how i married

.

.

.

Author: Julian Yook | Cast: Hoseok (J-Hope) , Taehyung (V), Jimin, Yang Yo Hyun (OC), Kim Eun Kyo (OC) | Genre: AU, Romance, Marriage life | Length : Chaptered | Rate: PG – 17!

***

Lalu Taehyung berkaca pada dirinya sendiri, normal? Apakah normal itu sebuah takaran standar yang dibuat manusia? Lalu apa gunanya Tuhan menciptakan kita berbeda-beda?

***

[Chapter 3]

“Taehyung! Apa yang kau lakukan, bodoh!”

Taehyung meringis, dua sudut bibirnya turun dengan kentara.

“Dia kenapa?” Taehyung menoleh ke sumber suara lain. Ia tercengang mendapati suara lembut itu keluar dari bibir orang berkaos putih. Meskipun batinnya masih tertekan, tapi ia yakin bahwa suara itu benar-benar milik lelaki—maksudnya perempuan itu.

Taehyung kembali duduk. Sorot matanya masih tampak bingung. Ia lalu menatap Eun Kyo dan wanita itu bergantian. Wajah blank seperti sekarang mungkin cukup asing bagi Eun Kyo dan pasangannya. Namun, tidak bagi teman-teman Taehyung. Seolah air mukanya menyiratkan: Hah? Apa? Apa yang terjadi? Apa yang aku tidak tahu?

“Kenapa kau minta tolong?”

“Aku? Oh, aku ….” Dia menggerakkan wajahnya ke segala arah dengan kikuk. Menatap Eun Kyo yang tampak putus asa di sampingnya.”Aku hanya minta tolong dari pencuri hati bernama Eun Kyo?” Sumpah, Taehyung merasa ingin muntah mendengar suaranya sendiri.

“Eun Kyo-ya! Dari mana kau dapat lelaki seperti ini, hah?”

“Jin-ah! Ini calon suamiku! Seharusnya kau menghormatinya!”

“Ya … bagaimana bisa aku menghormatinya kalau kelakuannya seperti itu. Dari planet mana dia datang, hah?”

Taehyung menatap percakapan mereka dengan mata seperti menonton bola pingpong dilempar-lempar. Ketika Eun Kyo berbicara, ia melihat ke arahnya. Begitu juga ketika wanita bernama Seung Jin Ah itu berkata. Ia jadi pusing sendiri dan sedikit melupakan kenyataan bahwa Seung Jin telah merendahkannya hingga ke dasar. Di sisi lain, Taehyung cukup senang karena Eun Kyo benar-benar membelanya mati-matian.

“Cukup! Cukup!” lerainya, menggebuk meja. Taehyung berhenti sebentar hingga memastikan ketenangan merasuki. “Oke, bagus. Untukmu Seung Jin. Asal kau tau, wajahmu itu mirip sekali dengan rekan kantorku yang bernama seokjin. Dia pecinta princess, yeah. Tapi, aku yakin Seokjin punya kepribadian yang jauh lebih baik daripadamu! Dan soal pernikahan ini, aku benar-benar serius dengan Eun Kyo. Kami saling mencintai.”

“Oh, ya? Benarkah? Berikan aku sebuah bukti.”

Alis Taehyung kembali berjengit. Ia sebetulnya tidak mengerti apa yang dikatakan lelaki jadi-jadian di depannya ini. Dengan kepala miring menganalisis, ia berujar, “Apa cinta bisa dilihat oleh semua orang? Menurutku cinta hanya bisa dirasakan bagi dua orang yang terlibat di dalamnya. Seperti cintaku pada ho—”

Cups!

Taehyung tertegun menerima kecupan sekilas di sudut bibirnya. Kepalanya kemudian bergerak kaku ke arah Eun Kyo dan menatap wanita itu dengan terkaget-kaget. Makhluk macam apa dia? Dan kini di mata Taehyung, sosok cantik Eun Kyo tampak suram, berkabut hitam nan gelap. Ia hanya tidak suka seseorang mengambil sesuatu dari dirinya seperti itu. Bahkan Hoseok yang ia cintai pun tidak pernah berbuat demikian terhadapnya. Waktu ini, detik ini, sungguh! Taehyung seperti merasa harga dirinya sudah benar-benar dilecehkan!

