Gambar

 

 

Title            :   No More Dream
Sub Title    :   What’s your dream?
Author       :   Caramel Kim
Cast            :   -Kim Namjoon (Rap Monster)
-Min Yoongi (Suga)
-Another Bangtan’s member
Genre         :  Friendship,  School’s life and  Brothership (it’s not yaoi)
Length       :   Chapter Fanfiction

Author’s Note

Hello! Caramel Kim is here with new fanfiction for you!
Yes, it’s brothership fanfiction, dan ini adalah ff brothership pertama yang aku tulis wakakaka XD selain karena berdasarkan request temen aku (fira, nih aku bikinin ff sesuai pesenan kamu wkwk) aku juga tertarik buat nulis ff brothership antara Namjun cintaku dan Suga abangku ini karena ngeliat interaction mereka sebagai hyung dan tentunya rapper BTS yang dewasa dan dekat layaknya saudara /berdasarkan kacamata aku loh ya XD/ entahlah, aku suka mereka berdua karena pribadi dan interaksi mereka di Bangtan. Selain itu ff ini juga terinspirasi dari lagu ‘No More Dream’ XD Oh iya ini bukan yaoi loh ya aku ingetin sekali lagi nih, aku gak bisa bikin yang yaoi wakaka XD oke udahan dulu ngocehnya, silahkan berimajinasi dah XD

Happy Reading!

 

 

 

——–

Kim Namjoon’s POV

“ Kim Namjoon”
“ Namjoon”
“ Kim Namjoon!”

Aku terenyak dibangkuku begitu aku mendengar Jung songsaenim meneriaki namaku. Sial, aku tertidur dikelas lagi, dan ini sudah yang ketiga kalinya dalam seminggu ini, dan sialnya lagi, aku selalu tertidur di pelajaran sejarah. Dengan masih agak mengantuk aku berusaha untuk fokus kembali, bisa kulihat seisi ruangan menatapku ingin tau.

“Jika kau begitu terus terpaksa aku harus mengeluarkanmu dari kelasku.”
Ujar Jung songsaenim pedas, pria paruh baya itu kini berjalan menuju mejanya dan mulai membuka buku sejarah yang, kau tak akan menduga betapa tebalnya, sambil terus memperhatikan seisi ruangan.

Lebih tepatnya memperhatikanku..

“buka halaman 756.”
Ucapnya dengan nada tegasnya yang biasa, akupun segera mengikuti perintahnya begitu juga anak yang lain. Kenapa bel belum berbunyi juga? aku berdecak kesal lalu melihat kesisi kananku, kearah Yoongi yang nampaknya juga tidak sedang memperhatikan Jung songsaenim, dasar Yoongi, dia malah sedang asik mendengarkan musik lewat headsetnya. Akupun memanggilnya setengah berbisik karena takut ketauan.

“hey! Yoongi-ah, sekarang jam berapa?”
Tanyaku sambil menunjukan gesture orang menunjukan waktu agar Yoongi mengerti, kulihat Yoongi agak melongo, lalu dia berkata,
“pukul 1, masih 20 menit lagi.”

“Hey kalian, Min yoongi, Kim Namjoon!”
Seru Jung songsaenim tiba-tiba, aku agak terkejut dan segera membalik badan, aku bisa melihat Yoongi juga agak kaget. Aku menatap Jung songsaenim dengan agak gugup. Bisa kulihat Jung songsaenim menatap kami dengan tatapan menilai, aku mendengus. Dengan cepat akupun melirik Yoongi, seketika saja aku menghela nafas kesal. Dasar Yoongi, dia malah sedang menguap. Akupun kembali menatap kearah Jung songsaenim dengan was-was.

 

Biasanya kalau sudah begini, Jung songsaenim akan..

 

“Kim Namjoon, jelaskan sistem pemerintahan dinasti Silla!”

nah! Benarkan?! Dia selalu begitu, pasti dia akan melontarkan pertanyaan yang aku tak tau jawabannya.

Aku berdehem sedikit, kulihat seisi kelas kembali mengawasiku dengan pandangan yang membuatku kesal setengah mati.

Tapi Yoongi malah melihatku dengan wajahnya yang mengantuk.

“aku tidak tau songsaenim.”
Jung Songsaenim pun menghela nafas lelah seolah aku ini benar-benar tolol, aku mengumpat dalam hati, aku kan benci pelajaran sejarah, jangan salahkan aku jika aku tidak tau apa-apa, batinku kesal. Jung Songsaenim pun mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Min Yoongi, jelaskan sistem pemerintahan dinasti Silla.”
Kulihat Yoongi yang sedang menahan kantuknya itu kini menatap Jung songsaenim dengan agak kaget, namun, beberapa detik kemudian dia kembali memasang tampang malas-malasannya lalu berkata..

