Tags

, , , ,

taetae3

TAETAE!

Fanfiction by Julian Yook

Cast: Jeon Jungkook [BTS] Kim Taehyung [BTS] Park Jimin [BTS]| Genre : Friendship | Length : Chaptered

Rated : PG – 17!

Summary:

Jangan terlalu dianggap serius, ini cuma catatan kecil seorang Kim Taehyung.
Tentang temannya yang bernama Jeon Jungkook.

 Previous Part

1

-TAETAE-

Aku memeriksa ponsel. Ada beberapa foto dari Jungkook yang sengaja tak aku simpan di dalam galeri. Membiarkannya teronggok jauh di dalam kakaotalk. Aku mengusap layar, foto bergeser. Aku tersenyum di beberapa foto, menekuri tingkah konyol Jungkook dengan beragam arena permainan di Busan. Keadaan kamar, rumah, ruang televisi tempat ia menginap tak luput dari bidikan ponselnya. Dia ingin aku merasa benar-benar berada di situ dan yakin bahwa tiga hari kebelakang ini ia bisa tidur dan makan dengan enak.

Tapi bukan itu yang aku khawatirkan.

Hyung!”

Aku menoleh ke arah keramaian Korail. Lelaki berambut hitam muncul membelah kerumunan dengan tas dan barang bawaan yang lebih banyak dibanding ketika ia pergi.

Hyung! Aku bawa oleh-oleh.” Kami berpelukan sekilas, seperti yang lelaki dewasa lakukan kalau sedang bertemu. Kulihat wajah Jungkook lamat-lamat. Ia bahagia sekali dengan senyuman khasnya. Tak ada yang berubah. Bahkan wajahnya terlihat lebih natural dan bersih.

“Di sana menyenangkan, Hyung! Aku ingin ke sana lagi.”

Kami berlalu meningalkan stasiun tanpa sempat aku menyahut.

“Kau lihat sendiri kan di kakao talk? Rumahnya bagus. Orangtuanya benar-benar ramah, saudaranya juga.”

Hyung, mereka mengajakku berlibur lagi bulan April. Aku akan menabung.”

Bahkan dia yang boros sampai rela menabung untuk kembali bertemu dengan mereka.

-TAETAE-

Uang yang semula ingin aku kembalikan akhirnya berakhir di restaurant kecil di sisi jalan. Perjalanan selama 2,5 jam di dalam kereta rupanya cukup membuat seorang Jungkook kelaparan. Kami keluar dari stasiun sekitar pukul tujuh malam. Jungkook memang memilih kereta sore dengan dalih ingin menghabiskan pagi di Busan.

“Aku baru ingat kalau penglihatanmu buruk di malam hari. Kau tidak apa-apa, Hyung?” Ia memiringkan wajah, mengintip mataku dengan penasaran.

Aku hanya menggeleng. Rasanya tidak berselera untuk bicara.

Hm, kalau begitu aku yang jadi matamu untuk malam ini, ya? Jangan khawatir, Hyung.”

Kami kemudian memasuki restaurant dan mengambil tempat duduk di samping jendela kaca. Aku memesan dada ayam panggang madu dan semangkuk nasi putih. Sementara Jungkook memilih bagian paha.

Ketika daging itu datang, kami memakannya dengan lahap selagi hangat. Jungkook mengibaskan tangannya di depan mulut dan mengunyah besar-besar, kepanasan. Kami hanya tertawa ringan dan melanjutkan makan dengan tentram. Menyumpit nasi, mengoyak daging dan mengunyah.

Hyung.” Kepalaku yang sedang terpaku pada mangkuk lantas menengadah. “Makanannya enak, ya?”

Aku tercenung.

Ini memang sudah malam, kalau menyebrang jalan rasanya aku seperti orang buta. Tapi, di dalam restaurant seterang ini, tentu aku masih bisa dengan jelas melihat sesuatu di dadanya.

“Jungkook?”

Aku mengedip beberapa kali. Baju tanpa lengan berleher rendah khas seragam basket, cukup membuat aku menyadari satu tanda merah di atas kulit Jungkook yang putih. Dia menunduk, menyamakan pandang pada apa yang aku lihat.

“Bukankah sudah aku bilang untuk menamparnya kalau ia menciummu?”

Kepala Jungkook terangkat perlahan. Ia memandangku terkaget-kaget sambil mengerjap lambat beberapa kali. “HyuHyung, a-aku ….”

“Jungkook, apa yang kau lakukan dengan Jimin?”

Barang-barang dan semua yang ada di sekitarku kemudian memudar. Sumpit seakan menghilang, bangku tempatku duduk mundur meninggalkan Jungkook menuju beberapa bulan yang lalu ….

-TAETAE-

Aku tidak pernah mengingat tanggal berapa persisnya semua ini dimulai. Yang jelas, malam itu adalah akhir pekan yang bebas di asrama. Kami tidak sedang dibebani oleh tugas, hingga sepanjang yang aku lihat, teman satu kamarku hanya bercanda dan bercengkrama saja.

Sampai suara ketukan membuat kami semua melihat ke pintu.

“Hyung? Ini aku, Jungkook.”

Semua yang ada di dalam kemudian melirik ke arahku. Yoon Gi mengangkat dagunya dan berkata malas, “Cepat temui dia.”

