Tags

, , ,

themissing

The Missing Bullet

Caramel Kim Storyline


-Main Casts
: Park Jimin (BTS), Min Jiyoung (OC), Min Yoongi (BTS),| Other Cast : another BTS’s Members and also another support casts|Genre : Romance, Action|Length : Chaptered |Rating : PG 17

 

Author’s Note

Hello!^^ long time no see you guys! Maaf maaf ya karena aku sibuk akhir-akhir ini L tapi sekarang alhamdulilah sudah bisa kembali dengan ff baru yeay! Oh iya nih firstly, Thanks for SALT, karena film itu aku dapet inspirasi untuk menulis ff ini. Dan juga untuk seorang RP Jimin yang selalu aku ajak fantalk(?) Ini ff dengan main cast Jimin pesananmu, maaf lama banget karena baru sempat bikin sekarang, aku miskin inspirasi dan waktu menulis pun tersita. Untuk para readers, maaf aku jarang nge post disini huhu L dan untuk author Julian Yook, kamu boleh timpuk aku dengan cinta Namjoon karena aku jarang nongol disini :’) maapiiiiin. Ah cukup sudah curhatnya, selamat membaca ya para readers^^

 

Jangan lupa sumbang komen /pasang muka antagonis/

 

Again, Happy reading!^^

Prolog

 

“Jimin! Lari!”
Jeritan itu masih terekam dalam ingatannya, namun dia sama sekali tak ingat siapa wanita yang menjerit itu. Dia tak ingat apapun, dia bahkan tak ingat siapa, dan apa yang terjadi padanya hingga dia bisa terluka parah seperti ini.

Anak lelaki yang bernama Jimin itu tergeletak begitu saja disisi sungai, setengah tubuhnya bahkan terendam oleh air sungai yang mengalir. Kakinya patah, dan keningnya pun mengeluarkan darah yang kini mulai mengering, mungkin karena benturan yang cukup keras.

Sinar bulan yang sangat terang terasa begitu menyilaukan kedua matanya yang terpejam, dia mengerjap, berusaha untuk membuka matanya, namun rasa letih yang luar biasa menghalanginya. Apakah ini mimpi? Batinnya berusaha menerka-nerka, dia merasa ini semua adalah mimpi, karena didalam mimpi kau akan merasa kesulitan untuk bangun kan? Tentu ini hanya mimpi, dan tentu saja beberapa detik lagi dia akan bangun.

Sinar bulan itu bergerak mendekatinya, ya, dia yakin sinar itu bergerak. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dan tentu saja dengan rasa penasaran dan takut yang menggelitik benaknya, dia pun berusaha untuk membuka mata.

Anak itu memicingkan matanya karena sinar itu kini hanya beberapa centi saja dari wajahnya.
Ternyata…

Sinar itu bukanlah sinar bulan..

tapi, lampu sorot.

 

“Satu korban selamat ditemukan!”
Seru seorang pria dengan pakaian seperti polisi hutan yang sedang menyoroti Jimin dengan sinar lampu.
“Cepat bawakan tandu! Dia terluka parah!”

Seketika Jimin mendengar banyak sekali suara riuh rendah disekitarnya. Si polisi hutan segera menunduk untuk memeriksa keadaannya. Dia memeriksa kaki, tangan serta beberapa titik yang terluka. Jimin meringis begitu si polisi hutan memeriksa kakinya yang patah. Si polisi hutan bergumam rendah sementara Jimin menengok ke sekeliling, berusaha untuk memastikan keadaan sekitarnya. Namun, lehernya terasa kaku dan sulit digerakkan. Yang jelas ada cukup banyak orang disekitarnya saat itu.

Si polisi hutan menatap Jimin iba, namun dia tersenyum dan berkata,

“Tenang nak, kau sudah selamat.”

————–

 

11 Tahun Kemudian
Min Jiyoung’s POV

“Ayah! Aku pergi dulu ya”
“Aku mungkin pulang telat.”

Pagi yang indah seperti biasa, menjalani rutinitas yang biasa pula. Aku pergi kesekolah, dan kakak pergi kuliah. Sementara ayah tetap dirumah. Ya, ayah adalah seorang programmer, dia lebih sering bekerja dirumah, membuat software atau bekerja sama dengan perusahaan software untuk membuat perangkat-perangkat rumit yang aku sendiri kurang tau apa itu.

Aku dan kakak segera berjalan keluar rumah sementara ayah mengikuti kami dari belakang. Kakak menguap, lalu memakai sneakers-nya dengan malas. Dia selalu begitu, padahal sudah jadi mahasiswa tingkat dua, tetap saja tidak pernah dewasa dan kerjanya marah-marah.

“Hati-hati di jalan”
Ucap ayah sambil tersenyum didekat beranda rumah, aku nyengir, sementara kakak mengangguk lalu berjalan dengan gontai menuju garasi, mengeluarkan motornya.

