Tags

, , ,

BU0Vz97CEAIceil

Alone
Caramel Kim Storyline

-Casts : Kim Namjoon (BTS)-Other Casts : Another BTS’s Members-Genre : School’s Life, Friendship-Length : One shoot-PG Rating : All Ages-

Ada saatnya
Dimana kau harus merenungkannya
Sendirian…

-Alone-

Setiap hari sama saja bagiku.
Sekolah telah berakhir, masa SMA-ku pun telah berakhir. Kini yang aku lakukan hanya berdiam diri dirumah sambil menanti pengumuman masuk Universitas. Membosankan? Tentu saja, tapi aku juga bersyukur karena aku bisa istirahat dan tak perlu bertemu lagi dengan soal-soal matematika yang aku benci setengah mati itu.
Sinar matahari pagi menyusup masuk melewati tirai putih kamarku yang kusingkap hanya berupa celah. Sejenak kupandangi sinar putih yang hangat itu, pastilah menyenangkan jika aku ada di lapangan sekolah bersama teman-teman di pagi seindah ini. Sinar mentari yang hangat, bunyi derap kaki di lorong sekolah, celotehan berisik para penghuni kelas, tentu saja aku rindu itu semua. Apalagi gurauan dari semua teman-temanku.

Teman-teman..
Aku tersenyum sekilas, lalu mulai memasang earphone ditelinga dan mulai menggeser layar mp3 player-ku dengan serius, mencari playlist yang pas dengan suasana pagi ini. Aku adalah tipe orang yang sangat menikmati kesendirian, ada kalanya kita harus mengenal diri sendiri, kan? Dan bagiku, menikmati waktu sendirian adalah cara yang baik untuk mengenal diri sendiri.
Kusandarkan kepalaku diatas bantal, dan mengatur posisi tubuh senyaman mungkin. Pikiranku kembali melayang-layang…
Teman-teman, ya?
Bagaimana kabar mereka semua?
Ya, sangat sulit untuk berjumpa dengan mereka disaat sibuk seperti ini. Terakhir aku menghubungi Hoseok sekitar 3 hari kemarin, dia bilang tidak bisa bertemu denganku karena ada jadwal penting.
“Selasa? Maaf Namjoon-a aku ada ujian masuk universitas. Maaf sekali.”
Begitu yang dia ucapkan padaku via telpon tempo hari. Hoseok pastilah sibuk dengan segala macam ujian masuk universitas, dia memang anak yang pintar dan rajin, dia tentu tidak kenal lelah demi semua hal yang dia mau. Tipe yang suka belajar. Sama sekali berbeda denganku. Tentu, aku sendiri heran, kenapa aku dan Hoseok bisa cocok sebagai teman baik selama 3 tahun, padahal sifat kami bertolak belakang.
Aku yang keras, dan Hoseok yang tidak tegaan.
Lain lagi dengan sahabatku yang lain,Yoongi.
Bisa dibilang sifatku dengan dia mirip, sama-sama keras. Mungkin karena golongan darah kami sama. Aku jadi ingat saat-saat aku dan Yoongi sering memarahi Hoseok karena dia sering membagi jawaban pada saat ujian dengan murid lain, atau membiarkan semua pekerjaan rumahnya dicontek habis-habisan, kami ngomel pada Hoseok, sementara yang dimarahi hanya mengangguk lesu dan berkata maaf berulang-ulang.
“Aku tak tega, mereka memaksa.”
Begitu yang Hoseok ucapkan dikelas sekitar beberapa bulan lalu. Aku masih ingat wajah Yoongi yang memberengut kesal melihat temannya dicontek saat ujian, tapi Hoseok dengan baik hati memberitahu yang lain jawaban yang dia hasilkan dengan susah payah. Dengan pengorbanan belajar semalaman, dan dengan begitu mudahnya dia bagi dengan atas dasar tidak tega. Hoseok, anak itu, benar-benar.
“Jangan terlalu baik, mereka tidak semuanya peduli padamu.”
omel Yoongi masam sambil lalu. Aku masih ingat wajah Hoseok yang menyesal karena ternyata orang-orang yang meminta jawaban darinya mendapat nilai lebih baik. Hoseok menghela nafas berat sambil memainkan pensil. Dia menoleh padaku, wajahnya muram.

“Kau dan Yoongi benar, aku terlalu baik.”
Aku hanya memandangi Hoseok sejenak, lalu menepuk pundaknya ringan.
“kubilang juga apa.”
Ujarku pelan. Aku sudah tau akan seperti itu akhirnya.
“Namjoon-a, ajari aku bagaimana jadi orang egois.”