Aku melihat wajah mereka satu-satu. Mereka hanya menatapku dengan sorot aneh sekaligus mengintimidasi supaya lekas keluar. Ketika aku bangkit dari kasur, mereka kembali menyibukkan diri. Meski agaknya pemuda-pemuda itu cukup penasaran terhadap apa yang akan kulakukan, karena ketika aku berbalik untuk menutup pintu, kulihat kepala orang-orang itu melongok sambil bergerak penasaran.

Hyung, kau tidak bosan di kamar?”

Aku melangkah ke sisi, membebaskan himpitan antara pintu dan Jungkook. Begitu berbalik dia sudah ada di depan wajahku. Sangat dekat.

“Bosan, sih.”

“Kalau begitu ayo kita main.”

“Kau mau main apa?”

“Permainan menyakiti orang,” ujarnya polos.

“Yang benar saja?” Aku melirik ke sekitar lorong asrama. Tidak ada siapa-siapa. “Kalau begitu ayo!”

Aku dan Jungkook berjalan keluar dari gedung asrama. Sebenarnya aku tidak tahu ke mana Jungkook akan membawaku. Aku hanya mengikuti langkahnya saja sembari sesekali lelaki itu melirik dan tersenyum jail.

Satu hal yang aku ingat lagi tentang malam itu adalah bulan sempurna yang menggantung di langit. Aku bisa melihatnya terbias di atas kanopi tembus pandang sepanjang jalan setapak menuju gedung 5A. Pagar besi mengkilat di sisi kami terasa dingin ketika jari-jariku melintas di atasnya sembari berlalu.

“Kita mau ke mana?”

“Menemui Park Jimin. Kau tahu gosipnya, Hyung? Katanya dia laki-laki mesum.”

Aku tidak mengerti. Mesum?

Iya? Memangnya kenapa?

“Tapi mesumnya sama laki-laki lagi.”

Ayunan kakiku terasa tercekat untuk beberapa saat. Memang itu bukan topik yang baru. Beberapa kali aku membaca komik mengangkat tema demikian. Tapi kalau untuk menyaksikannya di depan hidupku langsung, jujur aku belum pernah. Aku benar-benar tidak punya bayangan jika hal itu sungguh ada di dalam ruang lingkupku.

Jadi, Jimin yang suka menyendiri itu … Gay? Di dalam asrama khusus lelaki seperti ini? Aku baru tahu.

Yang terbayang ketika mendengar namanya adalah sosok lelaki berbadan bagus. Terkadang di beberapa kesempatan aku melihatnya memakai baju tanpa lengan. Entah disengaja atau tidak. Namun yang jelas dengan pakaian seperti itu otot lengannya cukup menarik perhatian.

Kudengar ia lahir dari keluarga berada. Di saat orang lain memakai ponsel keluaran lokal, dia justru termasuk segelintir siswa yang punya iphone.

Park Jimin. Lelaki yang suka menyendiri dan kurasa ia tak punya teman dekat. Tapi entah mengapa, melihat kenyataan ia tinggal di asrama khusus lelaki membuatku cukup khawatir.

“Kau yakin mau melakukan permainan ini?”

Hyung, coba bayangkan.” Matanya mengawang-ngawang. “Kita membuatnya jatuh cinta dan meninggalkannya. Lalu dia sadar kalau berhubungan dengan sesama jenis juga punya resiko.”

Kedengarannya jahat sekali.

“Ayolah, Hyung. Aku sedang bosan. Aku butuh sedikit hiburan.”

Kami sebenarnya tidak pernah kehabisan bahan lelucon untuk ditertawakan. Dengan natural kelakuan Jungkook yang polos beberapa kali membuatku tertawa. Tapi aku tidak bisa mengukur diriku apa aku sekonyol itu.

Memang sih di beberapa kasus aku melihat hubungan dengan sesama terlihat begitu manis. Padahal aku tidak tahu apa-apa, tapi bisa kurasakan bahwa mereka bahagia, saling menyayangi, dan mungkin tidak pernah berlomba untuk menjadi pemenang dalam setiap debat—seperti yang biasa aku lihat dalam hubungan lawan jenis. Terkadang aku berpikir kenapa semua itu bisa terjadi.

Mereka yang sesama saja bisa seperti itu, lantas kenapa kita yang berbeda justru saling menyakiti? Tidak bisa ditampik, tapi aku memang kerap kali merasa jadi pihak korban dalam hubungan dengan wanita.

“Kalau dia bisa jadi normal dengan kejadian ini, bukankah suatu kebanggaan juga bagi kita, Hyung?”

Aku menyamakan irama langkahku dengan Jungkook. Detak langkah yang memantul di koridor sepi ini adalah hal lain yang terdengar selain sekelumit teriakan di dalam otakku. Tapi aku bohong kalau bilang bahwa aku berpikir keras untuk memutuskan ini semua. Karena pada dasarnya aku memang tidak berpikir. Otakku memang jadi tempat paling berisik. Aku melakukan percakapan dengan diriku sendiri di sana. Tapi aku tidak menimbang-nimbang waktu berkata, “Mari kita lakukan permainan ini.”

-TAETAE-

Jungkook dan aku sudah berdiri tepat di depan pintu kayu yang tertutup rapat. Nomor kamar itu 194. Terbuat dari besi mengkilat dengan sedikit jejak sidik jari di permukaannya. Aku mencoba menajamkan pendengaran, tapi tidak juga mendengar bebunyian apapun dari dalam. Hanya suara tawa mendampingi bunyi televisi yang tertahan dinding beton. Entah dari pintu yang mana.

