Tags

, ,

Fan fiction by Julian Yook

Cast: Park Ji Min (BTS), Shin Sun Young (OC) | Genre: AU, Mystery, Crime |Length: Chaptered |

RATE : Adult

***

Jimin dan Sunyoung mengira ini akan jadi bulan madu yang menyenangkan.

Itu hampir benar, sampai secara tidak sengaja mereka menemukan sesuatu berbaring di dalam bathtub ….

Hanya ada dua pilihan. Melapor kemudian tertangkap atau …?

***


BAB 5

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6


[Minjoo Si Gigolo]

Ini adalah salah satu cara Jimin mengacaukan bukti pembunuhan Byunsoo. Ia meminta Minjoo si gigolo menginap di rumah Byunsoo untuk beberapa hari. Untuk memastikan Minjoo menuruti perintahnya, maka ia datang ke Seoul dan memastikan. Dan sesuai rencana, lelaki itu ternyata menuruti perintah Jimin dengan mudah.

“Tapi kenapa kau menyuruhku menginap di sini, hm?”

Jimin menarik napas. “Tidak ada maksud apa-apa,” bohongnya.

“Kalau begitu kita duduk-duduk dulu, bagaimana?” Minjoo melirik tas ransel Jimin yang tergeletak di lantai. “Ey, kau bawa tas? Kau mau menemaniku menginap di sini juga?”

Jimin menggeleng. Itu hal yang tidak masuk akal. Menginap di sini dan meninggalkan jejak bahwa ia pernah mendatangi tempat ini? Jimin tidak sebodoh itu. Semua kertas post-it berwarna-warni selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Bahkan ketika kliniknya sedang lengang, ia sempatkan untuk menulis hal-hal penting yang mesti ia lakukan. Dan bermain rapi adalah salah satunya.

Tidak boleh ada rambut yang ia biarkan rontok di tempat ini. Jadi cepat-cepat pergi adalah pilihan tepat. Setidaknya ia telah memastikan bahwa Minjoo sudah berada dalam perangkap.

Mereka duduk di sofa yang menghadap televisi. Jimin menegakkan badannya dengan kaku. Tak ingin sedikit pun melakukan gerakan yang bisa membuat rambutnya jatuh.

“Omong-omong, si Byunsoo ini kemana? Untung saja aku masih hapal password pintu rumahnya.” Minjoo bersandar dengan santai, tangannya ia rentangkan pada sandaran sofa. “Oh, iya, kau sendiri juga bisa masuk rumah ini. Bagaimana bisa? Setahuku kau tidak pern—”

“Aku lapar.”

“Ahh, lapar…,” Minjoo mengangguk-angguk, “kebetulan aku sedang merebus kepiting. Aku ke dapur dulu ka—”

Jimin mencegat lengan lelaki itu. “Tidak perlu. Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin memberitahumu untuk datang ke Pulau Jeju besok lusa. Temui aku di Cottage Paradise Sunrise no. 12. Aku sudah memesan cottage itu untukmu. Untuk kita.”

“Aww! Bulan madu!”

Jimin menghela napas panjang. “Bisa jadi.” Ia lalu bangkit, membawa tas ranselnya dan bergegas meninggalkan rumah itu. Sementara Minjoo melihat punggungnya yang menjauh sambil tersenyum misterius.

-ooo-

Jimin melangkah mendekati pintu cottagenya kelelahan dan hampir tersungkur begitu pintu terbuka. Matanya yang mengantuk kemudian menyisir sekitar dan mencari-cari pintu kamar.

Sunyoung sudah meringkuk dengan selimut merengkuh badannya. Wanita itu tertidur dengan badan yang melengkung. Jimin tersenyum. Inilah yang ia sebut dengan rumah, tampat Jimin kembali. Ia melangkah dengan kaki-kakinya yang pegal, tapi itu tidak masalah selama Sunyoung adalah tujuannya.

Bantingan tubuh lelaki itu di atas kasur cukup membuat badan Sunyoung di sisinya tersentak.

