decode3

Fan fiction by Julian Yook

Cast: Park Ji Min (BTS), Shin Sun Young (OC) | Genre: AU, Mystery, Crime |Length: Chaptered |

RATE : Adult

***

Jimin dan Sunyoung mengira ini akan jadi bulan madu yang menyenangkan.

Itu hampir benar, sampai secara tidak sengaja mereka menemukan sesuatu berbaring di dalam bathtub ….

Hanya ada dua pilihan. Melapor kemudian tertangkap atau …?

***

 

BAB 1

[Kami Menemukannya di Pulau Jeju]

Jimin melangkah riang di atas pasir pantai, meninggalkan seorang wanita yang tersenyum, melihat punggung lelaki itu bergerak dengan semangat. Kaki Jimin melesak dangkal pada pasir putih secepat apapun ia melangkah, menyisakan jejak kakinya yang telanjang.

“Sunyoung!” serunya, menoleh ke belakang. Tangannya kemudian menggapai-gapai, menarik wanita yang tertinggal itu untuk segera menyusulnya.

Tak lama, figur ramping Sunyoung muncul dari belakang. Ia membuka kacamata gelapnya dengan dramatis dan mengedarkan pandang penuh takjub.

“Sunyoung, Lihat! Sejak kecil aku ingin sekali ke sini.” Senyum tertoreh jelas di bibir Jimin yang lembab. Matanya menyipit, menahan kemilau air laut dan cottage yang berkilatan disinari terik matahari. “Kau menyukainya?” tanyanya kemudian, menggamit pinggul Sunyoung dengan lembut.

Jarak wajah mereka kini tidak seberapa. Sunyoung memusatkan pandangannya pada hidung Jimin—dan itu berhasil membuat bagian matanya yang hitam berada di tengah dengan sempurna untuk beberapa saat.

“Bagus sekali, Jiminie.” Ia tersenyum. “Aku menyukainya.”

“Aku juga,” Jimin menimpali, tersenyum puas mendengar jawaban dari wanitanya. “Aku juga … sangat menyukainya,” ulangnya lagi, pelan.

Dilihat lagi oleh mereka apa yang terpampang begitu nyata dengan kagum. Pulau Jeju memang tampak seperti sebuah lukisan. Luar biasa sekali ketika mereka bisa merasakan tinggal di sini walau hanya sampai satu pekan ke depan.

Mungkin ini terasa seperti sebuah keberuntungan, terutama bagi Sunyoung. Berawal di pagi buta, di mana itu adalah hari pertama mereka tinggal berdua, menjalani kehidupan sebagai sepasang suami istri. Fajar menyingsing di langit Seoul. Sunyoung bangun dan duduk dengan kikuk di kasurnya, terlebih ketika ia melihat Jimin tertidur pulas. Otot-otot lengan pria itu mencuat dari balik selimut tipis berwarna putih. Membuat Sunyoung menutup bibir dengan dua tangan, seolah tak percaya bahwa perasaan macam inilah yang akan ia temui setiap hari ketika terbangun.

Sunyoung lalu turun dari ranjangnya dan mengikat rambut dalam waktu singkat. Sempat ia melihat ke arah Jimin sebelum menutup pintu kamar pelan-pelan, berusaha tak bersuara. Kakinya kemudian melangkah menuju dapur, membuka lemari-lemari kecil di atas kepalanya dengan cepat untuk mencari kotak berisi kopi sachet.

Sunyoung mengambil dua bungkus dan menarik dua cangkir dari rak piring.

Mulai sekarang aku harus menyiapkan dua, ya ….

Dia tersenyum sambil menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa ia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk dua orang? Bukan hanya untuk dirinya … tapi Jimin juga perlu dipikirkan.

Semacam satu jatah baru yang harus aku siapkan ….

Sudut bibirnya kembali terangkat. Ia membuka satu lagi bungkus kopi dan menaburkannya pada cangkir. Tapi—

Itu apa?

Sesuatu yang berkilauan di dalam bungkus kopi … seperti sebuah hologram.

Dengan alis mengerut, Sunyoung membuka plastik itu lebih lebar. Matanya memicing, membaca tulisan kecil di atas dasar yang berwarna perak.

Berlibur di Pulau Jeju untuk dua orang.

“Sunyoung, apa yang se—”

“JIMIN!” selanya cepat dan bersemangat. Ia menoleh dan mendapati wajah mengantuk suaminya yang bercampur dengan tatapan bingung. “Kita menang!” serunya lagi.

“Memangnya kita ikut lomba apa?”