“Katanya dia tinggal sendirian.”

“Kenapa bisa begitu?”

Jungkook menarik napas singkat. “Dia tidak kebagian teman sekamar, jumlah siswa di kelasnya ganjil.”

Uh, malang sekali.

Aku melihat jauh pada lorong sepi. Lampu redup keemasan tersemat setiap jarak satu meter di dinding.

Ini lorong yang panjang ….

Sangat mengherankan Jimin bisa betah tinggal di kamar paling pojok. Terasingkan dan benar-benar menempel pada ujung lorong. Tidak bisa aku bayangkan kalau ia terlambat. Ini benar-benar jauh dari tangga.

Aku menoleh. Kembali melihat pintu lantas memantapkan diri. Kusentuh gerendel pintu dan tinggal memutarkannya saja.

Hyung.”

Aku meneleng. “Apa?” balasku pelan.

“Ketuk dulu pintunya, jangan langsung masuk.”

Aku terpekur beberapa saat. Melihat sekitar dengan bola mata yang bergerak kikuk. “Eh, iya, benar juga.”

Tok Tok Tok.

“Park Jimin? Kau ada di dalam?”

Tak ada jawaban. Tapi kuyakin dia di balik sana sedang bergerak, karena tak lama kemudian pintu terbuka. Wajah Jimin dan rambut hitamnya yang berantakan menyembul dari celah pintu. “Kau mencariku?”

“Eh, hai, Park Jimin! Perkenalkan aku Taehyung.”

Aku pusatkan mataku ke arahnya. Dia hanya melihatku dengan kepala miring dan tangan mencekram pintu. Ia melihatku baik-baik dari ujung kaki hingga kepala.

“Bolehkah aku masuk ke kamarmu?”

Matanya mengecil menelaah.

“Soalnya aku pikir kita sama,” ucapku cepat-cepat.

Alisnya berkerut sebentar. Tak lama kemudian pintu di depanku terbuka lebar dengan Jimin yang ikut mundur mempersilahkan aku masuk.

“Terima kasih.”

Tungkaiku berayun. Ini adalah langkah pertama ke dalam kamar Jimin. Aroma parfum lemon tersibak begitu saja. Bercampur dengan wangi entah apa, tapi kupikir itu aroma badannya. Pandanganku merangkak ke sekeliling ruangan. Kamarnya rapi tanpa ranjang bertingkat. Meja belajar di depan jendela menyangga sebuah lampu kecil, menyorot lembaran buku yang terbuka.

“Aku sedang belajar tadi.” Ia tersenyum dan duduk santai di tepi kasur.

Ah, kalau begitu aku mengganggu?”

“Aku sudah selesai, kok. Hanya membaca sekilas.” Jimin menepuk-nepuk ranjang berseprai putih di sampingnya. “Sini duduk. Dingin kalau duduk di lantai. Aku belum kebagian karpet. Maklum, kamarku sedikit tersisihkan.”

Aku baru menyusuri kamarnya dua langkah dari pintu dan terpaku di tempat begitu saja. Pandanganku yang semula mengular ke sana kemari kontan terhenti telak di wajahnya. Memandanginya lamat-lamat dan menyadari satu hal …

… lelaki ini baik sekali. Tapi dia sial.

Unlucky, I mean.

“Jadi, dari mana kau tahu kalau namaku Park Jimin?”

Aku mengerjap.

“Taehyung?”

“Eh, iya?”

“Jadi, dari mana kau tau kalau namaku Park Jimin?”

Aku teringat wajah Jungkook sebelum aku masuk ke ruangan ini. Dia ada di sebelah kiri, bersembunyi di balik dinding.

“Eh, hai, Park Jimin! Perkenalkan aku Taehyung.” Aku mendengar suaraku sendiri terulang di dalam kepala. Selesai mengucapkan kalimat itu, bisa aku lihat melalui ekor mataku bahwa Jungkook mendekap mulutnya sendiri dan kepalanya terangkat seolah dia sudah tidak bisa menahan gelak. Sementara aku harus bersusah payah memusatkan pandangan. Berharap supaya Jimin tak merasa curiga.

Lelaki yang menungguku di pintu keluar itu hanya tidak tahu bahwa sebenarnya ini bukanlah awal yang baik. Mungkin ia tak akan berminat untuk terkikik sedikit pun jika ia mengetahuinya, sebagaimana aku.

“Kau cukup terkenal.”

Aku melihat Jimin tersenyum tidak yakin. “Apa iya?” tanyanya menerawang.

Selain kamarnya yang rapi, hal lain yang menarik perhatianku adalah ototnya yang besar. Kelihatan jelas berkontraksi waktu telapak tangannya ia tumpu pada ranjang. Baju yang ia pakai kali ini lebih mirip kaos dalam. Sementara celananya hanya training pendek berwarna biru langit dengan garis putih di tepian. Berada di depan Jimin bahkan membuat aku lupa sejenak tujuan awal berada di sini.

Aku menahan napas. Melihat dua matanya dan benar-benar tidak tahu apa yang aku ucapkan, “Jimin, aku menyukaimu.”

-TAETAE-

“Terima kasih untuk malam ini.”

Aku sedang melangkah ke luar pintu ketika suara lucu Jimin terdengar dari belakang. Aku berbalik untuk mendapati dirinya mengulum senyum, menyandarkan tubuh pada kusen pintu. Ia menilik wajahku seolah berpikir hal apalagi yang bisa ia dapatkan dari tubuhku.

