Gambar

 

Title            :   No More Dream
Sub Title    :   It’s My Dream
Author       :   Caramel Kim
Cast            :   -Kim Namjoon (Rap Monster)
-Min Yoongi (Suga)
-Another Bangtan’s member
Genre         :  Friendship,  School’s life and  Brothership (it’s not yaoi)
Length       :   Chapter Fanfiction

Author’s Note

Wassup! Caramel Kim balik lagi nih bawa lanjutan ff No More Dream J Who’s excited? Gak banyak ngomong deh ya selamat baca aja buat para readers semuaaaa^^

——

Namjoon’s POV

“Aku pulang..”
Ucapku dengan agak malas sambil membuka kenop pintu. Begitu selesai membuka sepatu dan menaruhnya di rak akupun segera naik kekamarku dilantai atas. Aku benar-benar lelah dan butuh istirahat, sekolah benar-benar melelahkan hari ini, belum lagi aku harus menyiapkan materi untuk kompetisi rap bersama teman-temanku.

Langkah kakiku terdengar bergema begitu menapaki tangga kayu Mahoni. Wajar, sudah sepi malam ini, aku tak melihat adanya aktivitas dirumah ini. Nampaknya semua orang sudah terlelap.

Baguslah…

“Namjoon-ah”
Langkahku terhenti pada anak tangga kelima begitu mendengar ayah memanggilku, namun aku tak berbalik menghadapnya.

Hening sesaat. Aku masih tidak menjawab panggilan ayahku, dan akupun enggan berbalik menghadap ayah yang padahal hanya beberapa langkah saja dibelakangku. Aku tidak ingin berdebat apalagi bertengkar dengannya saat ini.

Aku tidak mau..

“Dari mana saja kau?”
Tanya ayah, aku menghela nafas dan berkata..
“latihan.”
aku masih tetap memunggungi ayah, aku tau sikapku benar-benar tidak sopan padanya, tapi aku lelah.
“Latihan rap tidak jelas bersama anak-anak berandalan itu?”
“mereka bukan berandalan.”
Ucapku lalu memutar badan dengan cepat menghadap ayah. Mata kami pun bertemu, ya, mataku dan mata ayah. Aku menatap ayah dengan sengit begitu juga sebaliknya. Aku benci dengan situasi seperti ini, aku lelah dan kesal dengan semuanya.

“Aku hanya ingin ayah mengerti aku sedikit saja.”
Ujarku tajam, kulihat ayah agak tertegun mendengar ucapanku, namun aku segera berbalik enggan menatapnya lagi.

Begitu selesai menyelesaikan kalimatku akupun segera menaiki anak tangga menuju kekamarku, aku muak, aku lelah dengan semua perdebatan yang terjadi antara aku dan ayah.

“Kim Namjoon! Aku belum selesai bicara padamu!”
Raung ayah dengan sengit, dia benar-benar murka.

Tapi aku tidak peduli…

Sama sekali tidak peduli…

——-

Hari sabtu…

Sekolah tidak se-menyebalkan biasanya di hari sabtu. Hanya ada kegiatan club sekolah, dan semua murid bebas dari jam belajar. Dan setidaknya, untuk hari ini aku bisa bebas dari semua mata pelajaran yang menyiksa itu.

Salju turun pagi ini, menemaniku dengan pekerjaanku. Sebenarnya bukan pekerjaan, namun, hobi yang mendatangkan uang. Ya, aku seorang music maker, pembuat lagu, seorang produser yang masih terbilang amatir. Aku menjual karyaku ke berbagai radio di Seoul, dan mendapatkan uang dari sana. Aku senang dengan pencapaianku walaupun tidak seberapa, setidaknya, aku tidak perlu meminta uang saku lebih dari ayah.

“Jangan melamun.”
Tukas Yoongi tiba-tiba sambil melempar sekaleng soda padaku. Dengan cepat akupun menangkap kaleng soda itu, untung aku cekatan, jika tidak, mungkin kaleng soda itu sudah melukai kepalaku.