“Jimin?”

Jimin hanya berdeham dengan mata yang tertutup.

Sunyoung membalikkan badan dan memandang lelaki itu lekat-lekat. Ia tidak tahu harus mulai menjelaskan ini bagaimana dan dari mana. Tapi yang pasti bukan sekarang. Itu semua tentang mereka ditipu, lalu pelayan gadungan dan sekarang Jimin yang kelelahan. Hari ini segala sesuatunya telah membuat Sunyoung merasa malang. Namun ia bersyukur Jimin bisa kembali dengan cepat dan utuh. Itu sudah lebih dari cukup.

-ooo-

Minjoo melepas lelah di atas sofa empuk dan memandangi riak laut melalui jendela cottagenya. Ia melirik jam dan berdecak karena Jimin yang ia cari ternyata tak berada di sini. Sampai malam tiba, Jimin baru datang dengan mantel tebal, celana panjang dan kupluk supaya tak ada bagian dari dirinya yang tertinggal di ruangan ini. Bahkan satu helai rambut sekali pun.

“Dari mana saja kau?”

“Bukan urusanmu.”

Minjoo bangkit dan menghampiri Jimin yang berdiri di tengah-tengah kamarnya. “Jelas urusanku, Sayang. Kau yang mengundangku ke sini.”

“Oke oke! Tadi aku beli ini dulu.” Jimin mengeluarkan kantung kertas coklat dengan leher botol yang mencuat dari balik punggungnya. “Kita minum-minum!”

Mereka kemudian duduk di sofa dan menenggak bergelas-gelas anggur sambil melihat riak laut malam. Ada sinar bulan memantul bergelombang-gelombang di atasnya. Sangat indah. Tidak tahu kenapa hal seperti ini sangat membuat seorang Minjoo sentimental. Ia juga ingin suatu keindahan. Dan Jimin di sampingnya adalah bentuk keindahan lain yang paling dekat.

“Aku ingin memelukmu, Jimin.”

Jimin melirik dengan tatapan tidak suka. Ia kemudian bangkit dan berjalan menjauh. “Tangkap aku kalau bisa!”

Merasa tertantang, Minjoo buru-buru bangkit dengan tubuh sempoyongan. Dalam pandangan matanya semua benda ini berbayang, termasuk Jimin. Satu jimin saja sudah mampu membuatnya mabuk kepayang, apalagi kalau banyak. Minjoo menyeringai dan membentangkan tangannya hendak menggapai, tapi selalu gagal. Ia malah memeluk udara. “Jimin… ahh… hahaha… ayolah. Jangan seperti itu. Aku tau kau akan menyukainya. Hahaha.”

Jimin berkelit. Ia menggapai tabung pemadam kebakaran berwarna merah dan memukulnya keras-keras pada punggung Minjoo. Lelaki itu terkapar di lantai dengan suara gedebuk yang sangat keras.

“Eeyy… Park Jimin….” Tapi badannya masih bisa bergerak-gerak. “Kau mau kemana Jimin?!” Langkah Jimin kemudian tercekat karena pergelangan kakinya digenggam erat.

BRRUKKKH!

Jimin kembali membabuk tabung itu di belakang kepala Minjoo. Wajahnya mencium lantai dengan amat keras. Genggaman di pergelangan kaki Jimin pun kian lama kian melemah, hingga akhirnya benar-benar terlepas. Jimin sengaja tak melawan dengan memaksa melangkah. Kalau begitu Minjoo hanya akan terus menggenggam kakinya lebih erat dan yang akan Jimin dapati hanya luka. Sementara di sini ia sangat amat menghindari meninggalkan jejak dalam bentuk apapun. Badannya harus bersih!

Jimin menendang badan Minjoo hingga tubuh lelaki itu menengadah. Seketika ia ragu apa itu adalah Minjoo? Karena lelaki yang tengah berbaring ini wajahnya sudah hancur, nyaris rata.