“Kau bisa datang lagi kapan pun kamu mau, Taehyung ….” Jimin menggigit bibirnya.

Orang-orang itu benar.

He’s such a pervert.

Aku menenggak ludah. Tidak yakin apa yang mesti aku katakan. Bisa kurasakan dengan jelas bahwa bibirku sedang susah payah menggapai kata-kata. Terlebih bahasa tubuh Jimin sama sekali tidak membantu. Posisinya yang bersandar seperti itu ditambah salah satu kakinya terjulur ke pinggir lebar-lebar. Jangan lupakan tangannya yang tersilang di dada. Seperti koboy yang sedang menantang atau…menggoda?

Setidaknya ia tak mengenakan topi bulat nan lebar, atau rompi dengan embel-embel serutan kain di bawahnya. Dengan kaos dalam dan celana training di atas lutut, ia terlihat lebih santai. Tapi … tetap saja sebuah ancaman bagiku.

“Kalau begitu, cepatlah kembali ke kamarmu. Aku juga mau tidur.” Dia berkata. Mengangkat sedikit dagu.

Ia menyukaiku….

Aku mengalihkan pandangan ke arah kiri. Sekelebat kudapati sosok Jungkook di pojok, mencoba menyatukan diri dengan tembok. Sedikit tenggelam di keremangan lampu-lampu kecil. Aku tahu ini tidak bagus.

“Baiklah, selamat tidur,” pamitku tersenyum. “Senang bisa berkenalan denganmu.”

Ini harus cepat diakhiri sebelum Jimin menyadari kehadiran Jungkook di sana.

“Selamat malam, Taehyung.”

Aku hanya mengangguk sopan. Tangan Jimin terulur ke samping meraih gagang pintunya. Ia mundur dua atau tiga langkah untuk menutup pintu itu sembari tersenyum. Kayu coklat dan besi berkilat bertuliskan angka berayun di hadapanku, mendekat dan berhenti ketika suara ceklek terdengar dari sekitar gerendelnya. Sosok Jimin turut lenyap dari pandangan. Hanya aroma tubuhnya yang tersisa mengambang di udara, bercampur-campur dengan aroma lemon dan debu dari ornamen kayu lapuk di sudut lorong.

Setelah memastikan ia tidak akan keluar lagi, barulah aku menengok ke kiri. Mencari keberadaan Jungkook dan meminta maaf karena ini lebih lama dari perkiraan.

Dia ada di pojok, terhimpit sudut tembok dengan tegang.

“Jungkook ….” Aku berbisik.

Hyung?”

“Sssssh!” selaku cepat. Kugerakkan tangan menggali-gali udara, mengisyaratkannya supaya cepat mendekat.

“Ayo lari,” ucapku pelan. “Sebelum dia tahu kita datang berdua.”

Dengan langkah lebar kami berjalan cepat dan berangsur semakin cepat. Tapi tetap berusaha tanpa suara. Terus melangkah seperti melayang di udara.

“Jungkook, aku dapat kakao talknya!”

Kunikmati embusan angin yang tercipta dari pergerakanku sendiri. Masih dengan volume suara yang pelan, lelaki itu membalas, “kerja bagus, Hyung!”

Lalu kami hanya melangkah seperti ballerina tanpa suara sepanjang koridor. Di ujung jalan, semuanya melambat terlebih ketika kami menemukan tangga. Kusempatkan untuk mundur beberapa langkah dan mengamati lorong yang baru saja aku lewati. Aku melihat pintu yang terlihat lebih kecil karena letaknya di ujung. Itu pintu kamar Jimin.

Hyung? Ayo kita turun!”

Syukurlah masih tertutup rapat.

-TAETAE-

Beberapa hari selanjutnya aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kiranya sampai kapan aku akan membodohi orang seperti Jimin? Well, dia memang punya badan bagus. Wajahnya bersih seperti bayi. Aku tidak bisa menampik kenyataan itu. Tapi mengingat apa yang ia lakukan semalam….

Argh, tidak!

Entah apa yang akan ia lakukan jika ini terus berlanjut. Apalagi dia mengatakan bahwa aku boleh datang ke kamarnya kapan saja. Aku jadi khawatir, jangan-jangan nanti dia akan menduplikat kunci kamarnya untukku.

Pew! Buruk sekali.

Apalagi kalau mengingat kepalanya bergerak-gerak mencariku waktu upacara. Atau biarkan aku memberi tahu kalian tentang kejadian di suatu sore. Ketika ia duduk di undakan kursi penonton sepak bola, yang dilakukannya adalah melihat ke belakang dengan leher yang ia naik-naikkan. Aku menangkap itu semua dan pandangan kami bertemu. Dia melambaikan satu tangannya ke arahku hingga jas seragamnya itu tertekuk kesempitan di sekitar lingkaran lengan.

Semua hal yang hanya bisa membuatku mengembuskan napas tidak percaya.

Tapi tentang sejauh mana ini akan berlangsung, kupikir hanya ada dua kemungkinan; berlangsung singkat karena aku cepat bosan atau justru berlangsung lama karena aku terlanjur tenggelam.

“Jungkook, aku bosan.”

