how i married

.

Author: Julian Yook | Cast: Hoseok (J-Hope) , Taehyung (V), Jimin, Soyoung (OC), Eun Kyo (OC) | Genre: AU, Romance, Marriage life | Length : Chaptered | Rate: PG – 17!

***

Lalu Taehyung berkaca pada dirinya sendiri, normal? Apakah normal itu sebuah takaran standar yang dibuat manusia? Lalu apa gunanya Tuhan menciptakan kita berbeda-beda?

***

Chapter 2

Dengan wajah ragu, Taehyung membuka pintu lebar-lebar. Sosok tinggi Hoseok langsung menghambur ke arahnya dan memeluk begitu erat. Seolah-olah mereka sudah tidak bertemu lama sekali.

“Taehyung, aku merindukanmu,” ungkapnya, membenamkan wajah di pundak lelaki itu.

Taehyung mengembuskan napasnya berat. Ia menepuk-nepuk punggung Hoseok dan berbagai macam pertanyaan langsung bercabang di kepala. Rasanya baru beberapa detik yang lalu ia melihat lelaki berambut hitam itu menggeram dengan gemas, mengetuk pintu penuh nafsu dan teriakannya terdengar seperti orang kesurupan. Dan, lihatlah sekarang, begitu manja menenggerkan dagu di atas bahu Taehyung. Suaranya juga melemah hingga beberapa oktaf. Taehyung berharap semoga saja lelaki ini bukan pengidap kelainan mood semacam bipolar disorder.

“Hobbie,” balas Taehyung, “aku tidak kemana-mana.”

“Uh.” Hoseok melepaskan pelukan. Dua sudut bibirnya jatuh dan ia menatap lelaki berambut coklat di hadapannya dengan sedih. “Tapi, kau tidak membalas pesan dan teleponku sama sekali.”

Ah, itu. Tadi aku sedang mandi. Kau tahu kan kalau aku mandi rasanya seperti memandikan seluruh orang di Seoul, lama sekali.”

Hoseok terkikik pelan. Ia menggamit pinggang Taehyung dan berjalan bersama ke ruang tengah. Pandangannya beredar ke furniture di sekeliling ruangan. Ia menghirup udara dalam-dalam seolah dengan begitu ia bisa mendapati aroma tubuh Taehyung di dalamnya. “Hm, rasanya aku ingin menginap di sini. Sudah lama sekali sejak kejadian itu. Kau mengingatnya, kan?” tanya Hoseok, melirik usil.

Dengan wajah datar, bola mata Taehyung bergerak ke kanan dan kiri pelan dan malas. Ia tampak tidak berpikir, benar-benar kosong. “Kejadian yang mana?” tanyanya, dengan nada yang serasi dengan wajahnya yang blank.

Hoseok duduk di sofa berbulu yang empuk. Sikunya dengan angkuh bersandar pada lengan sofa. Ia tersenyum sebentar, meremehkan kemampuan berpikir Taehyung yang benar-benar payah. Tapi ia menyukainya. “Waktu itu, pertama kali kau menciumku.” Bahunya terlonjak geli. “Ahh, masih bisa aku rasakan bibirmu bergetar waktu itu.”

“Oh, yang itu. Itu pertama kalinya dalam hidupku.” Taehyung duduk di samping Hoseok, melihat wajah lelaki itu dari samping dan tersenyum kotak hingga gigi atas dan bawahnya benar-benar terlihat. “Kau beruntung bisa mendapatkannya dariku. Apa itu juga yang pertama bagimu?”

Hoseok berdehem. “Tentu saja. Kau yang pertama, Taehyung.”

