Tags

,

65203713048101776426

On The Next Summer
Caramel Kim Presents

 

-Author : Caramel Kim-Main Cast : Kim Seokjin (BTS), Baek Yerin(OC)-Genre : Romance, Marriage’s Life, Angst-Length : One Shoot-PG : 15+

 

Cinta tidak pernah menuntutmu untuk menjadi sempurna..

 

-On The Next Summer-

 

“Sedikit kekiri.” Ucapku, berusaha memberi instruksi sambil memperhatikan seorang pria yang kini tengah sibuk menggeser lukisan dengan agak kepayahan. Sudah lima menit dia berdiri diatas sofa, berusaha menggantungkan sebuah lukisan abstrak dengan posisi sempurna. Aku tertawa kecil melihat tingkah kikuknya yang berusaha menggeser lukisan itu kekanan dan kiri, dia memang kikuk dalam situasi apapun.

“Ah sudah pas kok. Selesai.”
Begitu mendengar ucapanku segera saja Seokjin menghela nafas, lalu turun dari sofa panjang dan menggesernya ke tempat semula. Dia berjalan kearahku sambil memutar-mutar bahunya dengan wajah kelelahan.
“Ya ampun, melelahkan.”
Ucapnya sambil menuding kearah lukisan yang kini sudah tergantung apik diatas perapian. Aku tersenyum sambil memijit-mijit lengan atasnya. Seokjin balas tersenyum manis.
“Tinggal satu ruangan lagi yang harus dibenahi.”
“Lebih kau istirahat dulu, perabotan sudah masuk semua kok.”
ujarku memotong ucapan Seokjin. kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Ya, ruang tengah sudah tertata rapi, semua perabotan seperti TV, sofa, karpet, dan benda-benda lainnya sudah tertata cantik diruang tengah yang bernuansa kayu hangat itu. Aku dan Seokjin tersenyum puas, memang seperti inilah suasana yang ingin kami bangun dirumah baru kami. Suasana hangat, nyaman, dan menyenangkan.

“Aku akan mengupas apel untukmu, sana ke halaman belakang.” Ucapku sambil mendorong Seokjin menuju pintu kaca besar disisi ruangan. Pria itu terkekeh dan menurut, sementara aku pergi ke dapur mengambil keranjang buah dan pisau.

Sejenak bisa kulihat pria itu menoleh kebelakang dan tersenyum.

 

-On The Next Summer-

 

Suasana hening menyelimuti halaman belakang rumah kami.

Ya, aku dan Yerin sekarang tengah duduk-duduk di teras sambil makan beberapa buah yang sudah dikupas. Aku menatap ke halaman belakang yang kini dibanjiri cahaya matahari pagi. Aku tersenyum, menatap pohon Oak besar yang berdiri kokoh disana, juga rumput-rumput liar yang belum sempat kucabut. Sejenak pikiranku bekerja, membayangkan apa yang bisa kulakukan pada pohon itu dan halaman belakang kami yang luas.

Rumah pohon akan menyenangkan sepertinya.

Iya, rumah pohon, tidak perlu terlalu besar, tapi muat untuk ditempati TV kecil dan ruang duduk. Aku tersenyum membayangkannya.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”
Aku menoleh, mendapati Yerin kini sedang tertawa sambil menatapku. Aku menggaruk belakang kepalaku dan melempar senyum.
“Aku berencana membangun rumah pohon diatas sana. Bagaimana?”
Yerin mengalihkan pandangannya kearah pohon Oak di seberang sana. Mata cokelatnya terlihat berkilau terkena seberkas cahaya matahari.

Dia lalu mengerling padaku.

“Pasti bagus.”
Tukasnya, tersenyum.

Sejenak aku menahan nafas melihat senyuman itu. Ya, senyuman itu selalu bisa membuat jantungku berdegup tak karuan. Bodoh ya, kami sudah menikah tapi aku tetap selalu merasa gugup didekatnya. Aku tersenyum dan berusaha meredam rasa gugupku dan meraih tangan kiri Yerin. Aku menggenggamnya hangat. Kami berdua saling tatap dalam keheningan yang menghangatkan.

“Baguslah kalau kau suka.”

Kuelus punggung tangannya dengan ibu jariku, aku tersenyum menatapnya. Aku bertekad akan membuatnya bahagia, menikah di usia muda baginya bukan perkara mudah. Ya, kami adalah pasangan pengantin baru, aku dan Yerin baru menikah sekitar satu minggu lalu. Yerin menikah di usia terbilang muda, baru 21 tahun, dan aku 25 tahun. Walau usia kami masih begitu muda namun kami memiliki mimpi dan komitmen yang sudah kami bangun sejak lama. Aku dan Yerin selalu bermimpi memiliki rumah yang kami rancang sendiri dan hidup bahagia didalamnya.

Kami ingin membuat cerita sederhana dan bahagia seperti itu.

Kini, aku dan Yerin memandang lurus kedepan. Ke titik yang sama. Ya, kami memandangi pohon Oak besar itu lekat-lekat. Dalam keheningan yang menenangkan jemari kami saling bertaut, seolah mengisyaratkan bahwa dalam diam pun kami tetap merasa nyaman satu sama lain. Benar-benar keheningan yang menyejukkan. Memandangi pohon kokoh yang berlatar langit biru itu seakan sudah cukup membahagiakan bagi kami, dan aku selalu berharap kami akan terus seperti ini selamanya.

Selamanya..

“Eh iya, satu ruangan lagi yang masih berantakan.” Ucapku tiba-tiba, oh iya, satu ruangan dilantai atas masih kosong dan berdebu.
“Lebih baik kita jadikan apa ya ruangan itu?” Lanjutku dan menoleh pada Yerin, dia mendongak, sejenak dia terlihat sedang berpikir. Sesekali kulihat dia mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. Namun dalam hitungan detik kulihat mata coklatnya nampak berbinar cerah menatapku.

“Kita jadikan ruang bayi saja.”

 

-On The Next Summer-

 

Ruang Bayi..

Kutatap seisi ruangan dihadapanku itu dengan tatapan nanar. Ruangan cantik dengan cat biru muda yang menenangkan, dilengkapi box bayi yang berwarna senada dan segala perabotan bayi yang tertata rapi disana. Semuanya lengkap, ada mainan bayi yang berbunyi gemerincing jika digerakkan, ada boneka-boneka beruang berukuran besar, juga ada bantal-bantal kecil berwarna-warni.

Tapi ada satu hal yang hilang..

Sejenak aku mengurut dadaku pelan. Menatapi semua hal diruangan ini hanya membuatku terluka saja. Membeli box bayi, mainan, dan pakaian bayi hanyalah sebuah khayalan yang gagal. Tak lebih dari itu. Seketika saja airmataku pun jatuh tanpa kuminta.

Tapi aku tak bisa berhenti mendatangi Kamar ini..

“Yerin-a? sayang? Sedang apa kau disitu?”

Segera saja kuhapus airmataku kasar. Aku tak mau Seokjin memergokiku yang sedang menangis. Sudah cukup aku membuatnya sedih, aku tak mau membuatnya lebih menderita lagi.

Pria itu kini berjalan perlahan memasuki ruangan, wajahnya nampak khawatir. Aku berusaha tersenyum, namun aku yakin senyum itu tak sampai ke mataku.

“sudah kubilang jangan ke ruangan ini lagi.”
Ucapnya, lalu menarik pinggangku lembut. Aku hanya diam, sementara Seokjin mulai menarik tubuhku kepelukkannya.

“Ayo kita makan malam, aku sudah masak untukmu.”
Bisiknya pelan sambil melepas pelukannya. Aku menatap langsung ke matanya yang gelap namun hangat. Dia lalu tersenyum.

“Biar aku saja yang masak.”
Ujarku parau, berusaha menyembunyikan nada serak khas orang yang habis menangis. Namun Seokjin tak mungkin tertipu, dia menepuk kepalaku pelan dan menatapku gelisah. Tapi, lagi-lagi dia tersenyum.

“sekali-kali gantian, masakanku pun tidak kalah dengan masakanmu.”
Mau tak mau aku tersenyum, aku benar-benar beruntung memiliki suami seperti Seokjin, dia begitu baik, lembut, perhatian, dan sabar. Tak pernah sekalipun dia membentakku, bahkan sudah lebih dari setahun kami tinggal bersama, dia tak pernah sekalipun begitu.