Buru-buru Sunyoung mengibaskan tangannya di udara. “Maksudku, kita dapat hadiah dari bungkus kopi ini! Iya, Jimin! Aku serius!”

Mwo? Yang benar saja?” Tatapannya beralih pada bungkus kopi yang berkibar-kibar di tangan Sunyoung, ia menilik plastik itu dengan penasaran.

“Baca saja kalau tidak percaya.” Sunyoung berbicara masih dengan penuh semangat. Diberikan bungkus berwarna cokelat gelap itu, kemudian meneliti wajah Jimin yang tengah membaca begitu serius. Sunyoung memperhatikan reaksi suaminya dengan teliti, dan bertanya, “Kau percaya sekarang?”

Lelaki itu mengangkat wajahnya perlahan, membiarkan Sunyoung menunggunya dengan penasaran.

“AAA!” Tanpa kendali, ia bersorak dan mengguncang pundak istrinya yang sama-sama terlarut dalam euphoria kemenangan. Jelas sekali bagaimana mereka terlihat begitu bahagia. Bersorak bersama, tersenyum melihat langit-langit, seolah semuanya tidak pernah lebih membahagiakan daripada ini. “WOOHOOO!”

Sepanjang perjalanan menuju Pulau Jeju, Jimin terus saja meracau dan berbicara dengan nada bercanda, “Aku ini apa? Bulan madu saja dapat dari bungkus Kopi ABC.” Disusul oleh gelak tawa Sunyoung dan pukulan pelan di pundaknya.

“Sunyoung?”

Wanita itu tersadar dari lamunan. Pandangannya yang semula kosong kini kembali terisi, ia lalu tersenyum simpul, menanggapi ucapan Jimin barusan, “Apa?”

“Kamu pernah ke mari sebelumnya?” Jimin melepaskan rangkulan, kini beralih pada tangan lentik Sunyoung. Ia membalut tangan itu dengan tangan kokoh miliknya sebelum mulai berjalan mendekati cottage.

“Belum. Ini … pertama kalinya. Kamu sendiri bagaimana?”

Terdengar helaan napas berat sebelum Jimin menimpali pertanyaan itu dengan senyum ringan. “Aku pernah, satu kali.”

“Uh?” Sunyoung mencondongkan wajahnya dan mengamati ekspresi Jimin lamat-lamat. “Kenapa jadi sedih seperti itu?”

Jimin menoleh, ia mengatupkan bibirnya dan mengalihkan pandangan dengan canggung. “Aku … jadi ingat ayahku.”

Wanita itu menatap Jimin iba. Ia mengangkat genggaman tangan mereka, kemudian lengannya yang lain mencoba mengelus punggung tangan Jimin. “Tidak apa-apa, yang penting sekarang kau mesti berbahagia denganku, okay?”

Jimin menoleh sambil menampilkan bibir dan matanya yang tersenyum. Seteleh beberapa detik terlibat dalam tatapan, akhirnya mereka kembali melihat ke depan, mulai melangkah lebih cepat.

Cottage yang hendak mereka tempati hanya tinggal beberapa meter saja dari pandangan. Pihak kopi itu rupanya benar-benar berniat memberikan hadiah terbaik bagi pemenangnya. Terbukti dari pemilihan penginapan ini, bukan seperti kebanyakan hotel bergedung tinggi. Melainkan sebuah unit khusus dalam satu kawasan dengan bangunan nyaris seragam. Letaknya sangat dekat dari bibir pantai, rasanya begitu membuka pintu keluar cottage, maka yang akan kau dapati adalah pantai, lalu tanaman bunga-bungaan seperti Allysum yang didominasi warna cerah tersusun rapi di dalam pot, menghiasi beranda cottage. Singkatnya, ini adalah pemberian terbaik yang bisa pihak kopi itu berikan.

***

“Silahkan tekan tombol putih jika kalian memerlukan sesuatu.”

Jimin dan Sunyoung kontan menelengkan kepala ke arah tembok di sebelah kanan mereka, sesuai dengan arah yang ditunjuk pelayan tadi. Jimin hampir lupa mengatupkan bibirnya saking terpukau. Sementara di sisi lain, Sunyoung mengangguk paham dan menampilkan ekspresi yang tak kalah takjub.

“Terimakasih.” Mereka berdua membungkuk berkali-kali hingga akhirnya pelayan itu pergi.

“Fasilitasnya keren sekali, Jiminie.” Sunyoung memutar kepalanya ke segala arah. “Rasanya seperti melayang di atas laut.”

