Tags

, , , , ,

Fan fiction by Julian Yook

Cast: Park Ji Min (BTS), Shin Sun Young (OC), Jung Hoseok (BTS), Min Yoongi (BTS) | Genre: AU, Mystery, Crime |Length: Chaptered |

RATE : Adult

***

Jimin dan Sunyoung mengira ini akan jadi bulan madu yang menyenangkan.

Itu hampir benar, sampai secara tidak sengaja mereka menemukan sesuatu berbaring di dalam bathtub ….

Hanya ada dua pilihan. Melapor kemudian tertangkap atau …?

***

080414_0314_DecodeChapt1.jpg

Bab 6

[Detektif Hoseok]

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

 

Hari itu Pulau Jeju berduka. Tapi tidak ada air mata yang jatuh. Juga sepanjang kariernya sebagai detektif, Hoseok memang belum pernah menangis. Atau setidaknya, memang tak ada yang mendapatinya menangis.

Jarum panjang di bilah dinding terlihat mengecup angka dua siang. Hari berduka yang cukup pengap di dalam cottage. Berbekal sarung tangan, Hoseok berjalan hati-hati, menelaah setiap sudut kamar di mana sesosok mayat tergeletak mengenaskan di lantai.

Tim penyelidik tampak sibuk memotret keadaan sekitar. Beberapa juga terlihat sibuk mengampelas benda dengan kuas, berharap sidik jari bisa ditemukan.

“Tempat ini bersih,” sahut seseorang, terdengar setelah sekian lama berkutat. Ada nada kecewa dari caranya berbicara.

Hoseok menggeleng. “Mustahil,” desisnya. Ia mengedarkan pandang, mencoba mencari hal apa yang si pembunuh lewatkan. Kursi sofa dua tempat terlihat menarik perhatiannya. Hoseok melangkah mendekat dan memerhatikan benda itu seksama. Posisinya mengarah ke depan jendela besar dan meja kecil. Mereka pasti sengaja menggunakan itu untuk sekadar menikmati alam dan sesuatu yang seharusnya bisa mereka simpan di atas meja. Semacam jamuan makan malam mungkin?

Untuk saat ini Hoseok belum bisa menyimpulkan apa-apa. Sampai tim forensik datang dan mengangkut mayat itu ke dalam kantung kuning. Tinggalah lantai kayu itu menyisakan jejak hitam. Kapur putih kemudian melingkupi tempat tadi, menyamakan posisi bagaimana tubuh sang mayat ditemukan.

Hoseok bergegas meninggalkan cottage dan menuju kantor di mana kulit wajah seorang resepsionis terlihat pucat pasi.

“Selamat siang, saya dari pihak kepolisian.”

Mereka saling membungkuk sekilas.

“Ini masalah cottage no. 12.” Hoseok berdeham. “Saya boleh tahu cottage itu disewa atas nama siapa?”

Sekejap wanita itu mengalihkan pandangan pada layar komputernya dengan canggung.

Cottage no. 12 disewa atas nama Hong Byun Soo. Terhitung sejak 10 maret 2014, Tuan.”

Hoseok mengusap dagunya sambil berpikir. “Apa dia memesan cottage itu untuk keluarga? Atau ada orang lain yang menginap di sana misalnya?”

“Cottage itu disewa untuk satu orang saja.”

Hoseok belum tahu siapa itu Hong Byun Soo. Tapi dari perkiraannya, mungkin lelaki itu adalah orang yang kaya raya. Dan masalah sofa, Hoseok yakin ada orang lain yang korban ajak bicara. Meski resepsionis mengatakan bahwa ia tinggal sendiri, tapi Hoseok yakin ada orang lain di dalam cottage itu, setidaknya pada saat korban terbunuh.

Hoseok mengerahkan timnya untuk mulai memeriksa keadaan cottage no. 11–cottage yang paling dekat dengan TKP. Ia memeriksa kamar dan bantal-bantal. Tapi sial, semuanya bersih dan rapi. Hoseok melangkah menyusuri sebagian besar ruangan di situ dan tiba di dapur. Ia tertarik untuk memeriksa tong sampah di sisi bak cuci piring. Entah kenapa sejak awal memasuki bangunan ini, penciumannya dimanjakan oleh aroma jeruk segar. Ia pikir bulir-bulirnya mungkin masih tersisa di tong sampah. Hoseok membuka tutup tong itu dan …

… ia tidak menemukan apa-apa. Hanya plastik hitam pelapis bagian dalam juga … stiker merek jeruk yang menempel di sana.

Hoseok tersenyum, melepas kertas kecil berbentuk lingkaran dan menelaahnya di atas jari telunjuk. Tak seberapa lama, ia mengeluarkan plastik bening dan memasukkan kertas itu sebagai barang bukti.

