Tags

, , , ,

By  Mrs. Heo

Cast-Kim Seokjin [BTS] | Jeon Jungkook [BTS]

Support Cast-Heo Youngji [KARA] | Kim Eun Soo [OC]

Genre-Thriller, Dark, Angst, Romance

Duration-Twoshoot | Rating-PG 17

Previous part
1

Summary

Selalu ada bagian yang hilang di setiap kisah

“Inspired by Hunger Games”

I’m friends with the monster that’s under my bed

Get along with the voices inside of my head

You’re trying to save me, stop holding your breath

(Monster-Eminem feat Rihanna)

 BTS VER

Tidak ada yang bisa kuingat dari kejadian kemarin malam. Satu-satunya yang bisa aku ingat hanyalah teriakan panik Eun Soo melihat keadaan ibu. Aku bahkan tidak mengerti kenapa Jungkook bisa berada di atas perutku sambil memegang pisau dapur. Aku bahkan baru sadar bahwa ibu sudah tidak bernyawa lagi ketika Eun Soo melempar Jungkook dengan botol selai setelah memeriksa detak jantungnya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Kenapa ibu tergeletak di lantai dapur dengan perut yang robek? Kenapa Jungkook menindihku? Aku benar-benar tidak mengerti akan kejadian tadi malam. Tapi aku cukup waras untuk tidak menuduh Jungkook sebagai pembunuh ibu, laki-laki brengsek itu tidak akan melakukannya.

Sambil memegangi perut yang lebam—aku rasa ketika insiden pembunuhan ibu yang tidak bisa kuingat, seseorang menendang perutku dengan brutal, aku melihat kedatangan Youngji. Setelah memberikan penghormatan terakhir pada ibuku ia datang menghampiri.

“Hey.” Sapanya.

Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum sopan santun.

“Aku turut berduka cita.”

“Ya, terima kasih.”

“Tiba-tiba sekali ya.”

“Humm.” Aku tidak memberikan banyak reaksi, aku bahkan tidak mengetahui penyebab kematian ibu. Kata Jungkook untuk sementara anggap saja ibuku meninggal karena kecelakaan karena saat ini ia sedang menyelidikinya. Ia sudah membayar mahal pihak rumah sakit untuk tidak menyebarkan penyebab kematian ibu adalah kehabisan darah karena tusukan pisau. Aku menurut saja, mau bagaimana lagi? Hanya dia yang bisa kuandalkan.

“Dimana Eun Soo? Haruskah aku menginap selama beberapa hari untuk menjagamu dan Eun Soo?”

Aku menoleh cepat dan tertawa meremehkan. Menjaga aku dan Eun Soo katanya? Yang benar saja gadis ini. Urus saja selingkuhanmu, nona. “Jangan bercanda.” Sederet kalimat sarkastik yang ada di kepalaku hanya terangkum menjadi dua kata itu. Dasar bodoh!

“Kau marah padaku?”

Aku mendelik. Setelah insiden ketahuannya perselingkuhan yang dia lakukan, aku memang hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa.

“Kau menggantungkan hubungan kita, tuan Kim.”

“Cih.”

“Kau mengumpat padaku?”

“Apa kita masih menjalin hubungan?”

“Ya, Kim Seokjin! Kau pikir aku ini wanita macam apa yang bisa kau perlakukan seenaknya, eoh?”

“Jaga suaramu, kita sedang di pemakaman.”

“Cepat selesaikan kalimatmu!” Youngji mulai kehilangan kesabarannya.

“Apakah kita masih menjalin hubungan? Bukankah kau sudah berciuman dengan laki-laki lain?” Tanyaku sambil memperhatikan pelayat yang berdatangan tiada henti. Yah, siapa yang tidak mau melihat ibu dari seorang pemenang permainan laknat itu.

Meski tidak sedang menatapnya, aku tahu bahwa saat ini Youngji sangat terkejut dan tidak pernah berpikir bahwa aku mengetahuinya.

