Tags

, , ,

taetae3

Fanfiction by Julian Yook

Cast: Jeon Jungkook [BTS] Kim Taehyung [BTS] | Genre: Friendship   | Length : chaptered

Rated : PG – 17!

Summary:

Jangan terlalu dianggap serius, ini cuma catatan kecil seorang Kim Taehyung.
Tentang temannya yang bernama Jeon Jungkook.

TAETAE!

Hyung, kau menyukainya?”

Aku menyesap moccacino dengan mata mengintip di atas cangkir. Jungkook di hadapanku tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya dengan alis terangkat menunggu jawaban.

Ketika aku meletakkan cangkir itu di atas meja, bibirku mengecap-ngecap. Mencoba meresapi moccacino hangat yang tersisa di mulut. Semuanya lumayan, suasana kedai kopi ini, segala aromanya, dan kehangatan yang seperti terpercik di udara. Aku menyukainya, terlebih aku tak mengeluarkan sepeser uang untuk sampai di sini. Bahkan untuk secangkir moccacino dan kudapan donat-donat kecil nan manis. Semuanya gratis, Jungkook yang bayar.

“Ini enak sekali. Terima kasih.”

Berbagi makanan dan menggunakan uang bersama memang sudah jadi kebiasaan kami. Aku tidak pernah benar-benar menghitung uang yang kuhabiskan untuk dipakai bersamanya. Kurasa dia pun begitu. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Aku yang sedang tidak punya uang banyak dengan nekat mengantarnya ke Korea Airport Railroad (Korail).

“Biar aku yang membayar semuanya, Hyung! Kau tidak perlu khawatir masalah uang.” Begitulah ucapnya beberapa hari yang lalu.

Hingga hari ini terjadi, dan aku sama sekali belum mengeluarkan satu won pun dari saku. Dia benar-benar serius waktu mengatakan bahwa ia akan menanggung semuanya. Mulai dari ongkos taxi hingga kedatangan kami ke kedai ini.

Keberangkatan kereta Jungkook memang masih satu jam lagi. Tapi, dia bersikukuh ingin datang lebih awal. Ini adalah pengalaman pertama baginya, dan itu semua jelas. Jungkook tidak ingin melewatkan apapun.

Hyung, aku akan memberitahumu kalau aku sudah sampai Busan.” Matanya berbinar menatapku, jernih dan hitam. Aku tidak pernah melihatnya seantusias ini. “Aku akan mengirimkan banyak foto selama perjalanan lewat kakao talk. Jadi, kuharap kau bersiap-siap untuk itu, ya, Hyung?”

Aku terkesiap. Tersenyum simpul dan mengangguk melihat tingkahnya yang jadi lebih aktif seperti sekarang. Sepanjang yang aku tahu, Jungkook bukanlah orang yang aktif dan pandai berbicara. Kecuali jika ia memang sedang benar-benar bahagia.

“Kau harus menceritakan semuanya padaku, Jungkook. Jangan lewatkan apapun.” Aku menahan diriku sebentar. Melihat sepatu-sepatu pengunjung yang berlewatan di sisi kami. “Aku ingin kau kirimkan fotonya padaku, hingga aku tau di sana suasananya seperti apa.”

Jungkook mengangguk mantap. “Pasti, Hyung! Aku akan mengabarimu!”

Kami kemudian kembali mengangkat cangkir. Meminumnya hingga tandas. Kulirik busa moccacino di kedua sisi bibir Jungkook. Dia tersenyum lucu hingga bahunya terangkat, kemudian menghapus kedua bekas itu dengan punggung tangan. Aku hanya mengangguk kecil dan memalingkan pandangan pada sisi lain stasiun ini. Dinding jendela di sampingku menampilkan keramaian yang tak pernah mereda. Orang-orang hilir mudik menggendong tas besar, menggeret koper, dan beberapa lagi menjinjing tas biasa. Aku sempat bertanya-tanya, hendak ke mana orang-orang itu? Tidak usah dianggap serius, terkadang aku ini orangnya memang usilan, kok.