Hoseok kembali menyapu pandang, dan insting detektif menuntunnya mendekati pintu kamar mandi bercat putih. Dipandanginya pintu itu lekat, seolah ia merasakan sesuatu yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Suasana tempat pembunuhan selalu terasa seperti ini. Seolah ada kemuraman yang tidak bisa ditutupi, sisa dari kejadian di masa lampau. Dan ruangan itu kalau bisa bicara, mungkin berisik sudah dibuatnya oleh tangisan. Tak rela dirinya dijadikan tempat berbuat hina.

Kenop keemasan Hoseok putar pelan, kepalanya kemudian menyembul memerhatikan keadaan di dalam. Ia berjalan berirama hingga keletuk tumit dari sepatu fentofelnya memantul di dalam dinding yang lembab.

Hoseok berjalan lurus menuju bathtub, hingga pada suatu kesempatan, cermin di sisi kanan memantulkan geraknya lalu Hoseok melonjak kaget, mengira ada orang lain di sana. Ia melirik, mendekati cermin itu dan memandangi wajahnya sendiri. Hoseok mengerling ke arah lemari kaca di samping, diayunkanlah daunnya. Ia mendapati banyak benda berjajar rapi di sana.

Tapi….

Ada satu yang ganjil.…

Tabung deodorant.

Hoseok tersenyum tipis, meraih benda itu ke dalam genggaman. Dipelajari baik-baik tabung itu dan membalikkannya untuk membaca keterangan lebih lanjut. Hoseok yakin, ini benda yang cukup janggal untuk disediakan pihak cottage. Ia kemudian menyimpan tabung deodorant ke dalam bungkusan plastik bening yang lain. Berencana untuk membawanya pada dokter Eun Young untuk diteliti.

-ooo-

Hoseok bergidik singkat ketika pendingin ruangan terasa menghujani ubun-ubun. Ia melangkah cepat di lantai dasar sebuah supermarket, dengan cekatan matanya mencari plang petunjuk tempat buah-buahan. Sengaja ia memilih supermarket ini karena ini adalah yang paling dekat dari cottage. Penghuni cottage no. 11 pasti berpikiran serupa.

“Selamat siang.”

Wanita dengan topi golf itu menoleh, menghentikan sejenak kegiatan tangannya yang sibuk merapikan butir-butir buah. “Selamat siang,” jawabnya, bingung.

“Maaf mengganggu anda sebentar. Saya dari pihak kepolisian ada per—”

“Pi-Pihak kepolisian?!”

Hoseok mengangguk santun. “Benar sekali, Nyonya. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Terkait pembunuhan di cottage Paradise Sunrise.”

Dengan wajah tertegun, wanita tua itu menangguk.

“Ini stiker merek buah yang anda jual?” Hoseok menunjukkan barang buktinya tanpa mengijinkan untuk disentuh.

Mata wanita itu tampak menelisik dan mengingat. “I-iya.”

“Oke. Terhitung sejak 10 Maret 2014, apakah ada pembelian yang cukup mencurigakan menurut nyonya?”

Wanita itu menggeleng. Dengan nada mengingat ia berkata, “mereka semua membayar. Tidak ada yang tidak.” Bola matanya tersungkur ke pojok kelopak, seperti mencoba kembali mengingat. “Kecuali… seorang pemuda yang membeli berkardus-kardus jeruk untuk istrinya yang hamil.”

“Bisa ceritakan padaku bagaimana kronologinya?”

Wanita itu mengangguk. “Seorang pemuda berperawakan tidak terlalu tinggi berjalan menghampiri stan ini. Matanya tampak melihat-lihat dengan antusias. Dan… satu hal yang aku ingat darinya… dia suka sekali tersenyum. Dia bertanya padaku jeruk apa yang terbaik di sini. Kusarankan dia untuk membeli sunkist. Aku cukup terkejut karena dia membeli sampai sekardus. Tapi kupikir mungkin itu wajar karena ia berkata istrinya sedang hamil. Aku juga sedikit khawatir karena rupanya ia membeli sekardus jeruk nipis. Kau tahu? Itu terlalu asam untuk wanita hamil. Rasanya itu kurang masuk akal.”

“Bisa kau gambarkan padaku bagaimana penampilan lelaki itu?”

“Hmm, dia punya kulit yang putih dan lembut. Bibirnya agak sedikit berisi. Rambutnya yang hitam jatuh dengan halus. Lalu… ia punya tahi lalat di leher dan sekitar tulang selangkanya.”

Hoseok mengangguk, mencatat dengan cepat. “Ada lagi?”

“Hm, dia….” Dahi wanita itu berkerut samar, memutar bola matanya. “Dia… waktu tersenyum aku bisa melihat satu gigi depannya yang sedikit bengkok.”

