Tags

, , ,

The Missing Bullet Cover 2

 The Missing Bullet

Caramel Kim Storyline


-Main Casts
: Park Jimin (BTS), Min Jiyoung (OC), Min Yoongi (BTS),| Other Cast : another BTS’s Members and also another support casts|Genre : Romance, Action, Crime|Length : Chaptered |Rating : PG 17

Inspired by SALT and ABDUCTION

Park Jimin, seorang mata-mata Korea Utara ditugaskan untuk membunuh seorang agen intelijen Korea Selatan yang dianggap mengancam keselamatan negaranya. Tapi, Jimin berpaling dari misinya, dan menjadi seseorang yang bahkan diburu oleh kedua Negara itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan Apa yang ingin Jimin cari?

 

-The Missing Bullet-

“Sial,”

Aku mengumpat kaget begitu Min Jiyoung melihat kearah mobilku dengan tiba-tiba. Refleks, segera saja pistol yang ada ditanganku kutarik mundur dan kusimpan begitu saja didalam saku jas yang aku kenakan. Aku kembali melirik kearah mereka yang kini berdiri sekitar 30 meter dariku. Si gadis sudah mengalihkan pandangnya dan bergerak menuju mobil, aku mendengus, lalu menghembuskan nafas pelan.

Apa gadis tadi melihatku? Tidak mungkin, jarak kami cukup jauh, pandangan mata siapapun tidak akan mungkin bisa menjangkau objek dengan jarak pandang sejauh itu. Harus aku akui aku benar-benar kaget, dia melirik dengan cepat, aku bahkan tidak menduganya.

Benar-benar diluar prediksi..

Aku tersenyum, lalu mulai merancang berbagai rencana baru untuk membunuh Min Donghyun dengan mudah. Mungkin saat ini memang bukan waktunya bagi dia untuk mati kan? Aku masih punya waktu, lagipula aku masih membutuhkan beberapa informasi lagi.

Ya, aku harus tau apa yang sebenarnya dikerjakan intelijen. Dan aku yakin Min Donghyun terlibat. Senjata biologis? Tuan Kang pernah memberiku informasi mengenai hal itu sebelum aku berangkat kesini. Membunuh Min Donghyun memang tugas utamaku, tapi jika aku memperoleh informasi mengenai badan intelijen dan apa yang mereka kerjakan, aku yakin tuan Kang akan senang.

Cukup untuk hari ini, sebaiknya aku kembali ke apartemen dan menyusun rencana baru untuk menyusup dan mencari informasi lebih banyak lagi.

Kunyalakan mobilku dan segera saja aku pergi meninggalkan pelataran parkir dengan tenang. Aku rasa aku tidak perlu mengikuti mereka, setidaknya aku tidak ingin mengundang perhatian si putri bungsu Min Donghyun itu lebih banyak. Hah, memang sial, gadis itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Mungkin kecerdasan dan kepekaan mereka memang sudah menjadi hal yang diturunkan secara genetik. Aku terkekeh pelan sambil menyusuri jalanan Seoul yang padat, berusaha menyalip beberapa kendaraan yang menghambat laju mobilku.

Keluarga Min memang bukan keluarga biasa, setidaknya aku harus mewaspadai mereka semua.

Kupacu mobilku dengan kecepatan sedang begitu melintas didekat perempatan jalan menuju apartemenku. Jalanan kawasan Gangnam memang tidak seramai saat aku tiba untuk pertama kali. Keramaian memang bukanlah kebiasaanku, di negaraku nyaris sepi disegala situasi, hanya ramai jika ada pawai militer dari pihak pemerintah saja. Jadi aku harus membiasakan diri dengan keramaian di Negara modern kapitalis ini.

“Selamat datang.”
Ucap seorang pria yang berdiri di front office dengan ramah. Aku tersenyum dan berjalan cepat menuju lift. Pintu lift terbuka dengan bunyi ding halus, aku masuk, dan segera menekan tombol lantai 17 dimana kamarku berada.