Kepala dua lelaki itu lalu bersandar pada sofa. Menatap langit-langit ruang tengah yang damai dan sepi. Mereka membiarkan keheningan merasuk entah sampai berapa saat. Namun, agaknya dua orang itu menikmati dengan sangat. Berbagai pikiran serius berterbangan di kepala Hoseok. Sudah bukan jadi hal aneh baginya. Meskipun terkadang ia bertingkah terlalu bersemangat, namun otaknya sedikit banyak dijejali oleh pertanyaan-pertanyaan serius tentang masa depan. Bagi Taehyung, inilah pertama kalinya ia benar-benar berpikir dengan serius. Dan ia sangat bekerja keras untuk itu. Berbagai masalah muncul di otaknya seperti permainan pukul tikus, benar-benar cepat dan tiba-tiba. Dia tidak tahu apakah otaknya didesain untuk memecahkan itu semua. Tapi, ya, dia yakin bahwa ia bisa melewati ini dengan baik. Sebaik ia melewati masa sekolahnya yang terdengar berat bagi siswa lain. Toh, buktinya ia bisa melewati itu semua. Bahkan terbilang sukses hingga sekarang ia bisa kerja kantoran, sama seperti ayahnya dulu.

“Kau sudah memikirkannya?” suara pelan Hoseok terdengar serak, bercampur dengan ludah yang sepertinya menggumpal di tenggorokan. Lelaki itu menolehkan kepalanya sedikit ke pinggir, namun matanya masih memandang langit-langit dengan kosong. “Maksudku tentang pernikahan itu.”

“Sudah.”

“Jadi apa keputusanmu?”

“Aku ingin menikah, Hoseok. Aku ingin punya anak.”

“Sudah kuduga.” Terdengar Hoseok mengembuskan napasnya dengan berat. “Aku tau suatu saat ini semua akan terjadi. Aku kira kita akan menikah, tapi itu semua tidak pernah semudah yang aku bayangkan. Lalu, sekarang orangtuamu, sama sekali tidak membantu.”

“Maaf … tapi aku serius waktu mengatakan bahwa aku mencintaimu sebagai seorang teman juga sebagai seorang kekasih. Aku tidak pernah berpikir bisa menjadikanmu sebagai suami. Jika kamu suami, lantas aku suami? Jadi kamu punya suami. Dan aku juga punya suami. Itu semua membuatku pusing, Hoseok.”

“Ya … itu hanya istilah.”

“Tapi, kamu tidak usah khawatir. Karena aku telah menyiapkan satu rencana untuk kita. Aku bisa jamin, setelah menikah nanti kita masih bisa bertemu bahkan berpacaran seperti ini.”

Sontak Hoseok menegakan badannya dan menatap Taehyung lamat-lamat. “K-kau yakin?”

Taehyung mengangguk kencang dan mengulum senyum.

“Memangnya rencana apa?”

“Rahasia. Kau hanya perlu menikmatinya saja,” jawabnya, melipat tangan di atas dada dan berlagak seperti seorang bos. “Biarkan aku bekerja dengan caraku. Kau hanya tinggal tau beres. Hmm, aku yakin ini akan berhasil 98%.”

“Ahhh, baru kali ini aku tau kalau kau ternyata bisa juga diandalkan, Taehyungie!” serunya bersemangat. Ia lalu membanting punggungnya ke sandaran sofa hingga Taehyung di sampingnya ikut berguncang oleh tekanan yang hebat. Beberapa debu bahkan itu berterbangan. “Waaa … aku jadi tidak sabar.” Hoseok menatap langit-langit dengan mata menyerupai bulan sabit. Tangannya yang besar ia gosok-gosokkan penuh semangat.

“Tinggal tunggu waktunya saja,” Taehyung menyahut, penuh ketenangan.

Usia Hoseok terpaut tak jauh dari usianya. Namun, entah karena alasan apa Hoseok lebih dewasa dan ya, bisa dibilang lebih sukses. Dia punya penghasilan lebih besar dari pekerja kantoran. Toko bajunya sudah menyebar di mana-mana. Taehyung sempat berpikir bahwa tak ada lagi yang dibutuhkan kekasihnya itu di dunia selain cinta. Semua material telah ia dapatkan. Orangtuanya hidup mewah dan terjamin. Saudara-saudaranya juga. Dia bisa membeli apapun yang ia mau dan berkelana kalau ia memang ingin. Benar-benar seorang perancang busana yang sukses. Orangtua Hoseok juga sepertinya tak begitu mendesak agar ia segera menikah. Dan bilapun iya, mereka kemungkinan besar menerima jika lelaki itu jujur tentang orientasi seksualnya. Sama seperti yang Taehyung pikirkan, bahwa Hoseok telah mendapatkan apapun yang ia inginkan kecuali cinta. Jadi sepertinya tak masalah bagi dua orang itu asal Hoseok bahagia. Dan dengan berat hati, Taehyung harus mengakui bahwa hal itu bisa Hoseok dapatkan darinya yang tak lain akan menikah dengan seorang wanita.