Tapi, kenapa pria sebaik dia harus menderita seperti ini?

“Ayo kita turun, sebelum makanannya dingin.”

Seokjin menarik tanganku lembut dan menuntunku untuk keluar. Kami mulai menuruni anak tangga kayu dengan bunyi gedebuk pelan. Tangan Seokjin masih menggenggam tanganku seiring langkah kami menuju ruang makan, semakin jauh langkah kami maka semakin erat genggamannya, seolah menuntunku agar tidak lepas darinya.

Aku tertegun.

Begitu kami sampai diruang makan aku lalu segera duduk. Meja makan ini punya empat kursi, tapi dirumah ini hanya ada dua orang saja yang menempati kursi-kursi ini. Pikiranku melayang jauh, membayangankan jika saja ada anak-anak kecil yang menempati kursi-kursi ini.

“Yerin-a, kenapa kau tidak menyentuh makananmu?”

Aku menoleh kearah Seokjin yang duduk dihadapanku, dia terlihat bingung. Sejenak aku kelabakan berusaha mengambil sendok dan sumpit disamping, tapi aku tau sikapku itu malah membuatnya tambah khawatir.

“Mulai besok aku akan mengunci ruangan itu.”
Ujar Seokjin tajam sambil terus menatapku. Aku tercengang sambil balas menatapnya, aku berusaha menarik nafas.

“Jangan.”
Desisku pelan, aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.
“Aku harus, aku hanya ingin kau cepat pulih pasca operasi. Aku tidak mau melihatmu sedih seperti ini.”

Kini Seokjin memusatkan seluruh perhatiannya padaku. Bisa kulihat mata Seokjin menyiratkan rasa takut. Aku mengerti, dia hanya ingin aku pulih.

Iya, aku baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim. Rahim-ku terpaksa  diangkat karena aku terkena kanker serviks. Awalnya aku menolak untuk menjalani operasi dan menahan rasa sakit itu seorang diri. Tapi, aku sadar bahwa Seokjin juga menanggung rasa sakit itu denganku, dia-lah yang terlihat begitu menderita saat aku menyatakan untuk tidak menjalani operasi.

Seokjin mendesakku untuk operasi. Masih segar dalam ingatanku, malam itu, saat aku sedang berbaring diranjang rumah sakit dengan lemah karena baru saja minum obat penahan rasa sakit—Seokjin datang menemuiku. Dia menangis. Aku ingat, dia datang dan mencium keningku, lalu duduk dikursi yang tersedia disisi ranjang sambil memanjatkan doa. Dia tidak mau kehilanganku, dia bilang dia ingin melindungiku seumur hidupnya, dia hanya ingin aku kembali sehat.

Selama ini, aku selalu berpikir, sebesar itukah rasa cintanya padaku sampai-sampai dia rela agar rahimku diangkat dan tak bisa memiliki keturunan?

Kenapa pria sesempurna dia bisa begitu mencintai wanita cacat sepertiku?

“Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpamu.”
Ucapnya lagi. Kini, tatapannya melembut, dia nampak begitu lelah dan sedih. Dan itu membuatku semakin sakit.

“Seokjin-a, aku minta maaf.”
Kata-kataku kini terdengar tidak lebih daripada sebuah isakan. Aku benar-benar sedih dan merasa bersalah padanya. Kenapa pria sebaik dia harus mengalami hal seperti ini? Dia ingin memiliki anak dariku, tapi aku sama sekali tidak bisa memberikannya.

Kenapa?

Kenapa dia mau dan rela mengorbankan hidupnya demi wanita tanpa rahim sepertiku?

“Yerin-a, sudahlah.”

Panik, Seokjin lalu bangkit dari kursinya dan duduk disampingku. Dia menarik tanganku pelan, lalu mengelusnya lembut seolah menenangkanku.

“Ini bukan salahmu. Sudah kukatakan berulang kali kalau aku tidak keberatan dengan kondisimu saat ini. Aku mencintaimu, dan akan selamanya begitu.”

Kata-kata Seokjin meluncur dengan lancar dari bibirnya. Aku tau, aku sangat tau kalau dia mencintaiku. Aku juga begitu mencintainya, tapi, apakah adil baginya jika harus mencintaiku dengan keadaan seperti ini?

“Aku mencintaimu, aku sudah berjanji pada Tuhan dan pada diriku sendiri untuk mencintaimu seumur hidupku.”
Ucapnya lagi dan memelukku hangat. Aku tertegun mendengar ucapannya. Seokjin, aku benar-benar minta maaf..

“Aku mencintaimu Seokjin-a, sangat.”
Kubalas pelukan pria itu dengan erat. Sejenak, merasakan hangatnya pelukan Seokjin adalah kekuatan tersendiri untukku, setidaknya dengan begini aku bisa menangis dengan puas dalam pelukannya.

“Kau adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan untukku.”
Lanjutku, aku masih tidak bisa menghentikan isakanku. Seokjin melepaskan pelukannya, namun, dia mengelus tulang pipiku lembut.

“Jika aku adalah hadiah, maka kau adalah karunia.”

Seketika saja, ada sesuatu yang hangat mengaliri dadaku. Aku tertegun mendengar perkataan pria didepanku ini. Karunia? Seperti itukah anggapannya padaku selama ini?

Seuntai senyuman manis kini menghiasi wajah tampan Seokjin. Dengan lembut dia mengecup keningku lama, aku hanya bisa memejamkan mata seiring dengan perlakuan manis Seokjin padaku.

“Aku ngantuk, ayo kita tidur.”
Pintaku cepat. Tidak, aku sama sekali belum mengantuk, tapi aku hanya ingin berbaring dan menenangkan diriku.

Segala sesuatu dalam hidupku terlalu berat untuk dijalani..

“Iya, ayo ke kamar.”
Ajaknya sambil mengelus puncak kepalaku. Aku pun bangkit dari kursi dengan agak terhuyung, namun Seokjin dengan cepat merangkul pundakku agar aku tidak jatuh.

Aku menoleh padanya, dan berusaha tersenyum.

Seandainya aku bisa membuatmu bahagia…

 

 

-On The next Summer-

 

Seberkas sinar bernuansa nikel terasa menusuk kelopak mataku. Kubuka kedua mataku perlahan, menatapi langit-langit berwarna gading yang kini terlihat bercahaya ditimpa sinar mentari. Cepat sekali pagi datang, berarti aku harus bersiap untuk berangkat kerja.

Kulirik ke sebelah kanan ranjang, dan mendapati Yerin masih tertidur pulas. Wajahnya nampak polos dan damai, nafasnya naik turun dengan teratur, menandakan bahwa dia masih berada di alam mimpi.

Ya Tuhan, aku hanya ingin Yerin-ku kembali.

Kukecup pipinya lembut, berharap agar dia tidak terbangun karena perlakuanku. Kutatap wajahnya lama, berusaha mencari sisa-sisa keceriaan yang telah lama hilang dari wajahnya. Semenjak di vonis mengidap kanker serviks, Yerin berubah total. Tidak ada tawa yang terdengar dari mulutnya, tidak ada kata optimis yang biasa dia ucapkan, tidak ada gurauan yang menyenangkan, dan tidak ada cahaya yang biasa kulihat dari matanya…

Aku tau, kami pernah bermimpi untuk membangun keluarga kecil bersama. Aku, Yerin, dan seorang anak, menjalani hidup dalam satu ikatan yang disebut ‘Keluarga’. Tapi, Tuhan memang memiliki rencana lain pada akhirnya, Dia tidak menghendaki impian kami.

Tapi aku tidak menyalahkan Tuhan…

Kurasakan kedua mataku mendadak panas, segera saja kuhapus bulir air yang mulai meleleh dari sudut mataku. Seorang pria menangis? Mungkin beberapa orang akan menertawaiku jika melihat kondisiku saat ini. Tapi, aku sungguh merasa tidak sanggup melihat Yerin yang terus menerus menangis, meratapi kondisinya yang kini sudah tidak mungkin mengandung apalagi melahirkan seorang anak. Aku tidak tahan, sungguh tidak tahan..

Namun,

Aku menerima Yerin apapun kondisinya, sungguh, aku benar-benar mencintainya dengan seluruh nafas yang aku punya. Memang, kenyataan bahwa kami tidak akan bisa memiliki anak selalu membayangi kami laksana mimpi buruk. Aku juga terpukul saat mengetahui hal itu. Tapi, bagaimana pun kami harus tetap bertahan, setidaknya kami masih saling memiliki kan?

