sama saja

Fanfiction by Julian Yook

Cast: V [BTS] as Victor

Park Jimin [BTS] as Jimi

Sora [OC] as you

Genre: AU | Length : Ficlet | Rate : Teen

***

Kalau Jimin dan V tinggal di Indonesia ….

***

 

“Gue ke wc dulu ya!” Victor berjalan mundur sembari menjentikkan jarinya ke arahku. Cilok yang sedang berjejal di mulutku hampir tersembur gara-gara tingkahnya yang konyol.

Oh, please. Ini tempat umum.

Dengan punggung tangan menutup mulut dan mengunyah susah payah, aku melihat lelaki itu sudah lenyap di antara keramaian. Dia memang begitu. Kadang aku berpikir apa Victor memandang hidup ini dari segi lelucon, ya? Soalnya dia tidak pernah kelihatan stress atau apa. Semua tampak mudah dilaluinya. Waktu pertama kali ia bertemu orangtuaku juga begitu. Santai, seolah-olah ia bisa melewatinya tanpa perlu berpikir. Apa-apaan itu.

Ponsel di atas mejaku kemudian bergetar. Kurapatkan sumpit dan menyandarkannya di tepi mangkuk. Setelah melap sekilas pada serbet, kuraih ponsel itu. Kakao Talk? Dari …

Jimi?

Tumben sekali.

“Hai, Sora. Lagi ngapain? Gue bosen, Man! Lagi ngantri.”

Pantas saja. Lelaki ini memang benar-benar kurang ajar. Datang kalau sedang bosan.

“Lagi makan siang. Lagi ngapain lo? Ngantri BLT ye.”

Aku meletakkan kembali ponselku dan baru akan memegang sumpit ketika balasan dari Jimi datang begitu cepat. Kakao Talk memang luar biasa.

“SEKATE-KATE. Lo lagi sama si Victor? Di mana?”

“Di Mujigae Korean mix Sunda Resto. Eh, mantan pacar lo apa kabar tuh? Napa ga nge-ktalk ke dia aja. Gue lagi kencan, tau.”

“Si Rindi? Dia hamil.”

“Wah wah parah … sama siapa? Udah lahiran?”

“Setau gue sama si Rapmon. Gue nggak tau kapan lahirannya. Tega bener itu si Rindi. Padahal ibunya udah tua renta tapi tuh anak malah mentingin pacarnya daripada keluarga.”

“Tega bener. Mantan lo tuh, Jim.”

“Yah, untung deh udah putus.”

Udah nengokin dia belum, Jim?”

Jimi dan aku memang teman dekat. Sial sekali bagi Jimi harus punya pacar semacam Rindi yang posessivenya sudah di luar akal sehat. Rindi pernah melabrakku di tengah keramaian dan kami terlibat perkelahian sengit waktu itu. Dengan rambut hasil rebondingnya, dia berlari ke arahku dan menerjang membabi buta. Berteriak satu sama lain hingga orang-orang kuyakini memandang ngeri. Rindi dengan penuh penekanan berkata bahwa aku adalah wanita murah, gatal dan perusak hubungan orang. Padahal, please, aku tidak serendah itu. Yang paling konyol adalah ini semua gara-gara Jimi. Seolah-olah kami memperebutkan dia dan bertarung hingga napas penghabisan demi lelaki itu. Padahal aku dan Jimi hanya teman biasa yang kelewat dekat. Tipe pertemanan yang sangat dekat, sampai menyuruhku menghirup kentutnya lalu tertawa puas.

Kalau mengingat itu semua rasanya aku ingin meledak dan mengamuk. Bukan karena apa-apa. Hanya saja kelakuan Rindi itu sudah benar-benar di luar batas. Seperti lelaki hanya Jimi saja di dunia. Aku sempat bertanya-tanya pada Jimi, dari mana dia mendapat wanita seperti itu? Rambut pecah-pecah hasil rebonding gagal, kelakuannya kekanak-kanakkan, dan dia bahkan tidak punya selera yang bagus dalam berpakaian. Meskipun dia pakai bikini, dan aku misalkan seorang lelaki, aku tidak akan bernafsu sedikit pun untuk memperkosanya. Tapi, lihat Jimi. Beberapa kali aku melihat ia mencium kening Rindi diam-diam. Lalu, seperti biasa dan aku sudah sangat hapal, Rindi akan tersipu dan mengelus dahinya yang seperti jalan berbunga pasir.

Okay, mengingatnya saja aku sudah mual.

Tapi lihatlah sekarang. Wanita itu sudah putus dari Jimi dan tahu-tahu hamil oleh pria lain. Benar-benar kurang ajar, bukan? Jadi, inti perkelahian kita di masa lalu itu apa? Kalau pada akhirnya dia akan berjodoh dengan lelaki lain. Hanya membuang-buang energiku saja ternyata.

Dari kejauhan aku melihat Victor di antara keramaian. Dia menarik resleting celananya secara terang-terangan dan tampak lupa bahwa ini tempat umum. Orang lain mungkin saja melihat kelakuannya itu, tapi dia sepertinya tetap tidak peduli. Victor hanya berjalan santai dan duduk di hadapanku, tersenyum lebar.

“Udah cuci tangan, kan?”

Ia mengangguk berkali-kali. “Udah! Lima kali! Pake sabun!”

Good boy!” Aku mengacungkan jempol, kemudian melirik sekilas pada layar ponsel. Hey, kenapa Jimi belum juga membalas?

Setelah beberapa menit kemudian, ponselku baru kembali bergetar.

“Hei, Ra. Maaf telat bales. Gue belum nengok. Nggak tau dia tinggal di mana.”

“Ya udah. Dari mana lo, Jim? Kok telat balesnya?”

“Oh, ini baru selesai nemenin pacar gue ke dalem.”

“Emang lo lagi dimana?”

“Dokter kandungan.”

Berarti dia …

“Sora, kok pucet? Ayo makan lagi.”

-TAMAT-

Advertisements