Tags

1391581867388

It’s You

presented by

exoticpanda

Cast

Kim Seokjin & Kimberly (OC)

Genre

Romance, AU, Hurt/Comfort

Rating

PG-13

Length

Vignette

Soundtrack: Jeong Eunji — It’s You (Three Days OST)

Summary:  “…..aku…aku menyukai …seseorang.”

                       “…”

                      “…”

                      “Apa…apa itu…aku?”

 

 

Kim komat-kamit merapalkan sesuatu. Sekilas ia tampak sibuk dengan buku yang ia pangku sambil menghapalkan serius isinya. Namun, yang ia ingat hanyalah sebaris pertama paragraf satu. Tak pernah lebih. Bukan karena daya ingatnya yang lemah. Tapi, konsentrasinya tak di situ. Sambil komat-kamit mengulang kalimat itu-itu saja, ia melihat ke lapangan hijau luas di depannya. Segorombolan anak lelaki tengah bermain sepak bola di lapangan kampusnya.

 

“Baek, oper ke Jin!”

Dan yang terjadi selanjutnya adalah…

“GOOOLLL!”

Pekikan keras itu serta merta membuat Kim lantas mendongak, dan barisan kalimat hapalannya mendadak bubrah. Sekawanan kumpulan itu lantas menari-nari aneh di tengah lapangan sebagai bentuk seremoni kemenangan mereka.

“Kerja bagus, Jin!” sorak lelaki yang tadi mengoper—Baekhyun, sembari merangkul Jin yang lebih tinggi darinya.

Sorot tajam Kim tertumbuk pada lelaki yang tadi mencetak gol. Dibalas oleh lelaki itu rupanya. Di antara rangkulan Baekhyun dan teman-temannya, Jin malah tersenyumpada Kim yang dibalas kurang responsif olehnya.

“Tim Chanyeol akan menraktir kita. Ayolah kita berkemas,” seru seorang lagi.

“Tidak. Aku tidak ikut,” jawab Jin. Menimbulkan teman-temannya yang melongo. “Kalian saja, aku ada urusan,” ujarnya. Tanpa menunggu balasan apa pun dari rekan timnya, Jin langsung melesat ke pinggir lapangan.

Teman-temannya yang lain hanya saling sikut dan berpandangan. Seorang lagi mengangkat bahu tak tahu-menahu. Ah, terserah anak itu saja, pikir mereka.

 

Kim tahu Jin datang mendekat ke arahnya. Maka itu, ia menunduk, sambil komat-kamit seolah ia sedang serius membaca buku.

“Belajar terus. Ujian masih lama kok,” kata Jin sembari mengambil ranselnya yang terletak di atas kursi sebelah gadis itu duduk.

“Mencicil sedikit demi sedikit kan tidak salah,” jawabnya.

“Terserah kau sajalah, Kim. Ngomong-ngomong, tadi bagaimana permainanku?” tanyanya, mengambil posisi duduk tepat di samping Kim setelah menyingkirkan tasnya ke bawah. Ia berujar sambil menyeka wajahnya dengan handuk kecil.

“Aku tidak terlalu lihat. Hanya saja, yang terakhir cukup keren.”

“Hanya cukup keren? Itu gol terbaikku tahu,” sungut Jin.

Kim hanya tersenyum simpul meresponnya.

Tak ada percakapan lagi. Kim sibuk kembali dengan bukunya, terlihat membaca, padahal matanya sama sekali tak menerjemahkan rangkaian huruf itu membentuk kata apa. Ia tak tahu. Ia juga tak yakin mengapa ia begini. Sementara Jin menelisik isi ranselnya, mencari-cari sesuatu.

“Kim, punya air?” tanyanya.

Kim mengangguk, lantas cepat menutup bukunya, dan mencari-cari botol air dalam tasnya. Hanya perlu beberapa detik sampai Kim menemukan botol air mineralnya dan menyodorkannya pada Jin.

