Tags

, ,

One-Shot Fanfic : Wedding Dress

Author : Min Yuna (@Min_Yuna)
Cast : Han Yuna (OC), Min Yoongi (BTS), Im Nayeon (6mix)
Genre : Sad Romance
Length : One-Shot
Rate : PG 17+
Summary : Impian kecilku adalah melihatmu memakai wedding dress dariku, didepanku, sekali seumur hidup. Impian kecilmu adalah bersama denganku dalam sebuah keluarga yang indah. Namun sayangnya, impian tentang cinta memang tidak selamanya indah, bahkan sangat menyakitkan. Mungkin dari semua ini, aku menemukan sesuatu. Kedewasaan kita dalam memandang cinta dan kehidupan.
wedding dress
(Yuna POV)
Ddrrttt….Ddrrttt…
Suara handphone bergetar keras di lantai, di sebelahku. Ada yang menelepon.
Aku hanya mengacuhkannya, membiarkannya bergetar sampai kemudian benda kotak besar itu terdiam.
Hah…aku menghela nafas berat. Aku terbaring di atas lantai apartementku yang dingin dan menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Aku menghela nafas, mengeluarkannya, menghela nafas lagi, mengeluarkannya, begitu berulang kali seperti kebanyakan makhluk hidup lain di dunia ini. Ya, intinya aku tidak melakukan apapun, hanya terbaring di atas lantai. Entah sudah berapa lama, dan aku juga tidak peduli sudah berapa lama.

Suara detik jam terdengar lantang di siang hari yang biasanya bising ini. Tik tok tik tok… dibarengi suara nafasku yang pelan dan tenang. Suasana di apartementku seperti kuburan di siang hari, ah, mungkin kuburan di siang hari lebih ramai daripada suasana apartementku saat ini.
Punggungku terasa begitu dingin, tapi aku tidak peduli. Sedari tadi aku melangkah masuk ke apartementku, aku tidak berniat untuk merubah posisiku. Aku hanya.. berbaring. Mencoba melupakan semua yang terjadi hari ini. Semua kejadian buruk di hariini. Aku menutup mata, mencoba menenangkan diri…

Drrrrttt…Ddrrtt…

Ck. Apa dia tidak capek meneleponku terus??
Aku kembali mengacuhkannya. Seperti meluapkan rasa marah dengan tidak mengangkat telepon itu. Aku tidak ingin mengangkatnya. Aku malas.
Telepon terhenti, handphone-ku kembali diam dari aktivitas bergetarnya. Aku mengatupkan mulut, aku sudah berjanji tidak akan mengangkat lagi telepon itu. Tidak akan.
Aku menutup mata lagi, mencoba mencari kedamaian dari suara nafasku sendiri dan detak jantungku dan tentu suara jam…

Ddrttt…Ddrtt…

Oh,shit!! Aku terduduk dan segera mengambil handphone-ku dengan cepat, melihat nama dan wajah manis yang muncul di layar handphone itu dengan marah dan segera membuka penutup belakangnya dan mengeluarkan baterai-nya dengan kasar.

Traakk! Suara layar handphone yang terjatuh di lantai bersamaan dengan suara baterai-nya yang aku lepas dengan kasar dan paksa. Nah, sekarang kau tidak akan bisa menghubungiku lagi.
“Sialan…”,gumamku.

Aku kemudian duduk sambil memeluk lutut, teringat semua hal yang terjadi siang tadi. Semuanya.. dan aku mengatupkan mulut lagi, mencoba untuk tidak menangis, sebisaku. Walau akhirnya aku menangis juga.

(flashback)
“Eomma…apa..”, gumamku, seperti berbisik di handphoneku setelah mendengar suara eomma pagi ini.
“Kau cepat pulang, nanti malam..”
“Eomma!! Kenapa kau melakukan ini semua?!! Aku..”
“Yuna, diam! Nanti malam kau harus pulang!”,teriak eomma diseberang telepon, dan sedetik kemudian sambungan terputus.
Hah..apa-apaan ini?? Kenapa.. kenapa eomma bertindak se-egois ini?! Kenapa eomma tidak berdiskusi denganku dulu? Eomma menyebalkan!!

“Damn!!”, aku melempar handphoneku ke atas kasur.
Sialan! Matahari masih belum benar-benar terbit di timur jauh sana. Jendela apartementku baru saja menghadirkan display cahaya matahari yang masih malu-malu itu. Cahayanya masih sedikit menghangatkan pagi yang dingin ini, dan aku disini, sudah seperti air mie ramen yang mendidih di dapur apartementku.
Sialan! Apa maksud eomma dengan sudah menetapkan tanggal pernikahanku?! Kenapa semua ini begitu mendadak?!! Dan kenapa eomma seenaknya saja dengan hidupku?
Shit! hah, mengesalkan! Aku berkacak pinggang dengan marah, mencoba mengatur emosiku tapi aku tetap mengumpat-ngumpat sampai entah berapa lama.
“Oh, sialan! Eomma kenapa seenaknya sendiri begini! Aku tahu aku… hah, kenapa eomma melakukan ini padaku!”, teriakku seorang diri dengan marah sambil memasukkan mie ramen rebusku ke dalam panci.
Hah. Sepertinya aku malas makan. Aku segera mematikan api kompor, dan tidak peduli dengan mie ramen yang sudah aku masukkan. Aku harus segera menghubungi seseorang.

