how i married

.:.

Author: Julian Yook | Cast: Hoseok (J-Hope) , Taehyung (V), Jimin, Soyoung (OC), Eun Kyo (OC) | Genre: AU, Romance, Marriage life | Length : Chaptered

.:.

Prolog

Musim panas di Seoul adalah pertemuan pertamanya dengan Hoseok.

Sejak pertemuan itu, sulit bagi Taehyung untuk membayangkan bahwa kelak ia akan berdebat dengan Hoseok. Menurutnya Hoseok adalah lelaki yang baik dan lembut dalam berbicara, hingga rasanya tak mungkin jika mereka harus sampai bertengkar.

“Aku akan mengukur badanmu dulu, Taehyung-a, lalu aku baru bisa merancangkan baju yang sesuai.”

Kala itu Taehyung hanya menurut dan membiarkan Hoseok menempelkan meteran pita pada tubuhnya. Hoseok juga sangat berhati-hati menggerakkan tangan. Mulai dari pundak, ia ukur dengan pelan seolah Taehyung adalah boneka porselen yang akan pecah jika saja ia sedikit ceroboh.

“Aku harus mengukur pinggangmu, Taehyung,” bisik Hoseok dari belakang. Taehyung sedikit melirik melalui ekor matanya dan menggigit bibir ragu-ragu. “Aku harap kamu tidak keberatan, Taehyung … aku perlu mengetahui lingkar pinggangmu ….”

Taehyung hanya bisa mengangguk pelan dan mempasrahkan lelaki itu melingkarkan meteran pita di pinggangnya. Dan ya … tentu semua tak akan biasa-biasa saja. Hal seperti itu akan menjadi kejadian yang tak akan pernah keduanya lupakan.

“Taehyung, tetaplah seperti ini.”

DRRRTTT DRRRRRT

Keduanya mengembuskan napas dengan berat ketika ponsel milik Taehyung bergetar hebat.

“Biarkan aku mengangkat ponselku dulu, Hoseok,” ucap Taehyung pelan. Dia berjalan beberapa langkah menjauhi Hoseok. Badannya kini menghadap ke arah jendela kaca besar dengan tirai tipis nyaris transparan. Dengan wajah berkilau disinari mentari pagi, Taehyung mulai merogoh saku dan menyentuh layar ponselnya dengan cekatan. Pandangannya lurus ke luar jendela ketika dia menempelkan ponsel itu di depan telinganya.

“Yeoboseyo.”

Cukup hitung satu sampai tiga hingga wajah calm milik Taehyung berubah begitu kentara menjadi wajah terkejut yang berlebihan. Tak ayal, ruangan kerja Hoseok yang damai dan luas kini dipenuhi oleh suara Taehyung.

“APA?” pekiknya sampai melonjak. “YANG BENAR SAJA!”

Hoseok di sudut ruangan hanya mengernyit ketika melihat kelakuan Taehyung. Dia memilih untuk melipat meteran pitanya sambil menunduk. Ketika ia meneleng sekilas, ternyata Taehyung masih saja sibuk sendiri, memasukan kepalan tangannya ke mulut dan terus merutuk. Hoseok menggeleng dan menghela napas berat.

“Hoseok!”

Hoseok kembali melihat ke arah Taehyung. Pandangan mata dari ujung ke ujung itu berlangsung beberapa jenak hingga akhirnya Hoseok menyahut, “Iya, ada apa?”

“A-aku … maksudku orangtuaku …,”

Perkataan terbata-bata dari bibir Taehyung mampu merajut liukan tajam di alis Hoseok dengan cepat. Dia sebenarnya mulai curiga melihat tingkah Taehyung yang seperti itu, apa mungkin—

“O-orang tuaku … menyuruhku menikah.”

—waktunya dengan Taehyung sudah berakhir?

***

Chapter 1

Anggap saja Taehyung memang manusia luar angkasa yang tersesat di bumi. Mungkin dengan begitu kauakan mudah memaklumi segala kelakuannya yang di luar pemahaman manusia.

Contoh sederhananya adalah apa yang ia lakukan pagi ini.

Dia keluar dari kamarnya yang terletak di lantai dua dengan rambut kacau dan mata yang setengah terpejam. Dengan celana tidur longgarnya dia berjalan dengan lemas ke arah tangga. Untung saja dia tidak jatuh di situ dan setelah berhasil menuruninya dengan selamat, Taehyung berjalan lagi sambil sesekali menarik celana tidurnya yang sedikit merosot dengan asal.

