Tags

, , ,

.

.

.

Author: Julian Yook | Cast: Hoseok (J-Hope) , Taehyung (V), Jimin, Yang Yo Hyun (OC), Eun Kyo (OC) | Genre: AU, Romance, Marriage life | Length : Chaptered | Rate: PG – 17!

Jimin terperanjat. Ia melihat Taehyung sedang bersandar pada bilik. Rasanya ia pernah mengalami ini… tapi ia tidak bisa ingat apa yang terjadi selanjutnya. Semakin mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa sakit.

[Chapter 4]

how i married

 

“Kau baik-baik saja?”

Taehyung menoleh. Bibirnya terlihat mengenyam udara, menelan ludah dengan susah payah. Ini sudah sekitar sepuluh menit semenjak ia tiba di depan pagar rumah Hoseok. Tidak ada yang dilakukannya selain membuat Eun Kyo duduk di kursi penumpang dengan khawatir.

“Kita bisa datang lain kali kalau kau belum siap.” Eun Kyo melongok keadaan sekitar melalui kaca depan. “Lagi pula ini sudah malam. Kau pasti kelelahan bekerja.”

Taehyung hanya melihat sekeliling dan terhenti pada pagar-pagar kayu kokoh. Tanaman semak tinggi mengelili rumah Hoseok. Pemandangan di depan jendela kacanya itu benar-benar indah sekaligus menyakitkan. Ia ingat bagaimana pertama kali memasuki rumah mewah Hoseok. Dulu Taehyung baru punya sepeda motor hasil menabung dari gajinya yang dikumpulkan dengan susah payah. Tapi sial, dengan konyolnya ia menabrakkan sepeda motor itu pada tanaman semak tinggi. Benar-benar mengenaskan hingga ia berpikir mungkin begitulah caranya mati. Lalu suara berteriak Hoseok terdengar berdenging di telinganya. Bersatu dengan kata-kata penuh khawatir. Taehyung tersenyum kecil mengingat kondisinya waktu itu. Kepala dan rambutnya yang tebal tersangkut dedaunan. Seolah-olah ia sedang dengan nafsu memeluk semak itu sampai-sampai ingin menembusnya dengan kekuatan setan.

Lalu sekarang?

Taehyung akan kembali melintasinya, entah untuk yang terakhir kali atau bukan. Yang ia rasakan adalah seluruh badannya tiba-tiba saja dingin. Ia beralih memandang Eun Kyo yang tersenyum di sampingnya, memiringkan kepala meminta kejelasan. “Pulang?”

Taehyung menggeleng. “Aku harus menyelesaikannya sekarang.”

“Baiklah.”

Taehyung melepas kunci mobil. Ia memandang Eun Kyo beberapa saat. “Kau ikut denganku.”

-HIMMAH-

Hoseok berhak mengetahui wanita macam apa yang kelak Taehyung nikahi, begitulah pikir Taehyung. Jadi, ia cukup berani membawa Eun Kyo masuk bersamanya, meski di intercom ia meminta Eun Kyo untuk tidak menampakkan diri.

“Taehyung! Silahkan masuk!” suara digital Hoseok terdengar bersemangat. Perlu Taehyung akui itu cukup membuatnya merasa bersalah. Mungkin beberapa menit yang akan datang suara itu akan berubah. Dan Hoseok seharusnya tidak usah sesemangat itu.

Taehyung berjalan berdua dengan Eun Kyo pada jalan setapak. Semen yang kokoh beradu dengan sepatunya. Ia tidak tahu apakah Hoseok berada di balik jendela dan kaget melihatnya datang bersama seorang wanita. Tapi Taehyung berpikir bahwa itulah yang memang seharusnya Hoseok lihat.

