Tags

, ,

The Missing Bullet Cover 2

The Missing Bullet

Caramel Kim Storyline


-Main Casts
: Park Jimin (BTS), Min Jiyoung (OC), Min Yoongi (BTS),| Other Cast : another BTS’s Members and also another support casts|Genre : Romance, Action|Length : Chaptered |Rating : PG 17

There’s something that you might be missed…

Author’s Note

Peralihan sudut pandang tidak akan diberi petunjuk apapun.

So, beware.

 

 

-The Missing Bullet-

“Ini foto-foto milik keluarga Min, kau mungkin membutuhkannya.”
Namjoon menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat usang kepadaku. Aku memandang pria itu sekilas lalu menerima amplop itu, dengan agak menimbang-nimbang aku lalu mengeluarkan isinya.

Ada sekitar selusin foto, jika aku tidak salah hitung, yang cukup menggambarkan keluarga Min. Ada berbagai macam foto didalam amplop itu, dengan berbagai macam latar dan suasana. Ada potret seorang gadis dan seorang pemuda tengah bermain baseball, lalu potret keluarga Min yang tengah berkuda, dan juga foto seorang pemuda yang memegang tongkat baseball. Namun, ada satu foto yang cukup menyita perhatianku. Sebuah potret seorang pria paruh baya, yang aku yakin itu adalah Min Donghyun, yang diapit oleh seorang pemuda tampan berkulit pucat dan seorang gadis muda yang berwajah ceria. Mereka pasti adalah putra-putri Donghyun. Aku mengamati foto itu sesaat, mereka nampak bahagia, dengan senyum mengembang disisi bibir, dan menampilkan kehangatan khas keluarga.

Seketika saja aku merasa perutku ditinju dengan keras.

Keluarga..

Iri, tentu saja, aku tersenyum simpul memandang foto itu, dengan perasaan sakit yang datang tiba-tiba aku lalu mengganti objek pandangku ke foto-foto lain. Foto gadis yang sama, dengan latar pegunungan yang indah gadis itu tersenyum pada kamera. Rambutnya berwarna hitam khas orang asia pada umumnya, namun matanya besar dan menampakan keceriaan yang sama cerahnya dengan latar foto. Dia pasti sangat bahagia kala itu. Pikirku.

“Dia Min Jiyoung, putri bungsu Min Donghyun. Kalau kau penasaran.”

Aku mendongak dan menatap Namjoon sekilas. Pria itu tersenyum sambil menuding ke foto yang tengah kupegang.

“Dan kakaknya, coba kau balikkan foto satu lagi, adalah Min Yoongi. Mahasiswa cerdas Universitas Seoul. Dia mewarisi kepintaran ayahnya.”
Lanjut Namjoon, aku mengangguk singkat.
“Menarik.” Ucapku, lalu memandangi potret seorang pemuda, mungkin usianya tak beda jauh dengan Namjoon, yang tengah memegang bola basket. Pemuda itu tersenyum tipis pada kamera, mata pemuda itu kecil, berbeda dengan adiknya. Kulitnya putih dan bersih walau nampak pucat dibawah sinar matahari yang membanjiri tubuhnya di potret itu. Seragam basketnya terlihat basah oleh keringat. sejenak aku menerka, pasti pemuda ini adalah anggota team basket.

“Ibu mereka?”
Tanyaku pada Namjoon. Heran, sama sekali tak ada potret ibunya di amplop ini.
“Meninggal, tapi ada yang bilang juga pergi begitu saja. Tidak ada informasi jelas, tapi peristiwa itu cukup menggemparkan kala itu.”
Seketika alisku bertaut, keluarga bahagia seperti ini bisa juga mengalami hal tragis seperti itu ya, pikirku.
“Besok, kau akan terbang ke Korea Selatan, ini misi jangka panjang, tak ada batas waktu.”
Ujar Namjoon dengan agak pelan. Harus aku akui kalau aku gugup, ini misi pertamaku, dan ini misi yang berat.
“Kau adalah agen ganda, Jimin. Kau bertugas untuk membunuh Min Donghyun dan kau juga bekerja di badan intelejen Korea Selatan. Jaga sikapmu, dan berhati-hatilah, karena jika kau sampai ketauan kami akan menutup akses bagimu untuk pulang. Dengan kata lain, terpaksa kami tidak akan menganggapmu bagian dari kami, dan otomatis kau dihapus.