“Siapa yang mengatakannya padamu? Kau mempercayainya begitu saja?”

“Mataku. Mataku yang melihatnya sendiri. Ya, tentu aku mempercayainya.” Aku membungkuk ketika bibi tukang roti di ujung gang menyapaku.

Youngji diam, kali ini aku menoleh ke arahnya, memprediksi reaksi apa yang selanjutnya akan diberikan oleh gadis ini.

“Kau melihatnya?”

Hilang sudah kepercayaan diri gadis itu.

“Humm.”

“Kenapa kau tidak melakukan sesuatu setelahnya?”

Aku menahan tawa, akan tidak sopan jika ada yang melihat aku tertawa di tengah pemakaman ibu, tapi gadis ini benar-benar membuatku ingin menertawainya habis-habisan. “Memangnya, apa yang harus aku lakukan padamu? Apa yang seharusnya dilakukan seorang pria yang diselingkuhi oleh kekasihnya, eoh?”

Youngji terdiam.

“Heo Youngji, menurutmu apa yang harus aku lakukan kepadamu?” ulangku sambil mencondongkan tubuh ke arahnya.

&&&

Aku mengutak-atik lemari untuk mencari sesuatu yang bisa menemaniku di sisa malam ini. Aku mencampakkan benda-benda tidak berguna ke sembarang arah dan selanjutnya mencampakkan diriku sendiri ke atas tempat tidur karena kesal tidak berhasil menemukan apa-apa. Aku menghela napas dan memikirkan alasan kenapa tiba-tiba Jungkook memaksa kami untuk menginap di rumahnya. Alasannya karena ia pikir untuk sementara menghapus kenangan buruk di rumah itu adalah yang terbaik, terutama untuk Eun Soo yang sampai sekarang masih terus menangis karena kematian ibu. Memang benar, tapi aku merasa ada yang disembunyikan Jungkook dariku. Entahlah, aku sudah terlalu pusing dengan berbagai peristiwa yang akhir-akhir ini selalu berhasil membuatku terkejut.

Aku menjulurkan tangan ke lantai, mencari-mencari kegiatan tidak penting untuk mengusir rasa bosan. Ketika tanganku sedang berayun-ayun bebas tiba-tiba aku menyentuh sesuatu dari bawah kolong tempat tidur. Aku menariknya dan menemukan sebuah kardus berdebu. Dengan tidak sabar aku membuka kardus tersebut dan menemukan beberapa keping CD yang berlabelkan Jeon Jungkook diantaranya. Dengan tidak sabar aku segera menghidupkan laptop dan memutar CD tersebut.

Astaga, ternyata ini adalah CD yang berisi rekaman saat Jungkook menjadi peserta. Setelah memastikan pintu kamar terkunci, aku memutuskan untuk menonton rekaman tersebut. Jungkook tidak akan suka jika tahu kalau aku menonton aksi pembunuhannya.

“Mati kau brengsek! Mati saja kau!” Jungkook menarik mayat seorang laki-laki yang kira-kira berusia 18 tahun dari lubang jebakan berisi peledak yang sengaja diciptakan olehnya untuk menjebak peserta lainnya. Dengan bringas ia mengambil semua senjata dan persediaan makanan milik peserta tersebut. Setelah selesai dengan jarahannya, ia berlari ke dalam hutan.

Terdengar suara komentator permainan yang begitu aku benci. “Lihatlah bayi kita Jeon Jungkook telah menjadi seorang monster!”

“Kematian orang tuanya benar-benar membuatnya termotivasi.” Sahut komentator kedua.

“Motivasi katanya? Dasar brengsek.” Gumamku.

“Selain orang tuanya bukankah dia masih memiliki motivasi lain?”

“Ya, kau benar! Sebuah janji yang tidak akan bisa ditepatinya. Aku penasaran siapa yang dia maksud. Apakah itu gadisnya?”