“Hoseok.”

“Hm?”

“Aku ingin kau menjaga dirimu baik-baik.”

“Ah, iya tentu.”

“Kau tahu kan, orang jahat di dunia ini bukan sekedar mitos.” Taehyung menoleh, memandang profil wajah Hoseok dari samping. “Kau orang yang baik, aku khawatir seseorang akan memakaimu sebagai atm berjalan.”

Hoseok menoleh, ia tersenyum dan memandangi wajah polos Taehyung dari dahi hingga dagu berulang-ulang. “Terimakasih telah mengkhawatirkanku.”

“Aku hanya takut suatu saat kau akan melupakanku, hingga aku pun akan lupa padamu.”

Mata besar Taehyung menatap dengan penuh khawatir. Khawatir tentang segala hal. Masih membekas di otaknya bahwa ia berencana menjauhi Hoseok untuk beberapa waktu ke depan. Namun, nyatanya di sinilah ia berada. Duduk bersama dan berhadapan, menikmati hembusan udara yang menguar dari hidung, terasa lembut dan sejuk. Ia suka aroma pasta gigi Hoseok. Bahkan menanyakannya hingga ia beli merk yang sama. Katanya, dengan begitu ada sesuatu dalam diri Hoseok yang hidup dalam dirinya. Sekarang itu semua makin terasa jelas, melepaskan Hoseok ternyata tidak semudah menolak telepon. Ia terlalu manis. Meski terkadang dalam beberapa kasus kelakuannya benar-benar di luar nalar. Lalu sekarang apalagi? Taehyung dihadapkan oleh kenyataan bahwa ia tidak bisa menolak kehadiran lelaki itu begitu saja. Mempersilahkannya masuk ke rumah dengan leluasa sudah seperti sebuah kebiasan. Sekeras apapun lelaki itu mencoba, maka yang ia dapati adalah ia berada di samping Hoseok, seperti sedia kala.

Mereka berdua kemudian kembali menatap langit-langit dan larut dengan fantasi masing-masing. Taehyung kesal karena ia kini menyadari satu hal: ia tidak bisa membiarkan Hoseok memilih lelaki yang salah. Menjalin hubungan dengan lelaki beristri entah mengapa tak akan berlangsung lama dalam prediksinya. Taehyung tidak pernah tahu bahwa pikirannya bisa berkelana sejauh ini, namun membayangkan anaknya menyaksikan mereka berpacaran, entah mengapa membuatnya sakit. Jelas, Taehyung tak ingin itu semua terjadi. Kelak, direncanakan atau tidak, Taehyung yakin ia akan mencicipi tubuh istrinya. Entah dengan nafsu atau terpaksa. Tapi, ia berpikir itu akan menjadi pengalaman pertama yang sangat menegangkan. Ia ingin tahu rasanya berpelukan dengan seorang gadis. Meski di sekolah menengah ia melakukannya berkali-kali, tapi rasanya hambar. Tak ada kejutan listrik seperti yang orang-orang katakan. Ia tak terlalu peduli akan hal itu, karena Taehyung berpikir mungkin semua dikarenakan merekalah yang mecintai Taehyung, bukan Taehyung yang mecintai mereka.

Bagaimana pun, Taehyung tetap penasaran bagaimana jadinya jika ia mendapatkan hal itu dari istrinya sendiri. Akankah ia benar-benar jatuh cinta pada wanita? Apakah semua yang mereka lakukan kelak akan menjadi sebuah momen yang istimewa? Taehyung tidak pernah tahu. Tapi, setidaknya ia berharap bahwa istrinya kelak akan menikmati hidup dengan bahagia.

