Tags

, ,

© 2014 JULIAN YOOK

Cast: Suga and You.

Support cast: Kim Taehyung.

Genre: Family, Life, lil bit science fiction.

Rating: PG – 17

Length: Shortshot

Disclaimer: I don’t own anything unless storyline. Cast belong to God. Ghost reader forbidden. Silent reader rott in the hell. Thx.

Summary: Cerita tentang gadis berusia sepuluh tahun bernama Jaesi Kim yang mencari ayahnya. Dia anak dari pasangan lesbian yang lahir dari teknologi tinggi bank sperma dan artificial insemination. Sampai secara tidak sengaja dia bertemu Suga. Ditambah dengan munculnya makhluk yang dia curigai sebagai titisan alien. Kim Taehyung.

j

-ooo-

Dari hasil perhitunganku sebelum tidur, seharusnya sekarang aku berusia sepuluh tahun. Tapi satu yang tetap tidak aku mengerti: apa anak sepuluh tahun di tempat lain mengalami hal seberat ini?

Di sekolah, orang-orang selalu terdiam sebentar untuk melihat wajahku lebih jelas. Dengan dahi yang berkerut samar, mereka berkata apa aku adalah anak dari ras campuran? Aku jawab dengan gelengan kepala. Bukan karena aku menyangkal, tapi karena aku tidak yakin. Waktu aku bertanya pada ibu tentang ayah, maka ia menjawab,

“Untuk apa ayah kalau dua ibu melengkapimu?”

Lalu aku hanya bisa terdiam lama, memandang diriku di depan cermin hingga aku sadar: aku berbeda.

Di saat orang di sekitar—termasuk ibu—tak memiliki kelopak ganda, aku malah mempunyainya. Dan kalau kuperhatikan, aku punya tulang pipi yang tegas, juga mataku ternyata berwarna cokelat terang. Terkadang ibu memanggilku si rambut jagung. Padahal aku tak pernah mewarnainya barang sekalipun.

Aku kembali bertanya pada ibu apakah ayah adalah orang barat? Tapi ibu hanya menggeleng. Seperti tidak pernah tahu bentuk dan rupa ayah. Seolah-olah mereka memang tidak pernah bertemu.

Aku mengerjap. Melihat keadaan sekitar. Seumur hidup, aku tidak pernah ada di ruangan dengan bau obat setajam ini. Dan hal pertama yang kuingat begitu sepenuhnya sadar adalah tentang ibu. Itu buruk. Sangat buruk.

“Is everything okay?”

Aku menoleh, tapi kurung oksigen ini cukup membatasi gerak kepalaku. Lelaki itu duduk di samping dan menatapku was-was.

“C-Can you emmh… sp-speak korean language?”

Aku menjawabnya dengan kedipan lambat. Ia lalu tersenyum.

“Syukurlah!” Embusan napasnya kemudian terdengar, beriringan dengan senyum yang lebih lebar. “Namaku,” ucapnya, menunjuk wajah, “Suga.”

Dia seperti juga orang-orang yang lain, khawatir pada kemampuanku berbahasa korea. Mungkin setelahnya ia juga akan bertanya tentang asal-usulku dan alasan aku bisa terlahir begitu barat.

Aku memutar bola mata, mengalihkan pandangan ke arah lain. Selain tanganku terasa gatal sebab selang infus, kepalaku juga terasa berat. Seharusnya tak perlu lagi dibebani oleh ingatan tentang ibu. Terlebih pada kenyataan bahwa aku ternyata masih hidup.

“Maaf….” Permohonan lelaki itu terdengar konyol. “Aku hanya berusaha untuk menyelamatkan—”

Aku menoleh cepat, menatapnya sengit.

“Aku hanya berusaha mencegah percobaan bunuh diri itu.”

Aku memberontak di atas kasur hingga tiang infus jatuh menimpa kepalanya.

“Awwwhh! Suster! SUSTER!”

Dan aku tidak tahu kenapa suster-suster itu bisa datang dengan sedemikian cepat.

Mereka memegangiku.