“Kakak cepat sedikit.”
Kataku mulai gusar, kakakku hanya mendelik lalu menaiki motornya dengan malas.
“Kalau kau protes terus aku tidak akan memberimu tumpangan.”
Aku mendengus sambil melempar pandang kesal begitu mendengar perkataan kakak. Ya, dia memang begitu, sangat menyebalkan.
“Apa yang kau lihat? Cepat pakai ini”
Dengan nada malasnya yang biasa kakak pun memberikan helm bekasnya padaku. Aku menghela nafas dan menerimanya. Aku pun segera naik lalu memakai helm full face aneh bekas kakak, aku jadi terlihat mirip alien.

Aku terbatuk begitu menghirup udara disekitarku, helm milik kakak mengeluarkan bau apak yang aneh, seperti barang tua yang terlalu lama disimpan digudang.

“Helm bekasmu bau.”
“sudah kubilang jangan protes.”

Kami pun segera meluncur meninggalkan pekarangan rumah dan segera memasuki jalanan Seoul yang dipadati orang-orang yang juga tengah menjalani rutinitas harian mereka. Ah iya, aku lupa mengenalkan diriku, Aku Min Jiyoung, siswi kelas 3 SMA Hakwon, dan perkenalkan juga kakakku yang menyebalkan, Min Yoongi.

“Kau tidak akan menjemputku saat pulang nanti?”
Ujarku dengan agak keras agar kakak bisa mendengarku.
“Tidak. Itu diluar perjanjian kita.”
Ujar kakak, dia melirikku sekilas lalu kembali berkonsentrasi dengan jalan.
“Dasar menyebalkan.”

Si Bodoh Yoongi hanya tergelak begitu mendengar ucapanku, aku mendengus begitu kakak memacu motornya menuju gerbang sekolah. Aku sama sekali belum terlambat, karena masih banyak sekali anak-anak yang berlalu lalang disekitar gerbang sekolah dengan santai.

Kakak juga menyadari hal itu, aku yakin dia kesal karena sudah kubuat buru-buru tadi, dengan menghela nafas panjang kakak lalu memberhentikan laju motornya di lapangan parkir.

“Sudah sampai, cepat turun.”
Aku lalu turun, mendengus cukup keras hingga membuat kakak terkekeh geli.
“Terima kasih tumpangannya.”
Ucapku dengan nada setengah mengejek, dengan cepat aku lalu memberikan helm jelek itu pada kakak, dan melambaikan tangan.
“Dah! Hati-hati dijalan kak!”
Ucapku lalu menengok ke belakang, kearah kakak yang kini tersenyum dan melambaikan tangannya singkat.
“Semoga harimu menyenangkan.”

Bel masuk berbunyi, segera kupercepat langkahku menuju gedung sekolah, kulirik sedikit lapangan parkir yang kini mulai menjauh karena langkahku. Sosok kakak sudah menghilang dari sana, aku tersenyum sedikit dan segera masuk kelas.

 

———-

 

Park Jimin’s POV

 

Nafasku memburu, keringat meluncur turun dari kening dan membanjiri kaos yang kupakai. Aku terus berlari, menerjang rapatnya hutan dengan pepohonan tinggi disekitarku. Aku yakin sudah lari terlalu jauh dari rumah, bahkan terlalu jauh dari keramaian. Entah sudah berapa lama aku berlari, aku merasa kakiku akan lepas jika aku berlari lebih lama lagi. Tapi, aku tidak mungkin berhenti, tidak sekarang.

Aku terlalu takut untuk menengok kebelakang, aku takut jika aku lengah sedikit saja maka mereka akan menangkapku.

Mereka..

Kaki kecilku terus membawaku kedalam hutan yang semakin rapat. Aku sama sekali tak tau kemana kaki ini akan membawaku pergi. Tapi, satu hal yang terus terngiang ditelingaku,

Aku harus selamat..

Dengan penuh ketakutan aku terus berlari tanpa henti, tak memperhatikan apapun disekitarku. Disini begitu gelap, aku bahkan tak bisa melihat apa yang ada dihadapanku.

Dan sepersekian detik kemudian, dengan rasa kaget yang luar biasa, kakiku tidak lagi menapaki tanah, dengan perasaan terhenyak aku jatuh terperosok ke dalam kegelapan yang aku sendiri tak bisa menebak apa itu.

Dan aku hanya bisa menyaksikan tubuhku menghilang dalam kegelapan.

—–

“Jimin.”
“Jimin.”
“Jimin bangunlah!”
Perasaan terhenyak itu kini terasa menampar wajahku, dengan gelagapan aku membuka mata. Dengan nafas terputus-putus aku hanya bisa menatap seseorang yang berdiri disamping ranjangku dengan tatapan tajam.

