girlinsugass

[A Girl in Suga’s Phone]

Fanfiction by Julian Yook

⌈♦⌋

Cast: Suga [BTS], Kim Taehyung [BTS], Yong Junhyung [BEAST], Hana Kim [OC]

Genre: AU, Crime, Detective Story | Length: Chaptered | Rate: PG-17

***

 “Ada banyak foto wanita yang kutemukan dalam ponsel Suga.” 

***

Aku tidak tahu harus memulainya dari mana.

Ini adalah kisah lama yang terus berulang dan akan aku ceritakan lagi pada kalian. Waktu di mana aku sering kali hilang kendali … lalu kisah ini akan bergulir seiring matahari menyembul pucat di sela-sela gedung tinggi Seoul.

“BAEKJE HOSPITAL!”

Taksi yang kutumpangi melesat, membuat segala yang ada di luar jendela terlewat begitu cepat. Punggungku sempat terhempas dibuatnya. Sekalian saja aku bersandar dan memandangi jalanan melewati kaca kemudi lurus-lurus.

Aku berani bertaruh bahwa pagi ini aku terlihat kacau. Semua itu terbukti ketika mataku secara tak sengaja menangkap spion yang tergantung sedikit bengkok pada tepi langit-langit taksi. Kudapati pantulan diri dengan pelupuk mata yang basah serta rambut coklat gelap yang kucepol secara asal, hingga anak-anak rambutku terurai tipis di depan telinga.

AW!

Astaga, perutku sakit sekali, rasanya seperti dililit.

Kontan kugenggam jok kulit berwarna kelabu pudar ketika taksi ini berbelok begitu tajam. Kuraup erat seperti saat aku meraup seprai kasurku. Hal ini selalu berhasil memberikan ketenangan tatkala sakit perut menyerang. Entah mengapa, namun rasanya seperti ada pegangan. Walaupun jok ini terasa begitu kesat ketika aku menyentuhnya, tapi setidaknya aku merasa sedikit lebih baik.

Kuberikan beberapa lembar uang ketika taksi berhenti tepat di depan Baekje Hospital. Aku melihat jam tanganku sekilas. Ini masih pukul sembilan pagi, kuharap aku masih bisa menemui saudaraku sebelum tim forensik membawanya untuk diotopsi.

Aku melongok ke luar jendela, memandangi gedung tinggi itu dengan sedikit menanggah. Pintu taksi terbuka tak lama kemudian. Setelah mengelus perutku sekilas, aku pun menjatuhkan langkah pada aspal kokoh ini. Sempat aku meringis sebentar dan menggeleng pelan waktu sang supir menanyakan keadaanku, kumencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Tanpa memedulikan rasa sakit, aku melangkah lagi dengan tergesa-gesa dan masuk ke rumah sakit lebih dalam lagi.

Aroma khas begitu kental menggelitik hidungku ketika pintu kaca ini terbuka. Kususuri lorong dengan segelintir orang yang berjalan lambat di sisinya. Pintu berwarna coklat pucat tertutup rapat di sepanjang lorong dengan papan angka tertera pada masing-masingnya.

Tak lagi kupedulikan perut yang terus melilit dan meraung-raung hingga ke tenggorokan. Yang ada di pikiranku adalah percakapan telepon tadi pagi dengan ibu. Mataku yang mengantuk langsung membeliak ketika ibu mengatakan bahwa Suga saudaraku ditemukan tewas dengan tembakan di dadanya.

Satu hal yang membuatku heran adalah ….

Ibu mengatakan bahwa polisi menemukan ponsel di tangan kanan Suga. Jari-jari Suga yang panjang dan kurus melingkar pada ponsel berwarna putih itu, menggenggamnya dalam satu kepalan tangan yang lemah.

Masih basah ingatanku tentang bagaimana tangis ibu dan teriakkannya di sambungan telepon. Berbagai bunyi gemerisik dan gesekan udara sisa pernapasan berembus dan tiba di gagang teleponku seperti bunyi angin puting beliung.

Dia sepertinya begitu terpukul, tak terelakan.

Aku mengerti dan mungkin akan melakukan hal serupa jika aku menjadi ibu. Bagaimana mungkin ia tak menyayangi Suga sementara kenyataannya Sugalah yang sudah menemaninya selagi aku diharuskan tinggal di sebuah flat dekat kantorku. Ibu pernah bilang bahwa Suga membuatnya merasakan sensasi punya anak laki-laki. Bukan tanpa alasan pula Suga tinggal di rumahku. Jarak antara rumahku dan kampusnya terbilang dekat. Jadi, keluarga kami memutuskan untuk menampungnya saja daripada membiarkannya menyewa apartement mahal.

