Tags

,

girlinsugass

[a girl in suga’s phone]

Fanfiction by Julian Yook

Cast: Suga, Kim Taehyung

Detective Story | General Audience | 3shoot!

***

previous chapter

1

Hari ini mungkin menjadi hari yang tak akan pernah aku lupa seumur hidup. Tepat di depan mataku jasad Suga dikebumikan. Tanah menguburnya sedikit demi sedikit, diiringi isakan yang kembali membuncah di sekitarku setelah beberapa hari ini teredam begitu rapi. Tenggang waktu pemeriksaan tim forensik sepertinya sempat membuat keluargaku lupa akan kesedihan dan sekarang diharuskan kembali mengingatnya … ketika tanah pemakaman semakin menggunduk, menimpa Suga yang berbaring ringkih di dalam.

Keramaian yang ada di depanku tak begitu kuperhatikan. Mereka sibuk terisak dan meratapi kuburan Suga. Sedangkan aku berkutat dengan pikiranku sendiri. Iya … semua orang itu benar. Sugalah yang ada di bawah tanah. Lelaki yang aku sayangi, orang yang selama ini menyebarkan lelucon dan kehangatannya denganku.

Pelan-pelan aku melangkah mundur dan memisahkan diri dari kesedihan yang begitu jelas terasa di depan sana.

Air mataku kali itu hampir saja lolos dan mungkin akan mengalir lebih deras jika aku tak mendapati sosok yang membuatku tercekat. Kesedihan yang hendak meluncur berubah sedemikian cepat menjadi amarah tatkala kulihat wanita itu dari balakang.

Itu … si suspect x. Perempuan dalam ponsel Suga.

Dia berbaur dengan keluargaku yang lain, dengan pakaian yang nyaris serupa juga. Baju serba hitam dan kain kelabu melingkupi lehernya yang jenjang. Sebuah kacamata hitam bertengger di kerah bajunya. Sesekali ia memegangi pundak bibiku, tampak mencoba untuk meredakan tangis.

Sebenarnya siapa dia?

Pandanganku berkeliling mencari Taehyung. Bagaimana pun caranya ia harus melihat ini!

Kuedarkan pandangan dan hanya mendapati kerabat juga mungkin teman Suga yang berjalan lambat keluar dari balik kabut pagi. Benar-benar seperti zombie.

Tak kutemukan sosok kurus dengan mantel coklat khasnya itu di sini. Berkali-kali aku menyipitkan mata dan mencoba menelisik apakah itu Taehyung atau bukan? Tapi tetap saja tak kutemukan. Badan Taehyung tak begitu. Aku tahu benar bagaimana bentuk tubuh, kepala dan rambutnya bahkan jika dilihat dari belakang. Tak ada yang bisa menyamai badan yang sepertinya.

Ah, sial!

Kenapa dalam waktu mendesak seperti ini, sesuatu yang penting selalu tak bekerja? Tak ada lagi yang bisa diandalkan kecuali diri sendiri. Jadi aku harus bekerja dengan tanganku, seperti ini …

BUUUGH!

“HAN!”

Dari sini bisa kucium aroma tanah basah pemakaman. Daun-daun yang gugur terasa lembab merembesi punggungku. Tanpa bisa kulihat, namun bisa kudengar … mereka memanggil namaku dengan khawatir.

“Hana! Bangun! Kau bisa dengar suara ibu, Sayang?”

Aku bersyukur karena ini bukanlah musim salju. Karena jika iya, aku tak bisa membayangkan bagaimana tubuhku terhempas pada lapisan salju yang melapisi tanah. Itu pasti akan lebih dingin daripada ini.

“Angkat! Bawa ke mobil saja! Ayo cepat!”

“Hati-hati kepalanya … iya, geser lagi!”

Bagus, itulah yang aku inginkan, menyuri perhatian dan berharap bisa menahan wanita itu lebih lama lagi di sini. Setidaknya hingga aku mengetahui siapa namanya.

Ketika tubuhku terangkat, keyakinanku semakin besar bahwa aku akan berhasil.

***

“Hana?”