Seluruh gerakku dihentikan dengan genggaman di kedua tangan. Juga tendanganku yang telah membuat selimut tipis itu berhamburan tak keruan, telah distop oleh genggaman erat di pergelangan kaki. Mereka merapatkan anggota gerakku dengan seprai kasur. Seakan-akan aku adalah bagian kain ini yang mencoba untuk lepas.

Di bawah pasungan tangan, masih kucoba untuk tetap bergerak, menggeliat. Mencoba lepas dengan sisa tenaga penghabisan, hingga seseorang datang, suster lain menyingkir mempersilahkannya mendekat, menyuntikkan jarum itu di lenganku.

Aku memejamkan mata supaya bulir itu tak terlihat. Meski ketika kubuka, semuanya jadi mengembun, membentuk lapisan yang membuat pandanganku kabur. Kulihat lelaki itu ada di sudut ruangan mengawasi, meski ngeri samar-samar terpeta di wajahnya. Lalu seluruh tubuhku terasa… lemas….

-ooo-

Esok paginya kutemukan diri masih terkapar di atas ranjang rumah sakit. Namun semuanya terlihat lebih baik. Sinar matahari keemasan menerobos lewat bilah-bilah logam window blinds yang tampak dibiarkan terbuka setengah. Aku hanya memandanginya dalam keheningan yang menyergap pagi. Seringkali aku merasa bahwa sepi adalah musik yang paling indah dan obat tenang paling mujarab.

Aku membenarkan posisi, suara seragam pasien dan seprai terdengar bergesek dengan lembut. Ahh, rupanya tiang infus itu sudah kembali ke posisi semula. Dalam kondisi sehening ini, kudengar suara langkah yang mendekat. Tak lama, kepala lelaki kemarin tampak menyembul di balik dinding, tersenyum menatapku.

“Selamat pagi.”

Kupandangi ia berjalan mendekat, menarik bangku kemudian duduk.

“Sudah mendingan?” ia bertanya sambil tersenyum. Seolah ia tak ada salah. Mungkin dalam nalarnya, merenggut kebebasan mati seseorang bukanlah suatu kesalahan. Si pahlawan kesiangan itu mengusap lenganku pelan dan juga hati-hati, karena mungkin menyadari selang infus masih tertancap di sana.

“Bunuh diri,” ucapnya, lebih menggumam pada sendiri. Sepersekian detik sorot matanya kosong, tak kutemukan apapun di sana. Kemudian ia menatapku, mengintimidasi. “Bunuh diri?” ia bertanya.

Kutekan kepalaku pada bantal empuk ini. Berharap apa yang ia lontarkan bisa teredam meski mustahil. Tapi agaknya aku tersinggung dengan pertanyaan retoris itu.

“Kenapa?” desaknya lagi.

Meski bibirku tak menjawab, namun secara cepat otakku memproses apa yang telah aku lalui, lengkap beserta alasan kenapa aku melakukan ini, semua jawaban yang bisa membuat rasa penasarannya selesai. Semua itu berputar, seperti film yang kembali aku lihat dan diriku sendiri adalah pemeran utamanya. Di sana ada…

ibu…

Tante Jihyun…

dan wanita lainnya…

mereka semua perempuan.

Aku kembali berteriak, kurung oksigen yang telah berganti jadi selang membuat suaraku sama sekali tak teredam. Aku kembali mengamuk. Menendang apa yang ada di sekitar kaki, sampai bisa kurasakan badanku berjungkal-jungkal hingga kasur itu berdecit, terantuk-antuk.

Tapi lelaki bernama Om Suga itu tak bicara apapun. Ia hanya diam memandangiku lalu merapat, menghentikan seluruh gerakan brutal yang kubuat dengan pelukan.

Pelukan yang hangat.

“Tidak apa-apa.”

Mau tak mau amukku mereda. Sesekali aku mencoba berontak, mengayuh kaki di atas kasur, tapi ia balas memelukku lagi lebih erat.