Badanku merosot setelah bersandar pada tembok, menggunduk di atas kasur. Kuremas rambut boneka singa asal-asalan. Entah bagaimana rupanya sekarang. Aku hanya melihat keluar jendela. Ada langit berwarna teduh. Mungkin ini sudah—

Ah, aku tidak tahu pukul berapa. Yang jelas kulihat bayang sekawanan burung berkepak cepat di atas atap gedung.

Di sini sepi sekali. Hanya sayup-sayup gelegak tawa yang terdengar dari koridor di luar sana, sekadar melintas. Yoon Gi, Seokjin dan Namjoon keluar dari kamar kira-kira setengah jam yang lalu dengan bibir yang terus menggerutu. Mengerjakan tugas tambahan untuk pelajaran olahraga di sore hari memang tidak pernah jadi hal yang menyenangkan.

“Tunggu dulu, bosan apa maksudmu, Hyung?”

“Menggoda Park Jimin,” jawabku lesu.

Yah! Kenapa bisa begitu? Tapi rencana kita belum beres, Hyung.”

Aku mengerling ke arah Jungkook yang sedang duduk di kasur seberang.

Dia selalu begitu…. Entah aku harus memakai kosa kata apa untuk menamai manusia yang mudah terobsesi. Dia ingin satu hal, maka ia akan memperjuangkannya hingga dapat. Apakah itu namanya ambisius? Tapi aku tidak tahu apakah para ambisius di tempat lain mengalami hal yang sama dengannya; pusing, uring-uringan dan kesal sendiri sampai berkata bahwa ia ingin berguling-guling di jalan.

“Kalau begitu kamu saja yang menggodanya.”

“Apa bisa berhasil?”

“Kau kan tampan. Mungkin dia akan suka.”

Aku melihat pandangannya menguar ke mana-mana. Jari telunjuknya ia ketuk-ketuk di dagu. “Kau punya kakao
talknya, kan?”

Kutengok Jungkook sedang berjalan ke kasurku. Badannya membungkuk menghindari kasur tingkat dua kepunyaan Yoon Gi. Ia merangkak. “Katakan padanya bahwa ada temanmu yang ingin berkenalan.”

Aku mendelik tidak percaya. “Heh, kau serius mau menjalankan permainan ini?”

Jungkook hanya mengangguk dan merebut ponselku. Untuk beberapa saat dia sibuk sendiri, entah mengetik apa di sana. Seraya meringkukkan diri menghadap tembok, aku mendengar bebunyian kakao talk. Entah berapa kali, aku tidak menghitungnya.

Kondisi yang tenang seperti ini makin membuat kesadaranku terhisap.

Semakin dalam … hingga aku tertidur pulas.

Ahh….

-TAETAE-

Aku tidak yakin kau mau membaca ini semua. Kata-kata yang tertera di ponsel cukup sukses membuatku kaget setengah mati. Hingga rasanya aku ingin tidur lagi dan menyesal telah bangun hanya untuk mendapati Jungkook sudah tidak ada di kamarku.

“Jimin, ada temanku yang ingin berkenalan denganmu.”

“Oh, iya? Siapa?”

“Namanya Jeon Jungkook. Anak kelas satu.”

“Apa dia sama seperti kita?”

“Hmm? Tanya saja. Kalau kau tidak keberatan, aku akan mengirim ID kakao talknya dan kalian bisa mengobrol lebih banyak.”

“Ah, iya iya. Silahkan.”

“Tapi dia masih muda.”

“Tidak apa-apa. Aku suka.”

Aku membiarkan ponsel itu memantul. Masih dengan suasana mata yang terasa kesat, kulihat senja memerah. Terbingkai kotak-kotak pada jendela yang berjajar. Suara pintu terbuka terdengar dari arah berlawanan. Semerbak aroma tubuh berkeringat menyusuri rongga hidungku dengan sempurna.

Tapi aku tidak peduli.

Kaki bersila dan kepalaku layu. Memiring lesu entah berapa derajat. Layar ponsel yang lebar berkedip. Aku menemukannya terserak bersama selimbut yang kini sudah bergelombang aku duduki. Aku hanya menurunkan pandang tanpa mengangkat ponsel itu. Sebuah pesan lagi….

“Hey, Taehyung. Terimakasih! Jungkook anak yang asik.”

Keributan di dalam kamar ini perlahan terasa lenyap. Berganti menjadi suara ribut yang aku hasilkan sendiri di dalam kepala. Satu hal; mereka sudah saling bicara.

-TAETAE-

Satu hal yang aku tahu dari orang-orang bodoh itu; mereka menghakimi apa yang mereka lihat. Bukankah mudah menyimpulkan dan berprasangka buruk merupakan salah satu gejala gangguan jiwa? Sebagian besar orang hanya mempertunjukkan apa yang mereka inginkan, benar? Lantas apa yang bisa diandalkan dari suatu yang muncul ke permukaan, jika kita jelas-jelas tidak tahu apa yang ada di belakangnya.

Dengan intensitas kebersamaanku dengan Jungkook, maka mereka dengan mudah menghakimi kami sebagai gay. Apa di jaman seperti ini berteman adalah kegiatan ilegal? Itulah yang mereka lihat. Memang sih kami sering mengambil foto bersama, terkadang aku memeluknya dari belakang, berpura-pura hendak mengigit telinganya dengan gemas, saling membenarkan rambut atau mengibaskan semut yang merayap di bajunya. Tapi aku benar-benar tidak punya maksud lain. Semua yang aku lakukan adalah atas dasar pertemanan.