Aku juga sempat bingung. Tapi, hal ini sepertinya akan cukup mampu menarik perhatianmu. Coba bayangkan, seorang remaja enam belas tahun bernama Jungkook, membeli tiket kereta jurusan Seoul menuju Busan seharga 57.300 won. Bukankah itu perkara yang aneh?

Dari daftar menu kedai kopi ini, aku juga mengetahui harga untuk satu cangkirnya sangat mahal. Bukan bermaksud merendahkan, tapi dari mana Jungkook mendapat uang sebanyak itu?

Itu belum apa-apa, masih titik-titik kecil dari puncak rasa penasaranku. Ini semua tentang kepergiannya ke Busan. Itulah yang sebenarnya ingin aku ketahui. Alasan dia ke sana dan semua hal yang kelihatan menjadi begitu mudah. Tiket, uang, transportasi, semuanya tampak mendukung. Aku juga tidak tahu bahwa ada remaja seperti dia yang cukup nekat untuk pergi ke Busan sendirian.

Hyung?” Aku menoleh. Jungkook memakai topi hitamnya yang semula ia letakkan di atas meja. “Apa aku tampan?” Dirapatkan oleh dua tangannya hingga cup topi itu benar-benar masuk.

Ia tersenyum.

“Tampan,” balasku singkat.

Hyung?” tanyanya lagi, ketika aku hendak memindahkan pandang pada hiruk pikuk orang di luar kaca.

“Apa?”

“Kau terlihat sedikit murung. Apa kau sedang sakit? Biasanya kau bertingkah aneh bahkan di tempat umum sekali pun.”

“Oh, aku hanya sedang berpikir. Terkadang, orang sepertiku pun butuh ruang untuk menjadi serius, kan?” Kulihat ia mengangguk kecil, meski sorot matanya tak dapat dipungkiri, ia masih kebingungan. “Omong-omong, siapa yang akan kau temui di Busan?”

Hyung?” Alisnya bertaut. “Kupikir kau sudah mengetahuinya dengan jelas, kan?”

Sebelum sempat aku berpikir apapun lagi, Jungkook dengan cepat melanjutkan perkataannya. “Setelah sejauh ini pergi dari rumah, bukankah sangat konyol jika kau tidak tahu apa-apa?”

Aku mengangguk. Sebisa mungkin mengatur gestur yang dengan begitu Jungkook bisa melihat ke dalam diriku, bahwa aku memang mengerti dan amat tahu tentang semua ini. Setidaknya itu yang bisa ia lihat. Tapi, jauh di dalam pikiranku, aku tidak mengakuinya. Aku tidak tahu apa-apa tentang kepergian ini!

Hyung, sebentar lagi keretaku tiba.” Dia bangkit dan mulai memungut tas gendong yang tergeletak di samping kursi. “Antarkan aku sampai depan gerbong, ya?”

“Tentu.”

Kami berjalan di antara keramaian. Setelah memutar kepala ke sana ke mari, akhirnya lelaki berambut hitam itu yakin bahwa kereta ini yang akan ia tumpangi. Jungkook masuk dan aku menunggunya di luar. Kami kembali bertemu ketika ia muncul di balik jendela kaca dan melambai ke arahku dengan riang.

Hyung! Kita akan mengobrol di kakao talk!” ujarnya tanpa suara. “Ja-ngan khawatir, Hyung! Aku bisa jaga diriku baik-baik!”

Aku mengangguk dan melambaikan tangan ketika kereta itu mulai melaju perlahan. Wajah Jungkook tampak mendekat ke kaca, mati-matian menatapku yang tertinggal. Aku berusaha melebarkan langkah dan berlalu lebih cepat, melewati beberapa orang yang sedang melambai-lambai tanpa aku merasa malu.

“JUNGKOOK!”

Beberapa detik aku berada sejajar dengan Jungkook. Melihat wajahnya dengan jelas sebelum dia pergi. Kami saling melambai. Aku tidak tahu wajahku sekarang bagaimana. Tapi yang jelas ini sulit sekali, kakiku rasanya hampir copot.