Sekali lagi kukecup pipinya lembut, lalu memandangi wajahnya yang masih terlelap dengan tatapan dalam. Aku tidak ingin Yerin meninggalkan aku, rasanya benar-benar menyakitkan saat dia bilang tidak ingin menjalani operasi. Dia ingin bertahan dengan kondisinya saat itu, dia tidak mau menyerah.

Saat itu adalah saat terburuk bagi kami.

Yerin mengerang pelan, sejenak aku berusaha mengalihkan pandanganku darinya. Jika dia melihat jejak airmata di pipiku maka bisa bahaya, dia pasti akan sedih lagi.

“Pagi.”
Ucapku hangat begitu aku yakin wajahku sudah nampak normal.

Yerin tersenyum sambil mengerjapkan matanya. Mau tak mau aku tersenyum dan bersyukur masih bisa menatap senyuman itu walau terlihat begitu rapuh.

“Pagi, tidak kerja?”
tanyanya lalu bangun dari posisi semula dan duduk. Aku tersenyum dan ikut duduk disampingnya, berusaha menjawab dengan nada biasa walau terdengar begitu sumbang.
“kerja kok, tapi aku akan datang telat.”
Ucapku cepat lalu memberanikan diri mengecup bibir Yerin. Sejenak dia menatapku kaget, namun pipinya berubah merah.

Ah, sudah lama aku tidak melihat pipinya yang merona itu..

“cepat mandi sana, biar aku siapkan sarapan.”
Ucapnya sambil mendorong tubuhku lembut. Aku tersenyum dan beranjak menuju kamar mandi.

Kutepuk kepalanya pelan sambil lalu..

 

-On The Next Summer-

 

Sekitar setengah jam setelah Seokjin pergi bekerja kuputuskan untuk pergi keluar rumah dan membeli beberapa kebutuhan di Supermarket. Bulan berganti, dan stok bahan makanan kami juga ikut menipis seiring bergantinya hari. Jadi Kuputuskan untuk membeli beberapa barang, seperti daging sapi, beberapa jenis sayur, juga tiga kotak vitamin C yang biasa Seokjin konsumsi setiap hari.

Setidaknya aku bisa menyibukan diri ditengah kondisiku saat ini…

Pasti Seokjin marah jika dia tau kalau aku pergi keluar rumah tanpa ditemani. Iya, semenjak aku sakit dan menjalani operasi, Dokter melarangku untuk menjalani aktivitas yang agak melelahkan. Sebenarnya berbelanja tidaklah se-melelahkan itu, hanya saja begitu mendengar saran dokter, Seokjin langsung membatasi segala aktivitasku baik didalam maupun luar rumah. Dia begitu khawatir padaku, dan itu membuatku jadi sedih sendiri.

Kutenteng beberapa kantung plastik besar yang berisi banyak sekali barang dan bahan makanan dengan agak kepayahan. Akhirnya bahan makanan untuk satu bulan kedepan sudah terpenuhi. Aku lega, Setidaknya Seokjin belum mengecek isi kulkas, jadi dia tidak akan tau bahwa aku pergi ke supermarket untuk belanja.

Kuhela nafas panjang begitu keluar dari Supermarket dan berjalan menuju halte bus. Kepalaku mendongak, menatap langit yang benar-benar biru cerah tanpa awan. Sekarang sudah memasuki musim panas…Batinku mencelos. Perasaan sedih yang menyiksa selalu terasa sama disetiap musim panas, tidak pernah berubah, selalu sama. Aku selalu berusaha untuk mengubur kesedihan itu dalam-dalam, tapi aku tidak bisa bohong pada diriku sendiri bahwa aku benar-benar tersiksa.

Impianku dan Seokjin tentang musim panas selalu datang seolah menusuk batinku seperti mata pisau. Ya, kami pernah berjanji untuk memiliki anak saat musim panas di tahun pertama pernikahan kami. Mimpi yang indah kan? Seokjin bahkan ingin membuat rumah pohon dihalaman belakang rumah untuk tempat bermain bagi anak kami kelak, tapi apa daya, aku sama sekali tidak bisa mewujudkan mimpi indah itu untuknya.

Kuhirup udara musim panas itu dalam-dalam. Ternyata rasanya tetaplah sama, udara musim panas terasa begitu hangat dan manis. Aku menunduk menatap tanah, berusaha meredam rasa pedih itu sekuat mungkin. Musim panas begitu indah dan menyiksa disaat yang sama, membawa kenangan lama begitu cepat secepat peluru.

Kualihkan pandanganku ke seberang jalan. Sejenak hatiku mencelos, kulihat seorang wanita yang usianya mungkin tak jauh denganku, menuntun seorang balita perempuan dengan sayang. Mereka terlihat begitu bahagia, sangat kontras denganku yang mendambakan kehadiran seorang anak namun tidak diberi kesempatan untuk mengandung sekalipun. Seketika saja pandanganku mengabur oleh air yang menggenangi kedua mataku.

Tidak…

Jangan disini..

Kuhapus airmataku cepat seiring dengan kedatangan bis yang sedari tadi kutunggu. Aku menarik nafas, lalu dengan agak terhuyung berjalan meniti anak tangga bis sambil membawa kantung-kantung belanjaan yang cukup berat. Segera saja aku mencari tempat duduk dijajaran belakang, suasana bis tidak begitu ramai, dan aku merasa agak lega, setidaknya aku tidak perlu bersusah payah menyembunyikan jejak airmata yang ada diwajahku.

Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di Hongdae—kawasan rumahku. Selama perjalanan aku hanya menatap kosong keluar jendela, berusaha untuk meredam perasaan menyiksa yang sedari tadi melandaku. Aku ingin cepat sampai rumah dan menangis sepuasnya, aku tau, aku mungkin terlalu lemah dan rapuh secara mental, tapi aku tidak peduli.

begitu tiba dirumah aku lalu menaruh barang belanjaanku didapur. Seokjin belum pulang jam segini, dia pasti akan pulang sekitar pukul enam atau tujuh malam, itu pun kalau tidak ada lembur atau rapat dengan koleganya.

Aku segera naik ke lantai atas, tepatnya menuju ruangan yang sebenarnya terlarang bagiku. Ya, ruangan yang seharusnya menjadi ruangan bayi. Namun, begitu kucoba untuk menarik Grendel pintunya, bisa kurasakan bahwa pintu itu terkunci.

Mulai besok aku akan mengunci ruangan itu..

Kata-kata Seokjin kemarin seolah berputar-putar didalam otakku. Ternyata perkataannya bukanlah gertakan semata, dia benar-benar bersungguh-sungguh.

Kurasakan pandanganku mengabur oleh genangan air, aku kembali menangis dalam diam. Aku benar-benar wanita lemah yang kerjanya hanya bisa menangis dan menyusahkan suami, terkadang aku berpikir demikian. Tapi, sekeras apapun aku mencoba untuk menahan airmataku agar tidak jatuh, aku tetap saja gagal. Rasanya terlalu menyakitkan, apalagi setiap kali aku melihat senyuman tulus Seokjin yang selalu menemaniku, rasanya aku cuma pembawa sial bagi hidupnya.

Kuputuskan untuk pergi ke kamar, setidaknya aku bisa berusaha menenangkan diriku disana. Mungkin aku tidak bisa mengobati kesedihanku dengan berdiam diri diruang bayi itu lagi, tapi setidaknya aku masih punya waktu dan ruang yang bisa kunikmati sendirian.

Kuedarkan pandanganku kesekeliling kamar, aku memandang nanar, berusaha mencari sisa-sisa kenangan indah yang pernah kulewati bersama Seokjin. Tidak, setiap detik yang kulalui bersamanya adalah indah, hanya saja aku terlalu larut dalam kesengsaraan yang kubuat sendiri.

“Asal kita bersama, segalanya akan baik-baik saja.”

Itulah kata-kata suamiku, saat aku divonis tidak bisa mengandung anak. Aku tau dia terpukul, tapi entah apa yang membuatnya begitu sabar, dia masih bisa menyemangatiku sambil tersenyum.

Aku berjalan menuju meja yang ada disudut ruangan. Kujatuhkan pandanganku pada laptop yang tersimpan rapi disana, dan dengan agak ragu aku lalu duduk dan mulai menyalakan laptop itu. Walau agak tidak yakin, tapi aku tidak bisa menghentikan kemauan hatiku untuk mulai menulis disana, setidaknya, aku masih bisa mewujudkan mimpi-mimpi itu walau hanya sebatas tulisan, kan?