Rasanya seperti guyuran hujan yang memadamkan, tapi ia juga menghangatkan. Aku baru tahu, ternyata ada obat penenang yang lebih mujarab daripada suntikan lemas atau keheningan yang menyergap: pelukan.

Pipiku terasa becek oleh air mata, kurasa dadanya pun begitu, karena air mata pasti merembesi kaosnya yang tipis. Aku menengadah, memandang wajahnya dari bawah. Dia melihat ke arahku dan tersenyum. Senyuman rapat menyembunyikan gigi, yang justru membuatku yakin bahwa itu bukan senyum meremehkan.

Aku melepas pelukan itu pelan, kembali pada posisi semula, di mana punggungku kembali bersandar pada bantal yang dibuat menumpuk. Untuk beberapa saat, kami terlibat kecanggungan. Aku mengalihkan pandang, berlagak melihat sekitar.

“Aku Suga.” Kembali aku menoleh, menatapnya yang mulai duduk lagi. “Awalnya aku pikir kau tidak bisa bahasa Korea. Jadi aku sedikit khawatir. Bahasa Inggrisku tidak terlalu bagus. Tapi aku bisa sedikit-sedikit. Dan—”

“Om,” aku menyela, “Om Suga.”

Aku melihat alisnya berjungkit heran, dan tersenyum lucu, “Om? Om Suga?”

“Kau terlihat seperti Om-Om.” Aku mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. “Usiamu sepertinya… hmm… dua puluh enam tahun.”

“Dua puluh lima!”

Aku terkikik melihat ekspresi wajah Om Suga. Matanya terbelalak kesal seolah tak menerima, tapi akhirnya ia tersenyum juga melihatku tertawa. “Namamu sendiri siapa?”

“Aku Jaesi Kim. Tapi ibu lebih suka memanggilku Jessy. Jessilyn Kim.”

“Dan umurmu pasti tiga belas?”

Aku menggeleng. “Sepuluh!”

“Hah? Tapi kamu kelihatan lebih… dewasa,” ia berujar dengan penuh kebingungan. “Maksudku postur badanmu terlihat lebih matang.”

Aku melihat diriku, lalu kembali menatapnya. “Matang?”

“Hmm, i-iya! Tapi begitu kau bicara, kekanak-kanakkannya jadi makin terlihat.”

Aku mengangguk-angguk. “Sayang sekali, ya.”

Fenotipku memang tampak lebih dewasa dari usia semestinya. Waktu aku balita, bahkan ibu harus membeli baju ukuran bayi bule, sepatuku juga. Dan karena hal itu aku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ibu sembunyikan.

Termasuk tentang ayah.

“Oh iya, jadi… hmm… kalau kau mau sedikit cerita, mungkin aku bisa mendengarkan.”

“Cerita tentang apa?” Aku melihatnya saksama. Dari perkiraanku, seharusnya dia adalah orang yang menggagalkan usaha bunuh diriku. Dan membiarkan aku hidup dalam dunia yang besar ini, sementara aku cuma sendirian.

“Alasanmu melakukan itu semua. Hmm, maksudku kalau kau tak keberatan. Mungkin berbagi cerita bisa membuatmu sedikit agak tenang? Barangkali?”

“Tapi itu tidak sopan. Ini masalah pribadi. Kita kan baru kenal satu malam.”

“Iya, memang,” ia berbalik ke sisi, meraih sesuatu dan tangannya kembali dengan sekeping biskuit, “dari pengalamanku, berbagi cerita memang tak akan membantu menyelesaikan masalah. Tapi, setidaknya itu membuatmu sedikit lebih lega.” Dia membelah biskuit menjadi kepingan kecil dan menyuapinya untukku, “Aaa?” Aku membuka mulut dan ia tersenyum melihatku mengunyah. “Seseorang selalu butuh teman untuk ditumpahi cerita, menyeimbangi pikiran mereka agar tetap waras.”

“Begitu ya?”

Om Suga mengangguk, memasukkan biskuit ke dalam mulutnya.

“Baiklah. Tapi jangan bilang siapa-siapa, janji?”

“Siap!” Dia mengangkat jempol.