“Apa yang kau la—”

BRUUUKK!

Sebuah bantal kecil mendarat di wajahnya sebelum ia tuntas menyelesaikan kalimat. Ia kemudian menoleh dan mendapati Seung Jin sudah berapi-api, hingga sempat ia berpikir bahwa mata wanita itu akan keluar. “BERANI-BERANINYA KALIAN MELAKUKAN ITU DI DEPANKU!”

“Taehyung!” Dengan wajah bingung, lelaki berambut cokelat terang itu berbalik ke arah Eun Kyo. Jari-jari panjangnya digapai, kemudian ditarik sampai terhuyung-huyung. Mereka melangkah ke luar rumah dengan terpontang-panting. Berjuang dengan kaki yang terkait kaki sendiri. Tiba di luar rumah dengan terseok-seok dan sepatu yang tak terpasang dengan sempurna. Tapi mereka tak peduli, hanya terus berlari ke mobil dan berebut masuk. Detik-detik terakhir, mereka sempat mendengar suara nyaring Seung Jin yang teredam oleh pintu mobil yang tertutup rapat.

“JANGAN PERNAH DATANG LAGI KE RUMAHKU BERSAMA ALIEN ITU! KIM EUN KYOOO!”

Taehyung mengoper gigi dan menginjak pedal gas. Dengan wajah ngeri ia memacu mobil di jalanan sempit sembari sesekali melihat figur Seung Jin yang semakin mengecil melalui kaca spion.

“Taehyung ….”

“Hm?”

“Sepertinya Seung Jin marah.”

***

Hari ini berakhir dengan sangat melelahkan. Setelah dipikir-pikir, bahkan mengerjakan berkas-berkas kantor tak pernah sebegitu rumit seperti sekarang. Hingga pada akhirnya Taehyung harus menerima sebuah kecupan brutal dan lemparan bantal tepat di wajah. Tangan kanannya membelokan setir, sementara tangan kirinya pelan-pelan meraba pipi. Rasa perih gesekan kain itu masih sedikit terasa, mungkin setelah tiba di rumah ia akan menyekanya dengan air hangat. Sendirian.

Lampu-lampu jalan dan gemerlap jendela-jendela apartemen berpenghuni tampak acak bersinar di bawah langit Seoul yang gelap. Setelah Eun Kyo turun tepat di depan rumah, lelaki itu merasa sangat sepi di dalam mobil. Meski kebanyakan percakapan mereka terdengar tidak penting. Tapi, setidaknya ia punya teman mengobrol beberapa menit yang lalu.

Sebenarnya Taehyung sedang tidak ingin mengingat wanita itu. Ia meraba bibirnya sendiri. Terasa lembab dan lembut di ujung jarinya. Jujur, ia masih tidak bisa menerima perlakuan Eun Kyo barusan. Semuanya hanya berlangsung sepersekian detik, tapi ia tetap menyesali mengapa itu semua bisa terjadi. Mungkin begini rasanya ketika seorang gadis kehilangan keperawanan dengan tidak senonoh. Ia bahkan bukan seorang gadis, tapi ia benar-benar merasakan itu. Taehyung memukul setirnya dan menggeram kesal.

“Seharusnya aku membuat perhitungan dengan gadis itu, hah!”

Ia kemudian berpikir untuk mencari wanita lain yang benar-benar tidak memiliki nafsu padanya. Meski ia ragu, apakah ia akan mendapat yang secantik Eun Kyo? Tidak ada salahnya kalau Taehyung membuat perhitungan dengan wanita itu dan bertanya motivasi apa yang membuatnya mencium Taehyung dengan semena-mena.

Taehyung mengangguk-ngangguk sendiri. Hal lain kini muncul dalam pikirannya. Tentang bagaimana hari esok akan terjadi … karena ia sudah sepakat dengan Eun Kyo akan mendatangi Hoseok.