Hoseok mendesah takjub. Wanita itu cukup bagus dalam mengingat.

” Maaf sudah mengganggu waktu anda. Terimakasih bantuannya. Selamat siang.”

Mereka membungkuk dalam.

“Selamat siang.”

-ooo-

Hoseok bertanya-tanya pada pihak cottage tentang rekaman cctv. Tapi sayangnya mereka tidak memasang itu di dalam cottage terkait privasi. Tapi di dalam office, mereka tetap memasang. Hoseok meminta rekamannya dan tentu pihak cottage memberikan dengan penuh kerjasama.

Hari sudah malam ketika Hoseok tiba di Seoul untuk menyambangi kantor kepolisian. Ia melangkah di dalam koridor sepi yang mengarah pada ruang kerja Dokter Eun Young.

“Kau selalu ada di sini,” Hoseok menyapa.

Eun Young tersenyum singkat dan mengaduk kopi instan di dalam cangkir beningnya. Ia melirik mayat yang terbaring di atas meja logam, beberapa meter dari tempatnya dan Hoseok duduk-duduk. Mayat di balik dinding kaca itu sama sekali bukan pantangan baginya untuk tetap berada di ruang kerja.

“Kau sudah memeriksanya?”

Eun Young mengangguk sekilas, menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Agak sulit.”

“Semuanya tidak pernah berlangsung mudah di sini.”

Eun Young tersenyum hambar. “Tapi yang ini keterlaluan.”

“Bagaimana?”

“Tubuhnya dibakar jadi aku sulit mendapatkan sidik jari. Wajahnya juga sudah rata, dan cetakan giginya ternyata sudah dihancurkan oleh si pembunuh. Jadi aku kesusahan untuk memastikan apa mayat ini benar-benar Hong Byun Soo.” Terdengar ia mengembuskan napas lelah. “Aku akan memeriksa usia larva yang ada di sana. Setidaknya kita bisa mengetahui kapan persisnya orang itu dibunuh.”

Kalau Jimin mengetahui ini, mungkin ia sedang tersenyum. Si ahli forensik masuk perangkapnya dengan mudah.

“Kalau begitu bekerja keraslah.” Hoseok membuka bilah mantel dan hendak mengeluarkan plastik berisi tabung deodorant, hingga Eun Young menyahut secara tiba-tiba.

“Satu lagi… aku juga menemukan kadar alkohol dalam pencernaannya.”

“Astaga.” Hoseok terdiam beberapa saat. Ia mengingat sofa yang menghadap ke jendela dan meja kecil. Prediksinya benar, mereka baru saja mengonsumsi sesuatu.

Buru-buru Hoseok mengeluarkan plastik barang buktinya dan menyimpan benda itu di meja kerja Eun Young yang panjang.

“Ini.”

Deodorant?”

“Aku menemukannya di cottage no. 11. Tepat di samping cottage mayat itu ditemukan. Kau bisa memeriksanya, barang kali ada sidik jari atau sisa keringat yang tertinggal.”

Eun Young mengangguk paham. Tak lama kemudian Hoseok kembali berderap meninggalkan ruangan. Ia menyambangi ruangan di mana pihak penyelidik biasa memutar rekaman-rekaman cctv. Disaksikannya rekaman itu sambil menikmati secangkir kopi yang ia seduh sendiri. Beberapa petugas yang lain tampak hilir mudik di luar ruangan. Bagian dari gedung ini memang tidak pernah sepi. Terutama bagian berkumpulnya pihak-pihak penyelidik. Beberapa bahkan pernah ditemukan tertidur kelelahan di sofa. Dinding kaca penuh dengan potret para korban adalah hal yang biasa, juga tulisan beberapa kemungkinan yang terjadi oleh spidol. Beserta nama, tempat juga anak panah yang menunjukkan kemungkinan kronologi kejadian.

Hoseok memajukan kursinya mendekati layar. Ditonton rekaman itu dengan seksama, sesekali menyesap kopinya perlahan. Hingga pada suatu waktu ia memperlambat rekaman itu, ketika melihat seorang wanita mendatangi resepsionis dengan wajah yang agak kacau.

Hoseok menyetop rekaman, melihat wajah sang wanita yang sepertinya sangat tidak asing. “Shin Sun Young?” ia mendesis.

Yeoboseyo? Saya Jung Hoseok dari pihak kepolisian. Aku ingin memanggil seorang palayan. Dia yang berbicara dengan wanita pada tanggal tiga belas Maret, pukul empat belas lebih tujuh menit. Aku butuh keterangannya. Apa? Oh iya, terimakasih. Selamat malam.”

Hoseok mengembuskan napas lega. Ia kemudian kembali melanjutkan kerjaannya.