Rasanya lucu sekali kalau mengingat ini. Mereka melihatku dekat dengan Jungkook, menganggap kami gay, tanpa tahu apa yang aku lakukan dengan Jimin. See? Mereka hanya menyimpulkan apa yang mereka lihat saja. Sebelum benar-benar meninggal itu semua akan tetap terjadi. Baik atau buruk, akan selalu ada orang yang tidak suka. Beberapa merasa tertekan dan menjadi semakin buruk. Tapi, beberapa lagi justru jadi orang yang bijaksana. Itulah yang aku pikir sebagai seleksi alam.

Sepantasnya aku marah dan mengatakan bahwa aku ini normal. Kalau perlu sambil berteriak di depan wajah mereka. Tapi rasanya tidak mungkin. Siapa yang pertama memercik ini semua? Aku tidak tahu. Lagipula akan sangat melelahkan kalau harus meluruskannya pada seisi asrama.

Ya, menakjubkan, bukan?

Aku dan Jungkook dituduh gay oleh seisi asrama. Sekali lagi aku katakan; seisi asrama.

“Taehyung? Akhir-akhir ini kau terlihat lebih diam. Apa kau sakit?”

Saat Seokjin bertanya demikian, aku hanya bisa duduk di tepi ranjang, menunduk meratapi ubin asrama.

“Sudah, lagipula rumor itu sudah berlalu kan? Jangan terlalu memikirkan perkataan orang lain. Lihatlah Yoon Gi, dia tidak pedulian dan ia bisa tidur siang dengan nyenyak seperti itu!”

Yoon Gi menyahut dengan erangan halus dan gemeresak pergerakannya di ranjang tingkat dua.

Terus terang …

Aku ingin seperti Yoon Gi. Tapi aku tidak cukup apatis untuk semua ini. Sepertinya baru kemarin aku melihat Jungkook mengobrol dengan seorang wanita. Janjian di luar asrama ketika jam bebas, karena ini asrama khusus lelaki jadi wanita itu jelas tidak bisa masuk. Aku merasa senang. Aku ingin dia tetap seperti itu.

“Aku tahu kau memang suka berekspresi datar. Tapi bisakah kau merespon perkataanku sedikit saja?”

Siang itu merupakan akhir pekan yang panas. Rasanya seperti aku terkukus di dalam asrama. Seokin berlalu setelah mengambil handuk yang tersampir pada jemuran kecil di depan jendela. Sempat kudengar bibirnya berdecak sambil lalu dan berteriak dari kamar mandi, “Beri tahu aku kalau kau sudah jadi orang yang masuk akal! Kim Taehyung!”

Ah, lelaki itu.

Tok Tok Tok.

Di tengah dengkuran halus Yoon Gi dan suara keceprak air di kamar mandi, suara ketukan pintu terdengar. Kupusatkan perhatianku, menunggu hingga ada suara lain yang terdengar. Mungkin itu Namjoon yang baru pulang dari perpustakaan dan sedang berusaha bermain-main.

“Hyung? Ini aku, Jungkook.”

Aku menghela napas. Menarik diri bangkit dari ranjang dengan malas. Sekilas kudengar suara serak dan lemah dari ranjang tingkat dua, “Taehyuung…! Cepat temui dia… ahhmm.” Lalu sepertinya lelaki itu tidak sadarkan diri lagi.

Bayangan di bawah pintu bergerak ringan. Kubuka lebar dengan pandangan yang masih menunduk.

Hyung! Aku punya sesuatu!”

Kuangkat wajah pelan-pelan. Jungkook di hadapanku tersenyum tanpa dosa. Matanya yang seperti potongan buah apel terlihat berkilauan menatapku dengan suka cita. Dia yang polos dan tanpa beban. Kalau yogurt, mungkin ia adalah yogurt plain.

“Apa?” Aku tersenyum penasaran dan memukul bahunya.

“Ikut aku ke taman!”

Jungkook mundur beberapa langkah. Baru kusadari dua tangannya bersembunyi di balik punggung.

“Hey!”

Jungkook berlari kencang ketika aku baru saja akan meraih tubuhnya. Aku tidak sempat melihat seberapa cepat tangannya berpindah, melindungi sesuatu di balik badannya dan memunggungiku semakin jauh.

“Aku tangkap kau! Jungkook! Berhenti berlari!”

-TAETAE-

Dia tertawa geli sampai badannya terbungkuk-bungkuk di atas kursi taman. Kakiku melambat dan duduk di sampingnya dengan agak membanting tubuh. Napas kami berdua sama-sama menderu. Mataku memejam kuat-kuat, mengatur napas.

“ini, Hyung.”

Pundakku masih bergerak naik turun. Kubuka mata dan mengernyit begitu tangan Jungkook melintang di depanku.

“Es krim?” Suaranya terdengar penuh penawaran. “Kau suka es krim kan, Hyung?”

Kulihat wajahnya sebentar lalu mengambil es krim itu dari genggaman tangan.

“Kau mengajakku berlari untuk sebungkus eskrim?”

Jungkook terkekeh sebentar. “Ini beda, Hyung.”

“Beda apanya?” Kubuka plastik dominan berwarna ungu tersebut. Gagang kayunya aku raih dan mulai membenamkan es krimnya ke dalam mulut. Hmm, dingin. Rasanya mulutku seperti menyala. Rasa anggur yang segar ini aku hisap kuat-kuat, mencair di dalam mulutku.

“Bedanya kita tidak usah membayar.”