Aku mulai membenarkan badan, mencari posisi lebih nyaman lagi. Mula-mula kulihat lurus ke depan, lalu pandanganku naik, merangkak menuju langit-langit kamar. “Ibuku adalah seorang pencinta sesama.” Dan begitulah kira-kira ceritaku dimulai.

“Sampai usiaku sepuluh tahun, kukira semua orang dunia memang seperti ibu. Perempuan dengan perempuan lagi. Lalu laki-laki dengan laki-laki lagi, atau perempuan dan lelaki. Anak kecil dengan dewasa. Seperti itu.” Kutarik napas panjang. “Sampai pada pelajaran biologi, barulah aku mengerti, seorang perempuan hanya bisa hamil jika dibuahi oleh laki-laki. Padahal sebelumnya kupikir tidak seperti itu. Bahkan kukira teman-temanku juga tidak punya ayah. Sampai waktu belajar bersama, kulihat bahwa ternyata mereka punya. Cuma aku sendiri yang tidak punya.”

Om Suga menatapku lekat, tangannya kembali menyuapi biskuit.

“Aku,” ucapku, sambil mengunyah, “akhirnya tahu bahwa apa yang dilakukan ibu ternyata bertentangan dengan sekitar.” Kutelan biskuit itu, dan kembali melanjutkan, “pantas saja aku tidak pernah bertemu kakek, atau nenek, ataupun keluarga ibu. Aku hanya punya ibu. Dan wanita-wanita lain yang ibu paksa harus kupanggil ibu.”

“Dia menyuruhmu memanggil mereka ibu?”

Aku mengangguk kencang.

Kulanjutkan kembali cerita ini, dan membiarkan Om Suga, lelaki yang baru kukenal semalam untuk tahu.

-ooo-

Katakanlah aku memang orang primitif karena membenci kemajuan teknologi, tapi teknologi modern itu memang telah menyamarkan keturunan! Memisahkan anak dengan orangtua, memisahkanku dengan ayah. Meski jika kupikir-pikir, ayah juga tega, karena menyimpan sesuatu dari dirinya untuk orang lain. Tanpa pernah tahu bagaimana jika suatu saat aku ingin kembali, karena bagaimana pun aku adalah anaknya, bagian lain darinya yang ia simpan di bank sperma, membeku dalam suhu minus bersama nitrogen cair. Kalau kau jadi aku, mungkin kau juga akan membenci bank itu, meski dulu selama bertahun-tahun aku tinggal di sana ketika masih berupa bakal. Menunggu bertemu dengan si sel telur. Ibu.

Semula, kuanggap semua yang terjadi dalam hidupku adalah normal. Meski terkadang aku merasa wajahku tak mirip ibu. Meski terkadang kurasakan hanya pemikiran kami saja yang sama. Mungkin itulah satu-satunya yang membuatku percaya bahwa aku benar-benar anaknya.

Setiap hari aku melihat ibu dan Tante Jihyun berhubungan begitu mesra, mereka saling menyayangi. Mereka mengobrol dengan jarak yang dekat, duduk berdampingan di sofa sambil menonton tv. Hingga suatu ketika, aku melihat perut Tante Jihyun membesar. Ia berjalan mendekati ibu. Ibu melihat perutnya dan dia marah-marah.

“KAU BILANG KAU LESBI! INI APA, HAH?! WANITA JALANG! PERGI SANA!”

Tante Jihyun memohon-mohon, memeluk kaki ibu. Tapi ibu menendangnya, menyeretnya ke luar pintu. Dan membanting pintu itu dengan napas menderu. Aku hanya bisa mengintip, sampai pandangan kami bertemu. Wajahnya yang galak berubah dengan cepat. Ia berlari ke arahku dan bersimpuh, menyamakan tinggi.

“Jessy, kemari, Nak.” Ia mengusap anak-anak rambut yang terserak di dahiku. “Jessy sayang.” Ia meraihku, mencoba memeluk. Tapi aku berontak.

“Ibu jahat.”