Telapak tangan Taehyung—yang sebagian besar tertutup lengan piyamanya—kini terangkat untuk menutup mulutnya yang menguap lebar. Dia masih berjalan dengan mata segaris dan tangan yang kembali terkulai lemas di sisi tubuhnya.

“Taehyung ….”

Suara itu ….

“Uh, hm,” Taehyung bergumam sebentar di depan meja makan. Matanya yang mengantuk kini mulai ia buka dengan paksa dan memincing, menyesuaikan cahaya yang datang. Sementara itu otaknya terus memproses suara yang baru saja ia dengar.

Taehyung… Taehyung ….” Kini suara itu dengan sukses bergema di dalam kepalanya berulang-ulang. “Taehyung? Taehyung anakku ….”    

Ibu?

Ia mengerjap dan mendapati meja makannya sudah penuh dengan sajian sarapan. Dilengkapi ayah dan ibunya yang duduk berdampingan sambil memasang senyuman yang mengintimidasi.

“Taehyung anakku, cepatlah duduk.”

Dengan wajah kebingungan, Taehyung menggaruk kepalanya sekilas kemudian menarik kursi di hadapannya. “Kapan kalian datang?” tanyanya seraya duduk.

“Tadi pagi sekali,” sahut ibu, mengangkat sumpit. “Kedatangan kami ke sini juga sekalian ingin membahas tentang pembicaraan di telepon kemarin.” Dia melirik pada suaminya. “Iya, kan?”

Hal itu lagi.

“Yak! Taehyung! Jangan menunduk seperti itu!” sungut ayahnya dengan dagu terangkat-angkat.

Dalam tunduknya, Taehyung meringis dan mengembuskan napas pelan. Dia mulai mengangkat wajahnya lambat, ditegakkan leher dan mulai melihat wajah kedua orang tuanya yang masih saja tersenyum penuh desakan.

“Itu baru anakku!” seru ayah, menimpali senyuman lebar Taehyung yang sesungguhnya terlihat dipaksakan. “Taehyung, ayah serius tentang pembicaraan di ponsel kemarin,” sambungnya, menatap wajah putranya lamat-lamat sementara tangannya menjepit sumpit logam. “Jadi, sudah sejauh apa persiapanmu, Anakku?”

Taehyung menatap ayah dan ibunya bergantian. Mereka mematung dengan alis terangkat, menunggu jawaban.

Bagus sekali ….

Lelaki berusia 26 tahun itu menenggak ludahnya sendiri dan menggerakkan matanya beberapa putaran. Otaknya berputar lebih banyak daripada itu. Terus terang, dia belum membahas permasalahan ini lagi di otaknya sejak pulang dari tempat kerja Hoseok, jadi dia sama sekali tak punya bayangan tentang apa yang harus diucapkannya dan seperti apa dia harus bertingkah.

“Apa pernikahan ini tidak terlalu cepat?” tanya Taehyung dengan hati-hati.

Ibu mulai menggerakkan sumpit dan menjepit Kongnamul Bab-nya dengan penuh selera. “Umurmu sudah cukup untuk menikah,” ia berujar di sela-sela kesibukan tangannya menyumpit.

“Ta … tapi—”

“Kamu sudah punya rumah, penghasilan sendiri dan umurmu sudah cukup. Ibu rasa tidak ada lagi alas an untuk tidak menikah,” sela ibunya cepat. “Lagipula ibu dengar kausudah punya kekasih, ‘kan?”

“Nah! Kaumau menikahinya atau tidak?” Mata Taehyung beralih ke arah sumber suara yang lain. Mata mereka bersirobok kala itu. Ayah menatapnya penuh fokus sementara Taehyung masih memandang ke dalam mata ayahnya lurus-lurus dengan pikiran yang berkelana.

Menikahi pacarku? Tapi kalau mereka tahu pacarku ….

“Yak! Taehyung! Apa yang kaupikirkan, hah?” Taehyung terperanjat dan melihat ayah melambaikan tangan di depan wajahnya. “Setiap pasangan kekasih pasti mengharapkan pernikahan sebagai akhir hubungan mereka, apa kamu tidak mengharapkan itu?”

“Sebenarnya a—”

“Baik. Jadi, sekarang kesimpulannya adalah kauharus memilih: menikah dengan kekasihmu atau menikah dengan wanita pilihan kami,” ucap ayah tegas.

Pandangan menelisik ibu mengarah pada Taehyung. Wanita paruh baya dengan rambut pendek bergelombang itu memiringkan kepala dan menyadari bahwa wajah Taehyung terlihat kaget bercampur takut setelah mendengar lontaran intuisi dari suaminya.

