Tags

, ,

By Julian Yook

Cast: Park Jimin. Genre: Angst. Rated: T.

“Even Today, I’m still in the story of you and I that hasn’t ended.”

Song: Fiction – Beast

Another recommended song: Sweden laundry – 우리가있던시간

infict

Park Jimin.

Nama itu di dalam memori Natha adalah hal yang biasa berputar. Bahkan jika hari berlangsung cepat, ia merasa seperti tidak bisa bernapas. Sebab bayangan Jimin mampu membuatnya seakan tak menapaki bumi. Meski itu hanya sebatas imaji, refleksi tak nyata yang bermain dalam dunia kecil di dalam kepalanya.

Terkadang ia merasa suara lelaki itu terdengar seperti memanggil. Pernah sekali Natha duduk di kursi ruang tamu waktu hening menginfeksi malam. Suara Jimin terdengar berulang, merapalkan kalimat yang sama… kalimat bagiannya. Natha menoleh, tidak ada siapa-siapa. Lalu ia sadar, ia sendirian.

Padahal siang hari Natha mendengar suara itu ada, bukan sebatas dengungan yang ternyata memantul di dalam kepala. Mereka berbicara dengan bahasa masing-masing. Natha mendengarkan seolah ia mengerti, memandang wajah Jimin dan ekspresi sama yang terlanjur Natha hafal.

Jimin selalu begitu. Ia tersenyum, menggoda, dan terkadang menampilkan tawa yang konyol. Tapi semuanya sama. Hanya sebatas ekspresi dari wajah yang petanya sudah Natha talar. Mata yang tenggelam, pipi yang mudah sekali gemuk, bibir yang mancung seolah seseorang telah menghisapnya hingga sesak.

Natha memandangi wajah Jimin lamat, seperti tak pernah puas. Hingga esensi dari percakapan itu tak ia dapat. Natha tidak mengerti Jimin bicara apa. Fokusnya bukan saja terbelah, tapi berpusat pada kehadiran lelaki itu saja. Bukan pada apa yang ia ucapkan. Dan ini semua makin terlihat jadi komunikasi satu arah.

“Menikahlah denganku.”

Jimin tidak menjawab, ia hanya meneruskan apa yang semula ia katakan. Kalimat yang tidak Natha mengerti. Tapi tak masalah. Baginya Jimin adalah adiksi. Lebih memabukkan daripada secangkir kafein di pagi hari. Ia adalah candu yang membuat Natha secara tidak sadar lenyap dari hiruk pikuk yang orang-orang sebut dunia nyata. Hingga Natha pada akhirnya harus mendapati diri berada di tempat yang sama. Lubang yang itu-itu juga. Dunia imajinasinya di mana ia dan Jimin bisa bersama.

Di sana, Jimin mendekapnya sampai yang bisa Natha hirup adalah harum sabun batang keluarga, menguap segar dari kulit Jimin yang lembut. Natha menyadari sebuah fakta bahwa realita sekarang sedang melenyap.

“Kau pasti malaikat?”

Jimin tidak menggeleng, juga tidak mengakui. Tapi kemudian ia menangis, menyembunyikan wajahnya susah payah di balik telapak tangan. Tangis yang justru membuat Natha sadar bahwa Jimin juga manusia.

Tangis itu memanusiakannya.

Natha selalu ingat, tapi Jimin tidak tahu.

Hingga suatu ketika mereka kembali bertemu di keramaian. Saling berhadapan, melempar senyum satu sama lain.

“Ingat aku?” Natha bertanya.

Jimin terlihat ragu. Ia memiringkan kepala, lidah dari topi yang Jimin pakai kian mendekat dengan bahu.

“Ingat?” Natha memastikan.

Jimin menggeleng, menampilkan wajah tidak tahu.

Natha tersenyum, kembali menjabat tangan Jimin entah untuk yang berapa kali.

“Aku Natha.” Ia berusaha biasa, padahal sesuatu dalam dirinya mati.

Mati-matian pula ia mencoba mengerti.

“Saranghae, Saranghae, Saranghae, Saranghae.”

Tidak apa-apa. Memang tak mudah mengingat satu wajah dari sekian banyak wanita yang datang ke fansign.

Tapi selama Natha masih bisa mengingat Jimin, ini semua bukanlah masalah.

“We are together. Now is the start. There is no end.

Fiction in fiction….”

–Fin

a/n: dan natha kembali ke rumah, liat wajah jimin yang menampilkan ekspresi itu-itu juga alias ekspresi video-video bangtan bomb, MV, dsb di laptop. Weks. Natha adalah another istri jimin around the world. Oke. Much love, JYook!

Advertisements