Segera saja segala angan yang selama ini terkurung dalam pikiranku pun langsung tertumpah dalam tulisan disana, ya, ajaibnya aku bisa merasakan setitik kebahagiaan begitu kutuliskan mimpi-mimpiku dalam sebuah paragraph padu. Aku mengulas senyum, walau masih merasakan pedih.

Dibawah guyuran sinar mentari musim panas, Ayah dan Ibu berjanji akan mengajakmu bermain dirumah pohon..

 

-On The Next Summer-

 

“Yerin-a, ayo tidurlah lagi.”
kudengar suara Seokjin yang lembut kini mendesakku untuk kembali tidur. Hah? Apa aku tertidur?

Aku mendongak menatap wajah pria itu yang kini hanya berjarak beberapa senti saja dariku. Dia tersenyum, sudah memakai pakaian tidur yang biasa dia pakai—kaus longgar dan celana panjang longgar. Aku menatapnya bingung, berusaha mencari petunjuk pukul berapa sekarang.

“kapan kau pulang? Apa kau sudah makan?”
Tanyaku, lalu kembali bersandar didada bidang Seokjin. Pria itu bergumam pelan.
“aku pulang larut, sekitar pukul Sembilan, aku terpaksa makan diluar.”
“maaf aku ketiduran, lama sekali, seperti orang mati.”
Sergahku cepat, aku benar-benar merasa bersalah padanya, begitu selesai menulis aku langsung jatuh tertidur. Aku benar-benar tidak mengerti dengan kondisiku sendiri.

“tidak apa-apa, salahku juga pulang larut. Maafkan aku ya? Ada pekerjaan yang tidak bisa kutunda, Namjoon ngomel terus.”
Ucapnya, sambil memainkan rambutku.
“Tidak perlu minta maaf, aku juga minta maaf karena aku sibuk menulis aku jadi tertidur dan lupa menyiapkan makan malam.”
Ucapku. Bagaimana pun juga, yang seharusnya minta maaf disini adalah aku. Aku sudah lalai sebagai istri.

“kau menulis? Menulis apa?”
seolah tidak menghiraukan ucapan maafku, Seokjin kini hanya fokus pada kegiatan menulisku. Dia kini menatapku penasaran.
“hanya..beberapa jurnal. Tidak penting juga.”
kataku, membalas tatapannya dengan agak ragu. Aku tak mungkin bilang bahwa aku menulis tentang khayalanku mengenai keluarga kecil bahagia padanya, itu sama saja dengan membunuh Seokjin secara perlahan.

“ah..syukurlah kalau kau sudah punya kegiatan untuk mengisi waktu luang. Walaupun kau tidak lagi bekerja tapi aku senang kau punya kegiatan yang positif, aku mendukungmu.”

Seokjin mulai berbicara panjang lebar dengan nada riang, dia terlihat begitu bahagia mendengarnya. Aku tau, Seokjin tidak mau melihatku terpuruk terus, dia berusaha agar aku kembali bahagia, walau aku tau usahanya nyaris sia-sia.

“apapun kegiatan itu, asal tidak membahayakanmu, aku tidak masalah.”
lanjutnya, bisa kulihat Seokjin menatapku dalam. tatapan matanya menjadi dua kali lipat lebih hangat, aku terdiam menatapnya tapi Seokjin tersenyum lalu dengan perlahan mulai meraup bibirku lembut. Aku agak tidak siap dengan perlakuannya, namun, sebisa mungkin aku membalas ciumannya dengan perasaan bahagia dan perih sekaligus. Aku tau, kami menginginkan ini lagi. Rasa cinta yang begitu besar serasa memukul rongga dadaku, aku memejamkan mata seiring dengan ciuman kami yang kian hangat. aku sadar betul, aku sangat mencintai Seokjin, setidaknya dengan ini aku bisa membuatnya bahagia.

 

-On The Next Summer-

 

Musim panas memang musim yang paling menyenangkan dalam setahun. Aku tersenyum lalu melempar pandang keluar jendela ruang kerjaku. Lembayung sudah menghiasi langit dengan warnanya yang kemerahan. Tidak terasa sore sudah datang lagi, yah..waktu memang berjalan sangat cepat jika kita mengerjakan sesuatu seharian.

“Seokjin-a aku pulang duluan ya.”
Aku menoleh kesebelahku, tepatnya ke bilik tetangga kerjaku. Kulihat Namjoon—rekan kerjaku—tengah berdiri disana, bersiap-siap untuk pulang.
“Oh, iya sampai jumpa besok!”
Seruku cepat sambil melambai sekilas kearahnya. Pria itu mengangguk lalu berjalan menuju pintu ruang kerja dengan langkah cepat. Dia orang yang disiplin.
“Ah iya kau juga cepatlah pulang, kasihan Yerin dirumah sendirian.”
Ucap Namjoon cepat lalu menghilang begitu saja dibalik pintu.

Aku segera melihat jam yang melingkar ditangan kiriku. Benar saja, sudah hampir pukul enam, aku harus pulang cepat dan menemani Yerin makan malam.

Langkah kakiku terdengar menyatu dengan langkah puluhan orang lain yang memenuhi jalanan Seoul di sore hari. Tempatku bekerja memang tidak jauh dari rumah, cukup naik subway dan berjalan sedikit maka aku sudah tiba dirumah. Udara musim panas yang hangat seolah menusuk pipiku, padahal sudah sore tapi suhu belum juga turun, sepertinya malam ini cuaca akan bagus.

Tiba-tiba saja terbesit di pikiranku untuk mampir ke toko kue di Namdaemun. Rasanya sudah lama aku tidak membeli kue Cream Puff dengan vla coklat kesukaan Yerin. Aku jadi ingat, selama pacaran aku dan Yerin sering mampir ke toko ini untuk membeli kue atau makan es krim. Saat itu benar-benar sangat menyenangkan bagi kami, rasanya aku ingin kembali ke masa itu.

“Kue Cream Puff nya empat, oh iya aku juga ingin permen bola coklat mintnya satu bungkus”
Ujarku pada seorang kasir. Sembari menunggu pesanan, aku lalu melihat-lihat kue dan permen-permen yang dipajang di etalase kaca. Suasana tempat ini tidak berubah banyak, hanya sekarang toko ini semakin luas, dan lebih banyak pernak-pernik cantik berwarna-warni khas toko permen.

Begitu mendapatkan yang aku pesan aku segera meninggalkan toko lalu pulang. Aku berjalan dengan langkah puas sambil menenteng tas plastik berisi kue-kue dan permen yang sudah terbungkus rapi. Setidaknya aku bisa membuat Yerin tersenyum dengan kue-kue ini, dia pasti senang.

Akhirnya aku tiba dirumah tepat sebelum senja benar-benar padam. Dengan langkah antusias aku lalu membuka kenop pintu tanpa ragu, sudah jadi kebiasaan untukku jika masuk kerumah tanpa mengetuk, lagipula Yerin bukan tipe orang yang suka mengunci pintu.

“Aku pulang.”
Ucapku begitu masuk kedalam. Begitu selesai melepas sepatu aku langsung berjalan masuk ke ruang tengah, mencari Yerin. Apa mungkin dia sedang didapur? Batinku lalu pergi menuju dapur. Tidak ada keberadaan Yerin disana, namun aku menemukan meja makan sudah penuh oleh hidangan makan malam. Ada Japchae, Bulgogi, bahkan sup Kimchi yang terlihat masih hangat didalam panci.

aku mengulum senyum begitu melihat ke arah meja makan, malam ini aku akan makan malam dengannya bersama-sama, menikmati hidangan ini lalu makan pencuci mulut. Angan-anganku seolah terbang jauh, lalu menaruh bungkusan kue yang kubeli tadi diatas meja. Aku harus mencari Yerin dan mengajaknya makan malam.

“Yerin? Sayang? Aku pulang. Lihat aku bawakan kau sesuatu.”
Seruku sambil meniti anak tangga menuju kamar kami. Apa Yerin tertidur? Dia pasti kelelahan karena sudah menyiapkan makan malam untukku.

Begitu sampai didepan pintu kamar, aku langsung mengerutkan kening. Pintunya tertutup. Dengan ragu aku lalu menarik grendelnya, dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi disana.