“Tidak, Sayang, tidak.” Ia menggeleng, menatap wajahku yang terkunci oleh tangkuppan tangannya. Ibu meringis. Air mata menganak sungai di pipinya. Tapi ia tak memedulikan itu, hanya terus mencoba menjelaskan padaku bahwa semuanya baik-baik saja. “Tante Jihyun sudah membohongi ibu. Jadi ibu menghukumnya.”

“Tapi dulu ibu memaksaku memanggilnya ibu.”

Ia menggeleng. Dan sepertinya menyesal telah membiarkanku melihat seluruh pemandangan tadi.

“Jessy….”

Pelan-pelan aku melepaskan diri, melangkah mundur.

“Jessy sayang….”

Aku berbalik, berlari ke kamar.

“JESSY!”

Sejak saat itu aku mulai berpikir tentang diriku sendiri. Juga satu kata yang ibu lontarkan untuk Tante Jihyun. Lesbi.

“Ibu, aku mau tanya satu hal.”

“Apa?”

Sebelum tidur, kuberanikan diri untuk bertanya. Sambil menatap langit-langit kamar dan bersandar di tangannya. Aku yakin kali ini dia tak akan berkata tentang dua ibu yang melengkapi. Karena jelas-jelas Tante Jihyun sudah pergi.

“Tentang ayah. Ibu pernah bertemu dengannya?” Aku menoleh.

Ia menggeleng, tersenyum ngilu.

“Lalu kenapa aku bisa lahir kalau kalian tidak pernah bertemu?”

Ibu memejamkan mata kuat-kuat. Tapi tetesan itu tetap bocor lewat ujung matanya. “Terkadang ibu pusing sendiri karena kau bertanya banyak hal. Tapi ibu senang. Itu tandanya kau berpikir,” ia berucap serak. “Mungkin sekarang saatnya kau tahu.” Ia mengusap rambutku lembut. “Jessy sudah sepuluh tahun, ya? Apa cukup umur untuk tahu ini semua?”

Aku mendengus. “Ibu!”

“Iya, iya,” candanya. “Jadi, dulu Tante Jihyun dan ibu ingin sekali punya anak. Kami pergi ke Amerika dan mengurus segalanya di sana. Sperma dari Amerika memang diminati oleh berbagai negara. Banyak aspek yang diuji di sana. Mulai dari IQ pendonor, juga kriteria tinggi minimal 175 cm dan tentunya tes kesehatan ketat yang menjamin kelak bayi yang lahir tak akan mengidap kelainan apa-apa. Kami sepakat untuk datang ke California Cryobank di Los Angeles dan memilihmu. Lalu memutuskan akulah yang akan mengandungmu. Mungkin itulah sebabnya, meski kita bertiga bersama sejak kau lahir, tapi kau lebih dekat denganku, dan memanggilku ibu. Kalau Jessy ingin tahu lebih lanjut bagaimana Jessy bisa masuk perut ibu, coba cari tahu tentang artificial insemination. Begitulah aku mengandungmu.”

Setelah kepergian Tante Jihyun, ibu kedatangan banyak wanita lain. Mereka cantik tapi itu membuatku khawatir. Aku takut mereka hanya ingin harta ibu. Karena setelah kucari, ternyata proses cryosbank dan artificial insemination memerlukan uang banyak. Dan Tante Jihyun sepertinya hanya memanfaatkan ibu saja. Aku takut wanita-wanita ini juga sama.

Tapi, memang sepertinya sulit bagi ibu untuk mencari pengganti. Tiap hari kulihat ia duduk dengan kaki yang diangkat ke kursi, menghadap meja kerjanya sambil merokok dan mengurut pelipis. Rambutnya yang diikat asal membuat anak-anak rambut terserak di dahi juga di pundak. Ia tampak begitu depresi. Kurasa ia menyesali apa yang tak bisa ia miliki dan melupakan apa yang ia punya di sini… aku… anaknya.

Hingga suatu hari kutemukan ia berdandan rapi sekali. Seolah tak pernah lebih rapi daripada ini. Dia menggeret koper, berkutat dengan rodanya yang tersangkut karpet sementara aku menghampiri dengan baju tidur yang kusut.

