decode3

Fan fiction by Julian Yook

Cast: Park Ji Min (BTS), Shin Sun Young (OC) | Genre: AU, Mystery, Crime |Length: Chaptered |

RATE : Adult

***

Jimin dan Sunyoung mengira ini akan jadi bulan madu yang menyenangkan.

Itu hampir benar, sampai secara tidak sengaja mereka menemukan sesuatu berbaring di dalam bathtub ….

Hanya ada dua pilihan. Melapor kemudian tertangkap atau …?

***

previous chapter

1

BAB 2

[Rencana Hari Pertama]

 

Tanpa melepaskan kontak mata dari catatan, Sunyoung menyandarkan kepala di pundak Jimin. Jari telunjuknya yang lentik berputar-putar mengelilingi tulisan jeruk, pisau dan kantung plastik. “Siapa yang akan membeli itu semua?”

“Aku,” jawab Jimin singkat. Lelaki itu kemudian melihat jam berantai perak yang melingkari pergelangan tangannya. Jarum panjang bergidik menunjuk angka duabelas, sementara yang pendek terpatri mensejajarkan diri dengan waktu, tapat pukul sembilan pagi. “Ayo kita mulai sekarang.”

Sunyoung menegakkan kepala dan bangkit. Ternyata, kaki berkutek merah itu membawanya ke pangkal lorong dan menekan saklar lampu. Lampu kecil yang berjajar sepanjang pertengahan langit-langit kemudian menyala redup. Sunyoung mengangguk puas dengan tangan terlipat di bawah dada begitu melihat hasil kerjanya. Menyandarkan punggungnya pada dinding, ia berpikir tentang bagaimana bisa salah satu bagian di cottage ini tidak dapat ditembus cahaya matahari. Bahkan terkesan gelap meski ini masih pagi.

“Jimin?” sahutnya agak keras.

Jimin di dalam kamar utama sedang sibuk membuka-buka tiap resleting koper, hingga ke bagian paling tersembunyi sekalipun.

“Kamu sedang apa di sana?” tanya Sunyoung lagi.

Jimin mendorong kopernya ke sudut kamar dengan gusar begitu ia yakin kalau benda yang ia cari tak ada di situ. Matanya kemudian menyisir ke sekitar kamar dan seonggok tas besar langsung menarik perhatian. Langkahnya yang lebar ia arahkan pada benda di bawah cermin rias. Ia membuka tas itu dengan cepat dan seketika melambat ketika matanya menangkap kain berwarna biru pudar yang ia cari. “Aku sedang mencari masker!”

Beruntung ia dapat menemukan bungkusan yang lain menggunduk di sana. Mungkin beberapa sarung tangan karet yang ia temukan akan sangat berguna hingga beberapa hari ke depan.

Dengan dua masker dan sarung tangan di genggaman, lelaki itu berjalan meninggalkan kamar dan menemui istrinya di pangkal lorong.

“Yang ini sepertinya belum pernah aku pakai.”

Sunyoung menoleh kemudian menerima uluran tangan Jimin.

“Persediaan sarung tangan ini dengan ajaibnya berada di tasku,” ucap Jimin, menarik kedua alisnya dengan gimik tidak paham. “Yah, pantas saja selama ini aku harus membelinya berulang-ulang. Mungkin aku lupa menaruhnya.” Ia membubut bibir karet itu hingga pergelangan tangannya tertutupi dengan sempurna.

“Kau bisa memakainya?” Jimin melirik pekerjaan tangan Sunyoung. Tampaknya wanita itu masih kesulitan.

“Sini biar aku pakaikan.” Serta merta tangannya meraih sarung tangan karet itu. “Biasanya aku meniupnya dulu biar tidak menyatu seperti ini.”

“Nah, sekarang mana tanganmu?”

Sunyoung menyerahkan dua tangannya dan sedikit mendongkak memandangi wajah Jimin yang lebih tinggi beberapa senti.

“Iyap, masuk. Selesai.”