“Hey hati-hati! Kau bisa membuat kepalaku benjol.”
Seruku kesal, Yoongi terkekeh lalu duduk disebelahku.
“Sedang apa?”
Tanyanya lalu melihat pekerjaanku, aku memang sedang asyik membuat mash-up beberapa lagu dengan laptopku, setidaknya dengan ini mood-ku bisa naik.
“membuat lagu.”
Jawabku, masih tidak mengalihkan pandanganku dari laptopku, namun aku masih bisa melihat melalui sudut mataku bahwa Yoongi mengangguk.
“Aku mau dengar. Boleh?”
“belum selesai.”
Tukasku cepat, lalu melirik Yoongi, lalu nyengir. Yoongi mendengus.
“Nanti disiarkan di radio lokal kok.”
Ucapku, Yoongi mengangkat sebelah alisnya, lalu terkekeh sambil menyesap sodanya.
“sombong benar.”
Katanya sambil tertawa, akupun mau tak mau ikut tertawa.

Tribun disekitar lapang basket pun seketika menjadi riuh oleh suara tawa kami, yah.. aku bersyukur masih punya Yoongi yang mengerti keadaanku, setidaknya jika aku bersama dengannya aku selalu merasa lebih baik. Se-menyebalkan apapun dia, tapi dia satu-satunya yang selalu membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.

Yoongi adalah sahabat yang baik…

——-

Min Yoongi’s POV

“Waktu kita hanya 18 hari lagi sebelum turnamen, jaga kondisi fisik kalian, kita akan semakin sering latihan, mungkin lima kali seminggu.”

Nyaris semua anak dilapangan mengeluarkan suara keluhan yang cukup keras begitu mendengar ucapan Seokjin hyung. Yah..lima kali seminggu bukanlah hal yang berat bagiku. Lagipula, ini kan turnamen, sudah seharusnya kita semua berlatih lebih keras daripada biasanya.

“Dan tidak ada yang boleh mangkir latihan dengan alasan yang tidak masuk akal, ok Yoongi-ah?”
Dengan agak kaget aku pun melihat kearah Seokjin hyung, dia nampak tersenyum puas sekaligus geli dengan ekspresi wajah bingungku.

Kenapa memanggil namaku?

Aku, apa hyung?”
Tanyaku bingung, begitu mendengar ucapanku buru-buru Taehyung yang berdiri disebelahku segera saja menyikut rusukku dengan keras.

Aku berjengit menahan sakit lalu menoleh ke arah Taehyung dengan kesal, kulihat Taehyung menggerakkan mulutnya setengah berbisik padaku, kira-kira dia bilang..

“Minggu lalu kau mangkir latihan..”

Ah iya, aku hampir lupa kalau minggu lalu aku bolos latihan dan pergi ke game center dengan Namjoon, aku baru ingat.

“Soal pertemuan minggu lalu itu aku minta maaf hyung”
Ucapku. Seokjin hyung menggeleng seolah menganggap sikapku itu adalah hal biasa, dia pun menatapku dengan pandangan menimbang-nimbang sambil men-dribble bola dengan tenang, dia pun tersenyum tipis.

“Kau adalah bintang club ini, skill-mu diatas rata-rata, kekuranganmu hanyalah dalam kedisiplinan, tolong perbaiki ya.”

Aku mengangguk dengan agak bersalah, kata-kata Seokjin hyung memang benar, aku kurang disiplin. Aku memang pemalas dan suka berbuat seenaknya, tapi aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab.

“Akan aku perbaiki hyung.”
Ucapku cepat, Seokjin hyung pun tersenyum dan mengangguk.
“kami mengandalkanmu, Yoongi-ah..”

Aku tersenyum begitu mendengar ucapan Seokjin hyung.
Baiklah, aku akan berusaha yang terbaik untuk tim basket-ku ini, setidaknya, sebelum aku lulus dari sekolah dan berpisah dengan Basket.

——-

“Aku punya kabar bagus untukmu.”
Aku menelengkan kepalaku kearah Namjoon yang sekarang sedang berjalan kearahku. Aku hanya menoleh padanya sebentar lalu kembali men-shoot bola ke ring.

Yes, masuk lagi.