“Hoseok, aku harap kau tidak sehisteris Seungjin,” gumamnya pada diri sendiri.

***

“Park … Ji … Min …,” bisik Taehyung. Ia menyandarkan sikunya pada papan sekat berukuran rendah dengan santai. Dilihatnya Jimin yang sedang duduk di kursi beroda-roda kecil, membelakangi dirinya. Lantas layar komputer itu bersinar, menampilkan tabel-tabel berisi angka. “Park … Ji … Min ….”

Lelaki itu sama sekali tidak menoleh. Hanya punduknya yang semakin membungkuk, hingga punggung kemeja kekecilannya sedikit terangkat ke atas.

“Kau masih marah padaku karena kejadian waktu itu, ya?” ulang Taehyung, masih dalam posisi bersandar.

Taehyung mendengar suara klik-klik mouse di antara suara Jimin yang menyahut secara tiba-tiba. “Jangan bersandar seperti itu, nanti sekatnya runtuh.”

Taehyung menegakkan badannya dan memandang sekitar. Dari mana Jimin mengetahuinya?

“Layar ini memantulkan gerak-gerikmu yang konyol.”

Gerak kepala Taehyung terhenti seketika, menatap rambut hitam Jimin yang dicukur rapi. “Apa bentuk marahmu seperti itu?” Taehyung melangkahkan kakinya mendekati kursi Jimin. Ia lalu memutar kursi itu dengan dua tangan dan wajah malas Jimin langsung terpampang di hadapannya.

“Aku sedang bekerja, Taehyung,” kata lelaki itu, tanpa minat.

“Kumohon … kali ini saja! Aku serius! Ini penting sekali, Jimin! Aku butuh bantuanmu!” Taehyung mengguncang bahu Jimin kencang. Jimin melihat ke dalam wajah Taehyung yang tampak panik. Ia tidak yakin seperti apa ukuran penting di dalam hidup Taehyung. Terlebih masih banyak laporan keuangan yang harus ia selesaikan. Tabel-tabel hina itu menjerit minta diisi. Tadi ia sempat melihat jam digital disudut layar, kurang lebih lima menit lagi hingga waktu makan siang datang. Awalnya Jimin berniat untuk melewatkannya dan memilih menekuri layar komputer hingga beberapa jam ke depan. Tapi rencana tinggalah rencana. Ia tidak mengira bahwa Taehyung—si lelaki berambut terang itu pun datang ke biliknya dan melakukan hal semena-mena.

“Kerjaanmu bagaimana?” tanya Jimin tenang.

“Semuanya sudah aku bereskan! Kemarin aku membawanya ke rumah.” Mata Taehyung membesar seketika, ia melanjutkan perkataannya dengan penuh antusias. “Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan masalah ini! Dan aku mengerjakannya sampai larut! Semuanya sudah selesai, Jimin! Sekarang aku ingin kamu ikut denganku ke kantin dan kita akan pilih meja paling pojok!”

Alis Jimin lantas mengernyit, memandang Taehyung tidak mengerti. “Kenapa harus di pojok? Apa yang mau kau lakukan padaku, HAH?”

Taehyung menatap mata Jimin lamat-lamat. Matanya kemudian beralih pada meja dengan berkas-berkas juga komputer menyala di balik bahu Jimin. Taehyung hanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa otak lelaki di hadapannya ini sudah tercemar polusi dengan amat sangat. Sedikit saja ia melontarkan kalimat, maka Jimin akan membalasnya seolah ia sudah dirancang untuk peka terhadap rangsang. Di lain kesempatan mungkin itu bukan masalah. Tapi, sayangnya di sini iya. Kali ini, Taehyung ingin sekali menampar Jimin berkali-kali. Berteriak di depan wajahnya bahwa ia tidak akan memerkosa Jimin di pojokan kantin.