Aku mengerjapkan mata dan bergeliat sebentar. Menyapu pandangan ke sekeliling dan mendapati kaca-kaca mobil berembun itu membatasi penglihatanku. Dengan tatapan yang kuusahakan selemah mungkin … aku melihat wanita di sampingku. Pandangan kami bertemu kala itu dan dia membalasnya dengan tatapan hangat disertai segurat senyum di bibirnya yang merah muda.

“Kenapa kau tahu namaku?”

“Tadi keadaan kacau sekali dan beberapa orang kudengar memanggil namamu dengan histeris,” ucapnya. “Jadi pendengaranku tidak salah, kan? Hana?”

Aku menangguk lemas dan tidak bisa melihatnya lebih lama lagi. Aku hanya takut jika secara tiba-tiba dia menerjangku dan melakukan hal di luar nalar—seperti yang bisa ia lakukan pada Suga (jika itu benar perbuatannya). Lalu wajahnya yang cantik hanya dijadikan sebuah tameng untuk melindungi segala kebusukannya.

“Kau hanya kedinginan dan terlalu tertekan. Ditambah kondisi tubuhmu sedang tidak fit,” ujarnya, bersamaan dengan itu ia meraih tanganku. “Itu hal sepele, namun aku berharap kamu tidak melupakan sarapanmu lagi, ya?”

Dari mana dia tahu itu?

Bisa kusadari dahiku mengerut. Penglihatanku yang semula mengarah pada pemandangan di luar jendela pun berubah, apa yang kulihat bisa sedemikian cepat berbalik menjadi sesuatu yang menyeramkan kali ini, ketika aku mendengarnya mengucapkan kalimat.

Aku juga tidak tahu keberanian dari mana yang membuat kepalaku dengan pelan berbalik memandanginya. Dia menunduk dan tangannya masih sibuk mengusap tangan milikku.

“Ini mungkin terlihat seperti orangtua.” Dia menatapku sebentar kemudian memutar tutup botol kaca kecil. “Tapi ini akan membuatmu hangat.” Aroma lembut dan hangat langsung menguar begitu botol itu terbuka. Tanpa ragu ia mengoleskannya di tanganku dan menggosoknya pelan. “Kamu tidak keberatan, kan?”

“Hm, mm,” aku bergumam sebentar. “Tentu tidak.”

Wanita itu terkekeh sebentar dan melanjutkan pijitannya. “Aku hanya khawatir. Beberapa orang tidak menyukainya karena ini tercium seperti obat nenek-nenek.”

Aku menggeleng pelan, meski kutahu ia tak melihatnya. “Ini bau yang bagus, menurutku,” ujarku, menghela napas. “Hanya beberapa orang memang tidak menyukainya.”

“Kalau begitu, pasienku termasuk ke dalam ‘beberapa orang itu’, ya.” Dia berhenti dari aktivitasnya dan menanggah menghadapku. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, ia hanya menatapku melalui matanya yang bulat dan besar lalu tersenyum menenangkan.

“Terimakasih—” ucapku menggantung di udara.

“Grace. Kau bisa memanggilku Grace,” selanya buru-buru.

“Oke, terimakasih, Grace. Senang bertemu denganmu,” ungkapku, kali ini mulai tersenyum, mengimbanginya. “Kamu membuatku malu, dari tadi kamu selalu tersenyum. Kamu baik sekali dan itu membuatku sadar kalau aku tidak seramah itu, hehe.”

“Seorang suster memang harus begitu, Han. Kami harus bisa membuat pasien senang dan tersenyum adalah salah satu cara yang ampuh,” ujarnya lagi, menangkat alis dan membuat matanya terbuka lebih lebar, tanda bahwa ia antusias memberitahuku.

“Oh, begitu. Andai saja aku punya kakak sepertimu, pasti akan sangat menyenangkan.”

Grace mengulum senyumnya. “Kita sudah jadi saudara, Han,” saat itu hening di dalam mobil mengantarkan suara Grace lebih jelas lagi ke pendengaranku, “jangan khawatir.”