Jimin berlalu menuju kamar utama. Ia meletakkan koper serta tasnya di samping ranjang. Dipandangi laut yang terbentang luas di jendela kamar yang lebar. Yeah, apa yang dikatakan istrinya tadi memang benar.

“Indah sekali!” sahutnya, agak keras dari dalam kamar.

Sunyoung berderap dari ruang tamu menuju kamar utama. Dilihatnya Jimin yang sedang berdiri di dekat ranjang sembari berkacak pinggang, mengamat-amati pemandangan lewat jendela kaca besar. Sunyoung menghampirinya dengan senyum terbubuh. Dia melepas tas yang tersampir di dada dan meletakkan barang itu di nakas.

“Terimakasih,” bisiknya di telinga Jimin, memeluk dari belakang. Ia melingkarkan lengannya di perut datar lelaki itu dan menyandarkan dagu tepat di atas pundak Jimin yang kokoh.

Jimin menoleh. Membuat mereka saling berpandangan begitu dekat. “Ini hadiah dari kopi ABC,” balasnya kemudian, melapisi lengan Sunyoung dengan lengannya sendiri. Pasangan muda yang sedang dicandu asmara itu pun saling berpandangan lebih dalam, membuat masing-masing dari mereka dapat melihat pantulan diri di manik mata pasangannya.

“Kau membawa banyak keberuntungan dalam hidupku, Park Jimin.” Mendengarnya membuat Jimin tersenyum ringan, hingga kepalanya secara refleks melihat ke bawah beberapa saat, dan kembali memandang Sunyoung dengan mata segarisnya. “Benarkah?”

Sunyoung memiringkan kepala, mengamati wajah Jimin yang membuatnya kontan tersenyum begitu saja. Dengan segera ia memajukan wajahnya ke arah pipi Jimin seperti seekor burung pelatuk.

Cups.

Katakanlah itu bentuk lain dari jawaban “iya” darinya.

Sunyoung lalu berjalan melewati Jimin, menggeser pintu kaca dan melangkah menuju balkon. Disandarkan kedua telapak tangannya di atas besi yang memagari mereka, lalu menghirup udara dalam-dalam.

Di sini indah sekali.

Tak ada gedung-gedung tinggi yang mempersempit jarak pandangnya. Sunyoung bisa dengan leluasa mengedarkan pandang. Deru angin menggelitik telinganya halus, sementara itu matanya dimanjakan oleh air kebiruan yang bersih berkilau diterpa sinar matahari.

“Sunyoung!”

Wanita itu menoleh, rambutnya berkelepar ditiup angin. “Ya?”

“Bagaimana kalau kita mandi dulu?”

Sunyoung di luar sana tampak menimbang-nimbang, ia memutar bola mata sebelum akhirnya menjawab, “Boleh juga. Badanku sepertinya sudah lengket.” Ia lalu berjalan melewati pintu kaca lagi, kemudian mendekati Jimin. Lelaki itu sedang membuka resleting koper, mengeluarkan barang-barang yang ada di paling atas.

“Kudengar cottege ini menyiapkan bathtub dengan kelopak mawar untuk pengantin baru.” Jimin sibuk mengangkat baju dari kopernya tanpa melihat ke arah Sunyoung. “Sepertinya menyenangkan.”

“Benarkah?” wanita itu menyahut, mengambil alih tugas Jimin. Dirapikan pakaian itu dan disimpannya dengan apik ke dalam lemari. Sebagian lagi ia biarkan di atas ranjang karena ia pikir itu akan digunakan Jimin setelah mandi nanti.

“Iya, itu pasti akan sangat romantis. Bagaimana kalau kita coba saja?” Jimin duduk selonjoran atas lantai, bersandar dengan santai pada risbang tempat tidur. Sementara itu matanya bergerak kesana-kemari mengikuti pergerakan Sunyoung yang sibuk bebenah.

Sunyoung menghentikan gerak tangannya di lemari tinggi. Dia menoleh ke belakang, melihat Jimin dengan alis terangkat, “Kita?”

Sontak lelaki itu mengembuskan napas kuat-kuat dari hidungnya, dan mengayunkan kepala ke samping sambil tersenyum lucu. “Ah, yang benar saja,” candanya, masih tidak yakin kalau wanita yang baru dinikahinya ini mau melakukan hal itu bersama.

Atau … mungkin dia yang terlalu berani?

Sunyoung terkekeh melihat reaksi Jimin yang seolah-olah meragukan pesonanya sebagai seorang suami. Mereka saling berpandangan beberapa saat hingga akhirnya Sunyoung tak bisa menahan semburan senyum. “Ayo kita coba, Jiminie.”