“Jangan menakutinya seperti itu!”seloroh ibu, menepuk pundak ayah lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Taehyung. Ibu menyumpit beberapa makanan ke dalam mangkuk milik Taehyung. “Lebih baik kaumakan yang banyak sekarang, Anakku! Seorang calon pengantin butuh banyak energi,” ujarnya penuh semangat.

Taehyung memandangi gerak tangan ibunya yang cekatan kemudian beralih pada mangkuknya yang sekarang semakin penuh. Dia mengangguk-ngangguk mengerti dan meringis sekilas.

“Jangan khawatir, wanita yang kami persiapkan adalah Park Hyunrie.”

“Park Hyunrie?” Taehyung mendesah begitu keras. “Siapa dia? Aku tidak mengenalnya.”

“Dia teman TK-mu, Sayang.”

Dia bahkan tidak ingat apa dia pernah sekolah TK?

Taehyung menekan kedua bibirnya erat-erat dan mulai mengangguk dengan terpaksa.

Okay, teman TK-mu dia bilang ….

“Sudah sudah, sekarang kita mulai makan, ya!” komando ayah, membuat semua anggota keluarganya menunduk dan fokus pada mangkuk masing-masing.

“Selamat makan!”

***

Taehyung menutup pintu di balik punggungnya. Dia berjalan dengan lemas ke arah dapur dan menjatuhkan diri pada kursi meja makan. Ia memperhatikan meja makannya yang dipenuhi piring kotor dan tiga gelas berdiri tegak. Sementara itu pikirannya terus saja berlarian mencari solusi untuk sekelumit masalah yang mencuat secara tiba-tiba di hidupnya yang damai.

Sebenarnya semua sudah berjalan dengan sangat baik. Taehyung punya orang yang mecintainya dan memberinya kasih sayang, dia juga punya pekerjaan dan teman-teman yang memaklumi perilakunya. Tapi, semuanya seolah goyah oleh satu kenyataan bahwa dia tetap dan harus menikah dengan seorang wanita.

Bukannya dia tidak ingin menikah, hanya saja dia belum siap untuk itu. Taehyung belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita secara serius, tak pernah terpikir juga untuk melakukan hal itu. Tapi mungkin dia akan memberikan pengecualian untuk wanita yang membuatnya nyaman, seperti yang ia dapati dari Hoseok.

Wow … sejak kapan ia berdiri di depan konter dapurnya dengan tangan penuh piring kotor?

Taehyung menyadari betapa lamunan sesaat membuatnya melakukan hal yang tak dia sadari. Tapi ini bagus juga karena dia malah jadi bersih-bersih. Akhirnya ia hanya menyimpan tumpukan perabot kotor itu di bak cuci dan membasuh tangannya sekilas.

Tak lama, dia kembali berderap menuju meja makan, duduk menyandarkan punggungnya dengan nyaman selagi kepalanya menatap keluar melalui jendela dengan sorot menerawang.

Rekan kerjanya pernah bilang kalau Taehyung bisa sangat idiot dan juga sangat jenius. Kali ini sambil mengingat perkataan Namjoon itu, dia berharap semoga sisi jenius dirinya (yang satu persen itu) bisa muncul dan setidaknya membuat ia menemukan sebuah titik terang.

Mengakui Hoseok di depan orangtuaku? Oh, kurasa tidak … bisa-bisa orangtuaku kena struk, Taehyung menggelengkan kepala kuat-kuat.

“AHHRGGGH!” Diremasnya kepala itu dengan frustasi. “Apa cuma aku yang harus mengalami hal seperti ini?” Taehyung mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan dia mengoceh sendirian di situ, disertai kakinya yang bergerak seperti sedang menggoes, dia benar-benar tampak seperti orang depresi.

Tapi itu tak berlangsung lama, sampai ia secara tiba-tiba menghentikan segala kegaduhannya dan mematung beberapa saat. Matanya berbinar mengarah ke langit di luar jendela sementara itu bibir tipisnya terangkat pelan-pelan, ia tersenyum miring.

“Tidak …,” desisnya. “Aku tidak sendiri! Pasti di luar sana ada banyak orang yang mengalami hal ini! Oh, yeah!”

Taehyung melompat dari kursi. Dengan piyama besar berwarna putih itu ia berlari ke arah tangga dan menyambar kenop pintu kamarnya. Dibanting pintu itu dengan semangat hingga membentur dinding di sampingnya dan Taehyung sama sekali tak memedulikan suara bising yang ia hasilkan. Ia hanya melewati pintu itu dan memasuki kamarnya dengan riang.

