Tags

, ,

Fan fiction by Julian Yook

Cast: Park Ji Min (BTS), Shin Sun Young (OC) | Genre: AU, Mystery, Crime |Length: Chaptered |

RATE : Adult

***

Jimin dan Sunyoung mengira ini akan jadi bulan madu yang menyenangkan.

Itu hampir benar, sampai secara tidak sengaja mereka menemukan sesuatu berbaring di dalam bathtub ….

Hanya ada dua pilihan. Melapor kemudian tertangkap atau …?

***


Previous Chapter

1 | 2 | 3

BAB 4

[Eksekusi]

Jimin mengintip dari celah pintu dan mendapati Sunyoung tengah berbaring dengan ekspresi kaku di atas ranjang, pandangannya lurus ke arah langit-langit. Ditutupnya pintu itu dengan wajah tak rela.

Tapi inilah yang harus ia lakukan.

Jimin menghela napas panjang dan memakai sarung tangan tipis secepat mungkin. Ia akan menyelesaikan tugasnya malam ini dan berharap bisa istirahat sebelum keberangkatannya besok ke Seoul.

Jimin berderap tegas. Badannya sendiri hanya dilapisi kaos dalam tipis berwarna putih dan celana training pendek di atas lutut.

Lampu-lampu kecil sapanjang lorong mampu memberikan efek hangat pada penginapan ini. Tapi, semua itu berubah ketika Jimin berhasil menapakkan dua kakinya dengan kokoh di depan pintu kamar mandi. Putih bersih dan terlihat kaku, mungkin itu yang membuat benda di hadapannya terasa begitu mistis.

“Woah.”

Jimin mengembuskan napasnya cepat dan membuka pintu itu dalam satu gerakan. Ketakutan yang ia alami bukan karena akan bertemu Byunsoo sendirian, tapi lebih disebabkan oleh apa yang akan ia lakukan. Ia sadar benar bahwa dalam beberapa waktu ke depan semua keadaan Byunsoo akan berubah menjadi hasil karyanya. Dengan kata lain ia akan merusak barang bukti otentik itu.

Tapi tidak ada pilihan lain. Ini sudah seperempat jalan.

Melalui telapak kakinya yang pucat, Jimin bisa merasakan lantai keramik yang kering. Anggota gerak bawahnya terus berayun mendekati bathtub setelah bunyi pintu tertutup terdengar di belakang punggung.

Ia mengernyit begitu berhasil mencapai jarak terdekat. Demi Tuhan, bau tak sedap sudah benar-benar mendominasi ruangan ini. Meskipun sulit, Jimin tetap berharap ia tak menemukan binatang melata di sana. Tapi … Damn. Tentu saja ada.

Di atas masker yang masih membalut, Jimin menjepit hidungnya dan berjalan kembali ke arah pintu dengan tergesa-gesa.

BRAAAKH!

Pintu terbuka dengan kesan dibanting dan kepala Jimin langsung menyembul keluar, menurunkan maskernya dan menarik udara banyak-banyak. Lehernya bergerak naik turun bernapas, sementara matanya menatap karpet yang terhampar sepanjang lorong.

Kalau begini aku bisa mati, baunya … benar-benar membahayakan, ia merutuk.

Lelaki itu melepaskan jeratan dari kusen pintu. Badan Jimin kemudian menyusul ke luar seperti kepalanya yang lebih dulu menyembul. Dia melintasi lorong dan menempatkan diri pada ruangan yang lebih luas, tepat di depan konter dapur.

Masker berwarna biru pudar masih menggantung di bawah dagu, sementara talinya terkait dengan apik pada daun telinga. Jimin melesakkan tangan ke dalam keresek belanjaan dan meraih pisau serta kantung plastik yang tadi pagi baru saja ia beli. Ia meletakkan barang itu di atas kardus jeruk nipis, kemudian dengan sigap mengangkutnya hingga otot lengannya terlihat berkontraksi.

Beberapa langkah menuju pintu kamar mandi, Jimin menarik napas panjang dan menaikkan kembali maskernya. Walaupun sebenarnya itu tidak terlalu membantu, tapi apalagi yang bisa ia lakukan? Ia tidak punya masker berbentuk moncong lalat seperti yang sering ia lihat di televisi atau kartun spongebob episode melewati stan parfum di supermarket. Iya, Jimin memang tidak punya pilihan lain selain bekerja cepat.