“Yerin-a?”
Panggilku pelan lalu melangkah masuk.

Aku menarik nafas begitu melihat Yerin—terduduk diatas kursi kerja dan memunggungiku—dia terlihat sedang sibuk dengan laptopnya, dia hanya menoleh sekilas padaku lalu buru-buru mematikan laptopnya.

“sedang apa?”
tanyaku dan berdiri disisinya. Yerin menoleh, lalu tersenyum singkat padaku.
“menulis.”
Jawabnya sambil menuding laptop yang kini sudah mati. Aku mengerling sebentar kearahnya.
“sudah selesai? Aku boleh baca tidak?”
tanyaku lembut, aku menatap Yerin dengan tatapan jail, tapi tak kusangka Yerin malah menatapku dengan agak kaget.
“jangan! Belum, belum selesai.”
Ucapnya dengan nada agak naik. Aku mengerut melihat sikapnya yang mendadak aneh begitu, sebenarnya dia kenapa?
“Aku hanya bercanda kok, jangan kaget begitu. Ayo kita makan, aku belikan kau kue Cream Puff kesukaanmu, vla coklat.” Ujarku lalu menarik lengan Yerin dengan lembut agar dia bangkit dari kursinya. Yerin tersenyum kecil padaku, lalu mengerling kearah meja kerjanya sekilas, lebih tepatnya ke arah laptop itu.

“Kau beli kue Cream Puff untukku? Terimakasih.”
Ucapnya lalu bangkit berdiri, aku tersenyum padanya, walau aku tidak yakin dengan apa yang dilakukannya sedari tadi.

Apa yang Yerin lakukan?

“Tadi aku mampir ke Namdaemun, dan tiba-tiba ingin makan Cream Puff. Sayangnya tidak ada rasa Vanilla.”
Ujarku, berusaha menahan kecurigaanku sejenak.

Ah, jangan berpikiran aneh-aneh dulu Seokjin..

dia hanya butuh privasi..

Aku yakin Yerin akan baik-baik saja..

 

-On The Next Summer-

 

Ternyata tidak,

Yerin tidak baik-baik saja.

Sudah seminggu berlalu dan tingkah laku Yerin mulai menunjukan kejanggalan. Dia jadi lebih sering mengurung diri dikamar, persis seperti saat dia baru saja menjalani operasi. Aku sangat khawatir, dan takut, aku takut dia akan seperti dulu lagi, meratapi segalanya dan mengabaikan yang dia miliki. Tapi tidak, dalam kasus ini Yerin jadi lebih sibuk, dia sibuk mengerjakan sesuatu yang sepertinya tak bisa dia tinggalkan.

Hari-hari berjalan begitu lambat bagiku, setiap hari sepulang kerja aku hanya mendapati meja makan sudah penuh oleh hidangan makan malam. Namun, Yerin tak pernah duduk disana untuk menemaniku makan. Setiap hari, sepulang kerja, aku hanya mendapati dia tengah sibuk dilantai atas, sibuk dengan dunia yang hanya jadi miliknya sendiri.

Bingung? Tentu aku merasa sangat kebingungan dengan tingkah lakunya akhir-akhir ini. Setiap aku mencoba untuk bicara dengannya dia selalu menghindar, dia lebih senang untuk mengunci diri dikamar, sibuk dengan laptopnya, dan bahkan mengabaikan dunia.

Secara langsung sikapnya yang seperti ini membuat hatiku sakit. Aku tau, pekerjaan dikantor benar-benar menyita waktu, aku selalu pulang larut beberapa hari terakhir. Dan pemandangan yang aku lihat selalu sama setiap harinya—makanan dimeja, namun Yerin mengunci diri dikamar.

Setiap aku pergi tidur, Yerin sudah terlelap lebih dulu. Setiap aku ingin bicara dengannya aku selalu tidak punya kesempatan. Alhasil aku hanya bisa mengawasinya dan memastikan dia baik-baik saja.

Rasa ingin tau memang sering menggelitik benakku. Apa sebenarnya yang dia tulis didalam laptop itu? Aku sering bertanya-tanya. Tapi, aku tidak mau mengganggu privasinya, bagaimanapun juga dia berhak melakukan sesuatu tanpa harus mengatakannya padaku.

Hari demi hari berlalu, sebisa mungkin aku pulang lebih cepat untuk menemani Yerin dirumah. Walaupun pemandangan yang aku temui nyaris sama setiap hari, tapi aku selalu berusaha untuk kembali dekat dengan Yerin. Memang, beberapa minggu ini aku merasa ada sesuatu yang menjembatani kami berdua. Sikap Yerin yang cenderung mengurung diri adalah masalahnya, tapi aku tidak mau mengusiknya. Alhasil aku hanya bisa berusaha untuk dekat dan selalu ada untuknya.

“Sayang? Bisa kau buka pintu sebentar?”
Ucapku khawatir sambil mengetuk pintu kamar yang tertutup sejak beberapa jam lalu.

Ya, Yerin kembali mengurung diri seperti biasa, dan aku benar-benar sudah tidak tahan dengan kelakuannya ini. Maksudku, apa yang terjadi?

“Ayolah kau membuat aku kesal.”

Kulontarkan kalimat itu cukup keras lalu pergi ke lantai bawah. Seingatku aku punya kunci duplikat semua ruangan dan aku taruh di laci ruang tengah. Ini sudah kelewatan, bagaimana pun aku harus berbuat sesuatu.

Dengan khawatir dan kesal aku kembali meniti anak tangga menuju kamar kami dengan kunci ditanganku, langkah kaki bergema dilorong yang sunyi, aku benar-benar cemas.

Dengan agak gemetar aku lalu memasukan kunci dan membukanya dengan agak sembarangan, dengan gerakan terburu aku lalu membuka kenop pintu dan segera menghambur ke dalam ruangan. Dan aku terhenyak kaget melihat pemandangan didepanku saat ini. Yerin, masih duduk dimeja kerjanya, dengan laptop yang menyala dan dia sibuk mengetik sesuatu disana. Aku menatapnya ngeri dan sedih, dengan cepat aku menghampirinya lalu mengguncangkan bahunya cukup keras hingga dia tersentak kebelakang.

“Yerin-a apa yang kau lakukan?!”
Seruku sambil mengguncang bahunya hingga Yerin menatapku kaget. Wanita itu menatapku dengan kaget, namun dia tidak mengatakan apapun.
“Ya Tuhan..”
desisku pelan lalu mulai memeriksa apa yang sedang dia kerjakan disana. Aku mulai mengarahkan kursor dilayar dan mulai membaca jurnal—atau apapun itu—dengan teliti.

“Seokjin jangan.”
Yerin berkata dengan nada pilu disisiku, tangannya berusaha menarik lenganku yang kini sibuk dengan laptopnya. Dia mulai menangis, dan mulai memukul lengan dan punggungku dengan tenaga yang sia-sia.

Aku sama sekali tidak menghiraukannya, konsentrasiku jatuh sepenuhnya pada jurnal itu. Aku membaca Jurnal itu dengan hati-hati tapi aku terhenyak begitu membaca jurnal itu, tidak, bukan jurnal, lebih mirip cerita, hanya saja..kok aneh?

Kata demi kata kucerna dengan begitu lambat, bahkan aku merasa otakku mati. Perlahan, mataku terasa panas, mau tak mau hatiku hancur berkeping-keping membaca tulisan Yerin.

Ayah dan Ibu akan mengajakmu main dirumah pohon. Rumah pohon mungil yang berdiri diatas kokohnya pohon Oak. Ibu yakin kau suka, ayah sudah merancang rumah pohon ini sejak lama dan dia juga yakin kau akan menyukainya.

Nah, Jeongmin sayang, jika musim panas pertamamu tiba, ibu akan mengajakmu makan es krim di kedai yang biasa ayah dan ibu kunjungi, aku yakin kau akan suka, ada banyak jenis es krim dan camilan manis disana.

Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu membaca tiap paragraf secara acak. Setiap kata dan kalimat disana tersusun rapi dan tergambar nyata, terlalu nyata hingga membuatku ingin berteriak keras.

Ya Tuhan..

Jadi ini yang Yerin kerjakan?

Ayah dan ibu menyayangimu Jeongmin..
jadilah anak yang baik ya? Ibu yakin, kau akan menjadi anak yang baik dan cerdas ketika kau besar nanti. Melihatmu merangkak, dan berjalan membuat ibu bahagia, kau adalah karunia yang indah bagi ibu.