Jimin tercenung mendengar kata-kata itu. Tapi Sunyoung meyakinkan bahwa ia serius. Wanita itu melirik sekilas pada Jimin yang sudah bangkit dan dengan semangat menutup tirai. Kamar mereka kini gelap. Hanya denyar redup dari jendela yang menjadi penerang.

Beberapa saat kemudian Jimin menepuk-nepuk pundaknya yang telah dilapisi handuk baju berwarna putih di depan cermin. Lewat situ, ia juga melihat pantulan Sunyoung di pojok ruangan sedang menunduk, menalikan tali handuk di sisi perutnya. Tak perlu lama bagi Jimin untuk berbalik dan melangkah mendekati Sunyoung sambil tersenyum nakal.

Sunyoung tampak tak memedulikan kehadiran Jimin yang sekarang sudah berada tepat di depannya, bahkan jempol kaki mereka sudah saling beradu sejak tadi. “Sunyoung.” Kentara sekali terdengar nada menggoda dari caranya berbicara, diikuti oleh matanya yang hanya tersisa segaris.

“Uh, mm?” Wanita itu tetap menunduk, fokus pada tali handuk yang hendak ia ikat.

Tanpa menimpali gumaman Sunyoung tadi, pria itu langsung saja dengan dewasa menarik pundak Sunyoung. Ia berhasil menyadarkan wanita itu bahwa ia tak bisa lagi menunggu.

Kegaduhan terdengar sepanjang langkah kaki mereka . Terlebih ketika Jimin menangkup pinggang Sunyoung dengan dua tangannya. Ia mendorong tubuh wanita itu ke dinding lorong yang sempit dan gelap. Pelan-pelan ia menelusupkan wajahnya ke dalam leher Sunyoung dan terjebak di balik surainya yang panjang. Sunyoung meringis kecil. Ia lalu balas mendorong pundak Jimin, membuat lelakinya berjalan mundur hingga tiba di depan pintu kamar mandi.

Di detik-detik terakhir, Jimin mengempaskan pundak Sunyoung dengan sekali gerakkan ke depan pintu hingga terbuka begitu keras. Ia memiringkan kepalanya dan masuk lebih dalam ke balik rambut Sunyoung. Menemukan leher jenjang wanita itu dan menghirupnya.

“Jiminie,” bisik Sunyoung, pelan. Jimin kontan melepas jeratannya dan berdiri tegak dengan alis bertaut. Pandangannya lalu mengular ke seluruh ruangan, tak percaya mendapati kamar mandi besar nan mewah ini dinistai oleh bau tak sedap.

Ini bukan bau closet yang kotor …

Lebih parah lagi.

Ini …,

bau bangkai.

Jimin mendengus. Tangannya yang lain mengibas-ngibaskan udara di depan wajah, seolah itu bisa menghalau bau busuk yang mencoba menembus penciumannya.

“Apa mawar busuk baunya seperti ini?” Jimin tak begitu memedulikan pertanyaan Sunyoung barusan. Hanya tangannya yang menjawab dengan sebuah genggaman erat. Mereka lalu mengayunkan kaki menuju bathtub yang dilingkupi tirai plastik bening buram.

Kaki Jimin melangkah pelan namun pasti di atas lantai kamar mandi yang kering. Diikuti oleh kaki berkutek merah milik Sunyoung yang berjalan takut-takut di belakangnya.

Jimin menelan ludah. Meski jantungnya bertalu-talu, namun ia coba memberanikan diri mengangkat tangan. Sunyoung yang ketakutan hanya bersembunyi di balik badan Jimin. Melalui dua matanya yang muncul di atas pundak lelaki itu, Sunyoung dapat dengan jelas menyaksikan gigil pada tangan Jimin. Kini hanya tinggal beberapa inchi lagi menyentuh tirai.

Genggaman tangan mereka mengerat, hingga pada akhirnya Jimin menyingkap plastik itu dengan sekali hentakkan.

SREEEET

Ring besi di atas berdecit begitu tirai berhasil bergeser dengan kasar dan cepat.

“AAAAAAAAA!”

Yang tadi itu …,

apakah sungguhan?

***

Mereka memutar badan dan berlalu meninggalkan kamar mandi dengan cepat. Jimin membanting pintu kamar mandi di balik punggungnya tanpa mau menoleh sedikit pun. Mereka melesat melewati lorong gelap, dan kembali mendapati berkas cahaya matahari menerobos jendela ketika tiba di ruang tamu.