Aku berjalan cepat ke arah ranjangku, mengambil handphone-ku dan segera menelepon seseorang.
Tuutt..ttuuut bunyi nada sambungnya.
“Yeobseo…”, angkat suara diseberang dengan suara seraknya.
“Yoongi-ah, kau masih tidur?”, tanyaku, buru-buru.
“Hmm.. nee, nuna. Ada apa? Kenapa sepagi ini menelepon?”, tanyanya, masih dengan suara seraknya.
“Yoongi-ah, aku ingin bicara denganmu, sekarang”, kataku.
“Nee?! Apa? Sekarang?? Aku…aku baru bangun, nuna…aku..”
“Ck! Memangnya kenapa kalau kau baru bangun? Aku juga sudah biasa melihatmu baru bangun tidur. Aku kesana sekarang, kau tidak usah melakukan apa-apa dan diam saja disana. Tunggu aku, arrasheo?”, kataku, lebih seperti memerintahnya. Suaranya terdengar panik sekali.
“Nuna…”, dia belum sempat melanjutkan ucapannya, tapi aku sudah menutup telepon.

Dasar, seperti baru pertama kali saja aku melihatnya baru bangun tidur dengan mata sipit, rambut acak-acakan dan mukanya yang lucu sekali itu, menggembung seperti ikan. Mau tak mau aku tersenyum juga mengingat dia yang seperti itu.
Hah, sejak kapan Yoongi panic kalau aku datang tiba-tiba…

Ting-tong~!
“Eh?”,suara bel diapartementku berbunyi kencang.
“Siapa..sepagi ini…”, aku berjalan ke arah pintu dan kaget ketika melihat eomma berdiri didepan intercom yang ada disebelah pintu.
“Eomma…”
“Apa kau tidak akan membukakan pintu untuk eomma?”, tanya eomma.
Bagaimana eomma yang baru beberapa menit lalu suaranya aku dengar di telepon, langsung ada didepan apartementku! Sepagi ini!

“Eomma, kenapa kau kemari?!”, teriakku didepan intercom, seperti orang gila saja.
“Apa kau akan membiarkan eomma-mu berdiri disini seharian, hah?!”, kata eomma.
Aku langsung membukakan pintu dan memandang eomma dengan marah. Eomma balik memandangku dengan marah. Mungkin laser akan keluar dari mata kami.
“Apa kau akan membiarkan eomma berdiri disini?”, tanyanya, dingin.
“Bagaimana eomma kemari?”, tanyaku balik.
“Jungkook mengantarku”, katanya. Hah, dasar anak kecil itu. Apa dia benar-benar jadi adik yang tidak berguna sekarang dan mengantar eomma kemari…

Tatapanku ke eomma sedikit teralih ketika melihat Jungkook berjalan kearah apartementku sambil membenarkan jaket tebalnya. Dasar anak sialan.
“Dasar anak ini..”, gumam eomma, yang langsung masuk ke dalam walau aku belum mempersilahkan. Hah, aku hanya memandangnya yang melenggang masuk dengan marah, kesal dan tidak bisa berbuat apapun.

Aku lalu menatap Jungkook yang sudah sampai ke depan pintu dan melihatnya meringis kecil sambil bergumam minta maaf padaku. Aku memandangnya tajam, kalau bisa mungkin aku akan memukulnya sekarang. Dasar anak kecil ini, apa dia tidak tahu kalau situasi sekarang ini sangat pelik dan dia malah seenaknya saja membawa eomma datang ke apartementku…
“Kau ini..”, desisku pada Jungkook.
“Maaf, nuna.. aku juga tidak bisa berbuat apa-apa…”, gumamnya, seperti anak kucing yang ketakutan.

Hah. Aku lalu berjalan menuju ke dalam apartement dan duduk di sofa dengan kesal.
“Eomma, kenapa kau begitu egois melakukan ini semua?! Aku juga bisa menentukan sendiri..”
“Apa yang bisa kau tentukan sendiri? Katakan pada eomma”, katanya, tegas dan dingin.
Aku menelan ludah, merasa ter-intimidasi dengan nada suaranya.
“Eomma, kenapa eomma sudah menetapkan tanggal pernikahan itu tanpa berunding dulu denganku? Aku.. aku yang akan terlibat dalam pernikahan ini, bukan eomma, dan eomma seenaknya saja melakukan ini semua..”
“Ini hal terakhir yang harus kau lakukan untuk keluarga ini”, kata eomma, memotong ucapanku lagi.
“Eomma! Tapi aku yang akan menikah, kalau eomma melakukan semua ini sekehendak eomma, kenapa aku yang harus menanggung semuanya?! Aku juga sudah punya Yoongi, eomma! Aku akan menikah dengan dia..!”, teriakku, kesal.

Wajah eomma mengeras, “Kau masih pacaran dengan dia?”, tanyanya.
Aku memandangnya dengan tatapan tegas, “Nee, aku masih pacaran dengannya”, kataku, penuh percaya diri.
“Kapan dia akan menikahimu?”, tanya eomma.
“Secepatnya. Dia akan secepatnya…”
“Apa kau yakin dia akan menikahimu? Yoongi yang hanya menghabiskan waktunya untuk minum-minum, masuk club, berpesta, main perempuan…”
“Eomma! Yoongi tidak pernah melakukan itu semua!”, belaku. Ck! Aku benci dengan eomma. Aku benci! Dia selalu saja mengejek Yoongi, selalu saja berbuat buruk pada Yoongi.
“Kalau begitu, buka matamu baik-baik, anak bodoh”, kata eomma, dingin.
Deg! Ucapan eomma barusan… “Eomma sudah keterlaluan…aku tahu eomma benci pada Yoongi, tapi kata-kata eomma barusan..”,gumamku.
Tapi eomma tidak bergeming, dia malah mengeluarkan sesuatu dari dalam tas coklatnya yang mahal itu dan setengah melemparkan benda itu ke meja kayu di tengah sofa kami didepanku.