Ia hebat sekali memakai sarung tangan. Sebenarnya hal itu sangat wajar karena dia adalah seorang dokter gigi. Jimin juga pernah bercerita bahwa sejak umurnya 19 tahun, ia sudah berurusan dengan benda semacam itu. Mengingat kehidupannya di fakultas kedokteran gigi dipenuhi oleh serangkaian praktek.

Sunyoung memandangi tangan kanan dan kirinya bergantian.

“Kau bisa menarik ujungnya kalau kau rasa itu kurang masuk,” ucap Jimin, dengan dagu menunjuk.

Sunyoung mengerti. Tapi ia rasa, ia tidak perlu melakukan hal itu. Pekerjaan Jimin barusan adalah yang paling baik. Alih-alih, ia malah memakai masker, hingga kini hanya dua matanya yang menyembul cantik di bawah helaian rambut pendek yang mencuat-cuat lepas dari ikatan.

“Sunyoung,” lelaki itu memanggil, sementara tangannya mengaitkan tali masker pada telinga satu-satu. “Aku ingatkan padamu, bahwa sarung tangan ini sangat penting. Jangan pernah lupa memakainya. Okay?” Kini suara Jimin mulai terdengar berbeda, sedikit teredam kain masker. “Aku ingin kita main bersih. Jangan sampai meninggalkan sidik jari atau jejak apapun. Dan, jika nanti salah satu dari kita lupa, aku harap kita bisa saling mengingatkan. Kau mengerti?”

Sunyoung mengacungkan jempolnya sambil mengangguk-ngangguk. “Okay! I’ll do my best!

Layaknya tampilan dua orang dokter gigi yang hendak melakukan praktek, mereka melenggang sepanjang lorong. Tak ada detak jantung bertalu-talu seolah akan keluar dari rongga dada. Kali ini mereka kelihatan sangat baik dari segi mental. Beberapa debat kecil sepertinya membuat mereka lebih mantap.

Tak menyangka bahwa berdiri di depan pintu kamar mandi berwarna putih kaku itu akan jadi secepat ini. Jimin memutar gerendel pintu dan membukanya lebar-lebar. Tersingkaplah sebuah pemandangan mengenaskan di ujung kamar mandi sana. Bathtub yang berdampingan dengan tembok benar-benar sejajar dengan tempat mereka berdiri. Tak heran jika hal itulah yang mereka lihat dengan lurus-lurus begitu pintu terbuka. Bau bangkai kontan saja menguar dan berusaha mengetuk-ngetuk dengan sengit. Beberapa bercak darah tampak membentuk pola cipratan pada dinding dan lantai sekitar bathtub.

Jimin dan Sunyoung saling berpandangan beberapa saat. Keduanya kemudian mengangguk sebagai isyarat bahwa sekaranglah waktu yang tepat untuk melangkahkan kaki ke dalam bersama-sama. Telapak kaki mereka kemudian turun, menyentuh lantai kering berpola itu perlahan. Satu langkah dari kaki kiri kemudian dibalas langkah kanan secara bergantian, seolah berhenti bukan pilihan yang tepat kali ini.

“Langsung saja,” komando Jimin di balik maskernya.

Dipandangi tirai dari atas hingga bawah. Tirai buram ini masih belum terbuka sempurna. Ada sisa mungkin sekitar delapanpuluh senti lagi yang masih tertutup. Jimin menggesernya sambil menengadah. Lalu pelan-pelan pandangannya merayap ke bawah, melewati dinding berlapis keramik berwarna putih yang terlihat mistis, dan merambat melihat isi bathtub itu dengan jelas.

Glek … ia menelan ludah.

Malang dan mengenaskan. Mungkin itu adalah gambaran yang tepat tentang bagaimana mayat lelaki ini terlihat. Sunyoung sampai menahan napas begitu tirai plastik tersingkap penuh dan ia bisa dengan jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi pada lelaki itu. Pemandangan yang cukup berhasil membuatnya mematung di sana untuk beberapa detik.