Ia telah lama tinggal di rumahku kemudian secara tiba-tiba ia mati begitu saja.

Begitu saja … tanpa ada peringatan ataupun tanda-tanda.

Aku menggelengkan kepala dan mencoba fokus pada tempatku berpijak. Sebuah gema tangis terdengar memantul dari dinding rumah sakit yang tinggi. Kakiku melangkah mendekati sumber gelombang itu secara naluriah. Pada sebuah lorong aku berbelok dan di ujung sana kudapati keluargaku sedang menangis.

“Ibu ….”

Wajah lelah ibu langsung mengarah kepadaku. Bisa kulihat matanya yang basah dan hidung bangirnya yang memerah. Serta merta ia memelukku begitu erat dan tangisnya kembali pecah.

“Hana!” imbuhnya di sela-sela isakan.

Kuusap punggung ibu yang naik-turun mengikuti senggalan napas satu-satu.

“Semua akan baik-baik saja, Bu.”

Tak lama, ibu melepaskan pelukan dan menangkup dua pipiku dengan tangannya. Ia menatapku lamat-lamat dan mulai berbicara dengan bibir gemetar, “Ka-kamu baik-baik saja, Sayang?”

Manik dengan kerutan halus di ujung itu nampak berat menanggung air mata. Tiap kali ia berkedip, maka air matanya meluncur dengan semena-mena. Tiap itu pula ibu mengusapnya dengan lemas sambil menunggu jawaban dariku.

“Ibu, aku baik-baik saja,” ucapku, meyakinkan. Mataku melirik ke arah pintu ruang mayat, “Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa.Tapi Suga bagaima—”

“Hana!” aku tersentak ketika ibu mengarahkan wajahku untuk kembali menatapnya. Tersirat betul bagaimana ia kelewat khawatir kali ini, “Dengarkan baik-baik, Suga sudah pergi. Sudah tak ada lagi yang mesti aku khawatirkan darinya. Tapi ini tentang kamu, Sayang.”

“Aku?”

“Suga sudah pergi, ya sudah … tak ada lagi yang bisa dikembalikan. Tapi kamu … kamu masih di sini, Sayang. Ibu takut itu terjadi padamu.”

“Tapi Bu—”

“Apa ada yang bisa menjamin bahwa kamu akan baik-baik saja? Suga, dia orang baik, tak pernah membuat onar. Tapi lihatlah bagaimana ia mati, Sayang! Bukankah itu mencurigakan?”

Ibu benar.

Kepeluk ia sekilas dan berbisik padanya, “Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, Bu. Tapi ….”

Aku tetap harus melihat keadaan Suga untuk terakhir kalinya. Seburuk apapun keadaannya sekarang. Meskipun aku jadi tak berselera makan dan bayangannya terus berlarian di benakku, tapi tak apa. Setidaknya aku mengetahui bagaimana kondisi terakhir dia.

Aku masuk ke ruang mayat dan mendapati sebuah meja logam dengan kain putih membentuk lekukan tubuh. Ini terasa seperti aku sedang melewati atmosfer dengan partikel-partikel kesedihan tersebar luas di setiap inchi ruangan. Terhirup sebagai ranjau yang menambah sesak sepanjang perjalananku mendekati meja di tengah ruangan. Langkah terasa makin berat seolah sepatuku adalah magnet negatif dan lantai dingin berkilau ini adalah magnet positifnya. Hal itu berhasil menambah berat langkahku yang terlanjur sudah lemas sejak di ambang pintu.

Aku mengetahui bahwa kesedihan semakin ganas mengoyak ketika aku berdiri tepat di samping meja logam ini. Partikel kesedihan serupa ranjau yang menyesaki saluran pernapasanku rupanya muncul berloncatan dari tubuh Suga. Menyebar ke segala arah dan aku menantangnya dengan berdiri tepat di sini.

Aku kalah. Segala getir yang kutantang ternyata begitu cepat mengoyak pertahananku dan membuatku semakin sakit ketika menyibak kain putih dari tubuh Suga pelan-pelan.

Gigil dari tanganku begitu kentara terlihat pada kain putih yang turun, menampilkan sedikit demi sedikit wajah Suga.

Suga … iya itu dia.