Suasana apartemen ini benar-benar mewah, dihiasi karpet merah yang disulam benang emas dipinggirannya. Interiornya juga indah, dengan langit-langit pualam putih yang diukir bunga lili disekelilingnya. Bukan main fasilitas yang disediakan Tuan Kang untukku.

Begitu sampai didepan pintu apartemenku aku lalu masuk. Kurasa disini aman untuk memasang alat anti sadap, pikirku cepat lalu berjalan menuju ruang tengah dan segera membongkar laci kayu mahogani dengan cepat. Begitu semua barang yang aku butuhkan ada aku lalu merangkai alat anti sadap itu dan memasangnya disekeliling apartemenku dan tempat strategis lain, kamar, kamar mandi, ruang tengah, dapur, bahkan balkon belakang telah kupasangi alat anti sadap. Tidak, aku tidak akan membiarkan aku gagal dalam misi ini karena aku kurang persiapan, aku harus berhasil dan pulang ke negaraku segera.

Begitu yakin semuanya aman aku lalu menghubungi badan intelijen Korea Utara, tepatnya Tuan Kang. Jika aku beruntung maka Tuan Kang lah yang akan mengangkat teleponku.

“Jimin? Ada apa?”

Salah, itu Namjoon.

“Aku sudah temukan Min Donghyun, juga sudah berhasil masuk ke intelijen. Apa tuan Kang ada?”
Tanyaku cepat dan agak berbisik. Memang mustahil jika ada yang menguping, tapi tetap saja aku harus hati-hati.
“Kau sudah memasang alat anti sadap?”
Namjoon tidak menghiraukan pertanyaanku. Aku menghela nafas dan menjawabnya cepat,
“Sudah, bagaimana keadaan disana?”
“Bagus. Disini baik, Tuan Kang sedang ke Moscow, dia menyerahkan semuanya padaku untuk beberapa hari ini. Tenang saja, aku tetap memantaumu lewat satelit dari sini, yang harus kau lakukan adalah menjalankan tugasmu dengan cepat dan bersih.”
Ujar Namjoon dengan tegas. Suaranya terdengar merembes masuk melalui ponselku, aku mengangguk sekilas.
“Aku hampir membunuhnya tadi, tapi kurasa sekarang bukan saatnya. Besok aku mulai bekerja di badan Intelijen, aku masih belum menemukan informasi mengenai senjata biologis itu.”
Ucapku sambil menatap keluar jendela, entah kenapa disini agak panas. Aku lalu membuka dua kancing kemejaku, dan kembali fokus dengan Namjoon diseberang sana.

“Segala instruksi akan aku berikan nanti, kau jalankan saja peranmu dengan baik.”
Suara Namjoon terdengar lebih berat daripada saat aku terakhir berbicara dengannya. Aku tau dia sedang berada diruang pengawasan, suaranya terdengar besar dan berat.
“Aku tunggu instruksi darimu.”
“Berhati-hatilah Jimin, kami tidak memberi bantuan apapun kecuali instruksi.”
Ucap Namjoon agak terburu, aku menghela nafas pelan dan mengedikkan bahu dengan pelan.

“Tentu aku mengerti.”

-The Missing Bullet-

Langkah kaki yang sibuk terdengar menggema disepanjang lorong yang berdinding kaca jernih itu. Wajah setiap orang dilorong terlihat sama, nampak terburu dan sibuk. Pakaian mereka terlihat rapi, dengan jas serta dasi, sementara para wanita memakai blazer hitam dan rok. Disetiap jas dan blazer mereka nampak menggantung sebuah kartu tanda pengenal, dengan logo badan intelijen yang tercetak rapi.