Ahh, jika saja ia tidak mengingat bahwa ia telah melakukan hal semacam itu beberapa hari yang lalu. Jimin mungkin akan sangat murka jika ia melakukan hal itu lagi. Lalu Taehyung ingat, bahwa ia sangat butuh bantuan Jimin dan otak mesumnya kali ini. Karena itu semua, Taehyung tidak akan membiarkannya lari.

“Aku tau kamu jarang sekali marah. Jadi, aku sangat mewajarkan jika sekarang kamu benar-benar merasa sensitif pada semua hal yang aku lakukan.” Ia menunjuk sekat sekilas. “Aku bersandar di sekat itu saja kamu marah. Tapi, kumohon, jangan kali ini. Aku benar-benar butuh bantuanmu, Jimin! Dan … ah, iya, aku minta maaf soal waktu itu.”

Hening sesaat.

“Tidak lebih dari lima menit. Bagaimana?”

Taehyung menatap wajah sok jual mahal Jimin dengan sebal. Ia pikir percakapannya dengan Jimin tidak akan cukup lima menit. Apalagi kalau masalah itu. Taehyung berani bertaruh, Jimin akan menjadi sangat bersemangat dan melupakan sudah berapa kali jarum jam di dinding berputar.

Tapi akhirnya ia setuju, karena pada dasarnya ia yakin, Jimin sendiri yang akan melanggar janjinya.

“Baiklah. Aku setuju.”

***

Meja berbentuk kotak di pojok ruangan itu hanya menyangga satu piring persegi saja. Taehyung sudah merasa kenyang dengan roti bungkus yang diam-diam ia makan di dalam bilik kerjanya. Jadi sekarang ia hanya melipat tangannya di meja. Menatap Jimin yang sedang menyuap nasi ke dalam mulut dengan lahap. Taehyung mengangguk-ngangguk dan melihat lauk pauk yang berada di sekat-sekat piring logam tersebut. Ada nasi putih, irisan mentimun, butiran besar kacang merah dengan bumbu sedikit-sedikit tergores di atas warna perak piringnya.

“Makanan di kantin ini seperti makanan penjara, ya?”

Jimin mengangkat wajah sekilas kemudian kembali menyumpit butiran kacang merah.

“Kau harus bawa kotak bekal sendiri, Jimin,” ucap Taehyung lagi, mencondongkan wajahnya dan menyaksikan aktivitas Jimin dengan antusias.

Jimin mengangkat wajahnya lagi lebih lama. Matanya berkeliling lantas mulutnya sibuk mengunyah. Mulutnya yang semula terlihat penuh dan mengembung perlahan-lahan mulai mengecil. Setelah menelan habis semua makanan, barulah Jimin membalas, “Tentu, aku akan mendapatkan hal itu beberapa minggu lagi,” ujarnya, menatap Taehyung.

“Kenapa harus tunggu beberapa minggu lagi? Kau bisa memulainya dari besok pagi. Aku juga, meski aku tidak terlalu pandai memasak, tapi setidaknya itu lebih baik dari masakan ala-ala penjara di sini.” Taehyung menunjuk piring logam dengan ujung telunjuknya, menggesernya beberapa inchi penuh rasa jijik. “Lihatlah, piringnya bahkan persis seperti piring-piring yang aku lihat di penjara: kotak, logam bengkok-bengkok yang kepanasan, dan menu masakannya tidak membuat itu semua jadi lebih baik.”

Jimin mengernyit, memandang ke bawah piringnya yang bergeser dan gerak tangan Taehyung yang menurutnya tolol.

“Tapi, setidaknya perutku terisi.”

“Jimin, kau memang orang yang benar-benar langka.” Taehyung menggelengkan kepala. “Kau jarang sekali marah dan sekarang apalagi? Kau pandai sekali bersyukur. Dan, iya kau selalu tersenyum.”