Dengan penuh perjuangan, Sunyoung berdiri di antara sofa-sofa hendak menggapai tombol putih.

“Sunyoung!” Jimin terperangah melihatnya, segera saja ia mendekat dan menahan lengan wanita itu meski harus hampir kehilangan keseimbangan.

“Kenapa …?” tanya Sunyoung, berbalik dengan deru napas dan wajah ketakutan.

“Aku bilang jangan!”

Sunyoung menurunkan kakinya dari sofa dengan lemas. Napasnya masih saja memburu sementara poninya kini mulai basah oleh keringat. Badannya kemudian jatuh terduduk di atas sofa. Jimin mendekatinya dan duduk di samping wanita itu. Wajahnya kemudian menunduk, menelisik wajah Sunyoung yang menatap lantai kayu.

“Sunyoungie,” Jimin membujuk, “dengarkan aku.” Lelaki itu dengan lembut mengangkat wajah istrinya, matanya lalu menelusup ke dalam sepasang mata kuyu yang muncul.

“Tidak apa-apa, aku ada di sini.”

“Ta-tapi mayat lelaki itu?”

Dengan cepat Jimin menyela dengan mata yang terpejam sebentar, “Ssstt,” desisnya. “Itu bisa kita hadapi bersama.” Jimin melepaskan tangkupannya di wajah Sunyoung, ia mulai menyandarkan punggungnya di sofa dan menerawang memandang tembok di hadapan mereka. “Coba pikirkan, apa yang ada di benak orang-orang itu kalau mereka tau di sini ada mayat?”

Sunyoung hanya bisa menggeleng.

“Mereka mungkin akan berpikir bahwa kita yang membunuh lelaki itu.”

“Tapi kita bahkan tidak tau apa-apa. Bagaimana bi—”

“Semuanya bisa terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin.” Jimin membalikkan tubuh, kini berhadapan dengan Sunyoung dan menatap mata wanita itu nanar. “Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari cara untuk menghilangkan mayat itu dari cottage ini,” ia meyakinkan dengan kedua tangan menyentuh wanita itu tepat di pundak. “Kita tidak membunuhnya, kita hanya coba menyembunyikannya saja.”

Mata cemas Sunyoung lurus mengarah pada sepasang manik milik Jimin. Dia menggelengkan kepala pelan, mulut yang tak sepenuhnya terkatup itu menderukan napas ketakutan. “Bukankah lebih baik kalau ki—”

Sunyoung,” selanya cepat. “Aku yang pegang kendali. Percayakan ini semua padaku dan kau hanya tinggal mengikuti perintahku saja.”

“O … oh, ba-baiklah.”

Jimin meraih tubuh Sunyoung ke dalam pelukannya. Diusap beberapa kali punggung wanita itu lantas berkata, “Jangan khawatir. Aku berjanji semuanya akan baik-baik saja.”

***

Bibir tipis Sunyoung bergerak-gerak merasakan mulutnya yang kering, benar-benar khas bangun tidur. Kelopak matanya menggeletar begitu ia mendengar selimutnya bergesek lembut. Ia membuka mata perlahan, samar-samar ia melihat permukaan kulit dada Jimin yang tengah ia jadikan tempat berbaring. Kemudian matanya bergerak ke atas, hendak menatap wajah Jimin di sana.

“Oh, kau sudah bangun,” sambut lelaki itu begitu pandangan mereka bertemu. Ia lalu tersenyum dan melanjutkan, “Selamat pagi. Kita bisa tidur lagi kalau kau masih mengantuk.”

Sunyoung hanya kembali menyandarkan pipinya di dada Jimin dengan nyaman. Dua orang itu lalu tersenyum dengan mata tipikal bangun tidur. Makin saja membuat manik keduanya tampak seperti bulan sabit.

“Bersantailah dulu, karena mulai nanti siang kita akan bekerja keras.” Jimin mengeratkan pelukannya. Pandangannya meneliti langit-langit kamar. Sementara otaknya berpikir tentang hal apa yang akan dia lakukan pada mayat di dalam bathtub.

Sunyoung menarik selimut hingga menutupi dada. Jari-jarinya mencuat, kemudian dibuatnya melangkah-langkah di atas selimut. Ada nada menimbang dalam ucapannya pagi itu, “Apa … semua ini akan benar-benar kita lakukan?” tanyanya, ragu.

Mendengar perkataan itu, Jimin hanya menghela napasnya keras, seolah-olah ia tak mau lagi menjawab pertanyaan retoris.