Kepala sang mayat dengan lemah berbaring pada ujung bathtub yang menanjak. Melihat mata yang terbeliak, Sunyoung yakin kematian telah menyisakan kesakitan yang teramat jelas pada lelaki itu. Tentang bagaimana ia mati, mungkin menjadi sesuatu yang sulit untuk dibayangkan. Tapi Sunyoung rasa, ia dapat memprediksi itu semua dengan daya analisisnya yang hebat.

“Kau periksa saku celananya, biar aku periksa saku bajunya.”

Suara khas Jimin tiba-tiba saja menginterupsi rongga telinga. Membuatnya tersadar dari analisis yang hendak ia coba buat. Sunyoung membenamkan tangannya pada saku celana lelaki itu. Merogohnya seperti orang kesetanan, dan dengan cepat beralih pada saku yang lain begitu ia hanya mendapat kekosongan. Tepat di saku belakang, Sunyoung merasakan tangannya menyentuh suatu benda, terasa licin beradu dengan karet sarung tangannya. Sunyoung menarik benda dalam genggaman dan menemukan dirinya memegang sebuah dompet tebal berwarna cokelat gelap berbahan kulit kerbau. Dibukalah dompet itu dengan alis berjungkit penasaran.

Di sini ada beberapa lembar uang, lalu ada beberapa kartu ATM, struk-struk bekas belanjaan, dan … sebuah kartu identitas.

Hong Byun Soo.”

“Kau mendapatkannya?”

Sunyoung mengerjap dan melihat Jimin yang sedang menoleh.

“Iya.” Sunyoung mengangguk dengan wajah serius. “Hong Byun Soo. Tiga puluh lima tahun, dia lahir di Busan dan,” dibacanya kartu itu dengan seksama, “tinggal di Seoul.”

Sunyoung memasukkan kembali kartu tersebut ke dalam dompet dan diberikannya pada Jimin. Alis lelaki itu sontak bergerak ke atas dengan takjub ketika tangannya membelalakkan dua belah dompet itu lebar. Lembaran uang berentet rapi di dalamnya. Kartu ATM berbagai warna dan gambar hadir dengan ujung mencuat, membuat sebuah barisan vertikal. Tak ada foto istri, anak bahkan foto lelaki itu sendiri. Hanya sebuah foto kecil yang tertera di kartu identitas.

“Aku tidak tahu.” Jimin menggeleng dan memasukkan kartu itu kembali. “Tapi kurasa ia bukan orang yang biasa-biasa saja. Dompetnya tebal sekali oleh lembaran uang, dan,” ucapnya, memutar-mutar dompet seraya berpikir, “kurasa ia suka sekali belanja. Ada banyak struk bekas belanjaan berharga mahal.”

Sunyoung bersedekap. Matanya tak henti memerhatikan tubuh Byunsoo sementara otaknya berpikir keras.

“Dompetnya masih utuh. Aku yakin dia bukan korban perampokan,” Sunyoung berpendapat. “Mungkin dia korban balas dendam.”

Wanita itu kemudian berjalan melewati Jimin dan mendekati kepala Byunsoo. Tangannya dengan berani menolehkan kepala lelaki itu hingga ia bisa menelisik dengan jelas.

“Bibirnya rusak,” ia bertutur, membolak-balik dagu Byunsoo. “Bisa jadi dia terbentur benda keras, digigit, atau digunting.”

“Luka guntingan tidak akan seacak ini,” sela Jimin menggelengkan kepala. “Kurasa bukan digunting. Menurutku lebih masuk akal jika digigit atau mungkin terbentur.”

“Benar …,” Sunyoung menggumam seraya mengangguk-ngangguk setuju. “Dan, robekan di kerahnya … hmm—”

“Mereka terlibat perkelahian sengit,” sahut Jimin buru-buru. “Menurutmu bagaimana?”

“Aku pikir juga begitu.” Sunyoung lalu menggerakkan tangannya ke arah tangan Byunsoo. Diurutnya pergelangan tangan hingga ujung jari lelaki itu.