Foto? Aku mengambil foto itu sambil memandang eomma sekilas, lalu membalik kertas putih dibaliknya ke arah kertas berwarna di sisi satunya dan…
DEG!! Jantungku seolah berdetak sekali namun sangat kencang, seolah ingin lepas dari tempatnya. Aku merasa ngilu didadaku.

“Ini..”
“Kau akan terus bersama dengan orang yang sudah selingkuh dibelakangmu, Yuna?”, tanya eomma.
Aku menelan ludah. “Aniya, aku… aku kenal siapa cewek ini. Dia bukan pacar Yoongi, dia hanya..”.
“Kau masih membelanya? Hah, Kau harus tanyakan pada adikmu, bagaimana dia mendapat foto itu”, kata eomma, dingin.
“Jung..Jungkook yang mendapat foto ini?”, tanyaku, terbata-bata.
“Jungkook-ah..”,panggilku, sambil berdiri dari sofa, mencari dimana sosok adikku yang tidak tahu diri itu.

Trak! Seperti suara piring yang ditaruh di meja dengan kaget. Aku memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya… disaat seperti ini dia makan ramen!! Makan ramen yang tadi aku masak pula!!

“Ya!! Jungkook!! Kau ini..”
“Ma..maafkan aku nuna!!”, teriaknya sambil setengah berlari kearahku. Dia lalu berdiri didepanku, agak jauh, mungkin takut kalau aku melakukan kekerasan fisik padanya, dan tak lupa tersenyum manis sambil mengelap sisa kuah ramen di bibirnya.
“Nee,Yuna nuna?”, tanyanya.
“Kau…dapat darimana foto ini?”, tanyaku, lebih seperti membentaknya.
“Hmm..itu..aku..”, Jungkook seperti tidak begitu yakin dengan apa yang akan dia katakan.
“Katakan saja apa adanya yang kau lihat, Jungkook-ah”, kata Eomma.
Jungkook menelan ludah, dia memandangku dengan agak tegang. “Itu… aku dapat secara tidak sengaja ketika aku pergi main ke tempat teman.. aku melihat mereka..mereka berdua keluar dari.. sebuah tempat bersama…”, katanya.
Aku membelalak kaget memandang Jungkook. “Maksudmu..”
“Nuna, aku…”
“Adikmu malam itu main-main ke game center bersama teman-temannya, dan dia tidak sengaja melihat Yoongi keluar dari hotel murahan didekat sana bersama dengan gadis itu”, kata eomma, dingin.

Aku kaget mendengar ucapan eomma. Aku menelan ludah dengan susah payah. Tanganku gemetar, tapi aku masih sanggup melihat ke arah foto itu. Yoongi, menggantungkan tangannya di pundak gadis itu dengan santai, dan mereka saling berpandangan sambil tertawa, dengan latar belakang keramaian orang.. dimalam hari.
Hatiku rasanya mencelos. Rasanya seperti ada yang diambil di rongga dadaku dan rasanya sakit sekali. Aku menggigit bibir, menahan airmata yang akan turun begitu saja. Aku mengenal mereka berdua. Apa-apaan ini? Kenapa mereka.. seperti ini? Kenapa..

Aku langsung berbalik pada eomma. “Eomma pasti menyuruh Jungkook mengikuti Yoongi, iya kan??”, tanyaku, penuh curiga.
Eomma memandangku, “Untuk apa eomma melakukan itu pada Jungkook yang harusnya masuk bimbingan tapi malah keluar main game?”, tanyanya.
“Mwo?”,aku langsung beralih memandang Jungkook. “Jadi kau menunjukkan ini pada eomma agar kau tidak dimarahi, hah?!”, bentakku pada Jungkook.
“Aniya,nuna! Aku..”
“Jangan bentak adikmu, dia tidak tahu apa-apa. Kau harusnya bersyukur mengetahui hal seperti ini sekarang dan buang semua hubunganmu dengan Yoongi”, kata eomma.
“Mwo? Eomma..”, aku tahu eomma memang tajam dalam berkata-kata, dia tidak peduli itu anaknya sendiri atau siapa, tapi..
“Eomma! Aku tidak akan percaya ini, aku kenal mereka berdua! Aku akan mendatangi Yoongi sekarang dan membuktikan kalau ini semua tidak benar!”, teriakku, kesal.