Dihapus..

Kata yang memang cukup mengancam bagi kami, agen-agen didikan tuan Kang. Dulu, saat usiaku baru 10 tahun, ada seorang pemuda bernama Jaebum yang mendapat misi untuk memata-matai badan intelijen Korea Selatan. Dia gagal, karena tertangkap basah tengah memasang alat penyadap. Otomatis dia dihapus dari organisasi kami, memang begitu aturannya, jika kau tertangkap jangan pernah menyebut nama Korea Utara apalagi menyeret nama tuan Kang.

Aku tidak boleh mati konyol atau tertangkap hanya karena hal bodoh dan kesembronoan. Seperti yang Jaebum dulu perbuat.

Aku ini cerdik, setidaknya aku bisa memanfaatkan kecerdikanku serta wajah malaikatku untuk menyamar. Wajah malaikat, itu julukan dari tuan Kang padaku, dia bilang wajahku adalah tameng yang kuat untuk menjalankan misi berbahaya nantinya. Tentu saja, dengan senyuman yang selalu terlihat tulus, serta tingkah laku yang sopan dan manis juga kecerdasan yang aku miliki, aku bisa menjalankan misi ini dengan mulus. Walaupun aku belum pernah menjalankan misi apapun sebelumnya, setidaknya aku sudah memiliki banyak persiapan dan beberapa kelebihan.

“Kau mengerti?”
Aku mengangguk, mengisyaratkan bahwa aku paham. Namjoon tersenyum lalu menepuk pundakku sekilas. Mata tajamnya kini bertemu dengan mataku.
“Aku berharap kau berhasil dan bisa pulang dengan selamat.”

-The Missing Bullet-

Sudah sore, pikirku sambil menengadah ke langit yang kini dihiasi semburat merah lembayung senja. Tumben, padahal hari ini seharusnya salju turun menurut ramalan cuaca yang kutonton pagi tadi. Ramalannya meleset, payah sekali. Cuaca memang cerah walau suhu merosot cukup tajam sampai 5⁰C sore ini, mungkin salju akan turun tengah malam. Baguslah, jadi aku tidak perlu repot-repot membersihkan tumpukan salju dari motorku yang terparkir di halaman kampus.

“Hoseok-a aku duluan ya!”
Ujarku pamit sambil melambaikan tanganku sekilas pada Hoseok yang tengah sibuk mengobrol dengan para seniorku di tepi lapangan. Seketika Hoseok menoleh dan menyahut, sangat keras hingga membuat seisi lapang hening dan memperhatikan kami. Aduh anak itu, bisakah dia pelankan suaranya sedikit saja?

“Heh Yoongi-a! Mau kemana? Tumben mau pergi. Kau tidak akan ikut makan-makan di Massitta? Seokjin hyung yang bayar.” Seru Hoseok dengan volume suara semakin naik, aku agak meringis namun aku tetap nyengir sambil menatap wajahnya yang kini senyum-senyum aneh.

“Tidak aku harus pulang. Katakan pada Seokjin hyung bahwa aku minta maaf oke? Lain kali saja, janji.”
Dengan tatapan kecewa Hoseok mengangguk. Aku tersenyum dan beranjak dari tribun lapangan menuju tempat parkir. Aku sedang benar-benar malas untuk pergi-pergi petang ini, kuliah dan menghadiri berbagai macam kegiatan memang melelahkan. Satu hari yang sibuk. Terkadang aku menyesal menjadi mahasiswa aktif di kampus.

Udara berubah semakin dingin. Lebih baik aku pulang sebelum salju turun. Begitu aku menemukan motorku dilapang parkir aku segera tancap gas dan pulang.

-The Missing Bullet-

Akhirnya aku sampai rumah tepat saat salju mulai turun.

Begitu aku selesai memarkirkan motorku digarasi aku segera masuk kedalam rumah. Ah, suhu merosot tajam dalam kurun waktu dua jam terakhir. Cuaca ekstrem, aku benar-benar tidak suka ini.