Setelah melihat wajah Jungkook berlalu, aku hanya bisa memperlambat langkah. Lantas suara gemuruh dan angin yang berkelebat terdengar berebut memasuki telinga.

Jungkook … selamat tinggal ….

-TAETAE-

Aku menghitung lembaran uang sambil berjalan. Jalanan beton tampak terlihat di balik uang kertas yang sedari tadi bergesekan, berpindah dari tangan kanan ke kiri. Aku merapatkannya lagi, menggenggamnya hingga habis dalam satu kepalan. Ini semua ongkos pulang yang diberikan Jungkook. Dia sengaja memberiku dalam bentuk tunai, supaya aku bisa beli daging panggang madu di pinggir jalan, katanya. Dia ingat ketika uang dalam bentuk kartu tidak dapat digunakan di toko-toko kecil.

Setelah aku membenamkan tangan ke saku dan melepaskan kepalan uang terjun ke dalamnya, maka yang kulihat kali ini adalah betul-betul beton jalan, juga ujung langkah sepatu cokelatku sendiri. Kaca toko di sisi jalan banyak memamerkan etalase berisi barang-barang, kue-kue yang berkilauan disinari lampu. Tapi aku sedang benar-benar tidak berselera. Padahal, setelah kuhitung, uang pemberian Jungkook ini terlampau banyak hanya untuk sepotong dada ayam panggang madu, atau sup rumput laut untuk dua porsi sekali pun.

Aku tidak lapar. Sama sekali tidak setelah kejadian ini.

Menghela napas panjang, aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Ada banyak orang berjalan di trotoar yang lebar. Mendahuluiku kemudian yang beberapa lagi berjalan berlawanan arah denganku. Dengan uang sebanyak ini, mestinya aku bisa membayar taxi deluxe untuk pulang. Tanpa perlu repot-repot berjalan kaki. Tapi, aku tidak yakin bisa mengembalikan uang sebanyak itu begitu Jungkook kembali. Lagi pula, dia pergi hanya tiga hari. Kalau dalam jangka sesingkat itu, mungkin uangku belum terkumpul.

Mungkin aku kepalang egois. Tapi aku tidak suka menggunakan sesuatu yang tidak jelas asal usulnya. Jadi aku memilih berjalan dan naik subway untuk sampai ke rumah. Kemudian meyakinkan diri bahwa aku akan mengembalikan uang ini. Ya, meski sedikit le—

KAKAO TALK!

Hyung? Aku tidak tahu ini di mana. Tapi, pemandangannya lumayan.

Jungkook.

Dia benar-benar menepati janji. Sebuah pesan terlampir bersama foto. Ada sedikit pantulan bayangan pada gambar hamparan luas pemandangan itu. Kukira dia mengambilnya dari balik jendela. Gambarnya sedikit goyang, tapi panoramanya memang lumayan. Ada beberapa pohon yang masih kecil-kecil. Selebihnya langit terhampar, tanpa gedung-gedung tinggi sebagai penghalang.

Hati-hati di jalan!

Aku memasukkan ponselku kembali. Bocah lelaki itu benar-benar bisa membuatku khawatir, bahkan di tengah keramaian seperti ini.

Kepergiannya ke Busan mungkin membuat Jungkook menggapai jarak paling dekat dengan orang tuanya. Tapi, pikiranku tidak berkata demikian. Liburan musim panas di bulan Juli, seharusnya ia pulang dan memberitahukan bahwa keadaannya baik-baik saja. Ia betah di Seoul, juga sangat bersyukur punya teman sekaligus senior sepertiku. Itu yang semestinya ia lakukan, ketimbang menyuruhku berbicara di telepon. Pertama kalinya aku mengobrol dengan ibu Jungkook, dan aku harus mengawalinya dengan sebuah kebohongan.

Dia memang pergi ke Busan, tapi bukan untuk bertemu orang tuanya.

Liburan musim panas kali ini kami akan pergi ke Pulau Nami. Jadi Jungkook tidak bisa pulang ke Busan. Oh? Aku? Iya aku juga akan ikut. Siswa kelas satu sampai tiga sebagian besar ikut, ini acara rutin sekolah. Hm? Tentu saja, aku akan menjaganya dengan baik, Nyonya.”