-ooo-

Hoseok membuka lembar demi lembar berkas dan mengangkat wajah pelan, menelisik lelaki yang duduk di hadapannya dengan tegang.

“Selamat siang,” Hoseok menyapa, memerhatikan mata cokelat gelap lelaki itu bergerak canggung. Tapi Hoseok suka mempermainkan orang seperti ini. Dipandanginya sosok itu dengan mata yang menempel dengan langit-langit kelopak, seperti seekor srigala yang siap menerkam. Padahal dalam hatinya Hoseok sedang tertawa-tawa jail. “Kim Seokjin?”

Lelaki itu mengangguk gelagapan. Tangannya mengangkup paha dengan kaku.

“Aku ingin bertanya terkait rekaman cctv ini.” Hoseok menggeser sebuah kertas berisi gambar Seokjin sedang berbicara dengan seorang pelanggan wanita. Juga kertas lain di mana wajah wanita bernama Sunyoung itu tersorot dengan jelas. “Bisa ceritakan padaku apa yang kalian bicarakan waktu itu?”

Seokjin tampak menarik napas, menyembunyikan ketegangan. Ini benar-benar pengalaman pertamanya diinterogasi. Ia yakin selama ini selalu berbuat baik. Tak ada yang salah dari pekerjaannya sebagai seorang pelayan. Jadi ia agak sedikit kaget ketika diminta untuk datang ke Seoul, terlebih ke kantor polisi. Apalagi duduk berhadapan dengan Hoseok di ruang kerjanya, meski terlihat santai namun tetap penuh intimidasi.

Seokjin mengepalkan tangan di depan bibir, berdeham sebentar. “Jadi, nona dalam foto itu setahuku meminta resepsionis untuk dipertemukan denganku. Tapi begitu aku menghampirinya, ia kelihatan kaget karena sepertinya aku bukan Kim Seokjin yang ia maksud.”

“Apa ada pelayan bernama sama denganmu?”

“Tidak ada. Aku yakin aku satu-satunya Kim Seokjin di sana.”

Hoseok melipat bibir ke dalam, mencoba mencari celah. “Oke. Apa ada kejadian aneh yang menimpamu akhir-akhir ini?”

Seokjin menekan bibirnya kuat-kuat, alisnya berkedut. “Baju seragamku memang sempat hilang beberapa hari.”

Hoseok mendesah. “Seharusnya kau berpikir kenapa itu bisa terjadi.”

“A-a-aku terlalu gugup.” Seokjin terlihat menelan ludah dengan susah payah. “Kupikir ada rekan kerjaku yang jail. K-Kim Taehyung memang terkadang membuatku sebagai bahan lelucon baginya.”

Hoseok terdiam beberapa saat. “Tapi ini bukan Kim Taehyung. Ini seseorang lain. Seseorang yang wanita itu lihat mengenakan seragam milikmu,” ucapnya kemudian.

Seokjin mengangguk-angguk canggung. “Ku-Kurasa ju-juga begitu.”

Hoseok tersenyum miring. “Lain kali berhati-hatilah dengan jemuranmu.” Ia menutup lembaran berkasnya dan mulai bangkit dari kursi. “Pemeriksaan ini kurasa cukup. Terimakasih atas bantuannya. Selamat siang.”

Hoseok kembali berkutat dengan rekaman cctv. Berharap menemukan sosok mencurigakan waktu pencurian baju itu berlangsung. Ia meneguk tetesan terakhir kopinya dan mendesah lelah. Otot yang terasa kaku ia gerakan sebentar sambil menggoyangkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Seraya memutar pergelangan lengan, Hoseok berjalan meninggalkan ruangan dan mengayunkan tungkai membelah keramaian, menuju ruang kerja Eun Young.

“Sudah ada perkembangan?” ia menyapa.

Eun Young mendorong laci mayat dan berjalan melewati pintu kaca pembatas, menutupnya rapat dan menghampiri Hoseok. “Bisa aku perkirakan orang itu dibunuh sekitar tanggal tiga belas atau empat belas maret,” ucapnya, melepaskan sapu tangan.

Hoseok meraih foto cctv di balik mantelnya dan menunjukkan kertas itu pada Eun Young. “Sobatmu.”

Eun Young meraih kertas itu cepat. Alisnya berkerut samar. Pelan-pelan wajahnya naik, menatap Hoseok tidak percaya. “Shin Sun Young?” Ia menggeleng. “Kenapa dia ada di situ?”

Hoseok mengedikkan bahu. “Tanya saja. Kau kan sobatnya.”

Eun Young masih menggeleng tidak pecaya. Pandangannya kemudian jatuh menghujani lantai ruang kerja yang dingin dan mengkilap. “Kami sudah lama tidak berkomunikasi. Sejak dia memutuskan berhenti karena ia akan menikah.”