“Terima kasih.” Jin berujar dan Kim hanya mengangguk.

Kim mengamati jakun Jin bergerak-gerak seiring dengan air yang ia teguk dari botolnya. Rupanya ia menunggu Jin menyelesaikannya karena ia akan berujar.

“Seokjin-ah. Apa kita jadi pergi?” tanyanya. Menoleh penuh ke arah Jin.

Setelah kerongkongannya selesai menunaikan tugasnya untuk menghilangkan dahaga, Jin lantas menjawab, “Tentu jadi. Bagaimana kalau kita pergi sekarang.”

“Bagaimana dengan teman-temanmu?” Kim mengalihkan pandang kepada teman-teman Jin yang tengah berbaring di lapangan hijau. “Bukankah biasanya yang kalah akan menraktir yang menang? Kau tidak ikut bersama mereka?”

Jin terkekeh sejenak. Sama sekali tak membantu. Kim masih berkerut bimbang mendengarnya.

“Ayolah Kim. Apalah artinya semangkuk mi dingin dibanding sahabat baik sepertimu, huh?” Kerutan di kening Kim kian memudar, dan ia tersenyum tipis. “Ayo, antarkan aku ke ruang ganti. Kau tunggu di luar ya,” ujar Jin seraya bangkit berdiri dan menyandang tasnya.

“Kaupikir aku akan menunggumu di dalam? Tak perlu diberitahu,” decaknya.

 

:::

 

Di sekitaran Apgujeong, Gangnam; Jin dan Kim telah memesan kudapan mereka. Patbinsu. Oh yeah, sangat menggairahkan di kala panas terik semacam hari ini. Apalagi selepas mereka berhasil mencapai lantai 5 dari gedung Hyundai Department Store ini. Belum lama setelah mereka selesai memesan, Kim yang memulai percakapan.

“Ada apa sih Jin mengajakku keluar begini? Tumben sekali.” Kim berujar sambil memandang berotasi ruangan di sekitarnya. Tempat yang bernama Meal Top ini punya suasana bergaya eropa tempo dulu. Tempat prestis seperti ini pula yang mencuatkan pertanyaan Kim tadi.

Jin mengalihkan perhatian dari ranselnya. Segera ia meletakkan ranselnya di samping tempat duduk memanjang yang ia tengah duduki.

“Oh itu. Nanti saja kita bahas, oke?”

Tampang Jin penuh dengan keragu-raguan. Kim tahu betul itu. Maka, ia memutuskan tak menanyakan lebih lanjut lagi. Dan seperti sebuah kebiasaan, Kim kembali dengan keheningannya. Merasa suntuk, ia meraih buku dari dalam tasnya, mencoba mencari kesibukan.

“Oh Kim, please.” Kim menatap Jin bingung. “Letakkan bukumu jika ada bersamaku. Kau tahu kau lama-lama membuatku phobia akan buku setebal itu,” keluhnya.

“Kenapa?”

Pertanyaan yang membuat Jin harus memutar matanya sebelum menjawab.

“Aku ada di sini, oke? Jangan mengacuhkanku demi bercumbu dengan bukumu yang membosankan dan tak seberapa itu.”

Kim merengut sebal mendengarnya. “Lagi pun, kau yang memungkas obrolan kita. Aku sudah bertanya, namun kau menolak menjawab.”

“Kim, masalahnya bukan itu.”

“Lalu apa?”

Terdengar menuntut, Jin mau tak mau bersua juga.

“Masalahnya adalah, terlalu sulit bagiku untuk mengatakannya padamu.”

Kerutan di kening Kim lebih dalam dari yang sudah-sudah. Gadis berambut tergerai bebas itu tak keluar dari zona tatapan Jin. Ia lebih serius menilik lelaki di depannya. Ia penasaran.

“Tak usah menatapku dalam begitu.” Jin kalah. Ia mengenyahkan pandangannya dari Kim. Ia kemudian bersandar pada sandaran kursi empuk tersebut. Masih menggantungkan hal yang membuat Kim penasaran.