“Jika songsaenim ingin tau lebih jelas, kusarankan kau untuk menonton drama The Great Queen Seondeok…”

Ah Yoongi-ah apa yang kau lakukan?
Batinku kesal sambil memukul jidatku sendiri. Anak itu, dasar, apa dia tidak tau apa yang akan terjadi nanti? Seisi kelas kini membuat suara riuh rendah begitu mendengar perkataan Yoongi, bahkan, ada beberapa dari mereka yang terkikik geli.

Tapi,

Jung songsaenim tidak menyukai gaya bercanda Yoongi..
Kulihat wajah Jung songsaenim memerah seperti kepiting rebus. Ah, aku mencium bau masalah.

Kita berdua akan mati…

———

“ah kau ini, kita jadi dihukum kan.”
Ujarku kesal sambil menyusun buku-buku tebal dan bau ke dalam rak. Yoongi terkekeh sambil ikut merapikan rak buku, dia tetap nampak santai, lalu melirikku dengan jail.
“setidaknya kita tidak berada didalam penjara bersama guru mengerikan itu.” Ucapnya lalu memukul bahuku cukup keras sambil tertawa, aku meringis.
“aku yakin kau bisa menjawab pertanyaan songsaenim, kenapa tidak menjawab saja?” Tanyaku cepat, aku pun melirik kearah Yoongi yang sedang menyusun buku.

Dia menghela nafas malas..

“aku bosan dengan kelas sejarah itu, aku sengaja membuat songsaenim kesal supaya bisa keluar dari kelas itu”
Aku menatap Yoongi kesal, lalu menghela nafas panjang dan kembali merapikan buku-buku perpustakaan usang dan bau. Gara-gara Yoongi kami jadi terlambat pulang karena hukuman, padahal, jika kita tetap dikelas sejarah kita tidak akan terlambat pulang.

“Haha Namjoon ah, jangan marah begitu.”
Ucapnya sambil memukul bahuku lagi, aku berdecak kesal.
“lagipula kalau aku tidak bilang begitu tadi kau tetap akan dihukum karena tertidur dikelas. Kau harusnya berterimakasih karena aku tidak membiarkanmu dihukum sendirian.”

 

Ada saja alasan anak ini, batinku sambil menggeleng kepala. Kulihat Yoongi melirik jam yang melingkar ditangannya, dia segera menarik nafas.

“ah iya aku lupa, sekarang ada latihan basket.”
Serunya sambil menatapku dengan wajah kaget, aku melongo.
“bukannya kau latihan setiap rabu dan sabtu? Ini hari senin.”
“kami mau ikut turnamen, kau ingat? Oke sebaiknya aku pergi duluan ya, bye Namjoon-ah, annyeong!”
Yoongi pun buru-buru mengambil ranselnya dan segera berlari meninggalkan perpustakaan.
“Hey Yoongi-ah! Kembali kau! Pekerjaanmu belum selesai!”
Seruku begitu Yoongi berlari melintasi ruangan, dia hanya tertawa dan meninggalkanku, sendirian.

“Anak itu, benar-benar..”

Akupun dengan malas melirik kearah tumpukan buku dimeja, dasar anak itu, begitu tau pekerjaannya tinggal sedikit lagi dia malah pergi begitu saja. Aku menghela nafas panjang dan kembali bekerja sebelum hari semakin gelap. Ada banyak hal yang harus aku lakukan setelah ini. Aku harus pergi dari tempat ini menuju ke pusat kota Seoul, ada beberapa hal yang harus aku urus.  Menjadi murid SMA sekaligus seorang Underground Rapper memang tidak mudah.

Akupun menghela nafas panjang lalu kembali menyusun buku-buku usang itu..

 

 

———

Jalanan Seoul sudah mulai dihiasi lampu-lampu yang berwarna-warni. Dan jalanan pun mulai dipenuhi oleh orang-orang. Udara malam menyelimutiku, dingin, wajarlah karena sekarang sudah masuk musim dingin, hanya saja salju belum turun.

Begitu keluar dari Subway aku pun segera berjalan masuk ke dalam gang yang cukup sempit dan gelap. Akupun memasukkan tangan kedalam saku coat coklatku yang lumayan tebal, aku mulai merasa ujung jariku membeku. Segera saja akupun berbelok ke sebuah gedung studio kecil yang ada di ujung gang tersebut, begitu keluar dari gang cahaya lampu jalan pun menyorotiku, akupun segera masuk kedalam studio itu.