Desahan Hoseok terdengar menyahut.

“Dia…,” ucap Eun Young, menggantung, “dia… psikolog teramah yang pernah bekerja di sini.”

Hoseok kemudian mengangguk setuju. “Dia juga sangat cantik seperti model. Sayang sekali harus berhenti. Karakternya yang terlalu baik dan penyayang justru jadi kelemahan.” Dalam otaknya Hoseok membayangkan, mungkin wajah cantik Sunyoung bisa jadi hiburan tersendiri di sela-sela kelelahan yang mendera tiap orang di sini. “Kau tahu siapa suaminya?”

Eun Young menggeleng. “Kami sudah lama tidak berkomunikasi. Waktu dia menikah, aku sedang sibuk-sibuknya menangani kasus. Jadi agak sulit untukku tetap terhubung.”

“Tapi kau masih menyimpan nomor ponselnya kan?”

“Tentu.”

“Kuharap masih aktif.”

Eun Young tertawa sembari mulai menjelajahi layar ponsel. “Dia bukan tipe yang suka ganti-ganti nomor.”

-ooo-

Hari ini Hoseok bermalam di ruang kerjanya dan berencana akan tidur di sofa. Jam menunjukkan pukul sebelas malam waktu ia memutuskan untuk berkutat dengan berkas-berkas penyelidikkan. Ia mencoba merunutkan kasus ini dengan memandangi foto-foto yang tertempel di dinding kaca. Terlihat jelas penampakan akhir sang mayat yang tergeletak di lantai. Kemudian Hoseok mulai mencoba menarik beberapa kemungkinan.

Ia menuliskan nama Hong Byun Soo di dinding dan menggambar cottage dengan gambarannya yang sederhana.

“Dia menyewa cottage no. 12 di mana korban ditemukan.” Hoseok mengangguk. Dia mulai menggoreskan garis-garis di dinding kaca.

Tok tok tok.

Hoseok terperanjat, ia menoleh dan mendapati Yoongi tengah bersandar di kusen pintu sambil mendadahinya jail. “Haiii!”

“Sedang apa kau di sana?”

Lelaki berpakaian polisi itu berjalan mendekat dengan berkas tebal di tangannya. Senyumnya yang semula tersemat penuh kejailan perlahan memudar ketika mengungkapkan maksud kedatangnnya kemari. “Aku menemukan data-data tentang siapa itu Hong Byun Soo.” Dibukalah lembaran itu hingga apa yang mereka dengar adalah gesekan kertas.

Mata Hoseok menatap dengan teliti, membaca penuh fokus.

“Dia pengusaha restoran sukses. Usianya sudah menginjak tiga puluh lima tahun. Tapi dia belum juga menikah.”

Hoseok mengangguk-angguk, meraih berkas dan membuka lembarannya sendiri.

“Perjaka tua, ya?”

“Eits, jangan salah. Dia terbilang tampan,” Yoongi menyela, menunjuk foto di pojok samping. “Kau setuju kan?”

“Badannya bagus,” Hoseok menimpali.

“Dia memang terdaftar sebagai anggota tetap Gym Bikasoga.”

“Jadi menurutmu dia ini kenapa? Persaingan kerja kah?” ujar Yoongi lagi, memerhatikan keseriusan Hoseok.

Lelaki jangkung di hadapannya menggeleng tidak tahu. “Aku belum bisa memastikan.”

“Ah, payah…,” Yoongi bergumam pelan, meninggalkan Hoseok yang masih bergumul dengan lembaran data-data Hong Byun Soo.

Matanya tertarik pada kertas yang terdampar di meja kerja Hoseok. Yoongi meraihnya dan matanya terbelalak begitu menyadari wanita yang ada di sana. “Ini….” Dilihatnya lagi wajah kacau wanita itu, seolah sedang menanggung banyak beban.

Hoseok menoleh, ia menutup berkas dan berjalan mendekati Yoongi. “Kau masih mengingatnya?”

“Selalu.”

“Dia sudah menikah, jangan terlalu berharap.”

Yoongi terperangah, mundur beberapa langkah dan menatap wajah Hoseok tidak yakin. “Shin Sun Young? Sudah menikah?”

“Iya, kenapa?” tantang Hoseok, mengangkat dagu.

“Tapi… dia….”

“Sudahlah, Bung. Masih banyak wanita lain di luar sana.” Hoseok memayungi alis sendiri dengan gimik menerawang. “Aku bahkan hampir tidak percaya orang sepertimu bisa jatuh cinta,” kekehnya.

“Ahhrggh!” Yoongi mengacak-acak rambutnya gemas. “Aku tidak menyangka. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu dia berhenti bekerja. Lalu tiba-tiba saja aku tahu dia sudah menikah. Shit man!”