Wajah-wajah mereka berkisar 30 hingga 40 tahunan. Namun, diantara kerumunan orang-orang itu ada satu wajah muda berbaur disana. Wajah cerdik dengan kisaran usia 20, dia nampak begitu rapi dengan jas dan dasi hitam. Di saku jas nya juga menggantung kartu tanda pengenal. Dengan tulisan ‘Park Jimin’ disana.

“Selamat pagi.”
Ucap pria muda itu ramah begitu berpapasan dengan seorang wanita paruh baya dengan air muka kurang menyenangkan. Begitu mendengar Jimin menyapa, si wanita menghentikan langkahnya.
“Park Jimin, rapat pertamamu pagi ini?”
Ujar wanita bernama Byun Soo Hee sambil mengamati Jimin, dia mengangkat alisnya, tanpa senyuman. Jimin menyunggingkan senyum terbaiknya, tapi si wanita paruh baya itu sama sekali tidak terkesan.
“iya, nyonya Byun.”
“Pastikan kau tidak membuat kesalahan dirapat ini, kau bisa membuatku malu. Aku yang menerima rekomendasimu, bagaimana pun.”
Nyonya Byun berkata serius, kerutan di wajahnya terlihat semakin jelas sekarang. Jimin mengangguk tanpa menanggalkan senyumnya, nyonya Byun menatapnya sekilas, lalu berjalan meninggalkan Jimin dan kembali bergabung dengan rombongannya.

Jimin menanggalkan senyumnya seiring dengan langkah nyonya Byun yang berjalan menjauh. Dia mendengus, lalu kembali berjalan menuju ruang rapat.

Ternyata sudah banyak yang hadir, batin Jimin lalu melangkah masuk ke dalam ruang rapat.

Ada sekitar 50 orang disana, namun Jimin yakin itu belum seluruhnya. Orang-orang itu sibuk mencari tempat duduk, dan Jimin juga begitu. Dia berjalan mengitari ruangan, lalu mengambil tempat duduk di tengah ruang rapat. Sesekali dia mengamati keadaan disekitarnya.

Pria, wanita. Orang-orang disini terlihat begitu cerdas, benar-benar khas agen intelijen.

Perhatian Jimin kini menyebar keseluruh ruangan, mengamati setiap wajah, serta gerak-gerik setiap orang disekitarnya. Aku harus mengikuti tata cara dan perilaku orang-orang disekitarku, ada gunanya aku belajar antropologi.

“Tuan Min, kami sudah menunggumu.”

Jimin sontak menjatuhkan pandangannya ke arah pintu masuk. Dia tersenyum, dan mengamati targetnya yang kini berjalan memasuki ruangan. Pria paruh baya dengan wajah cerdas, tangkas dan ramah itu kini berjalan memasuki ruangan. Dia memakai jas abu-abu, serta dasi dengan warna senada. Begitu selesai menyalami beberapa orang disekitarnya dia lalu memasuki jajaran kursi dan duduk di jajaran depan.

“Baiklah, semua anggota sudah berkumpul, secara resmi rapat ini dimulai.”

Seketika ruang rapat berubah hening. Seorang pria yang diketahui adalah pimpinan agen intelijen berjalan ke depan ruangan dan menaiki undakan tangga didepan layar besar. Jimin memicingkan matanya, dan menyadari bahwa pria itu adalah Kim Yeongsu.

“Ada beberapa hal yang akan kita bahas pagi ini. Mengenai memanasnya situasi diperbatasan, serta penjualan dokumen Negara.”

Mata Jimin memancang tajam ke arah Min Donghyun yang duduk selang beberapa kursi didepannya. Jimin menatapnya tajam, memandangi belakang kepala pria itu yang kini tengah serius mendengarkan si pria yang tengah menjelaskan agenda rapat didepan ruangan.

“Min Donghyun memiliki penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini.”

Pandangan mata Jimin tak lepas dari pria itu, kini Min Donghyun berjalan menuju mimbar, dia terlihat serius sekali sekarang.