Tahu-tahu saja tubuhnya sudah ada di dalam kamar mandi. Ia meletakkan kardus itu di samping bathtub dengan sedikit kewalahan. Suara berdebum terdengar ringan ketika kardus beradu dengan lantai. Pisau dan kantung plastik yang terlipat kecil sedikit terguncang di atasnya.

Tangan Jimin menyambar pisau daging dengan cepat. Dibelahnya pertengahan kadus bersolasi merah bening itu dengan menancapkan pisau dan menggesernya. Bunyi robekan kontan terdengar dengan kasar. Tapi sejurus kemudian Jimin tersenyum ketika kardus terbuka dan menampilkan butiran-butiran berwarna hijau yang berjejal.

Jimin menoleh pada mayat Byunsoo. Ia kemudian berdiri dan meraih selang berwarna perak yang tergantung di sisi bathtub. Diputar keran itu dengan cepat hingga air memancar deras di ujung selang. Jimin mengarahkannya pada mayat Byunsoo dan membiarkan belatung yang belum terlalu banyak hanyut terbawa air.

Jimin mengernyit, melihat darah bercampur-campur tersedot lubang. Dari atas sini ia juga bisa dengan jelas melihat badan Byunsoo yang sudah semakin membengkak dan berubah warna. Lelaki itu kemudian kembali mengaitkan selang air pada tempat semula dan melirik pisaunya yang tergeletak di lantai.

Jimin tahu, pisau itu minta digunakan.

Sambil menutupi sekitar maskernya dengan punggung tangan, Jimin kembali merunduk. Kaki kanannya menumpu di depan, sementara lutut kirinya beradu dengan lantai. Jimin meraih pisau daging itu dan menggenggamnya erat. Kakinya mulai bangkit dan perlahan ia berbalik, menghadapkan diri ke arah mayat Byunsoo secara gamblang. Tanpa satu pun pembatas … tanpa satu pun yang menghalangi ….

***

Sunyoung membalikkan tubuhnya berbaring ke arah kiri. Ia tidak mendengar apa-apa yang ganjil sejak suaminya berada di kamar mandi. Tapi, tak ada alasan untuk tetap tenang. Dengan muka yang pucat, ia menarik selimutnya hingga menutupi dada. Tatapan matanya yang kosong mengarah pada tembok kaca yang dilapisi tirai di seberang sana. Di dalam balutan selimut itu kemudian tubuhnya tergugu, kedua kakinya pelan-pelan menekuk, sementara dua tangannya tertangkup di samping pipi.

Ia hanya berharap … Jimin bisa melakukan tugasnya dengan baik.

***

Jimin tidak tahu bahwa memotong daging akan jadi semudah sekaligus menjijikkan seperti ini. Ia mengayunkan pisaunya ke arah mata kaki Byunsoo dan mengayunkannya lagi hingga terpotong sempurna. Ini adalah bagian terakhir dari pekerjaannya setelah tanpa kendala memotong tubuh bagian atas.

Semua berjalan lancar sesuai keinginannya.

Jimin patut bersyukur karena mayat Byunsoo sudah melewati fase kekakuan. Tubuhnya benar-benar lentur seperti balerina. Seraya memasukkan bagian tubuh paling terakhir, Jimin berpikir tentang penemuan barunya ini. Meski ia bukan ahli forensik, tapi setidaknya ia tahu bahwa mayat akan menjadi kaku sampai kurun waktu empat puluh delapan jam sejak meninggal. Dengan kata lain, Byunsoo meninggal lebih dari empat puluh delapan jam yang lalu.

Jimin tidak tahu kapan itu persisnya karena hasil akurat akan didapat seletah melalui uji laboratorium dan itu tidak mungkin dilakukannya. Ia hanya bisa mengira-ngira.

Tapi, dari apa yang ia dapati, Jimin bisa mengambil kesimpulan bahwa Byunsoo dibunuh sekitar tanggal sembilan atau sepuluh Maret.

Jimin menegakkan mulut kantung plastik besar yang semula tergulung hingga isinya berjatuhan ke dalam dengan merata. Diikatnya dengan tidak terlalu erat kemudian ia biarkan di atas lantai. Pekerjaannya kemudian beralih ke membersihkan kamar mandi. Ia membelah banyak jeruk nipis dan memerasnya ke sekitar ruangan. Segala noda darah yang menempel di dinding berlapis keramik telah ia kerik. Baju yang semenjak tadi sudah ia tanggalkan memudahkannya bergerak dengan gesit. Jimin meraih sikat dan menyikat apapun yang menurutnya masih bernoda. Tangannya yang lain memegang selang dengan pancaran air yang siap melibas.