Dengan langkah pelan aku menaiki undakan tangga menuju pintu, sambil meringis kedinginan aku lalu membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Aduh, kalau ada orang jahat yang ingin merampok mereka pasti bisa masuk dengan mudah.

“Aku pulang.”
ucapku sambil membuka sepatu dan menaruhnya dirak. Hening, apa ayah sedang tidur? Pikirku sambil berjalan masuk ke ruang tengah. Tak lama aku mendengar suara gedebuk pelan dilantai atas, itu mungkin ayah atau Jiyoung.

“Sudah pulang? Tumben.”
Aku mendongak ke asal suara, bisa kulihat sosok adikku tengah memperhatikanku dari anak tangga, ternyata dia yang membuat bunyi gedebuk itu. Surai hitamnya nampak agak acak-acakan, dia menatapku dengan tatapan heran.

Kenapa semua orang mengganggapku aneh kalau aku pulang cepat?

“Udara dingin sekali, aku malas kalau nyetir sambil dihujani salju. Bisa repot.”
Ujarku lalu duduk disofa dan menyalakan tv, berharap ada acara bagus malam ini.

“Ah iya, ayah mana? Sedang tidur?”
Tanyaku seiring langkah Jiyoung yang terdengar mendekat, namun langkahnya bergerak menuju dapur.
“Ayah pergi menemui klien-nya.”
Jawabnya singkat sambil membuat suara berisik dari benda-benda besi dan perak, entah sedang apa.
“Tidak biasanya.”
Komentarku sambil melirik ke dapur. Kulihat Jiyoung tengah memunggungiku, seperti sedang melakukan sesuatu. Memasak mungkin.
“Ayah bilang kita makan Sup dan bento malam ini. Tinggal hangatkan saja. Kakak mau sup Tahu? Apa Kimchi-jjigae?”

Tumben sekali ayah menemui klien malam-malam begini.

“Kak, kakak tidak dengar ucapanku?”
Aku agak terperanjat kaget begitu Jiyoung menyahut dengan kesal padaku. Kini dia berdiri disamping sofa, alisnya tertekuk.

“Ah, Kimchi-jjigae saja ya.” Ujarku terburu. Jiyoung mengangguk singkat, lalu berjalan menuju dapur dengan gerutuan tidak jelas. Dia pasti mengeluhkan reaksiku tadi.

Sebenarnya, sebagai anak ayah yang sudah menjadi mahasiswa tingkat dua bukanlah perkara sulit bagiku untuk mendeteksi kebohongan ayah. Aku tau dengan pasti, ayah bukanlah seorang programmer seperti yang kami—aku dan Jiyoung—ketahui selama ini. Mana mungkin ada programmer game atau software yang mempunyai data-data rahasia yang di-protect di laptopnya. Tentu itu file pribadi ayah, tapi, apa pantas kalau file itu selalu ayah berikan rutin pada orang asing yang mengaku dari perusahaan software? Kenapa se-begitu rahasianya?

Bahkan, Aku pernah sekali mencoba membuka file-file aneh itu, namun ayah selalu memasang kode yang rumit. Dan setiap aku bertanya apa isinya, ayah pasti mengatakan hal yang sama.

“Ini bahan software milik ayah, ayah tidak mau ada yang mencuri hasil karya ayah.”

Awalnya aku percaya, tapi, seiring berjalannya waktu aku semakin curiga ayah bohong. Pernah suatu ketika aku memergoki ayah sedang bicara di telpon, entah dengan siapa, tapi dari sedikit yang kudengar ayah berbicara gusar pada orang tak kasatmata diseberang sana.

“Tidak mungkin file-file Negara diretas semudah itu.”

Diretas?

File Negara?

Semenjak saat itu aku selalu berpikiran yang tidak-tidak tentang pekerjaan ayah, dan juga semua hal yang terjadi pada keluarga kami. Ibu kami, contohnya. Yang kami tau adalah bahwa ibu kami meninggal karena kecelakaan pesawat. Aku sendiri tidak begitu paham, usiaku masih delapan tahun saat itu, dan adikku masih berusia lima tahun. Saat itu benar-benar menjadi masa sulit bagi kami. Terutama bagi ayah.