“Ibu mau kemana?”

Ia meneleng, tangannya masih sibuk. “Daegu.”

“Lalu aku di sini dengan siapa?”

“Sendirian dulu, ya? Jessy kan sudah besar. Bisa kan ditinggal ibu sebentar?” Ia berlutut, menatapku.

“Tapi ibu mau apa ke Daegu?”

Ia bangkit, menggusur kopernya ke luar pintu dan berbalik sebentar. “Mencari Tante Jihyun.”

Aku terdiam lama. Melihatnya hilang dari pandanganku tanpa sempat aku berkata, berpikir atau menahannya pergi. Ini seperti mati rasa, seolah kakiku tertanam ke lantai. Hingga ketika tersadar, kudapati diri di rumah yang besar. Celingak-celinguk seperti anak hilang di rumah sendiri. Aku jadi tahu, cinta itu ternyata membutakan. Membuat seseorang lupa pada apa yang sesungguhnya ia punya dan pergi untuk apa yang belum tentu ia miliki selamanya.

Tiga puluh hari ditinggal ibu adalah neraka bagiku. Meski sebagian lagi adalah keajaiban karena ternyata aku masih bisa hidup, mengurus diri sendiri. Kuputuskan untuk berjalan di kawasan pertokoan yang tutup. Saku jaket telah penuh dengan butiran pil yang kutemukan terserak di laci kerja ibu. Entah itu pil apa. Kuraup saja. Setelah memastikan keadaan sekitar, aku menenggak pil itu sebanyak yang kubisa. Kucoba untuk meniti langkah, tapi rasanya malah seperti melayang. Dan tiba-tiba saja aku merasa pusing. Mual luar biasa. Aku ambruk dan tidak ingat apa-apa lagi.

-ooo-

Aku mengembuskan napas panjang, mengakhiri cerita.

Kami terdiam beberapa saat, saling menatap. Om Suga melahap biskuit terakhirnya dalam sepi. Dia tampak tercengang dengan semua yang aku ceritakan dan mengunyah dengan wajah datar. Tapi setidaknya aku merasa sedikit mendingan. Ternyata orang memang butuh teman untuk berbagi cerita tanpa disela.

“Jaesi… aku tidak tahu harus bicara apa untuk membuatmu merasa lebih baik.”

Aku menggeleng. “Didengarkan saja. Tidak apa-apa.”

Dia bangkit berdiri dan mengelus rambutku sekilas. “Aku beli biskuit dulu, ya?” Ia mengambil jeda, memutar mata dengan canggung. “Aku juga mau tanya-tanya tentang pembayaran ke bawah.”

Dia sudah hampir berlalu tapi, “Om!” aku memanggilnya.

Dia kembali berbalik, alisnya berjengit.

“Jangan lama-lama, ya?”

Ia tersenyum, gigi atasnya seperti hampir terlihat semua. “Iya.” Lalu matanya… seperti bulan sabit dipindahkan ke sana. Benda langit itu ternyata bersinar di pagi hari… atau hanya aku yang—

“Jaesi?”

“Hm?”

“Jangan kabur, ya?”

Aku terkekeh. “Iya.”

Kali ini ia benar-benar lenyap ditelan pintu keluar.

Sendirian lagi….

Aku menghela napas. Semuanya kembali sepi. Tapi suara lelaki itu masih bisa terdengar memantul di telinga. Suaranya benar-benar istimewa. Apalagi aku jarang mendengar suara lelaki. Termasuk sosok maskulin. Dan ketika Om Suga ada di depanku, rasanya seperti ada tempat berteduh. Terlebih selama ini yang kutemui hanya sosok feminim.

Tak lama, Om Suga kembali dengan kantung belanjaan di tangannya.

“Katanya kau boleh pulang nanti sore.”

“Wah? Yang benar?” Aku tidak sabar ingin keluar dari tempat memuakkan ini. Tapi aku baru sadar. “Pulang?”