Wajahnya tidak rusak. Aku masih bisa mengenalinya dan segala tanda yang ia punya. Bekas luka yang ia dapat ketika ia jatuh dari sepeda. Bulu halus yang tumbuh di sekitar pipinya. Juga codet yang ia ceritakan padaku bahwa itu adalah luka seorang jagoan.

Sulit bagiku untuk percaya bahwa matanya yang tertutup tak akan lagi terbuka. Bahkan sekedar hanya untuk menyapa atau menjahiliku.

Suga, itu kamu?

Kulihat lagi wajahnya inchi demi inchi. Sekelebat ingatan muncul begitu saja … tentang bagaimana ia mengajariku bermain peran dan—

Astaga!

Kudapati sebuah bolong di dada kiri Suga. Luka yang kuketahui waktu aku menyibakkan kain tipis itu lebih lebar lagi.

Detik ini aku benar-benar mengerti bagaimana rasanya ketika seluruh tubuhku dihujam oleh kekuatan yang aku tidak tahu datangnya dari mana. Membebani seluruh pundakku hingga aku ikut menjatuhkan diri pada Suga, merengkuhnya dalam dekapanku.

“SUGAAAAAAA!”

Dingin terasa ketika pipiku bersentuhan dengan pipi Suga. Rambutnya yang lurus bergerak-gerak ringan waktu aku mengguncang tubuhnya, mencoba membangunkan. Tak ada lagi aroma parfum yang menyeruak dari leher ini saat aku menelusup ke dalamnya, seperti dulu.

Bukan lagi harum daun mint. Bukan … bukan yang seperti itu lagi.

Tak sedikit pun kutemui sisa pernapasan yang beradu dengan leher dan pundakku, yang dulu selalu berhasil membuatku tergelitik namun tetap hangat.

Oh, lihatlah. Bahkan ia sama sekali tak membalas pelukanku. Membuka mata saja tidak. Malah dingin dari kulitnya yang coba ia bagi denganku kali ini dan semerbak amis darah yang pelan-pelan mulai mengganggu pernapasanku.

“Suga? Bangun Suga! SUGA!”

Susah payah kufokuskan pandangan ke arah mukanya. Air mata di pelupuk semakin menyulitkanku. Aku memilih kembali merengkuhnya untuk menyembunyikan air mataku di balik rambut-rambutnya yang tebal, setidaknya untuk kali ini.

“Sudah, Sayang. Lepaskan dia.” Samar-samar kudengar suara Ibu di belakang dan pelan-pelan pundakku terasa diraihnya.

“Tolong jangan merusak bukti pembunuhan ini, Nona. Kendalikan dirimu,” sahut suara yang lain, entah siapa.

Semakin besar kurasakan tarikan di belakang. Mereka meraih tubuhku supaya segera menjauh dari tubuh Suga. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan mereka menarikku lebih jauh lagi.

“Kita pulang sekarang, biarkan orang-orang ini bekerja, ya, Sayang.” Ibu menatapku sambil menyeka air mata yang tidak pernah kusangka akan berlarian karena kematian ini. Lalu siapa yang akan membuatku tertawa dengan tingkah lakunya yang konyol?

“Kita akan menemukan pelakunya secepat mungkin.”

Tentu, Ibu. Kuharap begitu.

***

Esok paginya aku mengambil cuti dan memilih untuk tinggal di rumah ibu sampai beberapa hari ke depan. Setidaknya sampai kasus ini terpecahkan. Lagi pula terlalu riskan rasanya jika aku tetap tinggal di flatku sendirian. Setiap gerakan yang mencurigakan bisa-bisa kusangka sebagai ancaman. Terlebih lagi ibu benar-benar khawatir kalau pembunuh itu masih berkeliaran di luar sana dan menargetkanku sebagai korban selanjutnya, siapa yang tahu?

Maka pagi ini di bulan November yang dingin—dengan matahari yang masih saja bersinar pucat—aku duduk di ruang tamu. Menghadap ke arah jendela tinggi bertirai putih tipis nyaris transparan.

Dua cangkir kopi mengepul di hadapanku. Sembari memandanginya, otakku terus berpikir … bagaimana bisa seseorang yang dulu ada lalu hilang begitu saja, tak bisa ditolak. Segala yang pernah ia hadirkan akan seperti sebuah fragmen. Yang tersisa hanyalah ingatan, bahkan sifat dan segala yang ia punya ikut hilang, begitu saja.

“Kelihatannya kau masih begitu terpukul, ya.”