Aku masih terlalu muda untuk mengerti saat itu, tapi yang jelas, Jasad ibu tidak pernah kembali ke rumah untuk dikremasi atau untuk melewati upacara pemakaman apapun. Tidak pernah, bahkan sampai saat ini. Dan mau tak mau tragedi yang menimpa keluarga kami itu terkadang aku sangkut pautkan dengan sikap aneh, dan pekerjaan aneh ayah.

Otakku bekerja semakin keras hingga membuat kepalaku pening. Ah, sudahlah Min Yoongi, kau butuh istirahat dan santai, kasihanilah otakmu yang sudah bekerja terlalu keras selama kelas berlangsung dan terjepit helm sempit itu selama berjam-jam. Masa iya kau mau menambah beban lagi untuk otakmu? Oh Ayolah.

Aku menghela nafas panjang dan berusaha rileks. Acara televisi benar-benar tidak menyita perhatianku, aku hanya menatap ke layar yang kini menampilkan acara music atau apalah itu, tapi pikiranku berputar cepat seperti gasing didalam kepalaku.

Sepertinya selesai makan aku harus mandi air hangat dan tidur.

“Kak ayo makan!” Seru Jiyoung dari meja makan. Aku menoleh padanya dan mengangguk, lalu bangkit dari sofa dan berjalan malas menuju meja makan.

-The Missing Bullet-

Jadi ini ya Korea Selatan itu.

Aku tersenyum tipis begitu turun dari undakan pesawat yang kunaiki. Pesawat? Jangan konyol, mana mungkin dari Korea Utara naik pesawat sampai sini. Tuan Kang sengaja membuat kedatanganku ini seolah dari Bandara Haneda, Jepang. Untuk apa? Hanya untuk membuat orang-orang intelejen tidak menaruh curiga padaku.

Suasana Bandar Udara Incheon tidak begitu penuh. Seperti ekspektasiku, datang pukul 12 malam memang saat yang tepat. Setidaknya aku tidak perlu berdesakan atau mengantri panjang, aku bisa sedikit lebih santai.

Aku berjalan menuju petugas bandara untuk mengambil koper serta melewati pemeriksaan passport. Aku jelas tidak perlu khawatir soal itu, karena aku datang kesini dengan penyamaran dan persiapan yang sedemikian rupa. Passport, tempat tinggal, dan semua dokumen tentangku sudah dipersiapkan dengan baik. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah pada eksekusinya saja.

Passport anda tuan?”
Aku tersenyum pada petugas yang menyambutku di perbatasan menuju pintu keluar. Aku menyodorkan tangan kanan, dimana passport palsuku dengan rapi tergenggam. Si petugas dengan ramah menyambutnya, lalu memeriksanya dengan teliti.

Aku agak menahan nafas gugup, yah, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya aku menghadapi hal seperti ini. Bisa saja si petugas ini tau kalau passport yang kuberikan adalah palsu. Jika ketauan, maka berakhirlah misiku sampai disini.

“Ya, silahkan ambil koper anda di sana tuan.”

Haha, khayalanku tadi benar-benar tak berdasar. Dengan senyum ramah khas petugas, dia menyerahkan kembali passport-ku yang sudah dibubuhi cap. Aku menerimanya lalu menguntai senyum dan berjalan menuju tempat dimana tas dan koper-koper dikeluarkan dari kargo.

Sambil menggeret koper hitam milikku aku segera meninggalkan bandara menuju Seoul. Di luar bandara—sesuai instruksi—sudah ada salah satu taksi bayaran yang akan mengantarku ke tempat tinggal sementara. Kata Namjoon aku akan tinggal di salah satu apartemen mewah dikawasan Gangnam. Aku tidak mengerti, kenapa tidak membeli rumah murah disisi kota saja, daripada apartemen yang ramai dan banyak orang.

Begitu sampai dipekarangan luar bandara aku segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apa yang itu? Terka-ku lalu berjalan mendekati taksi yang terlihat wajar itu. Tapi hanya ada satu taksi disini, jadi kemungkinan besar taksi itulah yang akan mengantarku.