“Hey Rap Monster! Masuk!”
Sambut seorang pria jangkung yang sedang duduk disofa sambil asik memilah-milah CD, akupun segera masuk dan disambut oleh beberapa orang disana.
“maaf terlambat, sekolah benar-benar menyebalkan.”
Ujarku sambil melempar ranselku ke sisi ruangan, kulihat Hoseok, atau biasa dipanggil J-hope, terkekeh begitu mendengar ucapanku.
“konyol sekali.”
komentar Dongjun, salah seorang anggota Rap Team kami, sambil tertawa, aku pun tersenyum lalu membanting tubuhku ke sofa besar diseberang ruangan.
“lihat saja dia, masih pakai seragam SMA dan datang kemari, sekolah benar-benar menjadi sangat menyebalkan ya akhir-akhir ini.”
Cibir J-hope sambil tertawa, akupun terkekeh mendengarnya.

Yah..tempat inilah rumah keduaku, studio milik J-hope yang memang tidak terlalu besar, tapi bagiku ini adalah tempat yang nyaman untuk tinggal. Lantainya terbuat dari kayu, dan perabotan disini pun tertata rapi. Sebenarnya studio ini adalah tempat dimana aku dan teman-teman sesama rapper underground berkumpul. Ya, aku, J-hope serta Dongjun, adalah rapper underground di Seoul. Kami mengikuti berbagai macam kompetisi rap melawan team yang lain yang berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Seoul, tapi juga Daegu, Busan, Incheon dan berbagai kota lainnya. Namaku bukan lagi Kim Namjoon jika sudah berada dilingkungan para rapper, aku memakai nama ‘Rap Monster’ sebagai identitasku. Begitu juga dengan Hoseok, dia memakai nama J-Hope, tapi Dongjun tetap memakai nama aslinya.

“Rap battle di Nowon-gu bulan depan.”
Ucap J-hope lalu duduk disebelahku sambil membawa 3 kaleng minuman dan menaruhnya dimeja. Aku melirik J-hope dengan agak kaget.
“bulan depan? Serius?”
J-hope mengangguk sambil membuka minuman ditangannya.
“bagaimana menurutmu?”
tanyanya lagi, aku terdiam sejenak.
“aku sih ikut, bagaimana menurutmu Dongjun-ah?”
Tanyaku sambil melempar pandangan kearah Dongjun yang sedang asik dengan laptopnya. Kulihat dia mengangguk setuju.

———–

Min Yoongi’s POV

 

Aku menguap cukup lebar sambil menyantap santapan makan siangku.
Benar-benar membosankan sekali hari ini. Ujian matematika, praktikum Kimia, dan Ujian sastra. Benar-benar membuat kepalaku sakit.

“Hyung Kau tidak akan makan itu?”
Tanya Taehyung, rekan team basketku, sambil menunjuk kearah Kimbap tuna yang ada dipiringku.
“ambil saja.”
Ucapku acuh tak acuh, kulihat Taehyung segera mengambil Kimbap itu dan menaruhnya dipiring.
“Namjoon-ah, Seokjin hyung ingin kau bergabung dengan team basket. Dia memintaku untuk menyampaikan ini padamu.”
Ujarku tiba-tiba. Kulihat Namjoon berhenti menyantap Bulgoginya dan menatapku dengan agak kaget, akupun mengangkat alis meminta jawaban.

“Yoongi-ah kau tau aku paling malas mengikuti club sekolah.”
Jawabnya cepat, aku berdecak.
“Iya hyung, kenapa tidak kau coba saja bergabung dengan kami, club basket menyenangkan.”
Ujar Taehyung sambil mengunyah dengan cepat. Namjoon menggeleng.
“definisi menyenangkan bagiku itu berbeda denganmu.”
“gadis-gadis mengelilimu hyung, percayalah.”
Lanjut Taehyung lagi, aku terkekeh.
“kita kekurangan pemain Namjoon-ah, dan aku tau pasti kalau kau itu jago.”
Ucapku. Namjoon hanya tersenyum menanggapi ucapanku.
“maaf tapi aku tidak bisa, aku ada kompetisi rap bulan depan, dan lagipula pertandingan basket juga bulan depan.”

Masuk akal, pikirku. Namjoon benar-benar keras kepala, dia benar-benar menggilai rap sama denganku yang menggilai basket. Aku tertawa pelan menanggapi ucapannya.