***

Aku bersandar dengan nyaman pada jok tengah dan memandangi pemandangan yang terlewat cepat di jendela. Kugosokkan telapak tanganku dan mendekatkannya ke depan bibir. Sedemekian dekat hingga bau obat gosok itu kembali menggeliat di dalam rongga hidungku. Tak bisa mengelak, inilah harum yang mengingatkanku pada sosok hangat Grace yang membuatku ketakutan. Segala yang ia sampaikan seolah-olah ia akan memanjakanku sebelum dengan sangat kejam ia akan memotong leherku dan menjadikannya sebagai santapan makan malam paling istimewa seumur hidupnya.

Aku benci menerima kenyataan bahwa bau ini akan terus menempel pada tanganku sebelum aku membilasnya. Selama perjalanan panjang menuju rumah, ini akan membuatku terus mengingat caranya berbicara padaku beberapa menit yang lalu. Itu cukup membuatku cemas dan aku tahu ini tak bisa dibiarkan.

“Ibu?”

“Hm?”

Dari jok tengah bisa kulihat ibu tetap fokus menatap jalanan di depannya. Seperti khawatir supir kami akan menabrakan mobil jika saja ibu tak ikut memperhatikan jalan.

“Bisa kita berhenti sebentar?”

Ibu menoleh dan memandangku dengan khawatir. “Kamu mual, Sayang?”

“A-aku hanya ingin ke kamar kecil.”

Ibu mengangguk dan menyuruh supir kami untuk berhenti di pusat perbelanjaan di depan sana.

Aku berjalan melewati dinding gedung yang tinggi dan mewah. Sempat tak habis pikir kenapa orang-orang ini bisa menghabiskan waktu di sini sementara rumah menawarkan kehangatan lebih. Sepanjang jalan bisa kutemui mereka memandangi sebuah poster besar bergambar wanita dan lelaki rupawan dengan kostum khas musim gugur.

Kusematkan rambut panjangku ke belakang telinga dan memperhatikan apa yang menyita perhatian mereka.

Oh … drama musikal spesial musim gugur. Aku pernah menontonnya tahun lalu. Ya, kuakui itu memang cukup bagus. Tapi tunggu—

Apa Taehyung punya kembaran?

Aku yakin bahwa penglihatanku masih sehat dan jelas. Itu berarti apa yang aku lihat dalam poster bukan suatu kesalahan.

Taehyung … ada foto dia di poster itu. Dia berperan sebagai pangeran. Meskipun dengan riasan muka dan kostum yang melingkupinya … aku masih bisa memastikan bahwa itu benar Taehyung.

Kenyataan macam apa ini? Dia seorang detektif yang merangkap menjadi pemain teater?

Jika benar, aku tidak tahu bagaimana cara dia membagi waktu. Entah mengapa itu membuatku kesal sendiri. Pantas saja ia tak menghadiri pemakaman Suga. Mungkin kali ini ia sedang sibuk berlatih dengan bedak tebal dan eyelinernya. Astaga ….

Aku mempercepat langkahku dan menemukan pintu kamar kecil dengan wajah memberengut, sepertinya.

Kuputar keran dan membasuh tanganku dengan kesal. Sekilas kuciumi lagi dan masih saja kutemukan bau obat gosok yang tersisa. Hingga dengan frustasi kubilas lagi dan menekan botol sabun cair dengan kasar. Kembali menggosok hingga kudapati tanganku tertutup buih begitu banyak, lalu hilang begitu saja ketika kubilas lagi di bawah keran yang mengucurkan air dengan deras.

Aku tidak mau sesuatu apapun miliknya tersisa di tubuhku. Hanya itu.

***

Aku bisa melihat wajah lelah ibu ketika tiba di rumah. Ia membuka pintu dan langsung masuk ke kamarnya setelah mengecup puncak kepalaku dan menyuruhku segera tidur. Aku mengangguk dan mengunci pintu rumah kami karena ternyata hari sudah malam begitu kami tiba.

Sebenarnya aku sehat. Iya, aku kan hanya pura-pura pingsan. Tapi kini rasanya aku jadi lemas sungguhan. Mungkin benar, faktor kedinginan dan pikiran yang terus berpacu dalam otakku berperan besar ini bisa terjadi. Tanpa bisa sama sekali aku tahan.