“Bagaimana, Bu? Kau percaya, kan? Jadi, libur bulan ini aku tidak bisa pulang. Maafkan aku, tapi kalian masih tetap bisa mengirimku uang. Aku perlu untuk biaya ke Pulau Nami, Bu.”

Jungkook mengacungkan jempolnya. Aku hanya tersenyum kecut.

“Terimakasih, Bu! Aku mencintai kalian!”

Setelah mendengar suara di seberang sana dengan seksama, dia hanya tersenyum puas sambil meletakkan gagang telepon pada sandaran. Entah apa yang dikatakan ibunya, namun kurasa itu semua berisi petuah agar Jungkook menjaga dirinya baik-baik dan menjadi anak manis selama berlibur.

Persetan.

Tidak ada yang namanya liburan. Setiap malam yang kami lakukan hanyalah berkutat dengan soal-soal sialan yang minta dijamah. Aku tidak mengerti kenapa aku—seorang lelaki biasa yang masih muda—harus disibukan oleh berapa besar kecepatan batu, kecepatan apel yang jatuh, jarak tempuh sebuah bus, air yang tumpah, apalah itu. Hell yeah, aku hanya akan melap air tumpah jika itu benar-benar terjadi. Bukan menghitung debit air yang keluar. Dan melihat Jungkook membual soal liburan musim panas, rasanya otakku ingin benar-benar meledak.

“Bagaimana kalau kau bertemu dengan keluargamu di Busan?”

“Busan itu luas, Hyung! Aku juga masih cukup pintar untuk tidak berada dekat-dekat dengan daerah rumahku. Aku kan sudah bilang padamu untuk tidak khawatir.”

Aku mengembuskan napas.

Ujian masuk universitas tinggal beberapa bulan lagi. Dan kasus ini hampir saja membuatku gila! Jungkook, si bocah berusia enam belas tahun, teman terbaik yang satu-satunya aku punya—tapi aku tidak tahu sejauh mana ia akan pergi. Sedalam apa dia terhanyut oleh dunia yang ia bangun sendiri.

Detik ini, aku benar-benar merasa jadi sahabat yang buruk.

-TAETAE-

Berapa orang sedang melintas di hadapanku ketika aku menyeruput kopi kaleng di depan jaring-jaring besi lapangan tenis. Yoon Gi dan Namjoon sedang asik mengayunkan raket di dalam sana. Suara memantul bola berbulu sesekali kudengar. Teriakan gemas mereka juga, ketika bola melambung terlalu jauh, dan memaksa salah satu dari mereka memungutnya hingga ke ujung. Sementara yang lain hanya bisa tertawa puas.

Tumben sekali Yoon Gi mau keluar. Biasanya dia menghabiskan waktu bermalas-malasan di dalam kamar asrama. Melibas selimut hingga tidak berbentuk dan beberapa teman satu kamarnya yang berisi tiga orang (termasuk aku) hanya bisa bertanya-tanya; kapan lelaki itu akan beranjak?

Semula kupikir ia hanya menyukai basket saja. Tapi ternyata ia cukup bagus dalam melempar bola tenis. Meski tangkisannya terlalu jauh.

“Heh, Yoon Gi! Ini sih lelah karena memungut bola-bola outmu itu!”

“Sudah nikmati saja. Cepat lempar lagi ke arahku!”

Kudengar gema gelak tawa Min Yoon Gi di antara asrama yang sepi. Mungkin itu salah satu alasannya bermain sebebas ini. Sebagian besar murid di asrama telah pulang. Tersisa hanya beberapa orang saja, hanya anak-anak kelas tiga yang rumahnya tidak jauh dari asrama. Jadi, pulang atau tidak, tak akan terlalu berpengaruh. Paling-paling kalau bosan mereka akan bermain ke sini. Sekadar untuk berolah raga atau bercengkrama bersama teman senasib. Seperti yang kami lakukan sekarang.

“Kau tidak ikut main?”