Jimin mengembuskan napas lelah. Ia kembali menjalankan misinya dengan menggerus sidik jari, mengahancurkan susunan rahang dan gigi. Karena Jimin tahu, polisi pasti akan menggunakan cetakan gigi untuk mengetahui siapa sebenarnya mayat ini. Dan itu tidak boleh terjadi. Ia harus membuat polisi yakin bahwa mayat di dalam cottage ini adalah Byunsoo… si pengusaha restorant. Bukan Minjoo.

Sebelum kembali ke cottagenya, Jimin menyempatkan diri untuk menghabiskan anggur yang masih tersisa dan membereskan barang bukti.

Sampai pada akhirnya lelaki itu menyebrang ke cottage sebelah, berjalan sempoyongan mendekati kasur di mana Sunyoung tengah tertidur lelap. Tapi terpaksa Sunyoung bangun karena ada suatu hal yang tidak beres.

“Ji-Jimin.” Sunyoung mengerjapkan matanya yang mengantuk, menghindari wajah Jimin di depannya. “K-kau bau alkohol.” Ia mencoba memalingkan wajah. “A-apa yang akan kau lakukan? Bukannya kau bilang untuk tidak—”

“Ssssst!”

Lalu dalam keadaan sadar tidak sadar, sesuatu yang sangat Jimin hindari justru terjadi di luar kendali.

-ooo-

“Apa yang kau lakukan pada Minjoo?”

Jimin menoleh dan menghentikan sebentar kunyahannya. “Aku menyuruhnya menginap di rumah Byunsoo supaya ia meninggalkan jejaknya di situ. Supaya rumah itu dipenuhi oleh sidik jarinya, helaian rambutnya di bantal. Polisi akan menemukan kesimpulan bahwa mayat dalam cottage itu cocok dengan jejak sisa kehidupan yang Byunsoo tinggalkan di rumahnya. Dengan kata lain, mereka akan menganggap bahwa mayat itu adalah Byunsoo. Dan kenapa aku memilih Minjoo, itu karena dia adalah orang yang tidak akan dicari.”

“Apa dengan begitu kita aman?”

“Kemungkinan besar. Habiskan dulu makananmu, aku akan menjelaskan sesuatu yang sedikit menjijikkan.”

Mereka kemudian menyelesaikan makanannya. Sambil duduk di ruang tamu, pembicaraan itu kembali berlanjut.

“Belatung adalah pengungkap misteri yang bagus,” Jimin memulai.

“Maksudmu?”

“Penyelidik itu akan memeriksa usia belatung dan bisa mendapatkan petunjuk kapan orang itu mati. Bahkan tempatnya sekali pun.”

Sunyoung mengangguk takjub dan mendengarkan kembali perkataan Jimin.

“Jadi dengan begitu, kita sudah berhasil mengacaukan waktu kematian Byunsoo yang sebenarnya. Aku yakin ketika waktu kematian dari belatung itu berhasil didapat, mereka akan sulit menuduh kita. Karena pada catatan waktu, kita sudah pulang dari cottage ini ketika Byunsoo terbunuh. Kita akan pulang sekarang.”

Sunyoung memandang Jimin dengan tatapan kosong. “Ada yang tidak beres,” ia berkata, datar.

“Apanya?”

“Kita ditipu. Kopi ABC tidak pernah mengadakan hadiah. Apalagi berlibur ke Pulau Jeju. Tidak pernah. Juga tentang pelayan gadungan itu. Aku mau tanya, apa kau mengenalnya?”

“Sunyoung…” Jimin mendekat, menyusuri wajah wanita itu dengan tangannya. “Jangan begitu.”

Sulit rasanya melihat suatu kebenaran ketika Jimin kerap kali muncul di dalam pikiran. Memberikan paham yang sama sekali bertentangan dengan kerasionalan Sunyoung, tapi kali ini ia tak akan membiarkan akal sehatnya kalah lagi.

“Aku tanya apa kau mengenal pelayan itu?!”