Tanganku menggapai-gapai di dinding dan menyalakan lampu kamar. Berjalan gontai ke ranjang dan duduk di tepinya dengan lesu. Sebenarnya aku ingin sekali tidur tapi aku tidak bisa. Aku lelah tapi aku tidak mengantuk, ini aneh. Tentunya juga sangat menyebalkan padahal aku hanya ingin tidur dan beristirahat.

Benar kata orang, jangan berpura-pura nanti hal itu benar-benar terjadi. Ada sedikit sesal di hatiku atas kepura-puraan sakit tadi. Ditambah lagi jengkel karena mengetahui aku ditipu mentah-mentah oleh Taehyung. Aku masih tidak mengerti, siapa dia sebenarnya? Detektif yang mencoba peruntungannya di bidang teater? Atau apa?

Yang jelas aku harus membuat perhitungan dengannya dan mempertanyakan keseriusannya menangangi kasus Suga. Bukan hanya itu yang harus aku pikirkan. Percakapan tadi di dalam mobil bersama Grace pun kini berjejal memenuhi otakku. Kenyataan yang tak pernah kusangka sebelumnya karena ternyata Grace adalah anggota keluargaku sendiri, entah dari siapa.

Kurebahkan badanku di atas ranjang yang kosong dan dingin. Ranjang yang selama ini kutinggal . Seharusnya Sugalah yang mengisinya selagi aku tak ada. Mungkin ranjang ini akan terasa sedikit hangat ditapaki bekas tubuh Suga yang berbaring di atasnya.

Suga … lelaki mungil yang bisa dengan ajaib memikat hati wanita-wanita itu, tanpa perlu ia bersusah payah, karena apa ada dirinya sudah menjadi sesuatu yang spesial.

Sempat aku berpikir ingin cepat sampai ke rumah ini dan melihat Suga menyambutku dengan senyuman juga lesung pipit kecil di samping bibirnya. Tapi kemudian aku menyadari bahwa aku baru saja pulang dari pemakaman Suga. Dan itu tak mungkin untuk mendapati dia ada di rumah menungguku.

Kubenamkan wajah ke dalam bantal miliknya. Mungkin di sini bisa kutemui sisa kehidupan yang ia tinggalkan dan berharap itu benar.

Jangan khawatir, aku menemukanmu di sini, Suga. Di antara sisa wangi sampomu yang sudah bercampur dengan aroma sampo milikku. Tapi aku masih bisa membedakannya, menyaringnya dan menghirupnya lebih dalam lagi sampai aku bisa merasakan bahwa kamu benar-benar ada di sini.

“Hana.”

Aku mengangkat wajahku menjauhi bantal, menemukan beberapa helai rambut coklat terang milik Suga yang begitu kentara dengan milikku yang berwarna gelap.

“Hana, kau bisa mendengarku?”

Gerak tanganku terhenti. Refleks kulepaskan lagi beberapa helai rambut itu dan berbalik.

“Suga?”

“Iya, ini aku.”

“Suga aku ingin me—”

“Ssst,” dia mendesis, meletakan telunjuknya di depan bibirku dan tangannya yang lain menahan pundakku. “Aku tau, Han. Aku tau.”

Dia sama sekali tak membiarkanku bangkit dan menyamakan tinggiku dengannya.

“Tak perlu berdiri, biar aku yang duduk.”

Malam itu kami duduk di tepi ranjang, saling berhadapan. Silau menerpa wajahku ketika ia semakin mendekat. Dari sini aku tahu bahwa Suga sekarang telah memiliki kulit yang lebih bening dari sebelumnya, nyaris transparan.

“Kau tau apa yang aku inginkan, Suga?”

“Kau ingin menciumku.” Aku tercenung, mematung untuk beberapa saat sampai keheningan menyelimuti kami. Suga kembali memecahnya diiringi sebuah senyuman. “Tebakanku tidak salah, kan?”

Aku mengalihkan pandanganku dan menarik napas dengan gugup.

“Kalau tidak menjawab, berarti jawabannya iya.” Detik itu juga ia mendekatkan wajahnya dan dari jarak sedekat ini bisa kurasakan sisa pernapasan menerpa wajahku begitu hangat. Dia masih bernapas.