Hening menyelubungi percakapan mereka. Sunyoung menghentikan pergerakkan jarinya dan memilih untuk mendekap selimut, lalu kembali meneleng ke arah Jimin. Rupanya lelaki itu terpejam dengan salah satu tangannya menengadah, menutupi antara alis dan dahinya. Sunyoung tak tau apa yang ada di pikiran lelaki itu, tapi ia rasa Jimin tampak sedikit depresi. Atau … mungkin saja merasa terbebani.

Sambil menarik pandangannya dari Jimin, Sunyoung berjanji bahwa ia tak akan membuat ini semakin rumit lagi. Ia mengembuskan napas pelan dan membenarkan posisinya. Mungkin sedikit pelukan dapat membuat lelaki itu tenang. Sunyoung melintangkan tangannya yang jenjang di perut Jimin, lantas memeluk pria itu hangat.

***

Sunyoung duduk di tepi ranjang membelakangi Jimin. Ia menunduk memandangi sandal tidur berbulunya dengan boneka elmo di bagian punggung kaki. Sebenarnya ia tidak yakin dengan rencana ini, namun … tiap kali ia mencoba untuk mengelak, maka dengan cepat pula Jimin menginterupsi pikirannya, meyakinkan bahwa ini adalah jalan terbaik.

Sunyoung menyisir poni panjangnya dengan kedua tangan ke belakang, bersamaan dengan itu kepalanya ikut menengadah. Pemandangan laut di luar jendela kini terperangkap dalam pandangan.

Pulau Jeju … tak pernah menyangka sedikit pun bahwa tempat seindah ini akan menuliskan pengalaman terburuk dalam hidupnya.

“Cepat ganti pakaianmu,” pinta Jimin dari belakang, memasukkan tanganya sendiri pada lengan kemeja dengan tergesa-gesa. “Kalau kau sudah selesai, temui aku di ruang tamu.” Ia mengancingkan kemeja dan berlalu meninggalkan kamar.

Sunyoung sempat melihat langkah terakhir Jimin sebelum menghilang di ujung pintu. Wanita itu kembali mengembuskan napas penuh keluhan dan meraih ikat rambutnya di nakas. Tak disisakan rambut panjangnya tergurai bebas, diikat semuanya secepat mungkin.

Setelah mengganti pakaian tidurnya menjadi kemeja putih longgar dan celana jins di atas lutut, Sunyoung melenggang meninggalkan kamar. Detak langkahnya terdengar begitu ia menyusuri lantai kayu hingga tiba di ruang tamu.

Jimin sudah siap di sana dengan pensil dan sebuah buku catatan.

“Sekarang tanggal berapa?” Jimin bertanya. Dipangkunya buku catatan itu di tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk menggores-gores dengan pensil.

“Oh, hm, tanggal 12 Maret.”

Jimin mengangguk-ngangguk paham. Tangannya semakin cepat menorehkan ujung pensil tajam itu di atas buku catatan bergaris. Dia terhenti sebentar, mengintip Sunyoung dari ujung bukunya, kemudian kembali berkata dengan datar, “Kita bisa mengubah tanggalnya.”

“Ma-maksudmu?”

Jimin menurunkan buku itu dan meletakkannya di meja bersama pensil di sisinya. Ia kemudian melipat tangan di dada lalu berbicara dengan penuh keyakinan, “Kita bisa buat dia seolah-olah tewas saat kita sudah pulang dari tempat ini.”

“Bagaimana caranya?”

Jimin melihat sekitar dengan was-was. Bibirnya lalu bergerak lambat, “Sini,” bisiknya dengan tangan kanan menggapai.

Air wajah Sunyoung mendadak menjadi cemas. Buru-buru ia melangkahkan kaki mendekati Jimin, merapatkan tubuhnya hingga pundak dua orang itu beradu. “Jadi, bagaimana?” tanyanya khawatir.

“Kita buat lelaki di dalam kamar mandi itu punya kembaran,” Jimin bertutur dengan kehati-hatian membayangi matanya. “Jadi, nanti yang ditemukan tewas ketika kita sudah pulang adalah kembarannya,” ia berhenti sebentar, memandangi sekitar. “Mengerti?”

Alis Sunyoung berkerut samar, mata besarnya nanar menatap Jimin. Bibirnya yang kering kemudian mengigil hendak berbicara, “Ta-tapi,” ucapnya takut-takut. “Siapa yang akan jadi kembaran lelaki itu?”