Taehyung bahkan berharap di bilik kerja tadi Jimin akan berbalik dari kursinya dan tersenyum pada Taehyung. Senyum yang tak berujung. Tapi, oh yeah, Jimin juga manusia. Dan otaknya masih cukup normal untuk merasa jengkel gara-gara ulah Taehyung beberapa hari yang lalu. Hingga sekarang, sisa-sisa kedongkolan itu tampaknya masih ada. Bisa Taehyung sadari, sejak tadi pagi Jimin sama sekali belum tersenyum padanya. Padahal ia mengira Jimin akan terus tersenyum dan mengatakan, “aku tidak apa-apa soal tragedi penamparan itu. Aku juga tidak marah waktu kau meninggalkanku sementara aku sedang tersenyum dan menyadari aku sendirian seperti orang tidak waras ketika mataku terbuka. Aku sungguh tidak apa-apa, Kim Taehyung. Kau bisa melakukannya lagi kapan-kapan, dan aku tidak akan marah.”

Tapi seperti biasa, kenyataan memang pedih.

“Dari mana kau tahu tentang piring penjara?”

“Aku melihatnya di televisi. Kupikir semua penjara seperti itu.” Bahunya kemudian terangkat, acuh tak acuh. “Yah, kalau makanan di sana enak, mungkin kapan-kapan aku akan berkunjung untuk mencicipinya.”

Jimin mengangkat lengan kirinya. Sebuah jam tangan berantai perak melingkar di situ. Seolah-olah ia sedang menghitung berapa banyak waktu yang ia buang untuk mendengar ocehan lelaki abnormal ini. “Jadi apa kepentinganmu mengajakku ke sini?”

Seluruh badan Taehyung tahu-tahu menegang. Ia membenarkan posisi duduk, dua belah pahanya merapat di bawah meja, pun dengan kedua tangannya yang semakin erat telipat. Sesuatu di dalam dirinya berdesir sebelum ia berkata dengan ragu, “Aku ….”

“Aku apa?”

“A-aku … maksudku … aku … aku ….”

“Taehyung.” Jimin menghela napas. Memandangi sosok gagu di depannya dengan putus asa.

“A-aku … a-a-aku.”

“Berhenti bicara seperti itu.”

“A-a-aku … a-a-a-aku.”

Jimin memutar bola mata. Dia tidak berharap banyak. “Kau ini mau nge-rapp, ya?”

“A-aku … ingin kau mengatakan padaku.” Kepalanya kemudian merendah, menatap sekeliling dengan was-was, lantas beberapa detik kemudian suaranya yang berat terdengar lebih memelan. “Bagaimana caranya membuat anak?”

Jimin menggebuk mejanya hingga Taehyung sempat terlonjak kaget.

“Kau marah?” tanyanya hati-hati. Taehyung mengangkat wajah perlahan, sosok Jimin terlihat di hadapannya sedang menggelengkan kepala tidak percaya. Wajahnya tertutup oleh satu tangan. Ia kemudian berhenti secara tiba-tiba.

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Itu sangat mengasyikan!”

Inilah dia, lelaki paling mesum yang pernah Taehyung temui seumur hidupnya, berikan sambutan yang meriah bagi Park Jimin!

Taehyung bertepuk tangan pelan dan tersenyum sambil menggigit bibir bawah. Sedikit banyak ia merasa bangga dengan prediksinya yang benar. Ini akan jadi sangat menyenangkan untuk Jimin! Meskipun Taehyung tetap merasa sangsi, mengapa teman akrabnya ini bisa begitu mesum?

“Kau mau aku ceritakan dari awal, hm?”

Taehyung mengangguk. Ia kemudian melihat Jimin menggeser piringnya ke samping. Ia mulai melipat tangan di atas meja, mencondongkan badan dan perkataannya serta merta melunak. Ia kembali jadi Jimin yang baik hati. Taehyung kira Jimin telah benar-benar memaafkannya!

“Apa perlu kita menonton videonya bersama-sama?”

Mulai lagi.

“Kau bisa melihat semuanya dengan jelas. Aku punya beberapa di ponselku.” Jimin meraba-raba saku jasnya dengan tergesa. “Kurasa ponselku ketinggalan di meja.”

“Aku ingin kau memberitahuku bagaimana caranya.”

“Yah, tapi dengan video itu semua akan jadi lebih je—”

“Kumohon. Jimin. Jangan rusak diriku.”