“Agen Intelijen Korea Utara sudah beberapa kali mengirimkan mata-mata untuk mengawasi beberapa departemen penting. Seperti yang kita tau, Korea Selatan sudah kehilangan beberapa dokumen Negara belakangan ini dan diduga ini semua terjadi dikarenakan ada agen lepas Korea Utara yang terlibat.”

Jimin menyeringai halus, dia mengamati setiap inchi Donghyun, juga mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulutnya. Dia menyinggung negaraku, aku jadi penasaran apa yang akan dia bicarakan.

“Sejauh ini kami sudah mendapatkan beberapa data mengenai salah satu agen Korea Utara, dia adalah Kang Baekho. Rekam jejaknya adalah sebagai mantan anggota militer Korea Utara, juga sebagai Pembina persatuan pemuda di negaranya. Dia membina para pemuda untuk menjadi senjata bagi negaranya.”

Jimin memperhatikan layar besar didepan ruangan dengan serius, kini layar itu menampilkan potret wajah Tuan Kang beserta data-data mengenainya. Jimin memicingkan matanya, berusaha menahan gerak-gerik aneh yang bisa menimbulkan kecurigaan disekelilingnya.

Tuan Kang cukup terkenal disini.

“Remaja serta anak-anak yatim piatu dilatih dan didoktrin untuk membenci Negara liberal, mereka dilatih ala militer, juga disekolahkan setara perguruan tinggi. Kang Baekho membina para pemuda itu, dan jika sudah menginjak 17 tahun, para pemuda itu diberi berbagai macam misi, dimulai dari menyusup ke pemerintahan, mengawasi perbatasan bersama pihak militer, hingga mencuri dokumen-dokumen Negara. Ada kemungkinan pencurian serta penjualan dokumen Negara ini dilakukan oleh lembaga pemuda milik Kang Baekho.”

Gumaman pelan menyebar disekeliling Jimin seperti bibit penyakit. Pernyataan Min Donghyun mengundang berbagai reaksi didalam ruangan, Jimin sendiri juga salah satu diantara reaksi itu.

“Tapi Donghyun-ssi, kita tidak hanya berbicara tentang Korea Utara, tapi juga Cina, dan Rusia. Bisa saja salah satu agen merekalah yang menyusup kemari kan?”

Kim Yeongsu angkat bicara, pria dengan perut besar itu kini berdiri diseberang ruangan dengan wajah bingung. Rambutnya yang sudah putih semua itu nampak mengilap ditimpa cahaya dari layar besar.

“Ya, kemungkinan seperti itu ada. Tapi kita tau Korea Utara sedang mengembangkan senjata nuklir sekarang ini. Jadi, tersangka utama adalah mereka.” Ujar Donghyun cepat. Kim Yeongsu menghela nafas seolah tidak bisa menerima hipotesis anak buahnya itu, dia berdehem.
“Apa hubungannya dengan pencurian dokumen Negara? Hipotesismu sama sekali tidak masuk akal.”
Jimin mengerutkan kening, dia mulai berpikir cepat. Min Donghyun ini mengetahui sesuatu yang bahkan dia tidak tau, dan Jimin harus mencari tau.

“Penjualan dokumen Negara. Mereka membutuhkan uang untuk mengembangkan senjata nuklir kan? Kurasa penjualan dokumen Negara bisa menjadi salah satu pemasukan yang besar.”

Mata Jimin membulat seiring dengan gumaman yang terdengar semakin keras disekeliling ruangan. Senjata nuklir? Apa yang sebenarnya terjadi?

“Kita akan memperketat keamanan, apalagi keadaan diperbatasan mulai memanas.”
Ucap Min Donghyun dengan nada rendah yang aneh. Min Donghyun kini berjalan meninggalkan mimbar menuju tempatnya duduk, Jimin menatap wajahnya tanpa henti ketika dia berjalan mendekat. Namun, tanpa diduga Min Donghyun balas menatap Jimin. Begitu tatapan mereka saling bertemu, Donghyun mengerutkan keningnya dalam.