“Hey, aku sama sekali tidak tau kalau kau tertarik dengan hal seperti itu hyung?”
Kata Taehyung sambil menoleh kearah Namjoon, dia nampak agak kaget.
“dia lebih tertarik pada rap daripada wanita, Taehyung-ah”
Candaku, Namjoon tertawa sambil memukul bahuku keras.
“hahaha sialan kau”
“Tapi sungguh aku terkejut, kenapa aku sampai tidak tau? Kenapa kau tidak tampil di festival kesenian sekolah?”
Tanya Taehyung heran, kulihat Namjoon hanya terkekeh sambil melahap sisa makan siangnya.
“Aku hanya nge-rap saat kompetisi, atau battle rap. Lagipula aku kurang yakin murid-murid disini suka underground rap”
Jawab Namjoon, kulihat Taehyung menggeleng.
“Coba saja hyung, aku suka hip-hop kok.”
“Namjoon tidak suka pamer kemampuan, tapi kau harus tau rap-nya benar-benar keren.”
Ujarku serius. Wajah Taehyung nampak kagum, segera saja dia menoleh kearah Namjoon.
“Aku harus melihatmu nge-rap hyung”
Seketika saja Namjoon menatapku dengan mata membulat.

Mau tak mau aku tertawa.

——–

Sudah sore..

Aku sengaja mangkir latihan basket dan pergi ke game center dengan Namjoon, lalu kami menghabiskan waktu untuk sekedar ngobrol dirumahku sambil main game atau nonton film. Kami memang sudah bersahabat sejak awal masuk SMA hingga sekarang, aku mengenal Namjoon dengan sangat baik, begitu pula sebaliknya. Namjoon memang agak tertutup, hal yang dia sukai hanya rap, aku tau itu.

“Namjoon-ah, kau serius tidak mau bergabung dengan team basket?”
Tanyaku pada Namjoon sambil memberikannya sekaleng Cola dingin yang baru kuambil dari kulkas.

Kulihat Namjoon melirik kearahku, akupun segera duduk disebelahnya, menghadap balkon kamarku.

“Aku tidak akan bergabung, aku sudah mengatakannya berulang kali”
Jawab Namjoon sambil menyesapi colanya, aku terkekeh dan mengalihkan pandanganku ke luar balkon, menatap salju yang mulai turun petang ini.
“Kapten team basket sendiri yang mengajakmu bergabung tapi kau menolaknya, Aneh.”
Ujarku sambil tertawa pelan. Namjoon mendengus sambil melirikku.
“Kau tau sendiri aku ini seperti apa. Aku tak pernah tertarik dengan hal-hal berbau sekolah, entah itu pelajarannya, club sekolah, atau kegiatan sekolah lainnya..”
Namjoon menatap keluar balkon sepertiku, memperhatikan salju putih yang jatuh dari langit dengan seksama.
“Aku hanya berpikir bahwa hal ini percuma”
Lanjut Namjoon, aku menoleh kearahnya.
“apanya yang percuma?”
Tanyaku, Namjoon menarik nafas dalam dan kembali meminum colanya dengan tampang serius.
“Sekolah, dan semuanya. Aku bahkan tidak tau kenapa aku sekolah, aku juga tidak tau akan menjadi apa aku nanti. Ini melelahkan. Aku hanya menyukai rap. Hanya itu.”
Ucapan Namjoon membuatku tertegun, jujur saja. Aku menatap Namjoon dengan agak bingung, sementara Namjoon tertawa.
“kenapa wajahmu?”
Tanyanya sambil tertawa begitu melihat tampang bingungku.
“Kau murid pintar dikelas, kau hanya bodoh dipelajaran sejarah saja, mana mungkin kau punya pikiran begitu.”
Ucapku cepat. Aku benar-benar bingung, antara aku dan Namjoon, dialah yang paling pintar diberbagai macam pelajaran, dia juga jago bahasa inggris, matematika, dan sains. Perkataannya tadi itu aneh.

Namjoon menghela nafas..

“Aku merasa itu sia-sia. Makanya aku lebih memilih fokus dengan duniaku, sebagai Underground Rapper”
Lanjutnya, lalu melempar kaleng colanya ke tempat sampah di sisi kamarku. Aku terkekeh sambil memperhatikan Namjoon.
“Jadi itu sebabnya kau tidak ingin bergabung dengan club sekolah?”

Namjoon mengangguk.

“Bisa-bisanya..”
Ucapku sambil menghabiskan sisa Colaku yang hanya tinggal sedikit sambil memperhatikan pemandangan petang diluar.
“Bagaimana denganmu? Apa kau punya mimpi setelah lulus?”
Pertanyaan Namjoon seketika membuatku bingung, aku mendelik kearahnya dan mencoba untuk menjawab.