“Tapi, aku mencintaimu, Hoseok,” ia bergumam, pelan.

***

“Pernahkah kau berpikir untuk memiliki anak?”

Wanita berambut hitam di hadapannya meletakan cangkir ke atas piring kecil. Lidahnya yang merah muncul di sudut bibir dan tampak menjilat busa kopi dengan hati-hati, kemudian menjawab, “Hmm, anak? Sejujurnya tidak. Kamu sendiri bagaimana?”

Taehyung menegakkan badannya yang merosot dan menyandarkan kedua sikunya di lengan kursi. “Akhir-akhir ini aku memikirkan hal itu.” Pandangannya kemudian lepas landas melewati ubun-ubun Eun Kyo, mengawang-ngawang pada hiruk-pikuk yang terjadi di belakang kursi. “Rasanya menyenangkan kalau aku bisa menemui diriku dalam versi kecil. Aku penasaran bagaimana mereka akan terlihat. Aku ingin mengajaknya ke kebun binatang dan memberi makan merpati bersama.” Ia lalu seperti tersentak, menatap wanita di hadapannya dengan mata membesar. “Apa ada kemungkinan kau akan hamil jika kita menikah, Eun Kyo?”

Eun Kyo menatap nanar. Seluruh dunia seperti membesar di matanya. Ia tidak menyangka bahwa pertemuan pertamanya dengan Taehyung akan langsung mengarah pada pertanyaan sedetail ini. Ia tahu bahwa ia benar-benar seorang lesbi murni, tapi bagaimana pun juga dia adalah seorang yang benar-benar menjaga diri dari sex bebas. Sejauh ini ia tak pernah melakukan hal aneh dengan kekasihnya. Lalu apa yang bisa ia harapkan dari pengetahuannya tentang hubungan dengan seorang lelaki? Itu tidak pernah menarik minatnya hingga tiba-tiba saja, uh, sial. Ia merasa payah. “Tapi, aku benar-benar tidak tahu caranya, Taehyung.”

Mendengar itu, mata besar Taehyung kontan melayu. Ia menutup wajahnya tidak begitu rapat dengan satu tangan. Menampilkan ekspresi kecewa berlebihan. Tapi, beberapa detik kemudian …

“AKU PUNYA IDE!” serunya, melonjak rendah di atas kursi. Ia menatap sekitar dan merundukan kepala mendekati meja, memelankan suara seolah-olah ada orang yang mau repot-repot menguping pembicaraan mereka. “Aku akan tanyakan caranya kepada teman kantorku, namanya Jimin. Hmm, maksudku Park Jimin. Dia punya beberapa video porno dalam ponselnya. Dan …,” mata Taehyung berkelebat ke segala arah, “…, aku rasa dia akan memberitahuku dengan bersemangat!”

“Ah, ya? Benarkah?” bisik Eun Kyo. “Apa kau juga benar-benar total tak punya ketertarikan pada hubungan dengan lawan jenis? Sampai-sampai kau tidak tahu bagaimana hal itu bekerja? Apa teman kantormu tidak ada yang curiga?” Eun Kyo menghela napas, dan kembali bertanya. “Lalu, jika mereka sedang menonton hal seperti itu, apa mereka tidak mengajakmu? Lalu kau bagaimana?”

“Terus terang, Jimin beberapa kali memaksaku menonton bersama. Lalu aku menamparnya berkali-kali karena kupikir otaknya sudah tercemar.” Masih dengan kepala yang merendah ia kembali melanjutkan, “akhirnya aku berteriak di depan wajahnya bahwa AKU INGIN MENONTON SHINGEKI NO KYOJIN!” Taehyung membekap mulutnya dengan spontan. Ia tak mengira bahwa suaranya akan sekeras itu … persis dengan yang ia lakukan pada Jimin. “Maaf … maaf ….” Ditangkupkan kedua tangannya di udara dengan wajah memelas bercampur malu. Ah, sejak kapan ia jadi punya malu seperti itu? Bukankah selama ini ia memang sedikit tidak waras.