Hoseok hanya bisa menggeleng. “Sudahlah, sekarang lebih baik kau bantu aku berpikir.” Ia menunjuk dinding kaca yang penuh foto dan coretan analisa. “Menurutmu ini bagaimana?”

Yoongi melangkah mendahului, memandangi dinding itu dan mulai menggoreskan spidol. Tulisan yang membuat Hoseok di belakang menggelengkan kepala kagum.

“Jangan bilang kau bisa seperti ini berkat si dingin Junhyung?”

-ooo-

Pihak kepolisian sudah menggeledah kediaman Hong Byun Soo di Seoul. Beberapa helai rambut yang tersisa di bantal ternyata cocok dengan helaian rambut yang ditemukan di cottage. Malam itu Eun Young berkata dengan pasrah bahwa mayat di dalam cottage memang Hong Byun Soo. Meski nalurinya tetap tidak bisa menerima. Dalam pandangannya, si pembunuh pasti punya alasan tersendiri memperlakukan korban sampai sulit diidentifikasi seperti itu. Dan ia sempat berpikir bahwa mayat Hong Byun Soo yang asli entah berada di mana.

Ketika ditunjukkan foto Hong Byun Soo, sang resepsionis kembali mengakui bahwa itu benar-benar wajah orang yang menyewa. Tak pernah ada yang tahu, dia menyewa tempat kematiannya sendiri.

Hoseok mengembuskan napas. Ia memutuskan untuk menghubungi nomor yang Eun Young berikan dengan lemas.

DRRRT! DRRRT!

Sunyoung menggeliat. Tangannya meraih ponsel di nakas dengan meraba-raba. Meski belum sepenuhnya sadar, Sunyoung bisa merasakan bahwa ini masih pagi buta.

Yeoboseyo…,” ucapnya lemah.

“Aih, syukurlah nomormu masih aktif.”

“Hmm, ini siapa?” Ia bertanya, mengeratkan pelukan tangan Jimin di perutnya.

“Aku Jung Hoseok. Kau masih mengingatku?”

Seketika badan Sunyoung menjadi kaku, matanya terbuka spontan. Ia melirik ke sisi sekilas dan kembali berbicara dengan suara pelan. “Iya. Ada apa?”

“Bisa datang ke ruang kerjaku besok pagi? Kau masih ingat alamatnya kan?”

Sunyoung meneguk ludah. Yang benar saja ia bisa lupa?

“Jam?”

“Sembilan pagi.”

Sunyoung membekap ponselnya dengan tangan yang lain dan berbisik, “baiklah. Selamat malam.”

Ketika sambungan benar-benar terputus, ia kembali menempatkan ponsel di nakas. Dipandanginya langit-langit kamar dengan khawatir. Ia yakin ada sesuatu yang tak beres. Menghubungi kembali rekan kerja yang sudah berbulan-bulan terpisah, pastilah hal penting telah mendesak mereka untuk melakukan itu. Ia yakin ini bukan reuni. Mereka terlalu sibuk untuk mengadakan hal semacam itu. Lagipula Sunyoung tahu, kasus di sekitar pasti membuat mereka merasa cukup berhubungan dengan rekan kerja saja, tak perlu disibukkan bergosip dengan teman lama seperti dirinya.

Sunyoung menghela napas berat, melirik Jimin yang tengah terlelap di sisinya. Mendadak ia tidak yakin, apa semua akan baik-baik saja sesuai janji lelaki itu?

-ooo-

“Jangan pernah beritahu alamat rumah kita.” Jimin menepuk dua bahu Sunyoung, menatapnya khawatir.

Sekeras mungkin wanita itu mencoba tersenyum. “Aku mengerti. Jangan terlalu was-was seperti itu. Aku juga kan tidak bodoh,” ujarnya santai, mencoba mencairkan suasana.

“Aku hanya khawatir. Tapi aku percaya kau bisa melaluinya dengan baik.” Diraih kepala Sunyoung dan dikecup puncaknya sekilas. “Hati-hati di jalan.”

Sunyoung mengangguk, menekan kedua belah bibirnya kuat-kuat, menahan tangis.

“Tunggu.”

Sunyoung kembali berbalik, mengangkat alisnya dan bertanya lucu, “apa?”

Jimin memandangi wajah lelah itu sebentar. Ia tahu Sunyoung sudah susah payah menyembunyikan rasa takutnya, tapi ia masih bisa melihat ketakutan jelas terukir di sana.

“Jangan tegang.” Bersamaan dengan itu, bibir penuh Jimin merengkuh bibir tipis Sunyoung, merangkumnya pelan. “Begitu kau pulang, kita akan berhenti memakai ponsel. Aku akan mengemas barang-barang selagi kau di sana.” Dikecupnya lagi sekilas bibir, hidung, lalu dahi. “Kau harus terlihat cantik dan tanpa beban, jadi banyak tersenyum dan berbahagialah.”