“Sesulit apa sih Jin untuk mengatakan sesuatu? Apa kau berbuat dosa padaku dan ingin mengaku?”

“Hey. Ini bukan seperti itu,” elak Jin, dan kembali duduk tegak. “Bukan, bukan. Aku bukan pendosa yang mencari pertobatan.” Lalu Jin mencibir hipotesis sembarangan Kim.

“Terserahmu lah, Jin.”

Beriringan dengan kalimat putus asa Kim, patbinsu pesanan mereka tiba. Kim yang mulai memakan sendokan pertama dari kudapan dingin tersebut. Tak melupakan toping kacang merah yang tampak menggairahkan yang menjadi top menu di sini.

“Kim.”

Tak ada jawaban.

“Kim.”

Masih hening.

“KIM!”

“Uhuk-uhuk.” Kim tersedak. Ia segera meraih botol air dalam tasnya dan segera menenggaknya. “Apa sih? Aku jadi tersedak,” omelnya.

“Maaf.” Jin terkekeh garing. “Habis sepertinya kau marah.”

Hanya hening lagi-lagi yang setia membalas ujaran Jin.

“Kim, ketahuilah hal yang akan aku sampaikan ini benar-benar membuatku frustasi. Aku sendiri perlu menabung keberanian sebelum mengatakannya.” Menyerah, Jin akhirnya mengungkapkan hal yang yang sulit baginya untuk diungkap.

Meluruhkan gengsinya, Kim mendongak dan melupakan camilan dinginnya. Ia terlalu dibuat penasaran oleh kata-kata Jin. Ia begitu terdesak oleh rasa ingin tahunya. Biasanya ia tipikal yang tak terlalu suka dibuat pusing oleh hal-hal yang tak berkaitan dengannya. Namun yang satu ini mampu melonjakkan rasa ingin tahunya ke ambang batas maksimum.

“Kim,” panggilnya.

“Hmm.” Sedikit berdeham untuk menunjukkan bahwa ia memberi atensi pada panggilan lelaki itu.

“Ah, bagaimana aku mengatakannya.” Jin mengacak rambutnya frustasi. Setelah mengobrak-abrik patbinsu dengan sendoknya, ia kembali menatap Kim. Dan Kim mengantisipasinya dengan sungguh-sungguh. “Mengatakan ini lebih sulit dari pada mengaku dosa pada ibuku.” Kemudian Jin menarik napas. “ Kim, aku…aku menyukai …seseorang.”

Tak perlu waktu lama sampai Kim kehilangan pikirannya sementara. Ia mengatupkan rahangnya erat-erat agar tak membuat reaksi berlebihan ala drama remaja. Berusaha mencari tanggapan yang tepat di situasi seperti ini, yang terlontar hanyalah sebuah kata yang membuat Jin makin kelimpungan. “Siapa?”

Jin yang tengah menyuapkan patbinsu, dibuat bingung bertingkah hanya karena sepatah kata simpel namun sungguh mampu membuatnya mengerang dalam hati. Sudah ia duga jenis pertanyaan semacam ini. Tapi ia tak pernah siap jika benar-benar dilontarkan begini.

“Apa aku mengenalnya?”

Tak kunjung memberi jawaban, Kim seolah menawarkan opsi lain yang lebih mudah. Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab panjang, hanya sebuah anggukan atau gelengan sudah mampu menjawabnya. Dan Jin menanggapinya dengan mengangguk.

“Ah.” Kim mengangguk. Ia hebat dalam mengontrol ekspresi. Namun kali ini, meski dengan sedikit payah, ia sanggup juga mengalahkan Jin. Bersikap tenang, padahal hati Kim menggebu ingin tahu. Ada sedikit rasa yang tak bisa Kim deskrepsikan menyelinap dalam dirinya. Perasaan itu semacam rasa sesal setelah mendengar ungkapan Jin tadi. Sebaiknya ia tak perlu begitu menuntut Jin untuk mengatakannya. Karena setelah mendengarnya, Kim ingin Jin menariknya kembali. Entah itu jenis perasaan apa.