Jimin berdecak, ia mengorek telinga sekilas. Sorot mata meremehkan mendominasi ekspresinya. “Baiklah.”

Setelah mengedarkan pandang dengan hati-hati, Jimin mendekatkan wajahnya. Ia mulai bercerita dengan volume suara yang sangat pelan. “Pertama, kau harus menikahinya.”

“Aku tau itu.”

“Okay, hanya memastikan.” Jimin kembali celingak-celinguk. “Kedua, kau akan berada di dalam kamar. Berdua saja, kau mengerti?”

Taehyung mengepalkan tangannya di depan bibir, kemudian berdehem secara tidak alamiah. “Kenapa harus di kamar? Tidak bisakah di tempat lain seperti di dapur? Atau di depan tv? Siapa tau aku ingin menonton shingeki no kyojin.”

“Tidak, Taehyung. Kali ini tidak ada shingeki no kyojin, tidak ada titan, hanya ada kau dan istrimu. Di dalam kamar. Mengerti?”

“Okay, tidak ada shingeki no kyojin. Aku mengerti.”

“Kau harus membuka baju istrimu.”

“Astaga, manja sekali. Bisakah dia membukanya sendiri? Itukah yang selama ini kau tonton, Park Jimin?”

Jimin mengembuskan napasnya dengan mata tertutup. Seolah-olah ia benar-benar kelelahan. Ia tahu benar lelaki di depan wajahnya ini bukan anak TK yang sedang belajar membaca. Tapi, entah mengapa, Jimin merasa tidak ada bedanya.

“Taehyung, terserah, kau menyuruhnya sendiri membuka baju, atau apalah. Yang pasti kalian tidak akan membutuhkan sehelai baju pun malam itu.”

Oh my God ….”

“Kau hanya perlu … ahh, aku jadi malu sendiri.” Jimin tersipu, bola matanya bergerak ke pojok kanan. Mengawang-ngawang bagaimana seharusnya kejadian itu berlangsung. Sebuah drama tiba-tiba saja bermain di otaknya secara otomatis. Secara tidak sadar ia tersenyum, penuh tanda tanya.

“Jimin?”

“Eh!”

“Jadi, apa yang harus aku lakukan agar aku punya anak?”

Tangan kanan Jimin melambai dengan nakal. Tak perlu waktu lama bagi Taehyung untuk mengerti isyarat itu. Ia kemudian mengarahkan telinganya ke depan. Mendengar kata demi kata yang meluncur dengan desahan dari bibir Jimin. Mata Taehyung membesar seketika. Wajah kagetnya masih bertahan ketika Jimin melepaskan lingkupan tangannya di sekitar telinga Taehyung, dan kembali pada posisi semula.

“Hanya itu yang perlu kau lakukan, Kim Taehyung.”

“Hanya itu, kau bilang?”

“Tidak usah kaget begitu. Toh, kau akan melakukannya,” jawab Jimin santai.

“Apa kau pernah melakukannya?”

“Aku? Aku belum menikah! Bagaimana bisa aku melakukannya!”

Taehyung meregangkan ototnya dan menatap tanpa merasa bersalah, “Kalau begitu cepatlah menikah. Karena aku pun akan menikah beberapa minggu lagi.”

Jimin tersenyum sendiri. Ia berpikir bahwa hobinya mengoleksi video porno ada untungnya juga. Ia setidaknya punya sedikit bayangan tentang hal-hal yang harus ia lakukan bersama istrinya kelak. Ia membayangkan akan membuat wanita itu senang, tersenyum di pagi hari karena Jimin sudah bekerja keras memanjakannya. Wah, membayangkannya saja sudah membuat Jimin bahagia! Itu semua terasa begitu dekat dan nyata. Apalagi karena wanita itu adalah Yang Yo Hyun. Wanita yang benar-benar ia cintai.

“Aku sudah punya calon. Namanya Yang Yo Hyun.”

“Waah? Benarkah?”

“Itulah mengapa aku bilang kalau aku akan bawa kotak bekal sendiri beberapa minggu yang akan datang. Dia yang akan membuatkannya untukku.”