“Tapi dia tidak melakukan perlawanan,” ucap Sunyoung, dengan mata menganalis. “Kukunya bersih dan tidak ada luka bengkok bekas mencakar, padahal ia bisa menggunakan kukunya yang agak panjang ini sebagai senjata.” Bibir di balik maskernya kemudian meringis kecut.

“Atau mungkin dia memang tidak sempat,” Jimin menambahkan.

“Dan ikat pinggangnya yang tidak terkait dengan benar, mungkin dia hendak buang air kecil hingga semua itu tiba-tiba terjadi.” Bahu Sunyoung kemudian bergidik. “Aku tidak bisa membayangkan itu.”

“Jangan dibayangkan.”

Sunyoung menoleh pada Jimin yang berada sedikit di belakangnya. Ia terkekeh sebentar sementara pemuda itu hanya menampilkan matanya yang menjadi garis selama beberapa detik, lalu berubah serius sedemikian cepat.

“Nah, mengenai luka di dada kirinya,” Jimin melirik ke arah bathtub, telunjuknya berputar-putar di udara. “Aku pikir itu karena di tusuk. Hingga ia mati di atas darahnya sendiri yang mengering.”

“Jelas sekali.” Sunyoung mengembuskan napas kecil hingga maskernya terasa sedikit lembab. “Jadi apa yang akan kita lakukan pada dompet lelaki itu?”

“O … oh, ini ….” Bibir Jimin menipis di balik masker, berpikir. “Aku akan mencucinya dulu sekilas. Dan, hmm,” ia bergumam, melihat Sunyoung dengan tatapan mengawang-ngawang. “Kamu bisa kembali ke kamar sekarang dan cari identitas lelaki itu, nanti aku menyusul.”

“Oke.” Sunyoung mengangguk paham. Kakinya dengan cepat melangkah keluar kamar mandi. Di lorong kecil itu dia melepas maskernya dan bernapas lega.

***

Jimin menyusuri lantai kamar mandi dengan mantap begitu melihat langkah terakhir Sunyoung di ambang pintu. Ia menjejakkan kakinya di depan cermin dan menatap pantulan dirinya di sana. Pandangannya kemudian beralih pada lemari kecil di samping cermin yang terbuat dari kaca es. Bayangan beberapa bentuk benda di balik kaca itu tampak kabur, namun sepertinya Jimin masih bisa memastikan bahwa banyak benda yang berjajar di sana.

Dompet di tangannya mendarat pada permukaan meja wastafel berbahan keramik hitam bertotol putih. Jimin mengangkat lengan dan mengayunkan daun pintu lemari kecil itu. Berbagai perlengkapan mandi langsung muncul dengan lebih jelas. Tabung-tabung kecantikan berdiri tegak, botol plastik berukuran besar dengan mulut mancung terlihat jadi yang paling lebar di antara semuanya, itu botol sabun cair. Beberapa helai handuk kecil berwarna putih menumpuk di sekat yang lebih tinggi, sementara di bagian paling bawah ada beberapa sikat gigi berhelem yang tergantung.

Bibir Jimin membentuk huruf O ketika ia mencoba memastikan benda apa saja yang ada di sekat bagian tengah. Alisnya saling berpagut dengan tatapan mendeteksi. Tabung-tabung itu ternyata berisi deodorant semprot, krim penyukur janggut dan beberapa botol sampo ukuran sedang.

Jimin kembali menutup lemari itu dan mengalihkan perhatian pada dompet yang tergeletak. Ia memutar keran air dan suara mengalir langsung terdengar memenuhi telinganya. Digeser keran itu sedikit ke pinggir, hingga derasnya berkurang. Tanpa mengeluarkan isinya, Jimin membilas bagian luar dompet sekilas. Sekadar hanya untuk menghilangkan selubung bau amis yang tak begitu kentara.

Pekerjaannya sudah selesai. Jari-jarinya yang masih diliputi karet putih dengan cepat menyiprat-nyipratkan sisa air ke arah bak wastafel begitu keran air ditutup. Ia kembali membawa dompet berwarna coklat gelap bersamanya ke luar kamar mandi.