“Kim?”

“Ya?”

“Menurutmu bagaimana?”

“Apanya?”

“Orang yang kutaksir.”

Jin benci bagaimana ia menjadi tipe penakut semacam ini. Ia benci menjadi sisi dirinya yang semacam ini. Oh, ayolah. Kenapa keberanian yang telah ia tabung menjadi terbuang sia-sia seperti ini?

Di lain sisi, Kim tengah menerawang. Memikirkan sesuatu yang ia pun tak mengerti. Entahlah. Jin hanya sedang jatuh cinta pada seseorang. Dan mengapa malah Kim yang menjadi kacau seperti ini?

“Menurut teori sih, kalau punya perasaan tentu harus diungkap.” Dan Kim tertegun mendengar ucapannya sendiri. Seolah ia menohok dirinya sendiri dengan kata-katanya. Ah, ia mengenyahkan jauh-jauh perasaan-perasaan aneh yang mulai merayapinya.

“Benarkah?”

Kim mengangguk. Tak yakin.

“Tapi Jin, dia perempuan semacam apa?” Jin melirik Kim. Buru-buru Kim menerangkan pertanyaannya yang bermakna ambigu. “Maksudku, eum, dia orang yang seperti apa? Apa sih yang membuat seorang Kim Seokjin terpikat padanya?” Kim terkekeh ganjil. Jarang mendapati dirinya yang tertawa. Tapi, kali ini, begitu tertawa, ia malah tertawa keki. Sama sekali tak ada yang lucu.

“Oh.” Jin mengangguk sembari mulai menguntai kilas visual sosok itu dalam imajinya. “Ia menarik. Seorang perempuan yang kalem, banyak mendengarkan. Dan ia cantik.”

“Siapa?”

Lagi, pertanyaan yang membuat Jin tak nyaman kembali terucap dari bibir Kim.

Oh, rasa penasarannya kali ini benar-benar melampaui batas maksimumnya. Harus Kim akui, mendengar pernyataan Jin membuatnya menyadari bahwa ia tengah gelisah. Gelisah karena tahu Jin naksir seseorang? Kim tak bodoh untuk segera menyadari jenis perasaan apa yang menyerangnya. Yang jelas, perasaannya melampaui zona pertemanan mereka, dan itu tak pantas.

“Apa harus kujawab?”

Kim mengangguk mantap. “Aku sangat penasaran. Beri tahu aku sebelum aku mati berdiri karenanya.”

“Mengatakan aku menyukai seseorang kepadamu saja sudah membuatku nyaris mati. Bisa kaubayangkan jika aku harus mengatakan siapa orangnya?” Jin mengajukan pertanyaan objektif yang membuat Kim agak undur. “Tak bisakah kau menebak dari clue yang telah aku berikan padamu?”

Kim ingin mencekik Jin sekarang. Ia terlanjur terciprat lumpur, dan Jin seolah tak mengizinkannya berkubang. Jin yang menariknya dalam lingkaran penasaran. Tapi ia pula yang mencoba mendorongnya dari zona itu.

“Yura?”

Sebuah gelengan dari Jin.

“Minah?”

Lagi, gelengan.

“Eunji?”

Masih sama.

“Taeyeon?”

“Aku bukan penggemar noona-noona.”

“Lauren?”

“Aku juga bukan pedofil.”

“Jadi siapa?” erang Kim.

“Berpikirlah realistis. Orang itu tak banyak bicara. Banyak mendengar. Oh, satu lagi. Banyak membaca.”

Kim melebarkan kelopak matanya yang berlipat ganda. Bukankah itu seperti…

“Dan rambutnya panjang.”