“Tapi,” matanya sontak terbuka ketika satu kata itu terucap dari bibirku pelan. “Bagaimana dengan wanita dalam ponselmu, Suga?”

“Grace?”

“Uh, iya.”

“Aku tidak peduli.”

“Tapi kamu dengannya—”

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau yakin?”

“Iya, seyakin ini.” Semuanya berlangsung cepat, aku memejamkan mata namun aku tahu gerak wajah Suga di depan sana semakin mendekat ke arahku. Hingga begitu lama rasanya kupejamkan mata dan tak ada sesuatu apapun terjadi sejauh ini.

Aku membuka mata takut-takut. Bayangan wajah pucat Suga dan luka menganga di dadanya tiba-tiba muncul ketika aku terpejam. Tak terpikirkan bahwa sesuatu yang lebih buruk bisa saja muncul di hadapanku jika aku membuka mata sekarang.

Kosong.

Tak ada apapun di sini. Kulihat ulang seprai yang tadi sempat diduduki Suga, namun sial tak ada kerutan atau tanda apapun yang menyiratkan bahwa seseorang pernah duduk di sana beberapa detik yang lalu. Alih-alih, aku malah mendengar suara pintu kamarku ditutup pelan. Hal yang tak bisa kupastikan karena aku tak berani menoleh.

***

“Dia akan bercerita dengan penuh semangat. Menertawakan apa yang ada di sekitarnya. Orang-orang tidak akan menyangka bahwa lelaki tampan itu adalah orang yang konyol.”

“Mungkin orang-orang itu tidak akan pernah tau, Hana.” Ibu meletakkan sepiring panekuk dengan saus stoberi di depanku. Ia kemudian duduk dan mulai memotong makanan miliknya.

Aku mengembuskan napas dan memandangi jendela dapur dengan pikiran yang terus melayang-layang. Rasanya seperti disayat pisau. Saat itu terjadi kau tidak akan merasakan apapun namun lama-kelamaan perihnya baru terasa. Seperti sekarang, aku menyadari bahwa aku kehilangan ketika aku benar-benar merasakannya.

“Ada telepon dari pihak kepolisian.”

Aku tersentak dan memerhatikan ibu yang sibuk mengangkat ponsel setelah melap tangan pada serbet di sampingnya. Sambil mengunyah, alisnya tampak meliuk tajam. Bisa kupastikan ibu telah menelan makanannya ketika ia berkata dengan nada khawatir, “Lalu bagaimana, pak?”

Ibu mengangguk-ngangguk paham, meski kuyakin polisi di seberang sana tak akan bisa melihat anggukan kepalanya. Kendati begitu, ia tetap melakukannya dan mengucapkan terimakasih di akhir pembicaraan.

“Kenapa?”

“Detektif kita diganti, Sayang.”

Rencananya hari ini aku akan menanyakan keseriusannya menangani kasus Suga. Namun, ternyata …

“Dia meninggal. Keracunan.”

“Apa?”

“Malang sekali nasibnya.”

“Bagaimana bisa, Bu?”

“Polisi bilang kematiannya sudah sejak dua hari yang lalu. Tepat sehari sebelum pemakaman Suga,” papar Ibu, matanya menerawang. “Tapi polisi baru menemukannya tadi malam. Dengan penampilannya yang benar-benar seperti korban arsenik.”

“Astaga … lalu siapa yang akan mengambil alih tugasnya?”

Ibu mengangguk dan melihat ke arahku dengan tatapan mengingat, “Namanya … hm, namanya Junhyung. Detektif Junhyung.”

“Bu?”

“Hm?”

“Sebenarnya aku ragu, tapi ….” Aku memutar bola mataku dan meremas jari-jari dengan cemas, “Sebenarnya kemarin aku melihat poster Taehyung di mall.” Pandanganku jatuh ke arah wajah Ibu. “Apa artinya itu semua, Bu?”

“Ssst. Tidak baik membicarakan orang yang sudah mati.” Ibu kembali mengangkat sendoknya dan memandangku sambil tersenyum. “Jangan lewatkan sarapan lagi, Honey.”

Tapi ….

To be continued

Advertisements