Tiba-tiba aku teringat cerita Jungkook tentang sebuah janji yang dia buat malam sebelum penentuan peserta. Orang yang sama dengan janji yang dibuat oleh Hara. Aku melompat dari atas kursi dan mencari-mencari keping CD yang berisikan wawancara para peserta sebelum permainan dimulai. Gotcha! Aku menemukannya dan langsung mempercepat bagian Jungkook. Oh, aku baru ingat kalau saat itu teman satu teamnya adalah Jiyoung. Kalau tidak salah gadis itu tewas ketika terjadi perebutan bahan makanan di awal-awal permainan. Yah, setidaknya disaat-saat akhir Jungkook tidak perlu bingung untuk menentukan siapa yang pulang.

“Kau merupakan salah satu peserta termuda yang ada saat ini, anak muda.” Pembawa acara membuka wawancara Jungkook.

“Yah, begitulah.”

“Apakah motivasi terbesarmu untuk pulang, bung?”

“Tidak ada.”

Pembawa acara tersebut memasang wajah terkejut dan sedih yang terlalu dibuat-buat. “Aku turut prihatin karena tidak ada lagi yang menunggumu pulang, dear.” Pembawa acara tersebut menepuk-nepuk punggung Jungkook, bersikap seolah-oleh ia benar-benar peduli.

“Tapi, bolehkah aku menyampaikan sebuah pesan?”

“Oh, tentu. Silahkan! Gunakan waktumu sebaik mungkin karena tidak ada yang bisa menjamin kau masih bisa mengatakannya setelah permainan ini berakhir.”

“Aku minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku. Bahkan jika aku pulang, mohon lupakan janji itu.” Selama beberapa detik Jungkook terus menatap kamera dan mengakhirinya dengan senyum kecut.

“Ahhh.” Terdengar helaan kekecewaan penonton.

“Wah, wah. Bahkan jika kau pulang kau tidak berniat untuk menepati janjimu? Sebagai lelaki sejati kau harus menepati janjimu, dear!”

Jungkook terseyum pahit. “Aku tidak akan bisa melakukannya. Daripada memberikan harapan palsu lebih baik mengatakan sejak awal kalau aku tidak akan bisa menepatinya.”

Pembawa acara lagi-lagi memasang tampang kecewa. Penonton mulai berteriak marah menyumpahi permainan yang menurut mereka terlalu kejam bagi bocah seusia Jungkook. Tapi penonton bisa apa? Mereka membayar mahal untuk bisa menonton pertunjukan jagal ini.

“Baiklah, aku harap kau berubah pikiran jika berhasil menjadi pemenang.”

Aku menutup latop dan mulai menyambung-nyambungkan cerita Jungkook dengan potongan video ini. Tapi aku tidak ingat Hara pernah menyebut-nyebut sebuah janji pada seseorang ketika wawancara atau selama kami berlatih bersama. Tiba-tiba aku teringat seseorang.

Mungkinkah orang itu adalah—

Tanpa mau membuang waktu, aku buru-buru mengambil tongkat dan keluar kamar untuk menemui Eun Soo.

Hyung, mau kemana?” Kepala Jungkook menyembul dari balik tangga di lantai dasar dan beranjak menghampiriku.

“Dimana Eun Soo?”

Jungkook mendadak menghentikan langkahnya dan memperhatikanku lamat. Seperti dugaanku, ada yang disembunyikan oleh laki-laki brengsek ini. “Dia sudah tidur, besok pagi saja kalau ingin menemuinya.” Jawab Jungkook hati-hati.

“Ada sesuatu penting yang harus aku sampaikan.”

“Dia sangat kelelahan karena menangis terus.”

“Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Jeon Jungkook?”

“Apa maksudmu?”

“Apa kau yakin Eun Soo baik-baik saja?”

Jungkook memiringkan kepala, tampak berpikir. “Kau tidak berpikir kalau aku berniat mencelakai Eun Soo kan, hyung?”