Taehyung melirik Eun Kyo sekilas. Tampaknya wanita itu tidak terlalu membesarkan masalah. Langkahnya terkesan santai, sedangkan kepalanya beredar dengan penuh takjub. Memandangi air mancur klasik di pekarangan, berbagai pot berisi bunga-bunga berwarna cerah, rumput-rumput gajah terhampar kecuali pada tempatnya berpijak. Pandangannya menjadi lebih takjub ketika mendapati sebuah semak berbentuk cupid.

“Apa dia suka berkebun?”

‘”Terkadang, kalau ia punya waktu luang.”

“Dia sibuk, ya….”

Taehyung berpikir, kenapa Eun Kyo tidak secemas dirinya saat ini waktu datang ke rumah Seung Jin? Padahal jelas-jelas dengan sekali bertemu saja, Taehyung bisa menyimpulkan bahwa Seung Jin punya tabiat yang sangat buruk. Emosinya meluap-luap seperti ia bukan wanita, dan Taehyung bingung, kenapa wanita semanis Eun Kyo bisa tahan berlama-lama dengan Seung Jin? Padahal di luar sana tentu masih banyak lelaki yang bisa bersabar dan lebih memperlakukan Eun Kyo dengan baik.

Seperti dirinya?

Mungkin.

Taehyung mengangkat bahunya tidak sadar. Tibalah ia di depan pintu besar berwarna coklat yang dua belahnya tertutup dengan rapat. Gerendel pintu didorongnya kuat-kuat, lalu pemandangan mewah langsung saja terperangkap oleh dua pasang mata mereka. Bukan suatu hal asing bagi Taehyung, tapi bagi Eun Kyo mungkin iya. Tangga kembar di sisi kiri dan kanan tampak seperti yang sering ia lihat di film-film. Lalu langit-langit yang tinggi, serta lampu gantung kristal, makin saja membuatnya berdecak kagum. Mereka melangkah masuk, melewati ruangan besar itu dengan berbagai foto berbingkai emas menghiasi dinding. Entah itu emas asli atau bukan, tapi Eun Kyo rasa Hoseok ini benar-benar orang kaya! Rasanya sangat pantas jika Hoseok menjadi seorang perancang busana, seleranya memang sangat tinggi!

“Hoseok!” Pandangan Taehyung beredar, melihat sekeliling. “Hoseok!”

“Sepertinya ia sedang berada di ruang kerja,” ujar Taehyung pada Eun Kyo, dengan suara yang lebih rendah.

Mereka kemudian menaiki tangga berkelok dan tiba di dalam ruang Hoseok bersama-sama. Lelaki itu sedang duduk di ujung ruangan. Sibuk manatap kertas di meja, sementara tangannya menggenggam pensil berwarna kuning.

“Hoseok? Kau sedang sibuk?”

“Oh, Taehyung, masuklah,” sahut Hoseok, tanpa sekali pun memindahkan fokus. Ia hanya mendorong tungkai kacamatanya yang sedikit merosot. “Aku sedang merancang beberapa pakaian.”

Taehyung dan Eun Kyo kemudian masuk dengan hati-hati. Mereka menarik kursi di depan meja kerja Hoseok. Lelaki itu sama sekali belum menyadari bahwa kali ini Taehyung datang dengan seorang wanita. Barulah ketika mendongak, semuanya menjadi semakin jelas. Hoseok melepas kacamatanya, meletakkan pensil begitu saja di atas meja.

“Hoseok, ini … aku ingin memberitahumu.”

“Aku mengerti, Taehyung. Jadi siapa namanya?”

Taehyung mengembuskan napas kecil. Ia melirik Eun Kyo. Mata wanita itu tampak kikuk, lalu perlahan kepalanya menunduk, memandang tangannya sendiri yang sibuk meremas ujung baju.

“Namanya … namanya Eun Kyo. Kim Eun Kyo.”