Eun Kyo di hadapannya hanya melirik sedikit-sedikit ke sekitar. Sial sekali rasanya ketika beberapa pasang mata melihat mereka dengan tatapan apa-yang-terjadi-pada-pasangan-itu? Masih di atas kursi, ia menggerakkan badannya berputar samar dan membungkuk berkali-kali dengan canggung. Matanya menunduk kikuk sementara mulutnya berkata pelan, “mianhe.” Berulang-ulang.

Setelah memastikan orang-orang itu tidak memerhatikan mereka, akhirnya Eun Kyo bisa dengan leluasa bertanya, “lalu, apakah temanmu yang bernama Jimin itu marah?”

“Tidak. Dia hanya tertawa sampai matanya menghilang lalu aku berlari menjauhinya secepat mungkin. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, ya … kurasa dia tidak akan marah. Mungkin dia tidak bisa marah? Karena dia sangat baik pada semua orang.” Taehyung mengangguk-ngangguk. Bola matanya tersungkur ke pojok kelopak, tampak mengingat-ngingat. “Dia suka sekali tersenyum. Senyumnya lumayan, tapi kalau dia marah, wajahnya akan berubah merah. Kau tahu? Seperti sengaja dicat.”

“Apakah dia akan marah kalau kau tiba-tiba datang dan menanyakan itu?”

Terdengar bunyi keletuk jari telunjuk Taehyung beradu dengan meja kayu mahoni. Dia sebenarnya ragu karena sudah beberapa hari tak bertemu dengan lelaki itu di kantor. Akhir-akhir ini mereka terlalu sibuk, dan meja mereka lumayan jauh. Waktu makan siang juga tak pernah begitu cukup untuk bercakap-cakap. Tapi, Taehyung yakin lelaki manis itu akan berbicara padanya baik-baik. “Dia sudah melupakan kejadian itu, mungkin.”

Bayangan Jimin kemudian berkelebat dalam benaknya. Tentang bagaimana dia mengangkut berkas-berkas dengan keren. Waktu jas hitamnya ia tanggalkan di sandaran kursi dan ia menarik segitiga dasinya hingga melorot, membiarkan lehernya bernapas lebih leluasa. Ahh, Taehyung mengakui, lelaki itu sexy sekali. Umurnya hanya berbeda beberapa bulan saja. Tapi kemudian Taehyung menyadari, Jimin itu lelaki normal yang menyukai wanita baik hati dan … mungkin sexy sebagai bonus?

Lalu Taehyung berkaca pada dirinya sendiri, normal? Apakah normal itu sebuah takaran standar yang dibuat manusia? Lalu apa gunanya Tuhan menciptakan kita berbeda-beda?

Ia seperti menyadari bahwa mungkin orang lain akan memandangnya abnormal bukan hanya karena kelakuannya, tapi … sesuatu yang ada dalam dirinya … yang selama ini selalu berhasil ia sembunyikan.

Dari planet mana ia berasal? Ia tidak tahu, sepanjang yang ia ingat … ia hanya mengetahui planet bernama bumi, dan … Saturnus, Uranus, Mars? Yeah, apalagi? Mungkin Neptunus.

Taehyung mengembuskan napasnya pelan. Ia kemudian menatap sekitar dan terhenti pada secangkir caramel
macchiatonya yang tersisa setengah cup. “Jadi, bagaimana ketentuan pernikahan kita nanti? Apa kau mau membuat syarat-syarat dan semacamnya?”

“Aku ingin kita bisa bertemu dengan pasangan kita, tapi jangan terlalu sering. Maksimal tiga kali seminggu. Jujur, setelah kau bicara tentang anak, aku jadi sedikit berpikir ke arah sana. Jika suatu saat kita punya anak, aku ingin kita merawatnya dengan kasih sayang dan … benar-benar berhenti dengan pasangan kita,” tutur Eun Kyo panjang lebar.