“Heh Yoongi-ah, kau dengar tidak?”
Aku segera menoleh kearah Namjoon yang kini menatapku agak jengkel, aku nyengir sambil men-dribble bola ke arahnya.
“Iya aku dengar, kabar bagus apa?”
Tanyaku, tiba-tiba dengan cekatan Namjoon merebut bola yang tengah ku-dribble dengan cepat.
“Heh aku serius Kim Namjoon!”
Seruku jengkel sambil memperhatikan Namjoon yang kini berlari sambil membawa bola menuju ring. Dan dengan satu kali Lay-up shoot, bola itu pun berhasil masuk melewati ring dengan sempurna.

“Seorang pelatih tim basket Universitas Kyunghee sedang mencari bintang basket baru untuk tim-nya, dia akan menonton pertandingan antar SMA nanti.”

Aku menahan nafasku sejenak begitu mendengar ucapan Namjoon. Benarkah? Mencari bintang basket untuk bermain di Universitas Kyunghee?

“Ah, serius? Jangan membohongiku.”
“Aku melihat info nya di internet, dia sedang mencari siswa SMA tahun senior untuk bermain di Tim-nya. Kurasa kau punya peluang.”

Namjoon kembali men-shoot bola ke ring dengan ringan, dia menoleh kearahku sambil menatapku seolah meminta respon dariku.

“Bagaimana menurutmu?”
Aku pun berjalan menuju tribun dan duduk disana, dan berpikir.
“Kau juga dapat beasiswa untuk kuliah, setidaknya jika bagus, kau akan direkrut untuk bermain di Club yang mewakili Seoul.”
Namjoon kini duduk disampingku, dia menghela nafas panjang sambil memainkan bola ditangannya.

“Tapi Kyunghee bukan yang diinginkan ayahku.”
“Tapi itulah yang kau mau kan?”

Aku lantas menoleh kearah Namjoon, dia menatapku serius, aku mengangguk pelan dan menghembuskan nafas berat.

“Ya, itu yang aku mau.”

Semuanya tidak semudah itu, pikirku. Ayah tetap tidak akan setuju dengan keputusanku, ayah tidak mengerti.

“Tenanglah Yoongi-ah, cukup buktikan saja saat pertandingan nanti kalau kau bisa, buat ayahmu sadar dengan bakatmu.”

Aku tersenyum pasrah mendengar ucapan Namjoon, aku tau dia ingin membuatku semangat, tapi jika berkaca pada kenyataan itu semua pastilah sulit.
Aku dan Namjoon memiliki nasib sama, namun tekad kami berbeda, Namjoon adalah anak yang keras kepala, dia selalu harus mencapai apa yang dia inginkan.

Berbeda denganku, yang sama sekali tidak punya semangat juang.

“Bersemangatlah, aku ada disini untuk membantumu.”
Ujar Namjoon sambil menepuk bahuku pelan. Ya, Namjoon selalu membantuku dalam segala hal, dia memang sahabat yang baik.
“Kau juga bersemangatlah, aku tau kompetisi rap juga tidak kalah penting bagimu.”
Ucapku sambil mengulas senyum.

 

Terkadang, aku selalu merasa tidak berguna untuk Namjoon. Dia selalu membantuku dalam segala hal, mengorbankan waktunya hanya untuk membantuku mengerjakan PR, meminjamkan catatan jika aku bolos, dan banyak lagi. Tapi, aku tak pernah membantunya, aku benar-benar sahabat yang buruk.

Aku tersenyum sambil menatap Namjoon, setidaknya aku akan berusaha sebisaku untuk menjadi sahabat yang baik untuknya.

“Hey Yoongi-ah, jangan menatapku terus-terusan begitu, kau membuatku geli tau. Jangan menatapku seperti anak perempuan begitu!”
Tukas Namjoon galak, sadar karena lamunanku buyar aku terkekeh sambil menggaruk tengkukku.
“Maaf, lagipula aku kan normal.”
Tukasku sambil memukul bahu Namjoon dengan cukup keras.
“aw sakit!”
Pekik Namjoon sambil meringis kesakitan.

Ekspresi wajah Namjoon yang mengernyit itu mau tak mau membuatku tertawa.