Eomma kemudian bangkit dari sofa, dan memandangku lurus-lurus, “Geureu, lakukan saja sesukamu”, kata eomma. “Asal kau harus kembali nanti malam kerumah karena kau akan bertemu calon suamimu”, katanya, dingin.
Aku memandang eomma dengan marah. “Aku tidak peduli”, kataku, yang langsung mengambil jaket, kunci mobil dan handphone-ku, meninggalkan Jungkook yang khawatir dan terus memanggil-manggilku dan eomma yang hanya berdiri diam memandangku.
Aku langsung tancap gas menuju ke apartement Yoongi.
(End of Flashback)
—————————

(Yoongi POV)
Akumemandang handphone-ku dengan tatapan yang kosong. Ige.. mwoya? Kenapa Yuna nuna ingin datang kemari pagi ini? Apa jangan-jangan….
Aku segera memandang tubuh yang masih tertidur pulas di sebelahku. “Nayeon-ah, Nayeon-ah.. bangun…”, aku mengguncangkan pelan tubuhnya. Tapi dia belum bangun juga.
“Nayeon-aahh, ayo bangun..kau harus segera bangun.. ayolaahh”, kataku, sambil mengguncang tubuhnya lebih keras.
“hhmm..Oppa… ada apa?”, akhirnya dia bangun sambil menggeliat dan membuka matanya yang indah itu.
Aku tersenyum memandangnya, “Selamat pagi, ayo bangun”, kataku.
Dia memicingkan mata dan beranjak bangun dan terduduk di kasur, dia lalu melihat kearah jam dinding yang persis didepan kami. “Ini masih jam 7.. kenapa aku harus bangun?”, tanyanya, dengan suara seraknya yang cute itu.
“Hm…Yuna mau datang..”, kataku, pelan.

“MWO??? Kenapa Yuna unnie mau datang sepagi ini, astaga, astaga!!”, dia langsung terbangun dari kasurnya, dan mengambil baju yang terbuang di lantai karena semalam dan segera memakainya.
“Oppaaa!! Kau harus segera cuci muka, astaga! Ayo kita bereskan ini semua, astaga!! !Kenapa kau baru membangunkanku.. God, piring-piring ini juga, aakkh!!”. Dan dalam hitungan detik Nayeon sudah berlarian kesana kemari seperti orang lomba lari saking terburu-burunya membereskan piring, gelas, sisa makan, bahkan tumpukan tissue, dan…
Aku mendesah berat memandangnya. Aku.. tidak suka pemandangan ini.

“Nayeon-ah, hentikan”, kataku.
Tapi sepertinya dia tidak mendengarkanku dan masih memasukkan sampah ke kantong plastic.
“Nayeon-ah, hentikan saja..”, kataku lagi.
Dia memandangku, “Ya, Oppa! Kau harus segera cuci muka dan pakai bajumu! Astaga, kau kenapa bisa sesantai ini, kau..”

“Im Nayeon, hentikan!”, bentakku.
Dia kaget dan tiba-tiba memandangku. “Oppa…”
“Hentikan semua ini. Untuk apa kau melakukan ini semua? Sudah saatnya Yuna tahu..”, kataku, memelan.

“Oppa! Yuna unnie tidak boleh tahu, kalau dia tahu dia akan sakit hati, aku tidak tega melihat dia sakit hati, aku..”
“Apa kau pikir dia selamanya tidak akan tahu??”, timpalku, memotong ucapannya.
Nayeon terdiam, “Tapi..”
“Sejak pertama kita menjalin hubungan ini seharusnya kita tahu kalau suatu saat kita akan melukai Yuna”, kataku, antara marah dan juga sedih.
Sedih membayangkan bagaimana wajah Yuna, ketika… tahu semua ini. Tapi ini semua sudah terlanjur terjadi. Aku, Nayeon dan bahkan Yuna, tidak akan bisa menghentikan semua ini. ini semua soal perasaan.
Nayeon terdiam, “Oppa, kita harus membicarakan ini baik-baik dengan Yuna unnie. Tidak dengan cara seperti ini”, katanya, memandangku dengan wajah sedihnya.
Aku menelan ludah dan beranjak pelan dari kasur dan memakai bajuku. “Mau tidak mau kita harus membicarakan ini dengan Yuna”, kataku, dingin.
“Tapi, Oppa..”
“Aku tidak mau mengulur waktu lagi, tidak ada gunanya mengulur waktu untuk mengungkap semua ini”, kataku, tegas.
Nayeon kemudian berjalan cepat menuju kearahku, “Tapi Oppa, Yuna unnie sekarang dalam masalah, dan aku..”
“Kita tidak bisa menyelesaikan masalahnya, kita hanya akan menambah masalahnya”,kataku.
“Tapi Oppa, paling tidak.. kita harus..”
“Harus apa? Cepat atau lambat Yuna akan tahu tentang kita, dia akan… dia akan menangis, sedih, kecewa, apapun. Tapi itu lebih baik daripada kita menyembunyikan ini semua darinya, dan.. dan..”, kataku, tidak sanggup melanjutkan ucapanku sendiri.
“Oppa…”,Nayeon hanya memanggilku lemah, aku tahu kalau dia juga tidak bisa berbuat apapun soal hal ini.

“Aku tidak mau menikah dengannya”, kataku, pelan.

Nayeon kaget sesaat, tapi dia langsung menguasai diri lagi. “A..”
“Aku tidak mau menikah dengannya, dan aku tidak bisa menikah dengannya. Aku tidak bisa, Nayeon-ah.. aku..”
“Oppa”,suara Nayeon terdengar begitu berat. Dia menggenggam tanganku dengan erat. Aku memandangnya, dengan tatapan yang sedikit suram karena aku merasa titik airmata seperti menggumpal di sudut mataku.
“Aku akan ke kamar mandi dulu. Kau bereskan yang perlu saja, dan siapkan sesuatu. Dia pasti terkena masalah lagi, dan datang kemari pagi-pagi”, kataku, sambil menepuk pundak Nayeon dan bergegas ke kamar mandi.