Mereka lalu berpelukan untuk beberapa lama. Kecupan Jimin adalah perias yang membuat wajahnya cantik dan pelukan ini adalah obat yang membuat Sunyoung tenang.

“Aku akan menunggumu pulang.”

-ooo-

Melangkah di dalam gedung ini rasanya seperti membangkitkan memori. Sepanjang lorong, orang-orang menyapanya sambil tersenyum, bahkan ada yang berteriak histeris dan memeluk Sunyoung erat. Bertanya dengan nada girang apakah Sunyoung akan bekerja lagi di sini? Tapi Sunyoung hanya bisa menggeleng dan menunjuk arah menuju ruang kerja Hoseok.

“Aku ada perlu dengannya.” Lalu ia akan tersenyum memohon maklum.

Sunyoung kembali menyusuri ruang-ruang. Sementara rekan kerjanya yang terdahulu hanya bisa memandangi punggung wanita itu yang terlihat ringkih dengan tatapan tidak tega. Menggelengkan kepala dan berharap Sunyoung selalu diberkati.

Sunyoung menatap pintu cokelat di hadapannya dan menguatkan diri untuk mengetuk.

“Masuk!” sahut seseorang di dalam.

Sunyoung meneguk air liur dan bersiap untuk tersenyum setulus mungkin, mengingat-ingat wajah Jimin.

“Sunyoung! Sudah lama sekali ya!”

Sunyoung mengangguk. “Bagaimana kabarmu?” sapanya, mendekat. Ada sosok lain yang tengah memunggunginya. Seorang wanita. Sejujurnya Sunyoung agak kaget mandapati pemandangan itu. Dan hampir saja melonjak kalau tak pandai mengendalikan diri.

“Kabarku baik. Hanya saja sedikit dipusingkan dengan kasus Pulau Jeju.” Hoseok mengembuskan napas lelah, mengetuk-ketuk pulpennya. “Kau sudah melihat beritanya di koran kan?”

“Sudah. Lumayan juga ya.”

“Oh iya, omong-omong kau sudah bertemu dengan Yoongi?”

“Belum, memangnya kenapa?”

“Temui dialah kalau kau sudah santai. Sekalian bertemu Eun Young juga. Mereka merindukanmu. Dan Yoongi sepertinya kecewa karena mendengar kau sudah menikah.”

Sunyoung tercenung. Tak mengira bahwa berita pernikahannya bisa menyebar secepat itu. Padahal seingatnya, ia hanya memberi tahu hal itu pada Eun Young.

“Silahkan duduk.”

Sunyoung menyapu roknya dan mulai duduk dengan nyaman di samping seseorang.

“Dia Nyonya Yoon. Seorang penjaga stan buah-buahan di supermarket,” ujar Hoseok, seolah bisa membaca rasa penasaran Sunyoung. “Baiklah. Shin Sunyoung, secara mengejutkan aku menemukan wajahmu di cctv cottage Paradise Sunrise. Apa kau menginap di sana juga? Aku ingin sedikit bertanya-tanya, siapa tahu kau mengenal penghuni di sana yang bernama Hong Byun Soo.”

“Iya, aku memang menginap di sana. Tapi, sayang sekali aku tidak tahu kalau ada yang bernama Hong Byun Soo. Aku dan suamiku jarang bertemu dengan tetangga. Kalaupun bertemu mungkin kami hanya akan saling melempar senyum.”

Hoseok mengangguk. “Boleh kulihat foto suamimu?”

“Tentu saja,” Sunyoung menjawab cepat, tak mau ada kecurigaan. “Ini. menemukan fotonya di ponselku bukanlah hal yang sulit.”

Hoseok menelisik layar ponsel yang diberikan Sunyoung. “Dia lumayan.” Ditunjukkan foto itu kepada Nyonya Yoon. “Menurutmu bagaimana, Nyonya? Kau setuju?”

Sekilas ada kekagetan yang terpeta di wajah wanita tua itu, tapi sedemikian rupa ia sembunyikan, sebagaimana arahan Hoseok sebelumnya. “Dia tampan,” pujinya, mengangguk.

Hoseok tersenyum puas. Dikembalikan ponsel itu dengan sebuah informasi: dia adalah lelaki sama yang membeli banyak jeruk. “Kau beruntung menikahinya.”

Sunyoung terbahak, “Terimakasih,” ujarnya. Padahal hatinya tak sepenuhnya setuju.

“Kalau aku boleh tahu, di cottage nomor berapa kau dan suamimu menginap?”

“Nomor sebelas.”

Cocok, ujar Hoseok dalam hati. Hoseok memandang lembaran berkasnya sekilas. “Ada satu lagi yang ingin kutanyakan. Ini berhubungan dengan suamimu. Apa benar dia membelikanmu jeruk?”