Semakin berjalan mendekat aku bisa lihat ada seorang pria paruh baya yang berdiri disisi pintu pengemudi. Sambil menarik nafas aku berjalan menghampiri pria tua itu, langkahku bergema dijalanan yang sepi itu. Tak butuh waktu lama untuk membuat pria itu sadar akan kehadiranku, begitu jarak antara kami hanya tersisa tiga meter, si pria menoleh.

Aegukka.” Ucapku dengan pelan, namun aku yakin pasti terdengar hingga ke telinga pria tua itu. Benar saja, kini dia menatapku tajam dan mengangguk pelan.
Aegukka, adalah kata sandi yang diberikan oleh Tuan Kang padaku, Aegukka. Kata yang sederhana, yang berarti ‘lagu kebangsaan’, mungkin agak aneh jika dijadikan kata sandi, namun yang pasti tidak mungkin mengundang kecurigaan.

Aku menunggu balasan si pria tua, perasaan gugup kembali menyergapku. Tapi, tidak mungkin aku salah orang kan?

Kang seong dae guk” Balasnya. Ah, berarti aku tidak salah. Sesuai instruksi, jika aku menyebutkan kata sandi maka harus dibalas dengan kata sandi lanjutan. Kang seong dae guk, adalah motto Negara kami, yang berarti ‘negara makmur dan besar’. Lagi-lagi kata sederhana dan familiar.

Si pria tua mengulum senyum, aku lega dan berjalan masuk mobil dengan tenang. Begitu supir bayaran itu memasukan koperku ke bagasi, kami lalu segera meninggalkan Bandara Incheon.

Dari Incheon menuju Seoul memang lumayan memakan waktu, sebenarnya lebih efisien menggunakan kereta, tapi mana mungkin, aku tidak kenal rute kereta ataupun jalanan disini.

Selama diperjalanan menuju Seoul aku disuguhi pemandangan yang benar-benar asing bagiku. Aku terpukau oleh megahnya Negara ini, dan kota-kota besarnya yang maju. Gedung pencakar langit, mobil-mobil bagus, dan keramaian kota yang hangat seolah dipamerkan sengaja kepadaku yang datang dari Negara yang suasananya bertolak belakang dengan Korea selatan ini. Mau tak mau aku akui aku iri melihat semua pemandangan ini.

Memang, Negara kami tertinggal, tidak ada kesenangan apalagi hura-hura bagi warga Negara Korea Utara. Setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan sejak kecil hanya didoktrin untuk membenci Negara-negara berhaluan liberal. Sama sekali tak ada kesenangan khas masa kanak-kanak bagi kami, yang ada hanya bagaimana terus memperkuat diri untuk melawan invasi asing.

Bahkan Setiap anak dilatih memegang senjata..

Aku pandangi lampu-lampu jalan yang berkedip seperti kunang-kunang. Aku menghela nafas sambil memperhatikan sekelebatan orang-orang disisi jalan yang terlihat sibuk dan bahagia. Mereka masih bisa pergi jalan-jalan keluar di malam hari dengan wajah cerah begitu. Kurasakan gelenyar amarah tanpa sebab mulai membakar diriku, kenapa bisa ada situasi yang benar-benar timpang begini? Mereka bisa pergi makan dan membawa anak mereka jalan-jalan sementara disaat yang sama banyak saudara mereka yang serumpun makan seadanya.

Aku tau ini bukanlah salah mereka sepenuhnya, ideologi lah yang salah. Ideologi-lah yang berhasil memecah belah kami, dan tentu saja keegoisan kedua belah pihak yang saling berseteru juga menjadi penyebab terpuruknya Negara kami.

Jadi, salahkah aku jika ingin melindungi negaraku?

Akan aku lakukan apapun, Jika dengan membunuh bisa membuat negaraku makmur dan aman aku akan melakukannya. Dan jika aku yang terbunuh? Aku akan menerima resiko itu dan mati dengan bangga karena tengah berjuang untuk negaraku.

-The Missing Bullet-

“Kau masih muda ya.”