“Kalau begitu, bukankah akan sama saja? Cepat atau lambat kita akan meninggalkan mereka dan fokus pada anak kecil itu. Bukankah akan sangat menyedihkan jika suatu saat kita menghilang setelah sekian lama bersama dengan pasangan kita? Aku rasa itu akan lebih menyakitkan bagi mereka.” Taehyung berhenti sebentar, mengambil jeda. “Dengan waktu bertemu yang semakin banyak, bukankah akan membuat mereka semakin sulit melupakan kita? Aku tidak yakin, tapi bagaimana kalau kita coba untuk mendatangi pasangan kita bersama dan menjelaskan bahwa kita akan menikah?”

“Aku tidak pernah senekat itu sebelumnya, Taehyung. Tapi, bukankah tujuan kita menikah adalah supaya bisa tetap berkomunikasi dengan mereka?”

Taehyung memijit pelipis. Ia baru tahu kalau berpikir bisa semenyakitkan ini. Sesuatu kembali bergejolak dalam hatinya. Hoseok? Entah sampai kapan hubungan diam-diam itu akan bertahan. Terkadang ia ingin pindah ke Thailand kalau saja tak ingat keluarganya di sini. Dan kembali, logika mengalahkan segalanya. Mau tidak mau, ia harus menerima bahwa pertemuannya dengan Hoseok akan semakin mengering dari waktu ke waktu.

“Itu berbeda kalau kita punya anak,” jawab Taehyung singkat.

“Kalau begitu, jangan sampai kita punya anak.”

Taehyung langsung terlonjak dengan spontan. Menatap Eun Kyo lamat-lamat dengan pandangan tidak percaya. “Aku tidak mau dan aku tidak bisa,” ucapnya disertai penekanan. “Aku ingin kita punya anak lalu seiring dengan itu kita akan hidup normal seperti ukuran normal yang kebanyakan orang gunakan. Mungkin di awal pernikahan kita masih bisa bertemu dengan pasangan kita secara intens, tapi di hari-hari berikutnya aku berharap itu semua semakin berkurang.”

Eun Kyo menarik napas dengan lemah. Dia tak punya pilihan lain. Sepatutnya ia bersyukur bisa bertemu dengan lelaki seperti Taehyung. Eun Kyo mengakui bahwa menemukan orang yang terjebak dalam situasi seperti dirinya terbilang sulit. Lagipula wajah Taehyung enak dilihat, bahkan terbilang tampan. Rasanya itu akan memudahkan Eun Kyo dalam hidup dan menjalani hari. Jadi, sudah sepantasnya ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. “Baiklah,” ia menjawab. “Aku akan menurutimu.”

Taehyung mengangguk-ngangguk dan mengangkat jempolnya. “Ada lagi yang ingin kau jadikan syarat?”

“Hmm, apa kita boleh membawa pasangan ke rumah?”

“Tidak.”

“Oo-oh … baiklah.”

***

Taehyung memacu mobilnya di jalanan yang sempit. Dia melihat ke depan dengan fokus dan berbicara tanpa menoleh sedikit pun. “Kau yakin ini jalannya?”

Eun Kyo di sampingnya mengangguk. “Aku ke sini hampir tiap minggu.” Ia kemudian menoleh ke arah Taehyung. Dagu lelaki itu terangkat, alisnya tampak berkerut penuh konsentrasi. Sementara bibirnya tampak memancung beberapa milimeter. “Apa dia tinggal di gang tikus, hah?” tanyanya sarkastik.

Terkadang secara sadar tidak sadar Taehyung menampilkan wajah seperti itu. Teman-temannya menyebut dia sebagai orang yang judgemental. Jika dihadapkan sesuatu yang aneh, mata di bawah alisnya yang mengerut akan menatap merendahkan. Sementara bibirnya akan turun, lebih-lebih merendahkan lagi. Di beberapa kasus, akan melengkung-lengkung seakan jijik. Yah, itu tak pernah benar-benar ia sadari, sampai suatu saat ia melihat rekamannya langsung ketika berlibur di Busan.

“Kebanyakan rumah memang seperti ini, Taehyung,” jawab Eun Kyo santai. “Di depan kau bisa belok ke kiri.”