“Sunyoung! Tenang Sunyoung!”

Sunyoung terdiam ketika Jimin menahan lengannya erat. Mereka berpandangan cukup lama, sampai Jimin kembali memecah hening. “Kita aman. Hari ini kita pulang. Semuanya akan berjalan seperti semula.”

Sunyoung tahu ada kebenaran yang Jimin sembunyikan di antara kedua matanya yang jernih. Jauh di dalam… Sunyoung tahu mata lelaki itu tak ubahnya seperti pohon lebat atau air laut yang misterius. Ada sebuah kehidupan lain di sana.

“Tapi aku tidak bisa terus menerus memenangkan kau dalam setiap perdebatan ini. Tidak bisa.” Sunyoung menggosok hidungnya yang mulai terasa hangat, memandang Jimin lekat-lekat. “Kebenaran itu tertahan di lidahmu, kau pikir aku tidak bisa melihatnya, begitu?”

“Sunyoung….”

“Kau lihat semuanya? Dan kita justru tetap membodohi diri kita masing-masing.” Bibir Jimin hendak bergerak, tapi Sunyoung sama sekali tak membiarkannya berbicara. “Kenapa kita bisa sampai di fase ini? Padahal dulu aku sangat mengenalmu. Padahal dulu kita saling mengenal.”

“Kenapa kau melibatkan aku pada permainan ini, Jimin? KENAPA? Kau membunuh orang itu dan berkata bahwa hidup kita akan seperti semula. Bagaimana bisa? Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun yang kau perbuat, tapi membunuh… ITU SUDAH KETERLALUAN!”

“SIAPA BILANG?” Matanya nyalang menatap Sunyoung. “Kau pikir dunia ini akan baik-baik saja tanpa ada pembunuhan? Apa tanpa pembunuhan berarti dunia ini damai, hah?! Itu maksudmu? BUKA MATAMU SUNYOUNG!” Jimin menunjuk ke luar. “Membiarkan penjahat-penjahat kelamin itu berkeliaran dan memakan korban lain? Kau ingin aku membiarkan mereka hidup?! Dunia ini tidak akan sepi hanya karena orang-orang seperti mereka mati!”

Jimin berjalan dengan gusar ke arah jendela dan menyibakkan tirai dengan kasar. “Lihatlah dunia luar, Sunyoung! Kau ingin aku membiarkan anak-anak kecil di luar sana jadi korban mereka selanjutnya!? Mengalami apa yang aku rasakan dan hidup dalam trauma!? Begitu?! Orang manja serba berkecukupan sepertimu mana mengerti!”

Jimin lalu kembali mendekat, berbicara lebih pelan, “dunia ini bukan petak kecil di mana kamu hanya merasakan bahagia. Bukan, Sunyoung, bukan….”

Setelah lelah memandangi satu sama lain dengan deru napas yang tertahan, mereka kemudian berpelukan. Butiran kecil mengucur di ujung mata. Ada kesedihan tak berperi yang turut luruh.

“Sekarang kau mengerti kenapa aku melakukan ini?”

Sunyoung mengangguk samar.

“Kita pulang sekarang.”

Hari itu juga mereka berkemas, seraya mengusap buliran air mata, mereka melangkah keluar cottage. Hari demi hari berlangsung dengan normal… sampai beberapa minggu kemudian pada pagi hangat di Busan, sebuah surat kabar memuat berita. Berita yang tidak asing bagi mereka berdua.

“Mayat Lelaki Ditemukan di Cottage Pulau Jeju.”

Jimin melayangkan pandang ke wajah khawatir Sunyoung. Ia mengelus punggung tangan wanita itu berkali-kali sambil tersenyum. “Ada aku.”

-ooo-

To be Continued

A/N: Tell me apa kalian ngerti ini ff atau enggak. Aku suka ngerasa tulisan aku ini gajelas abis. Terutama decode. Wak wakwakwakwka. Kalau ada typo kasih tau yes. Smooch!

Julian yook.

Advertisements