Aku menarik gagang kayu, menoleh ke arahnya dan memerhatikan wajah Jungkook lamat-lamat. Ia menikmati es krimnya dengan santai, punggungnya bersandar dan kakinya tersilang seperti seorang bos.

“Tidak usah membayar?” tanyaku tidak percaya.

Bola matanya berputar dengan tenang. “Soalnya Jimin yang bayar.”

Kepalaku beralih melihat es krim yang sedang aku genggam. Dingin, berasap, dan menetes-netes menuju jariku.

Jadi, eskrim yang segar ini dibeli pakai uang Jimin?

“Nikmati saja, Hyung.”

Pelan-pelan aku masukan lagi eskrim itu ke mulutku. Ternyata rasanya masih enak.

“Kita harus dapat keuntungan sebesar mungkin dari permainan ini.”

Benar juga. Sudah sejauh ini dan pasti akan sangat sia-sia kalau hanya pihak Jimin yang diuntungkan. Lagipula ini cuma eskrim. Kekayaan keluarga besar Jimin tidak akan habis hanya karena benda semacam ini.

Alih-alih protes aku memilih untuk melahap es krim itu hingga habis. Cuaca yang panas juga membuatku makan lebih cepat.

“Aku tidak menyangka park Jimin itu gampang dijerat. Dia benar-benar seorang pecinta sesama.” Jungkook menepak-nepak tangan setelah melempar sampah pada tong di sampingnya.

“Apa dia cerita sesuatu tentang aku?”

“Hmm,” Jungkook bergumam. “Seingatku tidak. Dia hanya terus-terusan berkata bahwa ia mencintaiku.”

“Jadi, rencana kita selesai? Kapan kau akan meninggalkannya?”

“Meninggalkannya?”

“Jungkook? Rencana awal kita, ingat? Kita akan membuat dia mencintaimu dan meninggalkannya begitu saja, kan? Supaya dia tahu bahwa berhubungan dengan lelaki juga sama-sama punya resiko.”

“Tapi, Hyung. Terus terang aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan ini semua.”

Aku merebut ponselnya. Cepat-cepat menekan tombol di sisi untuk membuat layarnya menyala. Kususuri menu dan menyentuh lambang kakao talk. Tapi …

… sial.

Jungkook bahkan mengunci aplikasi ini dengan password.

“Apa yang kau lakukan, Jungkook?”

Dia mengambil alih ponselnya. Setelah mengetik agak lama, ia kembali memberikannya padaku.

“Hei.” Aku menatap tak percaya. “Kau bahkan menghapus percakapannya.” Aku mengembalikan ponsel itu kembali ke dalam genggamannya dengan kasar. “Jadi ceritanya kamu sudah tidak percaya padaku, Jeon Jungkook?”

“Bu-bukan begitu, Hyung. Hanya saja aku—”

“Cepat selesaikan ini semua. Atau, kalau perlu aku yang akan mendatangi si brengsek Jimin.”

Tiba-tiba Jungkook menahan tanganku. “Kumohon, jangan ….”

Jangan tanya bagaimana rasanya, ketika melihat sahabatmu tumbuh menjadi seseorang yang lain hanya karena permainan tolol.

-TAETAE-

Cibiran orang-orang tentang aku dan Jungkook sebenarnya bukan sebuah masalah besar. Aku merasa bahwa rumor itu salah. Aku juga berpikir Jungkook bukan bagian dari mereka, jadi semua gossip hanya kuanggap sebuah lelucon.

Kami bukan orang penting, anak bangsawan atau sebagainya. Hanya dua orang remaja biasa yang berteman sangat akrab. Mengingat kenyataan seperti itu, sudah sepantasnya tidak perlu ada orang yang merasa iri. Tapi, entah kenapa, dalam kasus ini hal itu terjadi. Aku yakin ini bukan khayalanku saja karena Jungkook pun merasakannya. Waktu kami berjalan melewati lorong anak kelas dua, Jungkook berbisik padaku bahwa punggungnya sudah bolong dipandangi orang-orang itu.

Aku tidak mengambil pusing. Yang kupikirkan hanyalah bermain ke luar asrama di akhir pekan dengan bahagia. Aku dan Jungkook pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli beberapa barang seperti odol dan sabun pribadi yang kebetulan sudah habis. Pulangnya, bisa kupastikan itu sekitar pukul setengah lima sore, karena senja kelihatan sudah merapat. Sinar keemasan terpantul di antara riak-riak Sungai Han. Kami diam di sana beberapa saat dan menghirup udara dalam. Merentangkan tangan dan berputar-putar seperti orang gila. Kami tersenyum lebar hingga rasanya seluruh gigi belakangku bisa terlihat.

“Hahahaha, persetan dengan gosip kita gay!”

Aku merentangkan tangan dan memandang langit yang teduh.

“Gay itu hina! Iya kan, Jungkook?”

Aku meliriknya seraya tersenyum. Sementara yang aku lihat justru senyum Jungkook yang memudar. Napas menderu sisa-sisa pergerakan aktif kami terlihat membuat bahunya naik turun. Ia jatuh terduduk dan menatap Sungai Han dengan tatapan kosong.

“Jungkook?”

Ia menoleh.

Hyung? Bisakah kau tidak mengulang kalimat itu lagi?”

“Kalimat? Maksudmu apa?”

“Hina. Gay itu hina.”

“Hei, bukankah kita sering mengucapkan kalimat itu di belakang Jimin?”