Taehyung memutar kemudi dengan lancar. Ia lalu menepikan mobilnya di sebuah tanjakan, tepat di depan rumah kekasih Eun Kyo. Wanita itu masuk duluan. Sementara ia menyuruh Taehyung diam di mobil. Taehyung hanya bisa mengetuk-ngetuk setir mobilnya dan menunggu hingga Eun Kyo kembali keluar. Kaca mobil ia buka sedikit dan merebahkan punggung dengan nyaman. Sekilas ia melirik jam digital yang tertera di dasbor mobil. Uh, semoga saja tak memakan waktu lama untuk meyakinkan wanita di dalam rumah sana.

Mata Taehyung menangkap objek yang bergerak. Keluar dari pagar dan mendekati pintu mobilnya dengan tergesa. Dari celah jendela, Eun Kyo bisa melihat sedikit wajah Taehyung di dalam yang mulai bangkit dari berbaringnya.

“Bisa turun sekarang?”

Setelah menutup jendela hingga rapat dan mengunci mobil. Taehyung berjalan berdampingan dengan Eun Kyo. Setelah melepas sepatu, mereka masuk melewati semacam lorong sepanjang satu meter yang menghubungkan mereka langsung dengan ruang tengah. Sepanjang itu mereka saling berpegangan tangan. Meskipun Taehyung tampak enggan dan melirik sinis ke arah Eun Kyo, tapi sepertinya wanita itu tidak peduli. Ia hanya terus berjalan menuntun Taehyung hingga tiba ke ruang tengah.

“Ini Taehyung calon suamiku, jika kau masih tidak percaya.”

Taehyung membungkuk dan mulai duduk di antara salah satu sisi meja persegi berkaki rendah.

Kembali terjadi. Sepertinya Taehyung tidak sadar bahwa kini alisnya sudah bertaut hebat di atas sana. Dengan bingung ia menatap penampilan pasangan Eun Kyo dari atas hingga perutnya, batas penglihatan yang bisa ia capai karena setengah badan orang itu tertutup meja. Taehyung bingung karena ternyata yang ada di hadapannya adalah seorang berambut pendek—sama seperti dirinya. Garis rahangnya terlihat tegas. Pandangannya kemudian turun ke arah baju orang itu. Tepat di bagian dada. Dia tidak salah lihat, kan? Apa ini hanya ilusi atau dada orang itu benar-benar rata?

Sejurus kemudian ia melirik ke arah Eun Kyo dengan geram. Setelah begitu jauh, rasanya Taehyung telah dibohongi habis-habisan oleh wanita itu. Taehyung yakin, sosok yang kini memakai baju kaos berwarna putih di hadapannya pasti seorang lelaki. Dengan kata lain, Eun Kyo telah menipunya! Taehyung mulai ragu apakah wanita di sampingnya ini benar-benar lesbi? Atau hanya akal bulus saja supaya bisa menikah dengan lelaki setampan dirinya (Taehyung tahu dirinya tampan).

Taehyung menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Kemungkinan lain mulai bermunculan begitu saja. Bagaimana kalau ternyata dua orang di ruangan ini adalah komplotan pencuri organ dalam yang telah berhasil menjebaknya? Lalu cepat atau lambat mereka akan beraksi? Oh, tidak. Rasanya perut Taehyung mulai mual. Kepalanya bergerak ke segala arah dan mencari cara agar bisa kabur dari rumah ini.

“TOLOONG!” teriaknya tiba-tiba seraya berdiri dengan buru-buru.

Tangan Eun Kyo sontak menahan. Menengadah menatap wajah lelaki itu yang tampak ketakutan. Satu tangan Taehyung dilebarkan di samping bibir, persis orang-orang yang sedang berteriak, seolah-olah dengan begitu suaranya bisa semakin keras. “TOLOOONG!”

-TBC-

P.S: Alhamdulillah, aku bisa mengetik ini dengan kecepatan 5 m/s. Katakan apa yang kalian pikirkan guys, tinggalkan jejak yaa… itu penyemangat banget buat ngelanjutin ini FF^-^!

Advertisements