Jimin mengembuskan napas lega dan berjalan menyusuri lorong. Telinganya sudah terbebas dari kaitan masker. Buru-buru ia menghela napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan pasokan oksigen. Kakinya kemudian berbelok, memasuki kamar utama dan melihat Sunyoung tengah duduk di depan meja, membelakanginya.

“Kita butuh plastik untuk menyimpan sementara benda-benda ini.”

Sunyoung menoleh dan melepaskan tangkupan tangan pada mouse berwarna putih—senada dengan macbooknya.

“Aku rasa kita punya satu-dua di koper,” wanita itu berkata, menurunkan kaki yang semula tersilang di atas kursi kemudian bergerak mencari. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, dan menemukan koper sudah teronggok di sudut ruangan dengan mengenaskan. Oh, tidak salah lagi, ini pasti pekerjaan Park Jimin. “Seharusnya ada di sini,” ucapnya mengira-ngira seraya membuka resleting paling luar. “Ah, benar. Kantung plastik persediaan kalau kau muntah di jalan.”

Mata Jimin menjawab perkataan terakhir wanita itu dengan tatapan sangsi, namun tangannya tetap menerima sodoran Sunyoung dengan lembut. Ia melepas sarung tangan karetnya dengan cekatan, kemudian memasukannya bersama dompet ke dalam plastik hitam.

“Sarung tanganmu mana?”

Sunyoung yang sedang berjalan menuju tempat semula hanya mengacungkan telunjuknya dan menyahut tanpa berbalik, “Di meja rias.”

Jimin berjalan dan menyambar benda itu cepat. Diikatkan kantung plastik tak begitu erat, karena ia yakin suatu saat akan membukanya lagi. Ia berjalan ke sudut ruangan dan membuka keranjang plastik untuk pakaian kotor. Dibenamkan kantung itu di antara helaian pakaian.

“Aku akan membeli barang-barang itu sekarang.”

Gerak mata Sunyoung yang sedang membaca tulisan-tulisan di layar terhenti sejenak. Ia berbalik dan menyandarkan ujung sikunya pada sandaran kursi. “Aku akan menunggumu pulang,” ucapnya, tersenyum.

Jimin membalikkan badan pada lemari tinggi. Ia menyibakkan pakaiannya yang tergantung di situ dengan pikiran yang menimbang-nimbang. “Apa aku harus ganti baju?”

Sunyoung berjalan menjauhi meja kerjanya yang menghadap laut luas. Hidungnya yang bangir kemudian mengendus-endus tubuh Jimin beberapa kali. Ia menggeleng dan berkata, “Bau amisnya tidak telalu menempel.” Wanita itu kemudian dengan seperti biasa mengambil alih pekerjaan Jimin, yang ia rasa lebih tepat dilakukan seorang istri sebagai kewajiban. “Sebaiknya kamu pakai ini saja.”

Tangannya keluar dari dalam lemari dengan sebuah jaket di genggaman. Dibukanya dua belah jaket dan Jimin secara otomatis memasukkan tangannya satu-satu.

“Begini lebih baik.” Sunyoung menarik bagian leher itu pelan, kedua telapak tangannya kemudian menyentuh dada Jimin dan menepuknya beberapa kali. “Good luck.”

“Aku akan naik taksi,” pamitnya, menarik kepala Sunyoung dengan tangan kanan kemudian mencium puncak kepala wanita itu sekilas. “Kau hati-hati di rumah, aku tidak akan lama.”

Akhirnya ketika jam menunjuk angka sepuluh, dua orang itu berpisah. Jimin berjalan di atas pasir pantai melalui sepatu bersol tebalnya. Sesekali ia melihat sekitar dan berpikir bahwa banyak keindahan Pulau Jeju yang belum sempat ia nikmati bersama Sunyoung. Ia mengedip beberapa kali selama perjalanan. Di balik saku jaket, tangannya mengepal kuat, menggenggam beberapa lembar uang. Tangan yang satu lagi ia gunakan sesekali untuk menggosok hidungnya dan menengadah melihat langit sekilas.