Hyung, aku bagian dari mereka.”

Detik itu duniaku serasa hancur tersambar.

“Tapi, bukankah kamu masih mencintai Song Hye—”

“Aku gay!”

Kupandang matanya lamat-lamat. Berharap ia segera menepuk pundakku dan mengatakan bahwa ini semua lelucon. Tapi tidak.

Dia tidak melakukannya.

“Apa aku sehina itu?”

“Jungkook ….”

“Dan berhenti memanggil orang yang kucintai dengan sebutan brengsek. Dia punya nama. Namanya Park Jimin.”

“Dan kau tahu? kenapa aku menghapus percakapan dengan Jimin?” Ia tidak memberikan waktu untuk aku menjawab. “Karena aku malu padamu, Hyung! Aku takut kau jijik membacanya!”

Lalu apa yang akan aku katakan pada Tuhan? Kalau ia bertanya padaku. Kalau ia meminta pertanggungjawabanku atas semua yang telah terjadi pada Jungkook. Jungkook yang polos dan kekanakkan, ia tidak tahu apa yang dilakukannya.

Tapi aku tahu, ini salah.

Tidak ada satu pun orang yang dapat menjamin keselamatan diri di kehidupan yang lain. Semua yang terjadi, sekecil apapun itu akan ada ganjarannya, bukan? Lalu apa ganjaran untuk orang seperti aku?

Menenggelamkan teman sendiri? Ganjaran apa yang pantas untuk orang seperti itu?

Aku ingin tertawa. Melihat diriku sendiri dan memandang betapa cerobohnya seorang Kim Taehyung. Menjerumuskan teman pada lembah yang aku sendiri tidak ingin memasukinya, menyaksikan di depan mata tanpa bisa berbuat apa-apa. Sekeras apapun aku berusaha, tidak akan mengubah Jungkook jadi seperti semula.

Jungkook-ku yang polos … dia temanku ….

“Kau tau Hyung bagaimana sakitnya ketika orang-orang berkata; Jangan berteman dengan Jungkook! Dia itu gay!” Ia berkedip, setetes air matanya jatuh. “AKU MEMANG GAY! TAPI MEREKA MEMPERLAKUKANKU SEOLAH AKU INI PENYAKIT! PENYAKIT GANAS YANG MENULAR!”

“Kau tau bagaimana sakitnya itu semua, Hyung?” Dengan penglihatan yang memburam, kulihat matanya berubah menjadi telaga. “Kau tidak akan mengerti karena kau normal!”

“Aku ini bukan penyakit! Orang-orang tidak perlu menjauhiku seperti itu.” Telaganya membanjir. Ia menghapusnya kasar. Kami merapat. Kuraih tubuhnya untuk bersandar di bahuku. Dengan gemetar bibirku berbisik, “Kenapa kamu baru jujur sekarang, Jungkook?”

“Aku mencari waktu yang tepat. Makanya aku hanya berbagi ini dengan Jimin. Aku tahu kamu tidak akan mengerti bagaimana beratnya berada di posisi ini.”

“Dan rumor itu benar, Hyung. Aku memang gay, meski kamu tidak.”

Detik ini, aku merasakan bagaimana setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya menjelma serupa peluru. Aku tidak tahu pasti kenyataan apa lagi yang akan terungkap. Semua yang ia katakan berubah menjadi hal yang sangat membuat aku ketakutan. Sekaligus membuat aku bertanya-tanya dengan hati sakit yang penarasan; hal apalagi yang tidak aku ketahui?

Dia telah menyembunyikan semuanya dengan rapi.

“Maafkan aku.”

Maafkan aku untuk tidak bisa menjadi teman yang baik, Jungkook.

-TAETAE-

Aku kembali tersadar dan berpijak di tempat semula. Barang-barang kembali tersusun di sekitarku, aku melihat tanganku kembali mencapit sumpit. Jungkook memandangku dengan tatapan bersalah.

“Apa yang kau lakukan dengan Jimin?”

Pandangannya berkeliling. Seperti itulah. Orang yang merasa bersalah tidak akan berani menatap mata lawan bicaranya.

“Jeon Jungkook, lihat mataku.”

Kedua belah bibirnya menipis. Entah apa yang ia tahan dari mulutnya. Semua kata-kata pengakuan itu, mungkin.

Dari bahasa tubuhnya aku tahu benar ini bukan sesuatu yang baik untuk ia ungkapkan. Jungkook seperti berjuang dengan dirinya sendiri untuk mengaku, hingga ia sendiri kesakitan.

Tapi ia tidak tahu, betapa aku akan sangat amat lebih sakit.

“Jawab pertanyaanku.”

Kepalanya bergerak menatapku kaku. Alisnya yang tebal mengerut. Mungkin mencoba untuk menahan tangis. “Kami berciuman….”

“Apalagi?”

“Dia menindih tubuhku….”

To be Continued

READ: PART 1 | PART 3

 Extra Pic:

GCiaHcbhrLw

10310649_518591318270586_2096313246033895544_n

 A/N: Hai! Jujur, aku nulis ini sambil bercucuran air mata. Ok. Tuliskan apa yang ada di pikiran kalian! Part terakhir bakal agak gimana gitu. Belum aku ketik sih, cuma kayaknya bakal nangis lagi (akunya). Padahal…

:”D

Ditunggu komennya ya. Ntar di part akhir lengkap deh aku ada quote juga.

Advertisements