Sekelebat ingatan itu mau tak mau membuatku tersenyum.

Hoseok adalah orang yang baik, dia juga agak naif. Setiap orang yang dia temui selalu dia anggap sebagai teman. Agak sulit baginya untuk melihat bahwa dunia itu kejam, dia selalu baranggapan bahwa segalanya akan berjalan baik, dan semua orang pun adalah baik.
Tapi Yoongi dan aku tidak begitu.
Seokjin juga sama seperti kami.
Seokjin..

Aku menghela nafas sambil berusaha membuat renungan tentang Seokjin. Berusaha membayangkan sosoknya dan berusaha membangkitkan memori yang terkubur tentang dia. Agak sulit bagiku membayangkannya, tapi aku terdorong untuk mengingat lebih jauh.
Seokjin termasuk sahabatku juga, kami selalu pergi berempat kemana pun, sejak kelas satu. Kami selalu belajar dikelas yang sama. Aku, Yoongi, Hoseok, dan Seokjin. Seokjin sahabatku. Tapi, saat memasuki kelas tiga, Seokjin berbuat suatu kesalahan. Kesalahan yang sebenarnya sudah aku maafkan, tapi tidak bisa aku lupakan begitu saja.
Pikiranku mengawang semakin jauh..
Musik yang aku dengarkan sekarang sudah tidak begitu menarik lagi. Aku hanya fokus dengan pikiranku, berusaha mengingat hal yang menyakitiku, dan hal yang membuat hubungan antara aku dan Seokjin retak.
“Aku minta maaf, tapi bisakah kau berhenti menganggapku tidak ada?”
Kata-kata Seokjin yang selalu aku ingat. Ya, aku berhenti bicara dengannya begitu aku tau dia membohongiku. Rasanya seperti pecundang, apalagi sahabatku yang lain juga ikut menutupi kebohongan yang Seokjin simpan demi menjaga perasaanku. Aku masih ingat jelas ucapan Yoongi padaku, hanya selang beberapa hari saja sejak aku dan Seokjin tidak saling bicara.
“Kau pasti menganggap aku jahat karena bersekongkol dengan Seokjin. Aku sungguh minta maaf Namjoon-a. Aku menyimpan ini karena aku tidak mau kau sakit hati.”

Tapi akhirnya memang aku sakit hati, kan?

Memalukan bagiku, jujur saja. Aku merasa dibodohi dan tidak dianggap apa-apa, bahkan oleh orang yang sudah kenal denganku tiga tahun. Saat itu aku benar-benar marah, dan kecewa tentu saja. Rasanya seperti seisi dunia berbalik memunggungimu dan berjalan menjauh. Tidak ada yang bisa kupercaya saat itu.
Kubuka tirai jendela lebar-lebar, membiarkan cahaya matahari yang hangat itu masuk dengan leluasa. Kulepas earphone di telingaku, dan kubenarkan posisi tubuhku menghadap jendela. Melanjutkan lagi renunganku yang sempat terputus.
“Aku memaafkan Seokjin, sungguh. Tapi membuat segalanya kembali seperti dulu pasti sulit. Kau tidak bisa paham, karena kau tidak mengalaminya.”
Sergahku pada Hoseok, saat jam istirahat.
Masih bisa kuingat jelas, Hoseok-lah yang paling sering ada untukku semenjak itu. Dia yang selalu menghiburku dan dia juga yang membuatku melupakan Seokjin barang sejenak. Namun aku tau, Hoseok ingin kami seperti dulu. Hoseok ingin segalanya kembali seperti semula.
“Lihat, aku ingin kita berempat lagi.”
Ucapnya sambil menunjukan potret kami—yang sama-sama tersenyum lebar kearah kamera. Foto itu diambil saat festival musim panas tahunan disekolah, benar-benar saat yang menyenangkan.

Aku hanya menghela nafas dan tidak menghiraukan ucapannya..

Memori demi memori selama sekolah tercipta begitu nyata didalam pikiranku. Jika saja aku punya mesin waktu atau apalah itu, tentu aku akan kembali ke masa-masa menyenangkan itu. Menghindari semua hal yang akan merusak persahabatan kami, dan tetap berempat, bagaimana pun itu.