“Kau mengigau lagi.”
Ujar Namjoon, salah satu rekan satu kamarku itu sambil membuka tirai yang menutupi jendela. Bisa kulihat matahari belum muncul diluar sana.
“Bangunlah cepat, tuan Kang memanggilmu.”
“Ada apa?”
“Entahlah, mungkin ada misi baru. Cepatlah turun, dia menunggu dibawah.”

Namjoon dengan cepat segera meninggalkan kamar, begitu pintu tertutup aku segera beranjak dari ranjang dan segera berganti pakaian. Misi baru? Aku belum pernah mendapat misi selama aku tinggal disini. Ya, Aku, Namjoon dan banyak pemuda disini adalah anak didik tuan Kang, orang yang menyelamatkan kami ketika kami menjadi anak sebatang kara.

Dia yang menemukanku, dia yang menemukanku ketika aku tak punya siapapun dan apapun, aku bahkan tak punya ingatan apa-apa mengenai diriku. Yang aku punya hanya nama, satu-satunya hal yang kuingat, dan satu-satunya hal yang tidak ingin kuubah dari diriku.

Begitu selesai berpakaian seadanya, aku segera turun ke lantai bawah, menuju ruangan tuan Kang. Aku bertanya dalam hati, apa yang ingin Tuan Kang bicarakan di pagi buta begini?

Aku berjalan melintasi ruang makan, menuju ruangan tuan Kang yang ada di sayap kanan gedung. Begitu aku sampai didepan pintu, aku lalu mengetuknya tanpa ragu.

“Masuklah.”
Terdengar bunyi kenop pintu timah yang kubuka pelan. Aku lalu masuk ke dalam ruangan menghadap Tuan Kang yang duduk di meja kerjanya, dia tersenyum menyambutku.

“Maaf, tapi ada apa anda memanggilku Tuan?”
Tanyaku dengan tenang, dengan agak menunduk aku masih bisa memperhatikan Tuan Kang, dia agak menghela nafas begitu mendengar pertanyaanku.
“Aku punya tugas untukmu, ini misi pertama mu, dan aku rasa ini cocok untukmu.”

Tuan Kang lalu memberikan selembar kertas dan menaruhnya diatas meja, dengan agak sungkan aku mengambilnya, sekilas aku melihat bahwa itu adalah biodata seseorang. Seorang pria setengah abad, ya, aku bisa melihatnya dari pas foto yang tertera disisi biodata. Aku melirik tuan Kang sekilas dan mulai membacanya dengan teliti.

 

Nama                                      : Min Donghyun
Kewarganegaraan           : Korea Selatan
Keluarga                               : Min Yoongi dan Min Jiyoung (Anak)
Rekam Jejak                        : – Membantu CIA dalam kegiatan mata-mata
– Membuat software anti sadap untuk Korea Selatan
– Bekerja untuk badan intelejen Korea Selatan

“Siapa orang ini?”
Tanyaku begitu selesai membaca profil Min Donghyun itu. Kulihat Tuan Kang menatapku intens sekali, wajahnya yang dipenuhi keriput itu kini Nampak tegang.

“Dia orang yang bekerja untuk badan intelejen Korea Selatan. Dia termasuk agen yang cerdas, dan dia salah satu orang yang memiliki akses data dan dokumen rahasia milik Negara.”

Tuan Kang melipat kedua tangannya, lalu berdecak pelan sambil memperhatikanku dengan seksama. Apa orang yang dimaksud tuan ini benar-benar berbahaya?

“Dia adalah orang yang berbahaya untuk Negara kita, dan sekarang dia sedang mengembangkan senjata biologis yang sangat luar biasa.”

Hening sesaat, Tuan Kang berhenti berbicara, dia hanya menatapku tajam sambil mengetuk meja kerjanya dengan jarinya yang panjang. Pikiranku berputar-putar, berusaha menerka kira-kira apa tugasku. Aku menghela nafas lalu menatap tuan Kang dengan intens.

“Apa yang harus aku lakukan terhadap orang ini?”
Tanyaku dengan pelan. Tuan Kang tersenyum tipis, membuat keriput itu Nampak semakin jelas di wajahnya.

 

“Aku ingin kau membunuhnya.”

 

 

———–
-To Be Continue-

 

Ahem ahem.

Hai! Lama ya gak ketemu sama kalian para readers :’) maafkan aku karena terlalu sibuk (sok sibuk sih) sama berbagai kegiatan yang amat melelahkan sepanjang Mei-Juni ini. Yah, jadi waktu untuk nulis pun berkurang, maafin aku yaa^^ Gimana nih ff nya? Hihi aku mungkin agak mengangkat topic sensitive ya soal Korsel-korut, tapi aku harap ff ini gak mengundang kontroversi *peace yo* karena aku suka hal-hal kaya gitu /gananya. Well, aku harap kalian suka ya ff nya walau agak aneh :’) oke deh Caramel Kim pamit dulu! See you on the next chapter^^
Jangan lupa kasih komen /pasang muka antagonis lagi/

 

-Caramel Kim-

 

Advertisements