“Yang pasti bukan aku apalagi kamu.” Jimin meraih tangan Sunyoung ke atas pahanya. “Itu seharusnya adalah seorang yang jika ia hilang, tak akan ada yang mau repot-repot mencarinya.”

Mata Sunyoung membulat, sementara kepalanya memiring beberapa saat, hingga dia menerka-nerka, “Memangnya ada yang seperti itu?”

“Tentu,” jawabnya yakin. “Coba kau pikirkan orang-orang yang hidup sebatangkara. Mereka berjuang sendiri, dan ketika mereka menghilang,” penjelasannya terhenti sebentar, memandangi wajah penasaran Sunyoung, “tak akan ada yang begitu mengingatnya.” Jimin bergidik dan wajahnya seketika itu berubah ngeri. “Kau tau siapa contohnya?”

Sunyoung mengerjap, mendapati kendali atas badannya lagi. Buru-buru dikatupkan bibirnya yang sedari tadi membeliak tanpa sadar, percaya tidak percaya mendengar pemaparan Jimin. Lantas wanita itu hanya bisa menggeleng polos sebagai jawaban.

“Aku sebenarnya tidak suka mengatakkan hal ini.” Jimin mengangkat bahunya sekilas. “Tapi, aku harus.” Dihirupnya udara dalam dan kembali melanjutkan, “Aku kenal seorang yang tak akan dicari itu.”

Sunyoung meneliti wajah Jimin yang tampak tak menyenangkan. Ditunggunya Jimin hingga ia selesai berbicara.

“Namanya Minjoo.” Suara Jimin memelan seketika, “Dia pelacur ….” Gigolo, lebih tepatnya.

“Jimin?” Sunyoung memastikan, “Apa kau yakin? Kalau begitu caranya ki—” Sunyoung menghentikkan perkataannya buru-buru. Bibir atas dan bawahnya kembali merapat, sementara matanya menatap iba sosok Jimin yang tengah menunggunya selesai bicara.

“Apa?” tanya Jimin, dengan alis berjengit.

Sunyoung mengigit bibir, kepalanya menggeleng seraya menunduk, memandangi tangannya yang masih digenggam erat. Ia memerhatikan cincin berwarna perak yang melingkar di jarinya. Itu seragam dengan yang Jimin. Bukan apa-apa, benda tadi malah membuat ia semakin merasa bersalah. Terlebih ketika Sunyoung mengingat bahwa ia sempat berjanji tak akan lagi membantah perkataan suaminya.

Liukkan terlukis tajam di bawah dahinya begitu ia menyadari bahwa … Jimin melepaskan genggaman tangan mereka. Ia tak berani mengangkat wajah. Hanya tercenung dengan pikiran berkelana. Apakah mungkin Jimin marah atau ….

Sunyoung.” Pipi wanita itu sekarang terasa hangat dilingkupi sepasang tangan, kemudian pelan-pelan wajahnya ikut terangkat, mengikuti gerakan. “Aku tau kamu masih ragu.”

Sunyoung tak menjawab. Ia hanya memandangi sepasang mata yang menatapnya dalam, sementara miliknya sendiri menggeletar di bagian kelopak.

“Dengarkan aku,” Jimin meminta. “Kita menikmati hadiah berlibur ini terhitung sejak 10 Maret. Tapi kita datang ke sini pada tanggal 11 karena beberapa hal yang harus kita urus. Belum lagi kita tertinggal pesawat beberapa kali,” ia terhenti sesaat, menghela napas. “Kau sendiri bisa mengingatnya, kan?”

Sunyoung mengedipkan matanya pelan sebagai ganti atas anggukan yang tak mungkin ia ciptakan pada kondisi seperti ini.

“Lalu pada tanggal 11 Maret kemarin, kita tiba-tiba saja menemukan sesosok mayat itu di dalam bathtub. Dan kau tau apa arti itu semua, Sunyoung?” Tanpa menunggu jawaban istrinya, Jimin dengan cepat melanjutkan, “Itu berarti mayat ini hadir ketika cottage berada dalam tanggungjawab kita. Meski kita datang terlambat, tapi pihak penginapan pasti tidak mau tahu akan hal itu.”

“Sekarang yang ingin aku jelaskan kepadamu adalah … cukup turuti aku.” Dilepaskan tangkupan tangannya di pipi Sunyoung. Matanya kemudian berkelebat ke sekeliling ruangan dan menggosok hidungnya dengan frustasi. “Aku sekarang di sini bukan hanya melindungi diriku sendiri, Sunyoung.” Sorot matanya yang liar kemudian berhenti tepat pada wajah wanita itu. “Tapi kamu juga. Keluarga kita.”