Setelah menekan tombol on pada CPU-nya, lelaki dengan rambut berantakan itu melompat ke kursi empuk yang menghadap ke arah layar komputer. Ia berjongkok di atas kursinya, seperti yang L Lawliet biasa lakukan.

Tak perlu menunggu lama hingga layar komputer menyala sempurna, sementara itu telunjuk Taehyung dengan lancar menekan mousenya, mengklik sana-sini. Tangannya berganti merayapi keyboard dan menekan tombolnya dengan cepat. Taehyung tersenyum lebar ketika ia membaca ulang apa yang baru saja ia ketik di sebuah forum.

Lelaki Gay mencari wanita Lesbi untuk menikah

Hey, apa dia bercanda? Dia juga bertanya seperti itu pada dirinya sendiri. Tapi kemudian ia menggeleng dengan mantap. Ia benar-benar yakin bahwa inilah jalan yang akan ia tempuh. Sempat terbesit untuk membatalkan keputusannya ini dan menggantinya dengan rencana lain, misalnya dengan menikah dengan Hyemoon—wanita yang mengejarnya sejak sekolah menengah. Tapi ia urungkan, karena menikahi seorang wanita normal tak akan semudah itu. Ada banyak pertimbangan yang mungkin akan menjadi beban baginya kelak.

Taehyung membayangkan Hyemoon akan mencintainya, lalu apa yang bisa Taehyung lakukan? Dia hanya akan dirundung rasa bersalah karena membohongi istri normalnya, bertingkah seolah semua baik-baik saja dan mereka saling mencintai, padahal kenyataannya? Palsu. Itu semua hanya akan membuat Taehyung merasa terbebani setiap ia membuka mata di pagi hari dan mendapati wanita itu di sisinya.

Tentu saja Taehyung tak ingin itu semua terjadi. Maka dari itu meski terdengar sedikit gila … namun setidaknya tak akan ada yang harus tersakiti di pernikahannya dengan lesbian kelak.

Taehyung melihat lagi layar komputernya dan menulis lebih banyak.

Annyeonghaseyo … aku lelaki 26 tahun. Mencari wanita untuk aku nikahi. Awalnya aku ragu untuk melakukan hal ini, karena aku tahu bahwa menikah tidak sesederhana itu. Tapi, setelah melewati beberapa kali perenungan … aku rasa ini lebih baik daripada harus membohongi wanita normal. Menurut kalian bagaimana? Kekekeke … aku harap aku segera menemukan wanita itu karena waktuku tidak banyak. Orangtuaku benar-benar pendesak ulung.

Palli palli^^ wanita-wanita cantik datanglah kepadaku kekekeke. Kita bisa bicarakan ini lebih lanjut secara langsung. Aku sengaja membuat email khusus, kirimkan pesan kalian di sini: marryou@happy.com

Taehyung memposting tulisan itu di forum sementara hatinya tak berhenti berharap agar menemukan calon istrinya sesegera mungkin. Ia bangkit dari kursi dan membiarkan layar komputernya menyala. Direntangkan tangannya lebar-lebar dan memejamkan mata, seolah-olah dia berada di padang rumput, menghirup udara dalam-dalam dan angin menggelitik tubuhnya. Itulah yang ada di imajinasinya sekarang. Taehyung memang terbilang mahir membangun dunia miliknya sendiri.

BRUUUK

Dihempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tangan yang masih terentang. Taehyung sempat memantul beberapa inchi sebelum tenggelam dalam bantalan empuk kasurnya itu.

“Aku akan segera mendapatkan wanita itu,” ujarnya pada diri sendiri. Mata setengah bulan purnamanya tampak tersenyum dengan tulus, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih gading. “Come to papa, Girl. Hahaha!”

Yang Taehyung pikirkan tentang pernikahannya kelak adalah sebuah kebebasan. Mereka mungkin akan mudah menerima satu sama lain apa adanya. Tak menutup kemungkinan kalau kelak Taehyung akan tetap bisa menjalin hubungan dengan Hoseok. Mau bagaimana lagi? Dia terlanjur menyukai lelaki perancang baju itu.

Pun dengan istrinya, tak menutup kemungkinan Taehyung akan mengijinkan dia untuk tetap berhubungan dengan pasangannya. Tapi tunggu … itu terdengar aneh dan … pathetic.