Maksudnya, kembali ke rumah itu sendirian?

“Kau tidak akan mencoba bunuh diri lagi kan?”

Aku mengedikkan bahu.

“Lalu kalau kau sendirian, apa ada yang bisa jamin kau tidak akan melakukan itu lagi?”

Dia seharusnya menunggu aku menjawab.

“Makanya aku ingin mengajakmu menginap di rumahku sementara. Setidaknya sampai ibumu pulang.”

“Serius?”

Om Suga mengangguk. “Mau kan? Sebenarnya bukan rumah. Itu semacam toko alat musik. Lantai duanya bisa ditempati satu orang. Mungkin tiap hari aku akan menengokmu. Pelayan tokoku orangnya baik-baik.”

Aku tercenung beberapa saat, memandangi postur tubuhnya yang masih berdiri di sisi sana, menggenggam kantung belanjaan. “Jaesi? Mau kan?”

“Mau. Sangat mau.”

Sorenya kami bergegas meninggalkan rumah sakit, berjalan di keramaian lorong dan ia menuntun tanganku seolah takut aku tersesat. Sesekali aku mengintip, melirik wajahnya yang lurus menatap jalanan. Meski aku terbilang tinggi untuk ukuran sebayaku, tapi dia tetap lebih tinggi. Dia—

“Kenapa?” Ia melirikku sekilas dan kembali menatap jalan.

“Hmm, bukan apa-apa.” Aku menunduk, melihat tangan kami yang sedang saling menggenggam. “Om, Om suka pakai beannie?”

“Iya.” Lalu selanjutnya sepanjang jalan kami mengobrol sambil tertawa. Mengobrol banyak dan lebih banyak lagi, sampai orang-orang di sekitar jadi tak begitu penting kehadirannya.

Kami datang ke rumahku sebentar untuk mengemas beberapa baju. Kemudian menyusun itu semua di lemari putih bercorak ukiran sederhana. Seperti lemari-lemari yang ada di kartun barbie. Lantai dua toko alat musik Om Suga ini terbilang lumayan meskipun tak terlalu lapang. Hanya ada kasur ukuran besar beserta lemari yang juga besar, sementara kamar ini sempit oleh barang-barang itu. Sisi lainnya lebih banyak dihabiskan untuk gudang.

Aku menarik napas dan membanting tubuh ke kasur. Sedikit lelah rasanya setelah selesai menyusun baju bersama Om Suga. Dia juga mungkin sama. Karena tak lama kemudian ia ikut berbaring di sisiku.

“Bisa giliran?”

Ia menoleh. “Giliran?”

“Iya. Giliran. Coba sekarang Om yang cerita awal mulanya bisa seperti ini.”

“Seperti ini bagaimana?”

“Bisa seperti ini.” Aku menengadahkan kedua tanganku. “Kita bertemu dan Om menyelamatkanku. Itu bagaimana ceritanya?”

Oh.” Ia mengangguk, menatap melewati kepalaku seperti sedang memilih kata yang tepat. “Iya, jadi awalnya aku sedang lewat. Kebetulan itu adalah jalan memotong yang aku tahu. Tapi dari kejauhan aku melihat seseorang terbaring di sisi jalan. Ternyata kau. Aku langsung lari untuk memastikan waktu melihat kau kejang-kejang. Ketika aku mendekat, kuputuskan memanggil ambulan. Kau tak sadarkan diri lama sekali, tapi setelah kau sadar, ternyata kau malah mengamuk.” Ia terkekeh. “Sampai akhirnya kita bisa ada di sini.”

Kami kemudian tertawa. Cukup lama hingga akhirnya berhenti dalam keadaan yang benar-benar hening, menatap langit-langit tanpa tahu apa yang ada di dalam pikiran masing-masing.

“Om.”

“Hm?”

“Om mau bantu aku?”

“Bantu apa?”

“Mencari ayah.” Ada jeda sejenak. Kudengar suara gemerisik seprai ketika kepalanya bergerak, menoleh ke arahku. “Om mau bantu aku kan?”

To be continue

Advertisements