-The Missing Bullet-

Tugas-tugas kuliah mulai menumpuk.

Aku menguap lebar sambil memikirkan apa yang akan aku tulis untuk makalah yang akan aku setor pekan ini. Gara-gara terlalu sibuk dengan team basket semua tugas kuliahku terbengkalai, alhasil,akhir pekan yang seharusnya aku nikmati dengan duduk-duduk santai atau main basket harus aku habiskan dengan menulis makalah yang menyebalkan ini.

Aku menghela nafas panjang dan menatap keluar jendela kamarku. Salju turun tadi pagi, mulai menumpuk dijalanan dan halaman rumah. Pemandangan dihadapanku nyaris semuanya berwarna putih, kecuali warna-warna atap dan dinding rumah disekitar yang berwarna gading dan coklat muda.

Tok, tok.

Aku menoleh kearah pintu kamarku yang diketuk pelan. Dengan malas aku lalu bangkit dari tempatku duduk dan berjalan menuju pintu yang ada diseberang kamar. Sambil menghela nafas aku lalu membuka kenop pintu, dan menyambut si pengetuk pintu dengan muka ogah-ogahan.

“Ada apa?”
Tanyaku malas pada Jiyoung yang kini ada dihadapanku. Gadis itu menuding anak tangga yang ada tak jauh darinya.
“Ayah memanggilmu dibawah kak, dia bilang ingin bicara padamu. Dia menunggu diruang kerja.”
jawabnya pelan sambil mengedikkan bahunya. Aku mengangguk lalu berjalan keluar kamar sambil menutup pintu, sementara Jiyoung lalu berjalan menyusuri lorong dan menghilang dibalik pintu kamarnya. Sepertinya dia juga sama sibuknya dengan aku.

Bunyi gedebuk pelan terdengar menghiasi setiap anak tangga yang aku lewati. Tumben ayah menyuruhku ke ruang kerjanya untuk bicara, biasanya dia memilih untuk berbincang diruang tengah, sambil nonton TV atau bersantai. Langkah kakiku terasa semakin berat seiring dengan semakin dekat jarakku ke pintu ruang kerja ayah. Apa aku berbuat kesalahan? Batinku sambil menatapi pintu kayu coklat yang tertutup tepat didepan hidungku. Aku menarik nafas.

Tok, tok.

“Ayah, ini aku. Boleh aku masuk?”
Tanyaku agak keras sambil mengetuk pintu dengan ragu.
“Masuklah Yoongi-a.”

Kubuka pintu didepanku dengan hati-hati, kubiarkan kepalaku nongol sebagian diantara daun pintu. Bisa kulihat ayah sedang duduk dikursi kerjanya, dan tersenyum menyambutku untuk masuk.

“Ada apa ayah?”
Tanyaku lalu berjalan ke tengah ruangan, aku lalu duduk disofa yang ada disisi ruangan, menatap ayah yang kini bangkit dari duduknya.
“Ayah ingin memberimu sesuatu. Kau harus berjanji untuk menjaga benda ini.”
Ujar ayah pelan lalu membuka laci meja kerjanya. Aku mengernyit bingung, namun aku tidak berkomentar apapun sampai ayah menemukan barang yang dia cari.

“Ah ketemu juga.”
Ucap Ayah lalu membawa benda itu dan berjalan menghampiriku. Seketika saja aku berdiri, dan mengamati tangan ayah yang tengah memegang benda kecil itu.

“Itu apa?”
Tanyaku heran, kutatap wajah ayah dengan seksama, namun ayah tersenyum dan memberi isyarat bagiku untuk mengulurkan tanganku.
“Ini software terbaru ciptaan ayah, jaga baik-baik.”
ujar ayah sambil menaruh benda itu ditelapak tanganku. Aku menatapnya dan menyadari sesuatu, ternyata benda ini adalah flashdisk.
“Tapi, kenapa ini diberikan padaku?”
Aku mengerutkan kening keheranan. Kenapa benda ini diberikan padaku? ini kan milik ayah, ciptaan ayah.