Aku tersenyum pada seorang wanita yang kini tengah membaca biodata milikku dengan serius. Wanita itu berulang kali membolak-balik kertas sebanyak 15 lembar itu dengan cepat, nampaknya dia tidak percaya dengan data-data yang tertera disana.

“Pernah bekerja di pemerintahan juga. Pantas saja kau mendapat rekomendasi.” Lanjutnya, aku hanya tersenyum sopan menanggapi ucapannya. Hah, apanya yang bekerja di pemerintahan? Tak kusangka tuan Kang merancang ini semua sedemikian rupa agar terlihat meyakinkan. Aku terkesan.

“Bekerja di badan Intelejen memang bukan hal yang mudah tuan Park. Tapi aku yakin kau bisa melakukannya, tugasmu mudah, hanya memastikan dokumen Negara tetap aman.”

Aku menatap wajah wanita itu, lalu mengangguk sedikit. Tapi pikiranku berputar. Bagaimana caranya untuk bertemu Min Donghyun jika tugasku hanya menjaga dokumen?

“Hanya itu tugasku, nyonya Byun?” Tanyaku, sambil melihat name tag si wanita itu sekilas.

Oh, Namanya Byun Soo Hee.

“Sejauh ini hanya itu dulu. Anggaplah ini masa percobaan selama satu bulan. Kau bisa mulai bekerja besok.”

Oke, aku harus benar-benar bersabar.

“baiklah, terimakasih atas pertimbangan anda, nyonya Byun.”
Ucapku sambil membungkuk dalam, si wanita lalu berdiri dan balas membungkuk. Begitu selesai, aku lalu pamit dan meninggalkan ruangan nyonya Byun sambil mengulas senyum. Pintu terayun dibelakangku begitu aku melangkah keluar. Suasana badan intelijen ini Nampak normal, seperti kantor-kantor pada umumnya. Orang-orang berlalu lalang, front office yang sibuk dengan telepon, dan beberapa pria yang asyik berbincang dikursi sudut.

Sepertinya akan membosankan.

Kufokuskan pandanganku ke depan, tepat kearah pintu keluar yang terbuka lebar. Sejenak mataku menyipit begitu menjatuhkan fokusku pada seorang pria yang tengah berjalan beberapa meter saja dihadapanku, namun aku tetap bersikap tenang begitu si pria berjalan melewatiku begitu saja dan masuk ke dalam.

Apa itu Min Donghyun?

Aku menoleh sekilas dan menatap punggung pria itu yang kini mulai berjalan menjauh. Dari profil yang terlihat, itu memang sangat dia. Hah, nasib baikku, aku tak perlu susah-susah mencari, dia datang dengan sendirinya.

Aku lalu berjalan menuju pelataran parkir, lalu segera masuk ke mobil. Mobil? Ya, tak disangka begitu aku sampai apartemen semalam aku baru tau kalau aku juga difasilitasi mobil pribadi oleh tuan Kang.

Apa aku harus menunggu sampai Min Donghyun keluar?

Kuhabiskan waktu sekitar satu jam untuk menunggu hingga pria itu keluar dari sana. Satu jam berlalu dan akhirnya yang aku tunggu pun muncul juga. Min Donghyun berjalan keluar dari gedung dengan agak terburu, aku lalu menyalakan mesin mobil sambil memperhatikannya dari jarak lumayan.

Apa aku bunuh dia sekarang? Ah, tidak, jangan disini, lagipula aku belum mendapatkan informasi apapun dari pria ini. Sebaiknya aku menunggu sedikit lagi hingga tiba saat yang tepat.

Donghyun lalu berjalan ke pelataran parkir, bisa kulihat dia masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir cukup jauh dari mobilku. Begitu mobilnya berjalan cukup jauh dariku, aku lalu tancap gas dan membuntutinya.

-The Missing Bullet-

“Jiyoung-a ini daftar yang harus dibawa besok, untuk praktikum.”
Aku menoleh kearah rekan satu kelompokku, Jeon Jungkook. Dia kini berdiri disisi bangkuku sambil menyodorkan selembar kertas, dia mengedikkan bahu sebagai isyarat agar aku mengambilnya.