“Sayangnya aku berpikiran seperti itu.” Perlahan aku menuruni tangga.

“Kau tidak boleh memiliki pemikiran seperti itu tentangku, hyung!”

“Kalau begitu ijinkan aku bertemu dengan adikku sendiri.”

Sirheo!” Jungkook mundur beberapa langkah ketika aku hampir sampai di anak tangga terakhir.

“Apa yang sudah kau lakukan kepada adikku, bajingan!” Aku mulai kehilangan kesabaran. Berani dia mencelakai adikku, bahkan jika itu hanya luka gores aku akan langsung membunuhnya.

“Untuk saat ini, kau belum boleh menemuinya.”

“Ada apa ribut-ribut tengah malam begini?” Tiba-tiba Eun Soo menyembulkan kepala dari salah satu kamar di lantai dasar, tidak jauh dari tempat Jungkook berdiri saat ini.

“Eun Soo, kita tidur di rumah malam ini!” Perintahku.

“Eh?” Eun Soo kebingungan.

“Eun Soo, masuk ke dalam, sekarang juga!” Bentak Jungkook.

“Ikut denganku, sekarang!” Sekarang aku yang balas membentak Eun Soo sambil berusaha mempercepat langkah.

Jungkook geram dan mendorong Eun Soo yang masih kebingungan untuk masuk ke dalam kamarnya. “Masuklah, aku mohon!”

“Apa yang terjadi?” Eun Soo mulai panik.

“Diam, dan masuk!” Jungkook mengambil kunci pintu kamar Eun Soo dan menguncinya dari luar.

“Jungkook! Apa yang kau lakukan? Ya! Keluarkan aku sekarang juga!” Eun Soo berteriak-teriak sambil memukul-mukul pintu.

“Brengsek kau Jeon Jungkook!”

“Kau bisa menemuinya besok pagi, hyung!”

“Apa bedanya sekarang dan besok?”

“Kau bisa membuatnya terbunuh!” Teriak Jungkook sambil mengatur napasnya.

Aku memelototi Jungkook. Terbunuh? Kenapa aku bisa membuat adikku sendiri terbunuh?

“Ku mohon.” Jungkook menjatuhkan dirinya ke lantai dan berlutut di hadapanku. “Aku bisa selalu memalingkan wajah ketika ia tersenyum, tapi aku tidak bisa melakukan itu jika ia terluka.” Lagi-lagi Jungkook menangis.

Janji yang tidak bisa ditepati? Apakah itu Kim Eun Soo—?

Hal terakhir yang aku ingat adalah Jungkook menarik tongkatku dan terdengar suara bedebum keras dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

&&&

Aku ingin menyederhanakan hidupku. Memilah mana yang boleh tersimpan dan yang tidak di dalam memoriku. Aku ingin membuang semua memori di arena dan segala yang mengingatkanku terhadap permainan itu. Dan aku bisa memulainya dari Youngji.

“Bisa kita bicara?” Tanpa perlu repot-repot menyapa, setelah Youngji mengangkat telepon aku langsung memberitahukan maksudku.

“Err, Seokjin?” Youngji tampak ragu kalau yang menelepon itu adalah aku.

“Ya, bisakah kita bertemu di balai kota?”

“Sekarang?”

“Hmm.”

“Baiklah, tunggu aku.”

Klik. Aku langsung memutuskan sambungan.

&&&

Aku melambaikan tangan saat melihat Youngji dari kejauhan dan melirik arloji milikku, tersenyum saat menyadari bahwa gadis itu benar-benar terburu-buru untuk datang menemuiku. Mungkin Youngji berniat untuk berbaikan dan memperbaiki hubungan kami. Mungkin.

“Hey.” Sapaku.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

Aku tertawa. “Tidak usah terburu-buru. Kau senang kan aku ajak bertemu malam ini?”