DRRRTTT DDDRRRRRTT

Taehyung bangkit dari ranjangnya dan menatap ponsel yang tergeletak di meja komputer. Nama Hoseok tertera di situ. Ia terdiam beberapa saat dan membiarkan akal sehat menguasai otaknya.

“Tidak … aku tidak akan mengangkatnya,” ujarnya ke arah ponsel yang terus berkedip. “Aku akan menikah sebentar lagi, Jung Hoseok!”

Tapi bukannya Taehyung mencintai lelaki itu?

“Aku hanya mengantisipasi,” ujarnya lagi, masih seolah-olah ia sedang berdebat dengan layar ponselnya. “Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi, ada baiknya aku menjauhi lelaki itu sekarang untuk berjaga-jaga, kan?” Ia terhenti sebentar dan kembali melanjutkan berbicara dengan nada memaksa, “Tolong jawab ‘iya’.”

Layar ponsel itu hanya diam dan terus menampilkan lambang dua telepon dengan denyar berwarna hijau dan yang lainnya berwarna merah.

“Oh, menantang, ya?” Dengan cepat Taehyung mengusap layarnya tepat pada lingkaran berwarna merah, itu berarti ia baru saja menolak panggilan dari Hoseok.

Tanpa memedulikan apapun yang terjadi, Taehyung beranjak dari kamar dan memasuki kamar mandinya.

***

Taehyung kembali dari kamar mandi dengan rambutnya yang layu oleh air. Sambil melangkah, salah satu tangannya tetap konsisten menggosok rambut basahnya itu, sementara tangannya yang lain meraih ponsel.

Sial.

30 panggilan tidak terjawab dari Jung Hoseok. Dan tunggu … ada satu pesan terselip.

Kim Taehyung-a … aku akan datang ke rumahmu.

Mata Taehyung kontan membeliak. Gerak tangannya berhenti dari aktivitas mengeringkan rambut. Ia memilih untuk melepaskan handuk itu dari genggamannya dan berlari menuruni tangga. Taehyung melangkah dengan cepat menyebrangi ruang tengah dan melesak ke ruang tamu dengan napas terengah-engah.

Yang dilakukan Taehyung pertama kali adalah memastikan pintu rumahnya terkunci. Tapi apa? Tentu saja tidak terkunci!

Dengan tangan menggenggam erat ponselnya, ia melongok ke jendela panjang di sisi pintunya dan mendapati Hoseok telah memasuki pekarangan rumah dengan wajah memberengut.Taehyung terperangah melihat itu semua. Sementara di sisi lain Hoseok semakin mendekat.

Dengan cepat dan bergetar, Taehyung menarik dirinya dari depan jendela dan bersembunyi di balik pintu seraya menekan kunci rumahnya berulang-ulang.

“TAEHYUNG!”

TOKK TOKK TOKKKKK

Taehyung membalikkan tubuh dan menyandarkan punggungnya di pintu. Beberapa kali tubuhnya berguncang akibat ketukan kuat Hoseok di luar sana.

“TAEHYUNG! BUKA PINTUNYA, TAEHYUNG!” Taehyung tercenung ketika menyadari apa yang Hoseok lontarkan. Ternyata pria itu tak selembut yang ia pikirkan.”TAEEEEEHYUUUUUUNG! AKU BILANG BUKA PINTUNYA!”

Mata Taehyung lurus mengarah pada tembok di depannya. Jantungnya terus bertalu-talu sementara ketukan dari luar semakin keras saja merusak pintu.

Tanpa disangka … di suasana genting seperti ini …

DRRRTTTT DRRRRRRRT

Ponsel digenggamannya bergetar, membuat ia mengalihkan perhatian pada layar ponsel.

Pengirim: Eunkyo.kim@yahoo.com

Subject: Marriage

Annyeong, Mister X. Aku Kim Eun Kyo. Sejujurnya aku merasa beruntung bisa membaca postinganmu di forum itu. Hmm, bisa dibilang aku punya masalah yang serupa denganmu. Aku berharap kita bisa bertemu secepat mungkin dan membicarakan ini lebih jauh lagi.

 

Terimakasih

Eun Kyo

 

“Secepat ini,” gumam Teahyung, tersenyum puas.

Sementara itu di sisi lain …

“KIM TAEHYUUUUNG! BUKA PINTUNYA!”

To be Continued

Annyeong! Ini posting pertama aku di sini. Semoga kalian bisa menikmatinya (?) okay, yang udah berhasil baca sampai akhir … silahkan kasih komentar ya, ditunggu loh^^ palli palli!!

Advertisements