“Ayah yakin kau bisa menjaga ini dengan baik. Ayah percaya padamu, kau adalah anak laki-laki ayah satu-satunya, ayah bisa percaya padamu kan?”
Tanya Ayah dengan mata berkilat aneh. Aku tertegun, lalu menatap lantai dengan bingung, dan berpikir keras.
“Tapi kenapa? Aku tidak paham sama sekali apa maksud ayah. Kau ingin aku menyimpan flashdisk ini?”

Ayah mengangguk mantap.

“Simpan saja, oke?”
Walau bingung dengan apa yang ayah katakan, aku tetap saja mengangguk. Ayah tersenyum puas dan menepuk pundakku pelan, aku tersenyum. Kutatap benda kecil yang ada ditanganku dengan bingung, bisa kulihat benda itu berkilat seolah menyimpan sesuatu yang penting. Aku mendongak menatap ayah, tapi ayah malah menggeleng seolah tau apa yang sedang aku pikirkan.

“Kalau kau buka sekalipun, kau tidak akan paham. Software itu masih benar-benar mentah.”
Ucap Ayah lalu berjalan menuju meja kerjanya, bisa kurasakan kerutan dikeningku tercipta semakin dalam. Tapi, jika aku mengajukan pertanyaan sebanyak apapun ayah tidak akan menjelaskannya.

“Baik, aku akan menjaga benda ini. Walau aku tidak tau apa isinya..”

-The Missing Bullet-

Kuawasi Min Donghyun yang kini sedang berjalan menaiki undakan tangga kantor badan Intelijen. Dia baru datang, padahal sudah jam segini, batinku sambil pura-pura sibuk merapikan dokumen yang ada di front office. Bisa kulihat lewat sudut mataku pria itu berjalan masuk ke lorong utama.

“Hei Park Jimin, dokumen ini harus kau simpan di brangkas. Brangkasnya ada dilantai empat, kau tanya saja pada Tuan Hwang, dia tau mana brangkas yang benar.” Ujar pria berhidung besar yang ada didepanku sambil menuding kertas-kertas dimeja. Aku mengangguk dan tersenyum, segera saja kubawa bundelan kertas itu dan berjalan mengikuti Min Donghyun.

Apa yang akan dia lakukan?

Kuikuti langkah Min Donghyun yang berjalan terburu menyusuri lorong. Aku berjalan dengan menjaga jarak darinya, agar tidak mengundang perhatian pria itu. Suasana lorong cukup padat, banyak sekali orang yang berjalan hilir-mudik dan bergerombol. Dan suasana ini sangat memudahkan aku untuk mengikutinya.

Dia berbelok ke lorong utara, kupercepat langkahku sedikit sambil berusaha mengimbangi langkah kaki pria itu. Lorong utara? Mau kemana dia? Batinku berusaha menerka sambil terus berjalan, kuperhatikan belakang kepala Min Donghyun yang berjarak sekitar 10 meter dariku. Aku tidak bisa membunuhnya sekarang, apalagi didalam kantor Intelijen seperti ini, setidaknya aku harus mendapatkan informasi darinya kali ini.

Langkahku berhenti begitu kulihat Min Donghyun masuk kedalam ruangan Kim Yeongsu, aku menghela nafas dan melihat sekeliling. Lorong ini tidak seramai tadi, batinku lalu berjalan mendekati pintu ruangan Kim Yeongsu yang tertutup rapat itu. Dengan tangan kanan memegangi sebundel kertas, kuarahkan tangan kiriku untuk merogoh saku jasku, dan dengan kecepatan kilat aku lalu mengeluarkan alat sadap berukuran kecil, kecil sekali nyaris sebesar kancing kemeja pada umumnya. Aku tersenyum, dan menempelkan benda kecil itu di kenop pintu.