Klek. Aku mengunci pintu kamar mandi. Hah… aku menghela nafas berat, memandang wajahku yang putih pucat di kaca dan menyalakan air. Aku membasuhnya dengan air dingin, mengumpulkan semua keberanianku, untuk bicara dengan Yuna. Ya… untuk bicara dengannya.

Yuna.

Pertama kali bertemu dengannya, aku langsung menyukai caranya berbicara dan caranya tertawa. Dan aku sedikit kaget ketika dia bisa merasakan kelucuan dari humorku yang biasanya terkesan gelap dan kasar. Dia menyenangkan.
Seiring berjalannya waktu, kami akhirnya berpacaran. Semuanya menyenangkan, seperti sepasang kekasih yang baru saja merasakan cinta. Kami berdua sangat klop, dan tentu saling mendukung. Dia sangat mendukungku menjadi rapper terkenal. Well,tentu saja dia juga terkadang membantuku membuat lagu, menyemangatiku dan selalu bersamaku.

Semua kenangan bersamanya itu indah, dan menyenangkan. Dia suka membuat catatan dinotesnya, kemana kita pergi, apa yang dia lakukan dan hal kecil apa yang membuat kita bisa tertawa bersama. Dia mengerti sesuatu yang detail dan dalam.

Musim semi kemarin, rasanya aku ingin terus bersamanya, setelah menciumnya dengan lembut dibawah hujan bunga sakura. Rasanya aku ingin waktu berhenti disana ,berhenti begitu saja. Karena setelah itu, aku merasa seperti terbanting kedalam jurang yang dalam.

(Flashback)

“Yoongi-ah..kau sedang apa?”, tanyanya, sembari duduk di kursi sebelahku.
Aku tersenyum manis padanya, dan merangkulnya lalu mencium pelan pipinya. “Menulis lagu untukmu”, kataku.
Dia tersenyum pelan, sambil mukanya sedikit memerah, “Hmm.. apa judulnya? Hihi”,katanya, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Cute.
“Hmm, kau nanti akan tahu. Oya, kau sudah pesan? Apa mau aku pesankan?”, tanyaku.
“Ah,boleh. Aku ingin milktea saja”, katanya.
“Nee, tunggu disini, aku akan memesankan untukmu”, kataku, sembari berjalan ke arah kasir. Setelah beberapa lama, pesananku keluar dan aku berjalan lagi ke arah mejaku dan melihat Yuna duduk diam membaca catatan lirikku.
“Kau serius sekali”, kataku.
“hehe, aku suka liriknya. Manis sekali~”, katanya.
“Tentu saja, itu lagu kita. Lagu.. kita suatu hari nanti”, kataku, agak malu juga menyebutkannya sebagai lagu kita. “Kita” rasanya cukup berat, tapi menyenangkan.

“Ahiya.. hmm, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Kau punya waktu luang malam minggu ini?”, tanyanya.
“Tentu..hm.. ada apa?”, tanyaku. Perasaanku seperti mengatakan kalau.. kalau ini pasti berhubungan dengan berita yang aku terima kemarin. Orangtuanya ingin dia segera menikah. Awalnya aku sangat kaget, tapi… mungkin aku bisa hidup bersamanya,kan? Membangun keluarga yang bahagia, hidup bersama, memiliki anak-anak yang manis dan lucu. Aku tersenyum senang membayangkan itu semua.
“Appa dan eomma ingin bertemu denganmu… hm, kalau kau bisa..”, katanya.
Aku tersenyum, “Tentu saja aku bisa, tentu saja. Jam berapa?”, tanyaku, tidak kusangka aku bisa begitu bersemangat.
“Jam 7 malam. Uhm.. berdandan yang biasa saja, tidak usah terlalu resmi. Hehe. Hanya bertemu dengan appa eomma, acara makan malam biasa saja”, katanya.
Aku tersenyum, “Tenang saja, aku akan berusaha sebaik mungkin”.
Untuk Yuna.
(End of flashback)

Dan malam itu menjadi malam terbodoh dalam hidupku. Aku sudah mempersiapkan hampir seluruh hari sebelum akhir minggu untuk pergi kesana, mempersiapkan baju, merepotkan teman-temanku, bertanya kesana kemari pada seniorku, sampai membuat mereka heboh, apa yang harus aku lakukan nanti disana, dan juga melihat tabungan itu… aku tersenyum seperti orang bodoh, berharap terlalu banyak, dan memikirkan dunia yang hanya indah saja bersama Yuna.

Malam itu mereka seperti menggoreskan luka paling dalam di hatiku. Apa kau bisa menjamin kehidupan Yuna? Apa kau bisa bertanggungjawab kepadanya nanti? Apa yang akan kau berikan pada anakmu nanti kalau kau saja tidak bisa menghidupi kehidupanmu dengan baik? Sebaiknya kau jangan bermimpi untuk menikahi anak kami. Mungkin itu adalah kata paling tidak bertanggungjawab di dunia ini, yang bisa diucapkan oleh seorang laki-laki.

Aku hanya bisa terdiam. Intinya, mereka tidak menyetujui aku dengan Yuna.