“Aku menyadari itu bukan hal yang mudah. Ada nyawa lain selain milikku yang sekarang harus aku jaga agar tetap hidup, menginjak bumi dengan waras.” Ia memandangi Sunyoung. “Aku tidak mau kalau kelak kita harus jadi tersangka atas hal yang tidak kita lakukan. Jadi, kumohon kerjasamanya untuk ini. Aku tidak ingin ini semua gagal karena kau melakukannya setengah-setengah.” Jimin berhenti sebentar, melihat wanita itu dengan kekhawatiran membayang wajahnya. “Demi kita … demi anak kita kelak di masa depan.”

Sunyoung mengangguk lemah. Dengan segera tubuhnya menghambur ke arah Jimin dan mendekap lelaki itu dengan rasa bersalah menggelayuti. “Maaf ….”

Jimin bisa merasakan kain kemeja yang dikenakan Sunyoung melalui telapak tangannya, lantas mengusap punggung itu beberapa kali. “Tidak apa-apa.”

Tak lama kemudian, Sunyoung mendorong pundak Jimin dengan lembut. Ia mengembuskan napas keras dan mulai mencoba untuk tersenyum. “Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Jimin tersenyum simpul melihat Sunyoung yang tampak lebih berani. Tanpa menunggu lama, lelaki itu meraih pensil dan bukunya di atas meja ruang tamu. Di buka halaman demi halaman dengan cepat hingga akhirnya ia berhenti pada lembar yang masih bersih. Kaki-kaki pucat Jimin diangkat ke atas kursi. Pahanya yang bersih ia acungkan dan jadikan sebagai alas buku.

“Lihat ini,” pintanya. Sunyoung merapatkan bahu mereka dan memperhatikan apa yang Jimin tulis dengan jeli. Perhatian ke dua pasang mata itu kini terpusat sepenuhnya pada catatan milik Jimin. Ia menulis beberapa angka, lebih tepatnya tanggal.

“12 Maret—sekarang, kita akan mulai dengan pelenyapan mayat itu. Kita harus melakukannya secepat mungkin. Sebelum mayat itu semakin mengeluarkan bau tidak sedap.”

“Bagaimana kita melenyapkannya?”

“Kita butuh banyak jeruk untuk menghilangkan bau amis. Pisau tajam dan kantung plastik hitam. Nanti sebelum melakukan apapun, kita akan memeriksa saku lelaki itu, dan memastikan siapa dia sebenarnya.” Ia terhenti sejenak, melingkari nama Sunyoung dan memberi anak panah menuju gambar laptop. “Lalu kau cari informasi lelaki itu sedetail mungkin. Mengerti?” Jimin menghentikan gerak tangannya. Dia menoleh, memperhatikan wajah wanita itu dari samping. Dilihatnya Sunyoung mengangguk paham, membuat Jimin tiba-tiba saja tersenyum, dan dengan cepat mengecup pipi wanita itu. “Pintar.”

Tanpa melepaskan kontak mata dari catatan, Sunyoung menyandarkan kepala di pundak Jimin. Jari telunjuknya yang lentik berputar-putar mengelilingi tulisan jeruk, pisau dan kantung plastik. “Siapa yang akan membeli itu semua?”

To be Continue

 

P.S: Hai! ini secret witness cuma karena beberapa hal aku ganti judulnya yang lebih “menggambarkan”. tinggalkan komentar ya, karena aku rasa cerita akan semakin seru dari bab demi babnya hahaha XD dan komentar akan sangat membantu membakar semangatku :”> oh,iya aku saranin juga supaya kasih komen jika kalian menyukainya^^ dan penasaran dengan kelanjutan kisah suamiku ini.. karena bab 3 akan aku protect (dikarenakan itu part agak gimana gitu deh) dan dengan komen akan memudahkan kalian mendapatkan password /wahahaha/ tawa jahat. Oh, iya, FYI … aku bikin part satu ini mati-matian melawan WB wakakaka. sehingga kata-katanya pun ya begitulah.. aku baca juga agak ngebosenin gitu. tapi, aku janji di part selanjutnya ga akan begitu karena aku sudah bebas dr WB waktu ngetik bab 2 dan bisa ngetik dengan kecepatan 3 m/s.. aku harap kalian lebih penasaran lagi waktu bab 2 rilis. okehh.. cukup sekian… bbye! (padahal aku tau, ini semacam ngomong sendiri :’)

 

muchlove.. julian YOOK.

Advertisements