“Ah iya, terimakasih. Oh iya Bisa kau beri tau Seowoo juga? Besok dia masuk sekolah.” Pintaku pada Jungkook, kulihat Jungkook tersenyum sambil mengangguk riang. Dia lalu mengambil ransel dan menentengnya di bahu.

“Tentu, aku akan mampir ke rumahnya hari ini, aku juga akan mampir ke rumah Jeongmin, untuk mendiskusikan praktikum besok. Mau ikut? Kami juga akan pergi makan Ddokpokki di kedai.”

Jungkook nyengir cerah padaku, dia memang begitu, selalu menyempatkan diri mampir ke kedai Ddokpokki di Namdaemun bersama teman-temanku yang lain. Kedai itu sudah seperti tempat nongkrong bagi siswa-siswi SMA seperti kami. Aku juga sering mampir kesana, Ddokpokki-nya memang enak.

Namun aku menggeleng..

“Maaf aku tidak bisa ikut dengan kalian hari ini, ayahku akan datang menjemput, aku harus segera pulang.” Ujarku sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas. Bisa kudengar Jungkook mengeluh.

“Ah gak asik, kita sudah lama tidak makan disana. Kau yakin tidak ikut? Yuri dan Jieun juga ikut kok.”

Aku menggeleng sekali lagi, lalu tersenyum pada Jungkook. Sejenak anak itu mendengus, aku tertawa.

“Pergilah tanpa aku, lagipula disana ada Jieun kan?”
Mata Jungkook lalu membulat begitu mendengar nama Jieun disebut, dia lalu menepuk pundakku, sebagai isyarat supaya aku diam.

“Ssst! Kau ini jangan buat aku grogi begitu.”
Aku tertawa melihat Jungkook mulai panik dan wajahnya memerah. Dia memang suka Jieun sejak kelas satu, dan kerennya cuma aku yang tau rahasia seorang Jeon Jungkook.

“Aku hanya memancingmu. Ya sudah aku duluan ya! Semoga sukses.”

Kutepuk bahu Jungkook sambil lalu, aku tertawa sambil berjalan keluar kelas. Sebenarnya aku ingin ikut dengannya ke kedai dan makan-makan, tapi ayah sudah menunggu di pelataran parkir. Mana mungkin aku pergi begitu saja kan?

Begitu aku keluar dari gedung sekolah aku segera mencari mobil ayah. Ah tas ini berat sekali, pundakku jadi sakit karena berjalan sambil menenteng tas ini, untung saja ayah jemput, kalau aku ikut Jungkook ke Namdaemun bisa-bisa pundakku remuk.

Begitu menemukan mobil ayah aku segera percepat langkah kakiku. Aduh aku benar-benar ingin segera duduk dan melempar tas ini ke kursi belakang.

-The Missing Bullet-

Oh, jadi itu putri Min Donghyun.

Kuperhatikan seorang gadis berseragam SMA berjalan menghampiri pria setengah baya itu dengan ceria. Gadis itu persis dengan foto yang diberikan Namjoon padaku, hanya potongan rambutnya saja yang terlihat agak lain. Gadis itu cantik, dia memiliki tatapan tegas ayahnya, kulitnya terlihat lebih bersih daripada yang kulihat difoto, rambutnya juga terlihat lebih gelap.

Apa aku bunuh gadis itu juga?

Kuarahkan pistol yang memang sudah kupersiapkan sedari tadi ke arah mereka berdua. Kupicingkan mataku agar sasaranku tidak lepas. Si gadis tak perlu mati, cukup ayahnya saja.

Kugeser sedikit bidikkanku tepat ke kepala sang ayah. Satu peluru saja cukup untuk membunuhnya. Satu tembakan dikepala, dan semuanya akan segera selesai.

Cukup Satu peluru saja..

-To Be Continue-

Akhirnya beres! Butuh waktu dan suasana tenang buat menyelesaikan ff ini :’) kalau belum maksimal maafkan aku ya, tapi tetep dong, komen wajib banget di post ya! Supaya next chapter lebih semangat nulisnya. Aku harap kalian suka ff geje dan kurang greget ini, aku akan berusaha supaya lebih greget wkwk

-Caramel Kim-

Advertisements