Malam itu aku membaringkan tubuh di kasur dengan perasaan campur aduk. Aku tidak menyangka, kalau orang tua Yuna selama ini tahu soal hubungan kita. Aniya, itu tidak masalah, tapi.. mereka tahu soal latar belakangku, soal hidupku. Ya, aku memang hanya hidup seperti ini, tapi apa aku tidak bisa memiliki anak perempuannya? Aku sangat menyayanginya. Aku bisa membangun keluarga dengannya, aku yakin itu. Walau aku pun masih ragu.

Malam itu setelah aku menenangkan Yuna yang menangis semalaman di telepon, aku segera mengambil botol soju di dalam kulkas. Paling tidak aku ingin minum malam itu. Dan aku tiba-tiba teringat dengan amplop itu. Amplop yang sengaja aku buat sendiri.
Aku membasuh wajahku lagi. Semoga aku tidak membuatnya terlalu sakit hati. Mungkin.

Klek. Aku keluar dari kamar mandi setelah membersihkan muka seadanya. Nayeon sudah memanaskan air dan menyiapkan makanan kecil. Aku melihat wajahnya dengan sedikit sedih, dia hanya diam, sambil sesekali tangannya gemetar.
Aku melangkah ke arah laci yang selalu aku kunci. Nayeon, bahkan Yuna tidak pernah membukanya dan tidak aku biarkan mereka membukanya. Aku melirik sebuah amplop disana, dan menyentuhnya pelan.

“Wedding Dress”, nama amplop itu.

Aku mungkin orang paling naïf di dunia ini, tapi aku ingin membeli gaun pengantin sendiri untuk Yuna. Sebuah baju yang akan dia pakai seumur hidup sekali, didepanku.
“Oppa?”,panggil Nayeon.
“Ah,nee?”, jawabku, buru-buru sambil menutup laci itu lagi, dan membalikkan badan memandangnya.
“Aniya, oppa. Uhmm”

Ting tong~!! Suara bel berdentang dan badan kami sama-sama kaku. Rasanya tubuhku tidak mau bergerak dari tempatnya. Ting tong~!! Bel kedua kalinya…
“Oppa, biar aku yang..”
“Aniya, aku saja”, kataku, yang langsung melesat entah dengan kekuatan apa setelah tadi berdiri kaku menuju ke arah pintu. Aku membuka daun pintu dan melihat wajah Yuna yang sedikit berbeda dari apa yang aku bayangkan.
“Boleh aku masuk?”, tanyanya, dengan suara yang dingin.
Aku tersenyum pelan, sedikit terpaksa. “Nee”.

(Yuna POV)

Dan perempuan itu yang pertama aku lihat ketika aku masuk ke apartement Yoongi. Akumelihat keadaan sekeliling, dan menelan ludah. Berusaha menahan kemarahan danperasaanku yang campur aduk.
Apartement Yoongi tak pernah serapi ini, tidak pernah sebersih ini, dan tentu.. jarang sekali ada bau teh hangat di pagi hari. Mereka… pasti tidur bersama semalam.

“Yu..Yuna unnie, uhm,..”, kata Nayeon, terbata-bata. Suaranya terdengar begitu takut, dan dia gemetar.
Aku memandang Yoongi, sambil menggigit bibir dan menahan semua emosiku. Tapi aku hanya berdiri disana, memandangnya yang juga berdiri kikuk namun matanya menyorot tajam. Hah..
“Maaf menggangu”, kataku, aku langsung beranjak lagi ingin keluar dari sana.
“Tunggu Yuna”, kata Yoongi.
“Maaf, sepertinya aku sudah..”.
“Yuna, dengarkan aku dulu”, kata Yoongi, menahan tanganku.

“Untuk apa?!! Untuk semua alasanmu karena bersama Nayeon? Untuk semua alasanmu karena kau tidur dengannya? Untuk semua alasanmu karena kau tidak mau menikah denganku?!!”, semburku, yang sudah tidak bisa menahan emosi lagi.
“Aku hanya ingin kau mengerti..”
“Mengerti soal apa? Mengerti kalau kau selingkuh dibelakangku dengan Nayeon dan tidak dipusingkan karena aku yang terus memburu-burumu untuk menikah, dan..”

“Aku selalu ingin menikah denganmu!”, teriak Yoongi, membuatku berhenti berteriak. Aku memandangnya agak kaget, seperti setitik airmata membentuk disudut matanya.

“Aku selalu ingin menikah dengamu, aku ingin berkeluarga denganmu. Tapi aku tidak sanggup, Yuna. Aku tidak sanggup mendengar setiap kali aku datang ke rumah orangtuamu, aku selalu dicaci, dimaki. Karena aku tidak memiliki apapun yang bisa aku banggakan, aku tidak memiliki sesuatu yang membuat mereka yakin kalau aku bisa menghidupi anaknya. Bahkan rasa tanggungjawabku sepertinya tidak cukup untuk membuat mereka percaya!”, teriak Yoongi.

“Aku merasa tidak dihargai, aku merasa tidak dianggap didalam keluargamu. Aku bukannya tidak mau berusaha, tapi aku berusaha sekuat apapun, aku tetap sama dimata dimata mereka. Hanya rapper yang hobi minum-minum dan pergi ke club”,katanya, dengan nada sedih, dan suara yang menyedihkan.
“Yoongi…”,gumamku.