Kualihkan pandanganku pada Yerin begitu aku selesai membaca. Kulihat wajahnya kini menatapku ketakutan, wajahnya kusut, airmata menghiasi pipinya. Aku sungguh sedih melihat keadaannya, dan apa yang dia tulis. Kenapa? Kenapa dia masih saja mengharapkan kehadiran seorang anak disini?

“kenapa kau menulis ini semua?”
Tanyaku pelan, aku berusaha sebisa mungkin untuk meredam emosiku.

Yerin diam, dia hanya bergantian menatapku dan melirik laptopnya yang masih menyala. Sesekali dia menelan ludah, matanya Nampak sayu karena kelelahan.

“Kau menyianyiakan apa yang kau punya sekarang, kau tau itu?”
“Seokjin aku Cuma—“
“cukup!”

Yerin tersentak mendengar ucapanku yang menggema disekeliling ruangan. Ini pertama kalinya aku membentak Yerin seperti itu, dan aku tau Yerin terkejut. Tapi, apa salah jika aku membentaknya? Aku hanya tidak mau Yerin menjadi..gila. Aku hanya tidak mau itu terjadi, aku mencintainya.

“Berhenti menyiksa dirimu, dan berhentilah menyiksaku.”

Yerin membelalak mendengar ucapanku, dia membuka mulut untuk membalas tapi tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Aku menatap Yerin dingin, aku tau kata-kataku tadi akan menyakitinya, tapi aku benar-benar ingin dia sadar bahwa aku akan selalu mencintai kekurangannya itu. Yerin harus tau itu..

“Kau pikir apa yang kau lakukan ini tidak membuatku tersiksa? Kau salah. Kau menyiksaku Yerin-a, dan kau tidak sadar.”

Hening menyelimuti kami, kata-kataku tadi adalah satu-satunya suara yang ada diruangan ini. Yerin menunduk, aku tau dia mulai menangis.

Aku membuang muka darinya, berusaha untuk menahan airmata yang akan jatuh dari mataku sendiri. Yerin, melihatmu menangis benar-benar membuatku hancur, tidakkah kau tau itu? Apa kau sadar aku begitu mencintaimu lebih dari hidupku sendiri?

“Menangis pun percuma. Semua yang kau lakukan adalah percuma. Berhentilah hidup dalam angan, kau hanya membuat dirimu hancur.”

Tidak, aku tidak sepantasnya mengatakan hal kejam seperti itu, tapi, aku harus, aku harus membuat Yerin sadar akan kenyataan. Aku ingin dia kembali hidup, bukan terjebak dalam impian yang tidak akan pernah terwujud.

Yerin..

Kembalilah padaku..

Kumohon..

 

-On The Next Summer-

 

 

Hari demi hari berlalu dengan cepat bagai daun yang berguguran.

Sudah menginjak pertengahan musim panas, suhu pun melonjak naik dan membuat seisi Seoul terperangkap hawa panas yang membuat kepala terasa pening.

Suara perkakas dapur terdengar menggema diseluruh rumah, saling bergesekan hingga membuat bunyi yang terdengar ngilu ditelinga. Tak ada suara lain kecuali suara perkakas perak itu, dan wanita yang menjadi penyebab bunyi-bunyian itu nampak acuh tak acuh.

Bau harum kaldu dan wangi yang asam pedas dari kimchi menguar lembut diseluruh ruangan. Hidangan makan malam sudah siap, dan semuanya terlihat lezat seperti biasa. Hanya saja semuanya terasa hambar bagi mereka berdua.

Begitu makanan tersaji dengan rapi, Seokjin dan Yerin pun duduk berhadapan di meja makan tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Hanya ada bunyi alat makan, yang berbunyi tanpa selera. Seokjin mulai makan, tapi dia sadar bahwa sang istri belum juga mulai menyantap makanannya, dia mendongak.

Wajah istrinya pucat, matanya terlihat sayu dan bibirnya membiru. Seokjin terkesiap, dia berhenti makan dan meraih lengan istrinya dengan cepat.

“Kau pucat, apa kau sakit?”

Yerin menggeleng dan berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya, berulang kali dia menggeleng, namun Seokjin tidak bisa ditipu semudah itu.

“Bohong, kau pucat. Ayo kita naik ke kamar, kau butuh tidur.”
Seokjin berjalan menuju tempat Yerin duduk, perlahan dia meraih pundak istrinya, namun Yerin melepas rangkulan itu pelan.

“Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku.”
“Bagaimana tidak cemas, kau pucat, lihat bibirmu, kau sakit sayang.”

Yerin membalas tatapan Seokjin dengan tatapan kuat. Dia ingin menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya. Ya, sudah beberapa hari dia merasa nyeri di perutnya, sebisa mungkin Yerin menahannya, tidak ingin Seokjin tau dan panik.

Tapi,

Akhirnya ketauan juga.

“Apa yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang.”
Yerin menggeleng semakin kuat, lalu berdiri dengan agak terhuyung, berjalan meninggalkan suaminya yang kini mulai menyahut panik.

“Hey Yerin-a!”
Sahut Seokjin putus asa dan berjalan menyusul istrinya. Seokjin mengacak rambutnya frustrasi, lalu berjalan beriringan dengan sang istri yang berjalan tertatih menaiki tangga. Lengan seokjin merangkul Yerin lembut, dan Yerin tidak melepaskan genggaman itu, dia mulai meringis.

“ah, sakit.”
Erang Yerin pelan sambil memegangi perutnya. Anak tangga benar-benar terasa panjang baginya, rasa sakit yang luar biasa kini mulai menguasainya. Sakit sekali, lebih sakit dari kemarin, batin Yerin yang kini mulai kesulitan menaiki anak tangga.

“aw, sakit.”
rintihan Yerin terdengar lebih keras, dia lalu ambruk dengan cepat. Seokjin terkesiap lalu menangkap tubuh Yerin yang roboh, Seokjin menyahut panik sementara Yerin mulai menangis dengan mata terpejam.

“Yerin?! Kau kenapa?”

Sekelebat ingatan buruk mulai menghantui akal sehat pria itu. Jangan, jangan lagi, batinnya ketakutan. Tidak, Yerin akan baik-baik saja, tidak mungkin hal ini akan terjadi lagi.

Tangisan pilu bergema diseluruh tangga, Yerin mengerang lebih keras, airmata membuat wajahnya nampak begitu kusut. Dia masih memegangi perutnya dengan keras, seolah ingin mengoyak apa yang tengah bersarang didalam sana.

Seokjin mulai menahan nafas, nampak begitu ketakutan.

“Aku mohon bertahanlah sayang, kita akan kerumah sakit sekarang.”

 

-On The Next Summer-

 

 

“Tuan Kim, bisa ke ruanganku? Ada yang ingin aku diskusikan.”

Aku mendongak dan mendapati dokter Jung tengah berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Ya, Yerin sekarang sedang berada di Instalasi gawat darurat, setelah mengalami sakit yang hebat diperutnya.

Aku mengangguk dan bangkit berdiri dengan agak terhuyung. Apa yang akan Dokter Jung diskusikan? Aku tau ada sesuatu hal yang tidak baik mengenai Yerin, dan aku tidak siap dengan itu.

Setiap langkah yang kubuat terasa begitu berat, begitu aku masuk ke dalam ruangan dokter Jung mau tidak mau aku merasa ada sebuah luka lama yang kembali terbuka lebar, iya, dokter Jung adalah dokter yang menangani Yerin ketika dia menderita Kanker beberapa tahun lalu, dan tentu saja masuk kembali ke ruangan ini akan membuat ingatan buruk itu datang lagi.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada Yerin?”
Tanyaku dengan agak tersendat, bisa kulihat dokter Jung menghela nafas dan mulai membuka lembaran kertas yang ada di atas meja. Dia mendongak dan menatapku, tatapannya tak bisa kutebak.

“Kanker yang bersarang ditubuh nona Kim kembali menyerang. Sel-sel kanker itu tumbuh lebih cepat dari yang kuduga, aku sendiri juga tidak paham kenapa kanker itu bisa muncul lagi.”

Tidak mungkin..

Tidak..

Aku membelalak terkejut, mana mungkin? Yerin sudah mengorbankan rahimnya untuk sembuh, tapi kenapa dia harus mengalami hal ini untuk yang kedua kali? Kenapa?

Kenapa harus dia?