Cangkir kopi yang sedang kupandangi lalu berkurang satu. Terangkat oleh tangan khas laki-laki bermantel coklat. Cangkir itu semakin dekat menyambar bibir tipis, hingga leher peneguknya tampak bergerak ke atas-bawah, pelan.

“Taehyung?”

“Senang bertemu denganmu, Hana.” Setelah tangannya bebas dari cangkir, ia menyalamiku sekilas. “Kuharap kita bisa bekerjasama mengungkap kasus ini.”

“Kuharap begitu. Terimakasih sudah mau repot-repot membantu keluargaku.”

Taehyung mengibaskan tangannya dan berkata dengan santai, “Itu sudah kewajibanku sebagai detektif.”

Aku mengulum senyum ketika melihat pembawaannya. Dia lebih seperti anak muda yang sedang bermain-main ketimbang seorang detektif. Tapi tak apa, akan sangat menyenangkan jika aku menghabiskan waktu untuk mengungkap kasus ini dengannya. Oh, kuharap ia tak bisa membaca pikiranku.

“Aku banyak menangani kasus pembunuhan dengan pelaku seorang berkepribadian ganda. Kemarin, aku menangani seorang gadis berusia tigabelas tahun yang menjadi dalang pembunuhan tetangganya sendiri,” ujarnya, memiringkan kepala dengan mata kecilnya yang ia paksa untuk melotot. “Kasus-kasus yang semula kupikir tak akan terpecahkan.”

“Oh, oke. Lalu, apa kasus pembunuhan saudaraku termasuk ke dalam yang tak terpecahkan?”

Lelaki di sampingku ini lalu menatap jendela tinggi dengan sedikit menanggah, nampak menimbang-nimbang untuk beberapa saat. “Tidak. Pembunuhan ini tidak rapi.”

“Bagaimana bisa kau mengetahui itu?”

“Ayolah, itu sangat mudah. Kau akan mengetahuinya tak lama lagi.”

Entah aku harus percaya atau tidak pada Taehyung. Aku benar-benar tak punya ide untuk itu. Terlebih ada sunyi yang membatasi percakapan kami. Kurapatkan jaket rajutku untuk beberapa saat dan meraih secangkir kopi yang kuharap masih cukup hangat untuk diteguk.

“Ahh,”desahku begitu melepas kecupan pada bibir cangkir porselen.

Taehyung nampak telah berhenti dari aktivitas merenungnya. Suara antara mantel dan kursi ruang tamu terdengar sedikit bergesek ketika ia mencoba menegakkan duduk dan merogoh saku mantel.

“Ada banyak foto wanita yang kutemukan dalam ponsel Suga,” ucapnya, masih berusaha mengeluarkan sesuatu, “memang banyak, tapi jangan salah … itu masih wanita yang sama, tentunya dengan berbagai pose yang berbeda.”

“A-apa? Foto wanita?”

Taehyung terkekeh sebentar dan menyodorkan secarik kertas. “Posenya masih terbilang sederhana. Perempuan ini cantik dan sepertinya cukup sopan,” Taehyung berdehem lalu kembali melanjutkan, “dan tak ada foto bersama Suga.”

Kupandangi kertas bergambar wanita berambut coklat. Tak ada yang aneh dengan foto ini menurutku. Tapi yang membuatnya jadi aneh adalah letaknya yang berada di ponsel Suga, dalam jumlah yang banyak pula.

Apa mungkin ini adalah wanita yang Suga cintai? Tapi kenapa ia tak pernah menceritakan itu kepadaku? Padahal jelas-jelas selama ini kami selalu berbagi dan meminta masukan dalam hal semacam ini.

“Foto-foto itu bukan diambil dari kamera ponsel Suga. Terlebih lagi antara foto satu dengan yang lainnya nampak diambil dengan jarak waktu yang lama,” papar Taehyung, sembari menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kaki. “Mulai dari rambut wanita itu berwarna coklat gelap hingga pirang, dengan baju dan latar tempat yang berbeda-beda. Namun sialnya, foto itu muncul di ponsel Suga dalam waktu yang bersamaan. Sepuluh foto pertama dalam satu hari dan terkumpul sekitar tigapuluh lima foto muncul dalam waktu tiga hari saja.”

Kuhadapkan wajahku ke arah Taehyung yang nampak tenggelam dalam kenyamanan kursi empuk ini. Dia sama sekali tak melirik ke arahku, hanya menatap ke luar jendela dan mengigit-gigit bibir bawahnya dengan gerakan meremehkan.