Ya, dan aku tertawa…

——

Author’s POV

Hari demi hari berlalu…

Musim dingin masih menyergap, salju turun kian lebat dan membuat nyaris seluruh jalan berubah putih. Suhu di Seoul menurun drastis hingga -15°C, cukup untuk membuat air membeku. Namun tetap saja, rutinitas berjalan normal layaknya hari-hari biasanya, jalanan kota nampak padat, sekolah serta kantor pun terlihat sibuk menjelang natal, sama sekali tidak ada yang berubah dari Seoul.

Seperti biasanya, begitu selesai sarapan Yoongi pun berangkat kesekolah. Dengan dibalut coat hitam tebalnya dia pun melangkahkan kakinya diatas halaman sekolah yang tertutup salju. Dingin sekali, pikirnya sambil menggosokkan kedua telapak tangannya dan segera berjalan memasuki gedung sekolah.

Begitu memasuki kelas dia pun segera duduk di bangku favoritnya, dipojok ruangan dan menghadap ke jendela besar disisi ruangan. Kelas sudah dipenuhi oleh banyak siswa, hanya saja ada satu orang yang tidak Yoongi lihat keberadaannya.

“Anak itu belum datang? Tumben sekali”
gumamnya lalu duduk. Sesekali Yoongi melirik kearah jam yang melingkar ditangannya, dia mendengus, lima menit lagi bel masuk berbunyi kenapa Namjoon belum datang juga?

Bel masuk pun berbunyi, segera saja seluruh siswa memasuki kelas dan mulai duduk di bangku mereka masing-masing. Yoongi hanya melirik kearah pintu masuk kelas, menatap pintu itu dengan bingung.

“Namjoon kemana? Biasanya juga aku yang selalu terlambat”

Pria itu menghela nafas malas begitu melihat Jung Songsaenim, guru sejarah mereka, melangkahkan kaki memasuki ruangan. Kenapa cepat sekali datangnya sih? Gerutunya dalam hati sambil mengmbil buku dari dalam ranselnya.

“Buka halaman 800”
Yoongi mengeluh semakin keras begitu mendengar perintah Jung songsaenim. Tak ada suara, kecuali suara lembaran-lembaran kertas yang dibuka tanpa antusias.

Beep Beep!

Yoongi tertegun sambil menegakkan tubuhnya begitu mendengar bunyi itu dari dalam saku celananya, sambil melihat ke sekeliling dia lalu merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya dengan hati-hati.
You’ve got 1 message.

Yoongi pun mengusap layar ponselnya sambil sesekali melirik kearah Jung songsaenim yang tengah menerangkan, dia menaikkan alisnya sejenak begitu membaca pesan.

From : Namjoon

Yoongi-ah aku terkena flu dan demam aku tidak bisa masuk sekolah untuk beberapa hari, tenang saja aku tak apa, cukup salin saja semua pelajarannya ya nanti aku pinjam catatanmu hehehe

Yoongi mendengus cukup keras sambil menggerutu.

“menyalin semua pelajaran? Aku saja tidak pernah mencatat.”

—-

“Ok istirahat!”
Seru Seokjin sambil berjalan kesisi tribun dengan terengah-engah, semuanya pun menghela nafas kelelahan lalu ikut berjalan kesisi tribun untuk sekedar minum dan duduk-duduk.

Latihan berlangsung dengan sangat ketat dan menguras tenaga, 3 jam tanpa istirahat, wajar, Seokjin, kapten team basket mereka memang menginginkan tim-nya untuk menjuarai pertandingan lagi seperti tahun lalu.

“satu minggu sebelum pertandingan, aku gugup.”
Ujar Taehyung sambil menyeka keringat dikeningnya.
“wajar, ini pertandingan pertamamu.”
Ujar Seokjin sambil tersenyum, dia berjalan menuju tumpukan tas dan mengambil beberapa botol air.
“tapi aku merasa gugup hyung”
Ujar Yoongi, Seokjin tersenyum sambil melempar botol-botol minum itu kesetiap orang yang berkumpul disekitar tribun, dia menghela nafas.
“Bahkan yang sudah terbiasa pun tetap merasa begitu.”
Yoongi tersenyum mendengar hal itu, dengan tenang pria itu pun membuka botol air-nya dan mulai minum, dia memang agak merasa sedikit gugup, padahal ini bukanlah yang pertama untuknya.