Kenapa harus kami?

“Yerin sudah menjalani operasi pengangkatan rahim dok, tidak mungkin kanker itu tumbuh lagi.”
aku tau, ucapanku benar-benar sia-sia. Aku mendengus keras, dan berusaha berpikir jernih walau hatiku hancur. Ya Tuhan, apa kami pernah berbuat dosa yang sedemikian besar? Sampai kau memberi kami cobaan yang berat seperti ini.

“Aku sendiri benar-benar tidak mengerti. Untuk saat ini, nona Kim harus menjalani kemoterapi, setidaknya ini bisa mengurangi dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker itu.”

Wajah dokter Jung terlihat begitu lelah. Aku tau, dia pasti merasa begitu bersalah dengan keadaan Yerin. Aku tidak paham, siapa yang salah disini? Apa dokter Jung? Atau kami yang salah? Apa keputusan mengangkat rahim Yerin adalah keputusan yang salah?

“Jadi, kemoterapi?”
Dokter Jung mengangguk, wajahnya yang sudah tidak muda itu kini menyiratkan perasaan bersalah yang begitu besar. Aku menelan ludah susah payah, dan berusaha menjejali diriku dengan akal sehat. Tidak, Yerin akan baik-baik saja, dia pasti kuat.

“Tuan Kim, aku benar-benar menyesal dengan kondisi istrimu. Tapi, aku janji, akan memberikan perawatan terbaik untuknya. Jadi, aku ingin kau meyakinkan nona Kim untuk dirawat disini, dan menjalani beberapa prosedur pengobatan.”

Setiap ucapan dokter Jung tidak begitu kucerna dengan baik. Pengobatan, kemoterapi, perawatan intensif, apa itu semua yang dibutuhkan Yerin? Aku tau semua pengobatan itu benar-benar berat untuknya, terutama kemoterapi.

Tapi,

Demi nyawa Yerin, terpaksa dia harus melewati ini semua. Hanya ini yang bisa kami lakukan sekarang.

“Tuan Kim, secara pribadi aku benar-benar menyesal dengan keadaan istrimu. Aku minta maaf.”

Tidak, bukan permohonan maaf yang aku butuhkan saat ini. Aku hanya ingin Yerin-ku pulih, dia sudah cukup menderita dengan semua penyakit ini. Aku ingin dia sehat, apa aku salah? Namun, aku tersenyum dan mengangguk sebisaku begitu mendengar ucapan dokter Jung. Ini memang bukan salahnya. Ini hanya kehendak Tuhan..

“Ini sudah rencana Tuhan, kau tidak perlu merasa bersalah.”
Ujarku, lalu membungkuk dalam. setidaknya, aku harus berterimakasih karena selama ini dokter Jung-lah yang selalu membantuku dan Yerin.

“Sebaiknya aku menemani Yerin, sebelum perawatan kemoterapinya dimulai.”
lantas aku lalu berdiri, dan kembali membungkuk dalam pada dokter Jung. Seketika saja dokter Jung balas membungkuk, lalu tersenyum simpati seiring dengan langkahku yang berjalan keluar dari ruangannya.

Lorong rumah sakit terasa begitu panjang dan sunyi. Hanya ada beberapa perawat yang berlalu lalang, tentu saja, ini sudah hampir tengah malam. Aku menghela nafas seiring dengan langkahku menuju kamar Yerin, kenapa hal seperti ini terulang lagi? Perasaan yang sama, rasa takut yang sama terulang lagi. Bahkan lebih pedih dari sebelumnya.

Cklek. Kubuka kenop pintu itu dengan pelan, mungkin saja Yerin masih tidur karena pengaruh obat penghilang rasa sakit. Aku lalu masuk, dan mendapati Yerin sedang berbaring diatas ranjang rumah sakitnya.

Dia terlihat begitu sakit..

Aku menghela nafas panjang sembari menahan airmata yang hendak jatuh, semakin dekat langkahku padanya, entah kenapa malah membuatku ingin menangis.

“Kalau kau merasa sakit, kenapa tidak bilang?”
desisku pelan, sambil mnelusuri wajah Yerin yang terlihat begitu putih. Putih, namun pucat.

“kau janji untuk bilang jika kau merasa sakit. Tidakkah kau tau bahwa aku benar-benar hancur melihatmu seperti ini?”

Hancur, mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan perasaanku. Tuhan memang tidak adil, kenapa ini semua harus terjadi pada kami? Jika memang Tuhan bermaksud memberi pelajaran, apa bisa aku saja yang menanggungnya? Aku rela bertukar posisi dengan Yerin, aku rela..

“kau harus sembuh, harus.”
Aku menunduk dalam, membiarkan tangisku tumpah ruah dengan bebasnya. Lemah? Iya aku memang pria yang lemah, tidak bisa menanggung cobaan ini dengan kuat. Tapi, apa aku salah jika aku merasa sedih? Yerin adalah hidupku, dia adalah cinta dalam hidupku.

“Tidurlah dengan nyenyak, kau harus menjalani pengobatan besok.”

Kukecup kedua mata Yerin lama, lalu kupanjatkan doa dalam keheningan malam yang menyesakkan. Apa aku bisa melihat Yerin tersenyum lagi besok? Atau besoknya lagi? Apa aku punya kesempatan itu? Aku sama sekali tidak meminta lebih, aku hanya ingin Tuhan memberi aku kesempatan untuk membahagiakan Yerin lebih lama.

Keheningan ini benar-benar menyiksa, kugenggam tangan Yerin seerat mungkin dan terus kupanjatkan doa tanpa henti. Kita tidak bisa memiliki anak, aku tidak peduli. Asal aku punya kau, itu sudah lebih dari cukup. Sembuhlah, dan kita akan pulang ke rumah. Menjalani hidup kita dan mengulang segalanya dari awal.

Aku hanya meminta itu, tidak lebih..

 

-On The Next Summer-

 

“Sakit, sakit sekali.”

Rintihan dan tangis Yerin menggema diseisi ruangan. Aku membuang muka dan merangkul bahunya kuat-kuat. Aku tidak bisa mendengarnya merintih kesakitan karena kemoterapi, mendengarnya saja bisa membunuhku.

“bertahanlah, ini bagian dari pengobatan.”
sampah, benar-benar kata-kata tidak berguna. Yerin kesakitan, dan aku tau sulit baginya untuk bertahan. Yerin terus menangis, memegangi perutnya yang mual sedari tadi. Efek obat yang begitu keras, Yerin bahkan menolak untuk sarapan.

“Tapi ini benar-benar sakit. Rasanya panas.”
Ucap Yerin lalu menoleh kearahku, wajahnya kusut oleh airmata.
“Ini tidak lama, percayalah.”
bisikku pelan lalu mencium puncak kepalanya. Aku beringsut mendekat, lalu membenarkan posisi bantal Yerin agar lebih nyaman. Namun aku tau itu tidak akan membantu.

“Seokjin-a.”
Aku menoleh begitu suara Yerin dengan pelan memanggil namaku. Dia mengerjap pelan, dan membuka mulutnya.

“Maafkan aku.”

Aku tertegun, lalu duduk disisi ranjang dan menggenggam tangan Yerin lembut. Dingin, kulitnya seperti dilapisi es.

“Untuk apa sayang? Kenapa berkata begitu?”
Kenapa? Apa dia masih merasa bersalah karena tidak bisa memberku seorang bayi? Apa karena hal itu lagi?

“Seharusnya aku lebih memperhatikanmu, aku egois. Maafkan aku.”
Aku menghela nafas dan membelai rambut Yerin dengan jemariku. Aku menggeleng dan berusaha mengulas senyum.
“Aku lebih suka memperhatikan, daripada diperhatikan.”
Ujarku dengan nada bercanda, aku hanya ingin membuat Yerin merasa lebih baik. Setidaknya kehadiranku bisa membuatnya lebih baik.

“Kau selalu ada untukku, kau rela mengurusku yang sakit-sakitan ini dengan sabar. Aku selalu menyusahkanmu, aku selalu membuatmu sedih dan terluka, dan bodohnya aku tidak menyadari hal itu. Seokjin-a, maaf aku menyianyiakan kehadiranmu, tapi kau harus tau bahwa aku mencintaimu. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa sia-sia, aku sayang padamu.”

Yerin menatapku lembut. Aku terkejut, seberkas cahaya yang sempat hilang dari matanya kini mendadak kembali, lebih cerah, berbinar begitu indah hingga membuatku terhanyut.