Seharusnya tidak seperti ini, begitu pikirnya.

Kepulan uap menguar dari dua belah bibirnya yang tak terkatup sempurna. Dibenamkan dua tangannya ke dalam saku jaket. Kakinya kini telah menginjak trotoar sementara pandangannya beredar mencari taksi.

Tak perlu waktu lama hingga sebuah taksi berwarna kuning berhenti di depannya dengan wajah sang supir menyembul di antara jendela kaca, tersenyum menawarkan.

Jimin membungkuk dengan senyuman di bibirnya. Kakinya masuk, disusul oleh bunyi bergesek jaket dan jok mobil yang tertekan berat badannya.

“Tolong antarkan aku ke supermarket.”

***

Dari kursi kayu bercat putih ini Sunyoung hanya melihat ruangan lain melewati pintu kamar yang terbuka, ia menoleh kembali ke pekerjaannya setelah memastikan Jimin hilang dari ambang pintu kamar. Ia bersandar sejenak dan melihat kaca jendela besar di atas layar macbook. Napasnya tiba-tiba saja terembus dengan kelelahan terselip.

Ia tidak tahu apa yang dilakukannya ini benar. Tapi terlalu banyak khawatir tidak akan menyelesaikan apapun. Sejak dulu Jimin selalu berkata padanya bahwa hidup kita hanya satu kali. Apa yang kita inginkan tidak mungkin tercapai kalau yang ada di pikiran kita hanya kecemasan. Sunyoung benci mengakui bahwa itu benar.

Setidaknya dia bersama Jimin. Tak ada yang membuatnya tenang selain satu kenyataan itu. Dia punya Jimin dan Jimin punya dia. Lagipula ia hanya wanita biasa yang menikah dengan dokter gigi. Punya tempat tinggal sendiri sudah menjadi kebahagiaan untuknya. Mimpinya juga sederhana, ia hanya ingin hidup normal. Tipe istri yang menyiapkan sarapan dan mengantar suaminya sampai ambang pintu, bergumul dengan ceruk-meruk dunia dapur dan berbagai kebutuhan pokok, hingga kelak ia akan mengandung kemudian melahirkan anak yang lucu-lucu. Tak ada yang berlebihan, ia cuma minta itu dari kehidupan.

Sunyoung menegakkan badannya lagi dan menarik kursinya lebih dekat dengan meja. Badannya agak condong ke depan. Bunyi klik-klik terdengar nyaring di ruangan yang senyap, saling bersahutan dengan riuh-rendah ombak di luar.

Hong Byun Soo,” setengah bergumam, tangannya mengetik dengan cepat . “Ayo … tunjukkan siapa dirimu.”

Ia sempat menyesal kenapa dulu tidak mengikuti saran ibunya untuk mengambil kuliah di bidang IT. Mungkin ini semua akan lebih mudah, dia mungkin bisa meretas situs data penduduk dan mendapat informasi begitu saja. Yah, tapi itu cuma ‘seandainya’.

Telunjuknya bergerak memutar scroll mouse pelan, sementara matanya meneliti dengan cermat setiap hangul yang berderet pada layar. Gerak tangannya kemudian terhenti ketika ia menemukan sesuatu. “Pengusaha Restoran Sukses?” Sunyoung berucap, menirukan tulisan yang ia baca.

Klik.

To be Continued

 

P.S: Hai! Gimana? Let me know if you find any typos. Aku baca ulang ternyata part ini masih tercium aroma Writer’s blocknya. Wahaha, mianeee~~~ oke, kalau penasaran dan ingin tahu cerita lanjutannya … tinggalkan komentar ya^^ karena part 3 ini seperti yang aku bilang akan aku protect. Dan… komen akan memudahkan kalian menerima password!^^ im looking forward for it…. Dan… di part 3 nanti …. Akan ada… ah sudahlah. 😀 BBYE! 🙂

Advertisements