…dia? Bukankah itu ciri Kim? Apa Seokjin ternyata…

“Kim Seokjin.” Kim menegur Jin dengan tatapan intensnya yang mengintimidasi. Sempat membuat Jin jadi agak ragu. “Apa…apa itu…aku?”

Jin diam membatu. Keduanya ternyata sama-sama tak mampu lagi menjadi pemain watak yang tangguh. Keduanya sama-sama saling terkejut. Kim sangat cemas. Namun Jin lebih dari itu. Ia lebih cemas dari gadis itu.

Sejenak suasananya terasa sangat canggung. Sangat. Kim pun menyesali ucapannya yang kelewat berani. Ia sungguh menyesal. Bagaimana jika bukan dia? Bagaimana jika itu orang lain? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ia merasa terlalu…percaya diri.

“Hahaha, bicara apa sih, Kim? Jangan mengada-ada,” ujar Jin. “Apa kau lebih mirip dengan semua clue itu dibanding Lee Jieun?”

Kim tersedak oleh kenyataan pahit yang ia dengar. Benar bukan dia?

“Lee Jieun?” ulangnya dengan lemah.

Jin mengangguk yang semakin memperparah kondisi hati gadis itu. “Aku…memang menyukai dia, Kim.”

Kim bersumpah ia menahan mati-matian hasratnya untuk mengeluarkan sebulir air matanya. Ia bersumpah ia tak mau tiba-tiba mengingat sosok Jin yang selalu menjadi teman terbaik baginya. Dan tiba-tiba mengulas imaji itu ke permukaan pikirannya. Ia kacau sekarang.

Tapi, ia harus menjadi pemain watak yang baik.

“Ah, tentu saja. Ia gadis yang mengagumkan.” Kim tak menatap Jin. Ia sibuk memerhatikan patbinsu milik Jin yang terlalaikan dan kacang merah yang sudah tak berada di permukaan. “Jadi, sejak kapan kau menyukainya?”

“Ummm.” Tak siap menjawab, Jin menggumam sambil berpikir. “Sejak awal aku mengenalnya,” jawabnya tak yakin.

Kim mengangguk seolah mengerti. Padahal ia tengah menyembunyikan hatinya yang kecewa. “Sudah lama ternyata.”

 

Tidak tahu mengapa situasi menjadi terlalu dingin seperti sekarang, mungkin ulah patbinsu? Jin baik Kim sama-sama sibuk dengan rong-rongan pikiran mereka sendiri-sendiri. Mereka sibuk dengan pikiran yang tak kunjung membuat mereka mengerti.

Dan Kim harus menata ulang hatinya yang telah poranda karena perasaan tak laiknya kepada sang sahabat terbaik. Ia harus segera menerima kenyataan bahwa ia tak boleh melampaui garis yang telah tertoreh. Ia tak seharusnya melanggar batas yang tak kasat mata itu, yakni pertemanan mereka.

Dan yang bisa Kim lakukan siang itu hanyalah tertawa sarat kepalsuan untuk menyelubungi perasaan sebenarnya agar mendukung permainan wataknya. Kim berharap hatinya membeku karena patbinsu yang ia makan.

 

:::

 

Gangnam, 10:00 p.m.

 

Yeoboseyo?”

Hai, Jin. Jadi, dimana kita harus merayakannya? Apa malam ini juga?”

“Apanya yang perlu dirayakan, Baek?”

Kau dengan…Kim?”

“Oh, itu. Eumm… A—aku tak mau merusak persahabatan kami. Jadi…aku…berbohong padanya. Aku bilang aku suka…Jieun.”

APA? KAU SUDAH GILA?!”

fin.

a/n: Makasih banget buat owner blog ini yang udah ngundang saya jadi author di sini. you’re the best, Jul. perkenalkan dulu yaa.. pen name exoticpanda, 96L. yg punya twitter kalo mau follow saya di @deboraIU. ah malah promosi. skip. kalo yg berkenan komen di fiksi aneh bin ajaib ini, aku terimakasiiiiiih banget. terakhir, salam kenal 😀

Advertisements