“Aku juga sayang padamu. Jangan bilang hal buruk begitu, kita ini saling memiliki. Kau sakit maka aku juga akan merasakan hal yang sama, kita kan satu paket.”

Yerin tertawa kecil mendengar ucapanku. Dia tertawa, disaat dia menahan sakit yang benar-benar menyiksanya, dia bisa tertawa.

“Aku selalu ada untukmu apapun yang terjadi.”
kupeluk kepala Yerin dan menaruhnya didadaku, berulang kali kukecup puncak kepalanya dengan sayang. Melihatmu tertawa seolah memberiku harapan baru, tentu kau bisa sembuh.

“Kim Seokjin, aku rindu rumah.”
ucap Yerin lalu mendongak dalam pelukanku, dia menatapku dalam.
“Sebentar lagi kau diizinkan pulang, asal pengobatanmu selesai.”

Yerin menggeleng, lalu menghela nafas dengan kepayahan.

“Sudah seminggu aku tidak pulang, aku tidak tahan lama-lama disini.”
Ujarnya. Aku terdiam, dan membalas tatapan mata Yerin yang kini seolah tengah membaca isi kepalaku. Memang sudah seminggu Yerin dirawat dirumah sakit, dia muak dengan rumah sakit. Aku juga sama.

“Bisa kita pulang sebentar? Semalam saja.”
Pinta Yerin lirih, perlahan tangannya yang sedingin es mulai menggenggam tanganku, dan meremasnya lembut.
“Kau sedang menjalani pengobatan sayang, sore nanti kau akan diperiksa.”
“Sebentar saja, hanya beberapa jam, lalu kita kembali kemari sebelum pemeriksaan.”

Aku menghela nafas berat, lalu mengangguk dan tersenyum. Asal Yerin merasa baikkan, aku akan lakukan apapun itu.

 

 

Meminta izin dokter Jung dengan susah payah mungkin menjadi tantangan tersendiri. Dokter Jung tidak mengizinkan Yerin meninggalkan kamarnya, dia terlalu khawatir. Tapi begitu kujelaskan alasannya, dokter Jung dengan setengah hati mengizinkan kami pergi.

“Aku ingin mengupaskan apel untukmu, dan membuatkanmu teh.”
Celoteh Yerin begitu kami sampai di halaman depan. Kupeluk pinggang Yerin begitu kami meniti serambi, Yerin terdengar begitu bersemangat.

“kau masih sakit, harusnya aku yang membuatkanmu teh hangat.”
Ujarku, lalu melangkah menuju dapur. Tapi tangan Yerin menahan lenganku, dia menariknya lembut.
“Sekali ini saja ya? Kau tunggu diteras belakang, aku ingin menghabiskan waktu denganmu sampai sore.”

Yerin tersenyum begitu manis hingga membuatku terdiam. Dia lalu berjalan ke dapur dengan langkah tertatih-tatih, tapi aku tidak bisa membantunya, dia tidak ingin aku membantunya.

Akhirnya aku duduk diteras belakang, menatap lurus kearah pohon Oak yang masih berdiri kokoh disana. Rasanya baru kemarin aku duduk disini dengan Yerin, menikmati pemandangan belakang dirumah baru kami. Dan merancang mimpi-mimpi yang begitu indah walau tidak bisa kami wujudkan.

“Ini teh nya, ini apelnya sudah aku kupas.”
aku menoleh kesamping, dan mendapati Yerin tengah bergerak lambat untuk duduk disisiku, aku membantunya untuk duduk, dia tersenyum kecil.

“dokter Jung akan mengomeli aku karena membawa lari seorang pasien.”
Yerin tertawa pelan lalu bersandar dipundakku. Aku tersenyum dan mulai menyesap teh hangat yang dia buat.

Rasanya tidak berubah..

“Kita hanya kabur sebentar, jangan terlalu khawatir.”
Ucap Yerin pelan, aku tersenyum.

Untuk beberapa saat, keheningan mulai menyergap kami. Tidak, ini bukan keheningan yang menyesakan, tapi keheningan yang membuat kami nyaman. Akhirnya, aku kembali merasakan momen ini, bersama dengan wanita yang aku cintai. Aku bersyukur, ternyata Tuhan masih berkenan memberiku kesempatan ini.

“Kau tidak perlu khawatir lagi sekarang, aku tidak mau melihatmu mengkhawatirkan aku terus.”
Aku terdiam mendengar ucapan Yerin, aku mengelus rambutnya pelan.
“Aku bukan hanya khawatir, aku sayang padamu.”
“Tapi melihatmu sedih bukanlah yang aku inginkan.”

Yerin mendongak dan mencium daguku pelan, dia lalu kembali bersandar dibahuku.

“sesulit apapun itu, kita harus bisa melewatinya, suami istri memang sepantasnya begitu kan”
Ucapku dan merangkul Yerin lebih kuat, bisa kudengar Yerin tertawa pelan.
“Rasanya luar biasa bisa jadi istri seorang Kim Seokjin.” Ujar Yerin lalu menatapku, dia tersenyum lembut, seolah tidak sedang merasakan sakit. Aku terdiam, aku sadar bahwa Yerin-ku telah kembali, Yerin yang penuh harapan dan kebahagiaan telah kembali.

“Rasanya juga luar biasa bisa menjadi suami seorang Baek Yerin.”
Yerin tersenyum lagi, lalu bersandar dipundakku dengan manja.
“Aku ngantuk, aku mau tidur ya.”
Tukas Yerin dengan nada riang, dia lalu beringsut untuk membenarkan posisi tubuhnya. Kupeluk pinggangnya erat, berusaha membuatnya nyaman.
“Tidur dikamar saja, masa disini.”
“Tapi aku ingin kau menjadi sandaranku, oke?”

Kata-kata Yerin mendadak membuat hatiku terasa begitu hangat dan nyaman. Aku mengulum senyum, dan membiarkan Yerin bersandar untuk beberapa saat. Dengan lembut aku menaruh kepalaku diatas kepalanya, saling bersandar satu sama lain.

“Terimakasih sudah menjadi sandaranku selama ini Kim Seokjin.”
Gumam Yerin pelan, dan mulai memejamkan matanya.
“Sama-sama sayang, aku mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu.”

Hening, keheningan yang hangat ini kembali menyelimuti kami. Momen ini terlalu berharga untuk aku lewati begitu saja. Kami sama-sama memejamkan mata, berusaha menikmati kesunyian yang begitu menentramkan. Aku rela jika selamanya begini, selamanya saling bersandar seperti ini.

 

Tapi tidak, Tuhan ternyata berkehendak lain.  Dia memiliki takdir yang lain untuk kami berdua.

Yerin pergi dalam pelukanku, dan aku lah yang menjadi sandaran terakhir baginya. Rasa sedih yang luar biasa melingkupiku dalam waktu yang cukup lama,  aku benar-benar terpukul, Yerin pergi dalam pelukanku dengan begitu cepat. Dia pergi disaat aku mulai menanam harapan lagi.

Aku juga sangat mencintaimu..

Adalah kata-kata Yerin yang terakhir. Dan kata-kata itulah yang akan aku kenang selamanya. Dan jurnal Yerin, yang belum sempat dia selesaikan, akhirnya bisa selesai olehku. Mungkin yerin sudah pergi, tapi jiwanya selalu hidup. Dan melalui Jurnal ini, aku bisa mengenang Yerin dalam senyuman.

 

Ayah dan ibu menggenggam kedua tanganmu..
menyusuri rerumputan yang hangat karena cahaya matahari musim panas. Celotehan riang terdengar begitu merdu.

Musim panas selanjutnya akan lebih indah dari ini..

 

 

 

-THE END-

 

AKHIRNYA BERES!!!
gimana? Ini ff sad pertama aku semenjak aku comeback nulis(?) ff sad. Maafin kalau kurang bagus dan kepanjangan (ini keterlaluan panjangnya) wkwkwk semoga sad nya dapet ya. Huaduh, Kim berharap banget yg komen banyak, mau jelek atau bagus yang penting komen ya guys wkwk kalau gak komen Kim bener-bener sakit hati(?) patah hati ini wakakaka.

Okedeh komen ditunggu loh ya, jgn jadi silent reader please Kim memohon dengan sangar eh salah sangat maksudnya.

Oke Caramel Kim pamit!

-Caramel Kim-

 

 

Advertisements