“Aku bukannya tidak mau berusaha. Tapi aku terus berusaha, menelan harga diriku sendiri, dan tidak ingin berhenti berjuang karena bayangan kecilku, bayangan kecilku yang ingin bersamamu..”, kata Yoongi.
Aku menutup mata, menghela nafas. Astaga..

“Kau..seharusnya tidak berkata seperti itu”, kataku, tajam.
Yoongi memandangku sambil terdiam.
“Kalau kau tidak ingin menikah dengan aku, tidak usah membawa-bawa soal orang tuaku. Bilang saja kau lebih memilih Nayeon daripada aku”, kataku, dingin.
Yoongi menghela nafas, dia hanya memalingkan wajahnya.
“Aku tahu, kalau kau hanya..”

“Ada saatnya untuk berhenti, dan mengejar sesuatu yang terlalu sulit kita kejar. Aku harap kau tahu soal itu”, kata Yoongi.

aku kaget memandangnya. “Apa kau menyerah, Yoongi-ah…?”, tanyaku, suaraku sudah parau.
“Ada saatnya kita harus menyerah, Yuna”, katanya.
Wajahnya memandangku, dalam, dengan ekspresi yang sedih namun berubah menjadi kuat dan tajam lagi, sedih lagi.. dan..
“Baiklah. Aku mengerti”, kataku, sambil keluar dari apartementnya. Tanpa memandangnya lagi. Dan airmataku turun begitu saja, membasahi wajahku.

Hah, Yoongi langsung bicara to the point ke arahku. Pergilah, aku sudah lelah, dan jangan cari aku lagi.

Begitu? Meninggalkanku seorang diri dan menyuruhku pergi dan… dan karena dia sudah bersama Nayeon? Aku menyetir mobil, ingin rasanya langsung kembali ke apartement dan menangis meraung-raung… tapi sepertinya menangis meraung-raung pun juga tidak akan bisa membuatku tenang.
Yoongi sudah berkata dengan pesan kepadaku, “Pergilah, aku sudah cukup berusaha”.

Dan aku tidak bisa membuktikan pada eomma, kalau Yoongi akan terus bersamaku. Mungkin, aku sendiri juga harus berhenti. Ada saatnya untukku berhenti dari semua ini.

(Yoongi POV)
Aku langsung duduk tersungkur di lantai. Aku menekuk lututku dan memegangi kepalaku, dan merasakan airmataku mengalir deras begitu saja. Tanpa suara, tanpa rintihan, hanya airmata yang begitu lama aku pendam.

Aku sudah begitu kejam padanya. Mengatakan semua hal itu, seperti aku mencari alasan saja atas semua ketidakmampuanku untuk hidup bersamanya. Alasan yang sekarang terdengar klise. Dan Nayeon yang keburu datang ke dalam kehidupanku.
Aku menangisi ketidakmampuanku, kekejaman yang ada dalam hatiku, keegoisanku dan sepertinya… aku harus merelakan dia benar-benar pergi sekarang. Selamanya.

Kenapa aku tidak berusaha lebih giat lagi? Lebih kuat lagi? Menunjukkan semua kemampuanku??? Tapi mengingat semua yang aku dapatkan sebagai bayarannya, rasanya titik lelah sudah memukulku, dan aku ingin berhenti. Sekarang juga.
Aku merasakan tangan Nayeon yang menepuk pundakku.

“Cinta tidak ada yang mudah,tetapi cinta yang terlalu sulit, hanya akan melukai cinta itu sendiri”.

3 bulan kemudian.
(Yoongi POV)
“Tolong berikan ini padanya”, kataku, pada seorang laki-laki yang tinggi dengan gaya yang sangat rapi didepanku, kaos polos dan jas yang santai. Tidak lupa rambutnya yang disisir begitu rapi. Beda sekali dengan gayaku.
“Apa ini?”, tanyanya, sambil membalik-balikkan amplopku.
Cih, aku benar-benar tidak suka cara bicaranya dan tatapan matanya yang seperti melecehkan itu.
“Untuk Yuna”, kataku, sedikit mengeras.
“Ah..kau pasti Yoongi??”, tanyanya.
Dia memandangku dengan sedikit tatapan menyelidik, lalu dia tersenyum, “Aku akan berikan ini pada Yuna”, katanya.
“Nee, terimakasih”, kataku.
Dia memandangku sesaat, “Ada yang ingin kau katakan lagi? Mungkin pesan untuk Yuna?”, tanyanya.
“Aniya, cukup itu saja. Dan juga, aku akan datang ke upacara pernikahanmu walaupun aku tidak diundang..”
“Aku akan mengundangmu. Apa kau akan datang, Yoongi?”, tanyanya, memotong ucapanku.

Aku hanya menghela nafas, kenapa aku tidak suka cara bicara orang ini? Dia kemudian berjalan menuju mobilnya, dan membawa sesuatu. Undangan pernikahan, warna pastel dan pink. Kesukaan Yuna.

“Datanglah, aku akan beritahu Yuna soal kedatanganmu”, katanya.
“Aku akan datang”, kataku, agak dingin.
“Yups, asal kau tidak mengubah pikiranmu dan membawa lari istriku”, katanya, sambil tertawa kecil.
Hah, dia masih bisa tertawa? “Aku tidak akan membawanya pergi, mungkin”, kataku. Dia hanya tersenyum dan mengangguk hormat padaku.
“Aku akan menjaganya sebaik mungkin”, kataya. Dia segera masuk ke mobilnya lagi. Meninggalkan aku yang berdiri disana, kaku.