Tapi aku sendiri bingung…

“Kurasa aku akan melanjutkan pendidikanku ke fakultas ekonomi.”
Jawabku cepat. Namjoon menatapku.
“apa itu impianmu?”
Pertanyaan Namjoon sekali lagi membuatku bingung. Apa-apaan anak ini? Kenapa dia menyerangku dengan pertanyaan aneh begitu?
“orang tuaku ingin aku masuk kesana.”
Jelasku pelan.

Ya, sebenarnya aku tidak mau masuk fakultas ekonomi di Seoul University. Tapi, orangtuaku memaksa, tentu aku tidak bisa menolaknya.

“Sebenarnya impianmu apa?”
Tanya Namjoon lagi.

Hening beberapa saat, aku hanya menatap keluar, kearah senja yang mulai padam. Salju turun semakin lebat, dan udara pun berubah semakin dingin.
Aku menghela nafas berat.

“basket.”
Jawabku, akhirnya. Kulihat Namjoon tersenyum, lalu memukul bahuku pelan. Aku mendengus
“bagus sekali. Jadilah atlet basket. Kau berbakat.”
Ujarnya mendukungku. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Namjoon memang sangat mengenalku, bahkan lebih daripada kedua orangtuaku sendiri.

“Aku sudah sering mengatakan pada ayah bahwa aku ingin menjadi atlet basket. Tapi, Ayahku berpikir bahwa basket hanya sekedar hobi, bukan profesi.”
Ucapku, dengan agak kecewa. Namjoon menghela nafas sambil memperhatikan senja yang kini telah padam seluruhnya.

“Jadi kau ingin menjalani hidup sebagai seorang sarjana ekonomi lalu kerja disebuah perusahaan dan hidup dengan sangat membosankan?”
Ejek Namjoon sambil tertawa. Aku mendengus menanggapinya, memang, aku tidak mau seperti itu. Basket adalah hidupku, aku mencintainya, dan menjadi atlet basket adalah impianku, sebuah cita-cita.

“Bagaimana denganmu? Kau ingin menjadi seorang rapper? Yang aku tau kedua orang tuamu ingin kau menjadi insinyur.”
Ujarku sambil melihat kearah Namjoon yang kini juga sedang melihat kearahku. Kulihat wajahnya berubah begitu mendengar ucapanku.

Dia bingung..

Namjoon tertekan..

“Aku ingin membuat musik, dan hidup bersama musik. Aku akan berjuang demi mimpiku itu, aku tidak ingin terjebak didalam mimpi orang lain.”

Rasanya benar-benar aneh, aku tertegun begitu mendengar jawaban Namjoon. Dia serius mengenai mimpinya, dan dia tidak ingin orang lain mengubah keputusannya.

Inilah Namjoon keras kepala yang kukenal..

“tidak ingin terjebak dalam mimpi orang lain? Keren sekali.”
Ucapku mengutip kata-katanya. Namjoon tersenyum.
“keren ya? Aku harap kau termotivasi juga.”
Aku tertawa mendengarnya. Namjoon benar, walaupun aku masih bimbang dengan mimpiku tapi setidaknya aku harus hidup dengan hal yang aku cintai nantinya. Sialan anak ini, pemikirannya berhasil membuatku kagum. Mau tak mau aku berpikir, aku harus memutuskan akan jadi apa aku nanti, dan mimpi apa yang harus aku kejar.

Karena aku tidak ingin terjebak dalam mimpi orang lain…

-To Be Continue-

Yeay! Akhirnya chapter 1 selesai!
Kepanjangan ya? Ah semoga kalian gak bosen bacanya ya. Mungkin dari segi cerita agak ngebosenin tapi semoga kalian suka deh. Haha maaf ya aku bikin karakter Suga agak pemales dan nyeleneh disini soalnya aku sering liat Suga menampakkan(?) wajah males-malesan dia XD Dan buat Namjun alias Rapmonmon(?) aku sengaja bikin karakter dia agak mirip sama kepribadian aslinya (jago b.inggris, pinter, dan punya mimpi di musik). Sebenernya sih inspirasi buat nulis nih ff adalah pemikiran Namjun sendiri sih, soal mimpi itu loh(?) ah kalau kalian tau pasti ngerti kok(?) Semoga kalian suka sama karakter mereka di ff ini karena saat aku nulis, aku terbayang wajah-wajah mereka gitu :’) hahaha. Oh iya kritik dan komentar wajib loh ya –“ wajib jib jib karena akan mempengaruhi next chapter juga 😉

Alright Caramel Kim pamit dulu, byebye!

-Caramel Kim-

Advertisements