Eun Kyo menggigit bibirnya dengan canggung. Ia kemudian menatap wajah Hoseok dengan takut. Jujur, wanita itu merasa tidak enak. Entah untuk alasan apa. Hanya saja ia merasa begitu rendah. Seorang seperti Hoseok yang punya segalanya harus digantikan oleh Eun Kyo. Wanita biasa yang bekerja sebagai karyawan kantor biasa. Untuk beberapa saat ia mengerti, mengapa berat rasanya Taehyung melepaskan diri dari semua ini.

Ini terlalu indah. Hoseok punya segalanya. Dari tatapan pertama saja Eun Kyo bisa menilai bahwa lelaki itu sangat ramah, apalagi jika tidak ditempatkan pada situasi seperti ini.

“Ja-jangan khawatir, aku seorang lesbi. Pernikahan kami ti-tidak akan seperti yang kau pikirkan,” ujar Eun Kyo tiba-tiba. Seolah-olah dengan begitu ia bisa membuat Hoseok merasa lebih baik. “Aku … tidak akan merebut apa yang sepantasnya milikmu, ma-maafkan aku.”

Namun prediksinya salah.

Ia hanya mendengar sebuah tangis yang tiba-tiba saja pecah di bibir Hoseok. Eun Kyo panik, dan taehyung di sampingnya sama sekali tidak membantu. Lelaki itu hanya menampilkan ekspresi panik yang tidak kalah hebat, lalu dengan bodoh dua sudut bibirnya jatuh. Dan… ia menggebuk meja seperti orang kesurupan.

Yang benar saja? Adakah orang normal di ruangan ini?

Pandangan Eun Kyo beredar dengan kacau. Ia melihat sekeliling tapi tak punya ide bagaimana harus menyelesaikan itu semua. Sementara di sisi lain suara tangis Hoseok semakin nyaring, memenuhi rongga telinga.

“Taehyuuung! Aaa, hkhkhkh… kenapa ini semua harus terjadi!” raungnya.

“HOSEOKKK! HHH! NGGG! AKU JUGA TIDAK TAHU. Hkhkhkhkhh.”

Hoseok terus terisak. Dua tangannya mengusap air mata berkali-kali.

“KENAPA INI SEMUA HARUS TERJADI PADA KITA BERDUA. AHHRRRRGGG!”

Dan tidak ada yang lebih buruk di hidup Eun Kyo selain menyaksikan romansa cinta antar sepasang lelaki, terlebih dengan kondisi seperti ini. Akhirnya karena kepalang frustasi, Eun Kyo menggeret lengan Taehyung dan menyeret lelaki itu ke arah pintu. Mungkin pulang adalah pilihan yang paling tepat.

“TAEHYUUUNG!” jerit Hoseok dengan tangan menggapai-gapai.

“HOSEOOOK!”

Eun Kyo mengeratkan genggamannya di lengan Taehyung, menyeimbangkan gerak lelaki itu yang bersikeras meraih Hoseok.

“TAEHYUNG!”

“HOSEOOOK!”

Taehyung melangkah mundur mengikuti seretan Eun Kyo dengan terseok-seok. Sampai tiba di halaman rumah dan pemandangan ganjil itu masih berlangsung.

“TAEHYUNG!”

“HOSEOK!”

“TAEHYUUUNG! Jaga dirimu baik-baik!”

“HO-HOSEOOOK!”

Eun Kyo mengembuskan napas lelah. Ia menangkupkan tangannya, berdoa sambil melihat langit… semoga saja ke depannya ini semua bisa lebih normal.

-HIMMAH-

Taehyung mengusap pipinya kemudian memutar kunci mobil. Ia melirik ke arah Eun Kyo dan tersenyum.

“Itu tadi sangat menyedihkan,” ucapnya serak, sambil mengangkat bahu.

Eun Kyo hanya bisa mengangguk pasrah dan menunduk. Deru mobil Taehyung terdengar, berlalu meninggalkan kediaman Hoseok dan sosok tidak diketahui yang berdiri di balik pohon. Orang itu mengintip dan melihat mobil hitam Taehyung sudah berjalan semakin jauh. Plat nomornya terlihat jelas disoroti lampu kecil, membuat sosok itu yakin. Mobil tersebut benar-benar milik Taehyung.