Aku jadi ingat. Rasanya masih terpatri jelas dalam ingatan, saat kami sudah berbeda, dan keadaan yang berubah, aku pura-pura fokus untuk ujian akhir. Bisa dibilang kami berempat menjadi sangat berbeda. Aku tau masalah ini terjadi hanya di antara aku dan Seokjin saja. Tapi, Seokjin bukanlah tipe orang yang akan pergi menjauh dan mencari teman lain. Dia seolah memegang Yoongi, dan aku tau Yoongi sama sekali tidak bisa menolak. Apalagi Yoongi juga yang membantu Seokjin menjaga semua rahasianya.
“Walau aku bersama Seokjin terus menerus, bukan berarti aku tidak peduli padamu, Namjoon-a.”
Ujar Yoongi lewat pesan singkat.

Bisa kuingat, pada awal Januari, Seokjin mengirimku pesan singkat, kurang lebih isinya adalah dia minta maaf, dan dia tidak akan melakukan hal itu. Aku membalas pesannya, berkata tidak apa-apa, dan Seokjin bilang dia ingin segalanya kembali seperti semula.

Aku juga ingin..
Tapi itu tidak mudah.

Hubunganku dan Seokjin berjalan baik pada akhirnya, walau perasaanku padanya sedikit berubah. Dia tetap sahabatku, tapi sulit untukku membuatnya kembali seperti sedia kala. Apalagi, aku juga sering dibuat jengkel oleh Seokjin dan Hoseok.
Ya, awal Juni, disaat kami sudah resmi lulus dari sekolah dan mulai mencari kegiatan baru. Saat itu aku mengikuti acara seminar dengan Hoseok, dan tidak disangka Seokjin hadir juga disana. Saat itu hubunganku dengannya sudah membaik, tapi tetap saja dia membuatku jengkel lagi.
“Aku mau ngobrol dengan Seokjin dulu ya dibelakang.”
Ujar Hoseok sambil menepuk pundakku. Aku menoleh heran, kenapa harus dibelakang?
“disini saja.”
Sergahku, sambil memperhatikan acara seminar yang tengah berlangsung. Bisa kulihat lewat sudut mataku Seokjin menatap kami sambil menunggu Hoseok.
“Ah ini rahasia. Oke? Aku tinggal dulu ya.”
Hoseok tersenyum sambil lalu, dengan cepat dia duduk dengan Seokjin dijajaran belakang, mengobrol seru dan intens sekali seperti membicarakan rahasia Negara yang berbahaya bila sampai ketauan. Dan aku diabaikan berjam-jam lamanya.
Aku menghela nafas dan memandang keluar jendela. Menerawang jauh entah kemana. Aku sendiri tidak paham pada diriku sendiri. Sesaat aku merindukan teman-temanku, berharap bisa berjumpa dan mengobrol ringan di kedai kopi favorit kami. Tapi, aku masih tidak bisa bersikap normal pada mereka, aku selalu merasa mereka berbeda, mereka tidak memahamiku.
Apa aku yang tidak paham akan diriku sendiri?
Ada waktunya untuk berpikir demikian. Sering kali saat sedang merenung seperti ini aku selalu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku memang bukan orang yang reaktif, aku lebih suka diam, memperhatikan keadaan, baru bertindak. Bukan tipe orang yang langsung meledak, tapi harus aku akui bahwa aku tipe orang emosional.
Emosional tidak selamanya identik dengan temperamental kan?
Saat aku dan Seokjin mengalami konflik, misalnya, aku lebih memilih untuk menjauh, tanpa memberi alasan jelas. Aku adalah orang yang tidak mau berhubungan lagi dengan orang yang membuatku kecewa. Dendam? Tidak, bukan itu, aku hanya ingin menjalani sisa sekolahku dengan tenang, tanpa tekanan.
“Berhentilah bersikap menyebalkan seperti itu! Jelaskan padaku kenapa kau berhenti bicara padaku! Kukira segalanya sudah selesai, tapi kau malah makin parah!”
Seokjin marah padaku pagi itu, saat aku sedang sibuk menyiapkan segala hal untuk ujian praktikum. Dia menarikku keluar kelas, dia nampak kacau. Aku cukup kaget, tapi dengan segala upaya yang kupunya aku bersikap dingin. Aku tau aku menyakitinya, tapi aku hanya ingin dia mengerti bahwa aku ingin sendiri.
“Aku lelah, tinggalkan aku sendiri.”
Aku lalu kembali masuk kelas, seolah tidak terjadi sesuatu diluar kelas tadi. Tapi aku tau, semua anak dikelas mendengar perkataan Seokjin tadi. Bahkan begitu aku berjalan masuk, kulihat beberapa anak melirik kearahku takut-takut.
“Namjoon-a? Apa yang terjadi?”
Tanya rekan satu kelompokku, Kim Taehyung. Dia menatapku heran. Sambil membersihkan pipet tetes aku menjawab ringan—seolah tak ada hal serius untuk dibicarakan.
“Tidak ada apa-apa, ayo kita harus selesai sebelum Jung Songsaenim datang.”
Seiring berjalannya waktu, semakin sering aku menyibukkan diri, perasaan sakit itu mereda. Ketegangan di antara aku dan Seokjin berangsur reda pula. Ini membuat Hoseok dan Yoongi lega. Apalagi saat ini, disaat kami semua sudah semakin jarang bertemu, aku merasa beban berat dipundakku ini hilang.
Persahabatan itu bersih—aku sering mendengarnya—oleh sebab itu jangan nodai persahabatan dengan hal-hal yang bodoh. Aku paham benar, karena aku mengalami hal itu. Bahkan disaat sendiri seperti sekarang sempat terlintas dibenakku, apakah persahabatan kami akan berakhir begitu saja? Maksudku, setelah kami meninggalkan sekolah, apakah kebersamaan selama 3 tahun itu akan hilang dimakan waktu?
Mungkin aku bukan orang yang suka membahas kenangan manis sambil tersenyum lebar. Tapi, bukan berarti aku akan lupa semudah itu. Walaupun aku masih bersikap kaku pada Seokjin, tapi dia sahabatku, aku peduli padanya. Memang, aku tidak bisa menunjukkan kepedulianku secara terang-terangan, tapi aku diam-diam memikirkannya. Bodoh ya? Maka dari itu banyak yang tidak paham akan sosok Kim Namjoon yang sebenarnya. Bahkan sahabat-sahabatku pun tidak begitu.
Kuraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Kuusap layar dan ku klik ikon gallery disana. Dengan agak menahan nafas aku mulai membuka satu per satu foto yang masih kusimpan disana. Ada fotoku dan Hoseok, diambil saat kami sedang ikut karya wisata ke pulau Nami. Aku dan Hoseok tersenyum lebar. Ada juga fotoku dengan beberapa teman satu kelas, ada Taehyung, Jimin dan Yoongi. Aku tersenyum dan terus mengganti ke foto selanjutnya, ada foto saat dikelas, foto saat di dalam bus, dan..
Aku terdiam, memandangi foto berlatar pantai indah saat senja.
Di foto itu ada kami berempat. Aku, Hoseok, Yoongi, dan Seokjin.
Kami berpose, dan tersenyum cerah mengalahkan cerahnya suasana pantai yang menjadi latar foto kami. Aku tersenyum. Sesaat aku merasakan perutku seperti ditinju secara mendadak. Aku rindu mereka semua. Semua hal menyenangkan mendadak bangkit didalam pikiranku, seolah ingin aku merasakan lebih nyata kehadiran mereka semua.