Youngji mendesis.

“Tidak sabarnya ingin bertemu denganku, sampai lupa memakai sarung tangan. Apa kau tidak tahu, kau bisa mati kedinginan?” Aku melepaskan sarung tangan pemberian Youngji dan memakaikannya.

Youngji terkesiap dan buru-buru membuang muka saat wajahku begitu dekat dengannya ketika memakaikan sarung tangan. “Jangan terlalu berbesar kepala. Aku hanya ingin mengembalikan semua yang pernah kau berikan kepadaku.” Ujarku acuh. “Sisanya menyusul besok, akan kukirim langsung ke rumahmu.”

“Aku minta maaf. Ibu tidak merestui hubungan kita.” Youngji tidak mau melakukan kontak mata denganku. Ia sepertinya sudah bisa menebak tujuanku mengajaknya bertemu.

“Aku paham.” Aku menarik kedua sudut bibirku, berusaha memberikan senyum tulus untuknya. Meskipun sudah bisa menebak alasan tidak direstuinya hubungan kami tetap saja terasa menyesakkan jika mendengarnya langsung dari Youngji. “Karena aku seorang pembunuh?”

Youngji menatapku tidak enak.

“Karena aku hanya punya satu kaki?”

Kedua alasan itu sudah cukup menggambarkan betapa kacaunya kondisiku saat ini. Tidak punya masa depan. Ibu mana yang akan membiarkan anaknya menikah dengan pembunuh berkaki cacat. Aku maklum, sangat maklum.

“Seokjin, kau bukan seorang pembunuh.” Youngji menarik tanganku dan menggenggamnya, berusaha membuatku tenang.

“Ya, aku memang bukan seorang pembunuh. Kalau diingat-ingat kaulah pembunuh sebenarnya. Kau yang meraung-raung memintaku untuk pulang. Kau pikir bagaimana caranya aku bisa pulang jika tidak membunuh yang lain?”

Youngji menatapku bingung bercampur terkejut.

“Kau menonton bagian ketika Nicole menusuk-nusukkan pisau ke kaki kiriku dan mengeluarkan dagingnya? Sekedar mengingatkan saja karena hal itulah kaki kiriku terpaksa diamputasi dan sekarang aku hanya memiliki satu kaki.” Aku menunjuk kakiku yang hanya sebelah.

“Maaf, maafkan aku.”

“Aku tidak mempermasalahkan kata maaf yang terlambat atau semacamnya. Hanya saja, apa kau harus mencium laki-laki lain untuk memberi tahuku bahwa ibumu tidak merestui hubungan kita?”

“Aku, aku—“

“Setidaknya kau harus mengetahui di mana letak kesalahanmu sebelum meminta maaf.” Aku menyentil hidung Youngji dan tersenyum jahil. “Apa begitu menjijikkannya bertemu dengan laki-laki cacat sepertiku sampai kau tidak mampu memutuskan hubungan kita terlebih dahulu dan kemudian mencium laki-laki lain? Itu jauh lebih masuk akal bagiku.”

“Aku tahu aku salah, tapi—“

“Sekarang bukan saatnya membahas kau menyadari kesalahanmu atau tidak. Tapi bagaimana menyelesaikan semua ini? Karena aku memutuskan memori tentangmu harus dieliminasi karena itu selalu mengingatkanku pada masa-masa mengerikan di arena.” Aku mengusap-usap dagu, memberikan gesture seolah sedang berpikir.

“Aku benar-benar menyesal—“

“Bagaimana kalau dengan ini?” Aku mengeluarkan sesuatu dari saku mantel yang sepertinya begitu mengejutkan Youngji karena sekarang gadis itu memelototiku. Aku tertawa melihat reaksinya. “Apa ini sangat mengejutkanmu?”

“Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu Seokjin?” Youngji melepaskan genggamannya dari tanganku.