Sosok itu kemudian duduk bersandar di bawah pohon. Ia mengeluarkan sebuah macbook dari tas. Sinar dari layar menyiram wajahnya di antara kegelapan. Ia sibuk mengetik sesuatu dengan cepat.

Main Target: Kim Taehyung.

Fate: Kim Taehyung akan menikah dengan Yang Yo Hyun pada tanggal empat Juni. Eun Kyo akan menikah dengan Park Jimin pada tanggal empat Juni. Semua orang yang hadir pada pernikahan mereka tidak akan sadar dengan pertukaran ini. Termasuk teman kantor mereka.

Kim Taehyung, Park Jimin, Eun Kyo dan Yang Yo Hyun juga tidak akan menyadari ini. Satu minggu pertama mereka akan menjalani hidup layaknya pengantin baru. Namun setelah itu, Kim Taehyung dan Eun Kyo akan sadar. Hanya Kim Taehyung dan Eun Kyo saja. Park Jimin dan Yang Yo Hyun tetap menganggap ini normal.

Reason this fate have to be granted: Kim Taehyung dan Kim Eun Kyo harus menikah dengan orang normal yang tidak tahu apa-apa tentang orientasi mereka. Saya ingin mereka belajar mencintai dan tidak menipu diri.

Setelah membaca ulang dan menimbang-nimbang, akhirnya sosok itu merasa mantap. Ia mengklik tombol “GRANTED” dan macbooknya tiba-tiba padam dengan bunyi pssst. Tak lama kemudian layar itu kembali menyala dan sebuah tulisan berwarna putih terlihat mencolok, berkedip-kedip di antara latar hitam.

“PERMINTAAN DITERIMA.”

Ia melepaskan napas yang tertahan dengan lega. Melihat rumah besar Hoseok sekilas dan berlalu meninggalkan tempat itu.

-HIMMAH-

“Jadi kapan kau akan menikah dengan Eun Kyo?”

Park Jimin menoleh sambil memutar pulpennya. “Tanggal empat Juni nanti.”

Taehyung mengangguk mengerti dan meletakkan beberapa map di meja kerja Jimin.

“Kau sendiri, Taehyung? Kapan menikah dengan Yang Yo Hyun?”

“Tanggal empat Juni juga. Sudah kuduga tanggal menikah kita sama, kan.”

Jimin terbengong sebentar, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Ada yang aneh dari tanggal empat Juni, tapi ia tidak mengerti itu apa.

“Hey, Jimin. Kalau begitu selamat atas pernikahanmu. Semoga kau bisa bahagia dengan Kim Eun Kyo!”

Jimin terperanjat. Ia melihat Taehyung sedang bersandar pada bilik. Rasanya ia pernah mengalami ini… tapi ia tidak bisa ingat apa yang terjadi selanjutnya. Semakin mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa sakit.

“Ta-Taehyung…,” ia meringis, “selamat juga untuk pernikahanmu dengan Yang Yo Hyun. Maaf aku tidak bisa datang nanti. Aku mau menikah di Busan.”

Rasanya aneh ketika bibir Jimin menyebut nama itu. Yang Yo Hyun. Seakan-akan ada memori yang hendak berkelebat tapi tidak jadi. Yang tersisa di benaknya hanyalah kesan pemalas dan wajah datar. Seakan ia kenal dengan sosok yang tidak bergairah hidup.

“Selamat menikah dengan Yang Yo Hyun. Si penderita distimia,” gumam Jimin sadar tidak sadar, pelan.

To be Continued

[1] Distimia adalah sebuah sebutan psikologi bagi ia yang datar emosinya. Tidak pernah girang dan tidak pernah sedih. (sumber: @PIDJakarta)

Advertisements