“Ahhh! Bahagianya! Kalau begitu selamat untuk pernikahanmu!”

Keduanya berjabat tangan. Jimin tersenyum tersipu. Wajahnya bersemu merah, membayangkan betapa hari-hari di hidupnya akan jadi sangat manis dan menyenangkan. Ia tahu betul siapa itu Yang Yo Hyun. Dia adalah wanita pemalas. Tapi pemalasnya itu yang membuat Jimin gemas. Sampai-sampai ia ingin menyiumnya waktu melihat Yo Hyun tengah tertidur seperti kucing malas di ruang tengah. Wajahnya benar-benar tidak terkontrol. Seolah-olah seluruh dunia ini sedang terkena bencana hingga wajah Yo Hyun bisa sebegitu hancurnya ketika tidur. Tapi itulah yang membuatnya tampak seperti manusia, bukan pahatan patung dengan wajah-wajah yang sama seperti wanita kebanyakan.

Jimin lalu mengingat bagaimana wanita cantik itu melangkahi lembar-lembar majalah yang diguntingi adiknya. Sama sekali tidak ada inisiatif untuk membereskan. Gunting tergeletak menganga di lantai pun, Yo Hyun hanya melangkahinya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Itu semua hanya membuat Jimin semakin gemas. Ia ingin menerjangnya dan mengatakan bahwa ia jatuh cinta setiap hari pada wanita yang sama. Yang Yo Hyun.

“Dia manis sekali,” gumamnya, pelan.

“Dia? Calon istrimu? Bagamana kalau ternyata tanggal menikah kita sama? Dan aku tidak bisa datang ke pernikahanmu karena hal itu? Sebelum itu terjadi, aku ingin meminta maaf. Aku hanya berharap, semoga kalian akan jadi pasangan yang bahagia!”

Jimin tergelak. Memandang Taehyung yang berbicara penuh prediksi. “Santailah, Taehyung,” ujarnya. “Bagaimana denganmu? Aku baru tau kau punya kekasih.”

Kenyataan yang menyakitkan, memang. Orang-orang di sini tidak pernah tahu siapa itu Kim Eun Kyo. Dan secara tiba-tiba ia akan menikahi wanita itu dalam waktu dekat. Taehyung takut orang-orang curiga. Padahal ia tidak bermaksud menyakiti siapa pun di sini. Ia mengembuskan napas pelan, menegakkan lehernya dan mulai menjawab perkataan Jimin dengan tegar.

“Orang-orang memang tidak ada yang tahu. Namanya Kim Eun Kyo. Dia wanita yang cantik, dan aku mencintainya.”

“Kau bisa ceritakan, bagaimana pertemuanmu dengannya dan seperti apa dia itu?”

“Eun Kyo … dia wanita yang baik. Dia penurut, sabar, dan dia bernafsu padaku. Aku menemuinya di sebuah café. Aku mempermalukannya dengan berteriak seperti orang gila, tapi dia tidak marah.” Taehyung menerawang, melihat kejadian itu bermain di ingatannya. Kemudian barulah ia menyadari, Eun Kyo memang wanita baik. Dia tidak menuntut apapun dari Taehyung. “Yang Yo Hyun, dia bagaimana?”

“Dia sangat pemalas. Seperti kucing. Tapi aku menyukainya dan merasa sangat terlengkapi. Kami bertemu di bank waktu mengantri. Dia dengan kacaunya berada di depanku. Lalu kami berkenalan karena sepertinya dia terkesan begitu aku memberi tahu, bahwa beberapa lembar uangnya jatuh.”

“Kau akan menikahinya dengan bahagia.”

“Kau juga, Taehyung.”

Taehyung hanya menjawab dengan sebuah senyum kecil. Ia tidak terlalu berani berharap tentang miliknya. Karena ia tahu, akan sangat sulit jika ia masih merindukan Hoseok, lelaki penuh semangat yang benar-benar ia cintai.

“Aku harap begitu.”

***

To be Continued

Advertisements