Aku meneguk tetes terakhir kopi kalengku ketika suara itu terdengar dari sisi. Suara pelan Seokjin terdengar di antara riuh rendah teriakan Yoon Gi dan Namjoon di dalam lapangan tenis.

“Eh, kau.”

Aku melirik ke arahnya sekilas dan melempar kaleng kosong pada tempat sampah di pojok kiri. Seokjin terdengar menghela napas sejenak, duduk di sampingku. Ia melongok ke arah depan agak membungkuk, mengintip kelakuan abstrak dua orang galak yang sedang tertawa-tawa di dalam lapangan.

“Tumben sekali mereka?”

Aku hanya bisa mengangkat bahu, tidak tahu.

“Jungkook mana? Tumben kau sendirian?”

“Jungkook? Oh, dia … pulang ke Busan.”

Matilah kau, Kim Taehyung!

“Aku bilang lempar ke arahku! Tapi bukan ke mukaku juga!” Suara nyaring Yoon Gi di lapangan terdengar makin lama makin mendekat. “Aku selesai. Aku mau istirahat dulu!”

Heh, kenapa?” Seokjin menjegal Yoon Gi dengan tangannya ketika lelaki berkulit pucat itu melintas di depan kami.

“Hanya Namjoon dan naluri merusaknya yang besar.” Yoon Gi kemudian menengok ke arah lapang, memandangi Namjoon yang tengah berjalan lesu. “Benar kan, Namjoon?!”

“Apa?” Namjoon menyahut sembari berjalan mendekati kami dengan tangan terkulai menyeret raket.

“Kalian lihat sendiri kan tadi dia menangkis bola keras-keras ke mukaku?” Yoon Gi menatap ke arahku dan Seokjin bergantian, menunjuk-nunjuk pipinya. “Padahal aku hanya bermain tenis mengikuti hembusan angin timur.” Tangan kanannya kemudian mengacung, dengan mata terpejam meresapi.

“Omong kosong kau, Yoon Gi. Apa-apa angin timur!”

Namjoon datang dan meninju bahu Yoon Gi pelan. Seokjin dan aku hanya bisa terkikik ringan. Mereka melap keringat dan duduk di undakan lantai agak di belakang. Bisa kudengar air di dalam botol yang berguncang sebelum akhirnya Yoon Gi berbicara. “Omong-omong, temanmu yang anak kelas satu itu mana? Siapa namanya? Jengguk?”

“Jungkook.”

“Nah, itu dia. Anak kelas satu yang ucapannya polos itu kan? Mana dia? Biasanya bersamamu terus.”

“Dia pulang ke Busan. Ah, iya!” Aku merogoh saku celanaku cepat-cepat. Menarik ponsel dan membuka kakao talk.

Jungkook, kalau dia menciummu, tampar saja! Ya?

“Apa yang kau lakukan?” Seokjin mendekatkan tubuh ke arahku, memajukan kepalanya untuk mengintip. Segera kumatikan layar dan menutupnya cepat-cepat.

“Oh, ini cuma mengobrol biasa dengan Jungkook.”

“Kalian sepertinya dekat sekali.”

Senyum sudah hampir membludak dari bibirku. Aku belum sempat menjawab hingga akhirnya Yoon Gi di belakang kembali bersuara. “Kau bercanda, Jin? Jelas-jelas mereka memang dekat! Hahahaha.” Ia tergelak dan kembali melanjutkan ketika tawanya reda. “Kalian pasti tidak pernah lupa pada rumor beberapa bulan yang lalu, kan?”

Hah, rumor sialan itu lagi. Masih saja ada yang mengingat. Wajar saja, ini seperti sebuah imej dalam diriku yang sudah tidak bisa diubah. Orang-orang itu sampai kapanpun tidak akan bisa memandang aku dengan biasa-biasa.

“Eh, Taehyung, tapi rumor itu bohong, kan?”

To be Continued

READ: PART 2 | PART 3

p.s: sebenernya ini harusnya oneshoot. Tapi, akan aku posting dibagi-bagi jadi kira-kira 3 chapter doang. Thankss 🙂

Advertisements