“Ini? Kau bertanya apa yang akan kulakukan dengan benda ini? Benar! Ini untuk mengeliminasi memori tentangmu. Mau kutunjukkan bagaimana caraku menggunakannya?” Aku menyeringai. “Begini caranya.”

Youngji meremas pundakku dan perutnya yang mengeluarkan cukup banyak darah.

“Kau masih belum mengerti juga bagaimana cara kerjanya?” Aku menarik pisau yang masih menancap di perut Youngji dan menusuknya lagi. “Biasanya setelah percobaan ketiga seseorang baru benar-benar paham.” Aku mengulanginya lagi.

Sekarang Youngji sudah tersungkur di atas kakikku. Aku mendadak panik. Astaga, apa yang terjadi pada Youngji? “Youngji, kau baik-baik saja?” Tanyaku sambil membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arahku. Tidak ada jawaban. “Youngji, jawab aku!” Aku berteriak lagi.

“Youngji? Siapa yang melakukan ini? Youngji, jawab aku!” Sekarang sayatan di wajahnya semakin banyak. “Bangun! Atau kubunuh kau!” Kini aku menampar-nampar Youngji yang belum juga sadarkan diri. “Youngji!” Teriakku dan mengayunkan pisau yang ku pegang ke udara.

“Dia sudah tidak bernyawa, hyung.” Jungkook tiba-tiba muncul dan mengambil pisau di tanganku dengan mudah.

Aku menatap Youngji dengan tatapan kosong. Siapa yang tega melakukan hal sekeji ini terhadap Youngji. Bekas tusukan di mana-mana, wajah yang tersayat. Aku menghela napas. “Siapa yang melakukannya?”

“Entahlah, aku rasa ulah perampok.” Jungkook mengambil sapu tangan dari saku celana dan membersihkan darah Youngji di wajah dan tanganku.

“Perampok?” Tanyaku tidak percaya.

“Ya, aku rasa kota ini semakin tidak aman.” Jawab Jungkook enteng. “Dan, Eun Soo.” Jungkook memanggil Eun Soo yang berdiri di belakangnya. “Ini hanyalah sebuah kecelakaan.”

Aku melirik Eun Soo yang baru kusadari keberadaannya. Biasanya jika melihatku dalam keadaan seperti ini ia akan menangis dan memaki-maki Jungkook. Tapi kali ini berbeda. Ia masih menangis seperti biasanya, tapi kali ini bukan tatapan khawatir yang kuterima melainkan tatapan penuh ketakutan.

“Eun Soo, kau baik-baik saja?” Tanyaku khawatir dan ia malah membuang muka.

&&&

“Hey Kau!” Jungkook melempar kerikil ketika Eun Soo berjalan melewatinya.

Eun Soo menghentikan langkahnya dan mendengus saat kedua temannya malah meninggalkannya sambil berbisik jahil. “Apa?” Tanya Eun Soo malas-malasan. Ia mengenal Jungkook. Ralat. Siapa yang tidak mengenal Jungkook di sekolah ini? Tapi ia tidak tahu kalau Jungkook mengenalnya.

“Malam ini kau ada janji?”

Eun Soo memandang Jungkook dengan tatapan ngeri. Hey, siapa yang baru saja menanyakan hal semacam itu kepadanya? Jeon Jungkook! Tidak, ia sama sekali tidak merasa berbunga-bunga ketika seorang Jeon Jungkook menanyakan hal semacam itu kepadanya.

“Sudah ada janji ya?” Jungkook berdiri tegap dan melangkah mendekati Eun Soo. Eun Soo refleks mundur melihat pergerakan Jungkook yang tiba-tiba. “Hey, hey. Kau tidak perlu takut padaku.” Jungkook terkekeh.

Eun Soo sedikit tersipu melihat senyum Jungkook. “Kau gila ya?” Malah kata kasar itu yang keluar dari bibir Eun Soo.

“Bukan, aku Jeon Jungkook.” Jawab Jungkook polos.