Sunyoung memajukan kepalanya. “Iya. Dia memang membelikanku jeruk sampai berkardus-kardus. Lalu?”

“Dia mengaku pada Nyonya Yoon bahwa dia membeli sebanyak itu karena kau sedang hamil. Tapi aku agaknya sedikit ragu. Aku mungkin akan percaya jika benar-benar melihat buktinya.”

“Jadi?”

“Aku ingin kau memeriksa urinmu. Beri hasilnya padaku sekarang juga.”

Sunyoung meraih kotak test pack yang Hoseok sodorkan di atas meja. Dipandanginya kotak itu dengan mata yang berkedip lambat. “Baiklah. Kalau kau masih tetap tidak percaya.” Ia melirik ke arah Hoseok sekilas. Dan entah kenapa hatinya terasa sakit. Dicurigai oleh teman sendiri padahal dulu mereka bekerja sama di setiap kasus. Tapi Sunyoung tahu ia tidak berhak sakit hati. Toh kecurigaan Hoseok memanglah benar.

Dia berlalu menuju toilet tanpa perlu dibimbing siapa pun. Semuanya masih tetap sama. Dan Sunyoung masih hafal letak tempat itu dengan baik.

Bergetar, ia simpan test pack di tepi wastafel. Tak berani ia memandangi hasilnya. Karena ia tahu, Jimin berbohong waktu berkata Sunyoung hamil pada Nyonya Yoon. Mereka bahkan belum melakukan apapun sepanjang yang ia ingat. Sunyoung tahu Jimin sangat amat menghindari kehamilan. Maka ia berdiam diri sebentar, memandangi pantulan diri pada cermin di dalam toilet, menguatkan diri untuk melihat hasil bahwa ia tidak hamil.

Maka diraih kembali test pack itu dan dibalikkannya dengan gemetar.

PRAAAK!

Tangannya kelewat gemetar untuk menggenggam benda sekecil itu. Ia pungut lagi ke lantai dengan gigil dan kembali melihat. Positif?

Ia menggeleng tidak percaya. Bingung apakah harus menyesel atau bahkan senang? Sementara ia juga paham bahwa Jimin belum menginkan seorang anak. Sementara Hoseok butuh bukti ini agar percaya bahwa jeruk-jeruk itu diperuntukkan untuk dirinya. Bukan untuk pembunuhan.

Sunyoung bangkit dengan lemas. Satu keputusan yang ia buat: merahasiakan ini dari Jimin.

-ooo-

Hoseok melihat hasil test pack itu dan mengerutkan dahi. Ini tak seperti prediksinya.

“Kau hamil?”

Sunyoung menangguk. “Sekarang kau percaya?”

“Bahkan perutmu itu masih rata.”

Sunyoung menunduk, memandangi perutnya sendiri. Sebenarnya ia juga tak percaya. Dalam perut sedatar ini ternyata ada kehidupan. Badannya mengikat dua jiwa, yang tak pernah ia sangka adalah gabungan dari dirinya dengan Jimin. Disentuh perut itu pelan, menyadari kini oksigen yang ia hirup juga ia bagi dengan seseorang di sana.

“Kau sudah menyiapkan nama?”

Sunyoung menoleh. “Park… Park Ji Young,” ucapnya, pelan.

-ooo-

To be Continued.

A/N: hai! Ini adalah part sebelum terakhir. Jadi part 7 nanti bakal jadi part terakhir. Dan ternyata bikin ini harus mikir ya? mana aku di part awal-awal (part 1-3) sedang tertimpa writers block. Jadi sebetulnya pengen banget ngulang dari awal dan memperbaiki semuanya (kalau ada kesempatan). Tapi karena itu terlanjur udah nanggung, jadi yaudah aku terusin aja. Mungkin nanti deh tp itu kayaknya orifict XD terus… makasih buat orang-orang yang ngeluangin waktu buat ngasih komentar :’) huhuhu dan sudi ngikutin ini cerita sampe sejauh Ini. dan buat GHOST READER, aku harap kalian bisa lebih menghargai ya :’) tapi gapapa kok, :’) berkat ghost reader aku jadi terinspirasi buat ngepassword part selanjutnya! HHAHAHAHAHAHAHA Gimanaaa? Ide bagus kann? XD dan yang akan aku beri password hanyalah yang udah komen ini decode minimal empat part lah. Dan itu ga boleh disebar. Hehehehwhehehehe. Okelah. Dan bagi yang sering kirim komentar, peraturan itu ga berlaku (fyi, aku hafal sm orang-orangnya.) jadi kalo mau pass, tinggal dm aja. Oke? Okelah kalo begitu.


Advertisements