party4

Fanfiction by Julian Yook

Cast: Park Jimin [BTS], Kim Seokjin [BTS], Suga [BTS], Kim Taehyung [BTS], Yong Junhyung [BEAST]

Genre: Crime, AU, Detective story | Length: Chaptered |Rated: PG-17

***

Junhyung kembali bersama kasus barunya. Ditemani detektif junior bernama Park Jimin, mereka berjuang mengungkap kematian seorang gadis kecil di Sungai Seomjin.

Petani bernama Taehyung dan seorang warga lokal bernama Seokjin muncul sebagai saksi.

***

[Chapter 1]

Junhyung berderap sambil merapatkan mantel panjang yang tersingkap oleh angin. Tak lama kemudian, tangan pucat miliknya merayap ke arah kerah, memastikan pakaiannya pagi ini tetap rapi.

“Perhatikan langkahmu, di sini licin.” Junhyung mengernyit ngeri ketika melihat gerak-gerik Jimin di depannya. Tampak terburu-buru.

Ia sendiri berjalan dengan hati-hati di antara jalan setapak yang dilewatinya pada pukul tiga pagi. Beberapa tumbuhan liar basah menyambut betis, sementara sepatu bootsnya mencoba membelah mereka.

Bahu Sungai Seomjin sudah dekat dari jangkauan mata kedua detektif itu. Junhyung sedikit memicing memerhatikan siluet lelaki yang berdiri tegap di sisi sungai, tampak menunggu kedatangan mereka. Sementara ini, baru itu saja yang ia dapat lihat, selain langit hitam pekat dan pepohonan rapat serupa brokoli besar sebagai latar belakang.

“Di situ, Tuan. Mereka sepertinya telah menunggu kita.” Jimin menoleh sekilas, tangannya menunjuk ke depan. Mereka mempercepat langkah dan berhasil keluar dari kerumunan tumbuhan liar. Tapi, sekarang mereka juga tetap harus hati-hati, karena bebatuan khas sungai telah menyambut dengan senang hati.

“Mereka?” Junhyung terheran sebentar. Bibirnya terbuka sedikit—tampak berpikir, membuat uap putih mengepul. “Memangnya ada berapa orang?”

“Oh, dua, Tuan. Kepolisian bilang ada dua saksi.” Jimin menghentikan perkataannya beberapa saat, melangkah lebar penuh fokus. “Yang satu tampak ketakutan dan yang satu lagi terlihat lebih tegar. Kudengar mereka sedang memancing di sungai waktu secara tiba-tiba mayat gadis kecil itu mengambang,” tambahnya, tanpa menoleh.

Junhyung terus berjalan di belakang Jimin dengan hati-hati, sementara otaknya terus bekerja dengan keras. Beberapa kalimat yang dilontarkan Jimin tadi bahkan bisa membuatnya berspekulasi.

Tanpa Jimin ketahui, Junhyung mengangguk-ngangguk dan bertaruh dengan dirinya sendiri bahwa hipotesanya tak akan meleset. Ini akan menjadi kasus yang mudah.

“Hati-hati.” Jimin mengulurkan tangan ke belakang. Tangan besar Junhyung langsung menyambutnya. “Jalan bebatuan ini sangat membahayakan, Tuan.”

“Thanks.”

Mereka kini berjalan berdampingan. Senter besar di tangan Jimin mengarah jauh ke depan. Tampak aliran sungai gelap tersorot sekilas. Ia lalu mengarahkannya pada sosok yang tengah membelakangi mereka. Perlahan lelaki itu berbalik dan menutupi wajah dengan jari-jari, menahan silau sinar senter.

Dengan segera Jimin menurunkan senternya. Ia dan Junhyung mempercepat langkah tanpa sedikit pun mengurangi kehati-hatian.

“Selamat pagi!”

Disinari bulan yang masih menggantung di langit, Junhyung dan sosok lelaki itu saling menunduk. Lain halnya dengan Jimin, ia langsung memusatkan perhatian pada sosok gadis yang tergeletak di atas bebatuan.

“Kau pasti orang yang menelepon pihak kepolisian?”

“Iya.” Lelaki tinggi itu mengangguk. “Saya Seokjin.”

“Saya Junhyung,” balasnya. “Bisa ceritakan padaku bagaimana kronologis penemuan mayat ini?”

Junhyung bisa mendengar lelaki di hadapannya menghela napas pelan. “Tentu.”

“Aku sedang memancing di sini, lalu secara tiba-tiba aku melihat kepala mengambang di depanku . Aku sempat melonjak dan berteriak minta tolong. Hingga Lelaki itu melintas.” Seokjin melirik sebentar ke arah seorang lelaki yang sedang memeluk lutut, tergugu ketakutan agak jauh dari mereka.

“Mayat dalam keadaan terbaring atau tertelungkup?”

“Tertelungkup. Yang bisa kulihat hanya punggung gadis kecil itu dan kepala bagian belakangnya saja. Kemudian kami sama-sama mengangkat mayat itu dari sungai. Semuanya berjalan lancar hingga akhirnya kami membalikkan tubuh sang gadis. Lelaki itu melonjak ketakutan. Seluruh badannya menggigil,” dilirik lagi lelaki itu sekilas, “sampai sekarang.”

“Apa yang kau katakan padanya?”

“Kubilang padanya agar menenangkan diri dan jangan khawatir karena aku akan memanggil polisi.”

Junhyung lalu mencondongkan badan dan berbicara sangat pelan, “Bukankah mencurigakan?” Junhyung mengerling ke arah si Lelaki. “Pagi buta begini melintas di dekat sungai?”

Seokjin berdehem. Dia sedikit membungkukkan badan dan berbicara dengan volume yang serupa, “Aku juga berpikir begitu.” Bisa Junhyung lihat mata Seokjin bergerak mengamati si Lelaki dari atas ke bawah penuh curiga. “Aku sempat bertanya. Dia bilang namanya Kim Taehyung, seorang petani di desa ini. Mungkin dia hendak mengontrol ladangnya.”

Junhyung mengangguk mengerti. Dia sebenarnya heran juga, memangnya seberapa parah kondisi mayat hingga petani itu bisa sangat ketakutan?

“Tuan Junhyung!”

Junhyung menoleh cepat. Ia mendapati Jimin tengah berjongkok sambil menengadah, beberapa meter dari tempatnya berdiri. “Kemungkinan besar korban ditenggelamkan, Tuan.”

Junhyung berjalan mendekat. Sorot matanya menajam, mengamati jasad itu dengan gerak bola mata yang cepat. Junhyung menepuk pundak Jimin untuk menyuruhnya bangkit. Jimin lalu melangkah mundur, membiarkan seniornya mengambil alih.

Junhyung mengeluarkan sarung tangan karetnya. Memakainya begitu professional dan setelah tangannya terbungkus, ia langsung menengadahkan tangan ke belakang. Jimin buru-buru merespon hal itu dengan memberikan Junhyung sebuah kamera.

Junhyung dengan sigap mengambil beberapa foto dari korban. Setelah selesai, ia kembali menyerahkan kamera itu pada Jimin dan melanjutkan analisis singkat, sambil terus memandangi si gadis kecil.

Dari postur tubuhnya, Junhyung mengira bahwa gadis ini masih berusia sekitar 13 atau 14 tahun. Semuanya masih utuh. Tak ada luka besar menganga atau hal lainnya yang menakutkan. Baju gadis itu juga masih utuh, berarti ia belum lama tenggelam.

To be Continue

Advertisements