Eun Soo berusaha menahan emosinya. “Kalau tidak punya kenapa dan kalau punya kenapa? Apa urusannya denganmu?”

Jungkook menggaruk tengkuknya. “Kau tidak sadar kalau belakangan ini aku selalu memperhatikanmu?”

Eun Soo semakin ngeri menatap Jungkook. Oh Tuhan, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi laki-laki gila di depannya ini. Tanpa menjawab pertanyaan Jungkook, ia malah melengos pergi.

“Eun Soo.” Panggil Jungkook sambil menahan lengan gadis itu. “Apa kau tidak mengerti maksudku?”

Eun Soo mengernyit.

“Aku baru saja mengajakmu berkencan.”

Eun Soo tertawa. Laki-laki ini benar-benar gila rupanya. “Kita tidak saling mengenal, kenapa kita harus berkencan?” Tanya Eun Soo lucu.

“Apa kau tidak mendengarku? Aku bilang kalau belakangan ini aku selalu memperhatikanmu.”

“Lalu?” Eun Soo memutar bola matanya.

“Itu artinya, aku tidak menerima penolakan.” Jawab Jungkook santai sambil melepaskan pegangannya pada Eun Soo. “Aku tunggu jam 7 nanti di toko roti bibi Nam.” Jungkook melambaikan tangan dan berjalan begitu saja meninggalkan Eun Soo yang masih kebingungan.

Eun Soo mengerjapkan matanya beberapa kali. Jeon Jungkook? Jeon Jungkook mengajaknya berkencan. Membayangkan Jungkook mengenalnya saja ia sudah malas. “Tunggu saja sampai kau puas, ck.” Kesal Eun Soo.

Tapi bukan Jeon Jungkook namanya jika ia menyerah begitu saja.

“Kau di mana? Tersasar?”

Eun Soo masih berusaha mengumpulkan nyawanya saat seseorang di ujung sana berteriak. Di mana? Tentu saja ia sedang berada di tempat tidur, kemana lagi dia harus pergi tengah malam begini?

“Hey, jawab aku. Aku bilang kan jam 7. Kenapa sampai jam 11 kau belum datang?”

Jeon Jungkook?

“Lupakan! Sekarang cepat bukakan pintu untukku!” Perintah Jungkook gemas.

“Kau di mana?” Tanpa sadar Eun Soo berteriak.

“Di depan rumahmu. Cepat buka!”

Mata Eun Soo langsung melebar. Jeon Jungkook tahu rumahnya? Astaga. Setelah tersandung karena tidak hati-hati turun dari tempat tidur, ia segera berlari untuk membuka pintu dan menemukan Jungkook dengan wajah kesalnya.

Jungkook maju selangkah dan menjitak kepala Eun Soo. “Kau tahu ini sudah jam berapa?”

“Siapa yang bilang aku setuju untuk datang?”

Jungkook memiringkan kepala. “Baiklah. Dengarkan baik-baik. Bagaimana kalau aku menyukaimu dan akan mengikuti kemana pun kau pergi?”

Eun Soo hanya bisa memasang wajah datar. “Kau benar-benar gila Jeon Jungkook.”

Jungkook terkekeh. “Lagipula, salahmu sendiri sudah mencurinya.”

Eun Soo tidak habis pikir dengan laki-laki di hadapannya. Seorang Jeon Jungkook yang dikenal oleh seantero sekolah karena kenakalannya mengatakan akan selalu mengikutinya. Lihat saja besok, apa dia masih akan mengatakan hal yang sama. Eun Soo mendengus dan mengusir Jungkook untuk segera enyah dari rumahnya.

&&&

FIN

NOTE   : Hunger Games ia a movie about a televised fight to the death in which two teenagers from each of the twelve Districts of Panem are chosen at random to compete. But, in this fanfiction i made the age of participant is 15-23 yo. (The cast’s age is manipulated)

 

 

Advertisements