Jimin suka bersih-bersih, apalagi bersih-bersih wc sudah jadi kebiasaannya semenjak di sekolah menengah. Jadi, tak masalah baginya melakukan hal ini seorang diri.

Ia melangkah ke luar kamar mandi sebentar dan menarik napas. Tak lama, ia masuk lagi dan mengangguk puas ketika menyadari aroma di dalam dan di luar sudah tidak terlalu kentara beda.

Kalau boleh jujur, ini adalah malam yang melelahkan. Ia ingin sekali membersihkan badan dan menyusul Sunyoung tidur. Tapi tidak bisa. Masih ada hal lain yang harus ia selesaikan: pergi membawa plastik ini ke laut.

***

Sunyoung terbangun dengan posisi sama seperti awal ia tidur. Tirai di seberang ranjangnya pelan-pelan mulai terlihat jelas di pandangan.

“Jimin ….”

“Hmm …,” balasnya, lemas.

Sunyoung menggeliat samar di bawah dekapan Jimin. Rupanya matahari sudah memberikan denyar yang cukup jelas di balik sana. Jimin di belakangnya tak juga mengubah posisi. Sehingga mau tak mau Sunyoung hanya bisa berdiam diri dan menebak-nebak apakah lelaki itu masih sangat kelelahan?

“Kau sudah menyelesaikan semuanya?” tanyanya pelan, melangkahkan jari pada lengan Jimin yang tersampir di perutnya.

Terdengar suara berkeciprak dari mulut Jimin. Bibirnya mengenyam udara berulang-ulang, sedikit-sedikit membangun kesadaran. “Hmmhh …,” desahnya, menggeliat, “semuanya sudah beres,” lanjut Jimin sedikit serak.

“Bagaimana dengan kepergianmu ke Seoul?”

“Ahh … itu …. Aku akan pergi ke bandara pukul setengah sembilan.” Lutut Jimin menekuk-nekuk ke atas, menopang tubuhnya hingga bersandar pada kepala ranjang.

“Kalau begitu bersiaplah dari sekarang.”

“Hmmh.” Jari telunjuk dan jempolnya tampak memijit pangkal hidung. “Ada hal baru yang aku temukan tadi malam.”

Sunyoung bangun dan menurunkan kakinya dari ranjang. Kakinya berjalan dengan boneka elmo bergerak-gerak di punggung kaki. Dengan sedikit menengadah, disingkapkan tirai tipis berwarna putih itu. “Memangnya ada apa?” tanyanya, menoleh.

Jimin mengerjap, untuk membuka mata rasanya perih. Kulit di bawah alisnya bahkan terlihat bengkak. Makin saja membuat matanya yang kecil itu tenggelam.

“Sakit?” tanya Sunyoung pelan, kembali ke ranjang dan menatap khawatir.

Lelaki itu meringis, mencoba mengangkat alisnya tinggi-tinggi dan membuka mata. “Sedikit, sshhh.”

“Jadi, bagaimana? Mau aku panaskan air?”

“Tidak usah, sebentar lagi juga mendingan. Oh, iya. Kemarin aku membeli beberapa botol madu, tuna dan rumput laut. Kamu bisa memasaknya selama aku tidak di sini.”

“Yang penting itu kau sarapan dulu sebelum pergi ke Seoul. Seingatku, penginapan ini menyediakan roti tawar dan selai aneka rasa di meja makan. Aku akan buatkan itu untuk sarapanmu, bagaimana?”

“Boleh juga.” Jimin mengangguk, kini matanya sudah bisa beredar dengan sedikit lebih baik.

“Kemarin selesai jam berapa?”

Jimin mengerutkan alisnya mengingat-ingat. “Hm, sekitar setengah empat pagi.”

“Astaga …,” Sunyoung meringis. Dilihatnya wajah Jimin dengan tatapan tidak tega. “Lalu akan berapa lama kau di Seoul?”

“Satu hari. Aku akan mengambil penerbangan malam untuk pulang.”

“Kenapa tidak istirahat dulu di sana dan menyewa hotel?”

“Uang kita tidak sebanyak itu, Sunyoung.”

“Tidak … aku masih punya uang simpanan.” Sunyoung menatap dengan sorot mata khawatir. “Tidurlah dulu di sana.”

Mata Jimin naik-turun mengamati dahi hingga dagu wanita itu, kemudian tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Sudah aku bilang itu bukan masalah besar.”

“Kau yakin?”

Jimin mengangguk.