“Kalau kau sendiri hyung?”
Tanya Jungkook, salah satu murid Junior yang juga anggota team dengan antusias.
Seokjin pun terkekeh pelan dan duduk, dia tersenyum tipis sambil memainkan bola dengan kakinya.
“Aku juga gugup, apalagi ini pertandingan terakhirku sebelum lulus, Yoongi pun sama, begitu juga dengan beberapa pemain lainnya, bagi kami siswa senior, pertandingan ini sangat berharga.”
Beberapa pemain dari angkatan junior nampak memperhatikan Seokjin dengan serius, mendengar hal itu Yoongi tersenyum.

Memang ini yang terakhir, jadi harus berakhir dengan baik..

Cuaca dingin, bersalju, memang tidak menjadi penghalang, apapun itu mereka harus bisa berlatih, terutama bagi Yoongi.

Pria ini memiliki target, memiliki tujuan, walaupun dia sendiri tidak yakin akan hal itu tapi dia akan berusaha sebisanya.

Kriiing Kriing!!!

Seisi lapangan saling melirik satu sama lain begitu mendengar bunyi ponsel bordering, Yoongi langsung tertegun sejenak begitu menyadari bunyi itu berasal dari dalam ranselnya.

“milik siapa itu? Angkat saja dulu”
Ucap Seokjin, dengan buru-buru Yoongi pun berdiri dan segera berjalan menuju sumber bunyi itu. Dengan cepat dia pun merogoh isi ranselnya dan mengeluarkan ponselnya yang masih bordering tidak sabaran. Nomor asing, pikirnya lalu mengusap layar untuk menjawab panggilan.

“Ya Halo..”
“Ini dengan Min Yoongi?”
Yoongi agak terkesiap begitu mendengar suara wanita diseberang sana, suara wanita setengah baya sepertinya, namun terdengar familiar, dia agak bingung, sepertinya suara ini tidak asing baginya.
“Ini ibu Namjoon..”
Ujar wanita itu dengan nada aneh, Yoongi bisa mendengar seperti ada latar suara seorang pria disana.

Seperti sedang…marah?

“Iya ahjjumma? Ada apa?”
Terdengar helaan nafas disana, Yoongi berubah cemas.
“apa kau sedang bersama Namjoon sekarang?”

Namjoon? Dia kan sedang sakit

“Tidak, aku sedang disekolah, lagipula tadi pagi Namjoon bilang dia sedang demam jadi tidak bisa masuk. Maaf tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
Yoongi mengerutkan keningnya, dia masih bisa mendengar suara pria membentak dengan cukup keras diseberang sana.

Apa itu ayah Namjoon?

“Namjoon lari dari rumah sejak dua hari yang lalu, kami pikir dia bersamamu.”

Deg.

Yoongi mengerutkan keningnya semakin dalam, dia semakin bingung dan panik.
Namjoon, kemana perginya anak itu?

“tadi pagi dia mengirimku pesan kalau dia sakit, aku belum bertemu dengannya lagi. Kenapa dia pergi?”
Wanita itu terisak, namun dia berusaha untuk tidak menangis di telpon.

“bertengkar dengan ayahnya, Yoongi-ah, tolong kabari kami jika kau bertemu Namjoon.”
Ujar Ibu Namjoon dengan nada penuh harap padanya, Yoongi cemas, dan bingung, namun dia tetap berusaha terdengar tenang, lebih tepatnya menenangkan.
“Tentu saja akan aku kabari, dia pasti baik-baik saja, aku yakin.”
“Terima kasih Yoongi-ah, maaf sudah menganggu.”

Pembicaraan pun berakhir, dengan tidak fokus Yoongi pun segera menutup telponnya.

Dia menerawang jauh, berusaha untuk berpikir…

Kim Namjoon, dimana kau sebenarnya?

——–

-To Be Continue-

Done! Silahkan tinggalkan komentar dibawah ini ya, semakin banyak review semakin semangat buat nulis loh^^

-Caramel Kim

Advertisements