Aku memandang undangan itu, ada rasa sesal didalam hatiku. Harusnya ada namaku disebelah nama Yuna. Tapi ini semua sudah jadi keputusanku. Mungkin hanya satu keinginanku yang akan terwujud. Keinginan dalam amplop itu.

(Yuna POV)
Aku duduk diam di depan cermin, memandang diriku sendiri yang berdandan serba putih, dan aku merasa aneh.
Klek. Suara pintu dibelakangku terbuka.
“Yoongi sudah datang”, kata laki-laki yang memakai tuxedo lengkap itu.
“Aku juga akan tahu ketika nanti masuk ke sana, kau tidak usah memberitahuku”,kataku, dingin.
Dia lalu duduk disebelahku. “Baju ini bagus sekali. Cocok denganmu”, katanya,sambil tersenyum.
“Terimakasih”,kataku.
“Tersenyumlah, paling tidak untuk dia, dan orangtuamu”, katanya.
“Hmm”,kataku lagi, malas menanggapi ucapannya.
“Dia sudah berusaha memberikan wedding dress impiannya untukmu”, katanya. Aku hanya terdiam, aku malas bicara dengan orang ini.

“Kau bisa tersenyum untukku kapan-kapan”, katanya.
“Ah, aku dengar dari eomoni kalau Yoongi bisa membuat lagu”, katanya.
aku memandangnya, “Kenapa? Eomma menjelek-jelekkannya lagi setelah semua keinginannya terwujud?”, tanyaku, sinis.
dia hanya tersenyum pelan, lalu mengeluarkan sebuah benda dari saku dalam tuxedonya.

“Ah, dengarkan ini dulu. Play lagu pertama”, katanya, sambil menyerahkan sebuah mp3 player kepadaku.
Aku memandangnya dengan bingung, lalu mengambil mp3 itu dan memasang headsetnya ditelingaku. Dan beberapa detik setelah intro, aku memandang laki-laki yang duduk disebelahku itu dengan kaget.
Dia lalu tersenyum, “Aku.. juga akan berusaha”, katanya.
Aku tersenyum pelan sambil memandangnya, “Aku akan mendengarkan ini sampai acaranya dimulai. Terimakasih”, kataku.
“Ah, itu lagu yang aku buat sendiri”, katanya, sebelum kemudian pergi dari ruangan tungguku. Setelah dia pergi, aku mencoba meresapi semua kejadian ini.

Hah, orang-orang ini membuatku merasa bersalah, padahal aku yang paling sakit disini. Aku kah? Yoongi, kah? Nayeon, kah? Orang itu kah? Mungkin kami semua merasa sakit dan tidak bahagia disini.

Aku membaca pesan Nayeon yang pagi ini dia kirim. Sebenarnya dia selalu mengirimiku pesan setiap hari, bahkan dia sengaja datang ke tempat kerjaku hanya untuk bicara padaku, tapi aku selalu mengelak darinya. Semua pesannya, aku tidak pernah membalasnya.
“Unnie, maafkan aku. Aku sungguh merasa bersalah padamu, kalau kau masih mau bertemu denganku, aku ingin mengatakan semua perasaanku pada Unnie. Unnie, aku berjanji, aku tidak akan membuat Yoongi Oppa sedih lagi. Aku akan terus berjuang untuknya. Maafkan aku Unnie. Dan tolong kembalilah tersenyum padaku lagi”, tulisnya.

“Unnie, aku harap kau bisa berbahagia, aku akan selalu mendoakanmu”, pesannya.

Ada sesuatu dari semua ini. Semua orang tetap berusaha walau keinginannya mungkin tidak akan terwujud semudah itu. Eomma, mungkin menceritakan soal Yoongi pada orang itu, melihat sikapku yang jadi begitu dingin padanya. Mungkin eomma merasa bersalah. Dan ternyata, orang itu masih begitu berbesar hati menerimaku, dan menerima permintaan terakhir Yoongi.
Wedding Dress ini.

Aku berdiri di aula itu, ditengah orang-orang yang melihatku mengikat janji dengan orang yang dulu sangat asing bagiku, tapi ternyata dia mau berusaha untukku.

Dan orang yang duduk dibelakang sana, yang terus memandangku. Dengan tatapan yang tidak bisa aku katakan dengan kata-kata, antara tersenyum dan sedih, tapi juga bahagia. Ah, ini Wedding Dress yang dia inginkan. Dia ingin aku memakai baju seperti ini di pernikahanku. Bukankah ini menyakitkan, Yoongi? Melihatku bersama orang lain?? Memakai baju yang hanya aku pakai sekali seumur hidupku bersama orang lain?? Seperti yang kau tulis dalam surat didalam amplop itu.

Tapi aku mengetahui satu hal lain lagi. Tidak akan ada kesedihan tentang kehilangan sesuatu, kalau kita sudah berusaha sekuat tenaga, namun tetap kehilangan hal tersebut. Seperti memakai wedding dress ini, walau sekali seumur hidup, usaha kita yang akan dikenang oleh diri kita dan orang yang menyayangi kita.

Kalau kita sudah berusaha sekuat tenaga, semua yang kita lakukan tidak akan sia-sia. Seperti Yoongi, seperti Nayeon, seperti dia, seperti aku. Seperti Wedding Dress ini.

-Fin-

Inspired by Taeyang – Wedding Dress.

Advertisements