“Baiklah.” Sunyoung bangkit dan berjalan menuju lemari. Dia menyibakkan pakaian yang tergantung di sana. “Jadi, kau di sana hanya satu hari?”

“Iya, setengah sembilan nanti aku ke bandara. Setibanya di Seoul aku akan menemui Minjoo. Kau masih mengingatnya kan?”

Sunyoung berhenti sebentar dan menoleh. “Gigolo itu?”

“Betul.” Jimin mengangguk mantap. “Jadi, aku akan menyuruhnya melakukan sesuatu. Itu tidak akan memakan waktu lama, dan ketika itu semua beres … aku akan segera pulang dengan pesawat malam.”

“Hhh, kalau begitu,” ucapan Sunyoung terhenti, sementara tangannya sibuk, “kau bawa ini saja.” Wanita itu berbalik dan mengacungkan mantel hitam dari bahan parasut. Diletakannya di tepi ranjang dan kembali menyibukkan diri di depan lemari. “Aku dengar Seoul sangat dingin akhir-akhir ini,” sahutnya dengan suara lebih banyak terperangkap ke dalam lemari. “Ah iya, tadi kau mau bicara apa? Hal baru yang kau temukan tadi malam?”

“Tentang mayat Byunsoo. Kurasa ia sudah tewas lebih dari empat puluh delapan jam.”

“Memangnya kenapa?”

“Mayatnya sudah melewati fase kaku. Dan satu hal lagi ….” Jimin tercenung sebentar. “Orang sepenting dia … dan tidak ada yang menyadari kehilangannya. Bukankah itu ganjil?”

Sunyoung menoleh dan alisnya sudah berjungkit penuh heran bercampur curiga. “Kau benar,” ia berdesis. Pandangannya kemudian tumpah pada karpet dengan tatapan tajam yang penuh analisa. “Dia jenius.”

“Dia? Siapa?”

“Pelakunya.” Sunyoung kembali menatap dua mata Jimin intensif. “Coba bayangkan, dia membunuh Byunsoo dengan sangat terstruktur. Aku yakin dia mengendalikan jadwal Byunsoo hingga orang-orang itu tak mencarinya sejauh ini.”

“Apa saingannya punya cukup waktu untuk membuat pembunuhan sistematis seperti itu?” Jimin menimbang-nimbang. “Tapi, kurasa … yah, mungkin saja dia menyewa seorang pembunuh bayaran?”

“Jadi tugas kita bertambah satu, ya? Mencari pelaku sebenarnya?”

“Sunyoung? Apa kau tidak curiga pada pelayan yang menunjukkan tombol darurat waktu kita datang ke sini?”

Sunyoung menggeleng polos.

“Coba pikirkan lagi. Pembunuhan ini terjadi lebih dari empat puluh jam yang lalu. Perkiraanku mungkin seseorang membunuh Byunsoo pada tanggal sembilan atau sepuluh Maret. Itu waktu kita sedang sibuk-sibuknya mengurus kepergian ke Pulau Jeju.”

“Jadi sebenarnya pelayan itu siapa?”

“Sebaiknya kau mencari tahu. Selagi aku pergi, kau bisa datang ke office penginapan ini dan bertanya-tanya. Apa kau sempat membaca tag namanya waktu itu?”

Sunyoung tampak mengingat-ingat. “Hmm, aku sempat melihatnya…. K-Kim Seok J-Jin, kalau aku tak salah ingat.”

***

Selagi Jimin membersihkan badan, Sunyoung tampak sibuk mengepak tas lelaki itu. Ia memasukkan mantel, beberapa pakaian dalam dan syal ke dalamnya.

“Tidak terlalu berat.”

Perhatiannya kemudian teralih pada tempat tidur yang terlihat kacau. Ia mengibarkan selimut dan menatanya di atas seprai serapih mungkin. Setelahnya, setengah melamun ia duduk di atas ranjang. Berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jika keberangkatan mereka yang terlambat ternyata menguntungkan sang pelayan, kemungkinan besar sosok itu cukup berperan dalam kasus ini.

Sebelum pergi ke Seoul, Jimin memeluk Sunyoung sebentar. Ia tersenyum lucu dan memandangi wajah wanita itu. Menyingkirkan poni yang teruirai di sisi wajahnya.

“Jaga dirimu baik-baik, ya?”

Sunyoung mengangguk. “Kau juga.”

“Selamat tinggal.”

“Selamat tinggal. Aku mencintaimu….”

***

Sunyoung memutar pulpennya. Ia memandangi layar macbook yang menyala dan menggeleng tidak percaya.