“Bisa kau simpulkan sendiri, barangkali,” desisnya. Wajah pucat Taehyung nampak berkilauan diterpa berkas sinar dari tirai, pikiranku pun serasa mendapat pencerahan dengan melihat wajahnya.

“Jadi … ada kemungkinan Suga sendiri yang mendownload foto itu dari internet. Bisa juga … wanita itu yang sengaja mengirimkan fotonya pada Suga?”

“Atau orang yang mengaku sebagai wanita tersebut,” tambah Taehyung, tersenyum. “Mari liat kenyataannya, sejak di sekolah menengah atas Suga selalu jadi incaran para wanita. Dia punya banyak penggemar. Semasa kuliah pun aku yakin bahwa hal itu kembali terulang.” Taehyung menatapku dan pandangan kami bersirobok kali ini. “Mustahil rasanya jika Suga dengan sengaja mendownload foto wanita ini dari internet, sementara dia punya banyak penggemar. Hal yang kurasa tak akan dilakukan seorang seperti dia. Sudah pasti wanita ini yang sengaja mengirimkan.”

“Tapi apa motifnya?”

“Masih diselidiki.”

“Hm, maaf bukannya aku sok tau, tapi bukankah negara kita punya fasilitas canggih? Cukup deteksi wajah dalam foto ini dan BAAMM!” seruku sambil menepuk tangan dengan antusias, ” dalam waktu yang cepat kita bisa mengetahui identitasnya.”

Kembali kutemukan hening membatasi percakapan kami. Tanganku yang masih bertautan menggantung di udara. Aku tercenung memperhatikan Taehyung yang menatap kosong melewati pundakku alih-alih menyahut.

“Taehyung?”

Bola matanya terangkat pelan-pelan dan kini menatapku tanpa ekspresi. Tak ada pancaran terkejut darinya seperti yang biasa orang-orang lakukan ketika tersentak dari lamunan. Yang bisa kurasakan kali ini hanyalah dengusan napasnya yang keluar teratur dan alisnya yang terangkat-angkat seolah bertanya, “hm?”

“Kenapa tidak mendeteksi wajahnya saja?”

Taehyung kembali terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya kali ini.

“Taehyung?” kumiringkan kepalaku di depannya, mencoba memperoleh fokusnya lagi untukku. “Lalu kita bisa ke forensik suara,” ucapku lagi, “mendeteksi percakapan telepon dan memeriksanya apakah suara itu benar suara dari …,” kuterhenti sebentar dan menimbang-nimbang, “sebut saja dia suspect x.”

“Memeriksanya apakah suara di telepon itu cocok dengan suara perempuan dalam ponsel Suga? Begitu maksudmu, Han?”

Oh, akhirnya ia berbicara juga.

“Tapi sayangnya mereka tak pernah melakukan itu. Tak ada satu pun percakapan telepon yang ditemukan.” Taehyung menggelengkan kepalanya dengan pasrah. “Kau tahu? Semua tak akan semudah itu.”

Aku mengembuskan napas keras-keras, membenarkan posisiku dan menyandarkan punggung dengan lemas. Dengan siku tertumpu pada lengan sofa, kutempatkan telapak tangan kananku yang tergelung lemas di depan bibir dan sesekali mengigiti jempol penuh frustasi.

“Tapi kau bilang kasus ini tidak rapih, Taehyung. Seharusnya ini mudah.”

Kudengar embusan napas yang keras di pinggir sana. Disusul oleh gemeresak suara mantel dan sofa yang bergesek lembut, bisa kupastikan ia juga sama denganku … membenarkan posisi dan bersandar nyaman.

“Bukan begitu, hanya saja waktu kita tak banyak, Han.”

Sinar dari jendela adalah satu-satunya cahaya di ruangan gelap ini. Entah bagaimana jadinya wajah kami. Mungkin ada kekhawatiran tak kasat mata yang menyelubunginya sekarang, menambah pucat kulitku yang memang sudah pucat. Tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin kasus ini terungkap meski aku harus jatuh sakit, lagi.

***

To be Continued

 

P.S: HAI! Ini sebenernya naskah yang aku ikutin lomba. Tapi, as usual. I lost. Dari pada nganggur di netbook, lebih baik aku share aja :”) disclaimer, aku bikin ini terinspirasi dari true story aku sendiri. Okeh, ada komen atau pun nggak ada. Ada yang baca atau pun enggak. Aku janji bakal post ini ff sampai selesai. Tanpa protect atau apapun^^ oke… selamat menikmati :- )

Advertisements