Jung Hoseok.
Min Yoongi.
Kim Seokjin.
Aku minta maaf..
Aku terlalu egois, dan membuat segalanya menjadi sia-sia.
Walau tidak bisa kembali sama, aku akan berusaha sekuat mungkin agar kita saling mengingat. Walaupun nanti kita sudah memiliki kehidupan sendiri, aku hanya ingin ingatan tentang kita terus hidup. Walaupun akan lebih banyak orang, yang mungkin akan menjadi teman dan sahabat yang lebih baik, tapi aku harap kita akan terus mengenang apa yang telah kita lewati dalam senyuman. Sekali lagi, aku minta maaf.

Terimakasih..

Untuk tiga tahun yang berharga. Kalian memberiku banyak pelajaran hidup, yang mungkin tidak bisa kudapat dari diri orang lain. Aku benar-benar berterimakasih.
Harapanku hanya satu.
Kenanglah apa yang telah kita lalui dengan senyuman, ya?
Sekali lagi,
Terimakasih.

-THE END-

Akhirnya selesai.
Maaf kalau sekiranya ff ini sangat geje, aku sedang ingin menumpahkan isi hatiku dalam tulisan. Baiklah, silahkan beri komentar kalian dibawah ini ya^^ segeje apapun ff ini aku mohon reviewnya, karena bagi author review itu sangat penting.
Oke Caramel Kim pamit!
Bye!^^

-Caramel Kim-

Advertisements