“Kopi ABC tidak pernah mengadakan undian berhadiah atau hadiah apapun. Hati-hati penipuan.”

Kata-kata yang membuatnya tersenyum bodoh. Namun otaknya sudah lebih keras meneriakkan bahwa ia kelewat bodoh. Sunyoung mengurut pangkal hidungnya depresi dan meraih ponsel yang tergeletak di samping macbook.

“Jimin. Kita ditipu.”

Cuma itu yang ia tulis. Dibantingnya ponsel kembali ke meja dan ia memilih mengempaskan punggungnya keras pada sandaran kursi.

Pandangannya jauh menatap langit di luar sana. Lalu kembali tersenyum bodoh. Kalau ternyata ini semua bukan dari kopi ABC, lantas dari siapa? Sementara ia masih bisa menikmati semua fasilitas ini dengan gratis. Menghirup udara yang kental dengan suasan laut dan menginap di cottage yang bagus. Sunyoung tidak mengerti.

Berbekal jaket rajut berwarna merah jambu yang pudar, ia berjalan sambil memeluk dirinya sendiri. Menghalau angin khas Pulau Jeju. Sebuah kantor terlihat tak jauh dari gerbang cottage.

“Permisi.”

“Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mau bertemu dengan pelayan di sini yang bernama Kim Seok Jin.”

“Tunggu sebentar, Nyonya.”

Sunyoung kemudian membalikkan badan dan melipat tangannya di bawah dada. Sementara sang resepsionis berlalu sebentar ke belakang.

“Permisi, anda mencari saya?”

Sunyoung menoleh. Bibirnya sudah siap terbuka hendak melontarkan beribu macam pertanyaan. Tapi terhenti begitu saja ketika ia mendapati bahwa bukan wajah ini yang dilihatnya dulu.

“Kim Seok Jin?” Ia menunjuk.

“Iya, itu nama saya.”

Sunyoung menggeleng tidak percaya.

“T-tapi Kim Seok Jin yang aku tahu punya mata yang lebih lebar dan tajam. Lalu waktu tersenyum ada lesung di pipinya yang sebelah kiri. Lalu… rambutnya itu perak.”

“Anda pasti salah orang?”

“Ti-tidak mungkin. Kau benar Kim Seok Jin?!” Sunyoung mengguncang bahu lelaki itu tidak sabar.

“Seingat saya hanya ada satu Kim Seok Jin yang bekerja di sini. Dan itu saya.”

Sunyoung mengembuskan napas keras. Melepaskan jeratannya dari bahu Jin dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Jimin… bantu aku.

***

Jimin membuka pintu kediaman Byunsoo dan bernapas lega. Sesuai prediksinya, rumah ini memang benar-benar sepi. Ia semakin yakin bahwa di usia Byunsoo yang sudah menginjak kepala tiga, lelaki itu belum juga menikah. Tak ada satu pun foto keluarga. Hanya ada foto bebungaan, ikan-ikan koi, juga pemandangan.

Semakin dalam ia melangkah, Jimin justru mendengar ada kehidupan dari dalam dapur. Seperti suara centong sayur yang beradu dengan panci. Ia mengendus-endus, harum masakan tercium begitu sedap.

“Jimin? Kau kah itu?”

Langkah Jimin terhenti sebentar. Suara yang tadi terdengar adalah suara lelaki yang terlampau lembut. Dan Jimin hapal siapa lelaki yang memiliki suara itu. Siapa lagi kalau bukan …

Minjoo, si gigolo.

Derap langkah terdengar. Jimin melepas ranselnya dan membiarkan benda itu beradu dengan lantai. Sosok yang berjalan dari arah dapur mulai terlihat semakin dekat. Mereka saling berpandangan. Jimin termangu, sementara Minjoo tersenyum menggoda.

“Senang bertemu denganmu lagi Jimin. Kau jadi lebih tampan.” Ujung jari Minjoo mengelus pipi Jimin. Ia tertawa.

Jimin hanya mengalihkan wajahnya dengan canggung.

“Untuk apa kau menyuruhku menginap di rumah si gay Byunsoo ini, hm?” Bibirnya mendekat, membiarkan sisa pernapasan memantul di wajah Jimin. “But I love anyway.

Jimin hanya bisa meneguk ludah. Mendapat perlakuan seperti itu dari seorang lelaki bernama Minjoo memang tidak akan pernah jadi hal yang menyenangkan.

***

Jimin, I hope you doing fine. I love you.

Park Sun Young.

***

To be Continued


Advertisements