Begitu kuyakin benda itu sudah terpasang dengan benar, segera kutinggalkan lorong itu menuju Toilet kantor.

Senyuman terulas tipis dibibirku, dengan gerakan tak kasatmata aku lalu merogoh saku jasku, berusaha menyetel alat penghubung sedemikian rupa agar aku bisa mendengar seluruh percapakan mereka didalam sana…

-The Missing Bullet-

Sudah terhubung..

Aku tersenyum puas lalu memasang headset ke alat penghubung itu. Aku melirik ke sekeliling bilik toilet yang aku tempati. Sepi, sepertinya aman. Dengan cepat aku lalu memasang headset itu ditelingaku, dan segera menekan tombol hijau lalu mulai mendengar percakapan langsung mereka. Aku harap aku tidak tertinggal banyak.

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

Aku menahan nafas begitu mendengar suara Kim Yeongsu disana. Suaranya terdengar jelas, cemas dan jelas.

“Kenapa kau memanggilku mendadak begini? Apa ini soal rapat kemarin?”

Itu suara Min Donghyun.

“Soal senjata nuklir Korea Utara, dan juga soal Kang Baekho. Aku dan agen lain sudah menemukan sesuatu, analisamu benar. Kang Baekho juga terlibat dalam pengembangan senjata nuklir itu, dan yang bahaya mereka sedang mencari sesuatu. Dan jika dapat, mereka bisa menjual sesuatu itu pada Rusia.”

“Sesuatu?”

Kukerutkan keningku dan berusaha menyetel frekuensi benda itu agar suaranya terdengar lebih jelas. Seharusnya aku memasang alat sadap itu didalam kantornya.

“Mereka mencari data-data Intelijen, data-data milik badan intelijen kita. Kode-kode penting, semuanya, dan semua data itu ada padamu. Mereka juga mencari data-data mengenai agen-agen kita, semuanya. Mantan agen kita, dan juga yang masih aktif.”

Jadi, soal senjata biologis itu?
Jadi ini bukan soal senjata biologis?

“Semua data-data itu ada padamu, tidak aman jika data-data sepenting ini disimpan dikantor. Kau menyimpan semuanya kan? Semuanya ada padamu kan?”

Suara Kim Yeongsu terdengar agak tidak sabaran. Aku mengerutkan keningku semakin dalam, dan berusaha menerka apa yang akan dikatakan Kim Donghyun. Jika data-data itu masih ada padanya, aku bisa mengambilnya lalu membunuh pria itu.

“Ya, aku masih menyimpannya.”

Senyuman mengembang disudut bibirku. Berhasil, yang harus aku lakukan adalah mencari tau dimana dia menyimpan data-data itu.

“Kau harus menyimpannya sebaik mungkin. Ditempat yang tidak bisa ditebak, jika sudah tiba waktunya aku akan mengambil data-data itu darimu.”

Ucapan Kim Yeongsu terdengar gemetaran, aku mendengus dan membayangkan wajah pria itu saat ini. Dia ketakutan hah? Aku terkekeh pelan sambil terus mendengarkan percakapan mereka.

“Baik. Aku akan menyimpannya ditempat yang tidak bisa mereka duga.”

-To Be Continue-

Done! Hope you all like this chapter 😉 tadinya pengen lebih panjang dan memuat lebih banyak action. Tapi, belum saatnya adegan action keluar wkwk. Aku harap masih ada yang mau baca dan kasih komentar, karena aku lihat traffic blog naik tapi komentar malah menurun dibanding bulan lalu. Sedih? Tentu saja, tapi Kim berharap komentar kali ini bakal naik, gak Cuma di ff ini tapi juga ff lain J alright, Caramel Kim pamit, tunggu next chapternya ya!

Komen wajib guys 😉

-Caramel Kim-

Advertisements