaha untuk bisa bicara denganmu tapi kau selalu kabur begitu saja setiap melihatku.”

Aku menatap Yeonhwa kaget. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia berpikir demikian, aku sama sekali tidak mengira dia akan berpikir kalau aku benci padanya. Sama sekali tidak begitu.

“Tidak, mana mungkin aku bisa membenci gadis baik sepertimu. Aku hanya, tidak ingin terlihat gugup dihadapanmu. Aku tidak mungkin membencimu.”
Ujarku cepat. Aku tidak ingin dia salah paham, jadi selama dua tahun ini dia salah menilai aku?

“Aku begitu karena aku mencintaimu.”

Yeonhwa kini menoleh dan menatapku lama sekali. Aku sama sekali tidak bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya, dia hanya menatapku, tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya.

“Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya. Bagiku, mengatakan yang sesungguhnya padamu sudah lebih dari cukup. Aku bahagia jika kau tau apa yang aku rasakan, setidaknya aku tidak perlu berpura-pura lagi.”
Ucapku serius. Iya, aku sama sekali tidak berharap dia akan menyukaiku juga. Bagiku dengan dia tau apa yang aku rasakan saja aku sudah bersyukur. Menghabiskan hari ini dengannya sudah lebih dari cukup.

“Kau benar-benar pria yang paling aneh yang pernah aku temui.”
Ujarnya lagi. Aku menahan nafasku gugup, dia menatapku terus menerus.
“Aku mencintaimu. Kau mau menerimaku?”

Aku mengatakan kalimat itu dengan lancar sekali. Yeonhwa mengerjap pelan, aku berusaha menghela nafas dengan berat.

“aku ingin pergi ketempat ini lagi untuk kencan pertama kita. Boleh kan?”

Aku terperangah mendengar ucapan Yeonhwa barusan. Kencan? Aku berusaha mencerna kata-kata itu dengan susah payah. Kurasakan jantungku bergemuruh lagi, hanya saja sekarang dia bergemuruh dengan gembira.

“Apa itu artinya kau..”
“Artinya ‘iya’ Hoseok. Aku menerimamu.”

Aku memekik kegirangan mendengar ucapan Yeonhwa. Gadis itu tersenyum dan tertawa melihat tingkahku. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat, aku benar-benar bahagia sekali.

“Aku sayang padamu, Cha Yeonhwa.”
“Aku juga sayang padamu Jung Hoseok. si manusia aneh yang pernah hidup dibumi ini.”

Aku tertawa lalu mengacak rambutnya dengan lembut. Jadi, aku dan Yeonhwa? Aku bahkan tidak bisa meneruskan kalimat itu saking bahagianya.

Malam itu, disisi sungai Han, aku mengucapkan kalimat tabu yang aku hindari selama dua tahun ini. ‘Aku Mencintaimu’ adalah kalimat itu, dan aku berhasil mengatakannya. Dua tahun menjadi pengagum rahasia untuk Cha Yeonhwa memang tidak mudah, tapi untuk mengungkapkan perasaanku padanya lebih sulit lagi.

Tapi, aku sama sekali tidak menyesal mengatakannya…

 

-THE END-

 

Akhirnya beres juga ff requestan dari Jhobangtan ini. Aku seneng banget nulis ff ini jujur aja. aku harap kamu suka ff buatanku ini J aku bikin sambil dengerin Give Love-nya Akmu makanya aku gak berhenti senyum-senyum.

Untuk Jhobangtan, aku harap kau suka ya! :’)

-Caramel Kim-

Advertisements